ANALISIS PERTUMBUHAN INDUSTRI NON MIGAS TERHADAP
PERTUMBUHAN DOMESTIK BRUTO (PDB) DI INDONESIA TAHUN
2007-2012
WIWID SUNDARI
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Email : [email protected]
ABSTRACT
Industry growth in Indonesia is very fastly and could not be denied that the growth of industries that bring the changes in the community around the industry . In the development of industry , the role of the agricultural sector in economic indonesia to replaced by the role of the industrial sector manufacturing ( processing industry non-oil ) so with an increased industry it will impact on GDP growth .
Generally industry subsektor non-oil are large contribution in economic growth . So indonesia must capable of accelerating growth industry subsektor non-oil to economic growth and GDP growth in indonesia . So that in this research will be seen as far as which growth to industry non-oil to the GDP growth in indonesia .
The main purpose of this research is to analyze the growth to industry non-oil to the GDP growth in indonesia. This research used time seris data from 2017 until 2012 . The method that used is Ordinary Least Square (OLS).
The estimated showed that growth to industry non-oil have significant influence to the GDP growth in Indonesia. growth to industry non-oil have positively influence to GDP growth in Indonesia. The R-Squared is 78%, it means that independent variable can explain the dependent variable as much as 22 percent. While 22% are explained by variables are not include in estimation model. F-statistic is bigger than F table, it means that growth to industry non-oil together affected on inflation in Indonesia, significantly α = 5%.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Krisis ekonomi merupakan musibah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melamban. Pertumbuhan ekonomi yang melamban bukan berakar pada masalah karena kelemahan pada sektor moneter dan keuangan saja, melainkan pada tidak kuatnya struktur sektor ekonomi di riel dalam menghadapi gejolak dari luar (external shock) atau gejolak dari dalam (internal shock).
Untuk mengatasi lambannya pertumbuhan ekonomi pada saat sekarang ini, negara Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional. Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Alinea ke 4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan negara tersebut, pada hakekatnya adalah untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur yang merata. Guna mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia tersebut di atas, pemerintah telah berupaya melakukan berbagai kegiatan, termasuk salah satu diantaranya adalah mendorong laju perekonomian nasional. Pertumbuhan laju industri merupakan andalan pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian di Indonesia. Perekonomian di Indonesia tidak akan berkembang tanpa dukungan dari peningkatan perindustrian sebagai salah satu sektor perekonomian yang sangat dominan di jaman sekarang.
Dalam perkembangan pertumbuhan perindustrian di Indonesia, peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi di Indonesia mulai tergeser oleh peranan sektor industri manufaktur (industri pengolahan non migas) yang mengalami perkembangan yang pesat. Adanya pergeseran peranan sektor industri menyebabkan terjadinya perubahan struktur ekonomi dari perekonomian yang berbasis agraris menjadi perekonomian yang berbasis industri. (Erlangga, 2005:2).
Sektor industri non migas memiliki peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia dan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena sektor industri non migas adalah penyumbang utama untuk PDB Indonesia yang paling besar. Berikut ini merupakan data laju pertumbuhan industri dan kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB tahun 2007-2012.
Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas (Kumulatif)
(Dalam %)
No Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010 2011 2012(s.d. TW I)
1. Makanan, Minuman dan Tembakau 5,0508 2,3401 11,2193 2,7805 9,1884 8,1857
2. Tekstil, Brg. kulit & Alas kaki -3,6796 -3,6440 0,5999 1,7667 7,5181 1,4145
3. Brg. kayu & Hasil hutan lainnya -1,7425 3,4501 -1,3808 -3,4670 0,3497 -0,8573
No Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010 2011 2012(s.d. TW I)
5. Pupuk, Kimia & Barang dari karet 5,6856 4,4594 1,6444 4,7009 3,9508 9,1917
6. Semen & Brg. Galian bukan logam 3,3962 -1,4945 -0,5115 2,1793 7,1883 6,1073
7. Logam Dasar Besi & Baja 1,6900 -2,0528 -4,2599 2,3838 13,0567 5,5737
8. Alat Angk., Mesin & Peralatannya 9,7317 9,7925 -2,8746 10,3802 6,9999 6,2255
9. Barang lainnya -2,8215 -0,9564 3,1941 3,0026 1,8244 4,2099
Pertumbuhan Industri Pengolahan
Non Migas 5,1501 4,0468 2,5614 5,1165 6,8270 6,1265
Pertumbuhan PDB 6,3450 6,0137 4,6289 6,1954 6,4570 6,3077
Dikelola oleh Tim Pengelola Website Kemenperin
Berdasarkan data tersebut, kita dapat lihat bahwa terjadi fluktuasi tingkat pertumbuhan industri dan pertumbuhan PDB yang tidak stabil di setiap tahunnya. Hanya pada tahun 2011 dan 2012 yang terlihat stabil. Dan pada tahun 2009 mengalami penurunan yang sangat signifikan mencapai 2,5614% dan naik kembali pada tahun berikutnya.
