PENGENDALIAN PALANG PINTU REL KERETA API SECARA OTOMATIS UNTUK MENUNJANG SISTEM PRIORITAS LAMPU LALU LINTAS

Teks penuh

(1)

LALU LINTAS

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar Sarjana Teknik

Program Studi Teknik Elektro

Disusun oleh:

FILLIPUS EDI WIBOWO

NIM : 005114080

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

AUTOMATIC RAILWAY CROSSING BAR

CONTROL TO SUPPORT THE PRIORITY

SYSTEM OF TRAFFIC LIGHT

FINAL PROJECT

Presented as Partial Fulfillment of the Requirements

To Obtain the Sarjana Teknik Degree In Electrical Engineering

By :

FILLIPUS EDI WIBOWO

Student ID Number : 005114080

ELECTRICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM

ELECTRICAL ENGINEERING DEPARTMENT

ENGINEERING FACULTY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

(3)
(4)
(5)

Pernyataan Keaslian Karya

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis

ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah

disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Maret 2007

Penulis

(6)

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku;

kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong

sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan

nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.

(

Mazmur 28:7

)

Karya ini kupersembahankan untuk :

Tuhan Yesus Kristus & Bunda Maria

(

atas berkat dan rahmat-Nya

)

Budheku tercinta yang

selalu memberikan doa,

kekuatan dan mendidikku dengan

penuh cinta,

Adikku: B. Desi Deria

terima kasih atas dukungannya,

(7)

INTISARI

Banyak faktor yang membuat sering terjadinya kecelakaan kereta api antara lain karena keterlambatan tertutupnya palang pintu perlintasan rel kereta api. Untuk dapat mengurangi terjadinya kecelakaan diperlukan suatu pengendalian yang dapat mengendalikan palang pintu perlintasan rel kereta api. Pada saat ini pengendalian palang pintu perlintasan rel kereta api masih bersifat manual oleh karena itu diperlukan juga pengendalian palang pintu secara otomatis.

Dalam perancangan ini terdiri dari sensor (menggunakan fototransistor sebagai penerima dan inframerah sebagai pemancar), schmit trigger digunakan

sebagai pemantap tegangan, rangkaian penggerak relay digunakan untuk

menggerakkan motor, alarm digunakan sebagai tanda kereta api akan datang. Sebagai pengendali utama menggunakan mikrokontroller.

(8)

ABSTRACT

Many factors that make it railway train accident is too late closed the flea in transition railway train. And than to hurt accident happen needed ones of controller to can to bridle the flea in transition railway train. This time the command of the flea in transition railway train is manually, so needed a otomaticly the command of the flea in transition railway train.

On this project are sensor (to use fototransostor to receiver and infrared to transceiver), schmitt trigger used strengthen voltage, a chain relay movement used to move of a motor mecine, and the alarm used to give attention from railway train will comes. The praminent command used microcontroller.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, oleh

karena kasih dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan Tugas

Akhir yang berjudul “Pengendalian Palang Pintu Rel Kereta Api Secara Otomatis

Untuk Menunjang Sistem Prioritas Lamou Lalu Lintas”. Tugas Akhir ini disusun

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada jurusan Teknik

Elektro, Fakultas Teknik Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta.

Tersusunya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak. Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih

yang dalam kepada :

1. Bapak Ir. Iswanjono, M. T. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak

memberikan bimbingan dan pengarahan hingga tugas akhir ini dapat tersusun.

2. Seluruh Dosen dan Staff teknik Elektro USD.

3. Pak Jito, Mas Sur, Mas broto, Mas Mardi dan segenap staf serta karyawan

Fakultas Teknik USD, terimakasih atas keramahannya dan pelayanannya.

4. Staff dan Karyawan Perpustakaan kampus III Paingan.

5. Budheku tercinta atas dukungan dan cinta yang sangat luar biasa yang telah

diberikan dengan segenap kasih sayang.

6. Adikku B. Desi Deria atas dukungan dan semangatnya.

7. Bapak dan ibu serta keluarga atas doa dan restunya

8. Bapak dan keluarga ”Rambat” atas semua kasih sayang dan perhatian yang

diberikan.

9. Genduk tercinta yang memberikan semangat, kasih sayang dan

cerita-ceritanya.

10.Keluarga besar di Bantul yang memberikan semangatnya.

11.Teman-teman satu tim dalam PHK yang luar biasa semangatnya ” Danang,

Joko, David ” dan teman-teman tim yang lain.

12.Teman-teman seperjuangan: Aan “Bodonk”, Agung “greg”, Andi “gepeng”,

(10)

Indra, Si Boss, Widi, iyung, merry, keluarga besar “Glow” ( Iwan “Bali”,

Yasta, Robert, kita tetap teriak dan bermusik ) terima kasih atas sumbangsih

dan kerjasamanya, teman-teman TE 2000 dan semua saja yang tidak bisa

disebutkan satu persatu.

13.Teman-teman kost : Beta, Prima , Chandra, Didik, Adi, Oox, Nugie,

Cristhoper, Wahyu, Paul, Sadiman terimakasih atas titipan-titipan dikamarnya,

Dasrie, Art, Angga, Bayu “Letoy” terima kasih atas rasa kekeluargaannya.

14.Sisca “Wonder Women”, Mbak Epi atas semangatnya, Mbak pipiet, Dini

“Smart Girl” terima kasih atas kebersamaannya,

Semoga Tuhan membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada

penulis. Penulis sungguh sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan

dalam pembuatan dan penyusunan Tugas Akhir ini, maka dari itu segala saran dan

kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan penulis.

