1
PENYUSUNAN
CATATAN PERDAGANGAN INDONESIA
Edisi : Januari 2010
PUSDATA PERDAGANGAN
BADAN LITBANG PERDAGANGAN
I. KINERJA EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA
Ekspor
Kinerja ekspor selama bulan November 2009 mengalami penurunan 12,1 persen dibanding bulan sebelumnya, dimana ekspor nonmigas menurun 16,8 persen. Namun demikian, ekspor migas naik 10,4 persen. Nilai ekspor total selama bulan November 2009 mencapai nilai sebesar US$ 10,8 miliar, yang terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 2,3 miliar dan non migas sebesar US$ 8,4 miliar. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2008 terjadi peningkatan ekspor non migas sebesar 3,1 persen. Sedangkan secara kumulatif, ekspor non migas periode Januari-November 2009 menjadi sebesar US$ 86,6 miliar atau 13,7 persen lebih rendah dari periode yang sama tahun 2008.
Melemahnya ekspor non migas November 2009 dipicu oleh menurunnya ekspor beberapa komoditi utama, bahan bakar mineral mengalami penurunan ekspor sebesar 22,2%, mesin/pesawat mekanik turun 15,7%, produk mesin/ peralatan listrik turun sebesar 14,4%. Sementara ekspor Bijih, Kerak dan Abu logan turun 14,0 persen, sedangkan karet dan produk karet turun 10,6 persen.
0 2 4 6 8 10 12 14
Jan'08 Mar Mei Jul Sep Nov Jan'09 Mar Mei Jul Sep Nov
US $ M ilia r
PERKEMBANGAN
EKSPOR
2008
‐
2009
Total ekspor Jan‐Nov'09 : US$ 103,1,0M Non migas US$ 86,6M (‐13,7%) dan Migas US$ 16,5M (‐40,4%)
Non Migas Nov'09 turun 16,8% dari
Okt'09
naik 3,1% dari
Nov'08
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan)
Penurunan ekspor non migas bulan November 2009 juga dipengaruhi oleh melemahnya ekspor komoditas semua sektor. Sektor pertambangan mengalami penurunan sebesar 21,2 persen, sektor industri 16,2 persen dan sektor pertanian 6,5 persen. Dari info harga komoditas internasional dilaporkan bahwa harga internasional komoditas pertanian mengalami kenaikan 3,3 persen, sedangkan harga internasional komoditas pertambangan rata-rata meningkat 3,2 persen.
Pertumbuhan ekspor non migas Januari-November 2009 mengalami perlambatan
dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Ekspor non migas selama periode
tersebut turun 15,1%, sementara pada periode yang sama tahun 2008 meningkat sebesar 10,3%. Pelambatan pertumbuhan ekspor non migas terjadi akibat menurunnya ekspor produk industri dan pertanian, sementara produk pertambangan mengalami peningkatan cukup besar (27,1%). Peningkatan ekspor produk pertambangan merupakan imbas peningkatan harga hampir seluruh jenis komoditas pertambangan, terutama tembaga dan aluminium. 100,4 4,2 82,6 13,6 86,6 4,0 65,3 17,4 Non Migas Pertanian Industri Pertambangan Nilai Ekspor Menurut Sektor: Januari‐November 2009 (US$ Miliar) Pertumbuhan (%) 10,3 17,1 9,7 11,8 ‐15,1 ‐7,4 ‐22,4 27,1 Jan‐Nov'09 Jan‐Nov'08
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan)
Penurunan ekspor non migas pada bulan November 2009 juga dipengaruhi oleh menurunnya ekspor beberapa produk utama berdasarkan golongan barang HS 2 digit. Sepuluh produk non migas dengan nilai ekspor terbesar November 2009 berdasarkan HS 2 digit mengalami penurunan ekspor sebesar 10,9 persen. Penurunan terbesar dialami oleh bahan bakar mineral yang turun 22,2%, mesin/pesawat mekanik turun 15,7%, produk mesin/ peralatan listrik turun 14,4%, Bijih, Kerak dan Abu logan turun 14,0 persen, sementara karet dan produk karet turun 10,6 persen.
Selain itu, produk yang mengalami peningkatan ekspor pada bulan November diantaranya Kakao (HS 18) yang meningkatkan 15,5 persen; Alas kaki (HS 64) yang naik 14,0 persen. Pakaian jadi bukan rajutan (HS 62) naik 5,2 persen. Lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) naik 1,4 persen; sementara Barang rajutan (HS 61) naik hanya 0,8 persen.
Apabila nilai ekspor 10 produk tersebut pada periode Januari-November 2009 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka terlihat bahwa kinerja ekspornya mengalami penurunan 8,6 persen. Sementara total non migas juga mengalami penurunan sebesar 13,7 persen pada periode yang sama. Peningkatan terbesar dialami oleh ekspor Bijih, Kerak dan Abu Logam (HS 26) naik 29,4 persen; Bahan bakar mineral (HS 27) naik 27,6 persen; Kakao (HS 18) yang naik 7,5 persen. Sementara komoditi yang mengalami penurunan terbesar ekspor pada periode Januari-November
2009 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya adalah Karet dan barang dari Karet (HS 40) yang turun 40,5 persen dan Lemak&minyak hewan/nabati sebesar 32,0 persen. Berdasarkan peranannya selama periode Januari-November 2009 dari 10 produk tersebut yang memiliki kontribusi terbesar adalah produk Bahan bakar mineral (HS 27) dengan peranan 14,3 persen dari total ekspor non migas. Lemak dan Minyak hewan/nabati (HS 15) memiliki peranan sebesar 11,6 persen, sementara produk utama yang memiliki peran terkecil adalah Kakao (HS 18) yakni 1,4 persen.
