179 STUDI KASUS KETERAMPILAN DASAR AKADEMIK
ANAK USIA 4 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK
Oleh: Santi Kusuma Dewi Email: [email protected]
Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Aisyiyah Riau
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat keterampilan dasar akademik yang dimiliki oleh anak yang mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kasus yaitu metode riset yang menggunakan sumber data yang sebanyak mungkin bisa digunakan untuk menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek mengenai individu secara sistematis. Subjek penelitian adalah seorang anak berusia 4 tahun yang mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak. Informan peneliti adalah ibu dan guru subjek, serta tugas-tugas yang telah dilakukan subjek. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami hambatan dalam keterampilan dasar akademik. Keterampilan dasar akademik yang dimiliki anak, diharapkan dapat diasah secara optimal saat anak mengikuti kegiatan di Taman Kanak-kanak untuk menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.
180 PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Saat subjek berusia 15 bulan, ayah subjek meninggal karena sakit paru-paru. Sehingga, ibu menjadi orangtua tunggal. Ibu lebih banyak memberikan waktu belajar untuk kakak subjek daripada subjek. Pada sore hari, subjek lebih sering bermain di lingkungan rumahnya. Sedangkan pada malam hari, jika subjek tidak bisa tidur, maka ibu akan membiarkan subjek untuk menonton televisi di kamar, hal ini menyebabkan subjek senang menonton televisi daripada melakukan kegiatan belajar. Bronfenbrenner (1979) mengatakan bahwa pembelajaran dan tingkah laku anak tidak terjadi dalam ruang kosong (vacuum), tetapi lingkungan rumah yang mendatangkan, mengubah, dan membedakan tingkah laku perkembangan anak.
Menurut Vasta, Haith, & Miller (dalam Patmonodewo, 1993), lingkungan rumah merupakan lingkungan utama yang mempengaruhi perkembangan fungsi intelektual anak. Dari hasil tes inteligensi subjek dengan menggunakan Tes Binet, didapatkan bahwa kemampuan inteligensi subjek berada pada kategori rata-rata anak seusianya, namun subjek memiliki kelemahan dalam berpikir kreatif terhadap informasi yang didapatnya (Meeker,
1969). Subjek belum mempunyai banyak kosa kata yang pada umumnya sudah diketahui oleh anak seusianya, seperti kucing, anjing, dan cangkir. Untuk menyebutkan nama binatang, subjek menirukan bunyinya. Sedangkan, untuk menyebutkan benda, subjek menunjukkan cara menggunakan benda tersebut tanpa menyebut nama benda tersebut. Di dalam kelas, subjek sering tidak mengikuti instruksi yang diberikan dan terlihat tidak konsentrasi. Subjek belum dapat memahami dengan baik instruksi yang diberikan oleh guru, karena TK merupakan lingkungan di luar keluarga yang pertama bagi subjek.
Hammer dan Turner (dalam Patmonodewo, 1993) memberikan gambaran good mothering yaitu ibu menciptakan lingkungan yang menstimulasi dan yang peka terhadap tingkah laku anak. Kepekaan ibu dinyatakan secara eksplisit melalui kegiatan antara lain, bercerita, mengajak bicara, dan mengajak anak dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Dalam kasus subjek ini, Ibu subjek kurang berperan sebagai good mothering, sehingga subjek kurang mendapatkan stimulus untuk mengembangkan kemampuannya dalam belajar dan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya.
181 Di sekolah, subjek lebih senang
dan antusias beraktivitas di luar kelas daripada di dalam kelas. Subjek lebih senang melakukan aktivitas menggerakkan tubuh dari pada aktivitas menggunakan alat tulis, terutama untuk kegiatan menggambar, mewarnai, dan menbalkan garis. Di samping itu, subjek belum mengenal banyak warna. subjek juga belum mengenal huruf dan angka.
TINJAUAN TEORITIS
Duvall dan Miller (dalam Patmonodewo, 1993), mengemukakan tugas perkembangan anak usia dini, sebagai berikut:
a. belajar memperoleh keseimbangan yang bersifat faali,
b. belajar memperoleh kepuasan melalui makan dan minum,
c. belajar bagaimana dan bilamana melakukan toilet training,
d. belajar melakukan gerakan tubuh dengan efektif,
e. belajar menyesuaikan diri dengan orang lain,
f. belajar mencintai dan dicintai, g. mengembangkan sistem komunikasi, h. belajar mengontrol perasaan, dan i. meletakkan kesadaran diri (
self-awareness).
