• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KOTA BONTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMERINTAH KOTA BONTANG"

Copied!
175
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Penyusunan laporan keuangan dilakukan sebagai upaya pertanggungjawaban pengelolaan keuangan yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta menjelaskan alokasi penggunaan dana yang telah dianggarkan. Palaporan juga bertujuan untuk mewujudkan transparansi serta akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah di Kota Bontang dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan yang telah berterima secara umum. Laporan keuangan merupakan media untuk menyampaikan kepada para pemangku kepentingan di lingkungan Pemerintah Kota Bontang pencapaian atas target-target yang ditetapkan.

Penyusunan laporan keuangan merupakan suatu usaha untuk menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan. Secara spesifik informasi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya, efisiensi dan efektivitas. Lebih dalam lagi, berguna dalam pengambilan keputusan strategis lainnya serta menunjukkan tingkat akuntabilitas suatu entitas.

Sebagai Entitas Pelaporan yang mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya- upaya yang telah dilakukan, serta hasil yang telah dicapai dalam periode tertentu sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas manajemen dan keseimbangan kecukupan penerimaan, guna dapat membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dengan tujuan menyajikan informasi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Sebagai perwujudan dalam menilai akuntabilitas dan transparansi, Pemerintah Kota Bontang telah menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban Kepala Daerah atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, serta Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, maka penyusunan Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kota Bontang terdiridari:Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Arus Kas (LAK), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Selain laporan pokok di atas, laporan keuangan juga dilampiri dengan Laporan Keuangan BUMD.

1.1. MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Bontang Tahun Anggaran 2018 disusun dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan dari pemangku kepentingan, antara lain masyarakat, lembaga legislatif, lembaga pengawas, lembaga pemeriksa, dan Pemerintah Pusat, yang berisi informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bontang selama Tahun Anggaran 2018 serta menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan pengambilan keputusan melalui informasi mengenai pendapatan LRA, Pendapatan LO, belanja, beban, transfer, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dan arus kas. Informasi ini disajikan agar pengguna memiliki pengetahuan mengenai :

(2)

1. Menyediakan informasi tentang sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya keuangan;

2. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;

3. Menyediakan informasi tentang jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai;

4. Menyediakan informasi tentang bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;

5. Menyediakan informasi tentang kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan; 6. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Pemerintah Kota Bontang serta hasil-hasil yangdicapai; 7. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan,

apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

1.2. LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Landasan hukum penyusunan Laporan Keuangan Tahun 2018 berdasar pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut :

1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 di bagian yang mengatur tentang keuangan negara;

2. Undang Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

3. Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang;

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara

(3)

Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

10. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

11. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5340);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

(4)

17. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 5155);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

20. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4584); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja

Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

22. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533);

23. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5272);

24. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5655);

25. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 825);

27. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumberdari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 540);

(5)

28. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013Tanggal 3 Desember 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual;

29. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Bontang Tahun 2007 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 9) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2013 (Lembaran Daerah Kota Bontang Tahun 2013 Nomor 4);

30. Peraturan Walikota Bontang nomor 16 Tahun 2014 tanggal 24 Mei 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Bontang.

31. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 11 Tahun 2017 tanggal 28 Desember 2017 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bontang Tahun Anggaran 2018;

32. Peraturan Kepala Daerah Kota Bontang Nomor 37 Tahun 2017 tanggal 29 Desember 2017 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bontang Tahun Anggaran 2018.

33. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 7 Tahun 2018 tanggal 5 Oktober 2018 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan Kota Bontang Tahun Anggaran 2018;

34. Peraturan Kepala Daerah Kota Bontang Nomor 26 Tahun 2018 tanggal 5 Oktober 2018 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan Kota Bontang Tahun Anggaran 2018.

1.3. SISTEMATIKA PENULISAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Catatan atas Laporan Keuangan disusun dengan urutan sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Keuangan 1.2. Landasan hukum penyusunan Laporan Keuangan 1.3. Sistematika penulisan Catatan atas Laporan Keuangan

BAB II. EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN, DAN PENCAPAIAN

TARGET KINERJA APBD 2.1 Ekonomi makro

2.2 Kebijakan keuangan

2.2.1. Kebijakan Pendapatan 2.2.2. Kebijakan Belanja 2.2.3. Kebijakan Pembiayaan

2.3 Indikator Pencapaian Target Kinerja APBD

BAB III. IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN APBD 3.1. Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan SKPD

3.2. Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan

BAB IV. KEBIJAKAN AKUNTANSI

4.1. Entitas akuntansi dan entitas pelaporan keuangan daerah 4.2. Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan 4.3. Basis pengukuran yang mendasari penyusunan laporan keuangan

(6)

4.4. Penerapan kebijakan akuntansi dengan ketentuan yang ada dalam SAP pada PPKD

BAB V. PENJELASAN POS - POS LAPORAN KEUANGAN

5.1 Penjelasan atas pos-pos Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja

5.1.1. Pendapatan 5.1.2. Belanja 5.1.3. Pembiayaan

5.2. Penjelasan atas pos-pos Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih 5.2.1. Saldo Anggaran Lebih Awal

5.2.2. Penggunaan Saldo Anggaran Lebih 5.2.3. Saldo Anggaran Lebih Akhir 5.3. Penjelasan atas pos-pos Neraca

5.3.1. Aset 5.3.2. Kewajiban 5.3.3. Ekuitas

5.4. Penjelasan atas pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas 5.4.1. Ekuitas Awal

5.4.2. Surplus/Defisit-LO

5.4.3. Dampak Kumulatif Perubahan 5.4.4. Ekuitas Akhir

5.5. Penjelasan atas pos-pos Laporan Operasional 5.5.1. Pendapatan-LO

5.5.2. Beban-LO

5.5.3. Surplus/Defisit-LO

5.6. Penjelasan atas pos-Pos Laporan Arus Kas 5.6.1. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Operasi

5.6.2. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Investasi Aset Non Keuangan 5.6.3. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Pembiayaan

5.6.4. Arus Kas Bersih dari Aktifitas Non Anggaran 5.6.5. Saldo Akhir Kas

5.7. Pengungkapan Informasi yang Belum Disampaikan dalam Lembar Muka Laporan Keuangan

(7)

BAB II

EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD

2.1 EKONOMI MAKRO

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan ukuran produktifitas yang mencerminkan seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah tertentu dalam satu tahun. Pada tahun 2017 PDRB Kota Bontang atas dasar harga konstan (dengan migas) mencapai 43,13 triliun, angka ini meningkat 0,29triliun dari tahun 2016, dengan pertumbuhan sebesar 0,68 persen. Namun, apabila kegiatan migas baik berupa pertambangan migas maupun industri pengolahan migas dikeluarkan dari penghitungan PDRB Kota Bontang, maka laju pertumbuhan perekonomian tanpa migas di Kota Bontang masih mencapai 1,36 persen.Pertumbuhan perekonomian dengan migas tahun 2017 mengalami pertumbuhan yang positif. Hal ini menunjukkan perkembangan yang baik apabila dibandingkan dengan tahun 2016 yang mengalami pertumbuhan negatif. Salah satu penyebab pertumbuhan yang positif tersebut adalah adanya peningkatan produksi pertambangan minyak bumi lepas pantai, sehingga laju pertumbuhan sektor pertambangn menjadi positif.Pada tahun 2017 sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar struktur perekonomian Kota Bontang, dimana kontribusinya mencapai 83,95 persen. Sektor Pengolahan tersebut tak lepas dari keberadaan PT Badak LNG dan PT. Pupuk Kaltim

Lapangan usaha lain yang mengalami peningkatan antara lain lapangan usaha pertanian, penyediaan akomodasi dan makanan minuman, konstruksi, dll. Pada tahun 2017, nilai tambah yang dihasilkan oleh lapangan usaha tersebut adalah sekitar 49,35 triliun rupiah dan berkontribusi sebesar 83,95 persen di dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto Kota Bontang Nilai nominal Produk Domestik Regional Kota Bontang pada tahun 2017 tercatat sekitar 58,79 triliun rupiah.