Yogyakarta, Maret 2007

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... .. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... .. iii

HALAMAN PENGESAHAN... .. iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... .. v

HALAMAN PERSEMBAHAN... .. vi

INTISARI... ... .. vii

ABSTRACT... ... .. viii

KATA PENGANTAR... .. ix

DAFTAR ISI... ... .. xi

DAFTAR TABEL... ... .. xiv

DAFTAR GAMBAR... .. xv

BAB I PENDAHULUAN... .. 1

1.1 Judul ... .. 1

1.2 Latar Belakang ... .. 1

1.3 Tujuan Penelitian ... .. 2

1.4 Manfaat Penelitian ... .. 2

1.5 Batasan Masalah ... .. 2

1.6 Metodologi Penelitian ... .. 3

BAB II DASAR TEORI ... .. 4

2.1 Fototransistor ... .. 4

(12)

2.3 Infra Red Emitting Diode ... .. 7

2.4 Schmitt Trigger (Pemicu Schmitt) ... ... 8

2.6 Relay ... .. 10

2.7 Alarm ... ... 10

2.8 Limit Switch ... ... 11

2.9 Motor DC ... .. . 11

3.0 Pengendalian Putaran ... .. 12

BAB III PERANCANGAN ALAT... .. 15

3.1 Mekanik Palang Pintu Rel Kereta Api ... .. 16

3.2 Pengendalian Palang Pintu Rel Kereta Api... .. 17

3.2.1 Sistem Otomatis ………. 17

3.2.1.1 Rangkaian Led Infra Merah ……… 19

3.2.1.2 Rangkaian Fototransistor ……… 21

3.2.1.3 Rangkaian pendeteksi arah datangnya kereta api .... 22

3.2.1.4 Rangkaian LED ... 22

3.2.1.5 Rangkaian Schmitt Trigger ...23

3.2.1.6 Saklar pemilih alarm ...25

3.2.1.7 Pengendali Arah Putaran Motor………..26

3.2.2 Sistem Manual ...29

3.2.2.1 Sistem alarm ...29

(13)

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN . ... ..31

4.1. Pengamatan Cara Kerja Alat ...31

4.2. Pengamatan Pada Sensor Fototransistor ...32

4.3. Pengamatan Penggerak Relay pada Alarm ... ... 34

4.4. Pengamatan Penggerak Relay pada Motor ...35

4.5. Pengamatan Keadaan Pada Limith Switch...36

4.6. Pengamatan Kecepatan Pada Putaran Motor DC...37

BAB V KESIMPULAN DAN PENUTUP ...39

5.1 Kesimpulan...39

5.2 Saran ……...39

DAFTAR PUSTAKA ……...40

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Output pemicu schmitt ... 8

Tabel 3.1 Pendeteksi posisi sensor... 18

Tabel 3.2 Arah putaran motor DC... 28

Tabel 4.1 Tegangan keluaran sensor fototransistor... 33

Tabel 4.2 Tegangan keluaran dari inverter DM74LS14 ... 33

Tabel 4.3 Keadaan pada rangkaian penggerak alarm... 35

Tabel 4.4 Keadaan pada rangkaian penggerak motor ... 35

Tabel 4.5 Keadaan pada limith switch ... 37

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Rangkaian fototransistor ... 5

Gambar 2.2 Simbol Light Emitting Diode (LED)... 6

Gambar 2.3 Rangkaian IRED... 7

Gambar 2.4 Pemicu Schmitt ... 8

Gambar 2.5 Rangkain transistor PNP sebagai saklar... 9

Gambar 2.6 Relay... 10

Gambar 2.7 (a) Bentuk Fisik limit switch (b) Simbol limit switch... 11

Gambar 2.8 Simbol Motor DC... 12

Gambar 2.9 Hukum Lorentz... 12

Gambar 2.10 Dasar pengaturan arah putaran motor ... 13

Gambar 2.11 Pengendalian putaran motor... 13

Gambar 3.1 Diagram blok pengendalian palang pintu rel kereta api... 15

Gambar 3.2 Mekanik gerbang pintu ... 16

Gambar 3.3 Rancangan sensor pendeteksi kereta api ... 17

Gambar 3.4 Sensor pendeteksi kereta api ... 19

Gambar 3.5 Rangkaian Led infra merah... 20

Gambar 3.6 Rangkaian fototransistor ... 21

Gambar 3.7 Rangkaian pendeteksi arah datangnya kereta api ... 22

Gambar 3.8 Rangkain LED... 23

Gambar 3.9 Konfigurasi pin-pin IC 7414 ... 23

Gambar 3.10 Bentuk gelombang input dan outputSchmitt Trigger... 24

Gambar 3.11 Saklar pemilih alarm ... 26

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Judul

Pengendalian Palang Pintu Rel Kereta Api Secara Otomatis Untuk Menunjang

Sistem Prioritas Lampu Lalu Lintas.

1.2

Latar Belakang Masalah

Perkembangan transportasi modern saat ini perlu ditunjang dengan sistem

keamanan yang baik. Baik secara internal atau eksternal memberi keamanann dan

kenyamanan bagi para pengguna. Kereta api merupakan salah satu alat

transportasi yang ada di negara kita dan sangat banyak orang yang menggunakan

sarana ini. Namun tak jarang pula terjadi kecelakaan yang menimbulkan banyak

korban. Kecelakaan ini terjadi antara kendaraan(mobil, sepeda motor, dll) dengan

kereta api di depan gerbang atau palang pintu yang menutup jalan raya yang

memotong rel kereta api. Hal ini terjadi karena sistem yang digunakan pada

gerbang rel kereta pembuka dan penutup palang pintu masih bersifat manual

sehingga keterlambatan dalam menutup menimbulkan akibat yang fatal.

Keterlambatan dalam menutup bisa saja terjadi akibat kelalaian operator, misalkan

mengantuk, sehingga mengabaikan jadwal kereta yang akan melintasi rel pada

palang itu.

Di negara kita sendiri saat ini pengendalian palang pintu rel kereta api

(17)

pembuka dan penutup palang kereta api secara otomatis sehingga dapat memberi

keamanan, baik bagi para pengguna transportasi ini maupun bagi para pengguna

jalan raya dan juga membantu pihak petugas palang pintu kereta api dalam

menjalankan tugas dengan baik. Dan sebagai sarana pendukung alat digunakan

aplikasi mikrokontroler AT89S51.

1.3

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam tugas akhir ini yaitu membuat perangkat

keras pengendalian model untuk palang pintu kereta api secara otomatis dan

manual.

1.4

Manfaat Penelitian

Memperkecil kecelakaan yang mungkin terjadi di perlintasan kereta api

akibat kesalahan dan kelalaian manusia.

1.5

Batasan Masalah

Batasan masalah yang dibahas dalam penelitian palang pintu kereta api

sebagai berikut :

1. Menggunakan satu jalur kereta api.

2. Menggunakan inframerah sebagai pemancar dan sebagai penerima

digunakan fototransistor.

3. Kondisi kereta api jalan terus

(18)

5. Kondisi palang pintu dua searah.

6. Menggunakan 2 motor DC sebagai penggerak palang pintu.

7. Penggunaan manual digunakan apabila mikrokontroler mati.

8. Alarm yang dipakai khusus.

1.6 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian dalam merancang dan membuat peralatan sisitem

ini, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Studi literatur tentang permasalahan yang ada, serta mempelajari cara

kerja dan sekaligus cara merancang dan membuat peralatan tersebut.

