JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 29 HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV SD GUGUS V KECAMAT AN
MAUPONGGO KABUPATEN NAGEKEO TAHUN AJARAN 2015/2016
Wilibaldus Bhoke
Pendidikan Matematika, STKIP Citra Bakti
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian korelasi atau hubungan yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika pada siswa Kelas IV SD Gugus V Kecamatan Mauponggo. Penelitian ini dilakukan di kelas IV SDI Boki dan SDK Doki Gugus V Kecamatan Mauponggo dengan jumlah siswa 30 siswa. Metode yang digunakan adalah metode korelational. Teknik pengambilan sampel dlakukan dengan cara cluster random sampling dengan mengambil sampel 40% dari seluruh siswa kelas IV dalam segugus. Instrumen penelitian yang diberikan berupa tes sebanyak 20 soal pilihan ganda dan angket motivasi berprestasi sebanyak 30 pernyataan. Uji prasyasratan analisis dengan menggunakan SPSS untuk menyimpulkan galat tafsiran regresi Y atas X berdistribusi normal. Bersamaan dengan regresi ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika. Persamaan regresi yang didapat Y = 185,29 + (-1,164)X Uji keberartian regresi diperoleh F hitung (1,741) < F tabel (4,20). Ini membuktikan bahwa regresi tidal signifikan. Sedangkan uji kelinearan menghasilkan F hitung (1,741) < F tabel (4,20). Untuk menguji hipotesis penelitian dengan menghitung koefisien antara X dan Y dengan menggunakan rumus “Pearson Product Moment”. Dari hasil perhitungan uji hipotesis diperoleh nilai r xy = (-0,237) kemudian dibandingkan dengan r tabel pada taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai r tabel = 0,374, karena r xy < r tabel atau (-0,237) < 0,374 maka H1 ditolak.dengan demikian disimpulkan bahwa motivasi berprestasi tidak berkorelasi secara signifikan dengan hasil belajar matematika siswa Kelas IV SD Gugus V Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 30 Abstract
This correlation research aims to determine whether there is a relationship between achievement motivation and learning outcome math at the founth grade students of elementary school districts Mauponggo cluster V. This research wer conducted in cluster IV SDI Boki and SDK Doki group mauponggo districts with enrollment of 30 students. The methods used is the correlations menthod. The sampling technique was done by cluster random sampling by taking a sample of 40% of all students in grade IV in a cluster reseach instruments were given in the form of a test of 20 multiple choice questions and achievement motivation questionnaire as many as 30 point statements. Prerequisite test analysis using SPSS. To conclude interpretation error of regression of Y on X normal distribution. In conjunction with this regression aims to determine whether there is a relationship between achievement motivation and learning outcomes in mathematics. Regression equation obtained Y = 185,29 + (-1,164)X testing the significance of regression is F hit (1,741) < F table (4,20) this proves that significant regression, while the linearity test produce F hit (1,74) < F table (4,20). To test the hypothesis of the study by calculating the correlation coefficient between X and Y using the formula “Pearson Product Moment”. From the hypothesis test calculation results obtained by value r xy = (-0,237) then compared with r table at significant level values obtained 0,05 r table = 0,374, because r xy < r table or (-0,237) < 0,374 then H1 rejected. Thus concluded that achievement motivation does not corelate significantly with the results of students. Mathematics learning IV grade elementary school districts Mauponggo cluster V Nagekeo District.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 31 PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan
penting untuk menjamin
kelangsungan hidup suatu bangsa
dan negara, dan untuk
mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Perwujudan masyarakat berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi objek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang kreatif, mandiri, dan profesional dibidangnya masing-masing, (Sanggurudb. Blogspot.com/2014/02/Education
Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara Indonesia yang bertanggung jawab
dan demokratis. Untuk
mengembangkan fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Permendiknas, Nomor 22 Tahun 2006:97).
