• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap manusia dibekali kemampuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Potensi merupakan kemampuan seseorang untuk menghasilkan ide-ide atau informasi baru yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi diri. Menurut Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 1 disebutkan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan”. Berdasarkan undang-undang tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan seseorang untuk menunjang keberhasilan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga mampu menghadapi perubahan yang terjadi.

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar untuk mengembangkan potensi seseorang, sehingga negara berkewajiban memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu. Di Indonesia ada dua jenis penyelenggaraan pendidikan, yaitu pendidikan umum dan pendidikan khusus. Pasal 32 (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”. Pendidikan khusus pada dasarnya merupakan layanan khusus yang diberikan bagi anak berkebutuhan khusus sesuai dengan karakteristik masing-masing anak yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi sehingga mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan hidupnya secara mandiri.

(2)

Anak Tunanetra merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam daya penglihatan. Rogow dan Manson dalam Hadi (2007: 9) memberikan istilah ketunanetraan dengan Visual Impairment (kerusakan penglihatan). Dalam istilah tersebut digambarkan tentang jenis ketunanetraan yang meliputi buta (blind) dan kurang lihat (low vision). Buta digunakan untuk mendeskripsikan anak yang menggunakan perabaan dalam belajarnya, sedangkan kurang lihat untuk menyebut anak yang sebagian besar belajarnya menggunakan sisa penglihatan. Dalam perkembangannya, anak yang mengalami buta dan kurang lihat memiliki hambatan masing-masing. Pada anak yang mengalami buta perolehan informasi lebih bergantung pada indera lain yang masih berfungsi, sementara pada anak kurang lihat, sisa penglihatannya masih dapat digunakan untuk memperoleh informasi, sedangkan indera lain yang masih berfungsi untuk mendukung perolehan informasi tersebut.

Salah satu dampak yang ditimbulkan dari ketunanetraan baik buta maupun kurang lihat yaitu gangguan pada perkembangan kognitif. Kingsley dalam Hadi (2007:27) menyebutkan empat area pengembangan sebagai dampak kerusakan penglihatan, yaitu: sosial dan emosional, bahasa, kognitif, serta orientasi dan mobilitas. Perkembangan kognitif tidak hanya erat kaitannya dengan kecerdasan atau kemampuan inteligensi, tetapi juga dengan kemampuan indera penglihatan. Kosasih (2012:182) mengungkapkan bahwa pada anak tunanetra konsep-konsep tentang suatu objek menjadi tidak utuh. Terutama pada anak yang mengalami buta total. Ketidakutuhan tersebut penyebabnya adalah anak tidak memiliki kesan, persepsi, pengertian, ingatan dan pemahaman yang bersifat visual terhadap objek itu. Untuk dapat memahami informasi dan pengetahuan saat belajar anak tunanetra yang mengalami buta total bergantung pada pengalaman-pengalaman sensorinya yang diperoleh melalui indera lain yang masih berfungsi. Penelitian oleh Nolan dan Ashcroft dalam Hildayani (2009:8.7) menemukan bahwa anak dengan kerusakan visual menunjukkan performa yang buruk pada tugas yang membutuhkan pemikiran abstrak.

Anak tunanetra mendapatkan materi pembelajaran di sekolah salah satunya adalah Matematika. Mata pelajaran tersebut sebagian besar bersifat

(3)

abstrak. Pakasi dalam Purbaningtyas (2013:3) mengungkapkan bahwa “pada hakekatnya pengajaran berhitung merupakan suatu kemampuan berpikir abstrak, karena pada dasarnya berhitung merupakan hubungan antara relasi dua bilangan atau lebih”. Meskipun demikian, matematika penting untuk dikuasai anak tunanetra termasuk anak buta. Cockrof dalam Abdurrahman (2012:204) mengemukakan bahwa matematika perlu diajarkan karena (1) selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang. Berdasarkan pendapat tersebut, matematika perlu untuk diajarkan kepada siswa termasuk anak tunanetra total (buta) untuk mengatasi permasalahan sehari-hari seperti dalam kegiatan jual-beli, kegiatan pengukuran, menghitung jarak, dan lain sebagainya.

Penelitian oleh Minarti (2010:12) mengungkapkan bahwa “pada kenyataannya anak tunanetra memiliki kemampuan berhitung yang kurang baik”. Sebagian besar siswa tunanetra yang mengalami kesulitan saat mengikuti pembelajaran matematika salah satunya pada materi pecahan. Pecahan merupakan suatu bilangan untuk menyatakan banyaknya bilangan dari beberapa bagian bilangan yang telah dibagi sama rata. Pecahan terdiri dari pembilang yang menyatakan banyaknya bilangan utuh, dan penyebut menyatakan banyaknya bilangan yang dibagi sama rata. Data di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa khususnya tunanetra yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika terutama pada materi penjumlahan pecahan (Depdikbud 1999:8). Fenomena tersebut juga dialami oleh siswa tunanetra kelas IV di SLB A YKAB Surakarta. Para siswa khususnya yang menyandang buta total, mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika salah satunya pada materi penjumlahan pecahan.

