DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI VII DPR RI DENGAN
DIRJEN MINERBA, DIRJEN MIGAS KEMENTERIAN ESDM RI, DIRJEN PENEGAKAN HUKUM, DAN DIRJEN PENGELOLAAN SAMPAH, LIMBAH DAN B3 KEMENTERIAN LHK RI, DAN RDPU
DENGAN 10 PERUSAHAAN MIGAS DAN MINERBA YANG BERMASALAH DENGAN LIMBAH Tahun Sidang : 2018-2019
Masa Persidangan : III (tiga)
Rapat ke- :
Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Hari, Tanggal : Senin, 21 Januari 2019
Waktu : 10.00 WIB – 14.25 WIB
Tempat : R. Rapat Komisi VII
Ketua Rapat :
MUHAMMAD NASIR /F-PD. (Wakil Ketua Komisi VII/F-PD) Sekretaris Rapat :
Dra. Nanik Herry Murti (Kepala Bagian Sekretariat Komisi VII)
Acara : 1. Permasalahan lingkungan di sektor Migas dan Minerba 2. Kegiatan reklamasi dan pasca tambang serta
implementasi AMDAL 3. Dan lain-lain
Hadir : 11 Anggota
Dengan rincian:
Fraksi PDI-P 1 orang dari 10 Anggota Fraksi Partai Gerindra 1 orang dari 7 Anggota Fraksi Partai Golkar 4 orang dari 8 Anggota Fraksi PAN ... orang dari 4 Anggota Fraksi Partai Demokrat 1 orang dari 5 Anggota Fraksi PKB ... orang dari 4 Anggota Fraksi PKS 1 orang dari 4 Anggota Fraksi PPP 2 orang dari 3 Anggota Fraksi Partai Hanura ... orang dari 2 Anggota Fraksi Partai Nasdem 1 orang dari 3 Anggota
KETUA RAPAT F-P.DEMOKRAT (MUHAMMAD NASIR, S.H.):
Assalamu'alaikum warahmatullahi ta'ala wabarakatuh Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang kami hormati Bapak Ibu Anggota DPR RI Komisi VII,
Yang kami hormati Saudara Dirjen Minerba Kementerian ESDM RI beserta jajarannya,
Yang kami hormati Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah B3 dan Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup RI,
Yang kami hormati para Direktur Utama dari perusahaan sektor Migas dan Minerba, Seluruh hadirin yang berbahagia,
Pertama-tama merilah kita mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua. Sehingga pada hari ini kita dapat bertemu guna melaksanakan tugas-tugas konstitusional kita pada kesempatan ini.
Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian serta kehadiran Bapak Ibu Anggota Komisi VII DPR RI serta seluruh undangan yang hadir dalam acara rapat dengar pendapat dan rapat dengar pendapat umum Komisi VII pada hari ini.
Sesuai undangan yang telah disampaikan dan berdarsarkan jadwal rapat Komisi VII DPR RI pada masa persidangan III tahun sidang 2018 – 2019. Pada hari ini Komisi VII DPR RI akan melaksanakan RDP dan RDPU dengan agenda membahas:
1. Permasalahan lingkungan sektor Migas dan Minerba,
2. Kegiatan reklamasi dan pasca tambang serta implementasi amdal, 3. Dan lain-lain tambahan,
Berdasarkan data Sekretariat Komisi VII DPR RI, yang telah hadir dan menandatangani daftar hadir 9 anggota 6 fraksi dari 50 Anggota Komisi VII DPR RI. Sehingga sesuai dengan Pasal 251 Ayat (1) Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib rapat ini telah memenuhi kuorum. Oleh karena itu dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim, izinkan saya membuka rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI.
Rapat dibuka pukul: 11.10 WIB
Sesuai dengan Pasal 246 Ayat (1) Tata Tertib DPR RI, menyatakan bahwa setiap rapat DPR RI bersifat terbuka kecuali dinyatakan tertutup. Saya sarankan kepada teman-teman, saya meminta pendapatnya apakah rapat ini kita buka untuk umum atau tertutup? Pak Ramson?
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Iya silakan.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Karena ini lengkap semua dan juga teman-teman pers juga sudah lengkap. Saya usulkan terbuka saja Pak Ketua tetapi mungkin kalau ada pandangan lain dari Pak Ketua silakan pak.
KETUA RAPAT:
Iya saya serahkan ke teman-teman anggota saja. Kalau ingin rapat ini lebih sepesifik atau mendalam, saya serahkan kepada teman-teman. Nah kalau sifatnya ke publik, silakan dibuka untuk umum. Pak Gandung mungkin ada saran?
F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):
Tertutup pak.
KETUA RAPAT:
Baik.
Pak Nawafie? Bapak silakan.
F-GOLKAR (Drs. KH. NAWAFIE SALEH, S.E., M.M.):
Terbuka pak.
KETUA RAPAT:
Baik.
Karena seluruh Anggota Komisi VII DPR RI meminta rapat ini terbuka, maka izinkan saya.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
KETUA RAPAT:
Iya.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Memang saya melihat ini dari laporan-laporan ini ada yang sensitif tetapi kalau mau tertutup diputuskan Pak Ketua saya setuju saja Pak Ketua, jadi bagaimana mengambil keputusan saja.
KETUA RAPAT:
Iya, karena suaranya terbanyak terbuka pak, terbuka saja. Nanti kalau ada yang penting baru kita buat skors untuk rapat berikutnya kita lanjutkan seperti apa nanti silakan saja saya hanya memimpin rapat ini. Mungkin pada hari ini bersifat terbuka dan terbuka untuk umum. Apakah bisa disetujui?
(Rapat Setuju)
Bapak dan ibu yang kami hormati,
Pemanfaatan sumber daya alam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu pemanfaatannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dengan tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan hidup saat ini. Kegiatan usaha pada sektor migas mencapai 255 wilayah kerja mereka data tahun 2017. Sedangkan pada sektor pertambangan Minerba terdapat 34 perusahaan pemegang kontrak karya dan 74 perusahaan pemegang PKP2B dan 8620 IUP status 27 Maret 2017. Nanti silakan dikoreksi Pak Dirjen, yang tentu dalam aktifitas memberikan dampak terhadap lingkungan dan sosial kemasyarakatan sehingga menjadi kewajiban setiap perusahaan khususnya yang menjalankan kegiatan usaha di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam.
Untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal dan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Terkait pelaksanaan reklamasi dan pasca tambang disebutkan bahwa dalam penerapan kaidah teknis pertambangan yang baik memegang IUP IUPK wajib melaksanakan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan termasuk kegiatan reklamasi dan pasca tambang Pasal 96C, selain itu disebutkan juga bahwa setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pasca tambang.
Pasal 100 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba, namun hingga saat ini masih terdapat perusahaan yang belum melaksanakan kewajiban untuk menyediakan dana tersebut, nanti tolong dijelaskan kepada Pak Dirjen Minerba. Sedangkan terkait dengan masalah amdal, di dalam Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang PPLH disebutkan bahwa setiap usaha dan atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. Dimana amdal merupakan salah satu instrumen pencegahan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup, untuk itu seluruh rekomendasi yang ada di dalam dokumen amdal wajib dilaksanakan untuk oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan karena jika tidak dilaksanakan maka izin lingkungan sebagai pesyaratan untuk memperoleh izin usaha dan atau amdal dapat dibatalkan.
Ini Dirjen B3 harus dengar ini, jadi kalau tidak jelas batalkan izinnnya. Oleh karena itu pada rapat dengar pendapat dan rapat dengar pendapat umum ini Komisi VII DPR RI ingin mendengarkan penjelasan dan paparan terkait permasalahan sebagai agenda rapat pada hari ini. Selanjutnya untuk efektif rapat dengar pendapat dan rapat dengar pendapat umum ini kami berikan kesempatan kepada masing-masing mitra untuk menyampaikan paparannya. Mungkin kita dahului kepada Pak Dirjen Minerba, mungkin nanti dilanjutkan. Ini Pak Dirjen Migasnya mana ya?
PLT DIRJEN MIGAS :
Pak Dirjen Migas posisi sedang umroh sejak minggu kemarin, mungkin baru akhir minggu ini bisa hadir kembali pak.
KETUA RAPAT:
Baik.
Nanti mungkin disambung dengan Dirjen Migas dan Dirjen Gakum, maupun Dirjen B3. Nanti silakan perusahaan-perusahaan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang disampaikan teman-teman Komisi VII. Mungkin waktu dan tempat kami persilakan kepada Pak Dirjen untuk memberikan paparannya. Silakan Pak Dirjen Minerba, nanti begilir saja pak. Silakan.
DIRJEN MINERBA:
Baik. Terima kasih Pimpinan.