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
Bahan bakar mineral Lemak & minyak hewan/nabati Mesin/peralatan listrik Bijih, Kerak, dan Abu logam Karet dan Barang dari Karet Mesin‐mesin/Pesawat Mekanik Pakaian jadi bukan rajutan Barang‐barang rajutan Alas kaki Kakao/coklat
Produk Ekspor Utama Indonesia, Jan‐Nov 2009 (US$ Juta)
Nov Okt Sept Ags Juli Juni Mei Apr Mar Feb Jan
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan)
Perdagangan dengan Mitra Dagang Utama
Ekspor Indonesia berdasarkan negara tujuan, masih terkonsentrasi pada 8 pasar ekspor. Negara-negara ASEAN merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia, dimana lebih dari 21,1 persen ekspor Indonesia ditujukan ke wilayah ini. Sementara peran ekspor ke UE
bulan Januari-November 2009 sebesar 14,0 persen, sedangkan ekspor ke negara utama lainnya berperan sebesar 42,1 persen. Dari nilai total ekspor non migas 12 negara tujuan utama terjadi penurunan 22,5 persen dibanding bulan sebelumnya.
Pada bulan ini ekspor non migas Indonesia ke negara-negara ASEAN turun 10,7 persen, sedangkan ke Uni Eropa turun 7,4 persen. Jika dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun lalu, ekspor periode Januari-November 2009 mengalami peningkatan yang signifikan, ekspor non migas ke 12 negara tujuan utama turun 13,1 persen dan ekspor non migas ke negara lainnya turun 14,8 persen. Jika dibandingkan periode Januari-November 2009 dengan periode Januari-November 2008 peningkatan ekspor ke negara tujuan rata-rata mengalami penurunan, dimana ke ASEAN turun 16,7 persen dan ke Uni Eropa turun 14,2 persen, sedangkan ke negara utama lainnya mengalami penurunan 14,8 persen. Dominasi pangsa ekspor ke Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang saat ini mulai berkurang, pasar tujuan ekspor telah bergeser ke negara-negara non tradisional.
OKT '09 NOV '09 % JAN-NOV '2008 JAN-NOV '2009 %
ASEAN 2,049 1,829 -10.72 21,983 18,306 -16.73 1 SINGAPORE 701 671 -4.22 9,406 7,254 -22.88 2 MALAYSIA 607 500 -17.62 5,620 4,900 -12.82 3 THAILAND 314 247 -21.29 3,044 2,325 -23.62 Asean Lainnya 427 411 -3.85 3,913 3,827 -2.18 UNI EROPA 1,264 1,171 -7.38 14,085 12,087 -14.19
4 GERMANY, FED. REP. OF 232 169 -26.95 2,281 2,064 -9.50
5 FRANCE 82 75 -9.58 859 758 -11.84
6 UNITED KINGDOM 133 120 -9.85 1,436 1,306 -9.03
UNI EROPA LAINNYA 817 807 -1.20 9,509 7,959 -16.30
NEG. UTAMA LAINNYA 4,763 3,515 -26.20 40,718 36,472 -10.43
7 CHINA 878 872 -0.67 7,309 7,712 5.51 8 JAPAN 1,695 936 -44.79 12,814 10,717 -16.37 9 UNITED STATES 982 905 -7.89 11,620 9,413 -19.00 10 AUSTRALIA 192 173 -9.55 1,960 1,569 -19.93 11 KOREA, REPUBLIC OF 676 427 -36.89 4,371 4,483 2.57 12 TAIWAN 340 202 -40.46 2,644 2,579 -2.47
TOTAL NON MIGAS 10,131 8,427 -16.82 100,405 86,635 -13.71
TOTAL MIGAS 2,111 2,332 10.44 27,719 16,510 -40.44
T O T A L 12,243 10,759 -12.12 128,124 103,145 -19.50
PERKEMBANGAN EKSPOR NON MIGAS INDONESIA MENURUT NEGARA TUJUAN UTAMA JANUARI - NOVEMBER 2009
NEGARA TUJUAN NILAI FOB (US$ Juta) PERUB KUMULATIF (US $ Juta) PERUB
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan) November: Data Sementara
Dari pie chart di bawah terlihat bahwa selama periode Januari-November 2009 dibandingkan periode yang sama tahun 2004 telah terjadi pergeseran pangsa pasar ekspor di luar negara tujuan utama dari 20,6 persen menjadi 23,8 persen. Berdasarkan chart tersebut ekspor ke negara-negara tujuan utama sebagian mengalami peningkatan selama November 2009 namun ada juga yang mengalami penurunan. Jika ekspor periode Januari-November 2009 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2004, maka negara tujuan utama yang mengalami penurunan pangsa ekspor adalah Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Singapura yang masing-masing mengalami penurunan 4,0 persen; 2,7 persen; 2,1 persen dan 1,3 persen. Sedangkan negara tujuan yang mengalami peningkatan pangsa ekspor paling besar adalah China dimana ekspor ke negara ini meningkat dari 6,2 persen menjadi 8,9 persen. Sementara Korea Selatan meningkat dari 3,3 persen dan 5,2 persen menjadi 8,7 persen dan 5,2 persen. Sementara pangsa ekspor ke negara lainnya meningkat dari 20,6 persen menjadi 23,8 persen.
