Laporan Praktikum Sistem Koloid

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM KOLOID LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM KOLOID

SISTEM KOLOID SISTEM KOLOID I.

I. Tujuan Tujuan : : Untuk Untuk mengetahui mengetahui jenis, jenis, bentuk bentuk dan dan cara cara pembuatan pembuatan koloidkoloid II.

II. Landasan TeoriLandasan Teori A.

A. Sistem DispersiSistem Dispersi

Bila suatu zat dicam

Bila suatu zat dicampurkan dengan zat lain, maka akan purkan dengan zat lain, maka akan terjadi penyebaran terjadi penyebaran secara meratasecara merata dari suatu zat ke dalam z

dari suatu zat ke dalam zat lain yang disebut dengan at lain yang disebut dengan sistem dispersi.sistem dispersi. 1.

1. SuspensiSuspensi

Suspensi adalah sistem dispersi dengan partikel yang berukuran relatif besar tersebar  Suspensi adalah sistem dispersi dengan partikel yang berukuran relatif besar tersebar  merata

merata di dalam medium di dalam medium pendispersinya. Pada umumnya pendispersinya. Pada umumnya merupakan campuran heterogen,merupakan campuran heterogen, sehingga dapat diamati hanya dengan mata telanjang.

sehingga dapat diamati hanya dengan mata telanjang. 2.

2. LarutanLarutan

Larutan adalah sistem dispersi dengan ukuran partikelnya sangat kecil, sehinggatidak  Larutan adalah sistem dispersi dengan ukuran partikelnya sangat kecil, sehinggatidak  dapat diamati (dibedakan) antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi meskipun dapat diamati (dibedakan) antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi meskipun menggunakan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi.

menggunakan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi. 3.

3. KoloidKoloid

Koloid berasal dari bahasa Yunani

Koloid berasal dari bahasa Yunani “kolia”“kolia” yang artinya lem. Koloid pertama kaliyang artinya lem. Koloid pertama kali

dikenalkan oleh Thomas Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang dikenalkan oleh Thomas Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang merupakan kristal tapi sulit

merupakan kristal tapi sulit terdisfusi.terdisfusi.

Koloid atau dispersi koloid (sistem koloid) adalah sistem dispersi dengan ukuran partikel Koloid atau dispersi koloid (sistem koloid) adalah sistem dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari laritan tapi lebih kecil dari susoensi, dengan ukuran partikel antara 1nm yang lebih besar dari laritan tapi lebih kecil dari susoensi, dengan ukuran partikel antara 1nm –  – 

100nm sehingga tidak bisa diamati dengan mata telanjang tetapi dapat diamati dengan mikroskop 100nm sehingga tidak bisa diamati dengan mata telanjang tetapi dapat diamati dengan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi.

dengan tingkat pembesaran yang tinggi.

Secara umum perbedaan suspensi, larutan dan koloid dapat dilihat pada tabel berikut. Secara umum perbedaan suspensi, larutan dan koloid dapat dilihat pada tabel berikut.

Larutan Larutan (Dispersi Molekuler) (Dispersi Molekuler) Koloid Koloid (Dispersi Koloid) (Dispersi Koloid) Suspensi Suspensi (Dispersi Kasar) (Dispersi Kasar)

Homegen, tak dapat Dibedakan Homegen, tak dapat Dibedakan walaupun

walaupun menggunakan menggunakan mikrosmikros kop ultra. kop ultra. Secara mikroskopis Secara mikroskopis  bersifat  bersifat homogen, tetapi homogen, tetapi heterogen jika heterogen jika diamati dengan diamati dengan mikroskop ultra.

mikroskop ultra. Heterogen.Heterogen. Semua partikel berdimensi

Semua partikel berdimensi (panjang,

(panjang, lebar, atau lebar, atau tebal) kurangtebal) kurang dari 1nm. dari 1nm. Partikel berdimensi Partikel berdimensi anatara 1nm sampai anatara 1nm sampai 100nm. 100nm.

Salah satu atau semua Salah satu atau semua dimensi partikel besar  dimensi partikel besar  dari 100nm.

dari 100nm. Satu fasa.

Satu fasa. Dua fasa.Dua fasa. Dua fasa.Dua fasa. Stabil.

Stabil. Pada umunya stabil.Pada umunya stabil. Tidak stabil.Tidak stabil.