Yang kami hormati Pimpinan Komisi VII DPR RI,
Yang kami hormati Bapak-Bapak dan Ibu Anggota Komisi VII DPR RI, Yang kami hormati Dirjen Migas, Dirjen Gakum, Dirjen B3,
Serta Pimpinan Perusahaan Migas, Serta Pimpinan Perusahaan Minerba,
Pertama kami ingin menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan permasalahan lingkungan di Direktorat Jendral Minerba tentunya kepada perusahaan-perusahaan yang berusaha di bidang mineral dan batu bara. Ada beberapa item yang ingin saya sampaikan
1. Dasar hukum pengelolaan lingkungan hidup pertambangan,
2. Pemenuhan izin lingkungan, izin PPLH, reklamasi dan pasca tambang, 3. Permasalahan lingkungan,
Kami lanjutkan kepada dasar hukum pengelolaan lingkungan pertambangan, tadi disampaikan Pimpinan bahwa ada Undang-Undang yang mendasari. Yang pertama Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan peraturan turunannya, kemudian yang ini adalah Undang-Undang Lingkungan Hidup dari KLH. Yang kedua adalah Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara. Nah berdasarkan Undang-Undang ini kita tentukan kita terbitkan PP turunannya yaitu PP Nomor 78 tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang. Kemudian dari PP tersebut juga kita jabarkan lagi di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batu bara.
Serta tindak lanjutnya di keputusan Menteri ESDM tahun 2018 Nomor 18, 27 yaitu mengenai pedoman pelaksanaan kaidah teknik pertambangan, atas dasar regulasi tersebut kemudian kita tetapkan izin-izin yang harus dipunyai oleh perusahaan pertambangan. Khususnya untuk perusahaan-perusahaan yang sudah bertahap membiayai kegiatan operasi produksi mereka harus mempunyai izin lingkungan, kemudian izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) yang berupa izin pembuatan air limbah, izin penyimpanan limbah B3, izin pemanfaatan limbah B3 dan izin penimbunan limbah B3. Kemudian selain itu khusus untuk kegiatan pertambangan kita mempunyai item atau subtansi besar yaitu reklamasi dan pasca tambang.
Nah pengawasan aspek lingkungan oleh Dirjen Minerba yaitu dilakukan dengan baik itu di lapangan maupun di laporan oleh perusahaan, sehingga dalam kegiatan melaporkan kegiatan khusus dengan berhubungan dengan aspek lingkungan perusahaan menyampaikan rencana reklamasi dan rencana pasca tambang. Yang kedua menetapkan kita menetapkan jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang. Yang selanjutnya adalah penempatan jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang, kemudian pelaksanaannya yaitu perluasan reklamasi yang bisa dilakukan secara sepontan atau bersamaan dengan kegiatan dan pasca tambang. Kemudian penyampaian reklamasi dan pasca tambang. Jadi itu merecover kepada kegiatan reklamasi dan pasca tambang.
Untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan yaitu pemenuhan izin lingkungan dan pemenuhan izin PPLH yang kami sebutkan di depan tadi. Kemudian reklamasi dan pasca tambang dan pemenuhan baku mutu, pemenuhan baku mutu berupa limbah padat, cair dan gas. Dari pak yang sudah kita rekap bahwa semua
perusahaan yang kebetulan di disini nanti bisa menyampaikan sendiri-sendiri tetapi secara umum mereka mempunyai izin yang dibutuhkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kemudian permasalahan lingkungan, permasalahan lingkungan itu ada khususnya untuk penambangan tanpa izin atau peti di Indonesia bisa itu di wilayah perizin atau di luar wilayah perizin.
Untuk peti mas yang berupa di WPR, kemudian itu biasanya bermasalah dengan merkuri. Ini solusinya untuk saat ini oleh Gurbernur dijadikan menjadi PR izin pertambangan rakyat tetapi apabila itu di luar wilayah pertambangan rakyat maka dilakukan penindakan oleh aparat penegak hukum. Kemudian ada juga yang di peti timah di dalam PT Timah ini.
KETUA RAPAT:
Sedikit Pak Dirjen.
Coba jelaskan tadi mungkin biar gamblang masalahnya, yang dibilang tambang rakyat itu seperti apa. Kalau perusahaan besar saja tidak boleh memakai bahan itu kenapa perusahaan yang kalau membawa atas nama rakyat harus bisa memakai barang itu?
DIRJEN MINERBA:
Jadi memang.
KETUA RAPAT:
Coba jelaskan apa yang sudah bapak lakukan dan apa yang sudah bapak informasikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup. Silakan.
DIRJEN MINERBA:
Jadi sekarang.
KETUA RAPAT:
Bahannya Cuma segini ini pak jadi saya tidak mengerti meterinya. Nanti kalau saya tanya pasti kita perlu bahan lagi dan Pak Asri ini kan ini duduk disini sebagai apa dia?
DIRJEN MINERBA:
KETUA RAPAT:
Inspektur?
DIRJEN MINERBA:
Kepala Inspektur Tambang.
KETUA RAPAT:
Nah terus yang bagian izin Direktur, yang satu lagi Direktur apa itu?
DIRJEN MINERBA:
Ganti pak ganti.
KETUA RAPAT:
Yang mau menjelasakan yang mana sekarang?
DIRJEN MINERBA:
Bagaimana?
KETUA RAPAT:
Kalau saya tanya yang menjelaskan yang mana?
DIRJEN MINERBA:
Ya Direktur Lingkungan yang menjabat pak.
KETUA RAPAT:
Bagaimana?
DIRJEN MINERBA:
Direktur Lingkungan yang menjabat.
KETUA RAPAT:
DIRJEN MINERBA: Iya. KETUA RAPAT: Baik. Silakan. DIRJEN MINERBA: Baik.
Jadi memang seperti kita ketahui memang merkuri kan dilarang. Oleh karena itu penindakan ini, pertama ada sisi dari masalah lingkungan dan sisi wilayah untuk tambang rakyat. Tambang rakyat itu bisa di wilayah, tambang yang dilakukan rakyat tetapi pengertiannya jadi bias antara tambang yang dilakukan rakyat secara legal maupun yang ilegal. Legal saya katakan legal, karena wilayahnya legal yaitu biasanya ditetapkan menjadi wilayah pertambangan rakyat tetapi kalau itu tidak ditetapkan seperti di Pulau Buru di Gunung Kotak itu itu tidak ditetapkan sebagai wilayah pertambangan sehingga dikatakan ilegal tetapi bagaimana pun juga nanti dari kawan-kawan dari lingkungan menjelaskan bahwa merkuri itu tidak bisa dilakukan. Ini kan langkah-langkah penindakan yang sudah kita lakukan seperti apa. Demikian juga untuk PT Timah.
Timah ini juga ada program ada yang dikatakan ilegal karena memang tidak bekerja sama atau diluar kontrol dari PT Timah sehingga dikatakan ini dilakukan penindakan ini masih ilegal begitu. Nah untuk yang di dalam PT Timah karena memang ini dalam rangka untuk mengakomodir kegiatan rakyat jadi ini dilakukan program kemitraan. Untuk batu bara juga demikian juga, sebetulnya batu bara ini jarang sekali dilakukan kerja sama dengan rakyat oleh karena itu tindakannya ada dilakukan penindakan oleh aparat penegak hukum. Jadi atas dasar itu kemudian ada hal-hal yang memang kalau itu masih bisa di akomodir dalam rangka memang melindungi rakyat yang mungkin mempunyai tradisi penambangan sejak sudah lama turun temurun itu akan di tawar menjadi WPR tetapi kalau tidak itu akan menjadi ilegal paining pak.
Nah kondisi saat ini lokasi kegiatan pertambangan tanpa izin diantaranya komuditi emas ini banyak sekali ada di Sulut, Sulsel, Sulteng, NTB, Jateng, Jatim, Jabar banyak sekali ini pak. Komuditasnya memang kalau timah itu hanya di Babel memang, kalau yang diatas itu emas. Kemudian untuk batuan di Provinsi NTB ini setiap provinsi hampir ada untuk batuan karena memang batuan ini agak sepesifik ya karena bentuknya dimana-mana dan di kecil pun juga kadang-kadang tanpa izin. Nah dalam pertambangan tanpa izin tentunya isu strateginya adalah aspek konservasi. Benar sekali tidak mengoptimalkan biji kadar rendah atau tidak mengoptimalkan semua cadangan yang ada.
Kemudian aspek lingkungannya tentunya yang tadi saya sampaikan bahwa potensi kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan dan proses penambangan
serta pengolahan ini biasanya tidak tertangani, karena mereka sangat kecil dan ya memang mesti tidak ada jaminan reklamasi, jaminan pasca tambang mesti tidak ada semua itu. Kemudian.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Interupsi Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan pak.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Ini dari penjelasan Pak Dirjen yang terlalu sederhana ini belum ada menjelaskan apakah sudah ada di pungut atau di kolek atau disimpan atau di apapun mengenai jaminan dana jaminan pasca tambang. Tolong itu dijelaskan secara detail dari sekian banyak yang memperoleh IUP dan IUPK apakah itu sudah dilaksanakan oleh Dirjen Minerba. Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Mungkin sedikit saya tambahi.
Kita butuh daftar perusahaannya pak, yang di bawah pengawasan bapak mana saja perusahaannya, karena disini tidak dijelaskan disini perusahaannya. Tolong disiapkan, berapa lama menyiapkan data itu. Berapa lama?
DIRJEN MINERBA:
Sambil berjalan sambil kita copykan saja pak.
KETUA RAPAT:
Baik. Silakan.
DIRJEN MINERBA:
Baik Pak Ramson.
