• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stres dan Mekanisme Koping Remaja Korban Erupsi Gunung Sinabung di Posko Pengungsian Erupsi Gunung Sinabung Kabanjahe Kabupaten Karo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Stres dan Mekanisme Koping Remaja Korban Erupsi Gunung Sinabung di Posko Pengungsian Erupsi Gunung Sinabung Kabanjahe Kabupaten Karo"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1. Konsep Stres

1.1 Definisi stres

Stres merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap

tuntutan atau beban atasnya (Selye, 1950 dalam Aziz, 2009).Stres adalah

segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu

untuk berespon atau melakukan tindakan. Respon atau tindakan ini termasuk

respon fisiologis dan psikologis. Stres dapat menyebabkan respon negatif atau

berlawanan dengan apa yang di inginkan atau mengancam kesejahteraan

emosional (Potter & Perry, 2005).

Stres merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa

disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi

tantangan-tantangan (challenge) yang penting, ketika dihadapkan pada

ancaman (threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang

tidak realistis dari lingkungannya. Stres adalah kondisi yang tidak

menyenangkan dimana adanya tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau

diluar batas kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan tersebut sehingga

mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan

tindakan(Patel, 1996 dalam Nasir & Muhith, 2011).

Stres adalah suatu kondisi atau situasi internal atau lingkungan yang

(2)

Keadaan stres cenderung menimbulkan usaha ekstra dan penyesuaian baru,

tetapi dalam waktu yang lama akan melemahkan pertahanan individu dan

menyebabkan ketidakpuasan (Goldenso, 1970 dalam Saam & Wahyuni, 2014).

Dengan demikian, stres adalah situasi yang tidak menyenangkan yang

disebabkan oleh adanya tuntutan sebagai beban sehingga mengharuskan

individu untuk berespons secara respon fisiologis maupun psikologis.

1.2 Sumber stres

Menurut Nasir & Muhith (2011) , sumber-sumber stres yang biasa terjadi

di dalam kehidupan adalah :

a. Sumber stres dari individu

Terkadang sumber stres berasal dari individunya sendiri. Salah satunya

adalah melalui penyakit yang diderita oleh seseorang. Hal lain yang dapat

menimbulkan stres dari individu sendiri adalah melalui penilaian dari

dorongan motivasi yang bertentangan, ketika terjadi konflik dalam diri

seseorang dan biasanya orang tersebut berada dalam suatu kondisi di mana

dia harus menentukan pilihan tersebut sama pentingnya.

b. Sumber stres dalam keluarga

Perilaku, kebutuhan, dan kepribadian dari tiap anggota keluarga yang

mempunyai pengaruh dan berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya,

kadang menimbulkan gesekan. Konflik interpersonal dapat timbul sebagai

akibat dari masalah keuangan, inconsiderate behavior, atau tujuan yang

(3)

kritis yang dialami anggota keluarga, kehilangan pekerjaan secara

tiba-tiba, perpindahan, atau menjadi tuna wisma (Potter & Perry, 2010).

c. Sumber stres dalam komunitas dan lingkungan

Hubungan yang dibuat seseorang di luar lingkungan keluarganya dapat

menghasilkan banyak sumber stres. Salah satunya adalah bahwa hampir

semua orang pada suatu saat dalam kehidupannya mengalami stres yang

berhubungan dengan pekerjaannya. Secara umum disebut sebagai stres

pekerja karena lingkungan fisik, dikarenakan kurangnya hubungan

interpersonal serta kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga

tidak dapat berkembang (Aziz, 2009 ).

1.3 Faktor presipitasi stres

Beberapa faktor yang dianggap sebagai pemicu timbulnya stres (Nasir &

Muhith, 2011) antara lain faktor fisik maupun biologis dan faktor psikologis.

1. Faktor Fisik dan Biologis

Berikut ini adalah beberapa faktor fisik dan psikologis yang dapat

menyebabkan stres :

a. Genetika. Banyak ahli beranggapan bahwa masa kehamilan

mempunyai keakraban dengan kemungkinan kerentanan stres pada

anak yang dilahirkan. Kondisi tersebut berupa ibu hamil yang

perokok, alkoholik, dan penggunaan obat-obatan.

b. Case History. Beberapa riwayat penyakit di masa lalu yang mempunyai efek psikologis di masa depan, dapat berupa penyakit di

(4)

gendang telinga, kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan organ

dan sebagainya.

c. Pengalaman hidup. Mencakup case history dan pengalaman hidup

yang mempengaruhi perasaan independen yang menyangkut

kematangan organ-organ seksual pada masa remaja.

d. Tidur. Istirahat yang cukup akan memberikan energi pada kegiatan

yang sedang dilakukannya. Penderita insomnia mempunyai

kerentanan terhadap stres yang lebih berat.

e. Diet. Diet yang berlebihan dapat mengakibatkan stres berat. Pelaku

diet penderita obesitas yang melakukan diet ketat berlebihan

mempunyai risiko kematian tinggi. Di Amerika Serikat diperkirakan

6 di antara 10 orang yang melakukan diet ketat ini menyebabkan

kematian. Diet secara berlebihan memungkinkan munculnya

sindrom anoreksia.

f. Postur tubuh. Individu yang memiliki kelainan bentuk tubuh, cacat

bawaaan, dan penggunaan steroid juga dapat memicu munculnya

stres pada individu.

g. Penyakit. Beberapa penyakit dapat menjadi stresor pada individu

berupa TBC, kanker, impotensi dan berbagai penyakit lainnya.