2. Perancangan peralatan menggunakan teori yang ada untuk

mendapatkan karakteristik yang sesuai dengan spesifikasi yang

ditentukan.

3. Pembuatan peralatan untuk setiap bagian sistem sesuai dengan fungsi

masing-masing dan diuji kesesuaian. Bagian tersebut kemudian

(19)

BAB II

DASAR TEORI

Pengendalian model palang pintu kereta api ini tergantung dari kereta api

yang melintas dan mengenai sensor yang dipasang, yang terdiri dari rangkaian

fototransistor, infra merah yang berfungsi sebagai masukan dan sensor keluaran,

pengkondisi sinyal, saklar manual dan otomatis, penguat arus (driver), dan motor

DC. Penjelasan tentang beberapa komponen yang digunakan dalam perancangan

alat ini dan aplikasinya dalam rangkaian akan dijelaskan dalam bab ini.

2.1. Fototransistor

Fototransistor adalah piranti peka cahaya atau sering disebut sebagai

transduser fotoelektrik, yaitu piranti elektronis yang memiliki perubahan

karakteristik listrik bila dikenai cahaya tampak maupun tak tampak. Fototransistor

terbentuk oleh transistor, sehingga memiliki sifat yang mirip dengan Bipolar

Junction Transistor (BJT), hanya saja secara fisik sangat berbeda satu sama lain.

Fototransistor didesain dengan penutup transparan yang berfungsi untuk

meneruskan atau menerima cahaya, sedangkan BJT didesain dengan penutup yang

tidak transparan supaya cahaya tidak tembus sehingga tidak mempengaruhi kerja

BJT. Kemasan fototransistor dapat dijumpai sebagai piranti dua terminal tanpa

koneksi basis dan piranti 3 terminal dengan koneksi basis.

Pada fototransistor, arus basis dipengaruhi oleh cahaya infra merah yang

(20)

mengenai permukaan fototransistor akan timbul arus basis (IB). Keadaan tersebut

akan menyebabkan resistansi emitor-kolektorakan menjadi kecil sekali mendekati

nol, sehingga arus akan mengalir ke kaki kolektor (IC). Hal ini menyebabkan

tegangan pada kaki kolektor mendekati 0V. Keadaan tersebut menyatakan

keadaan transistor dalam keadaan on. Sebaliknya apabila tidak ada cahaya infra

merah atau dapat dikatakan dalam keadaan gelap, maka tidak ada IB. Ketika tidak

ada arus IB, maka resistansi emitor-kolektor menjadi besar dan tidak ada arus

kolektor (I

B

C), sehingga tegangan di kaki kolektor terhadap ground (Vc) sama

dengan Vcc, sehingga transistor dalam keadaan off. Rangkaian fototransistor dapat

dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Rangkaian fototransistor

Untuk mencari nilai Rc pada gambar 2.1 digunakan persamaan :

(21)

Dengan :

Rc = Resistor yang dibutuhkan (Ohm)

Vcc = Tegangan masukan (Volt)

CE

V = Tegangan kolektor Emitor (Volt)

Ic = Arus yang melewati kolektor (Amper)

2.2

Light Emitting Diode

Light Emitting Diode atau biasa disingkat LED adalah sebuah dioda yang

mampu memancarkan cahaya. Prinsip kerja dari LED sama dengan dioda yang

biasa ditemui. Dioda biasa saat dibias maju akan menghasilkan energi yang

diradiasikan menjadi panas, sedangkan energi yang dihasilkan LED diradiasikan

menjadi cahaya.

Dioda biasanya dibuat dari silikon sedangkan LED dibuat dari gallium,

arsenic, atau phosporus. LED dapat memancarkan cahaya yang tampak oleh mata

yaitu merah, hijau, kuning, biru, jingga. Gambar 2.2 memperlihatkan simbol light

emitting Diode (LED).

(22)

2.3

Infra Red Emitting Diode

Infra Red Emitting Diode (IRED) adalah salah satu jenis LED. IRED

mempunyai karakteristik yang sama dengan LED, hanya saja cahaya yang

dipancarkan berbeda. LED memancarkan cahaya tampak, sedangkan IRED sesuai

dengan namanya memancarkan infra merah yang tak tampak oleh mata manusia.

Gambar 2.3.adalah rangkaian dasar dari LED infra 0merah.

Gambar 2.3 Rangkaian IRED

Dengan melihat Gambar 2.3, maka dapat dicari nilai Rd dengan

persamaan : VCCVD =IDRd

D D CC d

I V V

R = − ...( 2.2 )

Dengan :

Rd = Resistor yang dibutuhkan (Ohm)

VCC = Tegangan Masukan (Volt)

VD = Tegangan Maju LED (Volt)

(23)

2.4

Schmitt Trigger

(Pemicu Schmitt)

Pemicu Schmitt merupakan suatu contoh kategori rangkaian yang dikenal

sebagai pembanding tegangan. Pembanding disini sangat berguna dalam

pembentuk pulsa dan sebagai suatu piranti pengkondisi sinyal. Pemicu Schmitt

menghasilkan suatu keluaran segi empat dengan pinggiran naik dan turun yang

tajam. Waktu bangkit yang cepat ini sangat dibutuhkan, karena

rangkaian-rangkaian dimaksudkan untuk bekerja dengan tegangan masukan dua keadaan.

Gambar 2.4 memperlihatkan gambar pemicu Schmitt.

Gambar 2.4 Pemicu Schmitt

Tabel 2.1Output

Input Output

0 1

1 0

Pada tabel 2.1, dapat dilihat bila masukan rendah maka keluarannya akan tinggi

dan bila masukan tinggi maka keluarannya akan rendah karena merupakan

(24)

2. 5 Transistor Sebagai Saklar

Cara paling sederhana penggunaan transistor adalah sebagai saklar,

dimana transistor dioperasikan pada keadaan saturasi atau cut-off. Ketika

transistor pada keadaan saturasi, transistor seperti saklar yang tertutup (on) dari

kaki kolektor dan emitor. Ketika transistor pada keadaan cut-off, transistor seperti

saklar yang terbuka

Transistor berfungsi sebagai saklar bila berada dalam keadaan cut-off atau

saturasi. Gambar 2. 5 memperlihatkan transistor PNP sebagai saklar.

