• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kegiatan Instalasi Gizi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kegiatan Instalasi Gizi"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KEGIATAN INSTALASI GIZI RSUD PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2014

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Pelayanan gizi di Rumah Sakit adalah pelayanaan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis, status gizi dan status metabolisme tubuhnya. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan pasien. Sering terjadi kondisi klien/pasien semakin buruk karena tidak diperhatikan gizinya. Pengaruh tersebut bisa berjalan timbal balik, seperti lingkaran setan. Hal tersebut diakibatkan karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh untuk kenaikan organ tubuh. Fungsi organ yang terganggu akan lebih terganggu lagi dengan adanya penyakit dan kekurangan gizi.

Terapi gizi yang menjadi salah satu faktor penunjang utama penyembuhan tentunya harus diperhatikan agar pemberiannya tidak melebihi kemampuan organ tubuh untuk melaksanakan fungsi metabolisme. Pemberian diet pasien harus dievalusi dan diperbaiki sesuai dengan perubahan keadaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, baik hasil pemeriksaan pasien rawat inap maupun rawat jalan.

2. Tujuan

a. Tujuan Umum :

Tujuan umum pelayanan gizi rumah sakit adalah terciptanya sistim pelayanan gizi di rumah sakit dengan memperhatikan berbagai aspek gizi dan penyakit, serta merupakan bagian dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan gizi di rumah sakit.

b. Tujuan Khusus :

Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah adanya peningkatan pelayan gizi yang mencakup :

(2)

1. Penegakan diagnosis gangguan gizi dan metabolisme zat gizi berdasarkan anamnesis, antropometri, gejala klinis, dan biokimia tubuh (laboratorium).

2. Penyelenggaraan pengkajian dietetic dan pola makan berdasarkan anamnesis diet dan pola makan.

3. Penentuan kebutuhan gizi sesuai keadaan pasien.

4. Penentuan bentuk pembelian bahan makanan, pemilihan bahan makanan, jumlah pemberian serta cara pengolahan bahan makanan. 5. Penyelenggaraan evaluasi terhadap preskripsi diet yang diberikan

sesuai perubahan keadaan klinis, status gizi dan status laboratorium. 6. Penterjemah preskripsi diet, penyediaan dan pengolahan sesuai

dengan kebutuhan dan keadaan pasien.

7. Penyelenggaraan penelitian aplikasi di bidang gizi dan dietetic. 8. Penciptaan standar diet khusus sesuai perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang dapat membantu penyembuhan penyakit.

9. Penyelenggaraan penyuluhan dan konseling tentang pentingnya diet pada klien/pasien dan keluarganya.

3. Lingkup Kegiatan

Mekanisme kerja penyelenggaraan makanan pasien di rumah sakit adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan Anggaran Belanja Makanan

Penyusunan Anggaran Belanja Makanan adalah suatu kegiatan penyusunan anggaran biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi konsumen/pasien yang dilayani.

Tujuan :

Tersedianya taksiran anggaran belanja makanan yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi konsumen/pasien yang dilayani sesuai dengan standar kecukupan gizi.

(3)

Prasyarat :

1. Adanya kebijakan Rumah Sakit.

2. Tersedianya data peraturan pemberian makanan rumah sakit. 3. Tersedianya data standar makanan untuk pasien.

4. Tersedianya data standar harga bahan makanan.

5. Tersedianya data rata-rata jumlah konsumen/pasien yang dilayani. 6. Tersedianya siklus menu.

7. Tersedianya anggaran makanan yang terpisah dari biaya perawatan. Langkah Perencanaan Anggaran Belanja Makanan

1. Kumpulkan data tentang macam dan jumlah konsumen tahun sebelumnya. 2. Tetapkan macam dan jumlah konsumen/pasien.

3. Kumpulkan harga bahan makanan dari beberapa pasar dengan melakukan survey pasar, kemudian tentukan harga rata-rata bahan makanan.

4. Buat standar kecukupan gizi (standar porsi) ke dalam berat kotor.

5. Hitung indeks harga makanan perorang perhari sesuai dengan konsumen yng mendapat makan.

6. Hitung anggaran belanja makanan setahun untuk masing-masing konsumen/pasien (termasuk pegawai).

7. Hasil perhitungan anggaran dilaporkan kepada pengambil keputusan (sesuai dengan struktur organisasi masing-masing) untuk meminta perbaikan.

8. Rencana anggaran diusulkan secara resmi melalui jalur administratif. 2. Perencanaan Menu

Perencanaan Menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen/pasien, dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang.

Tujuan

Tersedianya siklus menu sesuai klasifikasi pelayanan yang ada di rumah sakit (misalnya 10 hari/seminggu).

(4)

Prasyarat

1. Peraturan pemberian makanan rumah sakit 2. Standar porsi dan standar resep

3. Standar bumbu

Langkah Perencanaan Menu

1. Bentuk tim kerja untuk menyusun menu yang terdiri dari ahli

gizi/dietisian, kepala masak (chief cook), dokter spesialis gizi klinik, dll. 2. Kumpulkan tanggapan/keluhan konsumen mengenai menu dengan cara

menyebarkan kuesioner.