2. Faktor Psikologis

Faktor psikologis dapat memicu terjadinya stres meliputi persepsi,

emosi, situasi psikologis, pengalaman hidup, dan faktor lingkungan

(5)

1. Persepsi

Kadar stres dalam suatu peristiwa sangat bergantung pada

bagaimana individu bereaksi terhadap stres tersebut. Hal ini juga

dipengaruhi oleh bagaimana individu berpersepsi terhadap stressor

yang muncul.

2. Emosi

Emosi merupakan hal sangat penting dan kompleks dalam diri

individu. Stres dan emosi mempunyai keterikatan yang saling

mempengaruhi keduanya, seperti kecemasan, rasa bersalah, khawatir,

ekspresi marah, rasa takut, sedih, dan cemburu.

3. Situasi psikologis

Hal – hal yang mempengaruhi konsep berpikir (kognitif) dan

penilaian terhadap situasi – situasi yang mempengaruhinya yang

berupa konflik, frustasi, serta kondisi tertentu yang dapat memberikan

ancaman bagi individu, misalnya tingkat kejahatan yang semakin

meningkat akan memberikan rasa kecemasan (stres).

4. Pengalaman hidup

Pengalaman hidup merupakan keseluruhan kejadian yang

memberikan pengaruh psikologis bagi individu. Kejadian tersebut

memberikan dampak psikologis dan memungkinkan munculnya stres

(6)

5. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya stres meliputi

lingkungan fisik, lingkungan biotik, dan lingkungan sosial.

Lingkungan fisik adalah kondisi atau kejadian yang berhubungan

dengan keadaan sekeliling individu yang dapat memicu terjadinya

stres. Hal tersebut dapat berupa bencana alam (disaster syndrome),

seperti gempa bumi, topan, badai dan kondisi cuaca (terlalu

panas/dingin), kondisi lingkungan yang padat (over crowded),

kemacetan, lingkungan kerja yang kotor, dan sebagainya. Gangguan

yang terdapat pada lingkungan biotik adalah gangguan yang berasal

dari makhluk mikroskopik berupa virus atau bakteri. Misalnya,

penderita alergi dapat menjadi stres bila lingkungan tempat tinggalnya

menjadi pemicu munculnya alergi bila berada di dalamnya. Masalah

yang dapat mempengaruhi lingkungan sosial seperti hubungan yang

buruk dengan orangtua, bos, atau rekan kerja adalah hal – hal yang

berhubungan dengan orang lain, yang apabila tidak berjalan dengan

baik akan menjadi stressor bagi individu jika tidak dapat memperbaiki

hubungannya.

1.4Indikator dan tanda stres

Menurut Kozier (2010), indikator stres dapat dibagi kedalam indikator

fisiologis dan psikologis.

a. Indikator fisiologis dari stres adalah objektif, lebih mudah di idetifikasi

(7)

ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang

mengalami stres, dan dampak tersebut bervariasi menurut individunya.

Tanda vital biasanya meningkat, dan klien mungkin tampak gelisah dan

tidak mampu untuk beristirahat atau berkonsentrasi. Indikator dapat

timbul sepanjang tahap stres. Durasi atau intensitas dari gejala secara

langsung berkaitan dengan durasi dan intensitas stresor yang diserap.

Dampak fisiologis timbul dari berbagai sistem. Oleh karenanya

pengkajian tentang stres mencangkup pengumpulan data dari semua

sistem (Potter & Perry, 2005).

Adapun indikator stres secara fisiologis (Potter & Perry, 2005)

adalah kenaikan tekanan darah, peningkatan ketegangan otot di leher,

bahu, punggung, peningkatan denyut nadi dan frekuensi pernafasan,

telapak tangan berkeringat, tangan dan kaki dingin,postur tubuh yang

tidak tegap, keletihan, sakit kepala, gangguan lambung, suara yang

bernada tinggi, mual, muntah, diare, perubahan nafsu makan serta berat

badan, perubahan frekuensi berkemih, temuan hasil pemeriksaan

laboratorium abnormal : peningkatan kadar hormon

(adrenokortikotropik, kortisol, katekolamin dan hiperglikemia), gelisah,

kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur dan dilatasi pupil.

b. Indikator psikologisdikaji dengan mengamati perilaku dan emosi klien

secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena kepribadian

individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor,

(8)

memeriksa gaya hidup dan stressor yang terakhir, pengalaman

terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa

lalu, fungsi peran, konsep diri, dan ketabahan yang merupakan

kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang diduga menjadi

media terhadap stres. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol

terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang

berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk

pertumbuhan (Webe & Williams, 1992 dalam Nasir & Muhith, 2011).

