Rukun dan Syarat Ijarah (3)

14  36  Download (0)

Teks penuh

(1)

Rukun dan syarat Ijarah

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah

Fiqh Muamalah

Dosen pengampu:

Imam Mustofa, S.H.I., M.S.I.

Disusun Oleh

Dina Mariana

(1502100033)

Kelas

:

B

Program Studi S1 Perbankan Syariah

Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Jurai Siwo Metro

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ijarah merupakan mengambil manfaat yang di lakukan oleh seseorang dengan orang lain, dengan menggunakan ketentuan syarat islam. Kegiatan

ijarah ini, tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari, baik di

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

Rukun dan Syarat Ijarah

1. Mu’jir dan musta’jir, yaitu orang yang melakukan akad sewa menyewa atau upah mengupah. Mu’jir adalah yang memberikan upah.

2. menyewakan, musta’jir adalah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan menyewakan sesuatu, diisyaratkan kepada mu’jir dan musta’jir adalah baligh, berakal, cakap melakukan tasharruf (mengendalikan harta), dan saling meridhoi. Sebagaimana dalam surah al-nisa:29 yang artinya:

“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta

sesamamu dengan bathil, kecuali dengan perniagaan secara suka sama suka.”

3. Shinghat ijab Kabul antara mu’jir dan musta’jir, ijab Kabul sewa menyewa dan upah mengupah, ijab Kabul sewa menyewa misalnya: “aku sewakan mobil ini kepadamu setiap hari Rp.5.000,00”, maka musta’jir menjawab “aku terima sewa mobil tersebut dengan harga demikian setiap hari”. Ijab Kabul upah mengupah misalnya seorang berkata, “kuserahkan kebun ini kepadamu untuk dicangkuli dengan upah setiap hari Rp.5.000,00” kemudian musta’jir menjawab “aku akan kerjakanitu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan”.

4. Ujrah, disyaratkan diketahui jumlahnya oleh kedua belah pihak, baik dalam sewa menyewa maupun dalam upah mengupah.

5. Barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan pada barang yang disewakan dengan beberapa syarat berikut ini:

 Hendaklah barang menjadi objek akad sewa menyewa dan upah mengupah dapat dimanfaatkan kegunaannya.

(4)

 Manfaat dan benda yang disewa adalah perkara yang mubah (boleh) menurut syara’ bukan hal yang dilarang (diharamkan).

 Benda yang disewakan disyaratkan kekal ‘ain (zat)-Nya hingga waktu yang ditentukan menurut perjanjian dalam akad.1

A. Rukun Ijarah

Umumnya dalam kitap fiqh di sebutkan bahwa rukun ijarah adalah pihak yang menyewa (musta’jir), pihal yang menyewakan (mu’jir), ijab dan kabul (sigah),manfaat barang yang di sewakan dan upah. KHES menyebutkan dalam pasal 251 bahwa rukun

ijarah adalah:

1. Pihak yang menyewa.

2. Pihak yang menyewakan.

3. Benda yang di ijarahkan.

4. Akad.

Masing-masing rukun ini mempunyai syarat tertentu yang akan di jelaskan dalam masalah syarat ijarah.

Fatwa DSN MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 menetapkan mengenai rukun ijarah yang terdiri dari:

1. Sigah ijarah yaitu ijab dan kabul berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berakad (berkontrak) baik secara verbal atau dalam bentuk lain.

2. Pihak-pihak yang berakad, terdiri atas pemberi sewa/pemberi jasa/pengguna jasa.

3. Objek akad ijarah; yaitu:

a. Manfaat barang dan jasa; atau

(5)

b. Manfaat jasa dan upah.2

Adapun rukun akad pembiayaan ijarah antara lain:

1. Pelaku akad, yaitu musta’jir (penyewa) adalah pihak yang menyewa asset, dan

mu’jir/muajir (pemilik) adalah pihak pemilik yang menyewakan asset.

2. Objek akad, yaitu ma’jur (asset yang di sewakan), dan ujrah (harga sewa). 3. Shighah, yaitu ijab dan Kabul.3

Jumhur ulama mengemukakan bahwa ijarah mempunyai 3 rukun umum dan 6 rukun khusus. Pertama adalah sighat (ucapan) yang terdiri dari tawaran (ijab) dan penerimaan (qabul).Kedua adalah pihak yang berakad (berkontrak) yang terdiri dari pemberi sewa (lessor-pemilik asset), serta penyewa (pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan asset). Ketiga adalah objek sewa yang terdiri dari manfaat dari penggunaan asset dan pembayaran sewa (harga sewa).

