• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSES KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA

Paper ini dibuat untuk memenuhi Ujian Tengah Semester ganjil mata kuliah Komunikasi Politik

dan Media Massa

Disusun oleh.

DEASY AYU SARTIKA DEWI

135030101111066

KELAS A

ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial adalah manusia mampu

menerapkan komunikasi secara baik antar sesamanya. Tujuan dari berkomunikasi pada dasarnya,

untuk mengutarakan maksud seseorang kepada orang lain.

Diantara bahasan yang menonjol dalam kajian Komunikasi Politik adalah menyangkut isi

pesan. Bahasan ini sama pentingnya dari bahasan komunikator, media, khalayak dan efek

komunikasi politik. Dalam beberapa literatur disebutkan, inti komunikasi politik adalah

komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh. Urgensinya dalam suatu sistem

politik tidak diragukan lagi, karena komunikasi politik terjadi saat keseluruhan fungsi dari sistem

politik lainnya di jalankan. Karena dalam perkembangannya media massa banyak digunakan

sebagai medium penyampaian pesan yang sangat diminati, maka bahasan ini secara spesifik

mengamati propaganda politik melalui media massa. Dan juga periklanan sebagai bentuk

persuasive yang dilakukan oleh komunikator politik untuk merebut citra diri sang politisi dari

public.

Penting sekali kemudian menerapkan komunikasi yang baik dalam kehidupan politik.

Salah satunya memahami konteks berpolitik itu sendiri, dimana akan ada sesuatu yang perlu

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

1. Komunikasi

Komunikasi adalah "suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa

orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar

terhubung dengan lingkungan dan orang lain". Pada umumnya, komunikasi dilakukan

secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak

ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan

dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,

menggelengkan kepala, mengangkat bahuh. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa

nonverbal.

Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti

'sama'. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to

common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian

pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan

kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to

understand one another).

Pada awalnya, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis.

Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi

kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut

berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin

pada ikan.

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum

komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan

penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, komunikasi transaktif|transaktif, komunikasi

bertujuan|bertujuan, atau komunikasi tak bertujuan|tak bertujuan.

Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat

dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang

(4)

Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industrialisasi

bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi

mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi

masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap.

Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri.

a. Komponen Komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan

baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:

 Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.

 Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.

 Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran

nada/suara.

 Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain

 Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.

 Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan ("Protokol")

b. Proses Komunikasi

Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.

1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain

mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa

berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti

kedua pihak.

2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara

(5)

e-mail, atau media lainnya. Media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari

komunikator ke komunikan.

3. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang

diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.

4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang

dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si

pengirim.

2. Politik

Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan

dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat

yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini

merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik

yang dikenal dalam ilmu politik

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun

nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu

antara lain:

 Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)

 Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara

 Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat

 Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan

politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga

tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.

a. Teori tentang Politik

Teori Politik berasal dari dua suku kata, Teori dan Politik. Teori dapat diartikan sebagai cara,

model kerangka fikiran ataupun pedapat yang dikemukakan oleh seseorang sebagai keterangan

mengenai suatu peristiwa. Sedangkan politik berarti negara (berasal dari kata polis). Politik juga

(6)

antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini

merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik

yang dikenal dalam ilmu politik. Politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu

antara lain:

 Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)

 Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara

 Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat

 Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Batasan Teori Politik :

Teori Politik memiliki dua makna yaitu :

1) Teori sebagai pemikiran spekulatif tentang bentuk dan tata cara pengaturan masyarakat yang

ideal,

2) Teori menunjuk pada kajian sistematis tentang segala kegiatan dalam masyarakat untuk

hidup dalam kebersamaan.

b. Politik di Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara hukum yang berbentuk kesatuan dengan pemerintahan

berbentuk republik dan sistem pemerintahan presidensial dengan sifat parlementer. Indonesia

tidak menganut sistem pemisahan kekuasaan melainkan pembagian kekuasaan. Walaupun ± 90%

penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah sebuah negara Islam.

Cabang eksekutif dipimpin oleh seorang presiden yang merupakan kepala negara sekaligus

kepala pemerintahan yang dibantu oleh seorang wakil presiden yang kedudukannya sebagai

pembantu presiden di atas para menteri yang juga pengawas presiden. Kekuasaan legislatif

dibagi di antara dua kamar di dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat/MPR yaitu Dewan

Perwakilan Rakyat/DPR dan Dewan Perwakilan Daerah/DPD. Cabang yudikatif terdiri dari

Mahkamah Agung/MA yang dan sebuah Mahkamah Konstitusi/MK yang secara bersama-sama

memegang kekuasaan kehakiman. Kekuasaan Inspektif dikendalikan oleh Badan Pemeriksa

Keuangan yang memiliki perwakilan di setiap provinsi dan kabupaten/kota di seluruh wilayah

(7)

Indonesia terdiri dari 34 provinsi yang memiliki otonomi, 5 di antaranya memiliki status

otonomi yang berbeda, terdiri dari 3 Daerah Otonomi Khusus yaitu Aceh, Papua, dan Papua

Barat; 1 Daerah Istimewa yaitu Yogyakarta; dan 1 Daerah Khusus Ibu kota yaitu Jakarta. Setiap

provinsi dibagi-bagi lagi menjadi kota/kabupaten dan setiap kota/kabupaten dibagi-bagi lagi

menjadi kecamatan/distrik kemudian dibagi lagi menjadi keluarahan/desa/nagari hingga terakhir

adalah rukun tetangga.