Indikator stres psikologis (Potter & Perry, 2005) adalah ansietas dan

depresi, kepenatan, peningkatan penggunaan bahan kimia, perubahan

dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas, kelelahan mental,

perasaan tidak adekuat, kehilangan harga diri, peningkatan kepekaan,

kehilangan motivasi, ledakan emosional serta menangis, penurunan

produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan, kecenderungan untuk

membuat kesalahan (misalnya, buruknya penilaian), mudah lupa dan

pikiran buntu, kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci,

preokupasi (mis. Mimpi siang hari atau “menjaga jarak”),

ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas, peningkatan

ketidakhadiran dan penyakit, letargi dan kehilangan minat, serta rentan

(9)

1.5 Tahapan stres

Menurut Van Amberg (1979 dalam Aziz, 2009), tahapan stres terbagi

menjadi enam tahap, yaitu :

a. Tahap pertama

Merupakan tahap yang ringan dari stres yang ditandai dengan adanya

semangat bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada

umumnya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti

biasanya, kemudian merasa senang akan pekerjaan akan tetapi kemampuan

yang dimilikinya semakin berkurang.

b. Tahap kedua

Pada tahap ini, seseorang akan merasa letih sewaktu bangun pagi yang

semestinya segar, terasa lelah setelah makan siang, cepat lelah menjelang

sore, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, denyut jantung

berdebar-debar lebih dari biasanya, otot-otot punggung dan tengkuk

semakin tegang dan tidak bisa santai.

c. Tahap ketiga

Pada tahap ini, seseorang akan mengalami gangguan seperti pada

lambung dan usus seperti adanya keluhan gastritis, buang air besar tidak

teratur, ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan

pola tidur seperti sukar mulai untuk tidur, terbangun tengah malam dan

sukar kembali tidur, lemah, terasa seperti tidak memiliki tenaga. Apabila

(10)

menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka stres tahap III

akan semakin nyata dan mengganggu.

d. Tahap keempat

Seseorang akan mengalami gejala seperti segala perkerjaan yang

menyenangkan terasa membosankan, semula tanggap terhadap situasi

menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara adekuat, tidak

mampu melaksanakan kegiatan sehari – hari, adanya gangguan pola tidur,

sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat dan

konsentrasi menurun karena adanya perasaan ketakutan dan kecemasan

yang tidak diketahui penyebabnya.

e. Tahap kelima

Stres tahap ini ditandai dengan adanya kelelahan fisik secara

mendalam, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ringan dan

sederhana, gangguan pada sistem pencernaan semakin berat dan perasaan

ketakutan dan kecemasan semkain meningkat.

f. Tahap keenam

Tahap ini merupakan tahap puncak dan seseorang mengalami pamik

dan perasaan takut mati dengan ditemukan gejala seperti detak jantung

semakin keras, susah bernafas, terasa gemetar seluruh tubuh dan

berkeringat, kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

1.6Tingkatan stres

Menurut Potter & Perry (2005), stres dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu

(11)

orang secara teratur, seperti banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan

dari atasan. Situasi ini biasanya berlangsung beberapa menit atau jam. Bagi

mereka sendiri stresor ini bukan resiko signifikan untuk timbulnya gejala.

Namun demikian, stresor ringan yang banyak dalam waktu singkat dapat

meningkatkan resiko.

Stres sedang terjadi lebih lama, dari beberapa jam sampai beberapa hari.

Misalnya, perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan kerja, anak

yang sakit, atau ketidak hadiran yang lama dari anggota keluarga.

Stres berat adalah situasi kronis yang dapat berlangsung beberapa

minggu sampai beberapa tahun, seperti selisih perkawinan terus menerus,

kesulitan finansial yang berkepanjangan, dan penyakit fisik jangka panjang.

Makin sering dan makin lama situasi stres, maka tinggi resiko kesehatan

yang ditimbulkan.

1.7Penentuan tahap stres

Tingkat stres dapat diukur dengan banyak skala, salah satunya adalah

dengan menggunakan kuesioner Safaria dan Saputra (2009). Kuesioner ini

terdiri dari 20 pertanyaan dengan menggunakan skala Likert. Kuesioner ini

mengkategorikkan tingkat stres menjadi tiga yaitu, ringan, sedang dan berat.

2. Konsep Mekanisme Koping 2.1 Definisi mekanisme koping

Mekanisme koping atau mekanisme pertahanan diri adalah cara

mengatasi stres dan kecemasan dengan memperdayakan diri (Saam &

(12)

mengatur perbedaan yang diterima antara keinginan (demands) dan pendapatan

(resources) yang dinilai dalam suatu keadaan yang penuh tekanan. Koping

merupakan suatu tindakan mengubah kognitif secara konstan dan usaha

tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal yang dinilai

membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Koping yang

dilakukan ini berbeda dengan perilaku adaptif otomatis karena koping

membutuhkan suatu usaha, yang apabila usaha tersebut berhasil dilakukan

menjadi perilaku otomatis lewat proses belajar (Nasir & Muhith, 2011).