Tidak dapat disaring. Tidak dapat disaring.

Tidak dapat disaring, Tidak dapat disaring, kecuali dengan

kecuali dengan  penyaringan ultra.

 penyaringan ultra. Dapat disaringDapat disaring Contoh:

Contoh:

Larutan gula, larutan garam, Larutan gula, larutan garam,

alkohol 70%, larutan cuka, airlaut, alkohol 70%, larutan cuka, airlaut,

Contoh: Contoh:

Sabun, susu, santan, Sabun, susu, santan,  jeli, selai, mentega, dan  jeli, selai, mentega, dan

Contoh: Contoh:

Air Sungai yang keruh, Air Sungai yang keruh, campuran air dengan campuran air dengan

(2)

udara yang bersih, dan bensin. mayones.  pasir, campuran kopi dengan air, dan campuran minyak  dengan air 

B. Jenis-Jenis Koloid

Sistem koloid terdiri atas 2 fasa, yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi (medium dispersi). Berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa pendispersinya koloid dapat dibedakan menjadi 8 jenis sebagai berikut:

 No. Fase Terdispersi Fase Pendispersi

Jenis (nama

koloid) Contoh

1. Padat Padat Sol padat Mutiara, kaca warna 2. Cair  Padat Emulsi padat Keju, mentega

3. Gas Padat Busa padat Batu apung, kerupuk  4. Padat Cair  Sol, gel

Pati dalam air, cat,  jeli

5. Cair  Cair  Emulsi

Susu, santan Manyonaise 6. Gas Cair  Busa Krim, pasta 7. Padat Gas Aerosol padat Debu, asap 8. Cair  Gas Aerosol cair  Awan kabut 1. Aerosol

Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat; jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair. Banyak produk dibuat dalam bentuk aerosol, seperti hair spray, obat nyamuk semprot, parfum, cat semprot, dan lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatubahan pendorong (propelan aerosol).

2. Sol

Sistem koloid dari pertikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri.

3. Emulsi

Sistem koloid dari zat cair ynag terdispersi dalam zat cair disebut emulsi. Syarat terjadinya emulsi ini adalah dua jenis zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan kedalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air (M/A) dan emulsi air dalam minyak (A/M).

4. Buih

Sistem koloid dari gas yang tedispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti halnya dengan emulsi,untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih.

5. Gel

Koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair) disebut gel. C. Sifat-Sifat Koloid

1. Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan

(3)

oleh John Tyndall(1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek  tyndall.Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya,maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. hal ituterjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut.Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif  kecilsehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

2. Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak  menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti  pada zat padat. Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan

partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel-partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown. Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat  padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

3. Adsorbsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan  partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. Dimana partikel-partikel sol  padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Beda halnya dengan absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan didalam sol padat tersebut. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi  partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion)

karena mempunyai permukaan yang sangat luas. Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 Bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S Bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S.

Muatan Koloid Sol Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid. Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif dan negatif).

Maka terdapat gayatolak menolak antar partikel koloid. Partikel koloid tidak dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. Sistem koloid secara keseluruhan bersifat netral. Contohnya sumber muatan koloid, kestabilan koloid, lapisan bermuatan ganda, elektroforesis koloid sol, koagulasi,koloid liofil dan liofob.

a. Muatan Koloid Sol Partikel-partikel koloid mendapat mutan listrik melalui dua cara, yaitu : Proses adsorpsi, partikel koloid dapat mengadsorpsi partikel bermuatan dari fase pendispersinya. Jenis muatan tergantung dari jenis partikel yang bermuatan. Partikel sol Fel (OH)3 kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari medium pendisperinya sehingga bermuatan positif, sedangkal

(4)

 partikel sol As2S3 mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif. Sol AgCI dalam medium pendispersi dengan kation Ag+ berlebihan akan mengadsorpsi Ag+ Sehingga bermuatan positif. Jika anion berlebih, maka sol AgCI akan mengadsorpsi ion

CI-sehingga bermuatan positif.

 b. Kestabilan Koloid Terdapat beberapa gaya pada sistem koloid yang menentukan kestabilan koloid.