3. Buat rincian macam dan jumlah konsumen yang akan dilayani. 4. Kumpulkan data peralatan dan perlengkapan dapur yang tersedia. 5. Sesuaikan penyusunan menu dengan macam dan jumlah tenaga. 6. Perhatikan kebiasaan makan daerah setempat, musim, iklim dan pasar. 7. Tetapkan siklus menu yang akan dipakai.

8. Tetapkan standar porsi. 9. Susun menu dengan cara :

a. Kumpulkan berbagai jenis hidangan, kelompokkan berdasarkan jenis makanan (kelompok lauk hewani, kelompok nabati, kelompok sayuran, kelompok buah) sehingga memungkinkan variasi yang lebih banyak.

b. Susun pola menu dan master menu yang memuat garis besar frekuensi penggunaan bahan makanan harian dengan siklus menu yang berlaku. c. Masukkan hidangan hewani yang serasi warna, komposisi, konsistensi

bentuk dan variasinya; kemudian lauk nabati, sayur, buah dan snack. d. Siapkan formulir penilaian yang meliputi pola menu kombinasi

warna, tekstur, konsistensi, rasa, aroma, ukuran, bentuk potongan, temperature makanan,pengulangan menu penyajian dan sanitasi. e. Nilai menu dengan beberapa penilaian objektif.

f. Lakukan pre-test untuk mengetahui tanggapan konsumen/pasien. g. Buat perbaikan menu dan selanjutnya menu siap untuk diusulkan

(5)

3. Perhitungan Kebutuhan Bahan Makanan

Perhitungan kebutuhan bahan makanan adalah kegiatan penyusunan kebutuhan bahan makanan yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan. Tujuan

Tercapainya usulan anggaran dan kebutuhan bahan makanan untuk pasien dalam satu tahun anggaran.

Persyaratan

1. Adanya kebijakan rumah sakit

2. Tersedianya data peraturan pemberian makanan rumah sakit 3. Tersedianya data standar makanan untuk pasien

4. Tersedianya data standar harga bahan makanan 5. Tersedianya siklus menu.

6. Tersedianya data jumlah konsumen/pasien yang dilayani. Langkah Perencanaan Kebutuhan Bahan Makanan 1. Tentukan jumlah pasien dengan mengacu pada DPMP

2. Tentukan standar porsi tiap bahan makanan dan buat berat kotor 3. Hitung berapa kali pemakaian bahan makanan setiap silkus menu 4. Hitung dengan cara :

Jumlah pasien x berat kotor x kerap pemakaian 4. Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan

Pemesanan adalah penyusunan permintaan (order) bahan makan berdasarkan menu atau pedoman menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang dilayani.

Tujuan

Tersedianya daftar pesanan bahan makanan sesuai standar atau spesifikasi yang ditetapkan.

Persyaratan

1. Adanya kebijakan rumah sakit tentang pengadaan bahan makanan. 2. Adanya surat perjanjian dengan bagian logistik rekanan

(6)

3. Adanya spesifikasi bahan makanan 4. Adanya daftar pesanan bahan makanan 5. Tersedianya dana

Langkah Pemesanan Bahan Makanan

1. Ahli gizi membuat rekapitulasi kebutuhan bahan makanan untuk esok hari dengan cara : standar porsi x jumlah pasien

2. Hasil perhitungan diserahkan ke bagian gudang logistik

3. Bagian gudang menyiapkan bahan makanan sesuai dengan permintaan 4. Bagian pengolahan mengambil bahan makanan yang di pesan (order). 5. Penerimaan Bahan Makanan

Suatu kegiatan yang meliputi pemeriksaan/penelitian, pencatatan dan pelaporan tentang macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang diterima sesuai dengan pesanan serta spesifikasi yang telah ditetapkan.

Tujuan

Tersedianya bahan makanan yang siap untuk diolah Prasyarat

a. Tersedianya rincian pesanan bahan makanan harian berupa macam dan jumlah bahan makanan yang akan diterima.

b. Tersedianya spesifikasi bahan makanan yang telah ditetapkan. Langkah Penerimaan Bahan Makanan

a. Setelah bahan makanan diambil dari gudang logistic kemudian diperiksa satu persatu, untuk mengetahui bila ada barang yang tidak ada, kurang atau berlebih.

b. Kemudian bahan makanan disimpan ke gudang penyimpanan kecil sesuai dengan jenis barang.

c. Esok harinya masing-masing bagian pengolahan mengambil bahan makanan sesuai dengan kebutuhan.

6. Penyimpanan Bahan Makanan

Penyimpanan bahan makanan adalah suatu tata cara menata, menyimpan, memelihara keamanan bahan makanan kering dan basah baik

(7)

kualitas maupun kuantitas di gudang bahan makanan kering dan basah serta pencatatan dan pelaporannya.

Tujuan

Tersedianya bahan makanan siap pakai dengan kualitas dan kuantitas yang tepat sesuai dengan perencanaan.