Sistem Politik Demokrasi Pancasila merupakan sistem politik yang diterapkan di Indonesia

saat ini. Sistem ini mengambil nilai-nilai luhur dari pancasila. Semua kegiatan yang telah

dijelaskan diatas berpedoman pada pancasila dan dilaksanakan dengan demokratis. Prinsip

Sistem Politik Demokrasi Pancasila:

1. Pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif berdasarkan hukum

2. Pemerintah berdasarkan konstitusi

3. Jaminan kebebasan individu dalam batas-batas tertentu

4. Pemerintahan yang bertanggung jawab

5. Pemilu langsung dan multipartai

3. Komunikasi Politik

Komunikasi Politik secara sederhana adalah komunikasi yang melibatkan pesan - pesan

politik dari komunikator kepada komunikan melalui media massa untuk mencapai efek yang

diinginkan sehingga memperoleh feed back. Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang

konkret sebenarnya telah dilakukan oleh mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung dan

seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki komunikasi politik sebagai neologisme, yakni

ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka. Dalam praktiknya, komunikasi politik sangat

kental dalam kehidupan saehari - hari. Sebab dalam aktifitas sehari - hari tidak satupun manusia

tidak berkomunikasi dan kadang - kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi

politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar soal kenaikan bbm, ini

merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab sikap pemerintah menaikkan bbm

sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR. Gabriel Almond

(1960) : "komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik.

(8)

interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication, are

performed by means of communication."

Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan - pesan yang terjadi pada saat

keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat

secara inherent didalam setiap fungsi sistem politik. Political communication is a process by

which a nations leadership, media and citizenry exchange and confer meaning upon messages

that telate to the conduct of public policy (Perloff). Komunikasi politik merupakan salah satu

fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan

mengaturnya sedemikian rupa. Jack Plano dkk, kamus analisa politik : komunikasi politik adalah

penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik,

melibatkan unsur - unsur komunikasi seperti komunikator, pesan dan lainnya.

Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga - lembaga

khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah atau parpol. Namun demikian

komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua

orang hingga ruang kantor parlemen. Komunikasi Politik adalah setiap penyampaian pesan yang

disusun secara sengaja untuk mendapatkan pengaruh atas penyebaran atau penggunaan power di

dalam masyarakat yang di dalamnya mengandung empat bentuk komunikasi, yaitu :

a) Elite Communication,

b) Hegemonic Communication,

c) Petitionary Communication, dan

d) Associational Communication. (INT‟L ENCYL OF Communication, 1989)

a. Bentuk-Bentuk Komunikasi Politik

Terdapat beberapa bentuk komunikasi politik yang dilakukan oleh komunikator infrastruktur

politik untuk mencapai tujuan politiknya (Arifin, 2003: 65-98) yaitu :

1) Retorika,

Berasal dari bahasa yunani –rhetorica, yang berarti seni berbicara, asalnya digunakan dalam

perdebatan-perdebatan di ruang siding pengadilan untuk saling mempengaruhi sehingga bersifar

kegiatan antarpesona. Kemudian berkmbang menjadi kegiatan komunikasi massa yaitu berpidato

(9)

o retorika diliberitif yaitu dirancang untuk mempengaruhi khalayak dalam kebijakan

pemerintah, yang difokuskan pada keuntungan atau kerugian jika sebuah kebijakan

diputuskan atau dilaksanakan;

o retorika forensic, yang berkaitan dengan keputusan pengadilan;

o retorika demonstrative, yang mengembangkan wacana yang dapat memuji atau

menghujat.

2) Agitasi Politik,

Dari bahasa Agitare artinya bergerak atau menggerakan, dalam bahasa inggris agitation.

Menurut Harbert Blumer agitasi beroperasi untuk membangkitkan rakyat kepada suatu gerakan

politik, baik lisan maupun tulisan dengan merangsang dan membangkitkan emosi khalayak.

Dimulai dengan cara membuat kontradiksi dalam masyarakat dan menggerakan khalayak untuk

menentang kenyataan hidup yang dialami selama ini (penuh ketidakpastian dan penuh

penderitaan) dengan tujuan menimbulkan kegelisahan dikalangan massa. Orang yang melakukan

agitasi disbut agitator yang oleh Nepheus Smith disebut sebagai orang yang berusaha

menimbulkan ketidakpuasan, kegelisahan atau pemberontakan orang lain. Ada agitator yang

sikapnya selalu gelisah dan agresif, ada juga yang lebih tenang, cenderung pendiam tetapi

mampu menggerakan khalayak dengan ucapan dan tulisannya.