Pendidikan merupakan bentuk investasi jangka panjang yang memerlukan dana yang cukup. Persediaan dana yang cukup juga diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Menurut K. H. Dewantara pendidikan adalah daya upaya
untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak. Dalam Ensikplopedia pendidikan Indonesia, dijelaskan tentang pengertian pendidikan sebagai berikut pendidikan adalah proses membimbing manusia dari kegelapan, kebodohan dan kecerdasan pengetahuan. Dalam arti, pendidikan baik yang formal maupun non formal, meliputi segala
yang memperluas segala
pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan tentang dunia dimana kita hidup. Konsep yang lebih jelas dituangkan adalah pendidikan yang dirumuskan dalam UU RI No 2 Tahun 1989, Bab 1, Pasal 1, Butir 1 pendidikan ialah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranan masa yang akan datang, (Sanggurukdb. Blog spot. com/ 2014/ 02 /Education).
Pendidikan di Indonesia semakin hari kualitasnya semakin rendah. Salah satu faktor rendahnya kualitas pedidikan di Indonesia adalah karena lemahnya peran guru dalam menggali potensi siswa. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Para pendidik seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Faktor kreatifitas para pendidik dalam membimbing siswa, dan juga kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum sentralistik merupakan kurikulum yang berdasarkan pada
pengetahuan pemerintah.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 32
lainnya tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi.
Menyadari betapa pentingnya pendidikan, maka budang pendidikan mendapat prioritas dalam program pembangunan bangsa. Hal ini tercantum jelas dalam Garis- Garis Besar Haluan Negara (GBHN 1945) bahwa tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, bekerja keras, tanggung jawab, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani (Parsono, 1990 : 11). Pembangunan pendidikan tidak dapat berhasil jika tidak melibatkan siswa sebagai peserta didik.
Dalam lembaga pendidikan, matematika merupakan mata pelajaran yang penting. Pentingnya matematika karena di dalam pelajaran tersebut peserta didik dilatih untuk mampu menghitung dan lebih lanjut mengembangkan nalar anak didik secara baik. Oleh karena itu, siswa dituntut memahami konsep-konsep dasar matematika secara jelas dan terarah, agar siswa memiliki kemampuan berpikir dengan jelas dan logis baik dalam menyelesaikan tugas-tugas matematika yang berdampak juga sampai ke hal memecahkan masalah harian. Disamping itu komunikasi siswa dengan orang lain juga dibentuk melalui matematika ini.
Kenyataan yang ada saat ini, matematika dipandang sebagai bidang studi yang paling sulit karena penuh dengan simbol-simbol yang membingungkan siswa. Sehingga hasil belajar matematika yang diperoleh siswa sangatlah rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sebuah motivasi belajar yang membangun. Kondisi rendahnya hasil belajar matematika siswa sebenarnya bukan masalah
yang serius, tetapi guru belum menempuh cara-cara alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dengan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.
Sardiman (dalam Mahendra 2010 : 15) menyatakan motivasi adalah “daya penggerak yang telah menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak. Alisuf Sabri, motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut/mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan. Kebutuhan inilah yang akan menimbulkan dorongan atau motif untuk melakukan tindakan tertentu, dimana diyakini bahwa jika perbuatan itu telah dilakukan, maka tercapailah keadaan keseimbangan dan timbullah perasaan puas dalam diri individu.
Zakiah Daradjat dkk, mengatakan bahwa motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri murid yang menunjang ke arah tujuan-tujuan belajar. Hal ini menandakan bahwa untuk mencapai tujuan dan hasil belajar anak didik yang optimal, maka guru harus senantiasa memunculkan motif-motif dalam diri anak didik dalam proses pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, Sudirman (dalam Kusumayanti, 2012) mengemukakan ada 3 fungsi motivasi, yaitu sebagai berikut. 1) Mendorong manusia untuk
berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 33
motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dengan menyisihkan perbuatan- perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuantersebut. Seorang siswa yang menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Sardiman (2008) mengatakan bahwa fungsi dari motivasi dalam Proses Belajar Mengajar adalah sebagai berikut.
1) Menyediakan kondisi yang optimal bagi terjadinya belajar. 2) Menguatkan semangat belajar
siswa.
3) Menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar. 4) Mengikat perhatian siswa agar
mau dan menemukan serta memilih jalan/ tingkah laku yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar maupun tujuan hidup jangka panjang.