Kinerja PMTB mengalami peningkatan. Hal itu berkaitan dengan investasi pada lapangan usaha konstruksi yang didukung oleh investasi pemerintah pada infrastuktur. Penambahan belanja pemerintah dalam APBD-P TA 2018, diperkirakan mendukung investasi pemerintah terutama dalam bentuk konstruksi. Pembangunan infrastruktur pemerintah yang cukup massif serta investasi untuk pertambangan menjadi faktor utama akselerasi investasi.

Tekanan inflasi selama tahun 2018 tercatat lebih tinggi, namun tetap stabil dan terkendali. Adapun tekanan inflasi pada kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara yang bersumber dari naiknya permintaan dikarenakan banyaknya pelaku usaha tambang yang mencoba meningkatkan produksinya dengan menambah banyak manpower yang berasal dari luar kaltim. Lebih lanjut, peningkatan manpower tersebut disebabkan belum tercapainya target banyak pelaku usaha tambang selama semester I 2018 serta ada rencana tambahan kuota produksi batubara dari pemerintah hingga akhir tahun 2018. Ekspor bahan kimia organik berupa ammonia Kaltim tercatat tumbuh sebesar 91,24% (yoy), lebih tinggi dibandingkan -33,42% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tinggi pada ekspor ammonia Kaltim didorong oleh base effect rendahnya ekspor pada periode yang sama tahun lalu akibat maintenance pabrik.

Disamping itu, peningkatan volume ekspor disebabkan oleh mulai dijualnya amonia Kaltim ke Korea Selatan, Taiwan, di Australia di pasar spot sebagai bahan campuran pembuatan pupuk. Lebih lanjut, kinerja industri pupuk di Kaltim juga masih positif dengan pertumbuhan volume ekspor yang tercatat sebesar 14,54% (yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Secara keseluruhan, kinerja ekspor pupuk triwulan III 2018 ditunjang oleh harga pupuk internasional yang tercatat tumbuh sebesar 29,77% (yoy). Di sisi domestik,

(8)

produksi pupuk pada triwulan III 2018 juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan petani pada musim tanam yang akan berlangsung selama bulan Oktober-Desember 2018.

Tabel 2.1 Produk Domestik Regional Bruto Kota Bontang Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (juta rupiah), 2013 – 2017

Lapangan Usaha/Industry 2013 2014 2015 2016 2017

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan/

Agriculture, Forestry and Fishing

294.318,8 353.995,4 374.762,1 348.526,7 368.363,6 B Pertambangan dan Penggalian/

Mining and Quarrying

964.493,9 665.860,5 621.654,1 395.075,6 441.268,5 C Industri Pengolahan/ Manufacturing 36.256.075,5 34.869.243,0 36.530.202,0 36.127.853,0 36.125.004,6 D Pengadaan Listrik dan Gas/

Electricity and Gas

7.646,0 9.038,3 12.178,2 12.977,7 13.685,1 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah

dan Daur Ulang/

Water supply, Sewerage, Waste Management and Remediation Activities

7.247,8 7.480,2 7.790,2 8.265,4 9.230,9

F Konstruksi/Construction 1.950.847,2 1.991.244,3 2.029.310,5 2.000.217,0 2.137.033,4 G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil

dan Sepeda Motor/Wholesale and Retail Trade;

Repair of Motor Vehicles and Motorcycles

999.537,9 1.039.278,3 1.063.278,2 1.046.853,9 1.055.022,4

H Transportasi dan Pergudangan/ Transportation

and Storage

496.846,3 516.466,8 528.885,0 548.814,8 569.228,4 I Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum/Accommodation and Food Service Activities

150.709,2 155.377,7 159.765,9 159.741,7 173.661,4

J Informasi dan Komunikasi/ Information and

Communication

312.480,8 339.822,5 358.143,6 379.586,6 379.397,8 K Jasa Keuangan dan Asuransi/ Financial and

Insurance Activities

296.961,3 304.999,7 306.002,7 307.168,0 301.278,4 L Real Estat/Real Estate Activities 169.842,7 175.203,3 181.384,2 187.691,5 189.607,8 M,N Jasa Perusahaan/Business Activities 177.556,6 192.842,6 197.376,9 192.930,3 197.401,5 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jaminan Sosial Wajib/

Public Administration and Defence; Compulsory Social Security

406.625,6 428.262,1 451.576,8 459.150,6 455.053,4

P Jasa Pendidikan/Education 245.132,9 277.125,5 304.745,1 328.470,7 357.136,3 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial/Human

Health and Social Work Activities

181.486,1 195.059,0 203.672,4 219.659,7 232.558,6 R,S,

T,U

Jasa lainnya/Other Services Activities 94.527,9 100.834,3 106.455,3 113.376,0 123.365,4 Produk Domestik Regional Bruto/ Gross

Regional Domestic Product

43.012.336,3 41.622.133,4 43.437.183,6 42.836.359,1 43.128.297,4

Selama tahun 2013 sampai dengan 2017, neraca perdagangan Kota Bontang selalu surplus. Hal ini berarti nilai ekspor Kota Bontang selalu lebih besar dibandingkan impornya, sehingga Bontang merupakan salah satu kota yang dapat menambah penerimaan devisa. Nilai perdagangan luar negeri tahun 2017 mengalami peningkatan 9,28 persen dibandingkan tahun 2016 yaitu meningkat 371,25 juta USD. Nilai impor Kota Bontang mengalami peningkatan 12,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada nilai ekspor Kota Bontang. Nilai Ekspor Kota Bontang dari bulan Januari-Desember 2017 mencapai 4,48miliar USD dengan volume sebesar 23,08 metric ton. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 9,36 persen, meskipun secara volume mengalami penurunan 12,43 persen. Sektor minyak bumi dan gas (migas) adalah sektor yang dominan dalam neraca perdagangan luar negeri Kota Bontang. Nilai ekspor untuk migas mencapai 70,10 persen dari total ekspor yang dilakukan oleh Kota Bontang pada tahun 2017. Sedangkan nilai impor migas sebesar 39,93 persen dari total impor yang dilakukan Kota Bontang pada tahun 2017 yaitu sebesar 43,92 juta USD. Kegiatan ekspor dan impor Kota Bontang tidak lepas dari peran industri-industri besar di Kota Bontang, seperti industri Pengilangan Migas dan Industri Kimia.

(9)

Sampai dengan saat ini, perekonomian Kota Bontang masih didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan.

2.2 KEBIJAKAN KEUANGAN

Gambaran pengelolaan keuangan daerah menjelaskan tentang aspek kebijakan keuangan daerah, yang berkaitan dengan pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah serta capaian kinerja, guna mewujudkan visi dan misi.

Perekonomian Kota Bontang masih sangat didominasi oleh oleh sektor industri pengolahan khususnya pengolahan migas. Hingga tahun 2016 kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB mencapai 83 persen lebih. Tren penurunan sektor industri pengolahan menjadi faktor utama pertumbuhan negatif selama sepuluh tahun terakhir. Hal ini bermakna bahwa perekonomian Kota Bontang belum tumbuh berbasis pada potensi lokal dan masih sangat rentan terhadap faktor-faktor global seperti harga migas.