Koping adalah usaha individu untuk mengatasi stres psikologis (Lazarus, 2007

dalam Potter & Perry, 2010).

Mekanisme koping diartikan sebagai cara yang dilakukan individu dalam

menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respons

terhadap situasi yang mengancam (Keliat,1999 dalam Nasir & Muhith, 2011).

Dengan demikian, mekanisme koping adalah cara yang digunakan

individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi, dan

situasi yang mengancam, baik secara kognitif maupun perilaku dengan

memperdayakan diri.

2.2 Penggolongan mekanisme koping

Menurut Stuart dan Sundeen (1995, dalam Nasir & Muhith, 2011),

mekanisme koping digolongkan menjadi mekanisme koping adaptif dan

mekanisme koping maladaptif. Mekanisme koping adaptif merupakan

mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar,

(13)

memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang, dan

aktivitas konstruktif. Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah

mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan,

menurunkan otonomi, dan cenderung menguasai lingkungan.

2.3 Jenis mekanisme koping

Menurut Lazarus dan Flokman (1984, dalam Nasir & Muhith, 2011),

dalam melakukan koping ada dua mekanisme koping yang bisa dilakukan yaitu

koping yang berfokus pada masalah dan koping yang berfokus pada emosi.

Koping yang berfokus pada masalah (Problem focused coping mechanisme)

adalah usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah

yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya

tekanan. Problem focused coping mechanisme ditujukan untuk mengurangi demands dari situasi yang penuh dengan stres atau memperluas sumber untuk mengatasinya. Seseorang cenderung menggunakan metode problem focused

coping mechanisme apabila mereka percaya bahwa sumber atau demands dari situasi dapat diubah. Mekanisme koping yang dipakai dalam problem focused

coping mechanisme adalah confrontative coping, seeking social support, planful problem solving. Confrontative coping adalah usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan

yang cukup tinggi, dan pengambilan risiko.Seeking social support adalah usaha

untuk mendapatkan kenyamanan dan bantuan informasi dari orang lain.Planful

(14)

Koping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping

mechanisme)adalah usaha untuk mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka penyesuaian diri dengan dampak yang akan

ditimbulkan oleh suatu kondisi dan situasi yang dianggap penuh

tekanan.Emotion focused coping mechanisme ditujukan untuk mengontrol

respon emosional terhadap situasi stres. Seseorang dapat mengatur respon

emosionalnya melalui pendekatan dan penilaian kognitif.Strategi yang

digunakan dalam emotional focused coping meliputi self-control, distancing, possitive reappraisal, accepting responsibilty, dan escape/avoidance.

Self-control adalah usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan. Distancing adalah usaha untuk tidak terlibat dalam

permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi

apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan yang positif, seperti menganggap

masalah sebagai lelucon. Positive reappraisal merupakan usaha untuk mencari

makna postif dari permasalahn dengan berfokus pada pengembangan diri,

biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius. Accepting

responsibility adalah usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahn yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat

semuanya menjadi lebih baik namun strategi ini menjadi tidak baik mbila

individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut dan

escape/avoidance adalah usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindari dengan berdalih pada hal lain seperti

(15)

Menurut Saam & Wahyuni (2014), jenis-jenis mekanisme koping atau

mekanisme pertahanan diri adalah sebagai berikut :

a. Rasionalisasi adalah usaha untuk menghindari konflik psikologis

dengan alasan rasional (masuk akal). Contoh: seorang mahasiswa tidak

lulus ujian mata kuliah A dengan alasan waktu ujian tersebut ia sedang

sakit.

b. Kompensasi adalah ketika seseorang yang kecewa pada bidang

tertentu, tetapi memperoleh kepuasan dalam bidang lain. Misalnya,

seseorang yang tidak berprestasi dalam bidang akademik, tetapi

menonjol dalam bidang olahraga.

c. Sublimasi merupakan mekanisme untuk menyelesaikan konflik dengan

kegiatan yang konstruktif yang lebih tinggi kualitasnya. Contoh:

remaja yang suka ngebut di jalanan disalurkannya menjadi pemain

bola kaki yang terkenal.

d. Kompensasi berlebihan merupakan kegagalan mencapai tujuan

pertama, lalu bereaksi secara berlebihan agar mencapai tujuan kedua.

Contoh: seseorang yang dimarahi karena sering datang terlambat, lalu

bereaksi dengan cara lebih awal datang ke tempat kerja.

e. Reaksi konversi adalah mengalihkan konflik secara singkat ke bagian

tubuh dan mengembangkan gejala fisik. Contoh: suami mengalami

ketegangan dan kecemasan saat istrinya melahirkan, lalu sering buang

(16)

f. Menarik diri adalah mekanisme pertahanan seseorang dalam

menghadapi frustasi dengan menarik diri dari lingkungan. Contoh:

seseorang yang gagal menjadi karyawan suatu balai pengobatan, lalu

mengurung diri di rumah dan tidak mau bergaul dengan teman.

