BAB II
PENGATURAN HUKUM MENGENAI PERPAJAKAN DI INDONESIA
A.DASAR HUKUM PERPAJAKAN DI INDONESIA
Sebelum berlakunya Undang-undang Pajak Nasional, sebagian besar dari Undang-undang (ordinasi) Pajak adalah berasal dari produk pemerintah Hindia Belanda. Undang-undang ini kemudian banyak mengalami perubahan dan
tambahan yang dalam disusun dalam Bahasa Indonesia, mengingat Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi:
―Segala badan negara dan peraturan yang ada masih berlaku, selama
belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”23
Dengan lahirnya Undang-Undang Pajak Nasional merupakan salah satu
faktor yang mendukung keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan sampai sekarang, sehingga kelahirannya memiliki arti yang besar bagi bangsa dan negara.
Didalam perkembangannya, terdapat beberapa pembaharuan perpajakan
didalam perundang-undangan nasional, yakni: 24
1) Pembaharuan Pajak Nasional I25
Pembaharuan Pajak Nasional terjadi pada tahun 1980-an, dimana pembaruan pajak ini diakibatkan oleh merosotnya harga minyak dan
gas bumi dipasaran dunia yang berdampak pada pendapatan negara. Selain itu, pranata hukum perpajakan yang berlaku pada saat itu juga
masih merupakan pratana hukum pajak yang bersumber dari kolonial Belanda. Pembaharuan Pajak Nasional I ditandai dengan
dikeluarkannya undang-undang di bidang perpajakan, seperti:
a. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan (KUTAP), dengan mencabut Ordonasi Pajak Perseoran 1925, Ordonasi Pajak Pendapatan 1944, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1967 tentang Perubahan dan
Penyempurnaan Tata Cara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan 1925, serta
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1970 tentang Pajak atas Bunga Deviden dan Royalty 1970;
b. Undang-undang Nomor 7 Tahun 183 tentang Pajak Penghasian
(PPh.), dengan mencabut Pasal 15 ke-4 dan ke-5 dan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman
Modal Asing, dan Pasal 9, Pasal 12 ke-4 dan ke-5, Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 168 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri;
c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Atas Barang dan Jasa serta Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah (PPN, dan PPn-BM), dengan mencabut Undang-Undang Nmr 35 Tahun 1953 tentang Penetapan
diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-Undang Nmr 2 Tahun 1968 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang
Pajak Penjuaan 1951;
d. Undang-Undang Nomor 12 Tahum 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), dengan mencabut Ordonasi Pajak Rumah Tangga 1908, Ordnasi Verponding Indonesia 1923, Ordonasi Verponding 1928, Ordonasi Pajak Kekayaan 1932, Ordonasi
Pajak Jalan 1942, Pasal 14 huruf j, k dan l Undang-Undang Nomor 11 Darurat Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak
Daerah, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1959 tentang Pajak Hasi Bumi yang dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 telah ditetapkan menjadi
Undang-Undang;
e. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai
dengan mencabut Aturan Bea Materai 1921 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 2 Prp Tahun 1965 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang
dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1969.
2) Pembaruan Perpajakan Nasional II26
Pembaharuan Perpajakan Nasional I dianggap telah memberikan manfaat dalam meningkatkan pendapatan negara diluar sektor
26
minyak dan gas bumi, namun masih ada beberapa kekurangan dari Pembaharuan Perpajakan Nasional I, yakni:
a. Self assessment system yang memberikan kepercayaan besar kepada wajib pajak ternyata masih kurang berhasil;
b. Law enforcement di dalam pajak masih lemah;
Alasan-alasan tersebut menggagas Pemerintah untuk mencoba mengajukan Pembaharuan Perpajakan Nasional II pada tahun 1994,
dimana didalam Pembaharuan Perpajakan Nasional II pajak diupayakan untuk menjadi alat untuk mempereh pendapatan negara
yang utama (fungsi budgeter), alat untuk mendorong perekonomian
(fungsi mengatur), peningkatan penegakan hukum di bidang pajak, serta efisiensi dalam pemungutan pajak. Untuk mewujudkan hal
tersebut, maka dikeluarkanlah beberapa undang-undang di bidang pajak, yakni:
a. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
b. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Sebagaimana Telah
Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991 tentang Pajak Penghasilan;
c. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Pertambahan Nilai Atas Barang dan Jasa serta Pajak Penjualan Atas Barang Mewah;
d. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan.