Shigot (ucapan), yang terdiri dari:

 Ijab (Penawaran yang dinyatakan dari pemilik asset)

 Qabul (penerimaan yang dinyatakan dari penyewa)4

Rukun ijarah ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:

1. Pelaku yang terdiri dari atas pemberi sewa atau pemberi jasa atau mujjir dan penyewa atau pengguna jasa atau musta’jir.

2. Objek akad ijarah berupa:Manfaat asset atau ma’jur dan pembayaran sewa atau manfaat jasa atau pembayaraan upah.

3. Ijab Kabul atau serah terima.5

2 Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 105-106 3 Ascara, Akad dan produk Bank Syariah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h.101 4 Hasbi Ramli, Teori Dasar Akutansi Syariah, (Jakarta: Renaisan, 2005), h. 149

(6)

Hukum ijarah shahih adalah tetapnya kemanfaatan bagi penyewa, dan tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang menyewakan ma’qud ‘alaih sebab ijarah termasuk jual beli pertukaran, hanya saja dengan kemanfaatan.

Adapun hukum ijarah rusak, menurut ulama hanafiyah, jika penyewa telah mendapatkan manfaat tetapi orang yang menyewakan atau yang bekerja di bayar lebih kecil dari kesepakatan pada waktu akad. Ini bila kerusakan tersebut terjadi pada syarar. Akan tetapi, jika kerusakan di sebabkan penyewa tidak memberitahukan jenis pekerjaan perjanjiannya, upah harus di berikan semestinya.

Jafar dan ulama syafi’iyah berpendapat bahwa ijarah fasid sama dengan jual beli fasid, yakni harus di bayar sesui dengan nilai atau ukuran yang di capai oleh barang sewaan.6

Rukun dari ijarah sebagai suatu transaksi adalah akad atau perjanjian kedua belah pihak, yang menunjukan bahwa transaksi itu telah berjaln secara suka sama suka. Adapun unsur yang terlibat dalam transaksi ijarah itu adalah:

1. Orang yang menggunakan jasa, baik dalam bentuk tenaga atau benda yang kemudian memberikan upah atas jasa tenaga atau sewa dari jasa benda yang di gunakan, di sebut pengguna jasa atau mujir.

2. Orang yang memberika jasa, baik dengan tenaganya atau dengan alat yang di milikinya, yang kemudian menerima upah dari tenaganya atau sewa dari benda yang di milikinya, di sebut pemberi jasa atau musta’jir.

3. Objek transaksi yaitu jasa, baik dalam bentuk tenaga atau benda yang di gunakan di sebut ma’jur.7

B. Syarat Ijarah

Secara garis besar, syarat ijarah ada empat macam, yaitu:

1. Syarat terjadinya akad (syurut al-in’iqad),

(7)

2. Syarat pelaksanaan ijarah (syurut al-nafadz),

3. Syarat sah, (syurut al-sihhah), dan

4. Syarat mengikat (syurut al-luzum)

Adanya syarat-syarat ini di maksudkan untuk menjamin bahwa ijarah yang di lakukan akan membawa kebaikan bagi para pihak yang melakukannya.

1. Syarat terjadinya akad (syurut al-in’iqad),

Syarat ini berkaitan dengan pihak yang melaksanakan akad. Syarat yang berkaitan dengan para pihak yang melakukan akad yaitu berakal. Dalam akad ijarah di persyaratkan mumayyiz. Dengan adanya syarat ini maka transaksi yang di lakukan oleh orang gila maka TIDAK sah.

Menurut hanafiyah dalam hal ini tidak di syaratkan baligh, transaksi yang di lakukan anak kecil yang sudah mumayyiz hukumnya sah.

Menurut malikiyah, mumayyiz adalah syarat bagi pihak yang melakukan akad jual beli dan ijarah. Sementara kalangan Hanafiyah dan Hambaliyah menjelaskan bahwa syarat bagi pihak yang melakukan akad adalah baligh dan berakal.8

2. Syarat pelaksanaan ijarah (syurut al-nafadz)

Akad ijarah dapat terlaksana bila ada kepemilikan dan penguasaan, karena tidak sah akad ijarah terhadap barang milik atau sedang dalam penguasaan orang lai. Tanpa adanya kepemilikan dan atau penguasaan, maka ijarah tidak sah.