2.4Hasil dari koping (coping outcome)

Menurut Taylor (1991, dalam Nasir & Muhith, 2011), efektivitas koping

bergantung pada keberhasilan pemenuhan coping task. Individu tidak harus

memenuhi semua coping task untuk dinyatakan berhasil melakukan koping

yang baik. Setelah koping dapat memenuhi sebagian atau semua fungsi tugas

tersebut, maka dapat terlihat bagaiman coping outcome yang dialami tiap

individu. Coping outcome adalah kriteria hasil koping untuk menentukan keberhasilan koping dengan beberapa kriteria sebagai berikut :

a. Ukuran fungsi fisologis, yaitu koping dinyatakan berhasil bila koping

yang dilakukan dapat mengurangi indikator dan membangkitkan stres

seperti menurunnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi dan

sistem pernapasan.

b. Apakah individu dapat kembali pada keadaan seperti sebelum ia

mengalami stres dan seberapa cepat ia dapat kembali. Koping

dinyatakan berhasil bila koping yang dilakukan dapat membawa

individu kembali pada keadaan seperti sebelum individu mengalami

(17)

c. Efektivitas dalam mengurangi psychological distress. Koping

dinyatakan berhasil jika koping tersbut dapat mengurangi rasa cemas

depresi pada individu.

3. Tumbuh Kembang Remaja 3.1 Definisi remaja

WHO mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, terkait tiga kriteria

yaitu biologis, psikologik, dan sosial ekonomi, dengan batasan usia antara

10-20 tahun, yang secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:

a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan

tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan

seksual.

b. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi

dari kanak-kanak menjadi dewasa.

c. Terjadi peralihan dari ketergantugan social-ekonomi yang penuh

keadilan yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja

adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan

Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja

adalah 10-24 tahun dan belum menikah.

Remaja merupakan masa dimana terjadi transisi masa anak-anak ke

dewasa, menurut Monks(1999 dalam Sumiati, 2009), usia remaja adalah masa

usia antara 12-21 tahun dengan perincian 12-15 tahun masa remaja awal,

(18)

Seseorang disebut remaja apabila dia telah berkembang kearah kematangan

seksual memantapkan identitasnya sebagai individu yang terpisah dari

keluarganya, persiapan diri menghadapi tugas, menentukan masa depannya,

dan berakhir saat mencapai usia matang secara hukum.

3.2 Ciri-ciri masa remaja

Hurlock (1994, dalam Sumiati, 2009) mengemukakan ciri dari remaja,

diantaranya adalah :

a. Masa remaja adalah masa peralihan

Pada masa ini remaja bukan lagi anak dan juga bukan seorang

dewasa dan merupakan masa yang sangat strategis, karena memberi

waktu kepada remaja untuk membentuk gaya hidup dan menentukan pola

perilaku, nilai-nilai dan sifat-sifat yang sesuai dengan yang

diinginkannya.

b. Masa remaja adalah masa terjadi perubahan

Sejak awal remaja, perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan

perilaku dan sikap juga berkembang. Ada empat perubahan besar yang

terjadi pada remaja, yaitu perubahan emosi, perubahan peran dan minat,

perubahan pola perilaku dan perubahan sikap menjadi ambivalen.

Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, di mana tubuh

berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang

disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduktif (Agustiani,

(19)

c. Masa remaja adalah masa yang banyak masalah

Masa remaja sering menjadi masalah yang sulit untuk diatasi. Hal ini

terjadi karena tidak terbiasanya remaja menyelesaikan masalahnya

sendiri tanpa meminta bantuan orang lain sehingga kadang-kadang

terjadi penyelesaian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

d. Masa remaja adalah masa mencari identitas

Identitas diri yang dicari remaja adalah berupa kejelasan siapa

dirinya dan apa peran dirinya di masyarakat. Remaja tidak puas dirinya

sama dengan kebanyakan orang, ia ingin memperlihatkan dirinya sebagai

individu, sementara pada saat yang sama ia ingin mempertahankan

dirinya terhadap kelompok sebaya.

e. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan kekuatan

Ada stigma dari masyarakat bahwa remaja adalah anak yang tidak

rapi, tidak dapat dipercaya, cenderung berperilaku merusak, sehingga

menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi

kehidupan remaja. Dengan adanya stigma ini akan membuat masa

peralihan remaja ke dewasa menjadi sulit, karena peran orang tua yang

memiliki pandangan seperti ini akan mencurigai dan menimbulkan

pertentangan antara orang tua dengan remaja serta membuat jarak

diantara keluarga.