1.2 Rumusan Dan Batasan Masalah
Bagaimanakah pengaruh pertumbuhan perindustrian non migas terhadap pertumbuhan PDB?
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Mengetahui besanya pengaruh tingkat pertumbuhan industri non migas terhadap pertumbuhan PDB Indonesia.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
BAB II
KERANGKA TEORITIS DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pertumbuhan Ekonomi
Pengertian Pertumbuhan ekonomi menurut Dr. Joko Untoro (2010:39)
“Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat dalam jangka panjang.”
Pengertian Pertumbuhan Ekonomi menurut Kuznets dalam Buku Membuka Cakrawala Ekonomi (2009:11)
“Pertumbuhan Ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.”
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil.
2.1.1. Teori Dan Model Pertumbuhan Ekonomi
Dalam zaman ahli ekonomi klasik, seperti Adam Smith dalam buku karangannya yang berjudul An Inguiry into the Nature and Causes of the Wealt Nations, menganalisis sebab berlakunya pertumbuhan ekonomi dan faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Setelah Adam Smith, beberapa ahli ekonomi klasik lainnya seperti Ricardo, Malthus, Stuart Mill, juga membahas masalah perkembangan ekonomi .
1. Teori Inovasi Schum Peter
Pada teori ini menekankan pada faktor inovasi enterpreneur sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi kapitalilstik.Dinamika persaingan akan mendorong hal ini.
2. Model Pertumbuhan Harrot-Domar
Teori ini menekankan konsep tingkat pertumbuhan natural.Selain kuantitas faktor produksi tenaga kerja diperhitungkan juga kenaikan efisiensi karena pendidikan dan latihan.Model ini dapat menentukan berapa besarnya tabungan atau investasi yang diperlukan untuk memelihar tingkat laju pertumbuhan ekonomi natural yaitu angka laju pertumbuhan ekonomi natural dikalikan dengan nisbah kapital-output.
3. Model Input-Output Leontief.
Model ini merupakan gambaran menyeluruh tentang aliran dan hubungan antarindustri. Dengan menggunakan tabel ini maka perencanaan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan secara konsisten karena dapat diketahui gambaran hubungan aliran input-output antarindustri. Hubungan tersebut diukur dengan koefisien input-output dan dalam jangka pendek/menengah dianggap konstan tak berubah .
ini merupakan model yang khusus menerangkan kasus negar sedang berkembang banyak (padat) penduduknya.Tekanannya adalah perpindahan kelebihan penduduk disektor pertanian ke sektor modern kapitalis industri yang dibiayai dari surplus keuntungan.
2.2. Industri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
• Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang perindustrian
Industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku,barang setengah jadi, atau barang jadi yang mempunyai nilai lebih tinggi untuk penggunaanya.
• Menurut George T. Renner
Industri adalah semua kegiatan manusia dalam bidang ekonomi yang produktif/ menghasilkan barang dan uang.
• Menurut Moh. Hatta
Industri adalah usaha untuk mengganti struktur agraris menjadi struktur industri.
• Hasibuan
Pengertian industri sangat luas, dapat dalam lingkup makro maupun mikro. Secara mikro industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat yang saling mengganti sangat erat. Dari segi pembentukan pendapatan yakni cenderung bersifat makro. Industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah. Jadi batasan industri yaitu secara mikro sebagai kumpulan perusahaan yang menghasilkan barang sedangkan secara makro dapat membentuk pendapatan.