3) Propaganda,

Berasal dari kata latin propagare (menanamkan tunas suatu tanaman) yang pada awalnya sebagai

bentuk kegiatan penyebaran agama khatolik pada tahun 1822 Paus Gregorius XV membentuk

suatu komisi cardinal yang bernama Congregatio de Propaganda Fide untuk menumbuhkan

keimanan kristiani diantara bangsa-bangsa.

Propagandis adalah orang yang melakukan propaganda yang mampu menjangkau khalayak

kolektif lebih besar, biasanya dilakukan politikus atau kader partai politik yang memiliki

kemampuan dalam melakukan sugesti kepada khalayak dan menciptakan suasana yang mudah

terkena sugesti, di negara demokratis menurut W.Dobb dipahami sebagai suatu usaha individu

atau kelompok yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok individu lainnya dengan

menggunakan sugesti.

Sedangkan Harbert Blumer, suatu kampanye politik dengan sengaja mengajak, mempengaruhi

guna menerima suatu pandanganm sentiment atau nilai.

(10)

Yang tumbuh pesar di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, sebagai suatu upaya alternative

dalam mengimbangi propaganda yang dianggap membahayakan kehidupan sosial dan politik,

presiden Theodore Rossevelt (1945) mendeklarasikan pemerintahan sebagai square deals (jujur

dan terbuka) dalam melakukan hubungan dengan masyarakat dan menjalin hubungan timbal

balik secara rasional.

Sehingga tujuannya untuk menciptakan hubungan saling percaya, harmonis, terbuka atau

akomodatif antara politikus, professional atau aktivis (komunikator) dengan khalayak

(kader,simpatisan, masyarakat umum).

5) Kampanye Politik,

Adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan orang atau kelompok (organisasi) dalam

waktu tertentu untuk memperoleh dan memperkuat dukungan politik dari rakyat atau pemilih.

Menurut Rogers dan Storey (1987) (dalam Venus, 2004:7), merupakan serangkaian tindakan

komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar

khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu, sehingga berbeda

dengan propaganda, dimana kampanye cirinya sumber yang melakukannya selalu jelas, waktu

pelaksanaan terikat dan dibatasi, sifat gagasan terbuka untuk diperdebatkan khalayak, tujuannya

tegas, variatif serta spesifik, modus penerimaan pesan sukarela dan persuasi, modus tindakannya

diatur kaidah dank ode etiknya, sifat kepentingan mempertimbangkan kepentingan kedua belah

pihak.

6) Lobi Politik,

Istilah lobi sendiri sesungguhnya tempat para tamu menunggu untuk berbincang-bincang di hitel,

karena yang hadir para politikus yang melakukan pembicaraan politik (political lobbying) terjadi

dialog dengan tatap muka (komunikasi antarpersonal) secara informal namun penting. Karena

hasil lobi itu biasanya ada kesepahaman dan kesepakatan bersama yang akan diperkuat melalui

pembicaraan formal dalam rapat atau siding politik yang akan menghasilkan keputusan dan sikap

politik tertentu.

Dalam lobi politik pengaruh dari pribadi seorang politikus sangat berpengaruh seperti

komptensinya, penguasaan masalah dan charisma. Lobi politik adalah gelanggang terpenting

bagi pembicaraan para politikus atau kader politik tentang kekuasaan, pengaruh, otoritas, konflik

dan consensus.

(11)

Menurut MacLuhan sebagai perluasan panca indra manusia (sense extention theory) dan sebagai

media pesan (the medium in the message) dalam hal ini pesan politik untuk mendapatkan

pengaruh, kekuasaan-otoriras, membetuk dan merubah opini public atau dukungan serta citra

politik, untuk khalayak yang lebih luas atau yang tidak bisa terjangkau oleh bentuk komunikasi

yang lain.

b. Komunikasi Politik sebagai Proses Politik

Komunikasi efektif merupakan penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan dan

komunikasi tersebut saling feedback. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan

satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di tempat pekerjaan, di pasar,

dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada.

Dunia politik di butuhkan juga komunikasi yang efektif dalam berpolitik..Karena

kegiatan politik harus dilandasi oleh kegiatan komunikasi untuk menyalurkan ide, gagasan, dan

perjuang dalam bidang-bidang penting dalam negara. Apabila seorang politisi tidak

membicarakan tentang ide, gagasan, dan perjuangan bidang-bidang penting dalam negara,

melainkan membicarakan tentang gaya hidupnya seperti yang dilakukan oleh beberapa politisi

dari kalangan selebriti, artinya ia sedang tidak berperan sebagai politisi.

