GAYA KOMUNIKASI GURU SLB C SUKAPURA KOTA BANDUNG DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA TUNAGRAHITA
(Descriptive Study Regarding Communication Style of SLB C Teacher Sukapura Bandung City in Increasing Learning Motivation for Intellectual Disability Students)
Muhammad Audi Adhamulia Nim: 41815240
Ilmu Komunikasi Program Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia, Dipatiukur 116, Bandung, Indonesia
Email :
Abstract
This research was conducted to explain in detail about the Communication Style of SLB C Sukapura Bandung City Teacher in Increasing Motivation for Intellectual Disability Students. To answer the problem above, the researcher discusses the micro sub-problem, namely, verbal and nonverbal communication.
The research method used is a qualitative research method with descriptive studies. The subjects in this study changed 6 (people) consisting of 3 (three) teachers and 3 (three) collected students obtained through the Snowball technique. The technique of collecting data is through non-participant observation, in-depth interviews, documentation, internet searches and literature studies.
The results showed that verbal communication carried out by teachers to intellectual disability students through messages that not too formally and using words that are as simple as possible which the teacher verbally gives the purpose from the student's work results and gives praise to the students and repetition of words that carried out by the teacher to students with the aim of ensuring intellectual disability student understand what is meant. Nonverbal communication by touch with stroking, holding hands and giving a high five can increase the learning motivation of students with the teacher giving a smile to the students and giving a positive example by communicating objects so students can imitate, where the teacher's intonation is gentle towards the students to increase learning motivation.
The conclusions of this study are the communication style carried out by the teacher to intellectual disability students resulting in positive communication in increasing the learning motivation of the students in the presence of a few obstacles from some factors of SLB C Sukapura Bandung city intellectual disability students.
Suggestions from this study are teachers are expected to be able to innovate in giving something favored by intellectual disability students so that the students more easily accept the motivation given by the teacher and the school can provide more facilities so that intellectual disability students are enthusiastic in learning.
Keywords: Descriptive, Communication Style, Teacher, Students, Intellectual Disability, motivation Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan secara terperinci mengenai Gaya Komunikasi Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Siswa Tunagrahita. Untuk menjawab masalah diatas, maka peneliti mengangkat sub masalah mikro yaitu, Komunikasi verbal dan nonverbal.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan studi deskriptif. Subjek pada penelitian ini berjumlah 6 (orang) terdiri dari 3 (tiga) guru dan 3 (tiga) orangtua siswa yang diperoleh melalui teknik Snowball. Teknik pengumpulan data melalui observasi non partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi, internet searching dan studi literatur.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Komunikasi Verbal yang dilakukan oleh guru kepada siswa tunagrahita melalui mengemas pesan dengan tidak terlalu formal dan menggunakan kata kata yang sesederhana mungkin yang mana secara lisan guru memberikan tujuan dari hasil yang siswa kerja serta memberikan pujian pujian kepada siswa tunagrahita dan pengulangan kata yang dilakukan oleh guru kepada siswa dengan tujuan memastikan siswa tunagrahita mengerti apa yang dimaksud. Komunikasi nonverbal secara sentuhan dengan cara mengelus, menggenggam tangan dan memberikan high five dapat meningkatkan motivasi belajar siswa tunagrahita dengan expresi guru memberikan senyuman kepada siswa tunagrahita serta memberikan contoh yang positif dengan cara komunikasi objek sehingga siswa dapat mencontohnya, dimana intonasi yang dilakukan guru secara lemah lembut terhadap siswa tunagrahita agar meningkatkan motivasi belajar siswa tunagrahita.
Simpulan dari penelitian ini yaitu Gaya Komunikasi yang dilakukan oleh guru kepada siswa tunagrahita menghasilkan komunikasi yang positif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tunagrahita dengan adanya sedikit hambatan dari beberapa faktor siswa tunagrahita SLB C Sukapura Kota Bandung.
Saran dari penelitian ini guru diharapkan dapat berinovasi dalam memberikan sesuatu yang disenangi oleh siswa tunagrahita sehingga siswa tunagrahita lebih mudah menerima motivasi yang diberikan oleh guru dan sekolah dapat memberikan fasilitas yang lebih agar siswa tunagrahita bersemangat dalam belajar.
Kata Kunci: Deskriptif, Gaya Komunikasi, Guru, Siswa, Tunagrahita, Motivasi..