Aspek motivasi dalam
keseluruhan proses belajar mengajar sangat penting, karena motivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Motivasi dapat memberikan semangat kepada siswa dalam kegiatan-kegiatan belajarnya dan memberi petunjuk atas perbuatan yang dilakukannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka harus dilakukan suatu upaya agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Dengan demikian siswa
yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Menurut Sudjana (2010), motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: 1) motivasi Intrinsik, 2) motivasi Ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri setiap individu seperti bakat, kemauan, minat, dan harapan. Motivasi Ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar diri seseorang, yang timbul karena adanya stimulus (rangsangan) dari luar dirinya atau lingkungannya.
Menurut Sadirman (dalam Suparman, 2010:52:54), bentuk- bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi belajar anak didik, yaitu: 1) memberi angka, 2) menggerakan atau membangkitkan motivasi belajar siswa adalah pendidikan, 10) belajar melalui radio.
Selain itu ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar anak didik yaitu sebagai berikut.
1) Cita-cita dan aspirasi anak didik. Cita-cita akan dapat memperkuat motivasi anak didik untuk belajar. Misalnya, anak didik bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, maka ia akan menjaga kesehatannya, belajar dengan giat seputar dunia kedokteran. 2) Kemauan harus senantiasa
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 34
mencapainya. Misalnya, seorang anak yang ingin sekali menjuarai lomba lari akan tetapi ia lemah dalam berlari, kemudian ia melakukan latihan secara rutin dan teratur dibawah asuhan pelatih yang profesional, hingga akhirnya mencapai apa yang diinginkan.
3) Kondisi anak didik. Meliputi kondisi jasmani dan rohani. 4) Kondisi lingkungan anak didik.
Lingkungan anak didik berupa lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan alam sekitar. 5) Upaya guru dalam
membelajarkan anak didik. Guru adalah seorang pendidik, pengajar, fasilitator, dan mediator bagi peserta didiknya.
Menurut Sardiman (2001:46), Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar. Sedangkan menurut Winkel (1996:165), Prestasi adalah bukti usaha yang telah dicapai.
Motivasi berprestasi menurut Heckhausen adalah batasan motivasi berprestasi sebagai usaha keras untuk meningkatkan suatu kecakapan diri setinggi mungkin dalam setiap aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan sebagai pembanding. Ada tiga
2) Keberhasilan yang dibandingkan dengan keberhasilan sebelumnya 3) Keberhasilan yang dicapai
dibandingkan dengan
keberhasilan yang diraih orang lain
Sedangkan orang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, mempunyai ciri-ciri antara lain:
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 35
tinggi, yang harus mengerjakan tugas yang sangat sukar, akan tetapi mengerjakan tugas tersebut dengan membagi tugas menjadi beberapa bagian. (5) Melakukan kegiatan sebaik-baiknya. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan melakukan semua kegiatan belajar sebaik mungkin dan tidak ada kegiatan lupa dikerjakan. Siswa membuat kegiatan belajar dan mentaati jadwal tersebut. Siswa selalu mengikuti kegiatan belajar dan mengerjakan soal-soal latihan walaupun tidak diperintah guru serta memperbaiki tugas yang salah. Siswa juga akan melakukan kegiatan belajar sendiri atau bersama secara berkelompok. (6)
Mengadakan antisipasi.
Mengadakan antisipasi maksudnya melakukan kegiatan untuk menghindari kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi. Antisipasi dapat dilakukan siswa dengan menyiapkan semua keperluan atau peralatan sebelum pergi ke sekolah. Siswa datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal belajar atau jadwal ujian, mencari soal atau jawaban untuk latihan. Siswa menyokong persiapan belajar yang perlu dan membaca materi pelajaran yang akan diberikan guru pada hari berikutnya.
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi adalah sebagai berikut.
1) Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita atau disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Aspirasi ini dapat bersifat positif dan negatif. Siswa yang mempunyai aspirasi positif adalah siswa yang menunjukan hasratnya untuk memperoleh keberhasilan. Sebaliknya siswa yang mempunyai aspirasi negatif adalah siswa yang menunjukan hasratnya menghindari kegagalan.