3. Syarat sah, (syurut al-sihhah)

Syarat ini ada terkait dengan para pihak yang berakad, objek akad dan upah. Syarat sah ijarah adalah sebagai berikut:

a. Adanya ukuran suka rela dari para pihak yang melakukan akad. Syarat ini terkait dengan para pihak. Suka sama suka juga menjadi syarat dalam jual beli. Tidak boleh ada keterpaksaan untuk melakukan akad dari para pihak. Hal ini berdasarkan firman allah, yang artinya:

(8)

“Hai Orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali ada transaksi suka sama suka diantara kalian”.

b. Manfaat barang atau jasa yang di sewakan hukumnya mubah secara syara’, seperti sewa buku untuk belajar,sewa rumah untuk tinggal dan seabagainya. Tidak diperbolehkan sewa orang untuk melakukan maksiat atau suatu yang di larang syara’. Syarat ini berdasarkan dabit fiqihiyyah, yang artinya:

“tidak diperbolehkan sewa menyewa untuk kemaksiatan”

c. Syarat terkait dengan mamfaat barang atau jasa seseorang ada beberapa, yaitu:

1) Manfaat barang atau jasa bisa di ganti dengan materi.

2) Manfaat barang atau jasa merupakan suatu yang berharga dan ternilai.

3) Manfaat merupakan suatu yang melekat pada barang yang sah kepemilikannya.

4) Manfaat dapat diserah terimakan.

5) Manfaat harus jelas dan dapat di ketahui.9

4. Syarat mengikat (syurut al-luzum)

syarat yang mengikat ini ada dua syarat, yaitu:

a. Barang atau orang yang di sewakan harus di terhindar dari cacat yang dapat menghilangkan fungsinya. Apabila sesudah transaksi terjadi cacat pada barang, sehingga fungsinya tidak maksimal, atau bahkan tidak fungsinya, maka penyewa berhak memilih untuk melanjutkan atau menghentikan akad sewa. Bila suatu ketika barang yang di sewakan mengalami kerusakan maka akad ijarah fasakh atau rusak dan tidak mengikat kedua belah pihak.

b. Terhindarnya akad dari udzur yang dapat merusak akad ijarah. Udzur ini bias terjadi pada bias terjadi pada orang atau pihak yang berakad atau pada objek akad ijarah.10

(9)

Fatwa DSN MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 menetapkan mengenai ketentuan

ijarah sebagai berikut:

1.Objek ijarah adalah manfaat dari pengunaan barang dan jasa

2.Manfaat barang atau jasa harus bias dinilai dan dapat di laksanakan dalam

kontrak

3.Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat di bolehkan (tidak diharamkan)

4.Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah

5. Pembayaran sewa atau upah boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan objek kontrak

6. Kelenturan (fleksibel) dalam menetukan sewa atau upah dapat di wujudkan dalam ukuran waktu, tempat dan jarak

.

Adapun syarat pembiayaan ijarah antara lain:

1. Jasa atau manfaat yang alkan diberikan oleh asset yang di sewakan tersebut harus tertentu dan di ketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak.

2. Kepemilikan aset tetap pada yang menyewakan yang bertanggung jawab atas pemeliharaanya sehingga asset tersebut terus dapat member manfaat kepada penyewa.

3. Akad ijarah di hentikan pada saat asset yang bersangkutan berhenti memberikan manfaat kepada penyewa. Jika asset tersebut rusak daalm periode kontrak, akad

ijarah masih tetap berlaku.

4. Asset tidak boleh di jual kepada penyewa dengan harga yang di tetapkan sebelumnya pada saat kontrak berakhir. Apabila aset akan di jual, harganya akan di tentukan pada saat kontrak berakhir.11

Jumhur Ulama mengatakan bahwa Objek sewa dalam akad Ijarah adalah bukan barang yang disewakan melainkan manfaat dari barang yang disewakan tersebut. Objek Ijarah itu boleh diserahkan dan digunakan secara langsung manfaatnya dan tidak

(10)

rusak(cacat). Bila dalam waktu tertentu manfaat tersebut tidak dapat dipenuhi, misalnya karena kerusakan aset, pemberi sewa harus menyediakan penggantian. Misalnya : tidak boleh menyewakan mobil yang sudah rusak mesinnya,karena apabila mesin mobil tersebut rusak maka tidak dapat diambil manfaatnya dan tidak bisa digunakan secara langsung atau menyewakan hewan tunggangan yang cacat kakinya atau lumpuh atau dalam kondisi sedang sakit sehingga tidak bisa diambil manfaatnya secara utuh bahkan dapat menyebabkan mudharat/ menyewakan rumah yang atapnya rusak.