Menurut Owens (1996),
perkembangan anak usia 4 tahun, sebagai berikut:
Tabel. 1
Tabel perkembangan anak usia 4 tahun (Owens,1996)
Aspek Perkembangan anak
usia 4 tahun
Motorik Menaiki dan menuruni tangga dengan langkah yang berbeda
Lompat melewati suatu benda/objek Melompat dengan satu kaki
Kognisi Dapat mengkategorikan benda
Hafal hitungan angka 1-5 Mengerti konsep “tiga” Mengetahui warna dasar
Dapat melabel beberapa uang koin
Sosialisasi Bermain dan bekerja sama dengan teman yang lain Bermain peran
182 Meminta banyak hal, mengajukan banyak pertanyaan Menggunakan bentuk kalimat yang lebih lengkap Menceritakan kembali sebuah cerita dan dapat
menceritakan kejadian lampau
Mengerti banyak pertanyaan yang diberikan lingkungan sekitarnya
Mengajukan beberapa jawaban sulit dari “bagaimana” dan “mengapa”
Mengandalkan kata sebagai maksud dari interpretasi
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek sudah dapat memenuhi tugas perkembangan anak usia 4 tahun pada aspek motorik dan sosialisasi. Namun, subjek belum dapat memenuhi tugas perkembangan anak usia 4 tahun sepenuhnya pada aspek kognitif dan komunikasi. Menurut Stipek dalam Carlton dan Winsler, (1998), anak telah mencapai usia sekolah, namun banyak anak yang terlihat tidak mempunyai minat dalam belajar.
Menurut Pianta dan Harbers (dalam McCartney dan Philips, 2006) kontribusi keluarga tercatat mempunyai pengaruh langsung terhadap kompentensi anak dalam kesiapan mereka memasuki dunia sekolah. Kesiapan, kepekaan dan stimulus dari orangtua dengan jelas dan sering mempunyai hubungan secara langsung terhadap awal kesuksesan anak di sekolah. Perilaku, stimulasi, materi, dan rutinitas yang diberikan orangtua terhadap
anak di lingkungan rumah akan mendukung keterampilan anak dalam mengatur diri, motivasi, bahasa, permulaan untuk mengenal huruf, dan keterampilan sosial yang sebagian besar menekankan kepada hal-hal yang dilakukan anak di sekolah. Pendidikan bagi anak-anak usia dini merupakan hal penting untuk mengembangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk pengembangan keterampilan akademik. Penelitian menegaskan bahwa pola belajar di pra-sekolah sangat erat kaitannya dengan prestasi anak di kemudian hari. Anak-anak yang lebih mengembangkan keterampilannya di tahun-tahun pra-sekolah akan tampil lebih baik di kelas sekolah dasar (National Institute for Literacy, 2009).
Menurut Kariuki, dkk (2007), perubahan perilaku anak usia pra-sekolah yang paling mencolok adalah meningkatnya perilaku yang terkait
183 dengan identitas dan kemandiriannya.
Anak senang mulai belajar untuk mengusai keterampilan baru dan menikmati menjelajah dunia di luar diri dan rumah. Berikut beberapa keterampilan dasar akademik anak usia pra-sekolah, yang kemudian dibandingkan dengan perilaku subjek yang muncul di sekolah, yaitu:
Tabel. 2
Tabel keterampilan dasar akademik pada anak usia pra-sekolah No. Keterampilan dasar akademik pada
anak usia pra-sekolah 1. Kemampuan untuk menggambar 2. Menulis angka dan huruf 3. Mengenal huruf-huruf
4. Melakukan hitungan sederhana 5. Mengenal nilai angka
6. Membaca kata-kata sederhana
7. Melakukan tugas-tugas yang telah diinstruksikan
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek memiliki keterampilan dasar akademik yang kurang berkembang dibandingkan anak usia pra-sekolah pada umumnya.