Prasyarat

a. Adanya sistem penyimpanan barang

b. Tersedianya fasilitas ruang penyimpanan bahan makanan sesuai persyaratan

c. Tersedianya kartu stok/buku catatan keluar masuknya bahan makanan. Langkah Penyimpanan Bahan Makanan

a. Setelah bahan makanan yang memenuhi syarat diterima, harus segera dibawa ke ruang penyimpanan, gudang atau ruang pendingin.

b. Apabila bahan makanan langsung akan digunakan setelah ditimbang dan diawasi oleh bagian penyimpanan bahan makanan setempat dibawa ke ruang persiapan bahan makanan.

Untuk semua kelas rumah sakit diperlukan ruang penyimpanan untuk bahan makanan kering (gudang bahan makanan) dan ruang pendingin, serta ruang pembeku (freezer). Luas macam dan jenisnya berbeda menurut rumah sakit masing-masing. Freezer (pembeku) umunya dimiliki oleh Instansi yang besar yang dimaksudkan untuk menyimpan bahan makanan untuk jangka waktu yang agak lama.

Syarat ruang penyimpanan bahan kering (gudang)

a. Bahan makanan harus ditempatkan secara teratur menurut macam, golongan ataupun urutan pemakaian bahan makanan.

b. Menggunakan bahan yang diterima terlebih dahulu (FIFO = First In First Out). Untuk mengetahui bahan makanan yang diterima diberi tanda tanggal penerimaan.

c. Pemasukan dan pengeluaran bahan makanan serta berbagai pembukuan di bagian penyimpanan bahan makanan ini, termasuk kartu stok bahan

(8)

makanan harus segera diisi tanpa ditunda, diletakkan pada tempatnya, diperiksa dan diteliti secara kontinyu.

d. Kartu/buku penerimaan, stok dan pengeluaran bahan makanan, harus segera di isi dan diletakkan pada tempatnya.

e. Gudang dibuka pada waktu yang telah ditentukan.

f. Semua bahan makanan ditempatkan dalam tempat tertutup, terbungkus rapat dan tidak berlobang. Diletakkan di atas rak bertingkat yang cukup kuat dan tidak menempel pada dinding.

g. Pintu harus selalu terkunci pada saat tidak ada kegiatan serta dibuka pada waktu-waktu yang ditentukan. Pegawai yang masuk keluar gudang juga juga hanya pegawai yang ditentukan.

h. Suhu ruangan harus kering hendaknya berkisar antara 19- 210C.

i. Pembersihan ruangan secara periodik, 2 kali seminggu.

j. Penyemprotan ruangan dengan insektisida hendaknya dilakukan secara periodik dengan mempertimbangkan keadaan ruangan.

k. Semua lubang yang ada digudang harus berkasa, serta bila terjadi pengrusakan oleh binatang pengerat, harus segera diperbaiki.

Syarat Penyimpanan Bahan Makanan Segar

a. Tempat harus betul-betul sesuai dengan keperluan bahan makanan, agar tidak menjadi rusak.

b. Pengecekan terhadap suhu dilakukan dua kali sehari dan pembersihan lemari es/ruangan pendingin dilakukan setiap hari.

c. Pencairan es pada lemari es harus segera dilakukan setelah terjadi pengerasan.

d. Semua bahan yang akan dimasukkan ke lemari/ruang pendingin sebaiknya dibungkus plastik atau ketas timah.

e. Tidak menempatkan bahan makanan yang berbau keras bersama bahan makan yang tidak berbau.

f. Khusus untuk sayuran, suhu penyimpanan harus betul-betul diperhatikan. Untuk buah-buahan, ada yang tidak memerlukan pendingin, perhatikan sifat buah tersebut sebelum dimasukkan ke dalam ruang/lemari pendingin.

(9)

7. Penyaluran Bahan Makanan

Penyaluran bahan makanan adalah tata cara mendistribusikan bahan makanan berdasarkan permintaan harian.

Tujuan

Tersedianya bahan makanan siap pakai dengan kualitas dan kuantitas yang tepat sesuai dengan pesanan.

Prasyarat

a. Adanya bon permintaan bahan makanan

b. Tersedianya kartu stok/buku catatan keluar masuknya bahan makanan. 8. Persiapan Bahan Makanan

Persiapan bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu meliputi berbagai proses antara lain membersihkan, memotong, mengupas, mengocok, merendam, dsb.

Tujuan

Mempersiapkan bahan-bahan makanan, serta bumbu-bumbu sebelum dilakukan kegiatan pemasakan.

Prasyarat

1. Tersedianya bahan makanan yang akan dipersiapkan. 2. Tersedianya peralatan persiapan.

3. Tersedianya protap persiapan.

4. Tersedianya aturan proses-proses persiapan. 9. Pengolahan Bahan Makanan

Pengolahan bahan makanan merupakan suatu kegiatan mengubah (memasak) bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas, dan aman untuk dikonsumsi.

Tujuan

1. Mengurangi resiko kehilangan zat-zat gizi bahan makanan. 2. Meningkatkan nilai cerna.

3. Meningkatkan dan mempertahankan warna, rasa, keempukan, dan penampilan makanan.

(10)

Prasyarat

1. Tersedianya siklus menu

2. Tersedianya peraturan pengguna Bahan Tambahan Pangan (BTP) 3. Tersedianya bahan makanan yang akan diolah

4. Tersedianya peralatan pengolahan bahan makanan 5. Tersedianya aturan penilaian

6. Tersedianya prosedur tetap pengolahan 10. Pendistribusian Makanan

Pendistribusian makanan adalah serangkaian kegiatan penyaluran makanan sesuai dengan jumlah porsi dan jenis makanan konsumen yang dilayani (makanan biasa maupun makanan khusus).