Permasalahan yang dialami anak tunanetra total perlu dicarikan jalan keluarnya. Pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang akan

(4)

memberikan life skill yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari termasuk bagi anak tunanetra total. Salah satu cara untuk mencegah anak tunanetra total agar tidak mengalami kegagalan dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan adalah menggunakan alat peraga atau media yang sesuai dengan kebutuhan anak. Hal ini untuk menurunkan keabstrakan materi pelajaran sehingga anak mampu memahami materi yang diajarkan. Surran & Rizzo dalam Hildayani (2009: 8.9) mengungkapkan bahwa anak tunanetra memang harus diperkaya dengan stimulasi melalui sensori nonvisual. Penggunaan media diyakini bermanfaat untuk pembelajaran matematika, berdasarkan pernyataan Piaget dalam Hudoyono (1995:24) taraf berpikir anak usia 7-11 tahun adalah masih konkret operasional, artinya untuk memahami suatu konsep anak masih harus diberikan kegiatan yang berhubungan dengan benda nyata atau kejadian nyata yang dapat diterima akal mereka. Demikian pula Dienes dalam Hudoyono (1995:24) berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna hanya jika pertama-tama disajikan kepada peserta didik dalam bentuk konkret. Penggunaan media telah digunakan untuk menangani beberapa kesulitan anak tunanetra untuk mempelajari hal-hal yang bersifat abstrak salah satunya adalah blok pecahan.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Ismiati (2013:5) pada siswa kelas IV di SD Negeri 5 Jatisrono dalam upaya meningkatkan kemampuan menjumlahkan pecahan matematika menggunakan media blok pecahan menunjukkan adanya peningkatan perolehan hasil belajar, dari 13,89% siswa yang mendapat nilai di atas KKM pada siklus I, meningkat menjadi 77,78 pada siklus II, dan meningkat lagi menjadi 94,44% pada siklus III. Sariyanto (2013) membandingkan pengaruh penggunaan media blok pecahan dan realita terhadap pemahaman konsep pecahan bagi siswa kelas IV di SD Negeri Pilang 1 Masaran Sragen, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media blok pecahan lebih baik, dan akurat dibandingkan menggunakan media realita. Hal tersebut ditunjukkan dengan rata-rata nilai postes pada kelompok eksperimen 75,23 sedangkan kelompok kontrol 67,63 dan diperoleh hasil penghitungan uji-t dengan taraf signigfikan 5% yaitu thitung > ttabel (2,2049> 1,671). Sedangkan penelitian oleh Ulfah (2014) siswa kelas

(5)

III SDN Cakung Barat 04 Pagi, menunjukkan bahwa alat peraga blok pecahan dapat meningkatkan pemahaman siswa yaitu dari kemampuan mengerjakan soal LKS pada siklus I mencapai 49,4% dan pada siklus II mencapai 82,3%, selain itu juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam memahami pembelajaran matematika materi pecahan sederhana.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menggunakan media blok pecahan untuk mengatasi permasalahan belajar anak pada pembelajaran matematika materi pecahan, peneliti tertarik untuk menggunakan media blok pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan pecahan bagi anak tunanetra yang mengalami ketunaan secara total. Sehingga pemecahan masalah yang akan digunakan oleh peneliti dalam membantu anak tunanetra total dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan pecahan adalah melalui penggunaan media blok pecahan.

Media blok pecahan merupakan alat peraga yang terbuat dari kardus atau kertas berbentuk lingkaran yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk membantu guru menyampaikan mata pelajaran matematika materi pecahan. Media blok pecahan merupakan media konkret yang dapat mengkontruksikan hal bersifat abstrak seperti penjumlahan pecahan matematika. Penelitian oleh Margiyono (2009:12) menyatakan bahwa:

Blok pecahan telah memenuhi syarat sebagai alat peraga pendidikan yaitu (1) sesuai dengan konsep matematika; (2) dapat memperjelas konsep matematika, baik dalam bentuk real; (3) tahan lama; (4) bentuk dan warnanya menarik; (5) dari bahan yang aman bagi kesehatan siswa; (6) sederhana dan mudah dikelola; (7) ukurannya sesuai dan seimbang dengan ukuran fisik siswa; (8) dapat dimanipulasi; dan (9) bermanfaat.

Mengingat anak tunanetra memiliki hambatan dalam penglihatannya, diharapkan penggunaan media yang dapat diraba secara langsung dapat membantu mengatasi permasalahan anak tunanetra total dalam mengkontruksikan keabstrakan materi pecahan menjadi hal yang mudah dipahamai dan bersifat konkret sehingga hasil belajar matematika materi penjumlahan pecahan dapat meningkat.

(6)

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan judul “Efektivitas Media Blok Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Penjumlahan Pecahan Siswa Tunanetra Kelas IV SLB A YKAB Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016”.

B. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang muncul pada anak Tunanetra dalam mempelajari matematika materi penjumlahan pecahan di sekolah anatara lain:

1. Anak tunanetra mengalami hambatan dalam daya penglihatan

2. Adanya hambatan dalam penglihatan, mengakibatkan anak tunanetra mengalami gangguan dalam aspek sosial-emosional, bahasa, kognitif, dan orientasi-mobilitas

3. Penguasaan konsep terhadap suatu objek yang bersifat visual menjadi tidak utuh, sebab anak tunanetra tidak memiliki kesan, persepsi, pengertian, ingatan, dan pemahaman yang bersifat visual.

4. Kerusakan visual menyebabkan anak tunanetra kesulitan untuk berpikir abstrak, sehingga untuk memperoleh informasi bergantung pada indera lain yang masih bisa berfungsi.

5. Anak tunanetra mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran yang bersifat abstrak salah satunya adalah matematika materi penjumlahan pecahan, sehingga hasil belajarnya belum optimal

6. Banyak anak tunanetra yang mengalami kegagalan dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan, sehingga diperlukan pembelajaran melalui prinsip kekonkretan melalui alat peraga atau media yang mendukung dan relevan.

(7)

C. Pembatasan Masalah

Agar pengkajian masalah dalam penelitian ini menjadi lebih terfokus dan terarah maka perlu diadakan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam hal ini yaitu:

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah dua siswa tunanetra kelas IV di SLB A YKAB Surakarta tahun ajaran 2015/2016

2. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah:

a. Penelitian ini difokuskan pada efektivitas media blok pecahan dalam pembelajaran matematika pokok bahasan penjumlahan pecahan siswa tunanetra di kelas IV SLB A YKAB Surakarta tahun ajaran 2015/2016 b. Kemampuan yang akan ditingkatkan adalah hasil belajar matematika

materi penjumlahan pecahan siswa tunanetra kelas IV di SLB A YKAB Surakarta tahun ajaran 2015/2016.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah media blok pecahan efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan pecahan siswa tunanetra kelas IV di SLB A YKAB Surakarta tahun ajaran 2015/2016?”

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan penelitian yang disampaikan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media blok pecahan dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi penjumlahan pada siswa tunanetra kelas IV di SLB A YKAB Surakarta tahun 2015/2016.

(8)

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian dalam penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan mengenai pembuatan dan pengunaan media blok pecahan dalam konteks pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan bagi siswa tunanetra.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih variatif bagi siswa tunanetra dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan menggunakan media blok pecahan.

b. Bagi Guru

Menambah alternatif media yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan bagi siswa tunanetra.

c. Bagi peneliti

Mendapat pengalaman melakukan pembelajaran menggunakan media blok pecahan yang dikaitkan dengan hasil belajar siswa tunanetra pada mata pelajaran matematika materi penjumlahan pecahan kelas IV di SLB A YKAB Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.

Referensi

Dokumen terkait

To me, leading a remarkable career is the best way I know to kick start that same desire for leading a remarkable life—one where you don’t just become a better and more valuable

Berdasarkan dari definisi-deifinisi di atas dapat diketahui bahwa maksud dari penelitian penulis ialah ketentuan hukum tentang aborsi yang diakibatkan oleh

Undang-undang no 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. Undang-undang No 23 tahun 2014 tentang

Dalam penulisan Tugas Akhir ini memang jauh dari kata sempurna, akan tetapi penulis berusaha untuk menyajikan informasi yang sebenar mungkin dan sejelas

Penulis harap dengan adanya penulisan ilmiah tentang homepage Dunia Kopi dengan program Microsoft FrontPage2000 ini dapat membantu para pencinta kopi untuk mendapatkan semua

Pada tanggal 7 Mac 2010 telah berlangsung 1 pertandingan ‘ 1 Malaysia Paperplane Fun Contest 2010” anjuran Cworks System Berhad bertempat di Universiti Putra Malaysia,Serdang

Hasil penelitian ini adalah: (1) konsep diri para siswa kelas XI SMA Stella Duce 1 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 adalah: 60 siswa (58%) memiliki konsep diri positif dan 44

[r]