3.3 Perkembangandan proses perubahan pada masa remaja

Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan

(20)

kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak

dan masa dewasa. Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam

kedua aspek yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Proses perubahan

tersebut dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja

meliputi perubahan fisik, emosional, kognitif, spiritual dan psikososial.

1. Perkembangan dan Perubahan Fisik

Menurut Hurlock (1973, dalam Agustiani, 2006) perubahan yang

paling jelas tampak adalah perubahan biologis dan fisiologis yang

berlangsung pada masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar

umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria.

Hormon-hormon baru diproduksi oleh kelenjar endokrin dan memberikan

perubahan dalam ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Gejala

ini memberikan isyarat bahwa fungsi reproduksi atau kemampuan untuk

menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja. Pertumbuhan fisik, baik

secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi perilaku anak

sehari-hari. Pada masa remaja, keadaan fisik dipandang sebagai hal yang

penting. Oleh karena itu, ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan

harapannya (ketidaksesuaian antara body image dan self picture), ia merasa tidak puas dan kurang percaya diri (Marliani, 2016).

2. Perkembangan dan Perubahan Emosionalitas

Akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal tersebut adalah

(21)

perubahan fisik dan hormonal dan pengaruh lingkungan yang terkait

dengan perubahan badaniah.

Hurlock (1999, dalam Marliani, 2016) mengidentifikasi ciri-ciri dan

karakteristik emosi, yaitu lebih bersifat subjektif, tidak tetap/ fluktuatif dan

berhubungan dengan peristiwa pengenalan pancaindra. Menurut Hurlock,

secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan

tekanan”, masa ketika ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari

perubahan fisik dan kelenjar. Hal ini disebabkan karena anak laki-laki dan

perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru,

yang selama masa kanak-kanak, mereka tidak dipersiapkan untuk

menghadapi keadaan-keadaan tersebut. Jenis emosi yang secara normal

dialami adalah cinta/kasih, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu,

sedih dan lain-lain (Marliani, 2016).

3. Perkembangan dan Perubahan Kognitif

Piaget (1972) mengemukakan bahwa perubahan dalam berpikir ini

sebagai tahap terkahir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam

perkembangan kognitifnya. Dalam tahapan yang bermula pada usia 11-12

tahun ini, remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit dari apa

yang ada, remaja mulai mampu berhadapan dengan aspek-aspek yang

hipotesis dan abstrak dari realitas. Kemampuan berpikir yang baru ini

memungkinkan individu untuk berpikir abstrak, hipotesis dan

kontrafaktual, yang pada memberikan peluang bagi individu untuk

(22)

dengan kondisi masyarakat, diri sendiri, aturan-aturan orangtua, atau apa

yang akan dia lakukan dalam hidupnya (Agustiani, 2006).

4. Perkembangan dan Perubahan Spiritual

Spiritual memiliki empat aspek, yaitu hubungan dengan Tuhan, orang

lain, diri sendiri dan alam. Agama merupakan salah satu aspek yang

terdapat dalam spiritual. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan

memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia.

Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang

tengah mencari eksistensi dirinya.

Pada masa ini, remaja berusaha mencari sebuah konsep yang lebih

mendalam tentang Tuhan dan eksistensiNya. Perkembangan pemahaman

remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh

perkembangan kognitifnya. Remaja masa kini menaruh minat pada agama

dan menganggap bahwa agama berperan penting dalam kehidupan. Minat

tersebut tampak dengan keinginan kuat pada remaja untuk membahas

masalah agama, mengikuti pelajaran agama di sekolah dan perguruan

tinggi, mengunjungi tempat ibadah, dan mengikuti berbagai upacara

agama (Marliani, 2016).

5. Perkembangan dan Perubahan Psikososial

Semua perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat ini

membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya

sendiri. Pada saat remaja menghadapi semua keprihatinan tersebut, yaitu

(23)

kerumitan dan ketidakpastian, berikutnya muncul faktor-faktor lain yang

menimpa dirinya. Remaja dalam masyarakat kita secara tipikal dituntut

untuk membuat satu pilihan, suatu keputusan tentang apa yang akan dia

lakukan bila dewasa.

Karena hal tersebut, banyak remaja berada dalam dilemma. Mereka

tidak bisa menjawab pertanyaan tentang peran sosial yang akan mereka

jalankan tanpa menyelesaikan beberapa pertanyaan lain tentang dirinya

sendiri. Perasaan tertentu yang berada dalam suatu krisis bisa muncul,

krisis yang membutuhkan jawaban yang tepat tentang siapa sebenarnya

dirinya (Agustiani, 2006).

Menurut Erikson (1968, dalam Agustiani 2006) dilemma tersebut

sebagai krisis identitas. Seorang remaja bukan sekedar mempertanyakan

siapa dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks apa atau dalam kelompok

apa dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan. Erikson juga

mengungkapkan masa remaja merupakan tahap yang paling penting di

antara tahap perkembangan lainnya karena orang harus mencapai tingkat

identitas ego yang cukup baik. Tahap ini merupakan masa standardisasi

diri, yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, usia, dan kegiatan.