Fungsi komunikasi politik dapat dibedakan kepada dua bagian. Pertama, fungsi

komunikasi politik yang berada pada struktur pemerintah (suprastruktur politik) atau disebut pula

dengan istilah the governmental political sphere, berisikan informasi yang menyangkut kepada

seluruh kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Isi komunikasi ditujukan kepada upaya

untuk mewujudkan loyalitas dan integritas nasional untuk mencapai tujuan negara yang lebih

luas.

Kedua, fungsi yang berada pada struktur masyarakat (infrastruktur politik) yang disebut

pula dengan istilah the socio political sphere, yaitu sebagai agregasi kepentingan dan artikulasi

kepentingan, dimana kedua fungsi tersebut sebagai proses komunikasi yang berlangsung di

antara kelompok asosiasi dan proses penyampaian atau penyaluran isi komunikasi terhadap

pemerintah dari hasil agregasi dan artikulasi tersebut.

Apabila dilihat secara umum, maka fungsi komuniksi politik pada hakekatnya sebagai

jembatan penghubung antara suprastruktur dan infrastruktur yang bersifat interdependensi dalam

(12)

merespons sehingga mencapai saling pengertian dan diorientasikan sebesar-besarnya untuk

kepentingan rakyat.

c. Penerapan Proses Komunikasi Politik

Beberapa implementasi komunikasi politik yang dapat dijadikan acuan sebagai salah satu strategi

pemenangan partai politik adalah:

1) Bergerak dan membangun komunikasi politik di Semua level

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa menurut Littlejohn, komunikasi dapat

dilakukan dalam beberapa tingkatan/level, dari individu, kelompok, organisasi hingga

komunikasi massa. Strategi komunikasi yang dilakukan di semua level dan lini untuk

membangun opini publik sebagai salah satu cara pemenangan partai politik.

2) Penggunaan Media Massa Modern dan Media Komunikasi Lokal

Menurut Gabriel Almond, semua bentuk interaksi manusia melibatkan komunikasi.

Media massa seperti televisi, radio, surat kabar dan majalah ikut mempengaruhi struktur

komunikasi dalam masyarakat. Dalam pembangunan opini publik, media massa merupakan salah

satu media yang sangat strategis. Sedangkan menurut Mcquail media paling baik digunakan

secara terncana untuk menimbulkan perubahan dengan menerapkannya dalam program yang

berskala besar. Di negara-negara berkembang seperti di Indonesia, media massa merupakan

media yang dapat menjangkau secara luas ke seluruh pelosok dan penjuru masyarakat tanpa

orang atau tokoh harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Melalui media massa pembangunan

opini publik dapat dilakuakan tanpa harus tokoh poltik hadir di masyarakat. Di samping

mengunakan media massa, dapat juga menggunakan media pertemuan langsung dengan

masyarakat. Pertemuan langsung ini dapat dikemas dengan bentuk pertemuan lokal, sehingga

jenis pertemuannya sangat berfariasi sesuai dengan kondisi lokal dimana pertemuan itu

berlangsung. Sejalan dengan pendekatan lokal ini, bahasa komunukasi yang dibangun juga

dengan menggunakan term-term low contex. Artinya bahasa komunikasi yang digunakan

cenderung dengan bahasa-bahasa yang sederhana, tidak dengan bahasa tinggi atau yang ilmiah,

menggunakan istilah-sitilah.

3) Politik Pencitraan

Menurut Schuller inti politik sukses adalah membangun kepercayaan publik. Kandidat

(13)

untuk memilih kandidat di pemilihan lokal. Pencitraan merupakan gambaran yang dimiliki oleh

orang banyak tentang diri, pribadi, atau organisasi atau produk.[8] Political image yang dapat

diusung oleh partai politik adalah membangun image kepada masyarakat bahwa partai politik

tersebut merupakan partai yang sederhana, bersahabat, bersahaja, dan diterima oleh semua

kalangan. Pencitraan ini dapat dimunculkan melalui pemasangan baligo, spanduk dan lain

sebagainya.

d. Peran Media Massa pada Proses Komunikasi Politik

Munculnya televisi sebagai media paling disukai dalam komunikasi politik (meskipun hal

ini sering diikuti dengan gerak koran media yang secara politis lebih bebas), yang berhubungan

dengan perubahan sosial yang lain, telah membuat hasil yang lebih luas dan tidak disengaja

(meskipun hubungan yang menjadi penyebab tidak dapat sepenuhnya diwujudkan). Hal ini

mungkin memiliki kontribusi menuju sentralisasi yang lebih besar dalam politik, sebuah

penurunan dalam organisasi akar rumput atau grass root massa, sebuah penurunan dalam partisan tajam dan pembagian ideologi (karena televisi menyokong „orang bawah-menengah‟), sebuah peningkatan dalam penggunaan dan pengaruh polling opini untuk mengarahkan perencanaan

kampanye dan untuk memonitor kesuksesannya, dan sebuah peningkatan dalam keadaan

meningkat pada pemilih sebagai sesuatu yang melekat dan proses pemilihan lebih berpengaruh

oleh adanya pemikiran dan berita yang ada.