Dengan memperhitungkan perkembangan perekonomian terkini, baik global maupun domestik yang tidak seoptimis perkiraan sebelumnya maka pertumbuhan ekonomi nasional 2018 diperkirakan 5,4%-6,1%. Proyeksi pertumbuhan ini lebih tinggi dari outlook pertumbuhan ekonomi tahun 2016. Perekonomian Kota Bontang masih sangat kental dengan ketergantungan pada sektor industri pengolahan gas alam dan kimia. Hingga tahun 2016 peran sektor tersebut masih mencapai 83 persen dari keseluruhan nilai PDRB Kota Bontang yang mencapai Rp.41 triliun. Dengan peran yang sangat dominan tersebut menyebabkan pengaruhnya terhadap kondisi ekonomi secara aggregate menjadi sangat signifikan. Trend menurunnya produksi industri pengolahan gas alam cair oleh PT. Badak N.G.L. menjadi pemicu utama tren melambatnya perekonomian Kota Bontang.

Laju inflasi diperkirakan 3,5% plus minus 1% yang didukung semakin membaiknya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan riil. untuk tahun 2015 jika mengacu pada tingkat inflasi Provinsi Kalimantan Timur maka tingkat inflasi Kota Bontang mencapai 4,89 persen juga masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi Samarinda yang mencapai 6,87 persen. Untuk tahun 2018 tingkat inflasi Kota Bontang diproyeksikan kurang dari 6 %. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak pada kisaran Rp.13.650- Rp.13.900,- per dollar Amerika Serikat (AS). Meskipun masih terdapat berbagai risiko tekanan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah pada tahun depan, namun membaiknya kondisi fundamental ekonomi diharapkan dapat menjadi insentif baru arus investasi asing ke Indonesia. rata suku bunga SPN tahun depan berkisar 4,6%-4,8%. Rata-rata harga minyak diperkirakan pada kisaran US$ 45-60 per barel.

Tahun 2018 di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bontang tercakup dalam tahapan ke-3 (2015-2019) yang merupakan tahap penguatan terhadap capaian pembangunan dua tahapan sebelumnya. Dalam lingkup Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), tahun 2018 merupakan tahun kedua dari periode RPJMD 2016-2021. Dalam kaitan tersebut penyusunan anggaran tahun 2018 harus mempertimbangkan tantangan dan prospek perekonomian Kota Bontang serta memperhatikan sasaran kebijakan pembangunan ekonomi sebagaimana dituangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka panjang daerah, kebijakan pembangunan pemerintah provinsi dan nasional.

(10)

2.2.1 KEBIJAKAN UMUM PENDAPATAN DAERAH

Daya dukung aspek keuangan daerah sangat berpengaruh penting terhadap probabilitas maupun prospek keberhasilan pelaksanaan program/kegiatan yang ditetapkan. Oleh karenanya pendapatan daerah khususnya konteks pendapatan asli daerah (sendiri) menjadi tolok ukur dalam menetapkan tingkat kemampuan fiskal daerah.

Kebijakan Pemerintah Kota Bontang dalam penetapan target anggaran pendapatan dan belanja daerah 2018, juga disesuaikan dengan perkembangan kondisi internal dan ekternal pada Pemerintah Daerah. Kondisi ekternal khususnya perkembangan dan kondisi perekonomian nasional pada tahun berjalan dan yang akan datang. Oleh karena itu, berbagai langkah antisipatif dan solusi bagi peningkatan serta penetapan target pendapatan daerah di tahun 2018 didukung dengan beberapa asumsi dalam penetapan target pendapatan daerah sebagai berikut:

a. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana lancar sebagai hak pemerintah daerah dalam 1 (satu) tahun, anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah.

b. Seluruh pendapatan daerah dianggarkan dalam APBD secara bruto, mempunyai makna bahwa jumlah pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil.

c. Pendapatan daerah merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.

Penerimaan pendapatan daerah TA 2018 direncanakan mencapai Rp847.286.705.000,00, menunjukkan bahwa pendapatan daerah pada TA 2018 diperhitungkan akan turun sekitar 7,51% dibandingkan pendapatan TA 2017 sebesar Rp. 916.130.265.473,00. Dan lebih rendah sekitar 40,66% dari target penerimaan pendapatan tahun 2018 yang direncanakan dalam RPJMD 2016‐2021 sebesar Rp. 1.427.917.339.000,00. Jumlah penerimaan pendapatan terbesar pada TA 2018 berasal dari sumber Dana Perimbangan diperhitungkan sebesar Rp. 590.982.808.000,00 (sekitar 69,75% dari total target penerimaan pendapatan). Sementara itu, penerimaan dari sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) diperhitungkan sebesar Rp. 149.228.860.000,00 (sekitar 17,61% dari total target penerimaan pendapatan) dan dari sumber Lain-lain Pendapatan yang Sah diperhitungkan sebesar Rp. 107.075.037.000,00 (sekitar 12,64% dari total target penerimaan pendapatan).

Tabel 2.2. Perkiraan Pendapatan Daerah Kota Bontang Tahun 2018

Sumber Pendapatan Daerah Perkiraan Pendapatan Tahun 2018

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 149.228.860.000,00

% kontribusi 17,61% (dari total pendapatan)

pertumbuhan per tahun (dr TA 2017) 1,53 %

Dana Perimbangan 590.982.808.000,00

% kontribusi 69,75 % (dari total pendapatan)

pertumbuhan per tahun (dr TA 2017) -3,32 %

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 107.075.037.000,00

% kontribusi 12,64 % (dari total pendapatan)

pertumbuhan per tahun (dr TA 2017) -32,18 %

Jumlah Pendapatan 847.286.705.000,00

(11)

Tabel 2.3. Perbandingan Pendapatan Tahun 2017, Target RPJMD Tahun 2018 dan Perkiraan Pendapatan Daerah Tahun 2018 Kota Bontang

Sumber Pendapatan Daerah

Pendapatan Tahun 2017 (on going progress)*

Pendapatan Tahun 2018 Target RPJMD

Perkiraan Pendapatan 2018

Pendapatan Asli Daerah

(PAD) 146.968.960.000,00 140.099.610.000,00 149.228.860.000,00

% kontribusi 16,04 % 9,81 % 17,61%

Dana Perimbangan 611.286.268.473,00 1.099.817.729.000,00 590.982.808.000,00

% kontribusi 66,72 % 77,02 % 69,75%

Lain-lain Pendapatan

Daerah yang Sah 157.875.037.000,00 188.000.000.000,00 107.075.037.000,00

% kontribusi 17,23 % 13,17 % 12,64%

Jumlah Pendapatan 916.130.265.473,00 1.427.917.339.000,00 847.286.705.000,00

Jumlah penerimaan pendapatan berpotensi untuk mengalami penurunan sebesar 7,51% atau sekitar Rp. 68.843.560.473,00 dari perkiraan penerimaan pendapatan yang ditargetkan pada tahun anggaran sebelumnya (TA 2017). Penurunan tersebut diperkirakan terjadi karena penurunan alokasi dari pos Dana Perimbangan sebesar 3,32% atau sekitar Rp. 20.303.460.473,00 karena proyeksi harga ICP yang turun,volume lifting migas yang belum menunjukan perkembangan yang signifikan, harga dan volume penjualan batubara yang masih rendah serta adanya pemotongan atas Dana Bagi Hasil Tahun 2018 atas kelebihan penyaluran pada DBH Kota Bontang Tahun 2015. Selain penurunan dari pos Dana Perimbangan, penurunan juga terjadi pada Pos Lain – Lain Pendapatan Daerah Yang Sah sebesar 32,18% atau sekitar Rp. 50.800.000.000,. Karena terjadi penurunan Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi serta belum di masukkannya nilai Bantuan Keuangan Provinsi ke dalam Pos Lain – Lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