3) Pembaharuan Perpajakan Nasional III27
Pada tahun 1997 Pemerintah mengundangkan beberapa
undang-undang dibidang perpajakan. Pada Pembaharuan Perpajakan Nasional III ini kebanyakan mengubah dan menambah
ketentuan-ketentuan yang ada sebelum Pembaharuan Perpajakan I. Hal yang melatarbelakangi penambahan serta pengubahan ini adalah:
a. Kebetuhan akan adanya peradilan pajak yang komprehensif
untuk memberikan putusan atas sengketa pajak dengan proses sederhana, cepat dan berbiaya murah;
b. Kebutuhan akan adanya undang-undang yang mengatur pajak
daerah yang dapat memberikan kepastian, kejelasan,
kesederhanaan, tidak tumpang tindih dan dapat mengikuti
tuntuan untuk memberikan pemasukan daerah daam rangka peningkatan otonomi daerah;
c. Kebutuhan akan undang-undang penagihan pajak dengan surat
paksa yang dapat mengatasi semua permasalahan di masyarakat,
khususnya permasalahan mengenai tunggakan pajak, serta
27
memberi motivasi peningkatan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak;
d. Kebutuhan akan ketentuan undang-undang yang mengatur
penerimaan negara bukan pajakn yang memberikan keadian,
kepastian hukum, kesederhanaan, melalui mekanisme
persetujuan Dewan Perwakian Rakyat;
e. Perlunya diadakan pungutan pajak atas perolehan hak atas tanah
dan atau bangunan sebagai pengganti Bea Balik Nama atas hak harta tetap berupa hak atas tanah yang pernah berlaku, tapi
kemudian ditiadakan.
Pembaruan Perpajakan Nasional III kemudian menghasilkan beberapa undang-undang, yakni:
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak;
b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah;
c. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan
Pajak dengan Surat Paksa;
d. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan
Negara Bukan Pajak.
4) Pembaharuan Perpajakan Nasional IV
perpajakan yang dikeluarkan pada saat Pembaharuan Perpajakan Nasional I, Pembaharuan Perpajakan Nasional II dan sebagian
ketentuan yang dikeluarkan pada Pembaharuan Perpajakan Nasional III. Beberapa undang-undang yang dikeluarkan pada saat
Pembaharuan Perpajakan Nasional IV adalah:
a. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan
Ketiga atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan;
c. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah;
d. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak
Dengan Surat Paksa;
e. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas
f. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah;
5) Pembaharuan Perpajakan Nasional V28
Pada tahun 2007, Pemerintah kembali melakukan Pembaharuan Pajak Nasional V. Tetapi pada masa Pembaharuan Perpajakan Nasional V hanya ada satu undang-undang dibidang perpajakan yang
berhasil dihasikan, yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
6) Pembaharuan Pajak Nasional VI
Pada tahun 2008, Pemerintah kembali melakukan Pembaharuan
Pajak Nasional VI. Pada masa ini hanya ada 1 undang-undang dibidang perpajakan yang dapat dihasilkan, yaitu Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008, tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
7) Pembahuran Pajak Nasional VII
Pada tahun 2009, Pemerintah kembali lagi melakukan Pembaharuan
Pajak Nasional VII. Pada masa ini terdapat 3 undang-undang
28
dibidang perpajkan yang dihasilkan yaitu Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta yang terakhir Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Keempat
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Sehingga dapat dikatakan undang-undang dibidang perpajakan yang masih berlaku di Indonesia hingga saat ini adalah:
a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan;
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian
Sengketa Pajak;
c. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara
Bukan Pajak;
d. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan atas
e. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan;
f. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, tentang Perubahan Keempat
atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan;
g. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Perubahan Keempat
atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan;
h. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
i. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
B.PENGATURAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERPAJAKAN DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA
Setiap perbuatan yang dianggap sebagai tindak pidana perpajakan dirumuskan dalam undang-undang. Perumusan tindak pidana perpajakan terutama
terdapat dalam undang-undang yang mengatur hukum pajak formal yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 dalam Pasal 38, 39, 39A, 41A, 41C, 43A, 44 dan
44B. 29
29
Rumusan tindak pidana yang terdapat didalam Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2007:30
Pasal 38
―Setiap orang karena kealpaannya:
a. Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan;
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan tetapi isinya tidak benar atau
tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar‖.
Pasal 39
(1) ―Setiap orang dengan sengaja:
a. Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak
atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
b. Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib
Pajak atau Pengukuhan pengusaha Kena Pajak;
c. Tidak menyampaikan surat pemberitahuan;
d. Menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya
tidak benar atau tidak lengkap;
e. Menolak untuk melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29;
f. Memperlihatkan pembukuan pencatatan, atau dokumen lain yang palsu
atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya;
g. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia,
tidak memperhatikan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain;
h. Tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1); atau
i. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungunt sehingga
dapat menimbukan kerugian pada pendapatan Negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang
30
tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar
(2) Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.