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode merupakan proses, prinsip dan prosedur yang digunakan peneliti untuk mendekati suatu masalah dan mencari jawabannya. Dengan kata lain, metodologi adalah
sebuah pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu strategi dan metode analisis data kualitatif yang menekankan pada kasus-kasus khusus yang terjadi pada objek analisis. Objek penelitian yang fokus penelitian, yaitu hal yang menjadi sasaran. Sedangkan, informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN Hal ini juga dapat dijelaskan melalui Bagan Dinamika Psikologis, sebagai berikut:
184 Gambar. 1
Bagan Dinamika Psikologis
Berdasarkan hasil Tes Binet, didapatkan skor IQ subjek adalah 99, dengan usia mental sama dengan usia kronologis subjek yaitu 4 tahun 6 bulan, sehingga didapatkan bahwa kemampuan inteligensi subjek berada pada kategori rata-rata anak seusianya. Hal ini berarti bahwa subjek memiliki kemampuan
intelektual yang cukup baik. Namun, subjek kurang mendapatkan stimulus terhadap pengetahuan umum sehari-hari dari lingkungan terdekatnya, terutama dari ibu. Hal ini menyebabkan subjek kurang memiliki kesiapan untuk menghadapi tugas-tugas yang diberikan di sekolah. Good Mothering
Ibu menciptakan lingkungan yang menstimulasi dan peka terhadap tingkah laku anak. Kepekaan ibu dinyatakan secara eksplisit melalui kegiatan antara lain, bercerita, mengajak bicara, dan mengajak anak dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Hammer dan Turner
(dalam Patmonodewo, 1993)
Ibu kurang bertindak sebagai “good mothering”
Perilaku subjek yang muncul:
Sering tertinggal saat pengerjaan tugas dibanding dengan teman-teman yang lain
Mudah menyerah dalam mengerjakan tugas, terutama ketika menggambar, mewarnai, atau menebalkan garis
Terkadang tidak menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru Perhatian mudah teralihkan saat mengerjakan tugas
Bengong saat di kelas
Berbicara pada teman saat guru memberikan instruksi Tidak menyukai kegiatan belajar
Basic academic skill subjek kurang berkembang Diri subjek:
Kurangnya kosa kata yang diketahui untuk hal-hal umum dibandingkan anak-anak seusia subjek Jari-jari tangan kurang terampil, terutama saat
berhitung
Belum mengenal angka Belum mengenal huruf
Belum mengenal banyak warna
Ibu bersikap memaklumi subjek Guru selalu membantu subjek saat mengerjakan tugas
185 Duvall dan Miller (dalam
Patmonodewo, 1993), mengemukakan tugas perkembangan anak usia dini, sebagai berikut:
j. belajar memperoleh
keseimbangan yang bersifat faali, k. belajar memperoleh kepuasan
melalui makan dan minum,
l. belajar bagaimana dan bilamana melakukan toilet training,
m. belajar melakukan gerakan tubuh dengan efektif,
n. belajar menyesuaikan diri dengan orang lain,
o. belajar mencintai dan dicintai,
p. mengembangkan sistem
komunikasi,
q. belajar mengontrol perasaan, dan r. meletakkan kesadaran diri (
self-awareness).
Menurut Owens (1996),
perkembangan anak usia 4 tahun, sebagai berikut:
Tabel. 3
Tabel perkembangan anak usia 4 tahun (Owens,1996)
Aspek Perkembangan anak
usia 4 tahun
Perkembangan subjek (usia 4 tahun 6 bulan)
Motorik Menaiki dan menuruni
tangga dengan langkah yang berbeda
Lompat melewati suatu benda/objek
Melompat dengan satu kaki
Mampu melakukan kegiatan menaiki dan menuruni tangga dengan langkah yang berbeda Mampu melewati benda
dengan cara melompati sebuah benda/objek dengan satu atau kedua kakinya.
Kognisi Dapat mengkategorikan
benda
Hafal hitungan angka 1-5 Mengerti konsep “tiga” Mengetahui warna dasar Dapat melabel beberapa uang
koin
Mampu mengkategorikan benda berdasarkan bentuk dan warna
Masih dibantu dalam berhitung
sampai 1-10
Belum mengerti konsep “tiga”
Mampu menyebutkan warna hitam, putih, merah, dan coklat Sosialisasi Bermain dan bekerja sama
dengan teman yang lain Bermain peran
Saat bermain di luar kelas, mampu bermain bersama teman-temannya dan berganti-ganti permainan
Komunikasi Mempunyai 1500-1600 kosa kata
Meminta banyak hal, mengajukan banyak pertanyaan
Menggunakan bentuk kalimat yang lebih lengkap
Kurangnya kosa kata subjek
untuk menyebutkan
benda-benda umum di sekitarnya, misalnya menyebutkan anjing dan kucing dengan menirukan bunyinya, sedangkan cangkir dengan memperagakan cara
186 Menceritakan kembali
sebuah cerita dan dapat menceritakan kejadian lampau
Mengerti banyak pertanyaan yang diberikan lingkungan sekitarnya
Mengajukan beberapa jawaban sulit dari “bagaimana” dan “mengapa” Mengandalkan kata sebagai
maksud dari interpretasi
menggunakannya
Belum memahami sepenuhnya
instruksi yang diberikan guru untuk mengerjakan tugasnya
Tidak bertanya dan lebih
memilih tidak menyelesaikan tugas, jika menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas
Ket: kata-kata yang bercetak miring menunjukkan bahwa subjek belum mampu sepenuhnya untuk memenuhi perkembangan anak seusianya.