2.2.1.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

Pemerintah Daerah didorong untuk mengembangkan potensi ekonomi masing-masing daerah. Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari kegiatan ekonomi daerah itu sendiri. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu pilar kemandirian suatu daerah

Kebijakan perencanaan anggaran pendapatan Kota Bontang mengacu kepada kebijakan keuangan daerah dalam RPJMD Tahun 2016-2021 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2018. Kebijakan Pemerintah Kota Bontang dalam penetapan target anggaran pendapatan dan belanja daerah 2018, juga disesuaikan dengan perkembangan kondisi internal dan ekternal pada Pemerintah Daerah. Kondisi ekternal khususnya perkembangan dan kondisi perekonomian nasional pada tahun berjalan dan yang akan datang. Kebijakan Perencanaan Pendapatan Asli Daerah terdiri atas:

a. Dalam merencanakan target pendapatan daerah dari kelompok Pendapatan Asli Daerah ditetapkan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi penerimaan tahun lalu, tahun berjalan, potensi, dan asumsi pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi terhadap masing-masing jenis penerimaan, obyek penerimaan serta rincian obyek penerimaan;

b. Dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah, pemerintahan daerah tidak menetapkan kebijakan yang memberatkan dunia usaha dan masyarakat.

(12)

Upaya peningkatan pendapatan asli daerah dapat ditempuh melalui penyederhanaan sistem dan prosedur administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, meningkatkan ketaatan wajib pajak dan pembayar retribusi daerah serta peningkatan pengendalian dan pengawasan atas pemungutan pendapatan asli daerah untuk terciptanya efektifitas dan efisiensi yang diikuti dengan peningkatan kualitas, kemudahan, ketepatan dan kecepatan pelayanan;

c. Upaya Intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah dan retribusi daerah serta lain-lain pendapatan yang sah terus ditingkatkan sesuai dengan potensi pungutan;

d. Regulasi peraturan daerah tentang Pendapatan Daerah yang tidak bertentangan dengan kebijakan investasi (Pro Investasi);

e. Mengoptimalkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah yakni memberikan konstribusi kepada pemerintah daerah;

Penerimaan pendapatan dari sumber PAD diharapkan mampu memberi kontribusi sebesar Rp.149.228.860.000,00 atau sekitar 18,11% dari jumlah rencana anggaran pendapatan. Penerimaan tersebut direncanakan berasal dari pos‐pos sebagai berikut:

a. Pajak Daerah sebesar Rp.79.480.000.000,00 yang terdiri dari Pajak Hotel sebesar Rp.700.000.000,00; Pajak Restoran sebesar Rp.6.000.000.000,00; Pajak Hiburan sebesar Rp.500.000.000,00; Pajak Reklame sebesar Rp.450.000.000,00; Pajak Penerangan Jalan sebesar Rp.30.000.000.000,00; Pajak Parkir sebesar Rp.80.000.000,00; Pajak Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp.3.000.000.000,00 dan Pajak Air Tanah sebesar Rp.5.250.000.000,00 serta PBB P2 sebesar Rp.33.500.000.000,00;

b. Retribusi Daerah sebesar Rp. 5.766.700.000,00 yang terdiri atas Retribusi Jasa Umum yaitu retribusi Pelayanan Kesehatan Rp.700.000.000,00; retribusi Pelayanan Persampahan sebesar Rp250.000.000,00; retribusi Pelayanan Parkir Tepi Jalan Umum sebesar Rp.50.000.000,00; retribusi Pelayanan Pasar sebesar Rp.500.000.000,00; retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor sebesar Rp.240.000.000,00; dan retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus sebesar Rp30.000.000,00; Retribusi Jasa Usaha yaitu, retribusi Tempat Khusus Parkir Rp.650.000.000,00 dan retribusi Rumah Potong Hewan Rp.102.200.000,00; retribusi Penjualan Produksi Daerah Rp.25.000.000,00 dan Retribusi Perijinan Tertentu yaitu retribusi Izin Mendirikan Bangunan sebesar Rp.2.500.000.000,00; retribusi Izin Gangguan/Keramaian sebesar Rp.660.000.000,00; retribusi Izin Trayek sebesar Rp.1.500.000,00;

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan sebesar Rp.5.595.000.000,00 yang terdiri Bagian Laba Deviden BPD Kaltim sebesar Rp.5.100.000.000,00 dan Bagian Laba Deviden PT.BME sebesar Rp.495.000.000,00;

d. Lain-lain PAD yang Sah sebesar Rp.58.387.160.000,00 yang terdiri dari Penerimaan Jasa Giro sebesar Rp.1.680.000.000,00; Pendapatan dari Dana Kapitasi Askes FKTP sebesar Rp.8.257.160.000,00 Pendapatan dari BLUD RSUD sebesar Rp.47.000.000.000,00 serta pendapatan dari pelabuhan Bontang sebesar Rp. 1.200.000.000,00.

(13)

Prospek peningkatan target penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) ditunjang oleh adanya potensi peningkatan penerimaan pendapatan dari pos Pendapatan Pajak Daerah diproyeksikan naik sebesar 1,24% atau sekitar Rp.975.000.000,00, pos Hasil Retribusi Daerah diproyeksikan naik sebesar 3,31% atau sekitar Rp.184.900.000,00, pos Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan diproyeksikan naik sebesar 24,47% atau sekitar Rp.1.100.000.000,00, dan pos Lain‐lain PAD yang Sah diproyeksikan tetap sama dengan tahun 2017 yaitu sebesar Rp. 58.387.160.000,00.

2.2.1.2 DANA PERIMBANGAN

Kebijakan Perencanaan Dana Perimbangan/Dana Transfer terdiri atas:

a. Penetapan pagu Dana Perimbangan pada anggaran 2018 menggunakan analisa proyeksi Penerimaan dan data dokumen alokasi yang ditetapkan Pemerintah Pusat, diantara regulasi yang mengatur penetapan alokasi yaitu: 1. Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017;

2. Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2016 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017;

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2017 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa;

4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19/PMK.07/2017 Tahun 2017 tentang Rincian Kurang Bayar dan Lebih Bayar DBH yang Dialokasikan Dalam Perubahan APBN Tahun 2017;

5. Informasi resmi yang dilansir oleh Kementerian Keuangan dalam laman resmi Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.

b. Data proyeksi ekonomi makro Tahun 2018 yang ditetapkan Pemerintah Pusat adalah sebagai berikut :

1. Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di kisaran 5,4 % - 6,1 %. 2. Inflasi ditargetkan 3,5% dengan deviasi sebesar 1,0%.

3. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar dipatok di kisaran Rp. 13.400 – Rp. 13.700 per USD.

4. Sedangkan pada tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan berkisar 4,8% - 5,6%.

5. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price(ICP) pada US$ 55 per barel mengikuti perkembangan minyak dunia.

6. Lifting minyak juga diasumsikan 771 ribu barel - 815 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.194 ribu barel - 1.235 ribu barel per hari setara minyak.