(3) Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan Tindak Pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud didalam ayat (1) huruf b, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak”.
Pasal 39A
―Setiap orang yang dengan sengaja:
a. Menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan
pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya; atau
b. Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan ajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti etoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak.”
Pasal 41
(1) Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenhui kewajiban
merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).
(2) Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau
seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
(3) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar.
Setiap orang yang wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 tetapi dengna sengaja tidak memberikan keterangan atau bukti, atau memberikan keterangan atau bukti yang tidak benar dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).
Pasal 41C
(1) Setiap orang yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000.000,- (satu miliar rupiah).
(2) Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya
kewajiban pejabat dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp.800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah).
(3) Setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi
yang diminta oleh Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp.800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah).
(4) Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data dan informasi
perpajakan sehingga menimbulkan kerugian pada negara dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)
Selain didalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, terdapat undang-undang dibidang perpajakan lain yang juga memiliki ketentuan pidana
didalamnya, diantaranya:31
a. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai, dalam
Pasal 13 dan Pasal 14, yang berbunyi32:
Pasal 13
31
Ibid.
32
Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana:
a. Barang siapa meniru atau memalsukan materai stempel dan
kertas materai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan materai ( Pasal 253 KUHP);
b. Barang siapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud
untuk diedarkan atau memasukkan ke Negara Indonesia materai palsu, yang dipalsukan atau dibuat dengan melawan hak ( Pasal 257 KUHP);
c. Barang siapa dengan sengaja menggunakan, menjual,
menawarkan ke Negara Indonesia materai yang merknya, capnya, tandatangannya, tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah dihilangkan seolah-olah materai itu belum dipakai dan/atau menyuruh orang lain menggunakannya dengan melawan hak (Pasal 257 dan 260 KUHP);
d. Barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas
yang diketahui digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda materai (Pasal 261 KUHP).
Pasal 14
(1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b tanpa izin Menteri Keuangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun.
(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah
kejahatan
b. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan33, dalam Pasal 24-26, yang berbunyi:
Pasal 24 ―Barang siapa karena kealpaannya:
1. Tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak
kepada Direktori Jenderal Pajak.
2. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak, tetapi isinya tidak
benar atau tindak lengkap dan/atau melampirkan keterangan yang tidak benar, sehingga menimbulkan kerugian kepada Negara, dipidanakan dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terutang.
33
Pasal 25
(1) Barang siapa dengan sengaja:
a. Tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan
Objek Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak;
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek pajak, tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan tidak benar;
c. Memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen lain
yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar;
d. Tidak memperlihatkan atau tidak menyampaikan surat atau
dokumen lainnya;
e. Tidak menunjukkan data atau tidak menyampaikan keterangan
yang diperlukan
(2) Terhadap bukan wajib pajak yang bersangkutan yang melakukan
tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d dan huruf e, dipidana dengan kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp.2.000.000,- (dua juta rupiah)
(3) Ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan
dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana dibidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarnya denda.
Pasal 26
Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25 tidak dapat dituntut setelah lampau 10 (sepuluh) tahun sejak berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan.
c. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa, dalam Pasal 41A, yang berbunyi34:
Pasal 41A
(1) Penanggung Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp.12.000.000,- (dua belas juta rupiah).
(2) Apabila pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3)
huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, tidak melaksanakan kewajibannya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling banyak Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).
34
(3) Setiap orang yang dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang, atau dengan sengaja mencegah menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan dalam melaksanakan ketnetuan undang-undang yang dilakukan oleh juru sita, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling banak Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).
d. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Penjualan atas Barang Mewah, didalam Pasal
24 dan Pasal 25, yang berbunyi35:
Pasal 24 Barang siapa karena kealpaannya:
a. Tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek
Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak;
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak, tetapi isinya tidak
benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan tidak benar, sehingga menimbulkan kerugian Negara, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya sebesar 2 (dua) kali pajak yang terutang.
Pasal 25
(1) Barang siapa dengan sengaja:
a. Tidak mengembalikan/menyampaikan Surat Pemberitahuan
Objek Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak;
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak, tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap dan/atau melampirkan keterangan tidak benar;
c. Memperlihatkan surat palsu atau dipalsukan atau dokumen lain
yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar;
d. Tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan surat atau
dokumen lainnya;
e. Tidak menunjukkan data atau tidak menyampiakan keterangan
yang diperlukan;
Sehingga menimbulkan kerugian pada Negara, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun atau denda setinggi-tingginya sebesar 5 (lima) kali pajak yang terutang.