Kelihatan menjadi suatu kasus bahwa kekuasaan yang bersifat nisbi pada mereka yang mengendalikan „gerbang‟ media massa secara umum telah meningkat vis-à-vis bagi para politisi. Dalam istilah yang singkat, para politisi memerlukan akses untuk media lebih daripada media

membutuhkan politisi, dan peran politik pembuat keputusan media telah meningkat dan menjadi

lebih sensitif. Bahkan pemerintah dan para pejabat kantor sangat tergantung pada atensi media,

meskipun kekuatan mereka sendiri untuk mengendalikan peristiwa dan untuk membuat tuntutan

atas akses yang mereka berikan merupakan keuntungan yang merupakan aksi pencegahan.

Dalam hal kampanye, media massa baik cetak maupun elektronik merupakan sebuah

salauran kampanye terhadap konstituen. Apalagi dengan arus teknologi ini, rasanya media

elektronik menjadi salauran utama bagi jalan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat

khususnya dalam masa kampanye Pemilu. Medium ini telah berkembang pesat seiring dengan

(14)

memiliki televisi maupun radio, bahkan sebagian lagi sudah mampu menggunakan internet. Oleh

karena itu banyak Partai maupun calon yang akan berkompetisi di Pemilu menggunakan sarana

atau saluran kampanye melalui media elektronik khususnya televisi.

Banyak sedikitnnya penayangan yang berhubungan dengan transformasi ataupun

sosialisasi visi dan misi dari sebuah Partai maupun calon yang dijagokannya akan sangat

mempengaruhi penilaian masyarakat terhadapnya. Oleh karena itu, bagi yang ingin mendapat kemenangan suara harus mampu “menguasai” media ini dengan penayangan iklannya. Tetapi tidak sedikit biaya tentunya.

Media merupakan perangkat besar menuju satu tujuan besar dalam suatu bangsa dan

negara. Dalam mewujudkannya harus terdapat kekuatan yang besar. Mereka yang menguasai

media memiliki kuasa begitu besar. Tujuan besar itu membangun budaya Rakyat atau

menguasainya.

Beberapa media besar, terutama televisi, telah membuka lebar pintu kesempatan bagi

setiap partai politik dan tim sukses calon presiden dan calon wakil presiden berlomba melakukan

kampanye di dalam perhelatan besar demokrasi, Pemilihan Umum (pemilu) Legislatif dan

Eksekutif pada April dan Juli 2009. Berbagai langkah dan upaya terkait kebutuhan serta

kepentingan politik jelang pemilu coba dilancarkan elit dan partai politik memanfaatkan media

massa sebagai instrumennya. Relevansi hal itu dapat ditinjau melalui keberadaan UU No. 10

Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD, dan DPRD. Undang-undang itu memuat 11

materi pasal dalam bagian keenam mengenai Pemberitaan, Penyiaran, dan Iklan Kampanye. Di

antaranya Pasal 89 dan Pasal 90 Paragraf 1, Pasal 91 Paragraf 2, dan Pasal 92 Paragraf 3.

Kemudian Pasal 93 sampai Pasal 100 Paragraf 4.

Peran media yang dimuat dalam undang-undang pemilihan umum membuat media berani

melangkah lebih jauh berkontribusi di pemilu. Adalah Metro TV dan TV One, dua stasiun

televisi yang berpartisipasi aktif dalam menyediakan ruang besar khusus setiap dinamika pemilu

untuk dilepas ke Rakyat. TV One telah menyematkan sebagai TV Pemilu. Metro TV dengan

Election Channel-nya. Begitu pun, berbagai media cetak menyediakan kolom khusus terkait

program pemilu. Terlebih forum kampanye dan debat presiden dan wakil presiden. Media-media

itu secara elegan menyajikan rangkaian program khusus pemilu, meliputi pemberitaan, sorotan

politisi dan partai politik beserta program-programnya, survei pemilih, iklan politik, sampai pada

(15)

Berbagai kemasan program-program terkait pemilu di dalam media-media besar pada

dasarnya hanya sekadar mengemukakan khasanah pergulatan antara para politisi dari setiap

partai politik yang ada kepada Rakyat. Selebihnya kembali kepada Rakyat yang ditempatkan

sebagai penimbang, sekaligus pada akhirnya pengambil keputusan di saat pemilu berlangsung

nantinya. Dengan kata lain, media merupakan arena penyampaian isi terkait Pemilu 2009,

dimana politisi dan partai-partai politik adalah pemain sekaligus penulis isi informasi dan

sutradara. Sementara itu, Rakyat hanya penonton.

Menurut Jean Baudrillard, filsuf dan pakar komunikasi Perancis, media merupakan agen

simulasi (peniruan) yang mampu memproduksi kenyataan (realitas) buatan, bahkan tidak

memiliki rujukan sama sekali dalam kehidupan kita. Teori Baudrillard masuk akal dihubungkan

pada banyaknya iklan-iklan di televisi, radio, dan media cetak menampilkan tokoh-tokoh dengan

bendera satu partai politik di belakangnya. Partai-partai politik itu memproduksi kenyataan

buatan bermuatan politis agar mendapatkan dukungan di pemilu. Proses dramatisasi ditunjukkan

dengan mengangkat tema besar yang sensitif dan populer di hadapan Rakyat dan selalu

dihubungkan dengan kekuasaan politik individu dan kelompok atau partai.