Perbandingan Ekspor Indonesia ke Negara Tujuan Utama
UNI EROPA 16,1% AMERIKA SERIKAT 14,9% JEPANG 15,0% SINGAPURA 9,6% REP.RAKYAT CINA 6,2% MALAYSIA 5,2% INDIA 3,7% KOREA SELATAN 3,3% TAIWAN 2,7% THAILAND 2,7% Lainnya 20,6%
Share Negara Tujuan Ekspor Non Migas Jan‐Nov 2004 UNI EROPA 14,0% AMERIKA SERIKAT 10,9% JEPANG 12,4% SINGAPURA 8,4% REP.RAKYAT CINA 8,9% MALAYSIA 5,7% INDIA 5,3% KOREA SELATAN 5,2% TAIWAN 3,0% THAILAND 2,7% Lainnya 23,8%
Share Negara Tujuan Ekspor Non Migas Jan‐Nov 2009
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan)
Impor
Permintaan impor Indonesia selama November 2009 mengalami penurunan 6,0% dari bulan sebelumnya. Penurunan tersebut didorong oleh melemahnya impor nonmigas sebesar 6,4%, sedangkan impor migas turun 4,5%. Pertumbuhan impor non migas
tahunan (Moving p.a annual growth rate: Desember’08-November’09 terhadap
Desember’07-November’08) kembali mengalami peningkatan 1,1%, walaupun
pertumbuhan Jan-Nov’09 terhadap Jan-Nov’08 (Growth rate, yoy) mengalami kontraksi
0,2%; sedangkan pertumbuhan November’09 terhadap November’08 (Growth rate, m to
m) mengalami peningkatan 14,4%.
Total 9,430.1 8,861.1 -6.03 121,501.7 86,575.7 -28.75 100.00 Migas 1,916.1 1,830.9 -4.45 29,538.5 16,885.2 -42.84 19.50 - Minyak Mentah 721.0 798.0 10.68 9,602.6 6,527.5 -32.02 7.54 -Hasil Minyak 1,166.4 1,003.7 -13.95 19,701.4 9,903.9 -49.73 11.44 - Gas 28.7 29.2 1.74 234.5 453.8 93.52 0.52 Nonmigas 7,514.0 7,030.2 -6.44 91,963.2 69,690.5 -24.22 80.50 Perubahan Jan-Nov 2009 thd Jan-Nov 2008 (%) Nilai (Juta US$)
Jan-Nov 2008 Jan-Nov 2009 Oktober 2009 November 2009 Perubahan Nov 2009 thd Okt 2009 (%)
Ringkasan Perkembangan Impor Indonesia Januari - November 2008 dan 2009
Uraian
Peran thd Total Impor Jan-Nov 2009
(%) Nilai (Juta US$)
Sumber: BPS
November: Data Sementara
Secara kumulatif, total impor selama Januari–November 2009 tercatat sebesar US$ 86,6 miliar, mengalami penurunan 28,8 persen dari periode yang sama tahun 2008. Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan impor migas sebesar 42,8 persen dan penurunan impor non migas sebesar 24,2 persen. Melemahnya impor selama bulan November 2009 didorong oleh menurunnya permintaan barang konsumsi sebesar 11,1%; dan bahan baku/penolong 7,9%.
Impor menurut negara asal menunjukkan bahwa impor Indonesia paling besar pada bulan November 2009 berasal dari kelompok negara importir utama lain selain ASEAN dan Uni Eropa, yaitu mencapai US$ 3,6 miliar. Sedangkan impor dari ASEAN dan Uni Eropa pada periode yang sama berturut-turut adalah sebesar US$ 1,6 miliar dan US$ 0,8 miliar. Secara umum, impor dari ketiga kelompok negara tersebut mengalami penurunan dari impor bulan sebelumnya, kecuali Uni Eropa yang naik US$ 46,9 juta.
Impor Nonmigas Indonesia Menurut Negara Asal Utama Periode: November 2009 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1,755.7 1,600.0 -155.7 21,236.0 16,369.3 23.49 1 Singapura 835.2 767.8 -67.4 10,394.6 8,451.9 12.13 2 Thailand 472.0 433.2 -38.8 5,931.4 4,104.6 5.89 3 Malaysia 351.4 283.1 -68.3 3,652.0 2,893.7 4.15 Asean Lainnya 97.1 115.9 18.8 1,258.0 919.1 1.32 UNI EROPA 740.7 787.6 46.9 9,433.9 7,803.2 11.20 4 Jerman 221.8 205.0 -16.8 2,891.5 2,130.3 3.06 5 Perancis 116.7 178.8 62.1 1,124.5 1,439.0 2.06 6 Inggris 72.5 53.5 -19.0 980.2 776.5 1.11
Uni Eropa Lainnya 329.7 350.3 20.6 4,437.7 3,457.4 4.96
NEG. UTAMA LAINNYA 3,732.1 3,599.2 -132.9 45,926.2 34,993.1 50.21
7 Jepang 980.8 947.1 -33.7 13,848.6 8,775.9 12.59 8 Cina 1,271.1 1,259.5 -11.6 14,076.1 12,011.6 17.24 9 Amerika Serikat 547.4 556.3 8.9 7,189.5 5,946.2 8.53 10 Korea Selatan 401.8 386.9 -14.9 4,537.0 3,448.3 4.95 11 Australia 323.6 264.7 -58.9 3,702.1 3,020.9 4.33 12 Taiwan 207.4 184.7 -22.7 2,572.9 1,790.2 2.57
Total 12 Negara Utama 5,801.7 5,520.6 -281.1 70,900.4 54,789.1 78.62
Negara Lainnya 1,712.3 1,509.6 -202.7 21,062.8 14,901.4 21.38
Total Impor Nonmigas 7,514.0 7,030.2 -483.8 91,963.2 69,690.5 100.00
Peran thd Impor Nonmigas Jan-Nov 2009 (%) ASEAN Oktober 2009 November 2009 Perubahan Nov'09 thd Okt'09
Negara Asal Jan-Nov
2008 Nilai CIF (Juta US$)
Jan-Nov 2009
Sumber: BPS
November: Data Sementara
Berdasarkan impor menurut golongan penggunaan barang selama November 2009 dapat dilihat bahwa bahan baku/penolong dan barang modal masih mendominasi impor Indonesia. Permintaan impor barang modal meningkat pada bulan November sebesar 4,1 persen, sedangkan barang konsumsi mengalami penurunan 11,1 persen; dan bahan baku/penolong turun 7,9 persen.