35
(2) Terhadap bukan Wajib Pajak yang bersangkutan yang melakukan tindakan sebgaiamana dimaksud dalam ayat (1) huruf d dan huruf e, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp.2.000.000,- (dua juta rupiah)
(3) Ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan
dua apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalanai sebagian atau seluruh pidana penjara atau sejak dibayarnya denda.
e. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, didalam Pasal 174, Pasal 176 dan Pasal 177, yang
berbunyi36:
Pasal 174
(1)Wajib Pajak yang karena alpanya tidak menyampaikan SPTPD atau
mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
(2)Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD
atau mengisi tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Pasal 176
Wajib Retribusi yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keungan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak dibayar atau kurang dibayar
Pasal 177
36
(1) Pejabat atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh Kepala Daerah karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksu dalam Pasal 172 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.4.000.000,- (empat juta rupiah)
(2) Pejabat atau tenga ahli yang ditunjuk oleh Kepala Daerah yang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabka tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksu dalam Pasal 172 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda plaing banyak Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah)
(3) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiannya terlanggar.
(4) Tuntutan pidana sebagaimana dimaksud dengan ayat (1) dan ayat
(2) sesuai dengan sifatnya adalah menyangkut kepentinga pribadi atau bada selakuWajib Pakal atau Wajib Retribusi, karena itu dijadikan tindak pidana pengaduan.
Selain melalui undang-undang dibidang perpajakan, sumber lain untuk
tindak pidana dibidang perpajakan terdapat dari rumusan-rumusan didalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang memuat rumusan mengenai tindak
pidana seperti:
1. Pemerasan
Pemerasan (Afpersing) yang dilakukan oleh pejabat pajak diatur
didalam Pasal 421, Pasal 423, Pasal 425 KUHP. Selain dilakukan oleh Pejabat pajak, pemerasan juga dapat dilakukan oleh Wajib Pajak itu
sendiri serta orang lain.37
2. Penyuapan
Yang diancam dengan pidana bukan hanya orang yang melakukan suap,
tetapi juga Pejabat Pajak yang menerima suap. Penyuapan dapat terjadi apabila wajib pakal memberi uang atau menjanjikan sesuatu kepada
37
Pejabat pajak, supaya Pejabat pajak tidak melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak ataupun perusahaannya, dan pajak yang
ditetapkan kepada Wajib Pajak atau perusahaan lebih rendah daripada
yang semestinya38. Ketentuan mengenai penyuapan ini diatur didalam
Pasal 209 ayat (1) dan ayat (2) KUHP, Pasal 418-419 KUHP.
3. Penggelapan
Penggelapan didalam KUHP diatur didalam Pasal 372-373 KUHP.
Penggelapan terhadap pajak dapat terjadi apabila Pemberi pekerjaan yang telah memungut Pajak Penghasilan dari para pegawainya dengan
pemotongan gaji dari pegawai yang didasarkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, kemudian pemberi pekerjaan tadi tidak menyetorkan jumlah pajak tersebut, tetapi malah menggunakan
uang pajak tersebut untuk kepentingan pribadi.39
4. Penipuan
Penipuan (bedrog) diatur dialam Pasal 378 KUHP. Dalam hal ini,
penipuan (bedrod) dilakukan oleh Pejabat Pajak, yang meminta
pembayaran uang dari Wajib Pajak, dengan janji bahwa pajaknya akan
dihapuskan, karena Pejabat Pajak merupakan yang berwenang menetapkan pajak dari Wajib Pajak. Kemudian diketahui bahwa pejabat
tersebutbukan lah orang yang memiliki wewenang untuk menetapkan
38
Ibid, Hal.25
39
pajak dari Wajib Pajak, dan pajak dari Wajib Pajak juga tidak
dihapuskan.40
5. Paksaan & Kekerasan
Paksaaan dan kekerasan diatur didalam Pasal 211-213 KUHP. Paksaan
dan kekerasan dapat terjadi apabila Pejabat Pajak yang sedang memeriksa atau akan memeriksa pajak Wajib pajak mengalami perlawanan oleh Wajib Pajak atau tidak diberi kesempatan untuk
memasuki runagan atau memeriksa pembukuan atau administrasi pajak
dari Wajib Pajak.41
40
Ibid, Hal.26
41