Gaya pertama ialah gaya tarik - menarik yang dikenal dengan gaya London, Van der Waals. Gaya ini menyebabkan partikel - partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan akhirnya mengendap. Gaya kedua ialah gaya tolak menolak. Gaya ini terjadi karena pertumpang tindihan lapisan ganda listrik yang bermuatan sama.Gaya tolak - menolak tersebut akan membuat dispersi koloid menjadi stabil. Gaya ketiga ialah gaya tarik - menarik antara partikel koloid dengan medium pendispersinya. Terkadang, gaya ini dapat menyebabkan terjadinya agregasi partikel koloid dan gaya ini juga dapat meningkatkan kestabilan sistem koloid secara keseluruhan.Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas koloid ialah muatan permukaan koloid. Besarnya muatan pada permukaan partikel dipengaruhi oleh konsentrasi elektrolit dalam medium  pendispersi. Penambahan kation pada permukaan partikel koloid yang bermuatan negatif akan

menetralkan muatan tersebut dan menyebabkan koloid menjadi tidak stabil. Banyak koloid yang harus dipertahankan dalam bentuk koloid untuk penggunaannya. Contoh: es krim, tinta, cat. Untuk itu digunakan koloid lain yang dapat membentuk lapisan di sekelilingkoloid tersebut. Koloid lain ini disebut koloid pelindung. Contoh:gelatin pada sol Fe(OH)3.Untuk koloid yang  berupa emulsi dapat digunakan emulgator yaituzat yang dapat tertarik pada kedua cairan yang

membentuk emulsi.Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi minyak dan air. c. Lapisan Bermuatan ganda

Pada awalnya, partikel-partikel koloid mempunyai muatan yang sejenis yang didapatkannya dari ion yang diadsorpsi dari medium pendispersinya. Apabila dalam larutan ditambahkan larutan yang berbeda muatan dengan system koloid, maka sistem koloid itu akan menarik muatan yang berbeda tersebut sehingga membentuk lapisan ganda.Lapisan pertama ialah lapisan padat di mana muatan partikel koloid menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dari medium  pendispersi.Sedangkan lapisan kedua berupa lapisan difusi dimana muatan darimedium  pendispersi terdifusi ke partikel koloid.

Model lapisan berganda terse but dijelaskan pada lapisan ganda Stern. Adanya lapisanini menyebabkan secara keseluruhan bersifat netral

4. Elektroforesis

Elektroforesis adalah suatu proses untuk menghitung berpindahnya ion atau partikel koloid bermuatan dalam medium cair yang dipengaruhi oleh medan listrik. Yaitu, pergerakan  partikel-partikel koloid dalam medan listrik ke masing-masing elektrode. Prinsip kerja

elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap hasil industri dengan alat Cottrell. 5. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:

 Mekanik 

Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.

 Kimia.

(5)

D. Kestabilan Koloid 1. Koloid Pelindung

Koloid pelindung adalah koloid yang ditambahkan kedalam sistem koloid agar menjadi stabil. Carakerja koloid pelindung adalah dengan membentuk lapisan disekeliling partikel koloid yang dilindungi. koloid pelindung pada emulsi disebut sebagai emuigator, tujuan penambahan zat ini untuk menjaga agar tidak mudah terpisah.

2. Dialisis

Proses dialisis adalah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu. Dalam proses ini, sistem koloid dimasukan kedalam bejana yang berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput semipermiabel, yaitu selaput yang dapat melewatkan partikel kecil seperti ion atau molekul sederhana.

3. Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium pendispersinya, kita mengenal dua macam koloid.

a. Koloid Liofil

Koloid liofil yaitu koloid yang ´senang cairan´. Partikel koloid akan mengadsorpsimolekul cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid itu.

Contoh koloid liofil adalah kanji, protein, dan agar-agar.  b. Koloid Liofob

Koloid liofob yaitu koloid yang ´benci cairan´. Partikel koloid tidak mengadsorpsi molekul cairan.

Contoh koloid liofob adalah sol sulfidadan sol logam. Ciri-ciri koloid liofil dan liofob

Liofil

 Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium terdispersinya.  Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan.

 Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya.

 Terdapat proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang

teradsorpsi disekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabun g.

 Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi.  Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit.

 Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi, kemudian dapat

diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya.

 Memberikan efek Tyndall yang lemah.

 Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali.

Liofob

 Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya.  Memiliki muatan positif atau negatif.

 Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya.

 Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel- partikel ion yang bermuatan listrik.  Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi.

 Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan.

 Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah menjadi sol.  Memberikan efek Tyndall yang jelas.

(6)

III. Alat dan Bahan :

Alat: Bahan :

Pemanas Agar-agar  Gelas Kimia Air 

Lumpang Gula pasir  Pengaduk Fe(OH)3

Cawan FeCl3

Tabung Reaksi Minyak Tanah Larutan Sabun

Larutan Kalsium Asetat Jenuh Alkohol 95%

IV. Cara Kerja :

Cara kerja pembuatan sol liofil dan liofob : 1. Sol agar-agar 

a. Panaskan sesendok kecil agar-agar dengan 50 ml air. Kemudian dinginkan, dan panaskan kembali.

 b. Panaskan sesendok kecil agar-agar dengan 100ml air. Kemudian dinginkan dan panaskan kembali.

c. Panaskan sesendok kecil agar-agar dengan 150ml air. Kemudian dinginkan dan panaskan kembali.

2. Sol belerang

a. Campurkan 1 sendok kecil hasil gerusan di atas dengan 50 sendok air, aduk   b. Campurkan 1 sendok kecil hasil gerusan di atas dengan 100 sendok air,aduk 

c. Campurkan 1 sendok kecil hasil gerusan di atas dengan 150 sendok air,aduk. Cara kerja pembuatan sol dengan cara dispensi :

a. Campurkan satu takaran belerang dan satu takaran gula pasir dalam lumpang, gerus sampai halus.

 b. Ambilsatu takaran dari campuran tersebut, tambahkan gula dan gerus lagi sampai halus, teruskan sampai emapat kali.

c. Tuangkan campuran terakhir ke dalam air dalam gelas kimia.

d. Bandingkan dengan campuran belerang yang tidakdi gerus dalam air  Cara kerja pembuatan sol dengan cara kondensasi :

a. Panaskan 50ml air dalam gelas kimia 100ml sampai mendidih.

 b. Tambahkam 25 tetes larutan FeCl3 jenuh, aduk sampai larutan berwarna cokelat merah. Cara kerja pembuatan emulsi dan gel :

1. Emulsi

a. Campurkan 1 ml minyak tanah didalam tabung reaksi, kocok kuat-kuat dan simpan di rak  tabung.

 b. Tambahkan 25 tetes larutan sabun, kocok kuat-kuat dan simpan di rak tabung. 2. Gel

a. Sediakan 15 ml larutan kalsium astat jenuh dalam gelas kikia 250ml. Tuangkan sekaligus 15 ml alkohol 95% ke dalam larutan tadi.

 b. Bakar sedikit gel di dalam cawan. V. Data Pengamatan :

(7)

1. Pembuatan sol liofil dan liofib a. Sol agar-agar 

Panaskan sesendok kecil agar-agar  dengan 50 ml air. Kemudian dinginkan, dan panaskan kembali.

Setelah dipanaskan larutan agak mencair. Setelah didinginkan larutan menjadi menggumpal.

Setelah dipanaskan kembali Larutan mencair.

. Panaskan sesendok kecil agar-agar dengan 100 ml air. Kemudian dinginkan dan panaskan kembali.

Setelah dipanaskan lar. agak mencair dan warnanya berubah menjadi hijau tua

Setelah didinginkan lar. menjadi menggumpal sebagian.

Setelah dipanaskan kembali lar. menjadi cair.

. Panaskan sesendok kecil agar-agar dengan 150 ml air. Kemudian dinginkan dan panaskan kembali.

Setelah dipanaskan lar.menjadi cair 

Setelah didinginkan lar. menjadi menggumpal sedikit

Setelah dipanaskan kembali lar. mencair   b. Sol belerang Gerus 1 sendok  kecil,  belerang dengan 5 sendok  kecil gula  pasir  sampai halus

2. Pembuatan Sol dengan cara dispersi Hasil Pengamatan

a. Belerang dalam air tidak terdispersi.  b. Belerang dan gula air terdispersi.

c. Gula pasir sebagai medium dispersi 3. Pembuatan sol Dengan kondensasi

Hasil Pengamatan:

Percobaan Pengamatan Campurkan 1 sendok kecil hasil

gerusan di atas dengan 50 sendok air,

aduk  Telihat endapan warna kuning. Sol  berwarna kuning jelas.