Sebetulnya ada di belakang pak, jadi begini pak untuk perusahaan-perusahaan yang berizin yang baik itu IUP atau PKP2B IUPK itu memang harus melakukan menetapkan jaminan reklamasi maupun jaminan pasca tambang. Jaminan reklamasi dengan jaminan pasca tambang itu ditetapkan oleh pemerintah dan kemudian mereka bisa menggunakan sambil setelah melakukan kegiatan mereka bisa mencairkan tetapi setiap tahun mereka tentunya ada perhitungannya
apa berapa yang di cairkan atau berapa yang sudah diselesaikan. Jadi semua perusahaan yang berizin mesti mempunyai jaminan reklamasi harus melalui jaminan pasca tambang. Kecuali kalau ilegal maining yang tadi saya katakan serta tambang rakyat.
Tambang rakyat itu begini, karena konsepnya adalah pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh Gurbernur. Penetapan Gurbernur seharusnya Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap aspek lingkungannya, karena memang kalau ditarik jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang mesti tidak tidak punya di ilegal maupun di pertambangan rakyat, itu pak. Nah memang karena jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang itu dinamis di distribusikan setiap tahun pada tahun berjalan ada yang masih, ada yang belum tetapi tahun sebelumnya sudah selesai mesti di harus melunasi.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Interupsi Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Silakan pak.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Salah satu contoh tidak, bisa dikemukakan oleh Pak Dirjen dengan nominal yang di kumpulkan oleh pemerintah terus posisi dana itu dimana begitu.
DIRJEN MINERBA:
Iya, nanti kita berikan salah satu contoh. Posisi dana itu diletakan di Bank di Bank Pemerintah biasanya dan itu di kiu kiu antara Direktorat Jendral dan perusahaan.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Saya kira dana itu sekarang ada berapa banyak pak nominalnya kira-kira saja?
DIRJEN MINERBA:
Jaminan reklamasi ini untuk sebagai contoh untuk tahun 2016 itu 0,9 triliun, Untuk tahun 2017 1,1 triliun, tahun 2018 1,2 triliun jaminan reklamasi. Ini sedangkan
(...) pasca tambang ini tahun 2016 1,97 triliun, tahun 2017 2,63 triliun dan tahun 2018 3,54 triliun. Jadi ada pak, jadi semuanya ada nanti kalau meminta detailnya kita berikan ada.
KETUA RAPAT:
Coba jelaskan pak, berapa perusahaan yang belum menyerahkan jaminan pasca tambang.
DIRJEN MINERBA:
Ada beberapa perusahaan, nanti akan kami sampaikan juga berapa perusahaan khususnya adalah izin IUP yang diterbitkan oleh Pemerintah Gurbernur. Dalam hal ini dulu Pemerintah Bupati dan Pemerintah Gurbernur, mereka memang banyak yang belum dan upaya kita meminta kepada Gurbernur untuk menagih jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang tersebut. Karena ini adalah dibawah Binmas oleh Gurbernur IUP IUP daerah tetapi kalau IUP yang dari pemerintah serta PKP2B dan KK biasanya sudah di lunasi pak.
KETUA RAPAT:
Tetapi kan pengawasannya kan Inspektor juga ada disana. Untuk pengawasan tambang-tambang tadi, kan PKP2B itu kan juga Inspektor dari sana. Nah IUP juga Inspektor ada disana, terus ko tidak terealisasi jaminan pasca tambang ini? Silakan Pak Dirjen.
DIRJEN MINERBA:
Baik.
Jaminan pasca tambang dan reklamasi itu memang diawasi di lapangan. Kegiatannya dilakukan oleh Inspektor tetapi secara administrasi itu wajib ditagih oleh Dinas Pertambangan. Karena dia mendapatkan izin pak, karena kalau dia tidak melayani harusnya tidak membayarkan atau menetapkan dinas harusnya memberi sanksi tidak melayani semua perizinan atau fasilitas yang dibutuhkan oleh perusahaan. Maka itu kita berkirim surat kepada Gurbernur maupun Kepala Dinas Pertambangan untuk bisa menagih itu semua.
KETUA RAPAT:
Iya, yang saya maksud ini Pak Dirjen. Memang yang mengeluarkan izin Gurbernur atau Bupati tetapi apakah bisa jalan tambang itu tanpa di clear and clean
dengan Kementerian? Itu yang saya tanya terus ada pengawasan Inspektor terus ko diam saja Inspektornya begitu loh, bahwa dia belum memiliki jaminan tadi. Nah ini kenapa dijadikan pembiaran oleh instansi-instansi yang memberikan izin maupun yang bertanggung jawab disini, Itu yang saya tanyakan. Apakah ini pembiaran, apakah ini terjadi negosiasi, apakah ini terjadi ada yang tidak beres disana begitu. Itu yang saya tanyakan kenapa ini diberikan izin menambang sementara salah satu pesyaratan termasuk itu yang paling penting. Nah itu yang perlu kami dalami bagaimana ini bisa berjalan dan diberikan rekomendasi untuk melakukan penambangan.
DIRJEN MINERBA:
Baik, terima kasih.
Jadi Inspektor Tambang itu melakukan kegiatan lapangan dalam rangka pengawasan dan langsung on the spot maupun pengawasan administrasi tetapi terhadap sanksi itu harusnya dikeluarkan oleh penerbit izin. Apakah itu dicabut, apakah itu tidak boleh dimelakukan kegiatan itu diberikan oleh penerbit izin dan dalam hal ini kalau IUP pak. Kalau IUP yang diterbitkan oleh pemerintah itu yang menerbitkan izin ada Gurbernur. Maka itu kami bolak balik mengirim surat kepada Gurbernur agar yang tidak menetapkan jaminan reklamasi maupun jaminan pasca tambang itu agar dicabut, saya meminta Gurbernur demikian. Berapa kali kita sudah mengirim surat.
KETUA RAPAT:
Iya, yang saya maksud Pak Dirjen. Yang mengeluarkan izin Gurbernur, apakah dia tidak perlu rekomendasi dari Kementerian untuk menyatakan clear and clear-nya tambang tersebut? Itu yang saya tanya. Apakah Dirjen tidak terlibat dalam izin yang dikeluarkan oleh Gurbernur? Itu yang saya tanya. Apakah tidak ada komunikasi diantara Kementerian dengan Gurbernur? Nah kan tidak mungkin Gurbernur ini sesukanya mengeluarkan izin tanpa berkordinasi dengan Kementerian, nah itu yang saya tanya. Apakah Kementerian tinggal diam saja? Tadi bapak kan sudah membuat surat, untuk apa bapak buat surat kalau bapak tidak bertanggung jawab disana? Nah itu yang saya ingin pahami seperti apa ini regulasi ini begitu. Silakan pak.
DIRJEN MINERBA:
Terima kasih.
Jadi yang pertama yang kami tegaskan adalah memang secara kewenangan pemberian izin itu di Gurbernur. Jadi pemberian sanksi itu kalau untuk IUP di Gurbernur. Kami memberikan rekomendasi kepada Gurbernur untuk mencabut, untuk tidak melayani tetapi kalau mereka tidak memberikan sanksi yang Gurbernur
itu yang bertanggung jawab. Karena memang izin itu diterbitkan oleh Gurbernur, kami sudah memberikan peringatan.
KETUA RAPAT:
Bukan. Maksud saya begini Pak Dirjen, yang saya tanya ini sekarang. Saudara Gurbernur memberikan izin, apakah tidak terlapor di Kementerian bahwa dia telah mengeluarkan izin 10 izin begitu? Apakah dia tidak berkordinasi dengan Kementerian? Itu yang saya tanya. Bagaimana regulasi ini, apakah Gurbernur saja yang mempunyai wewenang 100% atau dia ada komunikasi dengan Kementerian? Nah itu yang saya tanya. Kalau ini memang Gurbernur berarti kita tinggal catat Gurbernurnya saja kita meminta di periksa.
DIRJEN MINERBA:
Baik. Terima kasih.
Jadi untuk C and C (Clear and Clean ) dalam permasalahan administrasi perizinan itu kita juga memberikan rekomendasi. Kalau non c and c Gurbernur juga harus yang mencabut. Kemudian apabila sudah c and c dan mereka melakukan kegiatan pertambangan tetapi tidak melalui aspek lingkungan apakah itu tidak memenuhi jaminan reklamasi atau jaminan pasca tambang itu juga Gurbernur yang harus menindaklanjuti. Jadi kita memberikan kepada Gurbernur.
KETUA RAPAT:
Yang saya tanya Pak Dirjen, sekarang anda kan mengeluarkan clear and clean-nya.
DIRJEN MINERBA:
Iya.
KETUA RAPAT:
Berarti kan anda waktu mengeluarkan clear and clean-nya kan harus melihat data ceklis yang dipenuhi oleh Gurbernur tadi. Nah kalau pasca tambangnya belum disetorkan kenapa anda berikan? Itu yang saya tanya. Nah berarti kan anda salah disitu. Nah orang pasca tambang saja salah satu ceklis yang harus dicukupi tidak dipenuhi tetapi anda berikan izin nah apa dalinya ko bisa keluar izin ini? Saya meminta pertanggung jawabannya disini seperti apa. Apakah bapak by phone saja ataukah ini meminta persetujuannya seperti apa? Nah saya tidak mengerti ini ko bisa perusahaan ini jalan. Saya sudah berulang kali mengadakan seminar tetapi
permasalahannya diberikan izin. Nah sekarang setelah ditambang pasca tambangnya ditinggal, nah siapa yang bertanggung jawab?