Pada tahun 2018 penerimaan dari Dana Perimbangan diproyeksikan menurun, karena asumsi penerimaan khususnya dari sektor dana bagi hasil, diperkirakan mengalami perkembangan yang negative karena adanya penurunan harga ICP dan volume lifting yang cukup signifikan, serta adanya pembayaran kelebihan atas penyaluran DBH Kota Bontang Tahun 2015. Dana Perimbangan diharapkan mampu memberi kontribusi sebesar Rp. 590.982.808.000,00 atau sekitar 69,75% dari jumlah rencana anggaran pendapatan. Penerimaan tersebut direncanakan berasal dari pos‐pos sebagai berikut:

(14)

dari Pajak Penghasilan/PPh Pasal 25 dan 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 sebesar Rp. 65.918.842.400,00; Bagi Hasil PBB Rp.54.275.790.600,00; Bagi Hasil dari Biaya Pemungutan PBB Rp.1.975.989.000,00; Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam sebesar Rp.240.263.653.000,00 (terbagi atas penerimaan bagi hasil Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) sebesar Rp.2.477.175.300,00; bagi hasil iuran tetap (Land-rent) Rp.1.892.163.600,00; bagi hasil iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) Rp. 213.127.430.900,00; bagi hasil pungutan hasil perikanan Rp. 1.194.499.200,00; bagi hasil pertambangan minyak bumi sebesar Rp. 24.177.491.000,00; bagi hasil pertambangan gas bumi sebesar Rp. 20.831.093.000,00);

b. Dana Alokasi Umum ditargetkan yaitu sebesar Rp. 205.112.333.000,00; c. Untuk target penerimaan dari Dana Alokasi Khusus masih menunggu alokasi

dari Kementerian Keuangan RI. Sebab Dana Alokasi Khusus bertujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintahan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

2.2.1.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH

Kebijakan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah terdiri dari:

a. Lain-lain pendapatan yang ditetapkan pemerintah termasuk dana penyesuaian dan dana otonomi khusus dianggarkan pada lain-lain pendapatan daerah yang sah.

b. Proyeksi penetapan Dana bagi hasil pajak dari provinsi yang diterima oleh Kota Bontang didasarkan atas alokasi yang sama dengan alokasi pada Perubahan APBD Tahun 2017.

Lain‐lain Pendapatan daerah yang Sah pada tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp.107.075.037.000,00. Proyeksi ini dibuat atas dasar pertimbangan: (a) Target pendapatan dari Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus sesuai alokasi yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2018; (b) Target pendapatan Bagi Hasil Pajak dari Provinsi Kalimantan Timur didasarkan pada alokasi bagi hasil Perubahan Tahun Anggaran 2017 dengan memperhatikan realisasi bagi hasil TA 2016 (c) Target pendapatan yang bersumber dari Bantuan Keuangan Provinsi masih menuggu alokasi dalam APBD Provinsi Kalimantan Timur TA 2018.

2.2.2 KEBIJAKAN UMUM PENDAPATAN DAERAH PERUBAHAN

Sejalan dengan terjadinya perbaikan harga komoditas migas dan tambang pada tahun 2017, maka perkiraan pertumbuhan ekonomi Kota Bontang akan terdorong tumbuh positif pada tahun 2017 yang pada tahun 2016 tercatat mengalami tingkat pertumbuhan negatif -1,49 %. Dengan terjadinya peningkatan pertumbuhan ekononomi pada tahun 2017 tersebut maka diharapkan pada tahun 2018 perekonomian Kota Bontang juga akan tumbuh positif meskipun masih akan dipengaruhi oleh perkiraan melambatnya situasi ekonomi global khususnya terkait dengan harga-harga komoditas migas dan tambang. Meskipun Kota Bontang bukan merupakan daerah penghasil komoditas primer tersebut, sektor migas dan tambang merupakan sektor hulu dari sektor industri pengolahan yang menjadi motor penggerak perekonomian Kota Bontang.

(15)

Mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat yang tidak akan melakukan perubahan APBN tahun 2018 sehubungan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I yang telah mencapai 5,1 % dan diperkirakan akan tercapai sesuai target 5,4 % pada akhir tahun, dalam lingkup Pemerintah Kota Bontang tetap akan dilakukan perubahan dan penyesuaian sehubungan dengan adanya sejumlah koreksi terhadap sejumlah indikator makro yang ditetapkan dalam Kebijakan Umum APBD tahun 2018. Adapun asumsi dasar yang perlu dilakukan penyesuaian sebagai berikut:

a. Pertumbuhan Ekonomi Kota Bontang pada tahun 2016 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2015. Tingkat pertumbuhan turun mencapai -1,49. Dengan adanya perbaikan harga komoditas pada tahun 2017, diperkirakan tingkat pertumbuhan ekonomi Kota Bontang akan kembali tumbuh positif. Hal ini memungkinkan karena perbaikan harga komoditas akan kembali meningkatkan produktivitas sektor primer khususnya terkait dengan pertambangan batu bara dan sektor industri pengolahan, khususnya sektor pengolahan gas alam. Meskipun perkiraan masih akan terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan positif pada tahun 2017 akan berlanjut pada tahun 2018. Tingkat pertumbuhan ekonomi Kota Bontang diperkirakan akan tumbuh positif antara 1 % s.d 3 %. Tingkat pertumbuhan ini mengkoreksi tingakat pertumbuhan eknomi dalam Kebijakan Umum APBD tahun 2018 yang diperkirakan tumbuh negatif -4 % s.d -3 %. Sektor-sektor yang diharapkan menjadi motor penggerak masih bertumpu pada peningkatan pertumbuhan sektor industri pengolahan, sektor pertambangan dan adanya potensi peningkatan investasi sektor energy.

b. Sejalan dengan perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang tumbuh positif, maka produktivitas ekonomi Kota Bontang secara agregate yang dicerminkan oleh PDRB akan mengalami peningkatan, baik dengan perhitungan harga berlaku maupun berdasarkan harga konstan. Nilai PDRB Kota Bontang atas harga berlaku pada tahun 2018 diperkirakan akan mencapai 55,2 triliun rupiah. Sedangkan dengan perhitungan harga konstan diharapkan akan mencapai 45 triliun rupiah.

c. Inflasi Kota Bontang mengacu pada tingkat inflasi Kota Samarinda sebagai Kota yang memiliki kedekatan baik secara spasial maupun keterkaitan aktivitas ekonomi. Pada tahun 2017 tingkat inflasi Kota Samarinda mencapai 3,69% %, sedangkan Inflasi tahun ke tahun Kota Samarinda bulan Juni 2018 sebesar 2,63 %. Sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan adanya perbaikan pendapatan masyarakat, maka inflasi akan terdorong untuk naik dengan angka antara 3 % – 4 %.

d. Proyeksi kenaikan pendapatan daerah disesuaikan dengan kondisi perkembangan ekonomi serta perubahan kebijakan yang terkait dengan kebijakan anggaran transfer (dana perimbangan) dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi.

Dengan melihat kondisi aktual kinerja ekonomi daerah dan nasional serta memperhatikan realisasi APBD Kota Bontang Tahun Anggaran 2018, terutama dari sisi pendapatan, maka kebijakan pendapatan perubahan APBD Kota Bontang diarahkan sebagai berikut:

(16)

a. Penyesuaian pendapatan asli daerah dengan mempertimbangkan optimalisasi sumber-sumber pendapatan melalui perkiraan yang terukur secara rasional dan realisasi pendapatan asli daerah sampai dengan semester I tahun 2018;

b. Upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah dan retribusi daerah serta lain-lain pendapatan;

c. Penyelesaian Piutang Pajak Penerangan Jalan Non PLN yang memiliki potensi realisasi yang cukup besar;

d. Penetapan pagu Dana Perimbangan pada perubahan anggaran 2018 memperhitungkan proyeksi realisasi pagu definitif sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2018 dan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2017 tentang Rincian APBN Tahun 2018 dengan perhitungan alokasi kurang dari 100% dengan tetap memperhatikan PMK 187/PMK.07/2017 Tentang Rincian Kurang Bayar dan Lebih Bayar DBH Tahun 2017, Serta informasi dari pihak Dirjen Perimbangan Keuangan Mengenai alokasi transfer bagian Kota Bontang;

e. Melakukan antisipasi terkait informasi dari Pemerintah Pusat kemungkinan tidak dilakukannya Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2018 ; dan

f. Penyesuaian alokasi Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah, pada Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) serta penyesuaian Bantuan Keuangan Provinsi masih berpedoman pada target yang teranggarkan dalam APBD Murni Kota Bontang TA 2018.