1. Pendahuluan
Tungrahita merupakan sebutan bagi mereka yang memiliki gangguan mental atau
keterbelakangan mental dalam hal
kecerdasaan. Anak tunagrahita adalah anak yang berkebutuhan khusus yang termasuk golongan anak luar biasa yang memiliki kekurangan kecerdasan atau IQ di bawah rata – rata sehingga menyebabkan fungsi dan
kecerdasan mereka terganggu. Anak
tunagrahita tidak bisa mengurus diri mereka sendiri selayaknya anak normal lain nya, anak tunagrahita harus memerlukan bantuan khusus dari orang sekitarnya. Dari mengurus diri atau dari bidang akademik, tergantu dari tingkatan kecerdasan anak tunagrahita tersebut.
Anak tunagrahita biasa dianggap remeh oleh masyarakat sekitar bahkan ada yang diasingkan atau bahkan dikurung, padahal anak tunagrahita juga perlu disayangi dan dikasihani, mereka juga berhak untuk hidup dan berkembang seperti anak normal lainnya. Anak tunagrahita juga memiliki masalah dalam berkomunikasi sehingga perlunya perhatian khusus untuk memahami apa yang dimaksud dari anak tunagrahita tersebut.
Dalam kehidupan setiap manusia
memiliki gaya komunikasi yang berbeda-beda karena gaya komunikasi tersebut tak jarang bisa dijadikan sebagai ciri khas seseorang dalam berkomunikasi. Untuk berkomunikasi diperlukan gaya komunikasi yang baik agar yang disampaikan baik verbal maupun nonverbal dapat diterima dengan baik pula. Mengenal gaya komunikasi seseorang juga dapat menemukan kesadaran diri sehingga dapat mengembangkan cara berkomunikasi dengan orang lain untuk menghasilkan komunikasi yang efektif sehingga setiap orang
harus menganggap penting dan
memperhatikan gaya komunikasi.
Gaya komunikasi adalah suatu kekhasan yang dimiliki setiap orang dan gaya komunikasi satu dengan orang lainya berbeda. Perbedaan antara gaya komunikasi antara satu
orang dengan yang lain dapat berupa perbedaan dalam ciri-ciri model dalam berkomunikasi, tata cara berkomunikasi, cara
berekspresi dalam berkomunikasi dan
tanggapan yang diberikan atau ditunjukan pada saat berkomunikasi. Salah satu yang dihasilkan dari pentingnya gaya komunikasi misalnya seseorang dalam memberikan motivasi atau semangat kepada orang lain. Sebagai contoh yaitu memberikan semangat motivasi kepada anak- anak tunagrahita, dalam memberikan motivasi kepada anak tunagrahita setiap guru memiliki komunikasi secara khusus untuk
meningkatkan semangat motivasi anak
tunagrahita tersebut.
Seorang guru bukanlah perkerjaan yang ringat apalagi menjadi seorang guru untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa (SLB). Seorang guru SLB dibutuhkan kesabaran yang sangat ekstra agar bisa
mendidik siswa-siswanya dengan baik.
Diperlukan pendidikan dan keterampilan yang khusus agar dapat menangani mereka, selain itu diperlukan juga ketulusan, kesabaran dan
rasa mengasihi. Motivasi sangat di perlukan
untuk anak tunagrahita, diperlukan untuk
membuat sang anak menjadi lebih
bersemangat dalam belajar dan menjalani aktivitas dalam kehidupannya. Segala macam motivasi yang diberikan oleh guru dapat meningkatkan psikologis anak menjadi lebih baik. Tetapi tidak mudah untuk guru dalam
memberikan motivasi kepada siswa
tunagrahita, sangat dibutuhkan perhatian dan Teknik yang khusus dalam memberikan motivasi kepada anak tunagrahita.
SLB C Sukapura Kota bandung menerima siswa dari Tunagrahita ringan sampai Tunagrahita berat Anak tunagrahita tidak seperti anak normal lainya, anak tunagrahita tidak bisa berkomunikasi secara dengan baik mau verbal ataupun nonverbal, sehingga hanya orang terdekatlah yang mengerti apa yang di maksud dari interaksi komunikasi yang di lakukan oleh anak tunagrahita.