2) Kemampuan Belajar
Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir dan fantasi. Dalam kemampuan belajar ini, taraf perkembangan berpikir siswa menjaadi ukuran. Siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi biasanya lebih termotivasi, karena siswa tersebut lebih sering memperoleh sukses, sehingga kesuksesan ini memperkuat motivasinya.
3) Kondisi Siswa
Kondisi fisik dan kondisi psikologis siswa sangat mempengaruhi faktor motivasi, sehingga sebagai guru harus lebih cermat melihat kondisi fisik dan psikologis siswa. Misalnya siswa yang kelihatan lesu, mengantuk, mungkin disebabkan waktu berangkat belum sarapan, atau mungkin di rumah mengalami masalah yang menimbulkan kemarahan. Maka kondisi-kondisi fisik dan psikologis inipun dapat
mengurangi atau bahkan
menghilangkan motivasi siswa. 4) Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan suatu unsur-unsur yang datang dari luar diri siswa. Unsur-unsur di sini dapat berasal dari lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat baik yang menghambat atau mendorong. Kalau dilihat dari lingkungan sekolah, guru harus berusaha mengolah kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menampilkan diri secara menarik dalam rangka membantu siswa termotivasi dalam belajar.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 36
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajat tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah danbahkan
hilang sama sekali,
khususnyakondisi-kondisi yang sifatnya kondisional. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, dan situasi dalam keluarga. 6) Upaya Guru Menjelaskan Siswa
Upaya yang dimaksud adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, dan mengevaluasi hasil belajar. Apabila upaya guru hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilanguru yang menjadi titik tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar. Dengan kata lain motivasi untuk belajar siswa melemah atau hilang.
Menurut Purwanto (2014:38-39), belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapat perubahan dalam perilakunya. Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap (Winkel, 1999:53).
Menurut Slameto (2003:2), pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Djamarah (2002:13), mengemukakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Winkel (dalam Darsono 2000:4), belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Djamarah (2002: 15-16), menjelaskan bahwa ciri-ciri belajar sebagai berikut: 1) perubahan yang terjadi secara sadar, 2) perubahan dalam belajar bersifat fungsional, 3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, 4) perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, 5) perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, 6) perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 37
hasil belajar peserta didik (PP No 9 Tahun 2005 SNP).
Menurut Muhibbin Syah (2002), secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni sebagai berikut.
1) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2) Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa yang meliputi: Faktor lingkungan sosial seperti lingkungan sekolah seperti guru, para staf administrasi, dan teman-
teman sekelas dapat
mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Sedangkan Faktor Lingkungan Nonsosial seperti gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal katanya mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran (Russeffendi, 1980:148).
Dijelaskan bahwa Tujuan pembelajaran matematika adalah (1) Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. (2) mencoba-coba. (3) Mengembangkan
kemampuan memecahkan
masalah. (4) Mengembangkan
kemampuan menyampaikan
informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembelajaran lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.
Dalam dokumen Standar Kompetensi mata pelajaran matematika untuk satuan SD dan MI pada kurikulum 2006 menyatakan tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut.
1) Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta menggunakan dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
2) Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur- unsur dan sifat-sifatnya, serta
menerapkannya dalam
pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
3) Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, debit, serta mengaplikasikan dalam pemecahan masalah 5) Memahami konsep pengumpulan
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 38
rentangan data, rerata hitung, modus, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah sehari-hari.
6) Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan.
Berikut penjelasan mengenai fungsi pembelajaran matematika yaitu sebagai berikut.
1) Matematika sebagai suatu alat Maksudnya adalah guru hendaklah sangat diharapkan agar para siswa diberikan penjelasan untuk melihat berbagai contoh dalam penggunaan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam mata pelajaran lain, dalam kehidupan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari. Namun tentunya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, sehingga diharapkan dapat membantu proses pembelajaran matematika di sekolah.