Tujuan

Konsumen mendapat makanan sesuai diet dan ketentuan yang berlaku. Prasyarat

1. Tersedianya standar pemberian makanan rumah sakit, menyangkut standar penyediaan energi dan zat gizi lainnya serta dietetika.

2. Tersedianya standar porsi yang ditetapkan rumah sakit 3. Adanya peraturan pengambilan makanan

4. Adanya bon permintaan makanan

5. Tersedianya makanan sesuai dengan ketentuan diet pasien/kebutuhan konsumen.

6. Tersedianya peralatan makan

7. Tersedianya sarana pendistribusian makanan 8. Tersedianya tenaga pramusaji

9. Adanya jadwal pendistribusian makanan di dapur utama Macam Penyaluran Makanan

1. Penyaluran Makanan Yang Dipusatkan

Cara ini lazim disebut dengan cara distribusi ”sentralisasi”. Dengan ketentuan ini, makanan pasien dibagi dan disajikan dalam alat makan di tempat pengolahan makanan.

(11)

Cara ini lazim disebut dengan sistem distribusi “desentralisasi”. Makanan pasien dibawa dari tempat pengolahan ke dapur ruang perawatan pasien, dalam jumlah banyak/besar, untuk selanjutnya disajikan dalam alat makan masing-masing pasien sesuai dengan permintaan makanan.

3.Penyaluran Makanan Kombinasi

Penyaluran makanan kombinasi dilakukan dengan cara sebagian makanan ditempatkan langsung ke dalam alat makanan pasien sejak dari tempst produksi (dapur), dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam wadah besar, pendistribusiannya dilaksanakan setelah sampai di ruang perawatan.

Masing-masing cara distribusi tersebut mempunyai keuntungan dan kelemahan sebagai berikut :

a. Sentralisasi

Keuntungan cara sentralisasi :

1. Tenaga lebih hemat, sehingga lebih menghemat biaya dan pengawasan.

2. Pengawasan dapat dilakukan dengan mudah dan teliti.

3. Makanan dapat disampaikan langsung ke pasien dengan sedikit kemungkinan kesalahan pemberian makanan.

4. Ruangan pasien terhindar dari keributan pada waktu pembagian makanan serta bau masakan.

5. Pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat. Kelemahan cara sentralisasi :

1. Memerlukan tempat, peralatan dan kelengkapan makanan yang lebih banyak (tempat harus luas, kereta pemanas mempunyai rak).

2. Adanya tambahan biaya untuk peralatan, perlengkapan serta pemeliharaan.

3. Makanan sampai ke pasien sudah agak dingin.

4. Makanan mungkin sudah tercampur serta kurang menarik, akibat perjalanan dari dapur utama ke dapur ruangan.

(12)

b. Desentralisasi

Keuntungan cara desentralisasi

1. Tidak memerlukan tempat yang luas, peralatan makan yang ada di dapur ruangan tidak banyak.

2. Makanan dapat dihangatkan kembali sebelum dihidangkan ke pasien. 3. Makanan dapat disajikan lebh rapi dan baik serta dengan porsi yang

sesuai kebutuhan pasien. Kelemahan cara desentralisasi

1. Memerlukan tenaga lebih banyak di ruangan dan pengawasan secara menyeluruh agak sulit.

2. Makanan dapat rusak bila petugas lupa untuk menghangatkan kembali. 3. Besar porsi sukar diawasi, khususnya bagi pasien yang menjalankan

diet.

4. Pengawasan harus lebih banyak dilakukan.

5. Ruangan pasien dapat terganggu oleh keributan pembagian makanan serta bau masakan.

4. Sumber Daya Manusia

a. Kepala Unit Pelayanan Gizi

Kepala unit pelayanan gizi adalah penanggung jawab umum organisasi unit pelayanan gizi di sebuah rumah sakit, yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit dengan berdasarkan pada ketentuan dan peraturan kepegawaian yang berlaku. Kepala unit pelayanan gizi rumah sakit bertugas memimpin penyelenggaraan pelayanan gizi di rumah sakit, yang pada umumnya bertanggung jawab kepada Direktur Bidang Penunjang Medis.

Sesuai dengan tujuan dan kegiatan pelayanan gizi rumah sakit, umumnya tugas dan fungsi kepala unit pelayanan gizi di rumah sakit meliputi:

1. Menyusun perencanaan pelayanan gizi. 2. Menyusun rencana evaluasi pelayanan gizi.

(13)

3. Melakukan pengawasan dan pengendalian. 4. Melaksanakan pemantauan.

5. Melaksanakan pengkajian data kasus.

6. Melaksanakan penelitian dan pengembangan

Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, maka seorang kepala unit pelayanan gizi rumah sakit harus memenuhi kriteria tertetu sebagai berikut : a. Rumah Sakit kelas A : Lulusan S2-Gizi/Kesehatan atau S-1

Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D4-gizi dengan pengalaman kerja tertentu.

b. Rumah Sakit kelas B : Lulusan S2-Gizi/Kesehatan atau S-1 Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-Gizi,atau serendah-rendahnhya lulusan D4-Gizi.

c. Rumah Sakit kelas C : Lulusan S1-Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-Gizi atau lulusan D4-Gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D3-Gizi dengan pengalaman kerja tertentu.

b. Koordinator unit-unit

Koordinator unit-unit melaksanakan tugas mengkoordinasikan : a. Perencanaan dan evaluasi pelayanan gizi.

b. Pengawasan dan Pengendalian dalam penyelenggaraan pelayanan gizi. c. Pemantauan proses pelayanan.

d. Pengkajian data kasus.

e. Penelitian dan pengembangan.

Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas, maka klasifikasi pendidikan tenaga Koordinator unit harus memenuhi criteria tertentu sebagai berikut :

a. Rumah Sakit kelas A : Lulusan S2-Gizi/Kesehatan atau S-1 Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D4-gizi.

(14)

b. Rumah Sakit kelas B : Lulusan S2-Gizi/Kesehatan atau S-1 Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-Gizi,atau serendah-rendahnhya lulusan D4-Gizi.

c. Rumah Sakit kelas C : Lulusan S1-Gizi/Kesehatan dengan pendidika dasar D3-Gizi atau lulusan D4-Gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D3-Gizi.

c. Supervisor

Supervisor bertugas mengawasi dan mengendaliakn proses penyelenggaraan pelayanan gizi rumah sakit mulai dari perencanaan sampai dengan pendistribusian dan pelayanan pasca rawat dan rujukan. Bidang tugas yang diawasi mencakup aspek dietetik dan non-dietetik.

Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas maka diperlukan tenaga-tenaga Supervisor/Pengawas dengan kualifikasi pendidikan yang memenuhi kriteria tertentu sebagai berikut :

a. Rumah Sakit Kelas A

1. Lulusan S-1 Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-Gizi. 2. Lulusan D4-Gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D3-Gizi. 3. Lulusan D3-Perhotelan

b. Rumah Sakit Kelas B

1. Lulusan S1-Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D3-Gizi. 2. Lulusan D4-Gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D3-Gizi. 3. Lulusan D-3 Perhotelan.

c. Rumah Sakit Kelas C

1. Lulusan S-1 Gizi/Kesehatan dengan pendidikan dasar D-3 Gizi. 2. Lulusan D-4 Gizi, atau serendah-rendahnya lulusan D3-Gizi. 3. Jurusan D3-Perhotelan, atau serendah-rendahnya lulusan SMK

Tata Boga ditambah pengalaman dibidang penyelenggaraan makanan minimal selama 3 tahun.

(15)

Supervisor dapat ditukar/digantikan (rotasi) secara bergiliran berdasarkan pertimbangan tertentu, baik berdasarkan kemampuan teknis, keterampilan, maupun masa tugas.

d. Pelaksana

Pelaksana yang dimaksud adalah petugas gizi yang bertugas sebagai juru masak, perbekalan, pranata computer, dan ketatausahaan.

1. Juru Masak

Juru masak yaitu tenaga pengolah bahan makanan yang bertugas mulai dari persiapan bahan makanan hingga pendistribusian.

Pendidikan :

1. Rumah Sakit Kelas A : SMK-Tataboga atau SMU + kursus masak

2. Rumah Sakit Kelas B : SMK-Tataboga atau SMU + kursus masak 3. Rumah Sakit Kelas C : SMU/SLTP + kursus masak

2. Urusan Gudang/Perbekalan

Tenaga urusan gudang atau perbekalan bertugas pada unit penyimpanan bahan makanan untuk menjamin ketersediaan dan kesiapan bahan makanan sesuai dengan pesanan harian, serta kondisi fisik bahan makanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Pendidikan :

1. Rumah Sakit kelas A : D3-Gizi, D1-Gizi, atau SMU 2. Rumah Sakit kelas B : D3-Gizi, D1-Gizi, atau SMU 3. Rumah Sakit kelas C : D1-Gizi, SMU, atau yang sederajat 3. Operator Komputer

Operator computer bertugas terutama pada unit perencanaan dan evaluasi untuk mendukung formulasi dan akurasi perencanaan anggaran serta kebutuhan bahan makanan. Selain itu juga diperlukan dalam pengorganisasian data untuk mendukung efektifitas pelaporan.

(16)

Pendidikan dasar tenaga untuk operator komputer, baik rumah sakit kelas A, kelas B, maupun kelas C adalah SMU atau D3-Gizi + kursus komputer.

4. Tata Usaha

Tugas-tugas ketatausahaan meliputi registrasi pesanan, pembukuan keuangan, penyiapan laporan berkala, penyiapan laporan khusus, serta pengaturan hal-hal yang berkaitan dengan kepegawaian.

Pendidikan yang diperlukan untuk setiap kelas rumah sakit adalah :

1. D3-Gizi 2. D1-Gizi

3. SMU + kursus administrasi ketatausahaan 4. SMK-Administrasi

5. Juru Masak Ruangan

Yaitu pelaksana kegiatan penyajian makanan di ruang-ruang rawat inap, mulai dari penataan di dapur ruangan sampai menyajikan ke pasien.

Pendidikan :

1. Rumah Sakit kelas A : SMK-Tataboga atau SMU + kursus masak 2. Rumah Sakit kelas B : SMK-Tataboga atau SMU + kursus masak 3. Rumah Sakit kelas C : SMU/SLTP + kursus masak

6. Pekarya

Yaitu pelaksana yang membantu pelaksanaan tugas-tugas operasional di dapur penyelenggaraan makanan dan dapur ruangan rawat inap.

Adapun perincian ketenagaan di Instalasi Gizi dapat diuraikan dalam tabel berikut:

(17)

II. TUPOKSI INSTALASI GIZI 1. Tugas Pokok Instalasi Gizi

a. Membuat diagnosis masalah gizi

b. Menentukan kebutuhan terapi gizi, dengan mempertimbangkan 3 macam kebutuhan pasien:

1. penggantian (replacement)

2. pemeliharaan (maintenance)

3. penambahan akibat kehilangan (loss) yang berkelanjutan dan untuk pemulihan jaringan dengan berpedoman kepada:

a. tepat zat gizi (bahan makanan)

b. tepat formula

c. tepat bentuk

d. tepat cara pemberian

e. tepat dosis dan waktu

c. Memilih dan mempersiapkan

bahan/makanan/formula khusus (oral, enteral, parenteral) sesuai kebutuhan

d. Melaksanakan pemberian makanan

e. Evaluasi / pengkajian gizi dan pemantauan

2. Tugas dan Fungsi Jabatan

a. Kepala Unit Pelayanan Gizi

1. Menyusun perencanaan pelayanan gizi 2. Menyusun rencana evaluasi pelayanan gizi 3. Melakukan pengawasan dan pengendalian 4. Melaksanakan pemantauan

5. Melaksanakan pengkajian data kasus

6. Melaksanakan penelitian dan pengembangan

b. Koordinator Unit-unit

1. Perencanaan dan evaluasi pelayanan gizi

2. Pengawasan dan pengendalian dalam penyelenggaraan pelayanan gizi 3. Pemantauan proses pelayanan

(18)

5. Penelitian dan pengembangan

c. Pelaksana

1. mengolah bahan makanan mulai dari persiapan bahan makanan hingga pendistribusian

2. menyajikan makanan di ruang-ruang rawat inap

3. GAMBARAN UMUM

1. Sarana dan Prasarana

Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau terletak di lantai Basement gedung utama rumah sakit dan terdiri atas beberapa bagian ruangan. Adapun denah ruangan Instalasi Gizi dapat digambarkan sebagai berikut:

Loading Area I II dan III XII XI XIII XIV IV IV VII V VIII X IX VI

(19)

Keterangan Denah Instalasi Gizi: I. Ruang Penerimaan Bahan Makanan II. Ruang Pencucian Bahan Makanan

III. Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Basah IV. Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Kering V. Ruang Persiapan Bahan Makanan

VI. Ruang Masak Makanan VII. Ruang Distribusi Makanan VIII. Dapur Susu

IX. Ruang Penyimpanan Alat X. Ruang Pencucian Alat XI. Ruang Kantor

XII. Ruang Kepala Instalasi Gizi XIII. Toilet dan Locker Pria XIV. Toilet dan Locker Wanita Peralatan dan Perlengkapan

A. Ruang Penerimaan Bahan Makanan

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Load Transfer Trolley 1

2 S/S Pot Sink w/ Splash Back 1

3 Single Faucet 1

4 S/S Portable Grease Trap 1

B. Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Basah

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 Refrigerated Cabinet Chiller - 4 Half Solid Doors 1 2 Refrigerated Cabinet Freezer - 4 Half Solid Doors 1

3 Carving Table 1

4 S/S Work Table With Undershelf, w/ Splash Back 1

5 S/S Pot Sink w/ Splash Back 2

6 Meat Slicer 1

7 Meat Grinder 1

8 Single Faucet 2

9 S/S Portable Grease Trap 1

C. Ruang Penyimpanan Bahan Makanan Kering

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Adjustable Punched Pan Rack 3 D. Ruang Persiapan Bahan Makanan

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Pot Sink w/ Splash Back 1

2 Mix Faucet 1

3 S/S Portable Grease Trap 2

4 S/S Adjustable Punched Pan Rack 2 5 S/S Work Table With Undershelf, w/ Splash Back 2 6 S/S Single Sink with Splash Back 1

7 Single Faucet 1

8 All Type Knife 6

9 Butcher Block 1

(20)

E. Ruang Masak Makanan

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 Gas Boiling Pan 1

2 Gas Kwalie Range High Pressure - 2 burners 1

3 S/S Portable Grease Trap 1

4 Gas Rice Cooker - 3 Decks 1

5 Gas Deep Fryer 1

6 Gas Range with Oven - 4 burners 1 7 S/S Exhaust Hood Island Type, w/o Ducting & Fan 1

8 Kompor gas dan gas 12 kg 1

9 Aneka peralatan masak

10 Penanak Nasi (Magic com) 1

11 Microwave 1

12 Blender 1

13 Mixer 1

F. Ruang Distribusi Makanan

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Work Table With Undershelf, w/ Splash Back 3

2 S/S Double Table Over Shelfs 2

3 S/S Food Service Trolley 4

4 S/S Food Distribution Trolley w/ Heating Element 1

5 Insect Killer 2

6 S/S Work Table With Undershelf, w/ Splash Back 1 7

Electric Bain Marie with 4 x 1/2 GN Pan + 2 x Soup Pot

1

8 White Board 1

G. Dapur Susu

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Work Table With Undershelf, w/ Splash Back 1

2 S/S Pot Sink w/ Splash Back 1

3 Single Faucet 1

4 Electric Water Boiler Cap.40 ltr 1

5 Toaster 1

6 Juicer 1

7 Dispenser 1

H. Ruang Penyimpanan Alat

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Adjustable Punched Pan Rack 2

I. Ruang Pencucian Alat

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 S/S Soiled Table with Scrap Hole, without Splash Back 1

2 S/S Portable Grease Trap 1

3 S/S Dishwasher Sink w/o Scrap Hole, w/ Splash Back 1

4 Mix Faucet 1

5 Pre Rinse Unit 1

6 Electric Dishwashing Machine 1

7 S/S Clean Dish Washer Tabe w/ Splash Back 1

(21)

J. Ruang Kantor

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 Meja Kerja 1 2 Kursi Kerja 1 3 Kursi Tunggu 1 4 Komputer 1 5 Printer 1 6 Pesawat Telepon 1

K. Ruang Kepala Instalasi Gizi

NO NAMA BARANG JUMLAH

1 Meja Kerja 1

2 Kursi Kerja 3

3 Pesawat Telepon 1

2. Ketenagaan

Ketenagaan di Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau yang ada saat ini terdiri atas:

a. Kepala Instalasi : 1 orang

b. Ahli Gizi : Sarjana Kesehatan/Gizi (S1 KesMas) = 1 orang Sarjana Muda Gizi (DIII Gizi) = 2 orang c. Juru Masak : 9 orang

d. Pekarya : 2 orang

Adapun struktur organisasi dari Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau dapat digambarkan sebagai berikut:

Waktu kerja

Dalam melaksanakan pekerjaannya, jam kerja ahli gizi dibagi menjadi dua shift, yaitu:

Pukul 8.00 sampai pukul 14.00 WIB Pukul 14.00 sampai pukul 21.00 WIB

Dalam setiap shift kerja masing-masing ahli gizi mendapat 2 hari libur secara bergantian dalam tiap minggunya. Sedangkan jam kerja tenaga pekarya dibagi menjadi dua shift, yaitu:

Pukul 6.00 sampai pukul 14.00 WIB Pukul 14.00 sampai pukul 21.00 WIB

(22)

3. Kegiatan

Kegiatan penyelenggaraan makanan merupakan bagian dari unit pelayanan gizi di rumah sakit. Instalasi gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau bertanggung jawab untuk melaksanakan semua kegiatan mulai dari perencanaan menu, pemesanan, penerimaan bahan makanan, penyimpanan, penyaluran, persiapan bahan makanan, pengolahan, pendistribusian, hingga evaluasi.

Arus Kerja

Arus kerja yang dimaksud adalah urut-urutan kegiatan kerja dalam memproses bahan makanan menjadi hidangan. Hal ini meliputi gerak dari penerimaan bahan makanan, persiapan, pemasakan, pembagian/distribusi makanan. Adapun arus kerja yang diselenggarakan di Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut:

Arus Kerja Penyelenggaraan Makanan

Penerimaan

Penyimpanan bahan makanan segar dingin Penyimpanan bahan makanan kering Persiapan Pembuangan sampah sementara Pemasakan Pembagian Pencucian Pembuangan Sampah

(23)

4. HASIL KEGIATAN

1. Penyelenggaraan Makanan Pasien Rawat Inap

Adapun gambaran penyelenggaraan makanan pasien yang dilakukan bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2014 adalah sebagai berikut:

BULAN MB ML MS MC NORMAL DIIT KHUSUS NORMAL DIIT KHUSUS NORMAL DIIT KHUSUS NORMAL DIIT KHUSUS JAN 93 295 292 403 - - 31 11 FEB 91 253 231 353 2 - 37 MAR 114 319 232 372 5 - 84 53 APR 103 522 241 365 14 - 52 53 MEI 148 394 290 435 9 - 70 65 JUN 152 427 496 369 8 - 53 8 JUL 165 312 425 253 13 2 27 52 AGUS 201 585 472 448 19 - 74 58 SEPT 185 411 417 315 3 5 84 432 OKT 596 674 546 681 19 20 41 521 NOV 543 532 721 628 12 7 35 726 DES 454 432 615 502 5 - 45 612 Keterangan: MB = Makanan Biasa ML = Makanan Lunak MS = Makanan Saring MC = Makanan Cair