Secara umum pendapatan daerah yang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Total PAD pada perubahan APBD tahun 2018 sebesar Rp. 184.636.710.600,00 naik 23,73% dari target sebelumnya sebesar Rp. 149.228.860.000,00.

b. Perkembangan pendapatan daerah dari sisi dana perimbangan pada perubahan APBD 2018 mengalami kenaikan sebesar 3,23% dari target sebelumnya sebesar Rp. 782.704.042.717,00 menjadi Rp.807.959.601.000,00.

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah secara keseluruhan mengalami

penurunan 10,17% dari Rp.176.325.880.737,00 menjadi

Rp.158.389.052.043,06.

Target total perubahan pendapatan daerah Kota Bontang tahun 2018 diproyeksikan akan mengalami kenaikan sebesar Rp.42.726.580.189,06 atau 3,86% dari target sebelumnya, yaitu semula sebesar Rp.1.108.258.783.454,00 menjadi Rp.1.150.985.363.643,06.

(17)

Tabel 2.4Proyeksi Perubahan Pendapatan Daerah Tahun 2018

No. Uraian TARGET PENDAPATAN (Rp.)

Bertambah/ (Berkurang)

Sebelum Perubahan Setelah Peruabahan (Rp)

1 2 3 4 5 = 4 - 3

4.1 Pendapatan Asli Daerah 149.228.860.000,00 184.636.710.600,00 35.407.850.600,00

4.1.1 Hasil Pajak Daerah 79.480.000.000,00 109.655.000.000,00 30.175.000.000,00 4.1.2 Hasil Retribusi Daerah 5.766.700.000,00 4.183.078.000,00 (1.583.622.000,00) 4.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang

Dipisahkan

5.595.000.000,00 5.265.000.000,00 (330.000.000,00)

4.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

58.387.160.000,00 65.533.632.600,00 7.146.472.600,00

4.2 Dana Perimbangan 782.704.042.717,00 807.959.601.000,00 25.255.558.283,00

4.2.1 Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 486.355.087.717,00 511.610.646.000,00 25.255.558.283,00

4.2.2 Dana Alokasi Umum 215.830.009.000,00 215.830.009.000,00 0,00

4.2.3 Dana Alokasi Khusus 80.518.946.000,00 80.518.946.000,00 0,00

4.3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 176.325.880.737,00 158.389.052.043,06 (17.936.828.693,94)

4.3.1 Pendapatan Hibah 31.839.742.737,00 13.902.914.043,06 (17.936.828.693,94)

4.3.2 Dana Darurat 0,00 0,00 0,00

4.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya

113.936.138.000,00 113.936.138.000,00 0,00

4.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 24.750.000.000,00 24.750.000.000,00 0,00 4.3.5 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau

Pemerintah Daerah Lainnya

5.750.000.000,00 5.750.000.000,00 0,00

4.3.6 Penerimaan Lain-Lain 50.000.000,00 50.000.000,00 0,00

Jumlah Pendapatan 1.108.258.783.454,00 1.150.985.363.643,06 42.726.580.189,06

Dalam rangka pencapaian target penerimaan maka Pemerintah Kota Bontang melakukan upaya-upaya sebagai berikut ini:

a. Pendapatan Asli Daerah, kebijakan yang ditempuh Pemerintah Kota Bontang, antara lain:

1. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat, baik kecepatan pelayanan pembayaran maupun kemudahan untuk memperoleh informasi;

2. Peningkatan koordinasi dan pengawasan terhadap pemungutan pajak daerah, khususnya percepatan penyelesaian Piutang Pajak Daerah;

3. Intensifikasi pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan;

4. Meningkatkan jumlah penerimaan objek PAD melalui penggalian/perluasan sumber-sumber PAD yang produktif, ekstensifikasi dan kajian yang tidak menimbulkan biaya tinggi;

5. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum tentang peranan dan fungsi PAD dalam pembangunan daerah;

6. Peningkatan koordinasi antar Perangkat Daerah dalam hal pemungutan Pajak Daerah atas belanja kegiatan yang dilaksanakan Perangkat Daerah;

7. Penerapan dan Penegakan Perda Pajak Daerah atas Pajak Reklame yang tidak berijin; dan

8. Mengusulkan dalam anggaran perubahan belanja peningkatan Sarana dan Prasarana tempat pembayaran Pajak Daerah, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi wajib pajak dalam melakukan pembayaran pajak daerah.

(18)

b. Upaya peningkatan Dana Perimbangan, kebijakan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bontang sebagai berikut ini:

1. Meningkatkan sistem koordinasi dan informasi pendapatan daerah kepada Pemerintah Pusat dengan memberikan dukungan data yang cepat, tepat dan akurat dalam rangka peningkatan alokasi;

2. Mempertimbangkan segala asumsi dan Peraturan-peraturan yang ada dengan lebih cermat, sebagai acuan menentukan target dana perimbangan;

3. Melakukan koordinasi terkait penyelesaian piutang/Kurang Bayar Dana Bagi Hasil yang belum disalurkan; dan

4. Melakukan koordinasi mengenai proses pembayaran kelebihan salur Dana Bagi Hasil dengan skema cicilan ataupun diperkenankan untuk dihapuskan.

c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, kebijakan yang ditempuh antara lain :

1. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam hal mempersiapkan data-data yang diperlukan untuk syarat memperoleh Dana Penyesuaian; dan

2. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Propinsi dalam rangka memperoleh alokasi Bantuan Keuangan yang dapat membiayai sebagian kegiatan pembangunan di Kota Bontang, serta dalam rangka peningkatan akurasi perhitungan Dana Bagi Hasil Pajak Propinsi.

2.2.2.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PERUBAHAN

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bontang berasal dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Sumber pendapatan lainnya berupa Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Daerah/ BUMD pada Bank Kaltim tetap diharapkan dapat menambah potensi penerimaan PAD. Sumber pendapatan PAD lainnya adalah pendapatan dari BLUD RSUD Taman Husada yang tercantum dalam Lain-Lain PAD yang sah. Meskipun demikian, pendapatan dari BLUD RSUD ini hanya bisa digunakan untuk kepentingan pelayanan di lingkungan RSUD saja sesuai dengan Permendagri Nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Secara rinci dapat dilihat dari penjelasan berikut ini:

a. Pajak Daerah

Pada Proyeksi Perubahan Pendapatan Tahun 2018 Penerimaan Pajak Daerah ditargetkan berubah dari Rp.79.480.000.000,00 menjadi Rp.109.655.000.000,00 atau sebesar 37,97%.

b. Retribusi Daerah

Besarnya penerimaan PAD dari pos Retribusi Daerah untuk tahun 2018 diproyeksikan dari Rp.5.766.700.000,00 turun menjadi Rp.4.183.078.000,00 atau turun 27,46%.

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Penerimaan PAD Kota Bontang yang bersumber dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan untuk Perubahan tahun 2018 besarnya penerimaan dari Bagian Laba Usaha Daerah diproyeksikan turun 5,90% dari target sebelumya sebesar Rp.5.595.000.000,00 menjadi Rp.5.265.000.000,00.