Komunikasi yang digunakan oleh SLB C Sukapura Kota Bandung tergantung dari kapasitas kepintaran anak tunagrahita tersebut, di SLB C Sukapura Kota Bandung memiliki kelas perkembangan yang dimana kapasitas anak tersebut kemampunyanya hanya bisa menerima bahasa receptif dimana komunikasi yang dilakukan oleh guru menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal agar siswa mengerti dan siswa tersebut memberikan feedback dengan cara nonverbal. Ada beberapa siswa yang mengerti komunikasi verbal dan memberika feedback melalui komunikai verbal. SLB C Sukapura Kota Bandung juga memiliki program, dimana setiap hari kamis dilakukan terapi bicara untuk diarahkan menggunakan komunikasi verbal ditunjukan kepada siswa yang artikulainya perlu diperbaiki karena merka bisa bicara tetapi artikulasinya tidak bagus sehingga harus diperbaiki, sebenarnya siswa tersebut punya
kemampuan komunikasi verbal tetapi
artikulasinya tidak jelas.
Gaya komunikasi verbal dan nonverbal ini digunakan saat pertama kali sekolah didirikan
dan memiliki hasil yang memuaskan tetapi
sekolah juga berinovasi dengan berkerjasama denga ISEEC dimana metode ini disebut spirit morning untuk meningkatkan motivasi siswa tunagrahita seprti relaxasi sebelum siswa memasuki kelas, cara metode tersebut dimana guru memberikan motivasi dengan cara bermain dan berdoa sebelum memasuki kelas sehingga siswa sudah punya semangat ketika pelajaran dimulai dan rencana nya akan di
tambahkan cara berkomunikai secara
berbahasa inggris oleh mahasiswa dari luar negri dengan bahasa inggris yang sederhana. Dalam kehidupan sosial manusia tidak terlepas dari komunikasi dan interaksi dengan lingkungan. Begitu juga interaksi guru dalam berkomunikasi dengan anak tunagrahita yang
ditentukan juga oleh faktor gaya
komunikasinya. Dalam berkomunikasi dengan anak tunagrahita guru memiliki cara yang berbeda. guru adalah orang-orang yang waktu
bertemunya lebih lama dengan anak
tunagrahita. Sehingga merekalah orang orang yang paling sering berkomunikasi dan
memahami perilaku komunikasi anak
tungrahita. Pengetahuan mereka akan perilaku anak tunagrahita dalam kehidupan sehari-hari
akan memudahkan mereka mengetahui
bagaimana cara yang tepat dalam memberikan motivasi kepada anak tunagrahita. Kita sebagai manusia tidak terlahir sebagai sosok yang sempurna, banyak berbagai macam kekuarang yang kita miliki sebagai manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah bersyukur kepada tuhan yang maha esa karna kita sudah terlahir di dunia ini. Anak tunagrahita tidak dapat berpikir rasional dan melakukan hal hal yang rumit dan juga anak tunagrahita tidak dapat menulis, mengaran ataupun kegiatan akademik lain nya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, yang peneliti kemukakan maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut: 1.2.1 Rumusan Masalah Makro
Bagaimana Gaya Komunikasi Guru SLB
C Sukapura Kota Bandung Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa? 1.2.2 Rumusan Masalah Mikro
1. Bagaimana Komunikasi Verbal
Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Siswa Tunagrahita
2. Bagaimana Komunikasi
Nonverbal Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam
Meningkatkan Motivasi Siswa Tunagrahita
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Komunikasi Interpersonal Antara Pelatih dengan Atlet Victory Taekwondo Club Kota Bandung.
1.3.2. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Gaya Komunikasi
Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara teoritis maupun praktis. 2. Kajian Pustaka dan Kerangka
Pemikiran
Gaya komunikasi adalah cara atau pola yang
ditampilkan oleh komunikator untuk
mengungkapkan sesuatu (menyampaikan
pesan, ide, gagasan) baik melalui sikap,
perbuatan, dan ucapannya ketika
berkomunikasi dengan komunikan (Suryadi, 2004:33). Gaya komunikasi dapat dilihat dan diamati ketika seseorang berkomunikasi baik secara verbal (bicara) maupun nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan serta gerakan anggota tubuh lainnya).