Campurkan 1 sendok kecil hasil gerusan di atas dengan 100 sendok 

air,aduk  Telihat warna kuning samar-samar, sol warna kuning.

Campurkan 1 sendok kecil hasil gerusan di atas dengan 150 sendok air, aduk.

Telihat kuning samar-samar warna kuning, sol warna kuning

(8)

Keadaan larutan yang terjadi saat cahaya datang, terlihat adanya lintasan cahaya  pada larutan.

Berdasarkan baha-bahan yang dibuat sitem koloid, jelaskan perbedaan antara  pembuatan, sistem koloid cara dispersi

dan cara kondensasi!

Cara Dispersi adalah cara mengubah  partikel kasar menjadi partikel koloid. Kalau cara Kondensasi adalah cara  pembuatan sistem koloid dengan mengubah partikel sejati emnjadi  partikel koloid.

4. Pembuatan emulsi dan gel a. Emulsi

Percobaan Pengamatan Campurkan 1 ml minyak tanah didalam

tabung reaksi, kocok kuat-kuat dan simpan di rak tabung.

Keadaan campuran menjadi air dan minyak terpisah. Jadi sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair disebut emulsi.

Tambahkan 25 tetes larutan sabun, kocok kuat-kuat dan simpan di rak tabung.

Keadaan campuran menjadi minyak  dan air terpisah, dipisahkan dengan warna hitam yang timbul ditengahnya  b. Gel

Percobaan Pengamatan Sediakan 15 ml larutan kalsium astat

 jenuh dalam gelas kimia 250ml.

Tuangkan sekaligus 15 ml alkohol 95% ke dalam larutan tadi.

Keadaan campuran menjadi gel, larutan gel.

Bakar sedikit gel di dalam cawan.

Hasil yang terjadi disebut gel. Hasil  pembakaran membentuk kerak warna  putih kekuningan membentuk zat  padat warna putih.

VI. Pertanyaan

1. Jelaskan tujuan penambahan medium pendipersi yang berbeda-beda pada pembuatan sol agar-agar dan belerang.

2. Manakah dari kedua sol tersebut yang merupakan sol liofil dan sol liofob! 3. Sebutkan perbedaan sol liofil dan sol liofob?

4. Dari sistem koloid tersebut, tentukan yang mana yang dibuat dengan cara dispersi dan cara kondensasi?

5. Bagaimana pengaruh larutan sabun pada campuran minyak dan air? dan Bertindak sebagai apa air sabun tersebut?

(9)

Jawab

1. Untuk membedakan penggumpalan atau perubahan warna pada medium pendispersi.

2. Yang termasuk sol liofil adalah Agar-agar, sedangkan yang termasuk sol liofob adalah Belerang 3. Sol liofil adalah koloid yang fase pendispersinya suka menarik medium pendispersinya,

sedangkan sol liofib adalah koloid yang fase terdispersinya tidak suka menarik medium  pendispersinya.

4. Yang termasuk cara dispersi adalah pembentukan sol belerang dengan penambahan gula dan air, sedangkan yang termasuk cara kondensasi adalah sol belerang dalam air.

5. Molekul sabun terdiri dari sebuah rantai hidrokarbonpada satu ujung dan garam pada ujung yang lain.Karena rantai hidrokarbon memiliki sifat nonpolar maka rantai hidrokarbon akan larut dalam minyak sementara garam akan larut dalam zat polar(air) tetapi hubungan antara garam dan rantai hidrokarbon tetap tidak putus sehingga satu molekul sabun akan mengikat air dan minyak yang menyebabkan air dan minyak dapat bersatu.

6. Kalsium asetat sukar larut dalam alkohol tetapi mudah larut dalam air. Kalsium asetat perlu dilarutkan terlebih dahulu ke dalam air sampai terbentuk larutan jenuh kalsium asetat, kemudian ditambah dengan pelarut alkohol akibatnya terjadi pergantian pelarut antara pelarut air dan alkohol, karena kalsium asetat sukar larut dalam alkohol terbentuk koloid yang berupa gel

VII. Kesimpulan

 Terjadinya Efek Tyndall pada percobaan pembuatan sol dengan kondensasi  Pembentukan sol belerang dibuat dengan cara dispersi dengan mekanik.  Koloid dapat dibuat melalui cara kondensasi dan dispersi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...