2) Matematika sebagai Pola Pikir Maksudnya siswa diberi
pengalaman menggunakan
matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel- tabel dalam model-model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal-soal cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bila seorang siswa dapat melakukan perhitungan, tetapi tidak tahu alasannya, maka tentunya ada yang salah dalam pembelajarannya atau ada sesuatu yang belum dipahami. Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh diharapkan siswa mampu
menangkap pengertian suatu konsep. Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan, atau kecenderungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh- contoh khusus (generalisasi). Di dalam proses penalarannya dikembangkan pola pikir induktif maupun deduktif. Namun tentu kesemuanya itu harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.
3) Matematika sebagai Ilmu atau Pengetahuan
Sebagai ilmu pengetahuan, oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah harus diwarnai oleh fungsi yang ketiga ini. Sebagai guru harus mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran, dan bersedia meralat kebenaran yang telah diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba
mengembangkan penemuan-
penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah.
Dengan mengetahui fungsi-fungsi matematika tersebut diharapkan kita sebagai guru atau pengelola pendidikan matematika dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan berbagai ilmu lain atau kehidupan. Belajar matematika juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan di antara pengertian- pengertian itu.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 39
mengembangkan kemampuan
berhitung, mengukur, menurunkan rumus dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dan trigonometri. Metamatika juga
berfungsi mengembangkan
kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika, diagram, grafik, atau tabel.
Sesuai dengan tujuan yang diberikannya matematika di sekolah, kita dapat melihat bahwa matematika sekolah memegang peranan yang sangat penting. Anak didik memerluhkan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menafsirkan data, dapat menggunakan kalkulator dan komputer. Selain itu, agar mampu mengikuti pelajaran matematika lebih lanjut, membantu memahami bidang studi lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya, dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, beserta bersikap positif dan berjiwa kreatif.
Sebagai warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang dalam UUD 1945, tentunya harus memiliki pengetahuan umum minimum. Pengetahuan minimum itu diantaranya adalah matematika. melanjutkan studi, matematika dapat digunakan dalam berdagang dan berbelanja, dapat berkomunikasi
melalui tulisan/gambar seperti membaca grafik dan persentase, dapat membuat catatan-catatan dengan angka, dan lain-lain. Kalau diperhatikan pada berbagai media massa, seringkali informasi disajikan dalam bentuk persen, tabel, bahkan dalam bentuk diagram. Dengan demikian, agar orang dapat memperoleh informasi yang benar dari apa yang dibacanya itu, mereka harus memiliki pengetahuan mengenai persen, cara membaca tabel, dan juga diagram. Dalam hal inilah matematika memberikan peran pentingnya.
Sejalan dengan kemajuan jaman, tentunya pengetahuan semakin berkembang. Supaya suatu negara bisa lebih maju, maka negara tersebut perlu memiliki manusia- manusia yang melek teknologi. Untuk keperluan ini tentunya mereka perlu belajar matematika sekolah terlebih dahulu karena matematika memegang peranan yang sangat penting bagi perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa bantuan matematika tidak mungkin terjadi perkembangan teknologi seperti sekarang ini.
Namun demikian, matematika dipelajari bukan untuk keperluan praktis saja, tetapi juga untuk perkembangan matematika itu sendiri. Jika matematika tidak diajarkan di sekolah maka sangat mungkin matematika akan punah. Selain itu, sesuai dengan karakteristiknya yang bersifat hirarkis, untuk mempelajari matematika lebih lanjut harus mempelajari matematika level sebelumnya. Seseorang yang ingin menjadi ilmuawan dalam bidang matematika, maka harus belajar dulu matematika mulai dari yang paling dasar.
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 40
siswa/siswi dari pembelajaran matematika antara lain: 1) dapat menggunakan kalkulator dan komputer.
Adapun peran pembelajaran matematika yang lainnya menurut Fatimah adalah agar mampu mengikuti pelajaran matematika lebih lanjut, membantu memahami bidang studi lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, beserta bersikap positif dan berjiwa kreatif. Jelas bahwa matematika sekolah mempunyai peranan yang sangat penting baik bagi siswa supaya punya bekal
pengetahuan dan untuk
pembentukan sikap serta pola pikirnya, warga negara pada umumnya supaya dapat hidup layak, untuk kemajuan negaranya, dan untuk matematika itu sendiri dalam rangka melestarikan dan mengembangkannya.
