• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II LANDASAN TEORI

A. CELEBRITY WORSHIP 1. Definisi Celebrity Worship

Menyukai selebriti sebagai idola atau model adalah bagian normal dari perkembangan identitas di masa kecil dan remaja (Greene dan Adams-price, 1990; Raviv et al, 1996;. Yue dan Cheung, 2000), tetapi di luar bentuk interaksi parasosial adalah fenomena yang tampaknya normal dimana orang-orang dengan identitas utuh diasumsikan menjadi hampir terobsesi dengan satu atau lebih selebriti. Jenis perilaku obsesif seperti ini dikenal sebagai celebrity worship. (Maltby, 2000)

Celebrity worship secara luas diartikan sebagai senang dengan selebriti atau idola tertentu yang mempengaruhi kehidupan fans dan dapat digambarkan sebagai obsesif terhadap sesuatu. Individu membentuk hubungan dengan selebriti mungkin berguna untuk mengeksplorasi hubungan antara selebriti dalam hal apapun, celebrity worship digambarkan sebagai hubungan parasosial (hubungan satu sisi) di mana seorang individu tahu yang lain, tetapi lainnya tidak. (Maltby, 2000)

Definisi celebrity worship yang digunakan dalam penelitian ini adalah perasaan menyukai dalam bentuk perilaku obsesif dari individu dengan satu atau lebih selebriti yang digambarkan sebagai hubungan parasosial (hubungan satu sisi) pada individu tersebut.

(2)

2. Faktor yang berhubungan dengan celebrity worship

a. Umur : puncak celebrity worship berada di antara umur 11 tahun hingga 17 tahun dan semakin berkurang setelah umur tersebut.

b. Pendidikan : celebrity worship biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat inteligensi yang rendah. Orang-orang dengan tingkat inteligensi yang tinggi bisa melihat melalui „kepribadian yang dikagumi‟. Atau orang-orang yang inteligensinya tinggi melihat bahwa idola kurang cerdas dibandingkan diri mereka, dan karena itu mereka lebih sedikit mengaguminya.

c. Keterampilan sosial: orang-orang dengan keterampilan sosial yang buruk melihat bahwa celebrity worship merupakan pengisi kekosongan yang terjadi dalam hubungan yang nyata.

d. Jenis kelamin: laki-laki menyukai idola dalam bidang olahraga, sedangkan perempuan cenderung menyukai idola dari dunia hiburan. Namun, perempuan tidak lebih memungkinkan menganggap perilaku menyukai idola sebagai suatu yang intens dibandingkan laki-laki. e. Ras/etnis: orang kulit hitam di Amerika lebih mungkin menyukai idola

kulit hitam dibandingkan dengan idola kulit putih begitu juga sebaliknya orang kulit putih Amerika lebih cenderung untuk menyukai idola kulit putih dibandingkan idola kulit hitam.

3. Tujuan Celebrity Worship

Tujuan beberapa individu melakukan celebrity worship dapat dijelaskan dengan enam teori. Tetapi, dua teori utama yang menjelaskan mengenai hal ini

(3)

yang pertama adalah teori kepribadian dan teori kelekatan (Attachment). (Maltby et al, 2003)

a. Personality theory

1) Entertainment-social : extroversion (bersosialisasi, mencari sensasi, sifat riang dan optimis)

2) Intense-personal : berhubungan dengan neuroticism (cemas, khawatir, dan sifat murung)

3) Borderline-pathological : prychoticism (solidaritas, merepotkan, kejam dan sifat tidak manusiawi)

Maltby (2006) menganggap juga bahwa tahap Intense-personal sebagai fantasy proneness dan Borderline pathological sebagai fantasy proneness dan dissociation (hilangnya rasa mengenai diri sendiri). b. Attachment theory : karena hubungan parasosial lebih sering terjadi

pada remaja dibandingkan tahap usia selanjutnya, giles dan maltby (2004) telah mengusulkan teori kelekatan pada celebrity worship. Seperti kita ketahui dari psikologi perkembangan, ada bukti kuat bahwa keterikatan pada anak usia dini merupakan prediksi yang baik hubungan dewasa nanti.

Giles dan Maltby berpendapat bahwa anak-anak dengan kelekatan yang tidak aman akan membentuk hubungan parasocial dengan selebriti, karena ini tidak melibatkan resiko penolakan atau kritik kecuali kontak tersebut dicari dengan idola tertentu.

McCutcheon et al (2000) mengukur intensitas seseorang dalam hal celebrity worship yaitu dengan mengidentifikasi 3 final 'fandom':

(4)

a. Entertainment-sosial

Fans di tahap ini tertarik dengan idola tertentu karena mereka menganggap idola tersebut sangat menghibur dan sumber dari interaksi sosial serta gosip dengan orang lain.

b. Intense-personal

Fans di tahap ini menyukai idola tertentu berdasarkan aspek yang sangat pribadi dari idola tersebut. Sebagai contoh, hal buruk yang terjadi oleh idola tersebut ternyata dialami juga oleh sang fans.

c. Borderline-pathological

Fans di tahap ini ditandai dengan perilaku obsesif terhadap idola tertentu. Sebagai contoh, fans tersebut merasa bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan idola tertentu dan ketika idola tersebut meminta mereka untuk melakukan sesuatu yang ilegal, mereka akan melakukannya. Hal ini merupakan bentuk celebrity worship yang paling ekstrim.