Secara kumulatif nilai impor menurut golongan penggunaan barang periode Januari-November 2009 mengalami penurunan 28,8 persen terhadap periode yang sama tahun lalu. Penurunan total impor tersebut disebabkan penurunan impor seluruh kelompok barang, dimana impor barang konsumsi turun 23,3 persen, impor bahan baku/penolong turun 33,7 persen dan impor barang modal turun 6,8 persen.
Impor Indonesia Menurut Golongan Penggunaan Barang 464 4.793 1.343 375 4.184 1.380 494 4.518 1.542 500 4.861 1.346 506 5.440 1.696 549 5.854 1.533 738 6.151 1.794 639 6.432 2.637 557,2 6.508,2 1.451,2 639,2 7.148,4 1.642,5 568,3 6.582,4 1.710,4 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 Barang Konsumsi Bahan Baku/Penolong Barang Modal
Impor Menurut Golongan Penggunaan Barang (Juta US$)
-7,0 -4,3 -38,8 -19,3 -12,7 2,8 31,7 8,0 11,7 1,2 7,6 -12,7 1,2 11,9 26,0 8,5 7,6 -9,6 34,5 5,1 17,0 -13,5 4,6 47,0 -12,7 1,2 -45,0 14,7 9,8 13,2 -11,1 -7,9 4,1 -50,0 -40,0 -30,0 -20,0 -10,0 0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 Pertumbuhan (%) Nov Okt Sept Ags Juli Juni Mei Apr Mar Feb Jan
Sumber: BPS (diolah Litbang Perdagangan)
Apabila impor non migas Indonesia dilihat berdasarkan golongan barang HS 2 digit, lima komoditi impor utama diantaranya adalah Mesin/pesawat mekanik (HS 84); Mesin dan peralatan listrik (HS 85); Besi dan Baja (HS 72); Bahan kimia organik (HS 29); dan Plastik dan barang dari plastik (HS 39). Impor kelima produk ini selama bulan
November 2009 mengalami penurunan dibandingkan bulan Agustus 2009 (m to m),
kecuali untuk impor produk Mesin dan peralatan listrik (HS 85). Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode Januari-November tahun 2008, impor kelima golongan barang tersebut pada periode yang sama tahun 2009 juga mengalami penurunan. Sedangkan jika dilihat dari sepuluh barang impor utama, barang yang mengalami peningkatan nilai impor dari bulan sebelumnya adalah Pesawat udara dan bagiannya (HS 88) yang naik 143,2 persen; Mesin dan peralatan listrik (HS 85) naik 48,0 persen dan Barang dari besi dan baja (HS 73) naik 8,0 persen.
1. Mesin/pesawat mekanik (84) 1,373.1 1,291.7 -81.4 16,634.2 13,236.8 18.99 2. Mesin dan peralatan listrik (85) 1,064.8 1,112.8 48.0 13,809.5 10,110.3 14.51
3. Besi dan baja (72) 574.4 515.9 -58.5 7,897.9 3,814.1 5.47
4. Bahan kimia organik (29) 407.2 319.9 -87.3 4,934.6 3,567.7 5.12
5. Plastik dan barang dari plastik (39) 362.1 302.9 -59.2 3,754.6 2,887.8 4.14 6. Kendaraan bermotor dan bagiannya (87) 328.1 326.3 -1.8 5,553.0 2,791.6 4.01 8. Pesawat udara dan bagiannya (88) 83.5 226.7 143.2 1,267.1 2,535.9 3.64 9. Barang dari besi dan baja (73) 217.0 225.0 8.0 3,043.2 2,534.4 3.64 7. Kapal, perahu dan struktur terapung (89) 207.7 189.4 -18.3 1,313.7 2,525.8 3.63 10.Residu dan sisa industri makanan (23) 148.9 91.2 -57.7 1,625.6 1,543.0 2.21
Total 10 Golongan Barang Utama 4,766.8 4,601.8 -165.0 59,833.4 45,547.4 65.36
Barang Lainnya 2,747.2 2,428.4 -318.8 32,129.8 24,143.1 34.64
Total Impor Nonmigas 7,514.0 7,030.2 -483.8 91,963.2 69,690.5 100.00
Jan-Nov 2009 Jan-Nov
2008
Impor Nonmigas Sepuluh Golongan Barang Utama Indonesia Menurut HS 2 Dijit Januari - November 2008 dan 2009
Golongan Barang (HS)
Nilai CIF (Juta US$)
Peran thd Impor Nonmigas Jan-Nov 2009 (%) November 2009 Perubahan Nov'09 thd Okt'09 Oktober 2009 Sumber: BPS
November: Data Sementara
Harga Beberapa Komoditas Internasional November 2009
Harga komoditas non migas naik 3,1 persen pada bulan November. Peningkatan harga ini dialami oleh hampir semua kelompok komoditas utama. Kenaikan itu dipengaruhi oleh penurunan dolar yang jatuh 0,7 persen terhadap euro. Harga minyak mentah melonjak 4,7 persen pada bulan November, rata-rata menjadi $ 77,6/bbl, dan mendekati $ 80/bbl pada bulan November.
