• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Widias Rahayuni BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Widias Rahayuni BAB I"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Pernyataan tersebut

menunjukan pendidikan merupakan kebutuhan yang mutlak, artinya

pendidikan merupakan sebuah kebutuhan dasar yang harus diperoleh anak

apapun dan bagaimanapun kondisi anak tersebut, selama mereka mampu

mengikuti proses pembelajaran, maka tidak ada larangan bagi mereka untuk

mengenyam pendidikan. Pendidikan bukan hanya milik mereka dengan

kondisi fisik dan mental yang normal saja tetapi juga bagi mereka dengan

kebutuhan khusus (ABK).

Kebijakan pemerintah terkait dengan pendidikan bagi ABK

diwujudkan dengan keberadaan program atau kelas inklusi di beberapa

sekolah yang tertunjuk dan dipandang siap menjalankan program tersebut,

karena diperlukan kesiapan dan tenaga pengajar yang khusus memiliki

pengetahuan mengenai pengelolaan kelas inklusi. Seperti yang tertera dalam

UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 5 ayat (2) yang

menyatakan bahwa“warga negara yang memiliki kelainan fisik,

(2)

Pendidikan inklusi merupakan suatu pendidikan yang menerima semua

siswa dengan kebutuhan khusus di sekolah reguler yang berlokasi di daerah

tempat tinggal mereka dan mendapatkan berbagai pelayanan pendukung dan

pendidikan sesuai dengan kebutuhanya.

Menurut David Smith (dalam Mohammad Sugiarmin 2009:45)

menyatakan bahwa :

“Pendidikan inklusi dapat berarti bahwa pendidikan bagi siswa yang memiliki hambatanketerlibatan yang sebenarnya dari tiap anak dalam kehidupan sekolah yang menyeluruh. Inklusi dapat berarti penerimaan anak - anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi soaial dan konsep diri (visi-misi) sekolah”.

Dalam pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus tidak mendapat

perlakuan khusus ataupun hak-hak istimewa, melainkan persamaan hak dan

kewajiban yang sama dengan peserta didik lainnya di kelas itu.

Ada perbedaan yang sangat mendasar dalam mengelola anak-anak di

kelas inklusi dengan mereka yang ada di kelas reguler, artinya dibutuhkan

pengetahuan guru yang cukup baik, tenaga yang lebih besar, dan kesabaran

yang lebih tinggi dalam melaksanakan pembelajaran di kelas inklusi. Biasanya

para ABK memiliki jenis kekhususan yang berbeda-beda sehingga dibutuhkan

perlakuan yang berbeda pula dalam menangani mereka, namun demikian pada

dasarnya mereka berhak mendapatkan ilmu yang sama seperti teman-teman

mereka lainnya di kelas reguler, dan guru berkewajiban menyampaikan

pengetahuan yang sama kepada para ABK tentu dengan kebutuhan waktu

(3)

Kemampuan yang baik dalam menyampaikan dan menjelaskan materi

bagi ABK sangat diperlukan mengingat kemampuan ABK yang terbatas dan

daya ingat yang juga terbatas dan bisa saja kemampuan fisik mereka yang

terbatas (misal mudah lelah, tidak bisa tenang). Diperlukan strategi khusus

yang digunakan guru dalam menghadapi kondisi semacam ini. Jika siswa

normal membutuhkan satu sampai dua kali penjelasan guru untuk dapat

memahaminya, maka untuk ABK diperlukan mungkin 3 sampai 5 kali

penjelesan oleh guru untuk dapat memahami.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti di SDN 1 Tanjung, anak-anak

yang bersekolah di SDN 1 Tanjung bukan hanya anak-anak yang normal saja,

tetapi juga siswa yang memiliki kebutuhan khusus. SDN 1 Tanjungditunjuk

oleh pemerintah sebagai SD Rintisan SD Inklusi pada tahun pelajaran

2004-2005. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, Kepala Sekolah dan guru

berusaha melayani anak berkebutuhan khusus dengan menyediakan wadah

bagi mereka untuk belajar di sekolah tersebut. Sehingga siswa reguler dan

ABK dapat menyatu pada tempat yang sama, dan kegiatan pembelajaran dapat

berjalan dengan lancar. Payung hukum SD Inklusi didasarkan pada Keputusan

BupatiNo. 421 / 149 / 2011, dan Permendiknas No. 70 tahun 2009.

Berdarsarkan pendapat para ahli, jenis ABK jumlahnya sekitar 10

jenis, yaitu (1)tunanetra, (2)tunarungu, (3)tunagrahita, (4)tunadaksa,

(5)tunalaras, (6)tunaganda, (7)anak berbakat, (8)autis, (9)hiperaktif, dan

(10)kesulitan belajar, namun jenis ABK yang ada di SDN 1 Tanjung hanya

(4)

dan hiperaktif (ADHD). Jumlah ABK pada tahun pelajaran 2013 / 2014

mencapai 38 siswa.