2.2.1 Jenis Industri
a. Berdasarkan Tempat Bahan Baku
1. Industri ekstraktif: industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain.
2. Industri nonekstaktif: industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar.
b. Berdasarkan Besar Kecil Modal
1. Industri padat modal: industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya
2. Industri padat karya: industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.
c. Berdasarkan Klasifikasi (SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986)
1. Industri kimia dasar: semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dsb
2. Industri mesin dan logam dasar: pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dll
3. Industri kecil: roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak goreng curah, dll
4. Aneka industri: pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.
d. Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
1. Industri rumah tangga: jumlah karyawan/tenaga kerja antara 1-4 orang.
2. Industri kecil: jumlah karyawan/tenaga kerja antara 5-19 orang.
3. Industri sedang /industri menengah: jumlah karyawan/tenaga kerja antara 20-99 orang.
4. Industri besar: jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah 100 orang atau lebih.
e. Berdasarkan Lokasi
1. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry). Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.
penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja / pegawai untuk lebih efektif dan efisien.
3. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply oriented industry). Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.
f. Berdasarkan Produktifitas Perorangan
1. Industri primer. Industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu. Contohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
2. Industri sekunder. Industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Misalnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya.
3. Industri tersier. Industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa. Contoh seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
2.3. Konsep dan Definisi Sektor Industri Pengolahan Non Migas
Industri pengolahan non migas atau disebut juga dengan industri manufaktur adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengubah bahan dasar secara mekanis, kimia atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau barang setengah jadi atau barang yang kurang nilainya menjadi lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. (Badan Pusat Statistik,2007).
Pada seri tahun dasar 2000, industri pengolahan non migas dibedakan atas dua bagian berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terlibat, yaitu : industri besar dan sedang/IBS (tenaga kerja ≥ 20 orang), serta industri kecil dan rumah tangga/IKKR (tenaga kerja 1-19).
2.4. Produk Domestik Bruto (PDB)
Menurut McEachern (2000: 146) Gross Domestik Product artinya mengukur nilai pasar dari barang dan jasa akhir yang diproduksi oleh sumber daya yang berada dalam suatu negara selama jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. GDP juga dapat digunakan untuk mempelajari perekonomian dari waktu ke waktu atau untuk membandingkan beberapa perekonomian pada suatu saat. Gross domestic product hanya mencakup barang dan jasa akhir, yaitu barang dan jasa yang dijual kepada pengguna yang terakhir .Untuk barang dan jasa yang dibeli untuk diproses dan kemudian dijual lagi tidak dimasukkan dalam hitungan GDP, hal ini dilakukan untuk menghindari masalah penghitungan ganda (McEachern, 2000: 147). Perhitungan ganda dapat menyebabkan hasil dari perhitungan GDP tidak menunjukan hasil yang sebenarnya, sehingga dalam perhitungan tersebut hanya dilakukan perhitungan satu kali untuk setiap produk.
Menurut Mankiw (2007: 23) ada dua tipe Gross Domestik Produk, yaitu sebagai berikut:
1. GDP dengan harga berlaku atau GDP nominal, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun dinilai menurut harga yang berlaku pada tahun tersebut. 2. GDP dengan harga tetap atau GDP riil, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun dinilai menurut harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun lain.
2.4.1. Perhitungan PDB
PDB dapat dihitung dengan memakai tiga pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran, pendekatan pendapatan dan pendekatan produksi (Kunawangsih dan Antyo, 2006: 35). Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:
PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor – impor)
Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri.
Sementara pendekatan pendapatan menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi:
PDB = sewa + upah + bunga + laba.
Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.
menggunakan dua metode dan data berbeda namun hasil akhirnya tetap menunjukan PDB dari negara tersebut. Hal ini yang kemudian menjadi alasan mengapa PDB biasanya digunakan sebagai tolak ukur kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam suatu negara.
Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan produksi, menurut metode ini, PDB adalah total output (produksi) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Cara penghitungan dalam praktik adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sektor produksi (industrial origin). Jumlah output masing-masing sektor merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja, ada kemungkinan bahwa output yang dihasilkan suatu sektor perekonomian berasal dari output sektor lain. Atau bisa juga merupakan input bagi sektor ekonomi yang lain lagi. Dengan kata lain, jika tidak berhati-hati akan terjadi penghitungan ganda (double counting) atau bahkan multiple counting. Akibatnya angka PDB bisa menggelembung beberapa kali lipat dari angka yang sebenarnya. Untuk menghindari hal tersebut, maka dalam perhitungan PDB dengan metode produksi, yang dijumlahkan adalah nilai tambah (value added) masingmasing sektor. Rumus perhitungan PDB pendekatan produksi adalah:
Y = (PXQ)1 + (PXQ)2 +...(PXQ)n Keterangan :
Y = Pendapatan Nasional P = harga
Q = kuantitas
2.5. Kerangka Pemikiran
BAB III
2.6. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan landasan teori yang telah dipaparkan maka dapat disajikan hipotesis yaitu diduga:
1. Pertumbuhan industri non migas berpengaruh positif pada pertumbuhan PDB Indonesia. Subsektor industri pengolahan non migas :
1. industri makanan, minuman & tembakau 2. industri tekstil, barang kulit dan alas kaki
3. industri barang kayu dan hasil hutan lainnya
4. industri kertas dan barang cetakan
5. industri pupuk, kimia dan barang dari karet
6. industri semen dan barang galian bukan logam
7. industri logam dasar besi dan baja
8. industri alat angkutan, mesin dan peralatannya
9. industri barang lainnya
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Analisis
Metode analisis dalam penelitian ini adalah metode regresi linier sederhana. Model ini dipilih atas dasar karena penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh, arah dan kekuatan hubungan dari variable bebas terhadap variable terikat serta untuk menestimasi dan memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel terikat (dependent variable) berdasarkan nilai variabel bebas (independen variable) yang diketahui objek dalam penelitian ini adalah pertumbuhan industri non migas sebagai variabel bebas dan pertumbuhan PDB sebagai variabel terikat.
3.2. Sumber Data
Sumber data berasal dari data sekunder yang diperoleh dari website Kemenperin, jurnal-jurnal ilmiah dan literatur-literatur lain yang berkaitan dengan topik penelitian ini. Referensi studi kepustakaan diperoleh melalui jurnal-jurnal penelitian terdahulu. Waktu penelitian adalah tahun 2007 sampai tahun 2012.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif yaitu data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka). Data kuantitatif ini berupa data runtut waktu (time series) yaitu data yang disusun menurut waktu pada suatu variabel tertentu. Penelitian diproses dengan pengumpulan data yaitu mengunjungi website Kemenperin terkait untuk mengambil data sekunder.
3.4. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi objek penelitian, sedangkan definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan memberikan arti (Moh. Nazir, 2003). Jadi variabel penelitian ini meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Dalam penelitian ini digunakan dua jenis variabel penelitian, yaitu variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent variable). Variabel dependennya yaitu tingkat pertumbuhan PDB di Indonesia dan pertumbuhan industri non migas adalah variabel independennya.
Untuk menganalisis hubungan antara variabel dependen dan independen, maka pengolahan data dilakukan dengan metode analisis regresi berganda. Dalam analisis ini dilakukan dengan bantuan program Eviews Untuk menganalisis hubungan antar variabel dependen dan independen, maka pengelolaan data dilakukan dengan metode analisis dengan model Ordinary Least Square (OLS). Metode OLS digunakan untuk memperoleh estimasi parameter dalam menganalisis pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Metode OLS dipilih karena merupakan salah satu metode sederhana dengan analisis regresi yang kuat dan popular, dengan asumsi-asumsi tertentu (Gujarati, 2003)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Estimasi Model Penelitian
Dependent Variable: PERTUMBUHAN_PDB Method: Least Squares
Date: 06/13/15 Time: 10:35 Sample: 1 6
Included observations: 6
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 4.008038 0.544176 7.365335 0.0018
PERTUMBUHAN_IND
USTRI 0.398932 0.105451 3.783096 0.0194
R-squared 0.781562 Mean dependent var 5.991283 Adjusted R-squared 0.726952 S.D. dependent var 0.684161 S.E. of regression 0.357501 Akaike info criterion 1.041846 Sum squared resid 0.511229 Schwarz criterion 0.972433 Log likelihood -1.125538 Hannan-Quinn criter. 0.763978 F-statistic 14.31182 Durbin-Watson stat 2.215982 Prob(F-statistic) 0.019384
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal Ghozali (2005). Dalam software EViews normalitas sebuah data dapat diketahui dengan membandingkan nilai Jarque-Bera (JB) dan nilai Chi Square tabel. Uji JB didapat dari histogram normality.