Gambar 2. 5 Rangkaian transistor PNP sebagai saklar

Pada gambar 2. 5 di atas berlaku persamaan :

0 = + +

+

VCC VEB IBRB VBB ………….………(2. 3)

Dimana :

B

C I

I =β ……….(2. 4)

Saklar PNP dalam keadaan on ketika VBB sama mendekati 0 Volt dan off

(25)

2.6

Relay

Relay merupakan suatu saklar yang bekerja berdasar sistem elektro

magnetis untuk mengoperasikan seperangkat kontak. Relay terdiri atas kumparan

kawat penghantar yang digulung pada former teras magnet. Apabila kumparan

diberi arus, maka medan magnet yang dihasilkan kumparan akan menarik

pengungkit yang berfungsi sebagai penutup atau pembuka kontak. Gambar relay

dapat dilihat pada Gambar 2.6.

3

5

4 1

2

COM

NO NC

Gambar 2.6Relay

Relay akan bekerja apabila dikendalikan atau diberi tegangan dari luar.

Pada relay terdapat 2 jenis keadaan normal sebelum terpengaruh kontrol dari luar,

yaitu :

1. Normally open (NO) yaitu keadaan awal kontaktor terbuka.

2. Normally close (NC) yaitu keadaan awal kontaktor tertutup.

2.7 Alarm

Alarm adalah suatu perangkat suara yang digunakan untuk

(26)

untuk penunjuk kebakaran, penunjuk banjir, dll. Bunyi yang dikeluarkan pun

berbeda-beda tergantung dari suatu keadaan yang terjadi.

2.8

Limit Switch

Limit switch adalah rangkaian mekanik sensor posisi yang digunakan

dalam proses untuk membatasi gerakan. Pada limit switch terdapat kontak NO

(normally open) dan NC (normally close). Prinsip kerja limit switch, pada saat

limit switch dalam keadaan normal maka kontak NO tidak terhubung pada

terminal common, dan terminal NC terhubung pada terminal common. Gambar 2.7

merupakan bentuk fisik dari limit switch dan simbol kontak-kontak pada limit

switch.

( a ) ( b )

Gambar 2.7 (a) Bentuk fisik limit switch (b) Simbol limit switch

2.9 Motor DC

Motor adalah suatu mesin listrik yang menghasilkan gerak mekanis

dengan prinsip elektromagnetik. Motor arus searah (DC) membutuhkan tegangan

(27)

Gambar 2.8

Simbol Motor DC

Elektromagnetik dalam motor DC terjadi ketika arus yang menghantar

ditempatkan dalam medan magnet. Fluks melintasi celah udara dari satu kutub

utara magnet ke kutub selatan magnet. Hukum Lorentz menyatakan bahwa arus

yang menghantar yang ditempatkan dalam medan magnet akan menciptakan

tenaga (force). Tenaga (F) yang ditimbulkan tersebut tegak lurus terhadap arus (I),

dan medan fluks (B). Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.9.

Gambar 2.9 Hukum Lorentz

3.0 Penggendali Putaran Motor

Sebagai penggerak digunakan motor DC. Motor DC dipakai secara luas

dalam dunia industri dan aplikasi sehari-hari. Hal ini didukung oleh sifat motor

DC itu sendiri diantaranya murah, kecepatannya konstan dan dapat diatur.

Kekurangannya motor DC tidak dapat dipakai untuk mendapatkan pergerakan

(28)

Dalam aplikasinya seringkali sebuah motor digunakan untuk arah yang

searah dengan jarum jam maupun sebaliknya. Untuk mengubah putaran dari

sebuah motor dapat dilakukan dengan mengubah arah arus yang mengalir melalui

motor tersebut. Secara sederhana dapat dilihat seperti pada gambar 2.10, hal ini

dapat dilakukan hanya dengan mengubah polaritas tegangan motor. Untuk dapat

menggerakkan dan mengendalikan motor menggunakan relay.

Gambar 2.10 Dasar pengaturan arah putar motor

Agar pengubahan polaritas tegangan motor dapat dilakukan dengan mudah, maka

hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan empat buah saklar seperti pada

gambar 2.11

(29)

Untuk memutar motor searah jarum jam maka saklar S1 dan S4 ditutup.

Sedangkan saklar S2 dan S3 dibuka. Untuk memutar motor berlawanan arah jarum

(30)

BAB III

PERANCANGAN ALAT

Perangkat Keras Palang Pintu Rel Kereta Api

Pengendalian model palang pintu perlintasan kereta api untuk perangkat

keras terdiri dari sensor, pembanding, schmit trigger, driver, motor penggerak

palang pintu kereta api. Gambar diagram blok pengendalian palang pintu seperti

pada gambar 3.1.

Sensor 1

Sensor 2

Sensor 6 Sensor 5 Sensor 3

Lampu indikator 1

Pengkondisi

Lampu indikator 2

Sensor 4

Tombol Manual

Gambar 3.1 Diagram Blok Pengendalian Palang Pintu Rel Kereta api

Parangkat keras palang pintu rel kereta api dibagi menjadi dua bagian

(31)

3.1 Mekanik Palang Pintu Rel Kereta api

Mekanik palang pintu rel kereta api terdiri dari bagian penyangga untuk

meletakkan komponen elektronik, rel kereta api, dan mainan kereta api itu sendiri.

Papan sebagai penyangga, terdiri dari :

1. Tombol manual.

2. Modul motor untuk menggerakkan model palang pintu.

3. Modul alarm

4. Rel kereta api.

5. Kereta api.

Gambar 3.2 memperlihatkan mekanik gerbang pintu yang di gunakan.

(32)

Gambar 3.3 memperlihatkan rancangan sensor pendeteksi kereta api

Gambar 3.3 Rancangan sensor pendeteksi kereta api

3.2 Pengendalian Palang Pintu Rel Kereta Api

Pengendalian palang pintu rel kereta api terdiri dari dua model yaitu model

otomatis dan model manual

3.2.1 Sistem Otomatis

Pendeteksian kereta api pada palang pintu secara otomatis menggunakan

sensor. Sensor pendeteksian ini terletak disebelah kiri dan disebelah kanan dari

palang pintu rel kereta api. Cara kerja pengendalian palang pintu rel kereta api

secara otomatis yaitu apabila kereta api datang dari arah kiri, sensor 1 terhalang

maka menunjukkan dari arah kiri datangnya kereta api. Selang beberapa saat

sensor 2 akan terhalang sehingga akan membunyikan alarm. Selama alarm

berbunyi sensor 3 dan 4 akan mendeteksi keberadaan kendaraan di sekitar palang

pintu rel kereta api. Apabila masih ada kendaraan maka palang pintu rel kereta api

(33)

turun. Setelah melewati palang pintu rel kereta api maka sensor 5 akan terhalang

sehingga alarm akan mati dan palang pintu akan terbuka. Untuk sensor 6, apabila

terhalang maka digunakan untuk mengetahui keberadaan kereta sudah lewat. Dan

semua itu berlaku bila kereta api itu datang dari arah kanan atau sebaliknya.