Siswa ABK yang ada di SDN 1 Tanjung tersebut terbagi menjadi 12

kelas, karena SDN 1 Tanjung terdapat kelas paralel A dan B, dan masing -

masing kelas terdapat kurang lebih 2 - 3 siswa berkebutuhan khusus. Siswa

yang ada di SDN 1 Tanjung saat berada dalam kelas tentunya tidak dibedakan

haknya dalam memperoleh pendidikan, namun diperlakukan secara berbeda.

Bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, butuh penanganan yang lebih

khusus dibandingkan dengan siswa yang normal, namun demikian guru tidak

bermaksud untuk berpilih kasih, dan pada hari - hari tertentubagi siswa yang

mempunyai kebutuhan khusus, dikumpulkan dalam satu ruangan, kemudian

dilatih oleh tenaga pendidik yang khusus menangani ABK untuk dilatih

psikologisnya supaya anak tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik, dan

tidak merasa minder saat berada bersama siswa normal.

Kemampuan seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran bagi

anak berkebutuhan khusus sangatlah penting, karena menentukan tingkat

pemahaman siswa terhadap meteri pelajaranyang disampaikan oleh guru

tersebut. Misalnya seorang guru akan mengajarkan membaca, jika

mengajarkan cara membaca pada siswa normal mungkin mudah, namun jika

mengajarkan membaca kepada siswa berkebutuhan khusus maka kemampuan

seorang guru harus lebih tinggi dan harus memiliki kesabaran yang luar biasa

karena membaca bukanlah proses yang terjadi dan dikuasai oleh siswa secara

(5)

baik itu oleh guru, maupun orang tuanya yang prosesnya pun bertahap dari

yang tidak lancar menjadi lancar. Pendidik bagi anak berkebutuhan khusus

harus memberikan pembelajaran cara membaca kepada siswanya dengan sabar

dan penuh kasih sayang.

Untuk siswa normal mungkin cara pembelajaran yang diterapkan oleh

seorang guru dalam menyampaikan materi tidaklah terlalu sulit, namun jika

ada sekolah yang menerapkan sistem sekolah inkluisi, didalamnya terdapat

siswa berkebutuhan khusus yang membutuhkan penanganan atau perlakuan

yang lebih khusus dibandingkan siswa lainnya yang tidak mengalami

kelainan. Peran guru sangat penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan

pemahaman materi pada anak berkebutuhan khusus tersebut. Seorang guru

dalam menyampaikan materi harus mampu menggunakan cara yang lain

dengan mengembangkan ketrampilan guru dalam menyampaikan materi untuk

anak berkebutuhan khusus sehingga anak tersebut mampu menyerap dan

memahami setiap kata yang disampaikan oleh gurunya. Guru yang mengajar

tentunya harus memiliki keahlian dan kesabaran yang lebih dibandingkan

dengan guru yang mengajar di sekolah biasa dan mengajar siswa yang normal.

Guru yang mengajar di sekolah dasar inklusi juga dituntut untuk

mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan hangat antara guru

dengan siswanya maupun antar siswa di kelasnya agar terjadi keakraban dan

tidak adanya suasanya canggung atau saling menjauhi, sehingga siswa reguler

dengan siswa yang merupakan anak yang berkebutuhan khusus merasa akrab

(6)

pembelajaran, selain itu jika suasana di kelas nyaman siswa ABK juga merasa

nyaman dan tidak minder jika berada di tengah - tengah temannya, dan siswa

yang normal pun di ajarkan agar mau dan mampu menerima temannya yang

berkebutuhan khusus tersebut dalam artian tidak menjauhi atau merasa takut

jika bermain bersamanya.Upaya yang dapat dilakukan sekolahuntuk

mengembangkan kemampuan penanganan pembelajaran ABK dan siswa

regulerantara lain dengan mengikutsertakan tenaga pendidik dalam kegiatan

workshop, diklat, seminar inklusi, dan study banding / lesson studi internal

sekolah, sehingga kompetensi guru dalam mengajar kelas inklusi semakin

baik.

Salah satu jenis anak berkebutuhan khusus adalah kesulitan belajar.

Kesulitan belajar adalah adalah individu yang memiliki gangguan pada satu

atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan

penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi

kemampuan berpikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan

disfungsi minimal otak, dan afasiaperkembangan. Individu kesulitan belajar

memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik

persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan

ruang serta keterlambatan perkembangan konsep.

Penyebab anak berkesulitan belajar dapat dikarenakan beberapa faktor,

diantaranya karena faktor genetik (keturunan), pencemaran lingkungan tempat

tinggal, dan gizi yang tidak memadai pada tubuh anak. Siswa berkesulitan

(7)

guru maupun dengan temannya, perlu perhatian dan penjelasan khusus yang

mungkin saja harus diulang saat berkomunikasi baru siswa berkesulitan

belajar memahami apa yang disampaikan, misalnya saat siswa ditanya

mengenai identitas dirinya, atau saat memperoleh materi pelajaran dari guru.