Objek Ijarah itu sesuatu yang dihalalkan oleh syara’. Misal: tidak boleh menyewa seseorang untuk membunuh orang lain dan tidak boleh menyewakan rumah kepada non muslim untuk dijadikan tempat ibadah mereka.

Objek Ijarah itu merupakan manfaat atas sesuatu yang biasa disewakan, seperti: Rumah, Mobil, dan Hewan tunggangan.

Manfaat yang menjadi objek Ijarah harus diketahui secara sempurna dan jelas, sehingga tidak muncul perselisihan di kemudian hari.

Manfaat yang menjadi objek Ijarah adalah manfaat terhadap sesuatu yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan syara’. Misal: tidak boleh menyewa penari atau penyanyi yang gerakan atau lagunya menyalahi ketentuan hukum Islam yang dilarang. Ukuran jenis objek sewa (Ijarah) harus secara jelas diketahui dan tercantum didalam akad Ijarah. Mis: menyewakan mobil Innova.

Harga sewa atau upah (Ujrah), syarat-syaratnya yaitu:

a. Harga Sewa (Ujrah) dapat didefinisikan sebagai imbalan yang diperjanjikan dan dibayar oleh si penyewa sebagai harta atas manfaat yang dinikmatinya.

b. Harga sewa (Ujrah) harus dinyatakan secara jelas dan sesuatu yang bernilai harta serta pembayarannya dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Sesuai dengan Hadits Rasullullah S.a.w: Dari Abi Said, Rasulullah berkata: “Bila kamu menyewa seorang pekerja harus memberi tahu upahnya”. (Hadist AnNasai, no 3797, kitab Imam dan Nazar).

(11)

penyewarumah memiliki mobil dan dengan kesepakatan harga sewa kedua belah pihak akhirnya harga sewa rumah dibayar dengan harga sewa mobil.

d. Kelenturan (flexibility) dalam menentukan ujrah dapat ditentukan dalam ukuran waktu, tempat, dan jarak. Misalnya, seseorang berkata kepada lainnya: ”jika anda menjahitkan baju ini untuk saya pada hari ini, upahnya Rp 30.000,00. Sedangkan jika Anda menjahitkannya besok, upahnya Rp 20.000,00”. Atau jika Anda tinggal dirumah ini sebagai pedagang emas, maka sewanya adalah Rp 2 juta, sedangkan jika Anda sebagai pembuat parfum, sewanya Rp 1juta ”, dan sebagainya.

e. Pembayaran Ujrah di muka dibolehkan dalam syariah. Hal tersebut dapat merupakan pembayaran di muka dari total Ujrah. Dalam ujrah semua pembayaran adalah sewa yang dapat dipercepat atau ditunda, baik keseluruhannya atau sebagian (jika ia merupakan bagian dari total Ujrah). Pembayaran itu dapat dilakukan secara angsuran atau ditangguhkan setelah yang bersangkutan mengambil manfaat dari jasa tersebut.12

Ijarah merupakan akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa di ikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.13 buruh, harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

1. Perbuatan tersebut harus jelas batas waktu pekerjaan, misalnya bekerja menjaga rumah satu malam, atau satu bulan. Dan harus jelas jenis pekerjaannya, misalnya pekerjaan menjahit baju, memasak dan lain sebagainya. Dalam hal yang di sebutkan terakhir ini tidak di syaratkan adanya batas waktu pengerjaan. Dalam hal ini ijarah

12 Ibid…, h. 149

13 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 175

(12)

pekerjaan, di perlukan adanya job description (uraian pekerjaan). Tidak di benarkan mengupah seseorang dalam periode waktu tertentu dengan ketidakjelasan pekerjaan. Sebab ini cendrung menimbulkan tindakan kesewenang-wenangan yang memberikan pihak pekerja.15