(19)

Untuk tahun 2018 besarnya penerimaan dari pos Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang Sah ditargetkan mengalami kenaikan sebesar 12,24% dari anggaran semula sebesar Rp.58.387.160.000,00 menjadi Rp.65.533.632.600,00.

2.2.2.2 DANA PERIMBANGAN PERUBAHAN

Penerimaan pendapatan daerah yang bersumber dari Dana Perimbangan diperoleh dari Pos Bagi Hasil yang meliputi Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak, Pos Dana Alokasi Umum, dan Pos Dana Alokasi Khusus. Penerimaan pendapatan daerah dari pos Bagi Hasil Bagi Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak memiliki kontribusi paling besar terhadap penerimaan pendapatan daerah Kota Bontang, dibandingkan dengan sumber-sumber penerimaan pendapatan Kota Bontang lainnya. Oleh karenanya, sampai dengan tahun 2018, pembiayaan pembangunan Kota Bontang yang tertuang dalam APBD Kota Bontang sangat tergantung pada sumber penerimaan pendapatan dari pos tersebut. Untuk tahun 2018 jumlah penerimaan pendapatan Kota Bontang dari sumber Dana Perimbangan diperkirakan akan mengalami kenaikan dibandingkan dengan target anggaran pendapatan semula tahun 2018, hal ini terjadi karena penyesuaian asumsi penerimaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2017. Serta Informasi lisan dari Pihak Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan mengenai alokasi transfer ke daerah dalam APBNP TA 2018 untuk Kota Bontang. Adapun kenaikan DBH pada APBDP TA 2018 jika dibandingkan dengan APBD TA 2018, Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak

Penerimaan pendapatan Kota Bontang dari pos Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak, untuk Anggaran Perubahan tahun 2018 diproyeksikan naik 5,19% menjadi sebesar Rp. 486.355.087.717,00 dari target sebelumnya sebesar Rp. 511.610.646.000,00.

b. Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Umum selama ini merupakan salah satu komponen Dana Perimbangan yang memiliki kontribusi yang tidak kalah penting dalam menunjang pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan di Kota Bontang. Dana Alokasi Umum diproyeksikan masih tetap sebesar Rp. 215.830.009.000,00.

c. Dana Alokasi Khusus (DAK)

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2018 dan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2017 tentang Rincian APBN Tahun 2018, Kota Bontang memperoleh Dana Alokasi Khusus sebesar Rp. 80.518.946.000,00.

2.2.2.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH PERUBAHAN

Penerimaan pendapatan daerah yang bersumber dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah diperoleh dari Pos Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya. Kontribusi penerimaan pendapatan dari pos ini dalam mendukung pembiayaan pembangunan

(20)

di Kota Bontang selama ini memberikan kontribusi yang cukup penting bagi kelangsungan pembangunan di Kota Bontang.

Perubahan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah di tahun 2018 diproyeksikan pos ini akan mengalami penurunan sebesar Rp.17.936.828.693,94 atau 10,17%. Adapun penjelasan pos-pos Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dijelaskan sebagai berikut :

a. Pendapatan Hibah

Target Pendapatan Hibah untuk anggaran pendapatan perubahan tahun 2018 mengalami penurunan sebesar Rp. 17.936.828.693,94 atau 56,33% akibat adanya penyesuaian dari Dana BOS dari Pemerintah Pusat.

b. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi

Target penerimaan dari Bagi Hasil Pajak dari Provinsi untuk anggaran pendapatan perubahan tahun 2018 tidak mengalami perubahan/sama dengan nilai murni sesuai dengan informasi penetapan alokasi dari Pemerintah Propinsi Kalimantan sebesar Rp. 113.936.138.000,00.

c. Dana penyesuaian dan Otonomi Khusus

Dana penyesuaian dan Otonomi khusus ditargetkan tetap yang berasal dari Dana Insentif Daerah sebesar Rp.24.750.000.000,00.

d. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya

Sebagai salah satu sumber penerimaan pendapatan Kota Bontang, Pos Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya ini memiliki kontribusi yang cukup penting dalam mendukung pembiayaan pembangunan Kota Bontang. Untuk tahun 2018 besarnya penerimaan dari pos Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya diperkirakan tidak mengalami mengalami perubahan atau sama dengan target pada sebesar Rp. 5.750.000.000,00.

e. Pos penerimaan lain-lainnya untuk tahun perubahan 2018

Pos penerimaan lain-lainnya untuk tahun perubahan 2018 diestimasikan tetap sebesar Rp.50.000.000,00.

2.2.3 KEBIJAKAN UMUM BELANJA DAERAH

Belanja daerah disusun dengan pendekatan anggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Belanja daerah Tahun Anggaran 2018 dipergunakan untuk mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran. Belanja daerah terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung.

Pada tahun 2018 anggaran belanja daerah diproyeksikan sebesar Rp.1.045.575.791.600,00. Dibandingkan dengan alokasi anggaran tahun 2017 jumlah belanja daerah tersebut mengalami kenaikan sebesar Rp.124.923.741.463,00. Kenaikan besaran belanja ini merupakan penyesuaian terhadap rencana pendapatan tahun 2018 yang diproyeksikan lebih tinggi dibadingkan dengan penetapan tahun 2017. struktur belanja tahun 2018 selengkapnya tersaji seperti pada tabel berikut:

(21)

Tabel 2.5 Rencana Belanja Daerah Kota Bontang Tahun 2018

Uraian Penetapan Tahun 2017 Rencana

Tahun 2018

1. Belanja Tidak Langsung 336.698.105.792,00 354.071.409.081,00

1.1 Belanja Pegawai 310.620.431.030,00 332.640.309.081,00

1.2 Belanja Bunga 0,00 0,00

1.3 Belanja Subsidi 0,00 3.000.000.000,00

1.4 Belanja Hibah 14.447.674.762,00 10.000.000.000,00

1.5 Belanja Bantuan Sosial 1.000.000.000,00 1.000.000.000,00 1.6 Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/

Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa 0,00 5.931.100.000,00 1.7

Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota dan Pemerintahan Desa

475.000.000,00 475.000.000,00

1.8 Belanja Tak Terduga 10.155.000.000,00 1.500.000.000,00

2. Belanja Langsung 583.953.944.345,00 691.504.382.519,00

Jumlah 920.652.050.137,00 1.045.575.791.600,00

2.2.3.1 KEBIJAKAN BELANJA TIDAK LANGSUNG

Kebijakan alokasi anggaran pada kelompok Belanja Tidak Langsung pada tahun 2018 hanya meliputi Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bantuan Keuangan kepada Partai Politik, dan Belanja Tak Terduga. Sedangkan belanja bunga, subsidi, dan belanja bagi hasil tidak dialokasikan, dengan penjelasan sebagai berikut ini:

a. Belanja Pegawai

Belanja pegawai pada kelompok belanja tidak langsung dialokasikan sebesar Rp. 332.640.309.081,00 dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Penganggaran gaji dan tunjangan PNSD Pemerintah Kota Bontang (tidak termasuk fungsional guru dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan menengah) dihitung untuk kebutuhan satu tahun berdasarkan pada realisasi Gaji PNSD bulan Juni Tahun 2018, kemudian ditambahkan acress sebesar 2,5% dari jumlah belanja pegawai untuk gaji pokok dan tunjangan, sebagai antisipasi untuk kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat, tambahan tunjangan keluarga dan mutasi pegawai serta ditambahkan untuk mengantisipasi pengangkatan CPNSD formasi Tahun 2018, perpindahan PNSD dari luar Pemda Kota Bontang, peningkatan status dari CPNSD TA 2015 (dengan asumsi alokasi Dana Alokasi Umum TA 2018 sama dengan TA 2017);

2. Penganggaran tambahan penghasilan pegawai dialokasikan dalam rangka peningkatan disiplin kerja, peningkatan kinerja dan peningkatan kesejahteraan Pegawai. (baik untuk pejabat struktural/fungsional); 3. Penganggaran uang makan pegawai dialokasikan untuk PNSD / CPNSD

sesuai dengan peraturan Walikota Bontang.