B. KELOMPOK FANS

Sebuah kelompok fans (fansclub) merupakan kelompok yang didedikasikan untuk orang yang terkenal, kelompok, gagasan (seperti sejarah) atau kadang-kadang bahkan benda mati (seperti sebuah bangunan yang terkenal). Kebanyakan kelompok fans dijalankan oleh fans yang mencurahkan waktu dan sumber daya untuk mendukung mereka. Ada juga kelompok fans ”resmi” yang dijalankan oleh seseorang yang berhubungan dengan orang atau organisasi yang berpusat di sekitar kelompok ini. (Wikipedia, 2010)

(5)

1. Komunitas Fans

Setiap boyband ataupun girlband memiliki panggilan tersendiri untuk para fans yang menyukai mereka misalnya ELF (Ever Lasting Friend) untuk fans boyband Super Junior, SONE untuk fans girlband Girl‟s Generation, hottest panggilan untuk fans 2PM dan Cassiopeia untuk fans TVXQ/DBSK. Pada tahun 2008, ekspor Kpop terbesar TVXQ/Tohoshinki tercantum dalam Guinness World Records memiliki fans resmi terbesar di dunia yaitu lebih dari 800.000 di Korea Selatan, lebih dari 200.000 anggota resmi di Jepang (BigEast) dan lebih dari 200.000 fans international (iCassies).

2. Hallyu Wave

Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea) adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai Negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di Negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.

Musik pop Korea, disebut sebagai K-pop (singkatan dari pop Korea), telah menjadi bagian besar dari Korean Wave. Popularitas K-pop itu telah dikaitkan dengan promosi, dimana pameran bakat dan individualisme, serta yang sangat mirip meskipun bekerja sama dengan produsen internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan hiburan Korea telah mulai mengenali YouTube sebagai komponen kunci untuk penyebaran budaya korea secara internasional.

(6)

C. DINAMIKA TAHAPAN CELEBRITY WORSHIP

Mc Cutcheon, Lange dan Houran (dalam Maltby,J; dkk, 2005) mengusulkan sebuah model „Absorption-Addiction‟ yang menjelaskan kasus-kasus celebrity worship. Menurut model ini struktur identitas dikompromikan dalam beberapa penyerapan fasilitas psikologi individu dengan idola dalam upaya untuk membentuk suatu identitas dan rasa kepuasan. Dinamika usaha individu mendorong penyerapan ini pada gilirannya akan mengambil komponen adiktif yang mengarah ke perilaku yang lebih ekstrim (dan kemungkinan delusi) untuk mempertahankan kepuasan individu tersebut dengan hubungan yang intim.

Maltby dkk (2005) menjelaskan tiga aspek keterlibatan dengan idola: entertainment social value, intense-personal feeling, borderline-pathological tendency. Entertainment social value berisi motivasi yang mendasari pencarian aktif fans terhadap idola. Hal ini biasanya dikaitkan dengan penggunaan media sebagai sarana untuk mencari informasi mengenai idola. Umumnya, alasan fans mencari informasi mengenai idola adalah karena dua alasan, yaitu untuk conform terhadap norma social, dan „kabur‟ dari realita (fantasy-escape from reality).

Intense-personal feeling merupakan aspek yang merefleksikan perasaan intensif dan kompulsif terhadap idola, hampir sama dengan tendensi obsesif pada fans. Hal ini menyebabkan fans kemudian menjadi memiliki kebutuhan untuk mengetahui apapun tentang idola tersebut, mulai dari berita terbaru hingga informasi mengenai pribadi idola tersebut. Seiring dengan meningkatnya intensitas keterlibatan dengan idola, fans

(7)

mulai melihat idola sebagai orang yang dianggap dekat dan mengembangkan hubungan intim dengan idola tersebut.

Borderline-pathological tendency merupakan aspek yang paling ekstrim dimana merupakan tingkatan paling parah dari hubungan parasosial dengan idola. Hal ini dimanifestasikan dalam sikap seperti, kesediaan untuk melakukan apapun demi idola tersebut meskipun hal tersebut melanggar hukum. Fans yang seperti ini tampak memiliki pemikiran yang tidak terkontrol dan menjadi irasional. Tingkatan tersebut merupakan bahwa semakin seseorang memuja dan terlibat dengan sosok idola tertentu, maka hubungan intim yang semu atau intimate relationship semu (karena hanya bersifat satu arah) yang terjalin antara fans dengan idola semakin kuat.

(8)

Celebrity Worship D. KERANGKA BERFIKIR Individu Hubungan parasosial fans Borderline pathological tendency Entertainment social value Intense-personal feelings Idola

Referensi

Dokumen terkait

4. Kembali dan berkarya di daerah afirmasi asal setelah selesai studi bagi penerima program beasiswa daerah afirmasi. Mendahulukan kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan

Keadilan prosedur juga akan meningkatkan kepuasan kerja, bukan karena semata-mata bertujuan untuk menghasilkan outcome yang lebih adil, tetapi karena dapat menyebabkan

Individu dengan kekuatan humor ini seringkali memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mehibur orang lain dengan cara membuatnya tertawa, bergurau dan membuat lelucon, mereka juga

yang dinyatakan dalam Y.. Variabel bebas yaitu variabel yang mendahului atau mempengaruhi.. variabel terikat. Variabel bebas

Misalkan pada Gambar 2, jika Anda ingin bepergian dari stasiun Okayama menuju stasiun Kurashiki, maka Anda harus menaiki kereta dengan line hijau (keterangan mengenai jenis

Tepung pisang kepok merupakan alternatif utama dengan prospek yang baik sebagai salah satu sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam

Berdasarkan hasil pengujian sistem maka dapat disimpulkan bahwa keakuratan sistem menggunakan metode K-Means clustering dalam proses segmentasi, GLCM dalam ekstraksi ciri

Media seni batik diharapkan dapat menjadi inspirasi oleh guru-guru di Indonesia sebagai inovasi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.. Kata Kunci