2. Pekerjaan yang menjadi objek ijarah tidak berupa pekerjaan yang telah menjadi kewajiban pihak musta’jir (pekerjaa) sebelum berlangsung akad ijarah, seperti kewajiban membayar hutang , mengembalikan pinjaman, dan lain-lain. Demikian pula tidak sah mengupah perbuatan ibadah seperti shalat, puasa dan lain-lain. Menurut Fuqaha hanafiyah dan hambaliyah tidak sah. Alasan mereka perbuatan tersebut tergolong pendekata diri (taqarrub) kepada Allah.16

Agama menghendaki agar dalam pelaksanaan ijarah itu senantiasa di perhatikan syarat-syarat yang bisa menjamin pelaksanaannya yang tidak merugikan salah satu pihak pun serta terpelihara pula maksud-maksud mulia yang di inginkan agama. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melaksanakan aktifitas ijarah, yakni:

1. Para pihak yang menyelenggarakan akad haruslah berbuat atas kemauan sendiri dengan penuh dengan ke relaan. Dan tidaklah boleh di lakukan akad ijarah oleh salah satu pihak dengan unsur keterpaksaan.

2. Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan, baik yang datang dari

muajjir atau musta’jir.

3. Barang yang diakadkan mestilah barang yang sesuai dengan realitas, bukan barang yang tidak terwujud.17

4. Manfaat dari barang yang menjadi objek transaksi ijarah mestilah berupa barang yang mubah, bukan barang yang haram.

5. Pemberian upah atau imbalan dalam ijarah mestilah berupa barang yang bernilai, baik berupa uang ataupun jasa, yang tidak bertentangan deng kebiasaan yang berlaku.18

Objek yang berkenaan dengan objek transaksi yaitu jasa:

 Bila jasa adalah bentuk tenaga untuk bekerja, harus jelas apa yang di kerjakan, dan tidak di larang agaman utuk di kerjakan.

15 Mas’adi ghufron A, Fiqih Mu’amalah Konstektual, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h.185

16 Ibid…, h. 158

(13)

 Bila yang menjadi objek transaksi adalah jasa suatu benda, di syaratkan barang itu dapat di gunakan dalam arti dalam manfaatnya.19

Sehubungan dengan upah dari pekerja di tuntut Nabi supaya di berikan selekas mungkin, sebagaimana sabda Nabi dalm hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash menurut riwayat Ahmad, Abu Daud dan al-Nasai, yang artinya:

“Berikanlah upah orang yang di upah itu sebelum kering keringatnya”.20

Ijarah hukumnya tidak sah, kecuali harus ada ijab, seperti “saya menyewakan (berburuh) kepadamu.” Dan harus ada Kabul seperti “saya menyewakan padamu”: mushannif menerangkan tentang segala sesuatu yang sah di ijarahkan dalam perkataannya, bahwa setiap barang yang dapat diambil manfaatny serta tahan keadaannya, seperti menyewakan rumah untuk di diami dan kendaraan untuk di naiki, maka hukumnya sah menyewakan. Jika tidak kuat tahan lama, maka tidak sah.21

Wajib adanya upah atau sewa dalam ijarah sewaktu berada dalam akad.

Akad sewa-menyewa menjadi batal sebab barang yang di sewakan rusak, seperti robohnya rumah. Adapun batalnya ijarah (sewa-menyewa) dengan sebab sebagaimana tersebut itu adalah dengan penilaian masa yang belum lewat, bukan masa yang telah lewat, maka, tidak batal ijarah (sewa-menyewa) dalam masa yang telah lewat itu.22

DAFTAR PUSTAKA

Hendi Suhendi, Fiqih Mu’amalah, Jakarta: Rajawali Pers, 2013

Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers, 2016

Ascara, akad dan produk bank syariah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007

Hasbi Ramli, Toeri Dasar Akutansi Syariah, Jakarta: Renaisan, 2005 19 Ibid…, h. 218

20 Ibid…, h. 219

(14)

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: Rajawali Pers, 2013

Nurhayati-Wasilah, Akutansi Syariah di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat, 2008

Rachmat Syafe’I, Fiqh Mu’amalah, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001

Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2003

Mas’adi ghufron A, Fiqih Mu’amalah Konstektual, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Helmi Karim, Fiqih Mu’amalah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...