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek sudah dapat memenuhi tugas perkembangan anak usia 4 tahun pada aspek motorik dan sosialisasi. Namun, subjek belum dapat memenuhi tugas perkembangan anak usia 4 tahun sepenuhnya pada aspek kognitif dan komunikasi. Menurut Stipek dalam Carlton dan Winsler, (1998), anak telah mencapai usia sekolah, namun banyak anak yang terlihat tidak mempunyai minat dalam belajar.
Menurut Pianta dan Harbers (dalam McCartney dan Philips, 2006) kontribusi keluarga tercatat mempunyai pengaruh langsung terhadap kompentensi anak dalam kesiapan mereka memasuki dunia sekolah. Kesiapan, kepekaan dan stimulus dari orangtua dengan jelas dan sering mempunyai hubungan secara langsung terhadap awal kesuksesan anak di sekolah. Perilaku, stimulasi, materi, dan rutinitas yang diberikan orangtua terhadap
anak di lingkungan rumah akan mendukung keterampilan anak dalam mengatur diri, motivasi, bahasa, permulaan untuk mengenal huruf, dan keterampilan sosial yang sebagian besar menekankan kepada hal-hal yang dilakukan anak di sekolah. Pendidikan bagi anak-anak usia dini merupakan hal penting untuk mengembangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk pengembangan keterampilan akademik. Penelitian menegaskan bahwa pola belajar di pra-sekolah sangat erat kaitannya dengan prestasi anak di kemudian hari. Anak-anak yang lebih mengembangkan keterampilannya di tahun-tahun pra-sekolah akan tampil lebih baik di kelas sekolah dasar (National Institute for Literacy, 2009).
Ibu sudah mengetahui respon subjek dalam berkegiatan belajar, terutama ketika subjek belajar menggunakan alat tulis. Namun, ibu tetap
187 bersikap memaklumi keadaan subjek. Di
samping itu, guru di sekolah juga sering membantu subjek jika subjek terlambat dalam mengerjakan tugas atau tidak mampu menyelesaikan tugasnya. Kedua hal ini merupakan penguat (reinforcement) terhadap respon subjek dalam belajar, sehingga keterampilan dasar akademik subjek kurang berkembang.
Menurut Kariuki, dkk (2007), perubahan perilaku anak usia pra-sekolah
yang paling mencolok adalah meningkatnya perilaku yang terkait dengan identitas dan kemandiriannya. Anak senang mulai belajar untuk mengusai keterampilan baru dan menikmati menjelajah dunia di luar diri dan rumah. Berikut beberapa keterampilan dasar akademik anak usia pra-sekolah, yang kemudian dibandingkan dengan perilaku subjek yang muncul di sekolah, yaitu:
Tabel. 4
Tabel keterampilan dasar akademik pada anak usia pra-sekolah No. Keterampilan dasar akademik
pada anak usia pra-sekolah
Perilaku subjek yang muncul di sekolah
1. Kemampuan untuk menggambar √ Subjek sudah dapat menggambar hal-hal sederhana, misalnya garis, kotak, dan lingkaran. Tetapi, tarikan garis subjek saat menggambar masih putus-putus.
2. Menulis angka dan huruf Subjek belum mampu menuliskan angka dan huruf.
3. Mengenal huruf-huruf Subjek belum mengenal huruf
4. Melakukan hitungan sederhana Subjek masih dibantu dalam berhitung 1 sampai 10
5. Mengenal nilai angka Subjek sudah bisa untuk mengenal nilai angka 1 dan 2, tetapi subjek belum bisa mengenal nilai angka selanjutnya.
6. Membaca kata-kata sederhana Subjek belum dapat membaca
7. Melakukan tugas-tugas yang telah diinstruksikan
Subjek sudah dapat mengikuti instruksi dari guru untuk meletakkan barang kembali ke tempatnya, tetapi untuk instruksi dalam mengerjakan tugas menggunakan alat tulis, subjek masih terlihat bingung.
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa subjek memiliki keterampilan dasar akademik yang kurang berkembang dibandingkan anak usia pra-sekolah pada umumnya.