2.1 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran sendiri sebagai landasan pemikiran peneliti yang melatar belakangi penelitian ini. Adapaun sudut pandang pemikiran dan teori yang memberikan arahan dan patokan bagi peneliti untuk dapat memahami serta mendeskripsikannya dari
sebuah gaya komunikasi guru dalam
meningkatkan motivasi belajar anak
keterbelakangan mental di SLB C Sukapura Kota Bandung melaui studi deskriptif kualitatif. Komunikasi sangat berperan pada kehidupan, komunikasi ada dalam setiap aktivitas manusia. Bentuknya bisa berupa tulisan, lisan, gambar, isyarat, kata-kata yang dicetak.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Gambar ini menunjukan bagaimana kerangka pemikiran peneliti, mengenai Gaya Komunikasi Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Tunagrahita menggunakan fokus penelitian berdasarkan pertanyaan mikro yaitu komunikasi verbal dan nonverbal dengan
menghasilkan peningkatan motivasi belajar siswa tunagrahita
3. Objek dan Metode Penelitian 3.1 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi deskriptif, teori subtantif yang digunakan yaitu dengan Komunikasi verbal dan nonverbal dimana teori tersebut digunakan untuk menganalisis Gaya Komunikasi Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Tunagrahita.
Informan Penelitian
Dalam penelitian ini, informan yang dipilih peneliti adalah guru dan orang tua, sebagaimana merupakan kriteria yang dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi peneliti. Peneliti menggunakan teknik Snowball. 3.2 Teknik Pengumpulan Data
1. Studi Pustaka yang terdiri dari referensi
buku, studi literatur dan internet searching.
2. Studi lapangan yang terdiri dari
observasi partisipan, wawancara
mendalam, dan dokumentasi. 3.3 Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu member check,
peningkatan ketekunan dan triangulasi. 3.4 Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka diperlukan teknik langkah-langkah untuk menganalisa data-data yang telah diperoleh yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
3.5.1 Lokasi Penelitian
Lokasi yang menjadi tempat penelitian teletak di SLB C Sukapura, Jalan Perumahan Bumi Asri no 3, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan kurang lebih Selama 6 (enam) bulan Februari 2019 hingga Agustus 2019.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini berfokus kepada gaya komunikasi guru dalam meningkatkan motivasi siswa di SLB C Sukapura Kota Bandung yang membuat peneliti lebih memfokuskan kepada komunikasi verbal dan nonverbal yang dilakukan guru
terhadap siswa tunagrahita dalam
meningkatkan motivasi belajar.
Dalam tahapan penelitian, disini peneliti melakukan tahapan dengan wawancara mendalam, observasi nonpartisipan dan
melakukan dokumentasi ditempat
kejadian penelitian. Dengan dimulai
melalui pembahasan mengenai
komunikasi verbal guru dalam
meningkatkan motivasi belajar
meningkatkan motivasi belajar siswanya. Dari hasil yang diteliti melalui komunikasi verbal terdapat penyampaian bahasa, lisan dan pengulangan kata
4.2 Pembahasan
1. Komunikasi Verbal Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Tunagrahita
Komunikasi verbal yang dilakukan guru SLB C Sukapura Kota Bandung dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara pegemasan pesan yang tidak terlalu formal agar anak tersebut lebih merasa nyaman kepada para guru tersebut, menjadikan anak megangap kita sebagai teman dan orang tua sekaligus
menjadikan anak lebih semangat dalam
kegiatan belajar, kata kata yang
digunakan juga harus sesederhana
mungkin tidak bisa dengan kata kata yang
panjang karena anak tunagrahita
memiliki daya tangkap yang kurang dibanding anak normal lainnya. Dengan menggunakan kata kata yang sederhana digabungkan dengan intonasi bicara yang halus dapat membuat anak nyaman dalam kegiatan belajar mengajar.
Motivasi yang diberikan guru terhadap siswanya melalui bagaimana guru lebih memberitahu untuk apa tujuan anak anak tersebut dalam belajar, sehingga anak anak tersebut mendapatkan dorongan yang kuat dan jelas untuk apa mereka
belajar dalam kehidupan mereka,
memang pada dasarnya motivasi bisa
ditimbulkan dengan bagaimana
seseorang tau dari proses yang dikerjakan oleh setiap individu. Selain memberitahu tujuan dari apa yang dikerjakan, guru juga melakukan pujian kepada anak tersebut bila bisa melakukan sesuatu dari apa yang dikerjakan sehingga anak menjadi lebih dihargai dan anak lebih merasa di apresiasi dalam melakukan sesuatu, dan juga guru selalu mensupport anak saat sedang kesusahan dengan menyoraki anak tersebut agar lebih berusaha dalam melakukan sesuatu.
Anak tunagrahita memiliki daya tangkap yang kurang sehingga guru harus bisa sabar dalam menghadapi anak tunagrahita, sehingga guru dibutuhkan cara penyampain komunikasi dengan cara mengulangi kata katanya agar anak tersebut paham apa yang dimaksud dan guru juga harus menanyakan feedback dari anak tersebut berulang ulang karena guru harus tau jawaban yang diberikan benar atau tidak dari apa yang dimaksud
tersebut sehingga tidak terjadinya
misskomunikasi antara guru dengan siswanya.
2. Komunikasi Nonverbal Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Tunagrahita
Sentuhan adalah jenis dari komunikasi
nonverbal yang dilakukan dengan
sentuhan bukan dari kata kata bisa melalui elusan, berpegangan tangan melakukan tos atau sejenisnya. Tujuan dari sentuhan adalah menyampaikan pesan dengan perasaan kepada yang dituju. Guru SLB C Sukapura Kota Bandung memakai sentuhan kepada siswa untuk membangkitkan motivasi
terhadap siswanya, dengan guru
melakukan elusan kepada siswa bisa memberikan pesan emosional yang lebih
dalam sehingga siswa bisa lebih
merasakan kasih sayang yang diberikan kepada dirinya dan juga guru juga sering melakukan tos kepada siswa agar siswa tersebut mengangap guru tersebut lebih dari seorang guru dan membuat pelajaran lebih santai dan anak bisa merasa relax dalam melakukan sesuatu.
Ekspresi merupakan pengungkapan
dalam menangapi sesuatu hal yang dimaksut dengan menggunakan respon dari mimik muka dengan tujuan yang ingin disampaikan. Guru SLB C Sukapra Kota bandung harus tetap tersenyum guna membangkitkan semangat anak tunagrahita apapun kondisinya yang terjadi mereka harus tetap sabar dan tersenyum.
Dengan cara guru menerapi hal hal yang positive diharapkan siswa bisa mengikuti atau mencontoh hal hal yang dilakukan para guru kepada siswa, guru juga harus meyakinkan siswa apa yang dilakukan terhadap guru itu benar seperti guru sengaja memakai kacamata agar siswa yang malu memakai kaca mata mau memakainya karena dia berangapan bahwa diri dia berbeda jika memakai kacamata bisa juga dengan berpakaian yang rapih sehingga para siswa bisa mencontoh hal tersebut dan bagaimana
cara berdoa yang baik dengan
mengangkat kedua tangan sambil
menundukan kepala dengan begitu siswa dapat mencohtoh dari perilaku seorang guru tersebut.
Intonasi yang diberikan guru terhadap siswanya biasanya dengan cara yang halus karena anak tunagrahita tidak dapat
mengkontrol emosinya menjadikan
mereka menjadi mudah marah bila harus dikeraskan tetapi bisa juga berubah dengan nada yang keras apabila siswa tersebut memiliki pendenganran yang kurang sehingga dibutuhkan intonasi
yang keras agar maksud yang
disampaikan tersampaikan.
3. Gaya Komunikasi Guru SLB C Sukapura Kota Bandung Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Tunagrahita
Proses gaya komunikasi guru SLB C Sukapura Kota Bandung menunjukan bahwa adanya motivasi dari guru melalui komunikasi verbal dan nonverbal kepada siswa tunagrahita. Gaya komunikasi yang
diberikan guru terhadap siswa
tunagrahita terlihat adanya feedback yang positiv dari kedua belah pihak.
Pesan yang dilakukan guru telihat tidak terlalu formal sehingga siswa menjadi lebih nyaman dalam belajar dan guru juga
mengemas kata dengan singkat,
sederhana dan jelas menjadikan siswa dapat mengerti apa yang dimaksud oleh guru sehingga komunikasi antara guru dengan siswa berjalan baik.
Dengan guru memberikan tujuan dari
hasil pembelajaran siswa tersebut
menjadikan siswa tunagrahita lebih mendapatkan dorongan untuk melakukan pembelajaran dan dengan pujian dan menyemangati anak lebih menjadi terasa di apresiasi sehingga meningkatkan
perasaan anak untuk terus mau
melakukan pembelajaran.
Guru juga mengantisipasi terjadinya kesalahan dalam komunikasi verbal
sehingga guru menggunakan
pengulangan kata sampai siswa
tunagrahita tersebut memberikan
feedback yang postiv dalam kegiatan belajar walaupun terkadang feedback yang diberikan hanya sebatan satu atau dua kata.
Meningkatkan motivasi pastinya
membutuhkan komunikasi verbal dan nonverbal, komunikasi nonverbal yang guru berikan terhadap siswa tunagrahita
berupa elusan kepada anak tersebut, memegang tangan anak tunagrahita tersebut ketika kesulitan dan memberikan apresiasi kepada anak tunagrahita yang berhasil melakukan sesuatu bisa berupa tepuk tangan atau high five kepada siwa tersebut dan guru lebih menjauhkan bentuk apresiasi berupa hadiah berupa benda sebelum melakukan sesuatu karena akan takut menjadikan kebiasan kepada anak tunagrahita tetapi terkadang guru memberikan hadiah berbentuk fisik jika anak tersebut dapat melakukan sesuatu.
Guru juga memberikan expresi seperti senyuman kepada anak tunagrahita ketika
dia bisa melakukan sesuatu,
bagaimanapun situasinya guru SLB C Sukapura Kota Bandung tetap harus tersenyum kepada siswa tunagrahita walaupun siswa tersebut tidak mampu melakukan sesuatu hal, guru tetap tersenyum dan memberikan dukungan melalui senyum dan tepuk tangan. Dan gaya bicara guru juga harus disesuaikan, karena anak tunagrahita tidak dapat mengkontrol emosi guru harus melakukan intonasi bicara yang lemah lembut sampai siswa tersebut mengikut perintah dari guru, walaupun terkadan guru juga harus memakai intonasi yang keras kepada siswa yang mempunya pendengaran yang kurang. Dalam hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti, gaya komunikasi yang guru lakukan untuk memotivasi siswa tunagrahita menghasilkan dampak yang positive, beberapa siswa tunagrahita tergerak untuk melakukan kegiatan belajar dengan benar disekolah tersebut.
5. Kesimpulan
1. Komunikasi verbal memberikan beberapa faktor dalam membangkitan motivasi siswa tunagrahita. Faktor tersebut terbagi menjadi tiga faktor yaitu,
pengemasan pesan, lisan dan
pengulangan kata. Pengemasa kata yang digunakan oleh guru dalam memotivasi
tunagrahita memakai bahasa yang tidak
terlalu sulit dan sesederhana mungkin. Untuk meningkatkan motivasi secara lisan guru memberikan tujuan dari hasil yang siswa lakukan dari apa yang siswa
kerjakan dan memberikan pujian.
Sedangkan pengulangan kata yang
digunakan oleh guru dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara “ayo kamu pasti bisa” secara berulang ulang.
2.Komunikasi nonverbal yang diberikan guru kepada siswa tunagrahita dalam meningkatkan motivasi belajar terdapat sentuhan, ekpresi, imitasi dan intonasi. Melalui sentuhan yang lembut dilakukan oleh guru maupun orang tua kepada siswa tunagrahita dalam meningkatkan motivasi belajar. Untuk ekpresi yang dilakukan guru memasang ekpresi
tersenyum dalam keadaan apapun
siswanya dan ekspresi yang dihasilkan
dapat membantu siswa dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa. Untuk imitasi menggunakan komunikasi objek yang ditunjukan oleh guru dengan menunjukan kepada siswa untuk meniru hal positif yang guru lakukan. Intonasi yang dilakukan oleh guru dalam meningkat motivasi siswa dengan cara intonasi yang lemah lembut kepada siswa tunagrahita.
3. Gaya komunikasi guru dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa mempunyai beberapa faktor yaitu, komunikasi verbal dan nonverbal dari keduanya membuat komunikasi yang dilakukan oleh guru kepada siswa tunagrahita memberikan dampak yang positiv dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tunagrahita SLB C Sukapura Kota Bandung.
6. Daftar Pustaka
Devito, Joseph A. 2011. Komunikasi Antar Manusia (Edisi 5). Kharisma Publishing.
Effendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Muhammad, Arni. 2004. Komunikasi
Organisasi. Bumi Aksara, Jakarta Riduwan. 2003. Dasar-Dasar Statistika
Cetakan Ketiga. Bandung: Alfabeta. Sendjaja, Sasa Djuarsa. 2004. Pengantar Ilmu
Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung : Alfabeta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Ahmadi, Abu. 1977. Dasar-Dasar Praktek Mengajar. CV Toha Putra. Semarang. Usman, Moh.Uzer. 2000. Menjadi Guru
Profesional. Bandung. Remaja