Untuk mengetahui pendeteksian posisi sensor dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Pendeteksian posisi sensor

S1 S2 S3 S4 S5 S6 KETERANGAN

Pada sistem otomatis ini, sensor terdiri dari dua bagian yaitu bagian

pemancar (infra merah) dan penerima (fototransisitor). Pemancar bertugas untuk

memancarkan cahaya inframerah. Pemantulan cahaya inframerah bertujuan untuk

menghasilkan pantulan cahaya yang kemudian digunakan untuk mengetahui

keberadaan penghalang. Sedangkan bagian penerima yakni sebuah foto transistor

(34)

` Gambar 3.4 Sensor pendeteksi kereta api

Pada gambar 3.4 saat kereta api terdeteksi oleh rangkaian pendeteksi

(sensor) maka fototransistor akan OFF, tegangan antar kolektor terhadap emitor

menjadi tinggi (Vce ≅ Vcc), keluaran pada IC 7414 menjadi logika rendah (0).

Pada saat kereta tidak terdeteksi maka fototransistor akan ON, keluaran pada IC

7414 menjadi logika tinggi (1). Output dari fototransistor akan masuk ke

rangkaian Schmitt Trigger.

3.2.1.1 Rangkaian LED Infra Merah

Pada perancangan rangkaian pengendalian palang pintu kereta api

digunakan IRED dengan tipe QED 233. IRED QED 233 ini dari datasheet

mempunyai karakteristik dengan arus maju (ID) maksimal sebesar 100 mA,

dengan tegangan maju 1,6 V. Dengan menggunakan persamaan 2.2 dapat

(35)

Ω

Dengan menggunakan persamaan 2.2 akan di dapatkan nilai resistor (Rd)

yang akan digunakan. Pada perancangan ini digunakan tegangan dari catu daya

sebesar 5 Volt dan nilai ILED yang dipakai pada perancangan ini sebesar 10 mA.

3

Karena nilai resistor yang dibutuhkan tidak ada di pasaran maka

digunakan nilai Rd sebesar 330 ohm seperti pada gambar 3.5. Jika digunakan Rd =

330 Ω, maka besar arus ILED yang mengalir adalah :

(36)

3.2.1.2 Rangkaian Fototransistor

Fototransistor yang digunakan pada perancangan ini adalah fototransistor

tipe UT6W95-AE-0125 (NPN). Dari datasheet diperoleh besarnya arus yang

dibutuhkan fototransistor pada keadaan ON adalah Ic = 0,1 mA, VCESAT = 0,4 V.

Pada perancangan ini digunakan Ic = 0,085 mA, sehingga dengan menggunakan

persamaan 2.1 dapat diketahui besarnya nilai Rc.

Ω

Karena dipasaran tidak terdapat resistor sebesar 54,1 KΩ maka digunakan resistor

sebesar 56 KΩ. Jika digunakan R = 56 KΩ, maka besar arus Ic yang mengalir

(37)

3.2.1.3 Rangkaian pendeteksi arah datangnya kereta api

Dimana terdapat dua buah sensor pendeteksian kereta api yaitu disebelah

kiri dan kanan dari palang pintu rel kereta api. Rangkaian pendeteksian ini

digunakan untuk mengetahui dari mana datangnya kereta api. Rangkaian ini

terdiri dari inframerah, fototransistor, dan led. Gambar 3.7 menggambarkan

rangkaian pendeteksi arah datangnya kereta api.

Gambar 3.7 Rangkaian deteksi arah datangnya kereta api

3.2.1.4 Rangkaian LED

Rangkaian lampu digunakan untuk mengetahui apakah mikrokontroler

mati atau hidup. Penggunaan resistor 330 Ω untuk membatasi arus, dengan

tegangan Vcc 5 Volt maka arusnya sekitar:

I = R

VCC

I =

Ω

(38)

I = 15 mA

Gambar 3.8 Rangkaian LED

3.2.1.5 Rangkaian Schmitt Trigger

Keluaran dari fototransistor masuk ke rangkaian Schmitt Trigger.

Rangkaian ini berfungsi untuk mempersegikan isyarat sinus sebelum masuk ke

mikrokontroler. IC yang digunakan adalah IC 7414, IC 7414 adalah rangkaian

schmit trigger inverting. Jadi keluaran dari rangkaian schmit trigger merupakan

kebalikan dari masukan yang masuk ke dalam Schmitt Trigger, sehingga masukan

ke mikrokontroler kondisi logikanya tidak sama dengan keluaran fototransistor.

Gambar 3.9 memperlihatkan konfigurasi pin-pin IC 7414 dan gambar 3.10

memperlihatkan bentuk gelombang masukan dan keluaran.

(39)

Tegangan ambangnya adalah :

VT+ = 1,8 V

VT- = 0,9 V

Sedang tegangan keluaran rendah dan tinggi adalah:

Voh = 3,4 V

Vol = 0,25 V

Gambar 3.10 Bentuk gelombang input dan output Schmitt Trigger

Dari gambar 3.10, saat masukan 0V hingga 0,9V maka keluaran rangkaian schmitt

trigger adalah 3,4V. Saat tegangan masukan 0,9V hingga 1,8V keluarannya tetap

3,4V mengikuti tegangan keluaran sebelumnya. Tapi ketika input lebih dari 1,8V

(40)

3.2.1.6 Saklar pemilih alarm

Untuk menghidup matikan alarm dan motor di gunakan Switching

Transistor yang berfungsi sebagai saklar elektronik. Rangkaian ini, sinyal

masukannya berlogika 1 (5 volt) atau 0 (0 volt) dari mikrokontroler. Nilai ini

dipakai untuk bias pada kaki basis transistor dengan emitor dan kolektor sebagai

penghubung (short circuit) atau sebagai pembuka rangkaian (open circuit). Begitu

rangkaian short circuits arus akan mengalir dari kaki kolektor ke emitor. Gambar

3.11 adalah skema switching transistor. Untuk mengetahui nilai arus pada Ic

(arus kolektor) jika tegangan masukan 5 V dengan hambatan dalam speaker

adalah 8Ω. Transistor NPN BD139 (β = 50) maka IB dapat diketahui adalah :

Ic = R D Vcc

Ic =

8

Ω

5

V

Ic = 625 mA

Maka untuk mengetahui arus basis dengan rumusan

Ib =

β

Ic

Maka nilai Ib-nya :

Ib = 50

625mA

Ib = 12,5 mA

(41)

B

Karena nilai resistor yang dibutuhkan tidak ada di pasaran maka digunakan nilai

sebesar 330 Ω.

Gambar 3.11 Saklar pemilih alarm

3.2.1.7 Pengendali Arah Putaran Motor

Dua buah motor DC sebagai penggerak dan menentukan arah. Pada

gambar 3.12 motor Dc dipasang secara seri dan diletakkan berseberangan untuk

menggerakkan palang pintu. Perancangan elektronik menggunakan relay dan

rangkaian Switching Transistor (prinsip kerjanya sama dengan pensaklaran pada

(42)

RELAY Micro1

Gambar 3.12 Pengendalian arah putaran motor

Pada gambar 3.12 rangkaian pengendali arah motor DC ini menggunakan

pengendalian berurutan atau sekuensial. Proses kendali dalam hal ini ditentukan

oleh logika dari In1 dan In2, dimana agar motor tersebut bekerja, maka kondisi In1

dan In2 harus saling berbeda logika. Motor akan berhenti apabila keduanya

berlogika 0. Begitu juga bila In1 dan In2 berlogika1.

Pada saat In1 berlogika 1 dan In2 berlogika 0, maka transistor Q1 akan aktif

sedangkan Q2 tidak aktif. Sehingga akan menggeerakkan motor searah jarum jam.

Sebaliknya bila kondisi logika dari In1 dan In2 dibalik, maka Q1 tidak aktif

sedangkan Q2 aktif motor akan mendapat polaritas tegangan yang terbalik pula.

Kendali arah putar motor DC ditunjukkan dalam tabel 3.2. Kemudian untuk

(43)

Tabel 3.2 Arah putar motor DC pengukuran), Transistor NPN BD 139 (β = 110) maka IB dapat diketahui.

( )

Besar IB dapat ditentukan sebagai berikut :

β

Selanjutnya mencari , dengan asumsi bahwa keluaran dari IC TTL ( ) pada

saat logika tinggi sekitar . Besar nilai dapat ditentukan sebagai berikut :

B

R VBB

V

5

(44)

B

Karena nilai resistor yang dibutuhkan tidak ada di pasaran maka digunakan nilai

sebesar 15 KΩ.

B

R

3.2.2 Sistem Manual

Sistem manual ini digunakan apabila pengendalian sistem secara otomatis

mati atau tidak berfungsi. Pada perancangan sistem manual ini digunakan untuk

menghidup matikan alarm dan mengontrol putaran motor ke arah kanan (CW)

dan mengembalikan ke arah kiri (CCW).

3.2.2.1 Sistem alarm

Untuk menghidup dan mematikan alarm secara manual digunakan saklar

on/off. Saklar manual untuk menghidup dan mematikan alarm terlihat pada

gambar 3. 13.

Saklar on/off

Modul Alarm

(45)

3.2.2.2 Sistem penggerak motor

Komponen yang digunakan untuk mengontrol putaran motor berupa

seperangkat rangkaian sakelar dan relay. Sistem manual untuk mengontrol

pergerakan kekiri atau kekanan satu motor rangkaian terlihat seperti gambar 3.14

ini

Gambar 3.14 Sistem manual untuk menggerakan motor

Apabila tombol push button 1 di tekan maka motor akan berputar searah jarum

jam (CW) dan akan dihentikan putarannya oleh limit switch. Sedangkan bila

tombol push button 2 di tekan maka motor akan berputar dengan jarum jam

(46)

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang hasil akhir dari alat yang dibuat. Untuk

mengetahui apakah alat yang sudah jadi sesuai dengan rancangan awal. Untuk

mengetahui tegangan masukan dan tegangan keluaran digunakan alat ukur

multimeter digital, juga akan dibahas tentang cara kerja alat apakah sudah sesuai

dengan rancangan yang dibuat.

4.1. Pengamatan Cara Kerja Alat

Pertama kali alat dihidupkan lampu indikator tidak menyala, ini

menandakan bahwa belum ada kereta api yang lewat. Apabila kereta api datang

dari sebelah kiri maka sensor 1 akan mendeteksinya sehingga akan menghidupkan

lampu indikator. Selang beberapa saat sensor 2 akan terhalang sehingga akan

membunyikan alarm. Selama alarm berbunyi sensor 3 dan 4 akan mendeteksi

keberadaan kendaraan di sekitar palang pintu rel kereta api. Apabila masih ada

kendaraan maka palang pintu rel kereta api belum turun tetapai apabila tidak ada

kendaraan maka palang pintu langsung turun. Setelah melewati palang pintu rel

kereta api maka sensor 5 akan terhalang sehingga alarm akan mati dan palang

pintu akan terbuka. Untuk sensor 6, apabila terhalang maka digunakan untuk

mengetahui keberadaan kereta sudah lewat. Dan semua itu berlaku bila kereta api

(47)

4.2. Pengamatan Pada Sensor Fototransistor

Sensor ini menggunakan LED inframerah tipe QED 233 sebagai pemancar

dan fototransistor tipe UT6W95-AE-0125 (NPN) sebagai penerimanya.

Rangkaian sensor diletakkan disebelah kanan dan kiri rel kereta api.

Cara kerja dari sensor ini adalah mengkondisikan pada mikrokontroler

menjadi logika ‘1’. Pada saat fototransistor mendapat sinar dari LED inframerah

dalam artian tidak ada kereta api yang lewat maka fotoransistor akan aktif.

Sehingga masukan ke inverter DM 74LS14 akan berlogika rendah (0). Keluaran

dari inverter DM74LS14 yang pertama akan berlogika tinggi (1). Karena

menggunakan iverter DM74LS14 sebanyak 2 buah maka keluaran dari inverter ke

dua akan berlogika rendah (0). Keluaran dari inverter DM74LS14 akan

diumpankan pada kaki mikrokontroler.