Ini saya sudah mengecek juga tambang-tambang itu berapa tambang. Inspektornya juga kaya orang tidak pernah makan ditambang itu kelaperan saja kerjanya. Nah jadi saya meminta pertanggung jawaban pak, pertanggung jawaban yang saya minta anda sebagai Dirjen. Nah bagaimana anda bisa memberikan clean and clear bahwa daftar ceklisnya belum lengkap, nah itu yang saya tanya.
DIRJEN MINERBA:
Baik. Terima kasih saya jawab.
Begini Pak Pimpinan, untuk c and c yang menjadi pesyaratan adalah wilayah clean, kemudian secara administrasi perizinan clean. Jadi tidak ada belum sampai kepada jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang, karena apa. Karena jaminan reklamasi dan jaminan pasca tambang itu dilakukan setiap tahun. Distribusinya setiap tahun, anda harus membayar sekian karena memang itu dicicil oleh perusahaan tidak sekaligus dibayar. Oleh karena itu clear and clean di kriteria di pertambangan itu hanya administrasi perizinan serta wilayah. Apabila wilayahnya tidak tumpang tindih mereka clean dan administrasi perizinan apabila sesuai ketentuan bisa pakai pencadangan wilayah kemudian kalau sekarang itu istilahnya lelang itu baru dilakukan clear and clean. Jadi clear and clean tidak termasuk kepada jaminan reklamasi, karena jaminan reklamasi itu dilakukan setiap tahun pak.
KETUA RAPAT:
Tidak jelas penjelasannya ya. Saya mengusulkan kepada teman-teman ini kita rapat gabungan saja kepada Komisi Hukum menurut saya. Nanti kita tindak lanjuti mungkin kita rapat gabungan. Supaya nanti jelas ini permasalahannya saya melihat. Ada lagi yang mau dijelaskan Pak Dirjen? Baik, selanjutnya dijelaskan oleh Pak Dirjen Migas.
DIRJEN MIGAS:
Terima kasih pak atas kesempatannya. Yang terhormat Pimpinan Komisi VII,
Yang terhormat Bapak dan Ibu Anggota Komisi VII,
Yang terhormat Bapak Dirjen Minerba, Dirjen Gakum, Dirjen Limbah B3, Kemudian juga Para Pimpinan Perusahaan,
Pertama-tama kami mohon maaf pak, karena Pak Dirjen Migas sedang umroh sejak minggu kemarin dan sampai sekarang belum tiba di Jakarta sehingga
mewakilkan saya sebagai Ses Dirjen Migas beserta Direktur Teknik dan Lingkungan untuk menghadiri acara ini.
Terkait dengan pengelolaan dan permasalahan lingkungan. Pada kegiatan usaha migas ada beberapa daftar isi yang perlu kami bahas:
1. Permasalahan lingkungan dalam kegiatan usaha Migas 2. Pasca tambang dan implementasi amdal
Untuk permasalahan lingkungan dalam kegiatan usaha migas terkait dengan peraturan SDM terkait dengan lingkungan, kemudian pengelolaan limbag B3, serta capaian perusahaan migas dalam proper. Aturan SDM terkait dengan pengelolaan lingkungan antara lain Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 Pasal 40 Ayat (2) dimana Badan Usaha dan Badan Usaha tetap menjamin keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup dan menaati ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam kegiatan usaha Migas. Kemudian dalam Pasal 40 Ayat (3) Pengelolaan Lingkungan Hidup berupa kewajiban untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan, pencemaran, serta permulihan atas terjadinya kerusakan lingkungan hidup termasuk kewajiban pasca operasi pertambangan.
Yang kedua Permentamben Nomor 02 tahun 1992 Pasal 21 Ayat (1) Pengusaha wajib mencegah terjadinya pencemaran lingkungan hidup dalam melaksanakan kegiatan eksporasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi. PP Nomor 35 tahun 2004 Pasal 72 Kontraktor yang melaksanakan kegiatan usaha hulu wajib menjamin dan mentaati ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja dan pengelolaan lingkungan hidup, serta pengembangan masyarakat setempat. Berikutnya Permentamben Nomor 04 tahun 1973 Pasal 2 Dalam melaksanaka kegiatan eksporasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi perusahaan wajib mencegah terjadinya pencemaran perairan dan menanggulangi pencemaran perairan yang terjadi.
Kemudian edaran Dertekling Nomor 94, 98 tahun 2009 Pasal 21 Ayat (1) Laporan Pengelolaan Lingkungan (LPL) sebagai pengganti model KKP 1 sampai dengan KKP 8. Terakhir Permen ESDM Nomor 31 tahun 2012 Pasal 2 Kontraktor atau pemegang izin usaha pengelolaan wajib memanfaatkan gaswar bakar secara optimal. Selanjutnya kaitannya dengan pengelolaan limbah B3, pengelolaan limbah B3 menjadi salah satu isu lingkungan penting di sektor migas. Di tabel 1 menunjukan rekap jumlah limbah B3 yang dikelola dan biaya pengelolaan pada 10 K3S pada tahun 2018.
KETUA RAPAT:
Ini perusahaan tambang nikel yang lain tidak ada hadrir ya. Perusahaan tambang-tambang yang dikeluarkan izin minerba? Tidak ini yang batu bara, diluar
batu bara? Terus yang Nikel? Yang lain Cuma Antam saja? Coba minta daftarnya pak disiapin semua.
DIRJEN MIGAS:
Jadi tabel ini kelihatan bahwa untuk 10 perusahaan tanah terkontaminasi minyak totalnya kurang lebih 30.987 ton dengan biaya pengelolaan US$4.232.551. Kemudian limbah sisa operasi oli bekas atau maciun dan maciun itu 6.081 ton dengan jumlah biaya pengelolaan US$2.785.627. Kemudian pengelolaan limbah sisa produksi slach pasir berminyak dan sebagainya meliputi 33.128 ton dengan biaya pengelolaan kurang lebih US$5.156.349. Sehingga total volume 70.197 ton dengan total biaya US$12.174.528.50.
KETUA RAPAT:
Ini nanti biar perusahaan saja pak yang menjelaskan.
DIRJEN MIGAS: Baik pak.
KETUA RAPAT:
Saya cuma mau tanya saja sama Dirjen. Dirjen pernah tidak melihat lokasi ini seluruhnya? Apa cuma baca materi saja?
DIRJEN MIGAS:
Kalau saya pribadi saya belum pernah ke lapangan pak.
KETUA RAPAT:
Yasudah samalah berarti sama Dirjen ya. Berarti cuma duduk saja di bangku tempat kantor masing-masing berarti. Bapak turun pak saksikan ini.
DIRJEN MIGAS: Siap pak.
KETUA RAPAT:
DIRJEN MIGAS: Iya.
KETUA RAPAT:
Jadi bapak disitu ada gunanya.
DIRJEN MIGAS: Baik pak.
KETUA RAPAT:
Kalau cuma begini semua bisa bacakan begini tetapi kalau saya tanya, tahu tidak anda posisi di lapangannya.
DIRJEN MIGAS:
Ya mungkin Direktur Teknik bisa lebih.
KETUA RAPAT:
Silakan saja mana Direktur Tekniknya?
DIRJEN MIGAS:
Belakang saya pak.
KETUA RAPAT:
Silakan jelaskan.
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Izin pak.
KETUA RAPAT:
Chevron saja chevron karena dapil saya coba anda jelaskan.
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Iya pak, jadi terakhir memang kami rapat kordinasi dengan chevron di bulan Desember dan saya sendiri.
KETUA RAPAT:
Laporan lapangan pak yang saya tanya bukan rapat.
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Baru akan mengunjungi lapangan pada akhir bulan ini.
KETUA RAPAT:
Sudah berapa lama pak jadi Direktur?
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Baru 3 bulan Pak Pimpinan. Terima kasih pak.
KETUA RAPAT:
Jadi sampai sekarang data yang Direktur lama pernah ke lapangan tidak ada? Kan bapak serah terima, ada tidak daftar kondisi lapangan sekarang?
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Ada pak daftarnya ada dari Direktur yang lama ada daftarnya pak.
KETUA RAPAT:
Iya, mana yang sudah pernah dikunjungi? Lokasinya dimana? Coba sebutkan.
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
Yang di Kalteg pak sudah ada datanya sama.
KETUA RAPAT:
Iya Kalteg itu luas yang dimana kordinat mana? Itu dapil saya, saya tahu. Dimana yang sudah kalian lihat?
DIREKTUR TEKNIK MIGAS:
KETUA RAPAT:
Berengsek kalian ini semua tidak jelas. Ada lagi yang bapak mau tambahi?
DIRJEN MIGAS: Kami lanjutkan.
Jadi secara umum pengelolaan limbah B3 K3S dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Tanah terkontaminasi minyak ditimbun pada lenvil pada beak 3. Pada PT Chevron Pacific Indonesia dilakukan pengelolalaan TTM secara mandiri melalui Soil Bioremediation Facility (SBF). Kemudian limbah sisa operasi dan sisa produksi ditimbun pada landfill.
KETUA RAPAT:
Tahu tidak bapak lokasi yang bapak sebut dimana?
DIRJEN MIGAS:
Saya terus terang tidak tahu pak.
KETUA RAPAT:
Iya silakan.