NO JENIS DIIT KODE JAN BULAN

FEB MARET APRIL MEI JUNI JULI AGSTS SEPT OKT NOV DES

1 Diit TKTP TKTP 364 316 354 582 525 517 417 636 612 819 784 695

2 Diit Rendah Garam RG 215 198 207 212 279 142 160 82 102 112 83 105

3 Diit Rendah Kalori RK 2 3

4 Diit Rendah Serat RS 5 2 6 1 1 1 6 3

5 Diit Rendah Purin RP 51 46 24 8 22 13 13 13 5 11 5 6

6 Diit Rendah Lemak RL 74 64 57 64 35 65 37 7 18 5

7 Diit Rendah Protein Rpro 4 61 5

8 Diit Tinggi Protein TP

9 Diit Tinggi Serat TS 3 5 2 3

10 Diit Lambung DL 4 3 5 6 2 2 1 1 5

11 Diit Hati DH 3 15 5 4 39 35 7 3 3

12 Diit Diabetes Melitus DM 74 114 112 43 114 63 51 113 81 54 36 29

13 Diit Jantung DJ 19 32 31 29 4 14 51 82 3 36 34 21

14 Diit Ginjal DG

(24)

2. Asuhan Gizi Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap

BULAN JUMLAH ASUHAN GIZI PASIEN

RAWAT JALAN RAWAT INAP

JANUARI 0 3 FEBRUARI 5 5 MARET 3 4 APRIL 4 1 MEI 3 1 JUNI 7 3 JULI 15 7 AGUSTUS 18 9 SEPTEMBER 13 5 OKTOBER 5 11 NOVEMBER 12 3 DESEMBER 11 8

Kegiatan asuhan gizi (konsultasi) ini belum berjalan dengan rutin dikarenakan jumlah ahli gizi yang masih terbatas dan belum tersedianya poli khusus untuk konsultasi gizi.

5. MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

1. Sarana dan Prasarana

Jika dilihat dari letaknya instalasi gizi sudah cukup baik karena terhubung langsung dengan luar bangunan rumah sakit. Namun sebaiknya instalasi gizi mempunyai bangunan tersendiri yang terpisah dari bangunan utama. Selain itu hingga saat ini masih ada beberapa bagian ruangan dan peralatan di Instalasi Gizi yang belum dapat digunakan. Hal ini dikarenakan sampai sekarang alat-alat tersebut belum uji fungsi. Sebaiknya dilakukan peninjauan ulang terhadap keadaan fisik instalasi gizi dan uji fungsi kembali peralatan.

2. Tenaga

a. Jumlah ketenagaan yang ada saat ini di Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau masih jauh dari cukup sehingga beberapa kegiatan

(25)

dilakukan secara rangkap baik itu oleh Kepala Instalasi, Ahli Gizi maupun Juru Masak

b. Jika salah satu ahli gizi cuti maka kepala instalasi bertugas sebagai pengganti dan berlaku sistem double shift untuk beberapa hari (jam kerja dari pukul 08.00 – 18.00)

c. Juru masak yang bertugas pada shift pagi 2-3 orang dan shift sore 2 orang dengan pekerjaan yang dilakukan di mulai dari persiapan bahan, pemasakan, pendistribusian/penyajian makanan kepada pasien hingga pengemasan dan pencucian alat.

d. Juru masak shift pagi bertugas menyiapkan sarapan dan makan siang sedangkan juru masak shift sore bertugas menyiapkan snack sore dan makan malam.

e. Rata-rata pasien yang dilayani 30 – 56 orang / hari dengan makanan yang harus disiapkan berupa makanan biasa yang normal, makanan biasa dengan diit khusus, makanan lunak yang normal, makanan lunak dengan diit khusus, makanan saring yang normal, makanan saring dengan diit khusus, makanan cair yang normal serta makanan cair dengan diit khusus

Sebaiknya dilakukan penambahan ketenagaan di Instalasi Gizi RSUD Provinsi Kepulauan Riau baik yang sesuai dengan standar dan kapasitas tempat tidur.

3. Biaya

Saat ini biaya makan minum pasien tidak dikelola oleh Instalasi Gizi. Instalasi Gizi hanya membantu menyusun rencana anggaran yang akan diajukan setiap tahunnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kecukupan konsumsi makanan dapat ditentukan dengan menganalisis kandungan zat gizinya kemudian dibandingkan dengan standar Angka kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan

disusun berdasarkan kecukupan gizi pasien yang tercantum dalam Penuntun Diet dan disesuaikan dengan kebijakan rumah sakit. • Tujuan :Tersedianya acuan macam dan jumlah

Proses pengadaan makanan meliputi perencanaan menu sampai ke pasien (berdasarkan diet yang tepat, pencatatan, pelaporan dan evaluasi) dengan indikator status gizi pasien

informasi perbandingan antara asupan dengan kebutuhan gizi dalam sehari. Setiap pasien rawat inap akan dianamnesus untuk mengetahui asupan makanan sebelum dirawat yang meliputi

Tujuan dari perencanaan anggaran belanja makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan macam dan jumlah bahan makanan bagi konsumen yang dilayani sesuai dengan

Tersedianya rencana anggaran belanja makanan yang diperlukan untuk memenuhi Tersedianya rencana anggaran belanja makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan

Perencanaan anggaraan adalah suatu kegiatan penyusunan biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi pasien dan karyawan yang dilayani. 5ujuannya

Kegiatan pokok Instalasi Gizi RSU Sri Torgamba adalah Pelayanan gizi rawat inap meliputi pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi dan pelayanan  penyelengaraan