Kenyataan buatan yang ditampilkan lewat iklan dan program-program politik di media

sesungguhnya membodohi dan menipu Rakyat karena tidak sesuai dengan kenyataan

sesungguhnya. Coba nilai, iklan politik Susilo Bambang Yudoyono (SBY), presiden saat ini,

menonjolkan keberhasilan pemerintahannya menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM)

sebanyak tiga kali setelah pemerintahannya sendiri menaikkan harga BBM. Semua orang tahu

naik-turunnya harga BBM di Indonesia mengikuti harga BBM dunia. Kenaikan harga BBM telah

meningkatkan jumlah orang miskin. Tetapi SBY dengan bangga tanpa merasa bersalah sedikit

pun menyatakan secara terbuka di beberapa media bahwa dia yang menurunkan harga BBM.

Begitu pun iklan lawan politiknya, Megawati. Dia memasang iklan untuk menepis iklan

keberhasilan SBY. Pada iklan tersebut, Megawati megunakan data-data kegagalan pemerintah

untuk menjatuhkan pamor SBY. Padahal, banyak kegagalan Megawati saat menjabat menjadi

presiden (termasuk menaikkan harga BBM), sehingga dia saat itu kehilangan pamor dan SBY

terpilih menjadi presiden. Sampai saat ini Megawati dan mesin politiknya tidak menunjukkan

program-program konkret untuk Rakyat.

Pencitraan yang paling populer dan emosional, namun tetap menipu dimainkan oleh tim

(16)

seperti ketahanan pangan. Prabowo di iklan itu disosokkan sebagai calon pemimpin negara yang

mampu membawa perubahan dan mengajak rakyat untuk ambil bagian bersamanya di

pemerintahan selanjutnya. Namun, Prabowo tidak mempunyai jejak rekam kehidupan yang

perhatian penuh terhadap pangan dan rakyat miskin. Prabowo justru masih dihantui kasus

penculikan dan penghilangan paksa para aktivis pada tahun 1998-1999. Dia ditengarai terlibat

langsung pada operasi itu.

Tidak kalah lagi, Jusuf Kalla, mengiklankan citra ekonomi kemandirian dan keberagaman

suku bangsa Indonesia. Padahal kita tahu dia adalah saudagar besar di Indonesia yang tidak

pernah puas menumpuk kekayaannya.

Partai politik memang sadar betul bahwa aksi-aksi politiknya menjadi tidak berarti tanpa

kehadiran media. Menurut C. Sommerville, dalam bukunya Rakyat Pandir atau Rakyat Informasi

(2000), kegiatan politik niscaya akan berkurang jika tidak disorot media. Ada beberapa hal

memengaruhi itu, salah satunya media memiliki kemampuan reproduksi citra dahsyat. Beberapa

aspek dari reproduksi citra bisa dilebihkan dan dikurangi dari realitas aslinya. Selain itu, media

menyediakan beragam makna untuk mewakili dan membangun kembali fakta tidak terkatakan

(unspeakable), yaitu beragam kepentingan politis dan finansial yang sengaja disembunyikan di

balik berita dan semua isi yang tersaji melalui media. Kemampuan mendramatisir oleh media

pada gilirannya merupakan amunisi yang baik bagi para politisi, terlebih menjelang pemilu,

untuk memengaruhi Rakyat sebagai penonton sehingga mendukung para politisi dan partai-partai

politik.

Selain pencitraan politisi dan partai politik, penggiringan opini tentang keharusan Rakyat

untuk memilih dalam pemilu gencar dimainkan oleh tokoh masyarakat, organisasi masyarakat,

politisi, partai politik, lembaga-lembaga negara, terlebih media. Namun, di sisi lain komunitas

golput dan kepentingannya yang begitu fenomenal sangat tidak diakomodir oleh berbagai media.

Padahal, golput merupakan bentuk nyata kesadaran politik Rakyat.

e. Saluran Komunikasi Politik

Saluran komunikasi politik adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian

pesan. Dilihat secara luas saluran komunikasi itu terdiri atas lambang-lambang, kombinasinya,

dan berbagai tekhnik serta media yang digunakan untuk berbicara pada khalayak. Lambang itu

(17)

drama. Komunikator menyampaikan bentuk-bentuk simbolik dan kombinasinnya ini dengan

berbagai tekhnik dan media. Secara lisan melalui perbincangan personal, melalui cetakan seperti

koran, dan majalah, dan dengan tekhnik elektronik seperti radio ataupun televisi.