Namun demikian, masih ada sisi lain berupa keahlian khusus atau bakat yang

mungkin saja dimiliki siswa dengan sindrom kesulitan belajar atau “learning

disabilities”, contohnya siswa pandai menggambar sesuai dengan contoh

gambar yang diberikan, siswa pandai bercerita, dll. Guru yang ada di sekolah

inklusi sudahseharusnya peduli terhadap bakat yang ada pada diri siswa

berkebutuhan khusus, kepedulian guru bisa diungkapkan dengan mengadakan

kelas khusus untuk siswa ABK yang di dalamnya berisi bimbingan -

bimbingan tentang kemampuan non-akademik seperti gali bakat, sehingga

siswa diberi stimulus berupa bimbingan dan arahan supaya terlihat bakat apa

yang dimilikinya, yang kemudian guru jadi tahu apa yang harus dilakukannya

supaya mampu mengembangkan bakat yang dimiliki siswanya.

Penelitian tentang kemampuan guru dalam menangani anak

berkebutuhan khusus berkesulitan belajar di kelas inklusi menjadi sangat

penting dilakukan untuk dapat menggali informasi lebih dalam tentang

kemampuan guru dan potret guru dalam menangani anak berkebutuhan

(8)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kemampuan guru kelas dan guru khusus dalam

merencanakan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus

berkesulitan belajar pada program inklusi?

2. Bagaimana kemampuan guru kelas dan guru khusus melaksanakan

pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus berkesulitan belajar

pada program inklusi?

3. Bagaimana kemampuan guru kelas dan guru khusus mengevaluasi

hasil belajar siswa dengan kebutuhan khususberkesulitan belajar

pada program inklusi?

4. Bagaimana kemampuan guru kelas dan guru khusus mengelola

kelas saat proses integrasi anak berkebutuhan khusus berkesulitan

belajar dan siswa normal di kelas yang sama pada program inklusi?

C. Tujuan Penelitian

Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran bagi siswa

berkebutuhan khusus berkesulitan belajar pada program inklusi.

2. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran bagi siswa

berkebutuhan khusus berkesulitan belajar pada program inklusi.

3. Kemampuan guru mengevaluasi hasil belajar bagi siswa

(9)

4. Kemampuan guru mengelola kelas saat proses integrasi anak

berkebutuhan khusus berkesulitan belajar dan siswa normal di

kelas yang sama pada program inklusi.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk memberi gambaran

tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang tenaga pendidik

yang bekerja dalam sekolah berbasis inklusi. Serta memberikan

gambaran bagaimana seharusnya seorang tenaga pendidik yang bekerja

dalam sekolah berbasis inklusi memberikan motivasi belajar kepada

anak berkebutuhan khusus supaya anak tersebut tidak merasa minder

jika sedang dalam proses pembelajaran dikelas regular bersama siswa

normal.

2. Manfaat Praktis

a. Dengan mendapatkan informasi tentang bagaimana cara mengolah

model pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus maka dapat

bermanfaat untuk pemilihan dan pengembangan model

pembelajaran yang tepat untuk diterapkan kepada siswa yang

memiliki kebutuhan khusus untuk mengembangkan cara - cara

tersebut supaya pembelajaran dan pemberian materi kepada siswa

yang berkebutukhan khusus lebih efektif lagi penerapannya di

(10)

b. Dengan mendapatkan informasi tentang cara mengelola kelas

inklusi agar siswa normal dan siswa yang memiliki kebutuhan

khusus dapat menyatu, maka akan berguna untuk mengembangkan

pengelolaan kelas inkluisi supaya siswa merasa lebih nyaman

dalam kelas tersebut dan dapat berbaur satu sama lain.

c. Dengan mendapatkan informasi tentang pemberian motivasi

kepada anak berkebutuhan khusus, maka bermanfaat untuk peneliti

dan pihak lain untuk mengetahui bagaimana cara pemberian

motivasi kepada anak berkebutuhan khusus supaya prestasi belajar

Referensi

Dokumen terkait

diterapi den.an insulin dosis tin..i$ Kedua komplikasi ini diturunkan secara drastis den.an di.unakann(a terapi insulin dosis rendah$  #amun hipo.likemia tetap merupakan

Berlebihan 1 15 14 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 X=3,19 Y=4,07 2 Berdasarkan Gambar 2 memperlihatkan bahwa secara umum indikator-indikator kualitas pelayanan dalam penelitian ini

kekhawatiran  bahwa  bank  sentral  Jepang  tidak  akan  menyediakan  tambahan  stimulus  ekonomi.  Pelemahan  bursa  Amerika  Serikat  ditambah  oleh   

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, penulis panjatkan atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

pendidikan internasional (International Education Standards/IES) sebagai panduan global untuk membentuk akuntan yang profesional. …pilar Kompetensi dalam Arsitektur Profesi

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

jenis penyakit kegawatdaruratan serta konsekuensi biaya yang harus ditanggung oleh pasien. Informasi yang komprehensif diharapkan dapat difasilitasi oleh BPJS Kesehatan

Perpustakaan digital atau digital library adalah gabungan ICT (Information and Communication Technology) dengan isi dan program yang dibutuhkan untuk mereproduksi dan