Standar kompetensi matematika merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus ditunjukkan oleh siswa sebagai hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika. Standar ini dirinci dalam kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok, untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan menurut kemahiran atau kecakapan yang hendak ingin di capai. Merujuk pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa maka ruang lingkup materi matematika adalah aljabar, pengukuran dan geomerti, peluang
dan statistik, trigonometri, serta kalkulus.
1) Kompetensi aljabar ditekankan pada kemampuan melakukan dan menggunakan operasi hitung
pada persamaan,
pertidaksamaan dan fungsi.
2) Pengukuran dan geometri ditekankan pada kemampuan menggunakan sifat dan aturan dalam menentukan porsi, jarak, sudut, volum, dan tranfrormasi. 3) Peluang dan statistika ditekankan
pada menyajikan dan meringkas data dengan berbagai cara.
4) Trigonometri ditekankan pada menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri.
5) Kalkulus ditekankan pada mengunakam konsep limit laju perubahan fungsi.
Dalam pembelajaran matematika, hasil belajar matematika siswa sangat berhubungan erat dengan motivasi berprestasi. Dimana motivasi berprestasi mendorong siswa untuk bersaing dengan standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat berupa kesempurnaan tugas, atau kesempurnaan dalam memperoleh nilai-nilai dalam pembelajaran matematika. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, akan memperoleh hasil yang lebih tinggi pula (Djaali, 2008:103).
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 41 penuh dengan simbol-simbol yang membingungkan siswa. Sehingga hasil belajar matematika yang diperoleh siswa sangatlah rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sebuah motivasi belajar yang membangun. Kondisi rendahnya hasil belajar matematika siswa sebenarnya bukan masalah yang serius, tetapi guru belum menempuh cara-cara alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dengan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.
Sejalan dengan kemajuan jaman, tentunya pengetahuan semakin berkembang. Supaya suatu negara bisa lebih maju, maka negara tersebut perlu memiliki manusia- manusia yang melek teknologi. Untuk keperluan ini tentunya mereka perlu belajar matematika sekolah terlebih dahulu karena matematika memegang peranan yang sangat penting bagi perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa bantuan matematika tidak mungkin terjadi perkembangan teknologi seperti sekarang ini.
Bertitik tolak pada permasalahan di atas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut. “ Apakah terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika pada siswa SD Gugus V Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo Tahun pelajaran 2016? “ sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar matematika pada siswa SD Gugus V Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo Tahun pelajaran 2016.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian korelasional (Ekspos facto). Dalam penelitian ini untuk
mengukur data motivasi berprestasi, peneliti menggunakan kuisioner model skala likert. Kegiatan ini merupakan kegiatan mengumpulkan data yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka mengetahui tinggi rendahnya motivasi berprestasi belajar siswa dalam semua kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa, peneliti menggunakan metode tes secara individu, dengan instrumen pengumpulan data berupa soal-soal pilihan ganda. Selanjutnya data dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode Penelitian adalah cara
yang digunakan dalam
mengumpulkan data penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan teknik korelasi. Metode survei adalah metode penelitian untuk memperoleh fakta mengenai
masalah-masalah serta
mendapatkan pembenaran terhadap keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung dari berbagai kelompok atau orang. Metode survei yang digunakan untuk memperoleh data motivasi berprestasi dan hasil belajar matematika, kemudian menganalisis keduanya untuk menghubungkan antara motivasi berprestasi dengan hasil belajar siswa.
Sebelum mengadakan uji hipotesis maka dilakukan pemeriksaan data penelitian melalui uji persyaratan analisis, yaitu sebagai berikut.
1) Uji linearitas
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 42
tidak dilakukan uji keberartian koefisien korelasi, karena hasil pengujian persamaan (model regresi tidak signifikan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dengan Hasil belajar matematika.