Produk Pertanian. Harga komoditas pertanian naik 3,3 persen persen pada November. Harga biji-bijian naik 6,6 persen karena terlambatnya panen di Amerika Serikat dan dan tertundanya masa tanam pada musim semi . Harga beras melonjak 10,1 persen karena cuaca yang kurang baik sehingga terjadi kekurangan produksi di Asia Tenggara dan permintaan impor yang tinggi dari Filipina. Harga karet naik 8,5 persen karena permintaan impor yang meningkat dari produsen ban utama di Asia dan Amerika Serikat. Harga kapas naik 7,4 persen karena menurunnya produksi di belahan bumi bagian utara. Harga lemak/minyak nabati naik 4 persen karena menguatnya permintaan dari China dan India.
Produk Pertambangan. Pada bulan November 2009, harga barang tambang naik 3,2 persen, sebagaian besar kenaikan terjadi pada produk logam dasar. Harga seng naik 6
persen karena terus meningkatnya permintaan impor dari Cina, harga tembaga naik 6 persen dipengaruhi oleh masalah tenaga kerja. Harga nikel turun 8 persen yang dipengaruhi oleh terjadinya penurunan output stainless steel. Harga emas melonjak 8,0 persen karena permintaan investasi yang kuat, jatuhnya dolar, kekhawatiran tentang inflasi, dan penjualan 200 ton untuk bank sentral terutama ke Reserve Bank of India.
Batubara. Harga batubara naik 10,9 persen karena permintaan yang kuat dari Cina dan adanya gangguan cuaca, yaitu terjadinya badai salju pada awal November di China, sehingga mengganggu transportasi batubara.
Tembaga. Pada bulan November 2009, harga tembaga naik 6,2 persen. Peningkatan harga ini dipicu oleh adanya masalah tenaga kerja dan melemahnya permintaan.
Aluminum. Harga aluminium naik 4 persen karena meskipun kapasitas produksi meningkat, sebagian persediaan terikat dalam perjanjian pembiayaan jangka panjang.
Karet. Harga karet naik 8 persen karena meingkatnya permintaan impor khususnya dari produsen-produsen ban utama di kawasan Asia dan Amerika Serikat.
Kakao. Pada bulan November ini, harga kakao naik 0,7 persen. Kenaikan harga kakao dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS.
Kopi. Harga kopi arabika turun 1,5 persen akibat kurangnya produksi, selain itu melemahnya nilai tukar dolar hingga ke level terendah dalam 14 bulan terakhir menyebabkan investasi berpindah dari saham ke komoditi. Sementara itu, harga kopi
Robusta turun 5,5 persen. Penurunan harga kopi robusta karena adanya laporan yang
menyatakan bahwa panen tahun 2009/2010 di Vietnam akan lebih tinggi dari perkiraan.
Minyak Sawit (CPO). Harga CPO naik 7,0 persen karena kuatnya permintaan dari Cina dan India, serta adanya bebas pajak impor dan depresiasi mata uang Rupee sebesar 5 persen terhadap dolar AS.
II. PERDAGANGAN DALAM NEGERI
Kenaikan Harga Berbagai Komoditas Mendorong Inflasi Desember 2009
Perkembangan harga beberapa komoditas bahan makanan selama bulan Desember 2009 jika dibandingkan dengan Nopember menunjukkan secara umum mengalami penurunan pada beberapa komoditas. Penurunan harga terbesar terjadi pada komoditas cabe merah sebesar 49,88%, daging ayam turun sebesar 6,31%, dan tepung terigu sebesar 0,20%. Sedangkan komoditas lain yang mengalami peningkatan harga adalah telur ayam ras sebesar 6,50%, minyak goreng curah sebesar 6,09%, dan kemudian gula pasir lokal sebesar 3,33%. Bahan makanan lain yang juga mengalami peningkatan harga pada bulan Desember 2009 adalah kedele yang mengalami peningkatan sebesar 3,28% beras umum sebesar 3,25%, daging sapi sebesar 0,78% dan susu kental manis sebesar 0,11% (BPS, 2010).
Perubahan Harga Beberapa Kebutuhan Bahan Pokok
-20,00 0,00 20,00 40,00 60,00 Telur Aya m Ra s Ca be Mera h Bia sa Tepung Terigu Kedela i Susu Ktl Ma nis D. Aya m Ra s Da ging Sa pi M. Goreng Cura h Gula Pa sir Loka l Bera s
Peruba ha n Ha rga (%), Nomina l (Rp/kg)
Des'09/Nop'09 Des'09/Des'08
Sumber: BPS
Pada bulan Desember 2009, indeks kelompok bahan makanan mengalami penurunan dibandingkan bulan Nopember 2009 yaitu dari 127,62 menjadi 127,46.
Penurunan pada indeks harga kelompok pengeluaran Bahan Makanan di bulan Desember 2009 ini menyebabkan terjadinya deflasi di kelompok barang ini sebesar 0,13%. Deflasi tertinggi terjadi pada subkelompok bumbu-bumbuan sebesar 8,74%. Sedangkan deflasi terendah pada kelompok Bahan Makanan terjadi pada subkelompok bahan makanan lainnya sebesar 0,06%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya sebesar 2,98% dan inflasi terendah terjadi pada subkelompok ikan diawetkan sebesar 0,19%.