Menurut pendapat Kenneth Burke, bahwa saluran adalah ciptaan makhluk pemakai

lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Akan tetapi saluran tersebut sebenarnya

mencakup lebih dari alat, sarana, dan mekanisme seperti mesin cetak, radio, telephon, atau

komputer. Yang harus lebih diutamakan adalah dari semua saluran tersebut, saluran yang

ditemukan ialah manusia sendiri. Dengan mengingat bahwa manusia adalah saluran dan juga

sumber serta penerima dalam komunikasi, maka yang pertama-tama kita tekankan ialah saluran

manusia bagi komunikasi politik. Namun kita tidak akan mengabaikan media mekanis, tekhnik,

dan sarana yang meningkatkan konstruksi citra manusia melalui saling tukar menukar lambang,

yakni untuk memudahkan, tetapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya bila dipikrkan bahwa pada dasarnya manusia,”maka saluran komunikasi itu lebih daripada sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapatnya dipercaya”.

Tipe saluran:

1) Komunikasi massa

Ada dua bentuk saluran komunikasi massa, masing2 berdasarkan tingkat

langsungnya komunikasi satu-kepada banyak, yaitu :

a) Komunikasi tatap muka, contohnya seperti apabila seorang kandidat politik

berbicara di depan rapat umum atau ketika seorang presiden muncul didepan

khalayak besar reperter dalam konferensi pers.

b) Komunikasi dengan perantara. Bentuk yang kedua terjadi jika ada perantara

ditempatkan diantara komunikator dan khalayak. Contohnya adalah pidato

presiden ke seluruh negara(satu-kepada banyak) melalui televisi. Disini media,

tekhnilogi, sarana, dan alat komunikasi lainnnya ikut serta.

2) Komunikasi interpersonal

Yaitu merupakan bentukan dari hubungan satu-kepada satu. Saluran ini juga mempunyai

dua bentuk penyampaian

a) Saluran interpersonal tatap muka. Contohnya adalah seorang kandidat

(18)

seorang kandidat lokal yang melakukan kunjungan dari rumah ke rumah di daerah

pinggiran kota merupakan contoh saluaran interpersonal tatap muka.

b) Saluran interpersonal tatap muka. Contohnya adalah Gray Hayes, wanita pertama

yang terpilih menjadi walikota sebuah kota besar yang berpenduduk lebih dari

setengah juta orang melakukan kampanye pada tahun 1974, ia menggunakan

saluran ini dengan memasang ”Hayes Hotline”, yaitu sambungan telephon

langsung ke kantor kampanye nya yang memungkinkan orang berbicara secara

pribadi kepadanya tentang masalah-masalah yang mendapat perhatiannya.

3) Komunikasi organisasi

Menggabungkan penyampaiaan satu-kepada-satu dan satu-kepada banyak. Di komunikasi

organisasi ini juga dibagi menjadi dua dalam proses penyampaiaanya, yaitu :

a) Komunikasi organisasi tatap muka. Seorang presiden misalnya melakukan diskusi

tatap muka dengan bawahannya yaitu anggota stafnya, atau kepala penasihatnya

(sperti yang dilakukan oleh Presiden Richard Nixon dengan pada anggota gedung

putih mengenai Peristiwa Watergate dari tahun 1972-1974). Akan tetapi,

kebanyakan organisasi politik begitu besar sehingga komunikasi satu-kepada-satu

dengan seluruh anggotanya mustahil bisa dilakukan.

b) Komunikasi organisasi berperantara. Solusi yang dapat diatasi pada

kasus Komunikasi organisasi tatap muka adalah melalui Komunikasi organisasi

berperantara satu-kepada-banyak ini didalam organisasi yaitu: pengedaran

memorandum, sidang, konvensi(seperti misalnya konvensi empat tahunan

nominasi kepresidenan pada partai demokrat dan partai republik), buletin dan

laporan berkala intern, dan lokakarya

Komunikasi massa atau mass communication ialah komunikasi melalui media massa

modern, meliputi surat kabar, majalah, siaran radio, dan televisi. Media massa menyampaikan

informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak

dengan menggunakan media. Menurut Bitner (1980) definisi komunikasi massa adalah mass

communication is massage communicated throgh a mass medium to large member of people.

Dari pengertian komunikasi tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa adalah

jenis komunikasi yang ditujukan pada sejumlah besar khalayak yang heterogen dan anonim

(19)

Aktivitas dalam komunikasi massa merupakan aktivitas sosial yang berlaku pada

kehidupan masyarakat secara umum. Salah satu aktivitas pokok dalam komunikasi massa adalah

sebagai transmisi warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Susanto

(1974), transmisi warisan sosial berfokus pada pengetahuan, nilai nilai dan norma-norma sosial

dari satu generasi ke generasi berikutnya atau dari anggota-anggota suatu kelompok kepada

anggota kelompok yang baru atau pendatang baru. Salah satu bentuk dari aktivitas transmisi

warisan sosial, yaitu proses penerusan nilai-nilai dan norma-norma politik yang berlaku dari satu

generasi ke generasi lain. Dalam proses penyebaran dan penerusan nilai-nilai dan perilaku politik

itu media massa memegang peranan yang sangat penting.

