• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mortalitas Penderita Cedera Kepala Berat yang di Rawat di Unit Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Juli 2012 – Juni 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mortalitas Penderita Cedera Kepala Berat yang di Rawat di Unit Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Juli 2012 – Juni 2013"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Cedera kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di unit gawat darurat suatu rumah sakit. Menurut Hippocrates, bahwa tidak ada cedera kepala yang perlu dikhawatirkan serius yang bisa membuat kita putus hara pan dan tidak ada juga keluhan yang dapat kita abaikan. Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus cedera kepala, 52.000 pasien meninggal dan selebihnya di rawat inap. Cedera kepala juga merupakan penyebab kematian ketiga dari semua jenis cede ra yang dikaitkan dengan kematian (CDC, 2011).

Mortalitas cedera kepala akibat terjatuh lebih tinggi pada laki -laki dibanding perempuan yaitu sebanyak 28,8 per100.000 dan 41,3 per100.000. Bagi lansia pada usia 65 tahun ke atas, kematian akibat cedera kepal a mencatat 52.000 kematian dari 1,7 juta lansia di Amerika yang mangalami cedera kepala akibat terjatuh (CDC, 2005).

Penyebab utama cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, kekerasan dan terjatuh. Pejalan kaki yang mengalami tabrakan kendaraan bermoto r merupakan penyebab cedera kepala terhadap pasien anak-anak bila dibandingkan dengan pasien dewasa (NINDS, 2013).

Pasien cedera kepala berat meninggal sebelum tiba di Rumah Sakit, dan kira -kira 90% kematian pra rumah sakit karena menderita cedera kepala. Kurang lebih 70% cedera otak memerlukan penatalaksanaan medik dikategorikan sebagai cedera kepala ringan, 15% sebagai cedera kepala sedang, dan 15% cedera kepala berat (ATLS, 2008). Pada cedera kepala berat penurunan kesadaran berlangsung lebih dari 24 j am dan dihubungkan dengan angka mortalitas yang lebih tinggi pula (Indarwati, 2004).

Cedera kepala secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu cedera kepala primer dan cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer diakibatkan oleh cedera benturan atau pene trasi langsung pada jaringan saraf. Cedera kepala sekunder merupakan rangkaian cedera kepala primer yang dapat memperburuk outcome. Cedera kepala sekunder itu diakibatkan oleh hipotensi, hipoksia dan kenaikan tekanan intrakranial (Indarwati, 2004). Glasgow coma scale

(GCS), merupakan instrumen standar yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran

(2)

pasien cedera kepala. Selain mudah dilakukan, GCS juga memiliki peranan penting dalam memprediksi risiko kematian di awal trauma. Dari GCS dapat diperoleh informasi yang efektif mengenai pasien cedera kepala (IKABI, 2004).

Di Indonesia jumlah kecelakaan lalu lintas meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Kantor Kepolisian Republik Indonesia (1992 -2009) tahun 2007 terdapat 49553 orang dengan korban meninggal 16955 orang, luka berat 20181, luka ringan 46827. Tahun 2008 jumlah kecelakaan 59164, korban meninggal 20188, luka berat 23440 yang menderita luka ringan 55731 orang. Tahun 2009 jumlah kecelakaan 62960, korban meninggal 19979, luka berat 23469, dan luka ringan 62936, (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia) Angka kejadian kecelakaan di Jawa Tengah pada bulan November 2010 yang bertempat di Semarang (ANTARA news) yang dicatat oleh Direktorat Lalu Lintas Kepolisian daerah Jawa Tengah 603 orang pengguna jalan raya tewas akibat berbagai kecelakaan yang terjadi selama semester pertama 2010. Selama semester pertama 2010 tercatat 4438 kejadian kecelakaan, penderita yang dirujuk di rumah sakit dr. Kariadi dan dirawat inap diruang bedah saraf mencapai 576 oran g.

Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui mortalitas penderita cedera kepala berat yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan periode Juli 2012 -Juni 2013 karena dari penelit ian sebelumnya tampak kejadian cedera kepala terus meningkat dan berakibat fatal, oleh karena itu penelitian ini penting dilakukan untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan koreksi penatalaksanaan cedera kepala untuk menurunkan mortalitas.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan pada penelitian ini adalah: Bagaimana gambaran mortalitas penderita cedera kepala berat yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan Periode Juli 2012 Juni 2013?

1.3. Tujuan Penelitian

(3)

1.3.1. Tujuan Umum

Agar peneliti mengetahui mortalitas cedera kepala berat yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan periode juli 2012 juni 2013.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Peneliti dapat mengetahui angka kejadian penderita cedera kepala berat berdasarkan karakteristik yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan.

2. Mengetahui distribusi penyakit yang menyebabkan cedera kepala berat berdasarkan karakteristik yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :

1. Bagi institusi rumah sakit, penelitian ini dapat bermanfaat untuk evaluasi menyelu ruh penatalaksanaan intensif penderita cedera kepala berat yang dirawat di Unit Perawatan Intensif.

2. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai salah satu referensi angka kejadian dan mortalitas pasien cedera kepala berat di Unit Pera watan Intensif Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik Medan.

3. Bagi peneliti, penelitian ini dapat bermanfaat untuk:

a. Menambah wawasan tentang cedera kepala berat.

b. Menambah wawasan tentang penatalaksanaan pada penderita cedera kepala berat di Unit Perawatan Intensif.

Referensi

Dokumen terkait

1,6,15,17 Suatu CT Scan yang normal pada waktu masuk dirawat pada penderita-penderita cedera kepala berat berhubungan dengan mortalitas yang lebih rendah dan penyembuhan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin serum dengan mortalitas pasien anak yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Anak (UPIA) RSUP Sanglah

Kesimpulan : bersihan laktat arteri dari jam ke-0 ke jam ke-24 tidak dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas pasien sepsis berat di UPI RSHAM. Kata kunci : laktat arteri

Apakah nilai bersihan laktat arteri dari jam ke-0 ke jam ke-24 dapat digunakan sebagai. prediktor terhadap mortalitas pasien sepsis berat yang dirawat di

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, rumusan masalah penelitian adalah ―Bagaimana karakteristik penderita karsinoma ovarium tipe epitel berdasarkan

Insiden sepsis di unit perawatan intensif pediatrik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai rumah sakit rujukan di Indonesia adalah 19.3% dari 502 pasien anak yang

1,6,15,17 Suatu CT Scan yang normal pada waktu masuk dirawat pada penderita-penderita cedera kepala berat berhubungan dengan mortalitas yang lebih rendah dan penyembuhan

Latar belakang : Salah satu pelayanan sentral di rumah sakit adalah pelayanan instalasi perawatan intensif (IPI). Saat ini pelayanan di IPI tidak hanya terbatas