Jika harga F hitung (tuna cocok) lebih besar dari harga F tabel, maka harga F hitung (Tuna cocok) signifikan, yang berarti bahwa hipotesis nol ditolak dan hipotesis Y atas X adalah tidak linear. Dalam hal ini, F hitung (tuna cocok) = 4,37, sedangkan Ftabel untuk taraf signifikansi 5% = 2,42, dengan demikian harga F tuna cocok > dari harga F tabel. Ini berarti, H0 ditolak sehingga harga F tuna cocok adalah signifikan. Dengan demikian, hubungan antara variabel motivasi berprestasi dan hasil belajar adalah tidak linear. tabel(0,161) maka dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
3) Uji homogenitas.
Dari persamaan regresi = 185,29 + (-1,164)X, terlihat bahwa koefisien arah (b) sebesar (-1,164) dan harga konstanta (a) sebesar 185,29. Untuk menentukan keberartian model regresi digunakan analisis varians (ANAVA) dengan kriteria pengujiannya yaitu: Terima H0 jika , dan tolak
H0 jika . Hipotesis nol menyatakan bahwa model regresi tidak signifikan.
Dari perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh harga
(lihat lampiran), kemudian harga tersebut dibandingkan
dengan harga pada derajat kebebasan (dk) untuk pembilang 28 dan untuk penyebut =1 diperoleh diterima, berarti regresi = 185,29 + (-1,164)X tidak signifikan.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya motivasi berprestasi siswa dan tinggi rendahnya hasil belajar matematika siswa. Untuk menguji persyaratan analisis regresi menggunakan pengelompokan data variabel terikat dilakukan berdasarkan data variabel bebas, dengan menggunakan Chi- Kuadrat. Untuk menguji keberartian regresi dengan menghitung berturut Jumlah Kuadrrat (JK) = Sum Square(SS). Untuk menguji hipotesis penelitian adalah dengan menghitung koefisien korelasi antara X dan Y dengan menggunakan rumus “Pearson Product Moment”, (Koyan, 2012).
Berdasarkan data hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh perhitungan uji hipotesis diperoleh nilai rxy = (- 0,237) kemudian dibandingkan dengan r tabel pada taraf signifikan 0.05 diperoleh nilai r tabel = 0,374, karena r xy < r tabel atau (-0,231) < 0,374 maka H1 ditolak.dapat diinterpretasikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa. Dengan kata lain, motivasi berprestasi belajar tidak berhubungan langsung dengan hasil belajar matematika siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN I 43 SARAN
Saran yang peneliti berikan dakam penelitian ini adalah. (1) Bagi siswa diharapkan memperoleh pengelaman belajar yang lebih bermakna sehingga dapat memotivasi dirinya dalam belajar.(2) Bagi Sekolah, melalui penelitian ini diharapkan menjadi pedoman dalam pembelajaran matematika di semua SD gugus V Kecamatan Mauponggo, sehingga berguna dalam meningkatkan hasil belajar matematika. (3) Bagi guru Mata Pelajaran Matematika agar penelitian ini menjadi masukan berharga dan informasi yang berguna dalam melakukan berbagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran matematika. (4) Bagi Peneliti, penelitian ini dilakukan pada sampel terbatas, hendaknya penelitian lain meneliti lebih lanjut dan lebih mendalam dengan variabel dan sampe yang lebih luas sehingga dapat
menemukan faktor serta
kecenderungan lain yang lebih berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Djaali, 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara
Djamarah. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar- Mengajar. Jakarta: Rhineka Cipta
Hamalik, 2003. Hasil Belajar. Jakarta: PT Persada.
Koyan, I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Bali: Universitas Pendidikan Ganesha Pres.
Mahendra, I Gede Jaka. 2010.
Hubungan Disiplin Belajar dan
Motivasi Berprestasi Dengan Hasil
Belajar Teknologi Informasi
dan Komunikasi Siswa Kelas
VIII Tahun
Ajaran
2009/2010
SMPN 5 Abang,
Karangasem.
SkripsiMuhibbin, Syah. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Purwanto, 2014. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Russefeendi, dkk. 1992. Pendidikan Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Sardiman A.M. 1993. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Sardiman. 2001. Pengertian dan jenis aktivitas belajar.Jakarta.Universitas Terbuka
Slameto, 2010. Belajar dan faktor- faktor yang mempengaruhinya. Bandung: Alfabet
Sudjana, 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Undang-undang No. 20 tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional.