35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan
4.1.1. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)
Pada bagian ini, peneliti akan menguraikan tiga sub pembahasan dari hasil penelitian yaitu Pra Siklus/ Kondisi Awal, Deskripsi Siklus I dan Deskripsi Siklus II. Berdasarkan hasil evaluasi pra siklus atau kondisi awal siswa kelas 4 SD Kristen 03 Eben Haezer salatiga pada matapelajaran PKn Tematik pahlawanku kebanggaku diperoleh hasil belajar mereka dalam berpikir kritis masih ada beberapa peserta didik yang nilainya dibawah KKM (70) berpikir kristis belum terlihat. Hal ini terlihat pada tabel hasil penelitian pada bagian lampiran Tugas Akhir, dari jumlah 23 peserta didik yang tuntas 12 dan tidak tuntas 10. Untuk lebih jelas kita lihat hasil analisis berpikir kritis peserta didik dari pra siklus hingga siklus 2 pada tabel dan diagram.
Tabel 4.1.1
Analisis hasil berpikir kritis Pra Siklus
No Skor Keterangan Frekuensi Presentase
1 5-8 Sangat Redah 1 4,34% 2 9-12 Rendah 4 17,39% 3 13-16 Cukup 6 26,08% 4 17-20 Tinggi 11 47,82% 5 21-25 Sangat Tinggi 1 4,34% Jumlah 23 100%
36
Diagram 4.1 Pra Siklus
Dari tabel dan diagram diatas peserta didik yang tuntas dalam berpikir kritis masih terbilang kurang atau masih rendah. Terlihat dari presentasi siswa yang tuntas hanya 4,34% sedangkan anak yang tidak dapat mencapai ada 47,82%. Berdasarkan analisa diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas 4 SD Kristen 03 Eben Haezer pada mata pelajaran PKn Tematik masih rendah dalam berpikir kritisnya.Oleh karena itu untuk mengatasi kondisi itu kami sebagai peneliti mengambil langkah tindakan kelas atau PTK.
Tabel. 4.1.2
Analisis Hasil Belajar Pra Siklus
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Tuntas ≥ 70 12 51% 2 Tidak Tuntas < 70 11 49% Jumlah 23 100 47,82% Tidak Tuntas 4.34% Tuntas
Diagram
Tidak Tuntas Tuntas37 4.1.2. Deskripsi Siklus I
Siklus I ini membahas tentang tahap perencanaan, Pelaksaan Tindakan, observasi dan Refleksi.
4.1.2.1. Tahap Perencanaan Siklus I
Pada tahap ini akan dijelaskan tentang proses perencanaan yang akan dilakukan oleh peneliti dan guru, sebelum melaksanakan tindakan kelas dengan menggunakan model jigsaw untuk meningkatkan Berpikir Kritis peserta didik dengan media yang digunakan, meliputi penyusunan RPP, perlengkapan mengajar, perencanaan soal evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik diakhir siklus I. Perencanaan Siklus I ini akan dilaksanakan pada minggu ketiga Bulan November.
Sebelum melaksanakaan kegiatan siklus I, peneliti terlebih dahulu menyiapakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Model Pembelajaran Jigsaw dan Rubrik Berpikir Kritis, alat peraga yang digunakan, proses pembentukkan kelompok, daftar hadir peserta didik.
4.1.2.2. Tahap Pelaksanaan Siklus I 1. Pertemuan ke 1
Proses Penelitian Tindakan kelas diadakan pada tanggal 23 November 2018. Siklus 1 Pertemuan 1, dimana pada pendahuluan pembelajaran guru menyapa peserta didk serta mengucapkan salam dan menanyakan kabar peserta didik.Sambil menanyakan kabar peserta didik guru memeriksa kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dan melakukan presensi untuk mengecek kehadiran peserta didik.Guru menjelaskan peraturan di dalam kelas.Guru melakukan apersepsi dan bertanya tentang materi Pahlawanku Kebanggaanku kepada peserta didik. Setelah melakukan apersepsi guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus di capai selama proses pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang pembagian tim belajar. Peserta didik akandibagi dalam tim jigsaw. Guru memberikanrangsangan kepada peserta didik terlebih dahulu melalui gambar. Selanjutnya guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik, untuk melihat kemampuan berpikir kritis peserta didik. Guru menjelaskan materi pembelajaran tentang “sikap dan Makna Sila Kelima” yang akan dibahas dalam proses pembelajaran.Peserta
38
didik di bagi dalam kelompok jigsaw yang terdiri 4-5 orang didalam satu kelompok diskusi.
Setelah pertemuan 1 siswa diberikan informasi bahwa kegiatan pembelajaran ini akan berlangsung selama 3kali pertemuan dalam siklus 1.Pertemuan pertama tentang Pahlawanku Kebanggaanku.Pertemuan kedua tentang Sikap dan Makna Sila Kelima dalam kelompok diskusi Jigsaw. Pertemuan ketiga yaitu evaluasi untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik pada siklus 1. Siklus I berjalan dengan lancar walaupun masih ada peserta didik yang mengikuti pembelajaran tidak fokus.
2. Pertemuanke II
.Siklus 1 pertemuan ke 2 ini merupakan lanjutan pertemuan pertama, guru memberikan salam dan manyakan keadaan peserta didik, guru memberikan peraturan di kelas, guru memberikan apersepsi, guru meriview pelajaran sebelumnya yang akan berkaitan dengan kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua ini. Guru menjelaskkan materi sikap dan makna sila kelima untuk membantu peserta untuk meningat kembali materi pembelajaran yang akan di diskusikan dalam tim jigsaw. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok jigsaw yang sudah dibentuk. Guru sebegai fasilitator, kegiatan belajar jigsaw menarik karena peserta didik mampu menunjukkan sikap percaya diri dalam belajar kelompok, walaupun sedikit yang aktif tetapi berpikir kritis peserta didik terlihat dalam diskusi. Pada akhir pembelajaran dilakukan refleksi dan hasilnya siswa senang dengan pembelajaran PKn Tematik dengan kelompok kooperatif. Pertemuan kedua semakin meningkat dalam pembelajaran, mereka mulai mandiri, lebih berani untuk tampil dan tumbuh jiwa kepemimpinannya serta lebih bersemangat dalam menyelesaikan tugas.
3. Pertemuan ke III
Siklus 1 pertemuan ke 3, guru memberikan salam dan menanyakan keadaan peserta didik, guru memberikan apersepsi, guru mengajak peserta didik untuk menyanyi bersama. Guru melakukan persensi untuk melihat kehadiran peserta didik. Pertemuan ke tiga ini hanya mengerjakan tugas Evaluasi untuk mengukur kemampuan berpikir kritis hanya dilakukan sekali pada akhir siklus I, dan nilai hasil evaluasi ada padalampiran, hasilnya lebih meningkat dibanding nilai pra siklus. Peningkatannya nilai dapat kita lihat pada tabel 2 dan diagram 2.
39 4.1.2.3. Tahap Observasi Siklus I
Peneliti menemukan beberapa temuan pada siklus I tentang perilaku siswa yang kurang mendukung pembelajaran Cooperative Learning yaitu sebagai berikut:
1) Masih ada siswa yang bermain-main atau bercakap-cakap dengan teman pada waktu teman menyampaikan hasil diskusi.
2) Siswa sebagian belum berani untuk tampil ke depan kelas.
3) Pada waktu teman kelompok melaporkan hasil diskusi, masih ada yang ribut dan belum bisa tertib.
4) Pembelajaran masih metode ceramah, sehingga masih sedikit terkesan sistem pembelajaran konvensional, namun menurut hasil observasinya ada peningkatan dalam hasil observasinya ada peningkatan dalam memotivasi.
Berdasarkan data dari hasil observasi dan pengamatan pada siklus I terhadap kegiatan siswa yang masih kurang berperan aktif dalam kegiatan pembelajarannya.Upaya untuk memperbaikinya supaya lebih mengefektifkan pembelajaran Cooperative Learning model jigsaw, maka dilanjutkan pada siklus dua.
4.1.2.4. Tahap Refleksi
Hasil belajar siswa meningkat, tetapi belum sepenuhnya dalam hal berpikir kritisnya harus ditingkatkan lagi. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran lebih menyenangkan dan siswa aktif dalam pembelajaran dengan bantuan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Kegiatan Refleksi dilakukan dengan peserta didik menggunakan lembar refleksi yang melihat sejauhmana siswa menyukai materi pembelajaran dengan model yang sudah diterapkan untuk meningkatkan berpikir kritisakan tetapi masih ada temuan yang kurang mendukung dalam mencapai tujuan belajar karena siswa masih banyak yang rendah dalam berpikir kritis, dengan demikian harus di lanjutkan ketahap selanjutnya yaitu siklus II.
40 4.1.3. Deskripsi Siklus II
Pada Siklus II untuk melanjutkan dari siklus I dalam tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap obeservasi dan refleksi. Pelaksaan siklus II ini adalah kelanjutan dari siklus I dalam rangka memperbaikan proses pembelajaran yang terjadi pada siklus I.
4.1.3.1. Tahap Perencanaaan Siklus II
Pada tahap perencanaan siklus II ini, peneliti dan guru mengadakan pertemuan terlebih dahulu tentang bagaimana proses selanjutnya dalam penerapan model pembelajaran jigsaw dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik. Proses yang harus disiapkan dalam pembelajaran dalam siklus II ini dalah RPP, media pembelajaran yang membantu dalam proses mengajar, serta soal evaluasi yang digunakan untuk mengukur berpikir Kritis peserta didik diakhir siklus II.
Pertemuan siklus II ini berlangsung pada bulan November minggu ketigayang berlangsung selama 2jam pembelajaran. untuk melaksaankan siklus II peneliti menyiapkan (RPP) Rencana pelaksaan Pembelajaran yang didalam RPP tersebut sudah di masukin model Pembelajaran Jigsaw yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
4.1.3.2. Pelaksanaan Siklus II a. Pertemuan 1
Penelitian tindakan kelas Pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 24 November 2018. Proses pendahuluan guru memberikan salam dan menanyakan kabar peserta didik, guru mengajak peserta didik untuk menyanyi bersama-sama, guru memberikan peraturan didalam kelas, guru melakukan apersepsi dan guru melakukan presensi. Kegiatan inti peserta didik guru memberikan pertanyaan tentang gambar yang di tunjukkan.Guru membagi siswa 4-5 orang dalam tim jigsaw, guru dan peserta didik melakukan tanya jawab untuk mengukur sejauh mana pemahan peserta didik tentang materi yang dibahas. Guru menjelaskan materi tentang subthema 2 pahlawanku Kebanggaanku Pembelajaran 4. Peserta didik mendengarkan informasi tentang pertemuan selanjutnya, pertemuan pertama mendengar materi dan melakukan tanya jawab sekilas materi, pertemuan kedua melakukan diskusi kelompok jigsaw dan pertemuan ketiga melakukan evaluasi siklus 2.
41 b. Pertemuan ke II
Tahap pelaksanaan pertemuan kedua pembelajaran dibuka dengan memberikan salam, menanyakan bagaimana kabar peserta didik, lalu membuka pembelajaran dengan mengajak berdoa bersama berdasarkan keyakinan masing-masing, selanjutnya memberikan aturan didalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung, atauran ini berfungsi untuk peserta didik bisa fokus belajar dan tidak terganggu sama peserta didik lainnya, dalam hal bertanya, menjawab, ijin ke toilet serta jangan ribut saat kegiatan proses belajar mengajar berlangsung, memberikan apersepsi tujuannya untuk memancing cara berpikir peserta didik untuk lebih tertuju pada materi pembelajaran yang akan berlangsung serta berkaitan dengan materi yang akan datang. Peserta didik lebih banyak berperan aktif dalam belajar serta membentuk kelomok jigsaw.Peserta didik saling membantu dalam kerja kelompok, dan mempersentasikan hasil kerja kelompok mereka serta saling mengoreksi antar kelompok jigsaw.
c. Pertemuan ke III
Siklus 2 pertemuan ketiga ini guru menyapa peserta didik dan memberi salam melakukan evaluasi yang diberikan uji kemandiriannya dalam berpikir kritis melalui soal-soalnya yang diberikan.Hasil evaluasi pada pertemuan ke 3 sangat baik dan mengalami peningkatan besar secara signifikan, dan nilainya lebih meningkat dari pra siklus dan siklus I dengan demikian penerapan model jigsaw dalam meningkatkan berpikir kristis sangat efektif digunakan, tertera sebagai berikut hasil evaluasi pada Tabel 3 dan diagram 3.
4.1.3.3. Tahap Observasi
Pada tahap obesrvasi siklus II ini peneliti menemukan perubahan besar pada Peserta didik lebih terkontrol dengan baik, lebih terlihat cooperative learning dalam setiap tugas yang diberikan.
1. Peserta didik tidak lagi pasif, lebih aktif dalam belajar.
2. Peserta didik lebih berani dalam menjawab pertanyaan serta bertanya dan bekerjasama dalam belajar.
3. Peserta didik berani Presentasi hasil diskusi.
4. Peserta didik terlibat aktif dalam kerja kelompok, dengan demikian penerapan jigsaw sangat membantu dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didi
42 4.1.3.4. Tahap Refleksi
Peneliti menggunakan refleksi ini berupa gambar yang harus di warnai peserta didik dari warna tersebut itu menjadi refleksi buat peneliti apakah selama pembelajaran berlangsung siswa sudah mengerti dan pahami melalui penerapan yang diberikan. Jika peserta didik mewarnai gambar senyum maka peserta didik senang dengan pelajaran yang diterima serta mengerti tetapi jiga peserta didik mewarnai gambar sedih maka peneliti tahu bahwa peserta didik tidak mengerti tentang pelajaran yang berlangsung serta tidak paham apa yang dijelaskan. Selama siklus ini berlangsung peserta didik mengikuti dari awal hingga akhri pembelajaran dengan baik sehingga saat mengisi lembar refleksi peserta didik mewarnai semua gambar senyum dengan demikian peneliti mengetahui bahwa penerapan model jigsaw sangat baik dalam meningkatkan berpikir kritis peserta didik.
4.2. Hasil Analisi Data
4.2.1. Hasil Analisis Data Berpikir Kritis a. Data Berpikir Kritis Pra Siklus
Tabel 4.2.1
Analisis hasil berpikir kritis Pra Siklus
No. Skor Keterangan Frekuensi Persentase (%)
1. 5-8 Sangat Redah 0 0% 2. 9-12 Rendah 0 0% 3. 13-16 Cukup 4 17,39% 4. 17-20 Tinggi 16 69,56% 5. 21-25 Sangat Tinggi 3 13,04% Jumlah 23 100%
Pada tabel analisis berpikir Kritis pra siklus peserta didik masih, terbilang rendah 47,82 % sedangkan nilai tertinggi hanya 52,17% demikian maka peneliti melakukan proses Tindakan Kelas yang bertujuan untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik.
43
Diagram 4.2.1 PRA SIKLUS
Dari tabel dan diagram diatas peserta didik yang tuntas dalam berpikir kritis masih terbilang kurang atau masih rendah. Terlihat dari presentasi siswa yang tuntas hanya 4,34% sedangkan anak yang tidak dapat mencapai ada 47,82%. Berdasarkan analisa diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas 4 SD Kristen 03 Eben Haezer pada mata pelajaran PKn Tematik masih rendah dalam berpikir kritisnya.Oleh karena itu untuk mengatasi kondisi itu kami sebagai peneliti mengambil langkah tindakan kelas atau PTK.
b. Data Berpikir Kritis Siklus I
Tabel 4.2.2
Analisa hasil Berpikir Kritis (Siklus I)
No. Skor Keterangan Frekuensi Presentase (%)
1 5-8 Sangat Rendah 0 0% 2 9-12 Rendah 0 0% 3 13-16 Cukup 4 17,39% 4 17-20 Tinggi 16 69,56% 5 21-25 Sangat Tinggi 3 13,04% Jumlah 23 100% 47,82% Tidak Tuntas 4.34% Tuntas
Diagram
Tidak Tuntas Tuntas44
Pada analisa berpikir kritis terlihat, peserta didik belum mencapai angka ketuntasan dalam berpikir kritis, masih terlihat, kalau terlihat dalam bentuk diagaram ketutasan berpikir kritis masih rendah.
Diagram 4.2.2 SIKLUS 1
Dari hasil analisa dapat menunjukkan bahwa siswa yang mendapat nilai terendah ada 4 anak dan nilai tertinggi ada 3 anak dan yang mendapat nilai tinggi ada 16 anak, sedangkan rosentasi pencapaian KKM meningkat menjadi 69,56%. Yakni dari 17,39 % menjadi 64,70% ada peningkatan 47,05%, akan tetapi nilai rata-ratanya masih dibawah KKM yaitu 62,05
Berdasakan hasil belajar pada siklus ini dapat kita simpulkan bahwa nilai rata-rata siswa belum tuntas dalam hal berpikir Kritis dan harus dilanjutkan ke siklus berikutnya.
c. Data Berpikir Kritis Siklus II
Tabel 4.2.3
Analisis hasil Berpikir Kritis (Siklus II) No Skor Ketrangan Frekuensi Persentase %
1 5-8 Sangat Rendah 0 0 2 9-12 Rendah 0 0 3 13-16 Cukup 2 8,69% 4 17-20 Tinggi 11 56,52 % 5 21-25 Sangat Tinggi 10 47,82 % Jumlah 23 100% 17,39% Tidak Tuntas 13% Tuntas
Diagram
Tidak Tuntas Tuntas45
Pada siklus II ini peserta didik dalam hal berpikir kritis mempunyai peningkatan yang baik karena peserta didik mempunyai angka persentase yang baik, terlihat dalam nilai Tinggi 11 orang 56,52% dan Nilai sangat Tinggi 47,82% sedangkan nilai rendah hanya 2 orang 8,69%
Diagram 4.2.3 SIKLUS 11
4.2.2. Hasil Analisis Data Komparasi Berpikir Kritis
Pada analisis data komperasi ini peneliti menguraikan perbandingan berpikir kritis Pelajaran PKn SD Kristen 03 Eben Haezer pada kondisi yang terjadi pada pada setiap siklus yang berlangsung.Pada kondisi Pra siklus, Siklus I, Siklus II, sehingga dapat diketahui ada sebuah proses Peningkatan yang terjadi Sebelum Penelitian Tindakan dan sesudah Penelitian Tindakan Berpikir Kritis dari Pra siklus, siklus I, Siklus II, dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4.2.4
Hasil Komparasi Perbandingan Berpikir Kritis
Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Kondisi Awal Siklus I Siklus II
F Persentase % F Persentase % F Persentase % 12 52,17% 4 17,39 % 2 8,69% 11 47,82% 19 82,04 % 21 99 % 23 100% 23 100% 23 100% 14%Tidak Tuntas 86% Tuntas
Diagram
Tidak Tuntas Tuntas46
Berdasarkan tabel diatas dapat kita melihat terjadi perbandingan yang signifikan pada setiap siklusnya, ini berarti ada peningkatan setiap siklusnya yang berarti model yang digunakan baik untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik.
4.2.3. Data Hasil Belajar a. Pra Siklus
Tabel 4.2.7
Analisis Hasil Belajar Pra Siklus
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Tuntas ≥ 70 12 51%
2 Tidak Tuntas < 70 11 49%
Jumlah 23 100
Pada tabel analisis hasil belajar, pra siklus (kondisi awal) hasil belajar peserta didik, masih terbilang kurang, karena hasil tes yang di dapat ketuntasan belajar hanya 12 orang dalam bentuk persentase 51%, sedangkan tidak tutas 11 atau dipersentasekan hanya 49%, maka peneliti mengambil langkah untuk melakukan PTK, untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam belajar.
b. Data Hasil Belajar Siklus I
Tabel 4.2.8
Analisis Hasil Belajar Siklus I
No Kategori Frekuensi Persentase %
1 Tuntas ≥ 70 19 82,60%
2 Tidak Tuntas < 70 4 17,39%
Jumlah 23 100%
Tabel analisis hasil belajar siklus I masih terbilang kurang karena masih ada 4 atau 17,39% peserta didik yang nilainya rendah dalam hasil belajar, sedangkan yang tuntas 19 atau 82,60%, dengan demikian harus ada pelanjutan siklus untuk meningkatkan belajar siswa pada tahap selanjutnya.
47 c. Data Hasil Belajar Siklus II
Tabel 4.2.9
Analisis Hasil Belajar Siklus II No
Kategori Frekuensi Persentase
1 Tuntas ≥ 70 21 91,30%
2 Tidak Tuntas <70 2 8,69%
Jumlah 23 100
Analisis belajar pada siklus II mengalami perubahan besar, karena peserta didik yang tuntas 21 orang atau 19,30% sedangkan tidak tuntas hanya 2 orang atau dalam persentase 8,69% sekian, dengan demikian penerapan model jigsaw sangat baik untuk digunakan.
4.2.4. Hasil Analisis Data Komparasi Hasil Belajar
Pada analisis data komperasi ini peneliti menguraikan perbandingan Hasil Belajar Pelajaran PKn Kelas IV SD Kristen 03 Eben Haezer pada kondisi yang terjadi pada setiap siklus yang berlangsung. Pada kondisi Pra siklus, Siklus I, Siklus II, sehingga dapat diketahui ada sebuah proses Peningkatan yang terjadi Sebelum Penelitian Tindakan dan sesudah Penelitian Tindakan Hasil Belajar dari Pra siklus, siklus I, Siklus II, dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4.2.10
Hasil Komparasi Perbandingan Hasil Belajar
Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
No Ketuntasan Belajar
KKM Pra Siklus Siklus I Siklus II
F % F % F % 1 Tuntas ≥ 70 12 51 % 19 82,60 % 21 91,30% 2 Tidak Tuntas < 70 11 49 % 4 17,39% 2 8,69 % Total 23 23 100% 23 100% 23 100% Rata-Rata 47,82 % 69,56 % 82,60 % Nilai Tertinggi 17 20 25 Nilai Terendah 5 13 16
48
Hasil komperasi dari kentuntasan Belajar peserta didik terlihat di atas, dengan mengalami perubahan setiap siklus, dengan demikian maka, penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan berpikir kritis sangat baik digunakan.
4.3. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran jigsaw berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD. Dalam penelitian peningkatan yang terjadi disebabkan oleh kelebihan dari model kooeperatif tipe jigsaw, yang meliputi: (1) Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam kelompok, (2) Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah, (3) Menerapkan bimbingan sesama teman, (4) Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi, (5)Memperbaiki kehadiran, (6) Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar, (7) Sikap apatis berkurang, (8) Pemahaman materi lebih mendalam, (9) Meningkatkan motivasi belajar, (10) Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif, (11) Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompok, (12) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan kelompok lain, (13) Setiap siswa saling mengisi satu sama lain.
Hasil penelitian ini mendukung hasil milik Tri Makarti (2012), Aminam (2014), Tiningsih (2016), Bawe (2015), Kalsum(2013), Zainal (2013) dimana semua hasil penelitian tersebut menyimpulakn bahwa model kooperatif tipe jigsaw berhasil meningkatkan hasil belajar siswa dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan.
Adapun kelebihan dari penelitian ini adalah dari segi variabel yang ditingkatkan. Jika penelitian ini berfokus pada peningkatan berpikir kritis siswa, dimana dampak pengiringnya adalah terjadi peningkatan dari segi hasil belajar siswa.
Peneliti menyadari masih banyak kekurangan ataupun keterbatasan dari penelitian yang dilakukan salah satunya adalah keterbatasan dari segi materi yang dikembangkan, materi yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SD, sehungga materi yang dikembangkan adalah tematik SD.