Kelompok pengeluaran lain selain kelompok Bahan makanan pada bulan Desember 2009 mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 0,93% dimana subkelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi tertinggi dengan inflasi sebesar 2,40%. Sedangkan subkelompok makan jadi mengalami inflasi terendah sebesar 0,33%. Begitu pula dengan kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar yang juga mengalami inflasi sebesar 0,28% dengan inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok penerangan dan air sebesar 0,66% dan inflasi terendah terjadi pada subkelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,08%.
Perkembangan Inflasi Nasional Bulan Maret 2008 – Desember 2009
0,95 0,57 1,41 2,46 1,37 0,51 0,97 0,45 0,12 -0,04 -0,07 0,21 0,22 -0,31 0,040,11 0,45 0,56 1,05 0,19 -0,03 0,33 -0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 M ar-08 A p r-08 Me i-0 8 Ju n -0 8 Ju l-0 8 Ag u st -0 8 Se p -0 8 Ok t-0 8 No p -0 8 De s-0 8 Ja n -0 9 Fe b -0 9 M ar-09 A p r-09 Me i-0 9 Ju n -0 9 Ju l-0 9 Ag u st -0 9 Se p -0 9 Ok t-0 9 No p -0 9 De s-0 9 (% ) Sumber: BPS
Kelompok Sandang mengalami inflasi sebesar 0,95% dimana inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 2,55% dan inflasi
terendah terjadi pada subkelompok sandang anak-anak sebesar 0,12%. Kelompok Kesehatan pada bulan Desember 2009 juga mengalami inflasi sebesar 0,20%. Pada kelompok ini inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok jasa perawatan jasmani sebesar 0,32% dan inflasi terendah terjadi pada subkelompok subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0,12%. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga mengalami inflasi sebesar 0,01%. Begitu pula untuk kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan yang juga mengalami inflasi pada bulan Desember 2009 sebesar 0,35%. Perubahan indeks pada beberapa komoditi untuk beberapa kelompok tersebut menyebabkan terjadinya inflasi sebesar 0,33% pada bulan Desember 2009.
Kelompok Bahan Makanan Memberi Andil Terbesar Terhadap Inflasi pada Bulan Desember 2009
Inflasi yang terjadi di bulan Desember 2009 disebabkan oleh inflasi yang terjadi pada kelompok Makanan jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau; Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar; Sandang; Kesehatan; serta Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan. Sedangkan kelompok Bahan Makanan menyumbang deflasi sebesar 0,04%. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain cabe merah sebesar 0,21%, daging ayam sebesar 0,03%, dan cabe rawit sebesar 0,01%. Sedangkan komoditas yang yang dominan sumbangan inflasi antara lain beras sebesar 0,14% dan ikan segar sebesar 0,03%.
Kelompok Makanan jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau pada bulan Desember 2009 memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,16%. Komoditas yang dominan menyumbangkan inflasi pada kelompok ini diantaranya adalah gula pasir sebesar 0,05%. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07%. Pada kelompok ini sumbangan inflasi terbesar berasal dari bahan bakar rumah tangga yaitu sebesar 0,04%. Sumbangan inflasi yang berasal dari kelompok Sandang pada bulan Desember 2009 sebesar 0,07%. Inflasi tertinggi pada kelompok ini disumbangkan oleh emas perhiasan sebesar 0,06%. Kelompok Kesehatan juga mengalami inflasi yang memberikan sumbangan sebesar 0,01%. Kelompok Kesehatan memberikan andil inflasi sebesar 0,01%. Begitu pula dengan kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan yang juga mengalami inflasi
dengan andil sebesar 0,06%. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah tarif angkutan udara sebesar 0,05%.
Responsibilitas Beberapa Penggunaan Kelompok Barang Terhadap Potensi Inflasi Bulan Maret 2008 - Desember 2009
-1,00 -0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 Ma r-0 8 Ap r-0 8 Me i-0 8 Jun-0 8 Ju l-0 8 A g us t-08 S ep-08 Ok t-0 8 N op-08 Des -0 8 Ja n-09 F eb-09 Ma r-0 9 Ap r-0 9 Me i-0 9 Jun-0 9 Ju l-0 9 A g us t-09 S ep-09 Ok t-0 9 N op-09 Des -0 9
Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar Sandang
Kesehatan Pendidikan, Rekreasi & Olahraga
Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan
Sumber: BPS
Inflasi yang terjadi pada bulan Desember 2009 juga berasal dari kontribusi peningkatan indeks harga konsumen di beberapa daerah di Indonesia. Namun demikian, beberapa daerah masih mengalami deflasi. Secara nasional dari 66 kota, terdapat 48 kota yang mengalami inflasi dan 18 kota yang mengalami deflasi. Pada bulan Desember 2009 dari 16 kota di pulau Sumatera, 5 kota mengalami inflasi dan 11 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe yaitu 1,31% dan inflasi terendah terjadi di Palembang yaitu 0,03%. Sedangkan Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga yaitu 0,71% dan deflasi terendah terjadi di Pakanbaru yaitu 0,10%.
Di pulau Jawa dari 23 kota, 20 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 0,69% dan inflasi terendah terjadi di Depok sebesar 0,14%. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tangerang yaitu sebesar 0,30% dan deflasi terendah terjadi di Cilegon yaitu sebesar 0,10%. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera, dari 27 kota, 23 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ambon yaitu sebesar 3,49% dan inflasi
terendah terjadi di Kendari yaitu sebesar 0,11%. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Maumere sebesar 0,83% dan deflasi terendah terjadi di Sampit sebesar 0,43%.
Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Pangan Penting Domestik
Pada bulan Desember 2009 perkembangan harga beberapa komoditi yang diamati menunjukkan kecenderungan peningkatan. Namun peningkatan tersebut secara umum tidak begitu signifikan jika mengingat terdapat adanya potensi peningkatan harga kebutuhan pokok karena hari raya natal dan tahun baru. Peningkatan permintaan karena perayaan natal dan tahun baru diperkirakan memberikan dampak kepada inflasi yang terjadi pada bulan Desember 2009, namun peningkatan tersebut tidak terlalu besar sehingga dapat menahan laju inflasi bulan ini.
Peningkatan harga pada bulan Desember 2009 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi pada komoditas beras umum, daging sapi, susu kental manis, minyak goreng curah, gula pasir lokal, kedele dan telur ayam ras. Sedangkan penurunan harga pada bulan ini terjadi pada komodtas daging ayam, terigu dan cabe merah.
Perkembangan Harga Domestik Beberapa Komoditi I
5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 11.000 12.000 13.000 Ja n -0 8 F eb-08 Ma r-0 8 A p r-0 8 Me i-0 8 Ju n -0 8 Ju l-0 8 Au g-0 8 S ep-08 Ok t-0 8 N o p-08 De s-0 8 Ja n -0 9 F eb-09 Ma r-0 9 A p r-0 9 Me i-0 9 Ju n -0 9 Ju l-0 9 Ag u st -0 9 S ep-09 Ok t-0 9 I N op 0 9 II N o p 0 9 III N o p 0 9 IV N o p 09 I D es 0 9 II D es 0 9 III D es 0 9 IV D es 0 9 V D es 0 9 Rp /k g
Beras Susu Kental Manis Minyak Goreng Curah Gula Pasir Tepung Terigu Kedelai
Sumber: BPS
Harga minyak goreng curah pada bulan Desember 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan Nopember 2009. Begitupula ketika dibandingkan dengan bulan Desember 2008 maka terjadi peningkatan harga yang mencapai 12,57%. Pada
bulan Desember 2009 tarif Bea Keluar (BK) CPO tidak diberlakukan. Keputusan tersebut didasarkan pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58/M-DAG/PER/11/2009 tanggal 20 Nopember 2009 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar yang berlaku mulai 1 Desember 2009 yang menetapkan harga rata-rata CPO CIF Rotterdam sebesar US$ 697,41/MT yang berada di bawah batas terkena tarif BK.
Komoditas gula pasir juga mengalami peningkatan harga pada bulan Desember 2009. Sedangkan jika dibandingkan dengan bulan Desember tahun 2008, gula pasir mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan mencapai 45,40% pada bulan Desember 2009. Harga kedelai pada bulan Desember 2009 menunjukkan peningkatan sebesar 3,28% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan harga tersebut dipicu oleh peningkatan harga kedele dunia, mengingat sebagian besar konsumsi kedele domestik dipenuhi dari impor.
Perkembangan Harga Domestik Beberapa Komoditi II
10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 Ja n-08 F eb-08 Ma r-0 8 Ap r-0 8 Me i-0 8 Ju n-08 Ju l-0 8 Au g-0 8 S ep-08 Ok t-0 8 N op-08 De s-0 8 Ja n-09 F eb-09 Ma r-0 9 Ap r-0 9 Me i-0 9 Ju n-09 Ju l-0 9 A gus t-09 S ep-09 Ok t-0 9 I N o p 09 II N op 09 II I N o p 0 9 IV N op 09 I D es 0 9 II D es 0 9 II I D es 0 9 IV D es 0 9 V Des 0 9 Rp /k g
Daging Ayam Daging Sapi Cabe Merah Telur Ayam Ras
Sumber: BPS
Perkembangan harga komoditas produk utama seperti daging ayam menunjukkan kecenderungan penurunan pada bulan Desember 2009. Begitupula jika dibandingkan dengan harga daging ayam pada bulan Desember 2008 dimana mengalami penurunan sebesar 4,08%. Untuk harga daging sapi pada bulan Desember 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya maupun jika
dibandingkan dengan bulan Desember 2008. Peningkatan harga daging sapi dikarenakan meningkatnya permintaan terkait hari raya natal dan tahun baru. Harga cabe merah pada bulan Desember 2009 mengalami penurunan yang signifikan setelah sebelumnya juga telah mengalami penurunan. Penurunan tersebut diperkirakan karena penurunan permintaan dan telah lancarnya pasokan.
Perkembangan Harga Dunia Beberapa Komoditas Bulan Januari 2008 sampai Desember 2009
Perkembangan harga CPO dunia pada minggu pertama Desember 2009 mengalami peningkatan sebesar 0,86%. Peningkatan harga CPO dipicu peningkatan permintaan CPO dan potensi curah hujan yang tinggi di Johor yang berimbas pada hasil produksi yang menurun. Pada minggu ke dua Desember 2009 harga CPO mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnnya permintaan dan jumlah persediaan CPO yang diprediksi akan mengalami penurunan. Selain itu, meningkatnya harga minyak mentah menjadi diatas US$ 73/barrel pada Jumat 18 Desember 2009, juga memicu kenaikan harga CPO. Pada akhir bulan Desember 2009, harga CPO dunia mengalami kenaikan, terutama pada periode tanggal 30 – 31 Desember 2009, harga CPO mengalami kenaikan sebesar 1,90% dari harga US$ 790/ton menjadi US$ 805/ton. Kenaikan harga CPO disebabkan penurunan produksi CPO Malaysia pada bulan Desember 2009 yang mengalami penurunan sebesar 18,3% menjadi 1.193.465 ton dari 1.460.349 ton pada bulan sebelumnya (Reuters, 2010).