DIRJEN MIGAS:
Dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup pada wilayah operasi migas Dirjen Migas terus berkordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup melalui berperan aktif dalam tim teknis penilai amdal dan untuk sektor migas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungann Hidup dan PP Nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan. Yang kedua memberikan rekomendasi teknis terkait penerbitan izin damping dan izin injeksi pada setiap rapat teknis izin. Selain itu ke 10 K3S pada tabel satu telah melaporkan pemantauan lingkungan pada format LPL yang ditembuskan kepada Direktorat Teknik dan Lingkungan migas sesuai edaran (...) tekling nomor 94,98 tahun 2009, serta melaporkan laporan flering ke Dirjen Migas sesuai Permen ESDM Nomor 31 tahun 2012. Keputusan migas secara umum memiliki capaian kinerja yang cukup baik ditunjukan dengan dominasi perusahaan migas yang mendapatkan penghargaan proper emas, hijau dan bitu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebagai berikut 14 perusahaan migas mendapatkan predikat proper emas dari total 20 penerima penghargaan proper emas, 73 perusahaan migas mendapatkan predikat proper hijau.
KETUA RAPAT:
Coba keluarkan data yang mendapet proper emas nanti, semua ini yang mendapat proper ini saya meminta daftar perusahaannya.
DIRJEN MIGAS: Siap bapak.
73 perusahaan migas mendapatkan predikat proper hijau dari total 155 penerima penghargaan proper hijau, 118 perusahaan migas mendapatkan predikat proper biru dari total 1454 penerima penghargaan proper biru. Kemudian terkait dengan pembahasan yang kedua adalah kegiatan pasca tambang dan implementasi amdal. Untuk pengelolaan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi (TTM) kami disini kami paparkan mengenai khusus chevron. Jadi PT CPI selama bertahun-tahun beroperasi telah melakukan lebih dari 18.000 memboran sumur di Provinsi Riau. Praktek ini tidak hanya menghasilkan limbah berupa lumpur bor gelmas dan pasir berminyak tetapi juga menyebabkan ceceran minyak bumi ke tanah yang disebut sebagai tanah terkontaminasi minyak bumi.
Berdasarkan proses permulihan TTM pada gambar PT CPI memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan permulihan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan Rencana Fungsi Permulihan Hidup (RFPLH) dulu yang disebut RPLT yang diterbitkan Dirjen SLP3 KLHK dengan rincian sebagai berikut. PT CPI telah menyusun rotmap tahun 2015 sampai tahun 2018 untuk pemulihan TTM dimana terdapat 125 lokasi TTM yang harus dipulihkan. Hingga September tahun 2018 21 lokasi telah mendapatkan surat status penyelesaian lahan terkontaminasi, 55 lokasi masih dalam proses penerbitan SSPLT di KLHK. Sementara 48 lokasi sisanya belum dapat diselesaikan. Hingga September tahun 2018 status penerbitan dan persetujuan RFPLH dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.
PT CPI berencana akan membuat usulan lokasi yang dimasukan ke rotmap permunian TTM tahun 2019, 2021 yang terdiri dari lokasi TTM pada rot map tahun 2015, 2018, yang tidak dapat diselesaikan dan 317 lokasi baru. Dengan demikian dalam waktu 3 tahun PT CPI harus menyelesaikan sekitar 365 lokasi permulihan TTM baik secara teknis maupun administratif sehingga terbit surat status penyelesaian lahan terkontaminasi SSPLT dari KLHK. Mungkin nanti untuk detailnya langsung kepada PT Chevron pak. Saya kira itu yang bisa kami sampaikan dari Dirjen Migas. Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh KETUA RAPAT:
Saya persilakan kepada Pak Dirjen Gakum nanti dilanjutkan ke Dirjen B3 atau Dirjen B3 dulu ya, karena mereka yang mengeluarkan izin ini. Silakan.
Saya meminta daftar semua perusahaan yang bapak berikan izin dan kita meminta semua perusahaan yang bapak berikan izin pengumpul dan pemanfaat maupun pemusnah. Datanya tolong disiapkan.
DIRJEN B3:
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua.
Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Dewan yang terhormat,
Pertama-tama kami sampaikan salam dari Bu Dirjen beliau tidak bisa hadir pada pagi hari ini karena beliau memimpin rapat dengan (...) diluar kota. Beliau meminta kami untuk hadir disini untuk mendengar dan mencatat apa-apa saja yang menjadi perhatian dari para.
KETUA RAPAT:
Bapak tidak bisa menjawab nanti.
DIRJEN B3:
Yang bisa saya jawab saya jawab.
KETUA RAPAT:
Kalau tidak bisa menjawab sudah tidak usah menjelaskan disini.
DIRJEN B3:
Yang bisa saya jawab saya jawab tetapi yang tidak bisa jawab saya meminta beliau nanti. Sebelumnya saya sampaikan sedikit,
Pak Pimpinan terhormat,
Pertama semua semua izin yang menyangkut dengan B3 kami sudah sampaikan ke Sekretariat (...) tanggal 19 bulan lalu.
KETUA RAPAT:
DIRJEN B3:
Izin pengumpul pengolah dan Limbah B3 sudah kami sampaikan ke Sekretariat.
KETUA RAPAT:
Seluruhnya?
DIRJEN B3:
Seluruhnya yang ada di Indonesia sudah kami sampaikan tetapi pada pagi hari ini.
KETUA RAPAT:
Tanggal berapa itu?
DIRJEN B3:
Kalau tidak salah saya ada bukti terima sama kami kalau tidak salah tanggal 19 bulan Desember kalau saya tidak salah.
KETUA RAPAT:
Oke.
DIRJEN B3:
Nanti kami cek kembali pak.
KETUA RAPAT:
Semua sudah ya?
DIRJEN B3:
Semua ada, satu (...) yang sama kami semua ada.
KETUA RAPAT:
DIRJEN B3:
Kedua yang perlu kami sampaikan kepada,
Pak Pimpinan terhormat,
Pada pagi hari ini ada 20 perusahaan migas dan minerba yang disampaikan kepada kami, menurut catatan kami ke dua puluh perusahan tersebut sudah memiliki izin sesuai dengan yang dibutuhkannya. Sementara kalau izin-izin semua izin kami keluarkan ini, disini ada catatannya pak tetapi tidak kami bacakan kalau boleh kami bacakan satu-satu di bahan (...) kami sampaikan. Ya ada 20 perusahaan yang pada pagi hari ini minerba dan migas semua itu telah memiliki izin sesuai yang diajukannya dan semua prosedur izin yang kami sampaikan sudah sesuai dengan SOP dan juga sesuai dengan arahan dan juga Pak Pimpinan sampaikan sudah sesuai dengan amdal dokumen-dokumen yang beliau perusahan tersebut memiliki. Saya pikir (...) memang ada disini pak, kalau boleh tidak kami bacakan satu-satu nanti kalau memang ada pertanyaan dari Pak Pimpinan kami akan menyampaikan jawaban . Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jelaskan saja pak, masalah pemberian izin bagaimana kriteria memberikan izin kepada perusahaan salah satunya contoh perusahaan chevron yang telah dikunjungi Komisi VII yang menjadi temuan.
DIRJEN B3:
Oke. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Bagaimana memberikan izinnya, bagaimana teknologi yang sudah di tangani oleh Kementerian bahwa Kementerian bisa memberikan izin kepada perusahaan tersebut dan kami ingin mengunjungi perusahaan yang sudah bapak nyatakan pernah mengerjakan pekerjaan itu. Nah kami ingin melihat juga perusahaan mana yang sudah melakukan pekerjaan itu dan sudah dinyatakan clear and clean limbah tersebut. Silakan.
DIRJEN B3:
Pimpinan terhormat,
Pertama kami sampaikan dalam memproses izin tentu pertama ada antrasi yang harus dipenuhi dan juga ada aspek teknia yang harus dipenuhi. Sedikit kami sampaikan masalah antrasi tentu rujukan kami adalah dokumen lingkungan. Sepanjang dokumen lingkungan ada dan ada kegiatan tersebut di dalam dokumen secara antrasi sudah bisa kita tindak lanjuti, secara antrasi. Kedua secara teknis.
KETUA RAPAT:
Bagaimana-bagaimana ulangi pak.
DIRJEN B3:
Pertama secara antrasi kita merujuk ke dokumen lingkungan, misalnya satu perusahaan di dokumen lingkungan ada kegiatan pemanfaatan limbah B3. Kalau ada di dokumen lingkungan ada kegiatan pemanfaatan limbah B3 secara antrasi perusahaan tersebut boleh kita coba memproses lebih lanjut ke kajian teknisnya. Kedua ada kajian teknis, kajian teknis yang kita lakukan adalah sangat merujuk ke standar-standar yang kita tetapkan.
KETUA RAPAT:
Jadi hanya dokumen saja acuannya, sudah bisa dilanjutkan proses pemberian izinnya?
DIRJEN B3:
Belum pak tetapi itu proses administrasinya saja.
KETUA RAPAT:
Terus?
DIRJEN B3:
Teknisnya baru langkah berikutnya pak.
KETUA RAPAT:
Jelaskan saja, jadi kami biar paham bagaimana cara mengeluarkan Dirjen B3 ini pemberian izin, penanaman landfillyang di tanam oleh PT Chevron tadi 1300 ton
tadi, jadi 1 juta 300 ton tadi. Jelaskan kami mau tahu mana yang bapak pernah nyatakan nyaman, nah perusahaan itu akan kita kunjungi.
DIRJEN B3:
Terima kasih pak.