Pada saat sinar inframerah terhalang oleh kereta api maka fototransistor

tidak aktif, sehingga keluaran dari sensor akan berlogika tinggi (1) dan keluaran

ini sebagai masukan pada inverter DM74LS14. Keluaran dari inverter

DM74LS14 pertama akan berlogika rendah (0) sedangkan keluaran dari inverter

DM74LS14 yang ke dua akan berlogika tinggi (1). Tegangan keluaran pada

(48)

Tabel 4.1. Tegangan keluaran sensor fototransistor

Vout dari fototransistor (V) Sensor

Tak terhalang Terhalang

1 0,14 4,54

2 0,01 3,56

3 0,21 4,57

4 0,13 3,65

5 0,12 4,55

6 0,22 3,78

Tabel 4.2 Tabel keluaran dari keluaran dari inverter DM74LS14

Vout dari inverter DM74LS14 (V) Sensor

Tak terhalang Terhalang

1 0,32 4,6

2 0,5 4,39

3 0,38 4,4

4 0,46 4,38

5 0,5 4,39

6 0,188 4,6

Pada tabel 4.1 keluaran dari sensor fototransistor akan digunakan sebagai

masukan pada inverter DM74LS14. Kemudian keluaran dari inverter DM74LS14

(49)

dalam artian tidak ada kereta yang lewat tegangan keluaran inverter DM74LS14

sebesar 0,3913 (di ambil nilai rata-ratanya) maka pada masukan mikrokontroler

akan dianggap sebagai logika rendah ”0”, sedangkan pada saat kondisi sensor

terhalang obyek dalam artian ada kereta api yang lewat, tegangan keluaran

inverter DM74LS14 sebesar 4,46 (di ambil rata-rata) mikrokontroler sebagai

logika tinggi ‘1’. Tegangan keluaran pada perancangan yang diinginkan adalah

5V sedangkan pada pengukuran alat tegangan keluarannya sebesar 4,46 V. Tetapi

dengan tegangan keluaran yang di hasilkan sebesar 4,46, itu masih bisa

memberikan masukan kepada mikrokontroler. Perbedaan tegangan keluaran ini

dikarenakan nilai tahanan yang digunakan pada perancangan tidak sama dengan

nilai tahanan yang digunakan pada pembuatan alat.

4.3. Pengamatan Penggerak

Relay

pada Alarm

Transistor yang digunakan pada alat ini yaitu tipe BD 139, yang berfungsi

untuk menggerakkan relay. Transistor akan aktif atau berlogika ‘1’ jika

mendapatkan tegangan input dari mikrokontroler sehingga akan menggerakkan

relay, kemudian alarm akan berbunyi namun jika tidak mendapatkan tegangan

input atau berlogika ‘0’ maka transistor akan tidak aktif sehingga alarm tidak

berbunyi. Tabel 4.3 di bawah ini merupakan tabel keadaan penggerak relay pada

(50)

Tabel 4.3 Keadaan pada rangkaian penggerak penggerak alarm

Transisitor Relay Alarm

Aktif Aktif Bunyi

Tidak aktif Tidak aktif Mati

Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pada saat alat dijalankan, dimana

terdapat dua keadaan yakni alarm bunyi dan mati. Jadi bisa di katakan bahwa bila

transistor aktif maka relay akan aktif untuk selanjutnya akan menghidupkan alarm

dan ini berlaku untuk sebaliknya.

4.4. Pengamatan Penggerak

Relay

pada Motor

Pengamatan penggerak relay pada motor pada prinsipnya sama dengan

pengerak relay pada alarm. Tabel 4.4 merupakan tabel keadaan pada rangkaian

penggerak relay pada motor.

Tabel 4.4 Keadaan pada rangkaian penggerak motor

Tegangan

Masukan

Relay Transistor Motor

DC

Tr1(V) Tr2(V) Relay1 Relay2 Tr1 Tr2 M1 M2

Kondisi

Palang Pintu

5 0 Aktif - Aktif - CW CW Tertutup

(51)

Transisitor yang di gunakan sama dengan penggerak relay alarm. Pada saat

Tr1 diberi masukan logika ‘1’ (5 Volt) Tr1 aktif dan Tr2 di beri masukan logika

‘0’ (0 Volt) Tr2 tidak aktif. Maka relay1 pada Tr1 akan aktif dan relay2 pada Tr2

tidak aktif sehingga motor DC1 akan berputar searah jarum jam (CW) dan palang

pintu akan tertutup, sedangkan motor DC2 akan berputar berlawanan dengan

jarum jam (CCW) dan palang pintu akan tertutup. Pada saat Tr1 di beri masukan

logika 0 (0 Volt) Tr1 tidak aktif dan Tr2 di beri masukan logika ‘1’ (5 Volt) Tr2

aktif maka relay pada Tr1 tidak aktif dan relay pada Tr2 akan aktif mengakibatkan

motor DC1 akan bergerak berlawanan jarum jam (CCW) dan palang pintu akan

terbuka, sedangkan motor DC2 akan bergerak searah jarum jam (CW) dan palang

pintu akan terbuka. Motor DC ini dipasang secara paralel tetapi letaknya

berlawanan arah.

4.5 Pengamatam Keadaan Pada

Limit Switch

Pengamatan pada limih switch prinsipnya sama dengan saklar push button.

Limit switch disini digunakan untuk menghentikan putaran motor DC. Pada saat

motor DC berputar searah jarum jam (CW), posisi limith switch tertutup penuh (1)

yang berada di bawah dalam keadaan NO (normally open). Sehingga palang pintu

akan turun menyentuh limith switch dan akan menghentikan putaran motor,

karena pada saat palang pintu menyentuh limith switch merubah keadaan dari NO

(normally open) menjadi NC (normally close). Pada saat motor DC berputar

berlawanan dengan arah jarum (CCW), posisi limith switch terbuka penuh (2)

(52)

akan naik menyentuh limith switch dan akan menghentikan putaran motor, karena

pada saat palang pintu menyentuh limith switch merubah keadaan dari NO

(normally open) menjadi NC (normally close). Tabel 4.5 merupakan table

keadaan pada limith switch.

Tabel 4.5 Keadaan pada limith switch

Limith switch

Tertutup Penuh (1) Terbuka Penuh (2)

Putaram

Motor

Tak Tersentuh Tersentuh Tak tersentuh Tersentuh

CW NC NO - -

CCW - - NC NO

4.6 Pengamatan Kecepatan Pada Putaran Motor DC

Pengamatan pada putaran motor DC ini mengunakan tachometer. Dari

hasil pengamatan terhadap kecepatan putaran motor DC ditunjukkan pada tabel

4.6.