Pada minggu pertama bulan Desember 2009, perkembangan harga beras dunia yang terutama dominan dipengaruhi oleh harga beras dari Thailand stabil pada harga US$ 535/ton. Namun stabilnya harga beras diperkirakan tidak akan bertahan lama karena faktor permintaan dari Filipina akan mempengaruhi persediaan di negara-negara eksportir seperti Vietnam dan Thailand. Harga beras Thailand 5% harian mengalami kenaikan sebesar 25,25% pada minggu kedua bulan Desember 2009. Kenaikan harga ini disebabkan oleh adanya permintaan dari Filipina, sehingga hal tersebut mempengaruhi persedian dari negara – negara eksportir seperti Thailand dan Filipina. Pada minggu ketiga Desember 2009, harga beras Thailand 5% harian mengalami penurunan sebesar 1,61%. Penurunan harga beras Thailand dipicu oleh rendahnya harga beras yang
ditawarkan oleh Vietnam pada tender permintaan beras yang dilakukan oleh Filipina. Pada akhir Desember 2009, harga beras Thailand 5% stabil.
Perkembangan Harga Dunia Beberapa Komoditi
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 Ja n-08 F e b-08 M a r-0 8 Ap r-0 8 Me i-0 8 Jun-08 Ju l-0 8 A g us t-08 S e p-08 Ok t-0 8 No p -0 8 De s -0 8 Ja n-09 F e b-09 M a r-0 9 Ap r-0 9 Me i-0 9 Jun-09 Ju l-0 9 A g us t-09 S e p-09 Ok t-0 9 I N op 09 II N o p 09 II I N o p 0 9 IV N o p 09 I D e s 0 9 II D e s 0 9 III D e s 0 9 IV D e s 0 9 V De s 0 9 US D/ T o n
Kedelai Beras CPO Gula Terigu
Sumber: Reuters
Perkembangan harga kedele dunia pada periode minggu pertama Desember 2009 mengalami penurunan sebesar 0,01%. Kenaikan harga kedele dipicu oleh menguatnya mata uang dollar Amerika terhadap mata uang asing lainnya. Hal ini menyebabkan kedele yang berasal dari Amerika menjadi kurang kompetitif. Harga kedele dunia mengalami peningkatan pada pertengahan Desember 2009. Kenaikan harga kedele disebabkan oleh tertundanya panen kedele yang disebabkan karena badai. Selain itu, adanya permintaan dari China juga turut menyebabkan kenaikan harga ini. Meskipun demikian, menguatnya mata uang dollar Amerika terhadap mata uang asing lainnnya, turut memperlambat laju kenaikan harga kedele dunia. Pada minggu ke empat Desember 2009, harga kedele dunia kembali mengalami penurunan sebesar 4,27%. Penurunan harga ini disebabkan oleh menguatnya mata uang dollar Amerika terhadap mata uang asing lainnya sehingga menyebabkan harga kedele dari Amerika menjadi tidak kompetitif. Sedangkan pada akhir Desember 2009 harga kedele dunia mengalami peningkatan, sebesar 3,76%. Kenaikan harga ini disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan dari China (Reuters, 2010).
22 Harga gandum dunia mengalami peningkatan pada periode awal Desember 2009, harga gandum mengalami kenaikan sebesar 1,26%. Kenaikan harga gandum dipicu oleh meningkatnya harga komoditas lainnya seperti jagung. Selain itu juga karena, menguatnya mata uang dollar Amerika terhadap mata uang asing lainnya, serta masih melimpahnya persediaan gandum yang menahan laju kenaikan harga gandum dunia sehingga harga gandum dunia tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Pada pertengahan Desember, harga gandum dunia kembali mengalami kenaikan yang besarnya 2,55%. Kenaikan harga gandum ini disebabkan oleh adanya permintaan dari Turki sebesar 100.000 ton gandum. Pada akhir Desember 2009, harga gandum dunia mengalami penurunan yang disebabkan oleh masih melimpahnya persediaan/stok gandum.
Perkembangan harga gula dunia mengalami kenaikan sebesar 2,09% pada periode awal Desember 2009. Kenaikan harga gula disebabkan oleh meningkatnya curah hujan di Brazil yang merupakan negara eksportir gula terbesar di dunia. Harga gula duniakembali mengalami kenaikan sebesar 0,10% pada periode minggu kedua Desember 2009. Kenaikan harga gula tersebut masih disebabkan oleh adanya curah hujan yang berlebihan di Brazil, negara produsen dan eksportir gula terbesar di dunia. Harga gula dunia cenderung mengalami kenaikan pada periode akhir Desember 2009. Harga gula dunia mengalami kenaikan sebesar 1,43%. Kenaikan harga gula dunia ini disebabkan oleh peningkatan penggunaan tebu sebagai bahan baku bio etanol di Brazil dan penurunan produksi gula di India akibat El Nino pada tahun 2009. Kenaikan harga gula juga disebabkan oleh naiknya harga beberapa komoditas bahan baku minyak nabati seperti CPO dan Kedele serta naiknya harga minyak mentah diatas US$ 70/barel akibat peningkatan konsumsi yang diperkirakan sampai dengan akhir musim dingin (Reuters, 2010).