188 Tabel. 5
Tabel potensi dan kelemahan subjek
Potensi Kelemahan
Subjek memiliki tingkat inteligensi pada kategori rata-rata (sesuai dengan anak seusianya)
Kreatifitas berpikir subjek lemah. Subjek belum mengenal angka dan huruf, sedangkan untuk warna, subjek baru mampu menyebutkan warna hitam, putih, merah, dan coklat.
Subjek memiliki hubungan sosial yang baik dengan lingkungan sekitarnya.
Subjek kurang mampu untuk berkomunikasi dengan guru.
H merupakan anak yang pemberani untuk mencoba hal baru, terutama untuk kegiatan di luar ruangan (outdoor).
Untuk melakukan kegiatan menulis, mewarnai, dan menebalkan garis, subjek harus selalu diberi motivasi dalam jangka waktu yang cukup lama.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Lingkungan merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak, khususnya, anak usia dini. Lingkungan yang dimaksud dalam hal ini adalah orangtua, keluarga, masyarakat sekitar dan pihak sekolah. Lingkungan yang terdekat pada anak yakni orangtua, keluarga dan pihak sekolah dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan keterampilan dasar akademik anak, terutama dalam menghadapi tingkat pendidikan di sekolah dasar.
Menurut Pianta dan Harbers (dalam McCartney dan Philips, 2006) kontribusi keluarga tercatat mempunyai pengaruh langsung terhadap kompentensi anak dalam kesiapan mereka memasuki dunia sekolah. Kesiapan, kepekaan dan stimulus dari orangtua dengan jelas dan sering mempunyai hubungan secara langsung terhadap awal kesuksesan anak di sekolah. Perilaku, stimulasi, materi, dan
rutinitas yang diberikan orangtua terhadap anak di lingkungan rumah akan mendukung keterampilan anak dalam mengatur diri, motivasi, bahasa, permulaan untuk mengenal huruf, dan keterampilan sosial yang sebagian besar menekankan kepada hal-hal yang dilakukan anak di sekolah. Pendidikan bagi anak-anak usia dini merupakan hal penting untuk mengembangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk pengembangan keterampilan akademik. Penelitian menegaskan bahwa pola belajar di pra-sekolah sangat erat kaitannya dengan prestasi anak di kemudian hari. Anak-anak yang lebih mengembangkan keterampilannya di tahun-tahun pra-sekolah akan tampil lebih baik di kelas sekolah dasar (National Institute for Literacy, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology
189 Cambridge: Harvard University
Press.
Byrnes, J dan Wasik, B. (2009). Picture This: Using Photography as a Learning tool in early Chilhood Classrooms. Chilhood Education; Summer; 85, 4; pg. 243-248. Pensylvania: ProQuest Search Library.
Carlton, M dan Winsler, A. (1998). Fostering Instrinsic Motivation in Early Chilhood Classrooms. Early Childhood Education Journal, Vol. 25, No. 3, p.159-166. Human Sciences Press, Inc.
Hetherington, E and Parke, R. (1999). Child Psychology a Contemporary Viewpoint. Fifth edition. USA: McGraw-Hill College.
Kariuki, dkk. (2007). Effectiveness of early childhood education programme in preparing pre-school children in their socialemotionalcompetencies at the entry to primary one. Educational Research and Review Vol. 2 (2), pp. 026-031, February 2007.
http://www.academicjournals.org/ ERR.
McCartney, K dan Philips, D. (2006). Blackwell Handbook of Early Childhood Development. Oxford: Blackwell Publishing.
Meeker, M. (1969). The structure of Intellect. Its Interpretation and Uses. Ohio: Charles E. Merrill Publishing Company.
National Institute for Literacy. (2009). Early Beginnings. Early Literacy Knowledge and Instruction: A guide for early childhood
administrators and professional
development providers.
Washington, DC.
Owens, R. E. (1996). Language Development An introduction. Fourth Edition. USA: Allyn & Bacon.
Patmonodewo, S. (1993). Program Intervensi Dini Sebagai Sarana Peningkatan Perkembangan Anak. Studi Eksperimen Kuasi di Dua Desa Untuk Menguji Efektivitas Paket Ibu Maju Anak Bermutu. Disertasi. Depok: Program Pascasarjana. Universitas Indonesia.
Rafoth, M. A, dkk. (2004). School and Home. School Readiness -
Preparing Children for
Kindergarten and Beyond: Information for Parents. Bethesda: National Association of School Psychologist.
(www.nasponline.org/resources/ha ndouts/schoolreadiness.pdf)
Saunders, D. (2009). Home Program Activities: Fine Motor Strength
and Dexterity. Canada.
http://dsaundersot.webs.com/Hom e Program Activities for Fine Motor Strength & Dexterity.pdf