H1 : Data tidak berdistribusi normal
Jika hasil dari JB hitung > Chi Square tabel, maka H0 ditolak Jika hasil dari JB hitung < Chi Square tabel, maka H0 diterima
0 1 2 3
-0.50 -0.25 0.00 0.25 0.50
Series: Residuals Kurtosis 1.428368
Jarque-Bera 0.617815 Probability 0.734249
Nilai probability 0,734249 dengan tingkat α 5%. Yang berarti nilai probability 0,734249 lebih besar dari α 0,05 yang berarti error term terdistribusi normal.
Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain Ghozali (2005). Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.
Didalam software Eviews dengan menggunakan metode white untuk melihat ada tidaknya heteroskedastisitas diketahui nilai probability Obs*R-Squared 0,1498 lebih besar dari α 0,05 yang berarti tidak terdapat heteroskedastisitas pada model regresi.
Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2002), uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya), dimana jika terjadi korelasi dinamakan pada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang beruntun sepanjang waktu yang berkaitan satu sama lain. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Masalah ini timbul karena residu (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data time series.
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic Ho : Tidak ada Korelasi srial
H1 : Ada korelasi serial
Jika p-value obs*-square < , maka Ho ditolakɑ
arena p value -obs*-square = 0,0906 > 0,05, maka H0 diterima.
Kesimpulannya adalah dengan tingkat keyakinan 95%, dapat dikatakan bahwa tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi.
Interpretasi Hasil Regresi
Pertumbuhan PDB = 4,00 + 0,398Pertumbuhan Industri
Pada model diatas nilai konstanta sebesar 4,00, dapat diartikan bahwa apabila variabel lain konstan atau tidak mengalami perubahan, maka tingkat inflasi yang terjadi sebesar 4,00. Tingkat pertumbuhan industri memiliki nilai koefisien sebesar 0,398 yang berarti bahwa setiap kenaikan pertumbuhan industri akan meningkatkan pertumbuhan PDB apabila variabel lain dianggap konstan. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa peningkatan pertumbuhan industri akan meningkatkan pertumbuhan PDB.
Pengujian Secara Parsial (Uji t)
Uji t-statistik dilakukan untuk menguji apakah pertumbuhan industri secara parsial berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan PDB di Indonesia,.
α = 5%
T-tabel = 2,77, T-hitung = 3,783
b. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa t-hitung > t-tabel (3,783 > 2,77). Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan industri mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap pertumbuhan PDB.
Pengujian Secara Simultan (Uji F)
Untuk mengetahui apakah semua variabel penjelas yang digunakan dalam model regresi secara serentak atau bersama-sama berpengaruh terhadap variabel yang dijelaskan adalah uji F statistik. Nilai f hitung dicari dengan rumus :
Keterangan :
R2 = koefisien determinasi n = jumlah observasi
k = jumlah variabel yang digunakan
Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Ho ditolak apabila t hitung > t tabel,yang berarti variabel independen (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y).
b. Ho diterima apabila t hitung < t tabel, yang berarti independen (X) tidak berpengaruh secara signifikan terhadp variabel dependen (Y).
Dependent Variable: PERTUMBUHAN_PDB Method: Least Squares
61
Nilai F-statistik yang diperoleh 14,31 sedangkan F-tabel 2,77. Dengan demikian F-statistik lebih besar dari F-tabel yang artinya bahwa pertumbuhan industri non migas secara bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan PDB Indonesia.
Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R2 disebut juga koefisien determinasi. Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependen (goodness of fit test). Nilai koefisien determinasi pada model sebesar 78 persen. Yang berarti, kemampuan variabel bebas yaitu tingkat pertumbuhan industri terhadap variabel terikat yaitu pertumbuhan PDB sebesar 78 persen. Dan 22 persen sisanya dijelaskan oleh variabel bebas lain diluar model regresi.
BAB V
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan Regresi sederhana, dapat disimpulkan bahwa pengaruh atau dampak perkembangan industri sangat besar sekali terhadap pertumbuhan PDB Indonesia. Industri memegang peranan yang menentukan dalam perkembangan perekonomian sehingga benar-benar perlu didukung dan diupayakan perkembangannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil variabel pertumbuhan industri non migas, memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap pertumbuhan PDB Indonesia dengan nilai koefisien sebesar 0,398, yang artinya bahwa apabila variabel lain konstan, maka setiap pertumbuhan industri non migas akan menaikkan pertumbuhan PDB sebesar 0,398.
5.2. Saran