Teman sebaya dipandang sebagai teman senasib, partner, dan saingan.

Melalui kehidupan berkelompok ini, remaja bereksperimen dengan

peranan dan dapat menyalurkan diri. Remaja memilih orang-orang dewasa

yang penting baginya yang dapat mereka percayai dan tempat mereka

(24)

Menurut John Hill (1983 dalam Agustiani, 2006), terdapat tiga

komponen dasar dalam membahas periode remaja meliputi perubahan

fundamental remaja, konteks remaja, dan perkembangan psikososial

remaja.

1. Perubahan fundamental remaja

Perubahan fundamental remaja meliputi perubahan biologis,

transisi kognitif, dan transisi sosial. Perubahan biologis menyangkut

tampilan fisik (perubahan ciri-ciri secara primer dan sekunder).

Perubahan ini mengakibatkan remaja harus menyesuaikan diri

terhadap lingkungan di sekitarnya. Perubahan fisik ini juga

berpengaruh terhadap self image remaja dan juga menyebabkan

perasaan tentang diri pun berubah. Hubungan dengan keluarga

ditampilkan remaja dengan menunjukkan kebutuhan akan privacy

yang cukup tinggi.

Transisi kognitif pada remaja menyebabkan remaja telah

memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak-anak dalam berpikir

mengenai suatu situasi secara hipotesis, memikirkan sesuatu yang

belum terjadi tetapi akan terjadi. Ia pun telah mampu berpikir tentang

konsep-konsep yang abstrak seperti pertemanan, demokrasi, moral.

Transisi sosial pada remaja mengakibatkan perubahan dalam

status sosial remaja sehingga remaja mendapatkan peran-peran baru

(25)

membedakan antara individu sebagai anak dan individu yang siap

memasuki masa dewasa.

2. Konteks dari remaja

Perubahan yang fundamental remaja bersifat universal namun

akibatnya pada individu sangat bervariasi. Hal ini terjadi karena

dampak psikolohis dari perubahan yang terjadi pada diri remaja

dibentuk dari lingkungan. Sehingga dapat dikatakan merupakan hal

yang tidak mungkin untuk meng-generalisasikan tabiat remaja tanpa

mempertimbangkan lingkungan sekitar tempat mereka tumbuh.

3. Perkembangan Psikososial

Terdapat lima kasus dari psikososial, yaitu identity, autonomy, intimacy, sexuality, dan achievement.

Identity. Pada masa remaja terjadi perubahan yang sangat penting pada identitas diri. Pada masa remaja mereka sangsi akan identitas

dirinya dan tidak hanya sangsi akan personal sense dirinya tapi juga

untuk pengakuan dari orang lain dan dari lingkugan bahwa dirinya

merupakan individu yang unik dan khusus.

Autonomy. Remaja berusaha membentuk dirinya menjadi tidak tergantung dan berusaha untuk menemukan dirinya dengan kacamata

dirinya sendiri dan kacamata orang lain. Hal ini merupakan suatu

proses yang sulit, tidak hanya bagi remaja tapi juga bagi orang lain di

(26)

Intimacy. Selama masa remaja perubahan penting lain adalah kemampuan individu untuk menjalin kedekatan dengan orang lain,

khususnya dengan sebaya. Pada masa ini, remaja akan membentuk

relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain.

Sexuality. Kegiatan seksual secara umum dimulai pada masa remaja, kebutuhan untuk memecahkan masalah nilai-nilai seksual dan

moral terjadi pada masa ini sehingga remaja akan mengekspresikan

perasaan-perasaan dan merasa senang jika ada kontak fisik dengan

orang lain.

Achievement. Pengambilan keputusan yang penting terjadi pada masa remaja dan membawa konsekuensi yang panjang tentang sekolah

dan karier (Henderson & Dweck, 1990 dalam Agustiani, 2006).

3.4 Tugas perkembangan remaja

Semua tugas-tugas perkembangan masa remaja terfokus pada

bagaimana melalui sikap dan pola perilaku kanak-kanak dan

mempersiapkan sikap dan perilaku orang dewasa. Rincian tugas-tugas pada

masa remaja ini adalah sebagai berikut :

a. Mencapai relasi yang lebih matang dengan teman seusia dari kedua

jenis kelamin.

b. Mencapai peran sosial feminim atau maskulin.

c. Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif.

d. Meminta, menerima dan mencapai perilaku bertanggung jawab secara

(27)

e. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang

dewasa lainnya.

f. Mempersiapkan untuk karir ekonomi.

g. Mempersiapkan untuk menikah dan berkeluarga.

h. Memperoleh suatu set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan perilaku

(Sumiati, 2009).

4. Erupsi Gunung

Gunung berapi ditemukan di seluruh dunia dan cukup banyak penduduk yang

kerap tinggal di dekat gunung tersebut. Hal ini disebabkan oleh tanah vulkanis

yang subur sangat bagus untuk pertanian dan menarik untuk didirikan kota dan

desa. Selain itu, gunung berapi memiliki masa tak aktif yang lama dan beberapa

generasi tidak pernah menyaksikan letusan gunung berapi. Kondisi itu memicu

penduduk untuk merasa aman, bukannya terancam tinggal di dekat gunung berapi

(Widyastuti, 2006).

4.1 Masalah yang terjadi saat bencana alam

a. Reaksi sosial

Setelah suatu bencana alam yang besar, sikap penduduk jarang

mencapai tingkatan panik atau berdiri diam. Tindakan individual yang

spontan tetapi sangat terkelola bermunculan saat mereka yang selamat

pulih dengan cepat dari syok dan mulai bersiap diri untuk mencapai

tujuan personal yang jelas. Walau setiap orang berpikir reaksi spontan

mereka merupakan hal yang wajar, tindakan itu justru dapat

(28)

b. Penyakit menular

Bencana alam tidak biasa menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)

penyakit menular secara besar-besaran walau pada keadaan tertentu

bencana alam dapat meningkatkan potensi penularan penyakit. Risiko

terjadinya kejadian luar biasa (KLB) epidemik penyakit menular

sebanding dengan kepadatan penduduk dan perpindahan penduduk.

Kondisi ini meningkatkan desakan terhadap suplai air dan makanan serta

risiko kontaminasi (kamp pengungsian), gangguan layanan sanitasi yang

ada seperti sistem suplai air bersih dan sistem pembuangan air kotor, dan

meningkatkan kegagalan dalam pemeliharaan atau perbaikan program

kesehatan masyarakat dalam periode segera setelah terjadi bencana.

c. Perpindahan penduduk

Jika terjadi perpidahan penduduk secara besar-besaran, spontan atau

terkelola, suatu kebutuhan mendesak akan pemberian bantuan

kemanusiaan terbentuk. Penduduk mungkin akan pindah ke daerah kota

jika layanan umum tidak dapat menangani dan akibatnya adalah

peningkatan angka kesakitan dan kematian.

d. Pengaruh cuaca

Pengaruh cuaca membuat kebutuhan untuk mendirikan tempat

perlindungan darurat sangat beragam bergantung pada keadaan setempat.

e. Makanan dan gizi

Kerusakan pada cadangan makanan di wilayah bencana dapat

(29)

terputusnya sistem distribusi dapat menghalangi akses ke makanan

walaupun kelangkaan yang sangat parah tidak terjadi.

f. Persediaan air dan sanitasi

Sistem persediaan air minum dan pembuangan air kotor sangat rentan

pada bahaya bencana alam dan gangguan yang terjadi akan menimbulkan

risiko kesehatan yang serius.

g. Kesehatan jiwa

Kecemasan, neurosis, dan depresi bukan masalah akut dan utama

dalam kesehatan masyarakat yang terjadi stelah bencana. Keluarga dan

pemukiman di daerah pedesaan atau masyarakat tradisional dapat

mengatasinya dalam waktu singkat. Namun, ada satu kelompok yang

berisiko tinggi tampaknya adalah tenaga relawan kemanusiaan atau

pekerja itu sendiri. Penggunaan obat pereda nyeri dan penenang selama

fase penyembuhan sangat tidak dianjurkan.

h. Kerusakan infrastruktur kesehatan

Bencana alam dapat menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas

kesehatan dan sistem persediaan air bersih serta sistem pembuangan air

kotor, di smaping dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat

yang mengandalkan layanan tersebut. Jika bangunan rumah sakit dan

pusat kesehatan strukturnya tidak aman, bencana alam dapat

membahayakan kehidupan penghuni gedung dan membatasi kapasitas

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Ashari, dkk (1994) membuktikan bahwa profitabilitas merupakan faktor yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba, perusahaan dengan

Saya ucapkan terima kasih kepada pemerintah Australia yang melalui KSI telah berkontribusi dalam penyelenggaraan forum yang menyediakan informasi, masukan, dan

Hasilnya adalah R sebesar 0,639 menunjukan bahwa 63.9% variabel kepuasan pelanggan dapat dijelaskan oleb variabel dari dimensi service quality yaitu responsiveness,

Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) khususnya pasal 2 ayat (4) yang menyebutkan

4.2.1 Gambaran Perbandingan Tekanan darah antara kelompok Kasus dan kontrol dengan Jogging, Pola makan, Aktivitas Fisik sehari-hari dan status Gizi

Leukemia limfositik kronik yang terdiri dari 1 kasus menunjukkan gambaran laboratorium berupa anemia sedang, leukositosis, trombositopenia, gambaran eritrosit

Kusrini dan Koniyo Andri, 2007, Tuntunan Praktis Membangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic Dan Microsoft SQL Server , Edisi.. Pertama,

Guru hendaknya dapat memberikan motivasi kepada siswa agar siswa dapat meningkatkan disiplin belajar siswa agar proses belajar. mengajar lebih mudah dan juga dapat