4. Penganggaran BPJS Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian sesuai Peraturan Pemerintah yang berlaku.

5. Tambahan penghasilan berdasarkan pertimbangan objektif lainnya dialokasikan untuk setiap pengelola keuangan di SKPD. Dimana pelaksanaannya diatur dalam peraturan Walikota Bontang.

6. Insentif Pemungutan Pajak Daerah dialokasikan sesuai peraturan yang berlaku.

(22)

7. Penganggaran penghasilan dan penerimaan lain untuk pimpinan dan anggota DPRD serta belanja penunjang kegiatan didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2007. Penganggaran tersebut juga didasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 21 Tahun 2007 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah Penganggaran dan Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif dan Dana Operasional; 8. Penganggaran belanja Walikota dan Wakil Walikota didasarkan

pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Untuk besaran belanja penunjang operasional Walikota dan Wakil Walikota ditetapkan berdasarkan klasifikasi Pendapatan Asli Daerah.

b. Belanja Subsidi

Belanja Subsidi dialokasikan sebesar Rp. 3.000.000.000,00 yang akan digunakan untuk subsidi air minum masyarakat miskin.

c. Belanja Hibah

Belanja hibah dialokasikan sebesar Rp 10.000.000.000,00 yang akan digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah kepada masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan diberikan secara selektif dengan keputusan kepala daerah.

d. Belanja Bantuan Sosial

Belanja bantuan sosial dialokasikan sebesar Rp. 1.000.000.000,00 yang akan digunakan untuk menganggarkan belanja bantuan sosial kepada masyarakat. e. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota,

Pemerintahahan Desa, dan Partai Politik

Belanja bantuan keuangan kepada partai politik dialokasikan sebesar Rp.5.931.100.000,00,00 yang akan digunakan untuk memberi bantuan keuangan kepada partai politik yang mendapatkan kursi di DPRD Kota Bontang dan Bantuan keuangan untuk diberikan kepada guru SMA/SMK yang diambil alih oleh Provinsi Kalimantan Timur.

f. Belanja Tidak Terduga

Belanja tidak terduga dialokasikan sebesar Rp. 1.500.000.000,00 yang digunakan untuk untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.

2.2.3.2 KEBIJAKAN BELANJA LANGSUNG

Pada tahun 2018 anggaran belanja daerah diproyeksikan sebesar Rp1.045.575.791.600,00. Alokasi Belanja Langsung sebesar

Rp691.504.382.519,00 secara umum diarahkan untuk penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan dengan sasaran utama melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum. Belanja Langsung tahun 2018 diarahkan untuk memastikan pencapaian sasaran prioritas pembangunan sebagai berikut:

(23)

a. Memantapkan program bebas biaya pendidikan untuk sekolah negeri dan subsidi biaya pendidikan untuk sekolah swasta

b. Pemerataan kualitas penyelenggaraan pendidikan c. Peningkatan relevansi dan mutu pendidikan d. Peningkatan daya saing dan prestasi siswa

e. Pemerataan akses pelayanan kesehatan yang bermutu

f. Mengembangkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif g. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan rujukan

h. Peningkatan pencegahan penyakit menular dan wabah penyakit

i. Peningkatan kualitas bantuan dan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin

j. Penyediaan infrastruktur dasar bagi masyarakat miskin

k. Peningkatan akuntabilitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan l. Peningkatan disiplin aparatur

m. Peningkatan kualitas perencanaan dan pengendalian pelaksanaan pembangunan

n. Meningkatkan cakupan pengelolaan sanitasi

o. Peningkatan penyediaan rumah murah sederhana sehat bagi masyarakat p. Pengendalian pencemaran lingkungan

q. Peningkatan pengelolaan persampahan berbasis partisipasi masyarakat r. Penyiapan SDM berbasis keahlian bidang industri dan industri maritime s. Peningkatan kemudahan layanan perijinan dan insentif bagi tumbuhnya

investasi

t. Peningkatan kualitas dan kuantitas layanan infrastruktur dasar dan pengendalian banjir

u. Pembangunan infrastruktur jalan dalam mendukung potensi perkembangan Kota

v. Peningkatan layanan infrastruktur laut dan udara w. Penguatan layanan infrastruktur teknologi informasi.

Tabel 2.6 Prioritas Pembangunan Nasional, Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Bontang Tahun 2018

Prioritas Nasional Prioritas Pembangunan Provinsi

Kalimantan Timur

Prioritas Pembangunan RKPD Kota Bontang

Tahun 2018

1 Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia

1 Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan 1

Peningkatan kualitas Pendidikan untuk semua 2 Peningkatan kualitas pelayanan

kesehatan 2

Peningkatan pelayanan kesehatan berkualitas untuk semua 3 Percepatan pengentasan kemiskinan 3 Menurunkan pengangguran dan kemiskinan 2

Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar internasional

4 Peningkatan kesempatan kerja dan perluasan 5 Pengembangan ekonomi

kerakyatan

4

Daya saing ekonomi - Iklim Usaha dan Investasi - Infrastruktur Ekonomi 3

Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategi ekonomi domestik

6 Percepatan transformasi ekonomi 7 Pengembangan agrobisnis

4

Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan

8 Peningkatan produksi pangan

9 Peningkatan kualitas infrastruktur dasar

5

Peningkatan daya dukung infrastrutur dasar dan infrastruktur ekonomi daerah 6 Peningkatan Kualitas

Lingkungan Permukiman

5

Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberi rasa aman pada seluruh warga Negara

10 Reformasi birokrasi dan tata kelola

pemerintahan 7

Mewujudkan Pemerintahan

yang Responsif,

Transparan, Akuntabel dan Partisipatif

Gambar

Tabel 2.2. Perkiraan Pendapatan Daerah Kota Bontang Tahun 2018  Sumber Pendapatan Daerah  Perkiraan Pendapatan Tahun 2018
Tabel 2.3. Perbandingan Pendapatan Tahun 2017, Target RPJMD Tahun 2018 dan Perkiraan  Pendapatan Daerah Tahun 2018 Kota Bontang
Tabel 2.5 Rencana Belanja Daerah Kota Bontang Tahun 2018
Tabel 2.6  Prioritas Pembangunan Nasional, Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Bontang  Tahun 2018
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang dicapai adalah Tri hita Karana diimplementasikan secara nyata pada Desa Pakraman dengan wujud Kahyangan Tiga sebagai media hubungan manusia

Menurut Mayangsari (2003:6) disebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang auditor untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam

Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara luas ventilasi kamar tidur balita, kepadatan hunian kamar tidur balita, intensitas pencahayaan rumah,

Jenis penelitian yang digunakan adalah menggunakan penelitian tindakkan kelas (PTK) dengan dua siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan

(pemulihan) dan semua kegiatan sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat lalu mengenai tingkat kemajuan pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Karangayu

 bersangkutan mempunyai tug mempunyai tugas dan as dan tanggung tanggung jawab untuk jawab untuk melaksanakan melaksanakan tugas tugas Tim Code Blue (Tim Medis Emergensi) RS,

DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan darimana asal data dan kemana tujuan data yang keluar sistem, dimana data