Dalam proses aktivitas komunikasi massa, media massa dapat menyebarkan informasi,

pengetahuan, bahkan dapat membentuk opini publik keadaan tersebut akan dapat mempengaruhi

sikap dan tingkah laku politik pada masayarakat. Dengan demikian komunikasi massa atau

media massa memiliki andil yang cukup signifikan terhadap sikap dan tingkah laku berpolitik

(20)

BAB III

PENUTUP

Komunikasi politik berasal dari dua kata dasar, komunikasi dan politik. Komunikasi

adalah proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain, baik dengan cara

penggunaan media sebagai kemasan informasi atau melalui transmisi secara simbolik. Sehingga

informasi mudah dimengerti dan pada akhirnya dimiliki kesamaan persepsi. Sedangkan politik

adalah segala upaya untuk memperoleh, mempertahankan, dan memperluas wilayah kekuasaan.

Sehinggga komunikasi politik bisa disimpulkan sebagai komunikasi yang melibatkan

didalamnya pesan-pesan politik dan actor-aktor politik atau komunikasi yang berkaitan dengan

kekuasaan, jalannya pemerintahan dan kebijakan pemerintah. Proses komunikasi politik

dimaknai sebagai proses penyampaian pesan.

Pesan politik yang berkaitan dengan kekuasaan, jalannya pemerintahan, dan kebijakan

pemerintahan oleh factor-faktor politik kepada komunikan melalui media atau saluran-saluran

komunikasi politik, sehingga dihasilkan tanggapan atau balasan dari komunikan. Dalam bagan

bangun komunikasi politik terdiri dari fungsi komunikasi politik, proses komunikasi politik,

pola-pola komunikasi politik, dan faktor yang mempengaruhinya.

Tak diragukan lagi, media menempati peran yang sangat strategis dalam menyampaikan

pesan-pesan politik terhadap khalayak. Melalui media para komunikator maupun aktivis politik

mudah menghipnotis khalayak dengan citra yang ditampilkan setiap saat melalui media. Saluran

komunikasi politik merupakan suatu sarana yang dapat memudahkan setiap individu maupun

kelompok dalam melaksanakan dan menyampaikan pesan dan tujuan yang ingin dicapai.

Di sini saluran komunikasi politik di bagi menjadi tiga bagian yang pertama adalah

komunikasi massa. Yang kedua komunikasi interpersonal, dan yang ketiga komunikasi

organisasi. Ketiga saluran di atas memiliki peran yang sangat besar dalam penyampaian

komunikasi.Oleh karena itu, para komunikator berperan dalam dalam menyampaikan informasi

dan pesan yang ingin disampaikan. Namun, hal ini kembali lagi kepada para penerima pesan atau

khalayak apa yang dapat ia tangkap dan ambil dari penyampaian pesan tersebut.

Dengan demikian tidak penting saluran apa yang digunakan oleh komunikator namun

(21)

DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_politik

komunikasidanpolitik.blogspot.com/p/materi-komunikasi-politik.html www.slideshare.net/Hennov/proses-komunikasi-politik

www.academia.edu/.../TUGAS_KOMUNIKASI_POLITIK

documentstore.weebly.com/uploads/4/2/2/7/.../komunikasi_politik.pdf https://saidhamzali.wordpress.com/catatan.../diktat-komunikasi-politik sekolahkomunikasi.blogspot.com/p/komunikasi-politik.html

kajianpolitikkuningan.blogspot.com/.../komponen-komponen- komunikasi-politik www.academia.edu/.../KOMUNIKASI_POLITIK_DAN_DEMOKRATIS

Referensi

Dokumen terkait

Hal itu dituangkan dalam judul “ Analisa Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Demografi dan Lingkungan Terhadap Motivasi Anak Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi : Studi

1) UNEP ( United Nations Environment Programme ) adalah organisasi internasional yang memiliki sifat peranan dengan fungsi sebagai fasilitator, mediator, komunikator

Setelah menggunakan metode SQ4R pengamatan dilakukan dengan cara pengamat menyimak proses tindakan pembelajaran yang dilakukan oleh subjek penelitian mulai dari persiapan

terdahulu tentang Hukum Kepelabuhanan, sangat sulit penulis dapatkan, bahkan bisa dikatakan tidak ada sumber yang benar-benar secara utuh mengkaji tentang Hukum Kepelabuhanan, buku

laki-laki.. pulang paksa) lebih banyak dibandingkan dengan yang meninggal, hal ini terjadi karena pada prinsipnya penderita DBD yang ditangani dengan baik dan tidak terj

Biasanya masyarakat Makkah lebih senang memberi nama dengan nama nenek moyang, sementara tidak ada nenek moyang Abdul Muttalib yang bernama Muhammad.. Pada hari ketujuh

group investigation berbantuan proyek yang lebih baik daripada hasil rerata gain ternormalisasi siswa pada kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional pada

[r]