Kami akan contoh, saya akan coba ulangi lagi tata cara pemberian izi. Pertama kegiatan yang diajukan oleh izin PPLH harus tercover di dalam izin lingkungan. Apabila tercover izin lingkungan secara administrasi akan kita tindaklanjuti pesyaratan-pesyaratan terteknis. Pesyaratan terteknis selalu kita melihat apa yang diajukan, dalam hal ini kita selalu melibatkan para-para ahli dan juga standar-standar teknis yang kita tetapkan.
KETUA RAPAT:
Coba ahli tadi siapa saja pak? Coba bapak jelaskan.
DIRJEN B3:
Terima kasih,
Pak Pimpinan terhormat,
Ahli ini dalam catatan kami biasa dari dosen-dosen ITB, dosen-dosen UI dan juga dosen-dosen.
KETUA RAPAT:
Sekretariat catat ya. Nanti kita undang ini semua.
DIRJEN B3:
Siap dan juga ada juga dari PUPR, PUPR juga kita undang tergantung konteks izin apa yang diajukan. Kalau izin lendfill.
KETUA RAPAT:
Nanti saya minta ya yang dari Lembaga-Lembaga tadi, siapa namanya semua itu kita minta biar kita minta penjelasannya disini nanti. Silakan.
DIRJEN B3:
Kalau izinnya berhubungan dengan peruntukan jalan baik untuk internal biasa kita melibatkan adalah dari Litbang PUPR jalan dan jembatan, karena disana yang paling tahu tata cara jalan yang paling baik dan benar apa standar-standar yang haus dipenuhi. Kalau dari izin landfill.
KETUA RAPAT:
Ini yang PUPR ini untuk masalah limbahnya atau masalah apanya sekarang?
DIRJEN B3:
Biasa kita lari ke cara standar jalan yang paling baik dan juga.
KETUA RAPAT:
Bukan ini kan soal lingkungan ini soal limbah. Kalau soal medetkan jalan pintar mereka, yang saya tanya ini soal masalah limbahnya. Siapa yang meneliti bahwa dibenerkan bahwa limbah ini untuk dibuat timbunan jalan. Nah itu yang saya tanya. Nah Lembaga mana tadi, nah tolong bapak jelaskan supaya nanti saya Sekretariat bisa mencatat dan kita meminta hadir disini menjelaskan begitu. Itu yang saya butuhkan.
DIRJEN B3:
Terima kasih,
Pimpinan terhormat,
Ini biasa kita melibatkan PU untuk mengkaji kembali rumaterial untuk timbunan jalan, bukan hanya jalan rumterial. Biasa di PU punya standar SNI rumaterial apa, standar apa yang besyarat yang bisa dijadikan untuk material.
KETUA RAPAT:
Bukan. Pak rumaterial itu beda lagi, bapak salah nanti jadinya. PU ini rumaterial untuk buat jalan. Yang saya tanya tadi bahan limbah maupun bapak tanam untuk buat jalan kajiannya siapa yang membuat? Ini yang saya tanya. Tadi bapak bilang bahwa ini Universitas mana, silakan saja. Itu kita terima dan namanya siapa kita hadirkan nanti disini untuk memberikan penjelasan. Nah kalau bapak bilang rumaterialnya bapak tidak usah sebut itu nanti salah jadinya. Saya tanya tadi Lembaga mana yang menyatakan bahwa limbah tersebut dinyatakan aman kalau ditanam landfill. Nah mana Lembaganya terus dimana lokasi yang sudah dikerjakan. Nanti Komisi VII mengunjungi lokasi itu.
Kalau kami (...) berangkat ke Jerman, sudah kami melihat cara pemusnahan limbah di Jerman itu sudah tahu kami nah sudah kami melihat dan itu belum ada di Indonesia pak. Nah itu itu yang kami kasih masukan. Silakan, yang kami tanya ini Lembaga. Lembaga, peneliti silakan saja jelaskan nah nanti kita tahu bahwa dari situlah bapak mengeluarkan izin. Nah berarti kalau salah berarti bapak salah, kalau benar bagus. Silakan.
DIRJEN B3:
Terima kasih,
Pimpinan terhormat,
Saya sampaikan bahwa kita selalu melibatkan University biasanya ITB pak. Biasa ada Pak Lambok dan teman-temannya. Saya tidak hafal betul semua Prof. Lambok dan teman-temannya ini. Nanti bisa disampaikan secara detail kepada Sekretariat dan kedua kita suka melibatkan adalah IPS. Saya juga lupa namanya Ibu-Ibu, nanti bisa sampaikan secara detail kepada Sekeretariat. Mungkin ini setelah proses dari ahli menyatakan ini aman terhadap lingkungan dan memenuhi standar-standar yang ditetapkan. Biasa baru kita memberikan suatu proses perizinan lebih lanjut pak. Saya pikir itu saja penjelasan kami. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik. Terima kasih.
Berarti dua Lembaga ini saja ya. Jadi untuk Lembaga-Lembaga lain yang mengkaji penelitiannya tidak ada?
DIRJEN B3:
Ada pak. ITB pak ITB juga kita undang.
KETUA RAPAT:
Ya tolong nanti namanya. Terus Lembag-Lembaga independent lain?
DIRJEN B3:
Ada dan juga ada personal yang independent.
KETUA RAPAT:
DIRJEN B3:
Ahli independent kita juga mengundang dia.
KETUA RAPAT:
Siapa?
DIRJEN B3:
Pak Hendra, namanya Hendra saya lupa nama detailnya.
KETUA RAPAT:
Perusahaan atau?
DIRJEN B3:
Bukan, dia personal pak.
KETUA RAPAT:
Person saja?
DIRJEN B3:
Ahli, ahli saja.
KETUA RAPAT:
Person saja?
DIRJEN B3:
Person dia.
KETUA RAPAT:
Dari Universitas mana?
DIRJEN B3:
KETUA RAPAT:
Oke. Terus yang lain?
DIRJEN B3:
Saya tidak hafal betul pak tetapi.
KETUA RAPAT:
Saya minta daftarnya ya.
DIRJEN B3:
Oke.
KETUA RAPAT:
Saya hadirkan disini. Nanti kita belajar dari mereka, kalau nanti bisa dijadikan pelajaran takutnya salah nanti.
DIRJEN B3:
Terima kasih pak.
KETUA RAPAT:
Mungkin saya meminta kepada Pak Dirjen Gakum penjelasan tentang seluruh perusahaan regulasi maupun baik minerba maupun migas yang sudah ditangan Gakum dan bagaimana penangan-penanganannya. Kami persilakan kepada Pak Dirjen Gakum.
DIRJEN GAKUM:
Yang terhormat Pimpinan Komisi VII dan juga, Yang kami hormati Anggota Komisi VII,
Izinkan kami menjelaskan beberapa hal terkait dengan penegakan hukum berkaitan dengan kegiatan-kegiatan perusahan migas dan minerba. Kami mohon izin Pak Pimpinan. Kami hanya memasuki beberpa, ini perusahaan-perusahaan yang migas tetapi akan kami jelaskan yang minerbanya, karena belum mendapatkan informasi tambahan. Iya saya menjelaskan Pak Pimpinan kami sampaikan sekiranya kami jelaskan pada beberapa pertemuan sebelumnya. Bahwa penegakan hukum lingkungan hidup kehutanan ini kami lakukan berdasarkan ada 7 Undang-Undang
yang memberikan kewenangan kepada kami melakukan penegakan hukum lingkungan hidup kehutanan:
1. Berkaitan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2009,
2. Kemudian Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah tahun 2018, 3. Kemudian Undang-Undang tentang Kehuatanan tahun 1999,
4. Kemudian Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem tahun 1990,
5. Kemudian Undang-Undang tentang Pencegahan dan Perbatasan persoalan hutan tahun 2013,
6. Undang-Undang Konservasi Tanah dan Air tahun 2014
7. Undang-Undang TPPU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,
Jadi kami diberikan kewenangan untuk melakukan penegakan hukum berkaitan dengan ketujuh Undang-Undang ini. Perlu kami sampaikan adapun aspek-aspek terkait dengan instrumen yang kami gunakan. Kami menggunakan instrumen administratif dimana kami memberikan sanksi teguran tertulis dan juga paksaan pemerintah, pembekuan dan pencabutan izin kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan ketidakpatuhan berkaitan dengan izin-izin yang diberikan. Kemudian juga kami menggunakan instumen penegakan hukum pidana berkaitan dengan adanya indikasi-indikasi tindak pidana, berkaitan dengan Undang-Undang yang saya jelaskan tadi. Yang ketiga kami menggunakan instrumen penyelesaian sengketa (suara tidak jelas) perdata.
Ada pun penggunaan ketiga instrumen ini saling satu terkait pak, Pak Pimpinan. Bisa saja kami berikan sanksi administratif, kemudian sekaligus kami melakukan penindakan hukum pidana dan juga penyelesaian sengketa. Ini yang kami lakukan. Perlu kami sampaikan berkaitan dengan perusahaan-perusahaan pertambangan yang saat ini kami itu sedang tangani, sudah kami tangani saya tidak punya angka disini pak nanti kami jelaskan. Bahwa sebelum saya masuk kesana saya akan sampaikan bahwa kami juga memberikan sanksi kepada 552 perusahaan ini bervariasi termasuk di dalamnya ada perusahaan-perusahaan terkait dengan minyak dan gas juga pertambangan minerba dan juga kami melakukan penegakan hukum pidana pada 575 kasus yang sudah kami bawa ke pengadilan.