Tebel 4.6 Kecepatan putaran motor DC

Arah putaran Motor

CW (Rpm) CCW (Rpm)

M1 2426,6 5723,5

(53)

Dari hasil pengamatan tegangan yang digunakan untuk menggerakkan

motor DC sebesar 11,7. Dari tabel 4.6, kecepatan putaran motor1 saat CW sebesar

2426,6 Rpm dan kecepatan motor2 saat CW sebesar 2469,3 Rpm. Sedangkan

kecepatan putaran motor1 saat CCW sebesar 5723,5 Rpm dan kecepatan motor2

saat CCW sebesar 5785,4 Rpm.

Dengan kecepatan yang dimiliki oleh motor1, saat motor berputar CW yang

memiliki kecepatan sebesar 2426,6, dengan di pasang palang pintu kereta api

sehingga dapat menyentuh limith switch, merubah kondisi keadaan dari NO

(normally open) menjadi NC (normally close) mengakibatkan putaran motor

berhenti. Kemudian pada saat motor1 berputar CCW yang memiliki kecepatan

5723,5, dengan dipasang palang pintu kereta api sehingga dapat menyentuh limith

switch, merubah kondisi keadaan dari NO (normally open) menjadi NC (normally

close) mengakibatkan putaran motor berhenti.

Data diperoleh dari motor1 dan motor2 harusnya sama. Berdasarkan data

yang dilakukan terdapat perbedaan, yang disebabkan antaran lain hambatan dalam

(54)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil pembuatan alat dan laporan tugas akhir ‘Pengendalian Palang

Pntu Rel Kereta Api Secara Otomatis Untuk Menunjang Sistem Prioritas Lampu

Lalu Lintas’ yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka penulis dapat

menarik kesimpulan, sebagai berikut:

1. Tegangan keluaran alat yang di buat sudah dapat memenuhi tegangan

logika 0 dan 1 yang akan di olah oleh mikrokontroler.

2. Secara keseluruhan alat sudah dapat di aplikasikan tetapi masih

memiliki kekurangan dan tidak sesuai yang di harapkan.

5.2. Saran

1. Agar sensor dapat bekerja dengan baik, lebih baik gunakan nilai tahanan

yang sama dengan nilai tahanan pada saat perancangan.

2. Menggunakan pengaturan kecepatan pada motor sehingga dapat di atur

(55)

DAFTAR PUSTAKA

1. WWW. Datasheetcatalog.com, Tanggal 12 Juli 2006

2. WWW. Jameco.com, Tanggal 12 Juli 2006

3. Pallas Areny, Ramon, 2001, Sensor and Signal Conditioning Second

Edition. Canada: John Wiley & Sons.

4. Purkait, N N, 1989, Dasar Elektronika, penerbit Universitas Indonesia

5. Sonny Bittikala, Stevanus, 2004, Pengendalian Model Palang Pintu

Perlintasan Kereta Api menggunakan Mikrokontroler A T89C51.

(56)

(57)

Rangkaian sensor pendeteksi kereta api

Rangkaian sensor pendeteksi arah datangnya kereta api

(58)

BD 139

(59)

Figur

Tabel 2.1 Output pemicu schmitt...............................................................

Tabel 2.1

Output pemicu schmitt............................................................... p.14
Gambar 2. 1  Rangkaian fototransistor

Gambar 2.

1 Rangkaian fototransistor p.20
Gambar 2.2   Simbol Light Emitting Diode (LED)

Gambar 2.2

Simbol Light Emitting Diode (LED) p.21
Gambar 2.3. adalah rangkaian dasar dari LED infra 0merah.

Gambar 2.3.

adalah rangkaian dasar dari LED infra 0merah. p.22
Tabel 2.1 Output

Tabel 2.1

Output p.23
Gambar 2.4 Pemicu Schmitt

Gambar 2.4

Pemicu Schmitt p.23
Gambar 2. 5 Rangkaian transistor PNP sebagai saklar

Gambar 2.

5 Rangkaian transistor PNP sebagai saklar p.24
Gambar 2.9 Hukum Lorentz

Gambar 2.9

Hukum Lorentz p.27
Gambar 2.10 Dasar pengaturan arah putar motor

Gambar 2.10

Dasar pengaturan arah putar motor p.28
gambar 2.11

gambar 2.11

p.28
Gambar 3.2 memperlihatkan mekanik gerbang pintu yang di gunakan.

Gambar 3.2

memperlihatkan mekanik gerbang pintu yang di gunakan. p.31
Gambar 3.3 memperlihatkan rancangan sensor pendeteksi kereta api

Gambar 3.3

memperlihatkan rancangan sensor pendeteksi kereta api p.32
Tabel 3.1 Pendeteksian posisi sensor

Tabel 3.1

Pendeteksian posisi sensor p.33
Gambar 3.5 Rangkaian LED infra merah

Gambar 3.5

Rangkaian LED infra merah p.35
Gambar 3.6 Rangkaian fototransistor

Gambar 3.6

Rangkaian fototransistor p.36
Gambar 3.7 Rangkaian deteksi arah datangnya kereta api

Gambar 3.7

Rangkaian deteksi arah datangnya kereta api p.37
Gambar 3.9 Konfigurasi pin-pin IC 7414

Gambar 3.9

Konfigurasi pin-pin IC 7414 p.38
Gambar 3.10 Bentuk gelombang input dan output Schmitt Trigger

Gambar 3.10

Bentuk gelombang input dan output Schmitt Trigger p.39
Gambar 3.11 Saklar pemilih alarm

Gambar 3.11

Saklar pemilih alarm p.41
Gambar 3.12 Pengendalian arah putaran motor

Gambar 3.12

Pengendalian arah putaran motor p.42
Tabel 3.2 Arah putar motor DC

Tabel 3.2

Arah putar motor DC p.43
gambar 3. 13.

gambar 3.

13. p.44
Gambar 3.14 Sistem manual untuk menggerakan motor

Gambar 3.14

Sistem manual untuk menggerakan motor p.45
Tabel 4.1. Tegangan keluaran sensor fototransistor

Tabel 4.1.

Tegangan keluaran sensor fototransistor p.48
Tabel 4.2 Tabel keluaran dari  keluaran dari inverter DM74LS14

Tabel 4.2

Tabel keluaran dari keluaran dari inverter DM74LS14 p.48
Tabel 4.4 Keadaan pada rangkaian penggerak motor

Tabel 4.4

Keadaan pada rangkaian penggerak motor p.50
Tabel 4.5 Keadaan pada limith switch

Tabel 4.5

Keadaan pada limith switch p.52

Referensi

Memperbarui...