Ini terkait korporasi maupun perorangan yang kami bawa ke pengadilan dan juga kami melakukan gugatan perdata ada 19 yang kami buat perdatanya yang sudah masuk ke dalam pengadilan dan ada satu proses 18 sudah kita masukan ada 10 sudah inkrah. Nilai gugatan yang sudah inkrah ini yang sudah diputuskan melalui MA (Mahkamah Agung) ini sekitar lebih dari 18,3 triliun. Ini yang kami lakukan, jadi kepada perusahaan-perusahaan yang telah melanggar bisa kami kenakan sanksi administratif, juga bisa kami kenakan penegakan hukum pidana dan juga kami bisa gugatan perdata. Kami memberi contoh untuk pertambangan Pak Pimpinan yang sudah kami lakukan tidak ada di slide tetapi kami akan menjelaskan.
Pertama adalah PT di pertambangan yang ada di Banka Belitung PT Stamindo Intiperkasa ini juga kami lakukan penegakan hukum pidana, ini sudah diputus tetapi dilakukan di Bangka Belitung.
KETUA RAPAT:
Coba jelaskan tadi pak yang Bangka Belitungnya kesalahannya apa saja?
DIRJEN GAKUM:
Ini perusahaan ini tidak mempunyai izin pak, izin lingkungannya yang kami lakukan. Kemudian PT Indo Minko ini di Kalimantan juga sudah kami melakukan proses penegakan hukum korporasi. Perorangan perlu kami lakukan korporasi sudah dan ini berkaitan dengan damping limbah limbah B3 Indo Minko. Kemudian juga PT Laman Maining sedang kami lakukan proses di Kalimantan Barat ini boksit ininya sedang berproses karena mereka melakukan kegiatan diluar kawasan di masuk ke dalam kawasan hutan termasuk juga PT PCCI yang sedang kami proses juga. Ini data yang saya masukan karena kami baru mendapatkan informasi ternyata kami harus juga mempresentasikan berkaitan dengan minerba. Jadi kami melakukan pak berkaitan dengan mineral dan batu bara serta juga industri-industri migas.
Ada pun yang migas perlu kami sampaikan yang migas perlu kami sampaikan PT Chevron sedang tahap sanksi administrasi kami. Saat ini kemudian tentu akan kami lakukan pengawasan apabila memang di kemudian hari.
KETUA RAPAT:
Sedikit Pak Dirjen.
Ini kan Komisi VII sudah melakukan kunjungan ke PT Chvron. Waktu itu di dampingi salah satu Direktur bapak dan ditemukan kesalahan kepada penimbunan lahan tersebut. Apakah sudah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dari tim-tim penyidikan bapak, apakah belum dilakukan?
DIRJEN GAKUM:
Itu kita belum dalami lagi pak tetapi kami akan lakukan kembali. Perlu kami sampaikan. tidak bisa kita lakukan. Kemudian kami juga melakukan pemberian sanksi kepada pertamina beberapa lokasi yang ada disini mungkin bisa dilihat. Pertamina FP Sangat-sangat, Tanjung Fild, kemudian Tarakan, Bunyu dan Cepu.Disamping itu juga kami tentu ada beberapa perusahaan kalau kami temukan taat kami bilang taat tetapi kalau kami di lapangan kami temukan permasalahan kami berikan sanksi administrasi.
Kemudian juga termasuk kami berikan teguran tertulis serta ada beberapa perusahaan yang sedang proses pemberian sanksi yaitu PT Exxon Mobil di Bojonegoro kami melakukan pengawasan pada bulan November dan berproses saat
ini. Kemudian juga perusahaan-perusahaan lainnya adalah pertamina Balikpapan, ini sedang dikenakan sanksi administrasi berkaitan dengan tumpahan minyak yang ada disana dan juga perusahaan ini sedang proses pidana. Kemudian juga PT Sinok di Kepulauan Seribu proses pemberian sanksi administrasi. Kemudian juga metkonenatuna proses pemberian sanksi administrasi dan ada perusahaan-perusahaan lainnya yang sedang kami persiapkan untuk melakukan pengawasan. Saya pikir itu yang kami sampaikan Pak Pimpinan Komisi VII yang perlu kami sampaikan bahwa kami akan melakukan pengawasan.
Sebagaimana pada pertemuan-pertemuan kita sebelumnya berdasarkan rekomendasi, rekomendasi yang di keluarkan oleh Komisi VII maupun rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan oleh Panja Limbah dan Lingkungan. Terima kasih Bapak Pimpinan.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Interupsi Pak Ketua sebelum, Pak Dirjen.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Ramson.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Pak Dirjen, ini semua yang dikemukakan barusan itu semua hanya terkait sanksi administrasi saja. Padahal di lapangan sudah sangat berat, apatidak punya gigi apa tidak punya kuku.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Dirjen.
DIRJEN GAKUM:
Yang terhormat Pak Ramson,
Tadi saya sampaikan ada beberapa perusahaan yang kami pidanakan pak, tadi sebenarnya saya memang tidak masukan di dalam sini karena ini kami masuk kepada terkait dengan migas. Yang minerba itu saya sampaikan tadi.
KETUA RAPAT:
Pak (...) mesti di pancing dulu biar agak panas jadi baru gas dia nanti, ya kan. Silakan Pak Dirjen.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Sebelum dilanjutkan Pak Ketua. Interupsi.
KETUA RAPAT:
Silakan.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Apa Direkturnya tidak melaporkan ke Pak Dirjen waktu tim dari Komisi VII yang di dampingi oleh Direktorat Jendral Gakum untuk memeriksa fildnya Chevron Pacific Indonesia?
DIRJEN GAKUM:
Dilaporkan pak dilaporkan.
F-P.GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):
Tetapi ko masih ini, hanya administrasi hanya administrasi. Prosesnya diberitahukan dong.
KETUA RAPAT:
Pak Ramson itu daerahnya berbeda, itu Kampar dia. Yang kita tinjau waktu itu di Duri. Dengan Pak Sugeng ya Direkturnya Pak Sugeng ya ?
DIRJEN GAKUM:
Iya
KETUA RAPAT:
Mungkin diganti saja Direkturnya Pidana, yang pidana saja yang kesana jadi biar langsung proses penyidikan. Nah kalau memang terbukti ya penyelidikan, karena kita sudah melihat disana itu ini Direktur bapak itu geleng-geleng begini jadi kita bilang “ini benar tidak? Waduh kacau ini pak”. Silakan pak.
DIRJEN GAKUM:
Terima kasih Pak Ramson.
Jadi kami melakukan pak, jadi pidana juga ada saya sampaikan tadi ada indominko, kemudian juga ada SIP, kemudian PT Laman Mining sedang berproses itu boxit pak di Kalimantan Barat, kemudian juga ada yang di batu bara juga PT PPCI juga sedang PPCI juga sedang berproses. Kami sudah melakukan juga pemanggilan-pemanggilan terhadap Direkturnya pak. Jadi kami melakukan untuk itu pak. Kami sudah sampaikan, kami akan menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komisi VII maupun juga oleh Panja Limbah dan Lingkungan. Terima kasih Bapak Ramson dan juga Bapak Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Dirjen.
Mungkin para Direktur yang hadir kami meminta untuk menjelaskan regulasi izin-izin yang dimiliki dari lingkungan tentang pengelolaan-pengelolaan tambang maupun sumber-sumber yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan yang kita undang. Kami persilakan mungkin dari PT Bukit Asam dulu.
PT BUKIT ASAM:
Bapak Pimpinan rapat yang kami hormati dan, Bapak-Bapak Ibu Anggota Dewan yang terhormat, Serta teman-teman semuanya,
Kami dari bukit asam. Pertama-tama mohon maaf Bapak Dirut kami tidak bisa hadir, Surya Iko sebagai Direktur Operasi Produksi mewakili karena bapak Dirut kami sedang berobat hari ini. Kami akan menyampaikan beberapa hal terkait dengan lingkungan,
1. Izin lingkungan yang terdiri dari izin tempat pembuangan sampah B3 pengelolaan limbah B3, izin titik penaatan pengelolaan lingkungan.
2. Reklamasi komulatif luas reklamasi penetapan jaminan reklamasi.
3. Paca tambang program pasca tambang dan penempatan jaminan pasca tambang.
Mudah-mudahan ini nanti bisa memberikan gambaran secara lebih lengkap. Untuk izin lingkungan atau amdal kami memiliki 7 IUP dimana seluruh IUP sudah memiliki izin lingkungannya pak. IUP tambang air laya menggunakan SK Gurbernur Sumatera Selatan Nomor 613. Sementara itu izin tambang air laya, izin muara tiga besar, izin bangko itu seperti itu. IUP bangko tengah blok A SK Gurbernur Sumatera Selatan Nomor 218 tertanggal 20 Maret 2017. Sementara IUP ombilin keputusan Walikota Salalunton nomor 189 poin 2 tanggal 28 Juni 2011 saat ini kami sedang
melakukan revisi amdal. Nomor 7 IUP pranat kita sudah mengantongi surat Departement Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1758 tetanggal 4 Mei 2001.
Sementara untuk izin tempat pembuangan sampah sementara limbah B3 IUP Tambang air laya SK Bupati Muara Enim tanggak 5 April 2015 perihal izin penyimpanan sementara limbah bahan berbahaya dan beracun, IUP Muara tiga besar SK Bupati Lahat, IUP Bangko Barat dan Bangko Tengah itu SK Bupati Muara Enim, yang terakhir adalah masa berlakunya 5 tahun sejak tanggal 7 April 2015. Pengelolaan limbah B3, pengelolaan limbah B3 di IUP air laya bangko tengah NTB dan Bangko Barat ini terdiri dari beberapa jenis limbah B3. Untuk limbah oli bekas itu velumenya tahun 2018 sekitar 946 ton, pengelolaannya dengan cara disimpan di tempat pembuangan sampah sementara selanjutnya dikirim ke PT Pengelola yang mempunyai sertifikat pengelolaan limbah.
KETUA RAPAT:
PT apa pak?
PT BUKIT ASAM:
Disini ada PT Wiraswasta Gemilang Abadi dan pengangkutnya adalah PT Dame Alam Sejahtera. Untuk filter oli bekas ada 90 ton, itu juga pengelolaannya hampir sama. Pengelola limbahnya adalah PPLI, PT PPLI. Aki bekas pengelolannya sama ditmpung di TPS terlebih dahulu dan selanjutnya dikelola oleh PT Bumi Katulistiwa Bersama sebagai pengumpul selanjutnya dikirim ke non ferindo. Yang keempat bahan terkontaminasi B3 seperti serbuk, macun, sarung tangan itu pengelolaannya oleh PPLI juga (Prasadap Pemunah Limbah Industri), lampu itu juga pengelolaannya hampir sama taruh ditempat pembuangan sampah sementara selanjutnya oleh PPLI, Cartridge atau tooner bekas juga oleh PPLI. Pengelolaan limbah B3 di (...) dan beberapa tambang lain, selanjutnya seperti gress bekas itu juga PPLI, hos bekas juga PPLI, limbah laboratorium PPLI, asbes limbah elektronik juga PPLI.
Karena bukit asam juga mengelola PLTU milik sendiri disana ada limbah B3 berupa fly ash dan battom ash ini juga pengelolaannya disimpan di TPS selanjutnya dikirim ke PT Semen Batu Raja. Ini di manfaatkan untuk bahan semen disana bottom ashnya juga demikian. Terkait dengan izin titik penataan karena kami saat ini sedang beroperasi di Tanjung Hinim itu di empat IUP yaitu IUP Tambang Air Laya, IUP Muara Tiga Besar, IUP Bangko Barat dan IUP Bangko Tengah blok A dan B. Izin lingkungannya semuanya sudah kita dapatkan. Sedang IUP Bangko Barat sekarang sedang proses SK perpanjangan dari Bupati Muara Enim. Pengelolaan lingkungan PT BA telah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengurangan dan pemanfaatan limbah B3 yang keseluruhannya telah memenuhi baku mutu lingkungan dan telah mendapat apresiasi dari KLHK berupa proper emas sebanyak 6 kali 6 tahun berturut-turut.
Serta mendapat penghargaan aditama pada inferel word Kementerian ESDM. Dalam pengelolaan lingkungan kami menggunakan sistem yang kami namakan sutemibility bukit asam sustenebel infaremen excellent. Kami mempertimbangkan lima aspek P sebagaimana ada di dalam paparan di depan. Ini adalah kegiatan pengembangan bukit asam saya rasa ini dilanjut saja. Kami juga melakukan beberapa inovasi sumber daya terkait konservasi energi dan pengurangan emisi, yang pertama adalah kaitannya dengan industri vol poin O penerapan teknologi kami melakukan digitalisasi sistem pemantauan dan pengendalian (...) disana. Yang kedua adalah penghematan kosumsi BBM itu sebesar 21.000 liter. Penurunan biaya operasional ini semuanya di tahun 2018, penurunan biaya operasional sampai mencapai 234 miliar rupiah, penurunan kosumsi energi sebesar 815 gigajul, eliminasi emisi gas rumah kaca sebesar 56 ton co2 menjadi zero emition.
Sementara inovasi sumber daya penerapan teknologi satu-satunya di Indonesia hibrit damtrek berbasis elektrik power drive, ini adalah damtrek dengan menggunakan teknologi bahan bakar kombinasi antara elektrik dengan minyak. Penghematan kosumsi oli, penurunan biaya operasional, penurunan timbulan limbah B3 dominan, penurunan timbulan limbah B3 non dominan. Inovasi sumber daya yang lainnya adalah pemanfaatan limbah padat non B3. Non B3 juga kami kelola salah satunya adalah pemanfaatan belkonveor yang tadinya ini menjadi limbah, saat ini kita gunakan sebagai bahan kontruksi kolam pengaduk lumpur sistem grafitasi. Ini nanti boleh nanti ditinjau di lapangan. Yang kedua adalah migrasi energi listrik ke energi potensial grafitasi. Pemanfaatan sampah belkonver 4 ton per unit, sementara penurunan biayanya mencapai 175 miliar. Dalam hal.
KETUA RAPAT:
Izinnya dari mana pak?
PT BUKIT ASAM:
Kenapa?
KETUA RAPAT:
Izinnya dari mana?
PT BUKIT ASAM:
Izim apanya pak?
KETUA RAPAT:
Izin pengelolaan tadi. Ini izin kan perlu izin ini, izinnya dari mana? Tidak ada izin?
PT BUKIT ASAM:
Kalau pengelolaan limbah izinnya sudah ada di dalam izin pengelolaan limbahnya itu sendiri tetapi kalau untuk riyus ini kan sifatnya.
KETUA RAPAT:
Iya maksud saya, yang saya tanya izin pengelolaan limbah tadi ini ada tidak? Yang ini yang bapak jelasin barusan.
PT BUKIT ASAM:
Ini adalah inovasi pak. Ini dari kacamata kami untuk limbah non B3 tidak perlu izin.
KETUA RAPAT:
Oh ini non B3?
PT BUKIT ASAM:
Ini yang nin B3 pak. Ini tidak ada izin pak.
KETUA RAPAT:
Iya kalau.
PT BUKIT ASAM:
Ini adalah inovasi untuk riyus pak.
KETUA RAPAT:
Ini bukan limbah B3 ya?
PT BUKIT ASAM:
Bukan limbah non B3 non B3 pak yang kami sampaikan ini. Untuk efisiesi air kami juga melakukan ada beberapa hal. Inovasi perlindungan keanekaragaman hayati kami juga menanam sereh wangi untuk tanaman adatik di lahan kritis bernilai ekonomis kita juga lakukan sebagai alternatif pengganti tanaman untuk cover (...) pak.
KETUA RAPAT:
Serehnya dibagi kemana?
PT BUKIT ASAM:
Kita jadikan minyak sereh wangi pak. Kita prodak sebagai prodak untuk masyarakat sekitar. KETUA RAPAT: Oh sesar? PT BUKIT ASAM: Iya. KETUA RAPAT:
Jadi suruh gosokin setiap hari? Terus pak
PT BUKIT ASAM:
Untuk reklamasi, terkait dengan reklamasi untuk IUP tambang air laya komulatif luasan reklamasi sebesar 1216 hektar. Sementara presentase kerberhasilan reklamasi tahun 2018.
1. Jaminan reklamasi belum dialihkan atas nama Dirjen Minerba, penilaian keberhasilan reklamasi pada tahun (...) dilanjutkan pada tahun 2019, saat ini sedang dilakukan penilaian tetapi jaminan reklamasinya tetap ada. 2. IUP Muara Tiga Besar sebesar 254 hektar, jaminan reklamasinya juga
masih ada. Penilaian keberhasilan reklamasi sedang dilakukan sampai dengan tahun 2019.
3. IUP Bangko Barat sebesar 517, kita untuk tahun reklamasi tahun 2014 kita berhasil 97% sampai dengan di tahun 2017 70,7%. Sementara untuk tahun 2018 sedang dilakukan penilaian keberhasilan reklamasinya.
Terkait dengan jaminan penempatan reklamasI,
1. IUP Tambang Air Laya jaminan reklamasi tahun 2014 sampai tahun 2018 itu sebesar 19,7 miliar dalam bentuk deposito berjangka.
2. IUP Muara Tiga Besar jaminan reklamasi sampai dengan tahun 2018 sebesar 16,7 atau 16,8 dalam bentuk deposito berjangka.
3. IUP Banko Barat jaminan reklamasi tahun 2016 sebesar 637 juta masih berlaku sampai dengan 31 Desember 2019.
4. IUP Bangko Barat jaminan reklamasi tahun 2018 sebesar 3,5 miliar berbentuk Bank Garansi masa berlaku sampai dengan 30 Juni 2019.
KETUA RAPAT:
Bank Garansi itu berarti pakai cash ya atau tidak ?
PT BUKIT ASAM:
Bank Garansi itu dana yang masih ditaruh dimana. Kita memang menaruh di Bank tetapi yang kita keluarkan Bank Garansinya saja sehingga tidak semuanya.
KETUA RAPAT:
Iya maksud saya, yang dijaminkan ke Bank itu untuk mendapatkan Bank Garansi itu senilai itu juga?
PT BUKIT ASAM: Betul. KETUA RAPAT: Sama ya. PT BUKIT ASAM: Sama. KETUA RAPAT:
Berarti hanya naruhin depositonya sebesar itu ya?
PT BUKIT ASAM:
Betul.
KETUA RAPAT: