• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Gambaran Optic Nerve Head Dengan Optical Coherence Tomography Dan Foto Fundus Pada Penderita Suspek Glaukoma Di Rsup.H.Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Gambaran Optic Nerve Head Dengan Optical Coherence Tomography Dan Foto Fundus Pada Penderita Suspek Glaukoma Di Rsup.H.Adam Malik Medan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Program vision 2020 The right to sight yaitu sebuah program WHO yang bertujuan mengeliminasi penyakit kebutaan yang bisa dicegah

pada tahun 2020. Program ini telah dilaksanakan di lebih dari 40 negara.

Pemerintahan pada semua negara diharapkan dapat meningkatkan

layanan kesehatan, khususnya usaha pencegahan dan perawatan mata.

Memberikan akses perawatan mata akan mengurangi resiko terjadinya

kebutaan, yang merupakan bagian dari kewajiban pemerintah. (World

Sight Day, 2011)

Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan. Pada negara

Sub Sahara Afrika Barat, glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua

setelah katarak. (Egbert PR, 2002) Di Amerika, glaukoma merupakan

salah satu penyebab legal blindness dengan perkiraan 12% kasus baru pertahun, pada orang kulit hitam dan hispanik glaukoma merupakan

penyebab kebutaan kedua setelah katarak. (Muno B, West SK, 2002).

Sedangkan di negara Eropa, glaukoma termasuk dalam kelompok lima

besar penyakit kebutaan. (Archive of Ophthalmology,2004)

Evaluasi Optic Nerve Head (ONH) sangat penting untuk diagnosis glaukoma, beberapa metode pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif

digunakan untuk mengevaluasi ONH. Pemeriksaan kualitatif mencakup

(2)

pemeriksaan kuantitatif gambaran glaukoma dapat menggunakan

pemeriksaan Optikal Coherence Tomography (OCT). (MaziarL et all, 2006; Felipe A.M, et all, 2006; Joel S.C, et all, 2003)

Pemeriksaan kualitatif dengan memperhatikan sejumlah temuan

pada ONH, beberapa diantaranya tidak dapat diukur seperti perdarahan

pada optik disc yang mempunyai subjektifitas yang tinggi dan perbedaan antar pengamat, sebaliknya pemeriksaan kuantitas merupakan

pemeriksaan objektif yang pasti sama ditangan semua operator. Analisis

kuantitas dapat secara potensial meningkatkan kemampuan untuk

mendeteksi sejumlah kecil perubahan yang tidak dapat terdeteksi dengan

evaluasi kualitas. (MaziarL et all, 2006; Felipe A.M, et all, 2006; Joel S.C,

et all, 2003)

Perubahan struktur yang tampak pada ONH dan RNFL (Retinal Nerve fiber layer) telah dilaporkan mendahului perkembangan kehilangan lapang pandangan pada glaukoma. Deteksi kerusakan ONH selanjutnya

menjadi sangat penting untuk diagnosa awal glaukoma pada pasien

suspek glaukoma. (MaziarL et all, 2006), (Felipe A.M, et all, 2006; Joel

S.C, et all, 2003; Akiyasu K, et all, 2003); Mitra , S, Dilraj S, Clinton W.,

David S, 2009)

(3)

S.C, et all, 2003; Akiyasu K, et all, 2003; Mitra , S, Dilraj S, Clinton W.,

David S, 2009; Dennis S.L.,Yasuo T., Robert R., Srinivas K., 2008) .

Pada glaukoma terjadi perubahan optic nerve head dan lapang pandangan yang menunjukkan adanya perubahan tekanan intra okular

dan tahanan axons optic nerve head. Kebanyakan kasus glaukoma, asumsi bahwa peningkatan tekanan intra okular akan merusak axons optic nerve head dan penurunan tekanan intra okular akan menstabilkan kerusakan tersebut. Namun sebenarnya mekanisme patofisiologi yang

terjadi adalah jika optic nerve head terlibat, progresifitas kerusakan tetap berlanjut walaupun tekanan intra okular sudah turun. (American Academy

of Ophthalmology, 2009-2010) .

Perubahan awal pada neuropati optik glaukomatous adalah

sebagai berikut, pembesaran cup secara umum, pembesaran cup secara fokal, perdarahan splinter superfisial, kehilangan RNFL (retinal nerve fiber layer), neuroretinal rim yang translusen, pembuluh darah yang bersilangan, cupping yang asimetri antara kedua mata pasien, atrofi peripapilari (beta zone),(MaziarL et all, 2006; Felipe A.M, et all, 2006; Joel

S.C, et all, 2003; Akiyasu K, et all, 200; Mitra , S, Dilraj S, Clinton W.,

David S, 2009).

Suspek glaukoma dapat ditentukan pada pasien dewasa yang

memiliki sedikitnya 1 dari tanda-tanda berikut ini pada mata yaitu defek

(4)

lapang pandangan yang sesuai glaukoma, peningkatan tekanan intra okuli

> 21 mmHg. Biasanya jika 2 atau lebih gejala ini ditemukan maka dapat

disimpulkan sebagai suatu primary open angle glaucoma (POAG), apalagi jika didukung oleh faktor resiko lainnya. (American Academy of

Ophthalmology, 2009-2010)

Dengan diagnosis dini yang akurat dan waktu terapi yang tepat

dapat mencegah glaukoma terkait kebutaan. Tujuan identifikasi dan terapi

pasien suspek glaukoma adalah untuk mempertahankan fungsi visual

dengan memantau tanda-tanda awal kerusakan glaukoma.

Berbagai penunjang diagnostik dapat membantu untuk mendeteksi

kelainan mata akibat glaukoma, hal ini memberikan dorongan bagi penulis

untuk melakukan penelitian mengenai diagnosis dini pada glaukoma

khususnya suspek glaukoma dengan menggunakan perbandingan

penilaian parameter optic nerve head dengan fundus kamera dan optical coherence tomography (OCT).

1.2. RUMUSAN MASALAH

Pada glaukoma terjadi neuropati optik yang berhubungan dengan

hilangnya fungsi penglihatan, sedangkan pada suspek glaukoma

terdapat sedikitnya 1 dari tanda-tanda glaukoma. Terjadi perubahan

struktur pada ONH dan RNFL yang mendahului perkembangan

kehilangan lapang pandangan pada glaukoma. Sehingga diperlukan

(5)

OCT adalah pemeriksaan dengan modalitas gambar resolusi tinggi

yang pada awalnya dirancang untuk menilai retina dan ketebalan RNFL

tapi dengan software yang baru dapat meningkatkan analisis terhadap

ONH.

Apakah ada perbedaan gambaran ONH dengan menggunakan

foto fundus dan OCT ?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mendapatkan kasus suspek glaukoma

2. Untuk mengetahui apakah pemeriksaan OCT mempunyai

sensitifitas yang lebih baik dibandingkan dengan fundus kamera

dalam menegakkan diagnosis glaukoma pada pasien dengan

suspek glaukoma .

3. Untuk mengetahui perbedaan gambaran kelainan optic nerve head pada pemeriksaan dengan OCT dan fundus kamera pada pasien suspek glaukoma .

4. Untuk membandingkan kemampuan dalam mendeteksi

perubahan glaukomatous dengan pemeriksaan OCT dan fundus

kamera pada pasien suspek glaukoma .

5. Berdasarkan kelainan yang terjadi pada ONH dapat ditentukan

terapi selanjutnya untuk mencegah kondisi mata yang lebih

buruk lagi bahkan kebutaan.

6. Mampu menjelaskan kepada pasien suspek glaukoma mengenai

(6)

dialaminya dan menjelaskan prognosis kelainan lapang

pandangan dan kerusakan saraf optik serta tajam penglihatan

penderita, sesuai dengan gambaran yang didapat dari foto

fundus dan OCT.

1.4. MANFAAT PENELITIAN

1. Dapat disusun suatu protap yang berkaitan dengan penegakan

diagnosa dan penatalaksanaan suspek glaukoma sehingga

dapat mencegah kebutaan yang ditimbulkan oleh komplikasi

glaukoma, yang berarti juga menurunkan angka kebutaan dalam

masyarakat.

2. Memberikan dasar teoritis tentang hubungan antara perubahan

glaukomatous yang dinilai dengan OCT dan foto fundus pada

pasien suspek glaukoma

3. Dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data yang

mendukung data-data penelitian lain tentang glaukoma

khususnya suspek glaukoma, sehingga dapat dibuat kebijakan

oleh pemerintah untuk membuat program kesehatan mata bagi

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan : Untuk mengetahui kejadian edema sistoid makula paska operasi katarak dan memberikan gambaran faktor yang berpotensi menyebabkan timbulnya dengan pemeriksaan optical

Glaukoma dijumpai sebanyak 4.2 % pada mata miopia ringan, dan 4.4 % pada mata dengan miopia sedang-berat dibandingkan pada mata tanpa miopia sebanyak 1.5 %, dimana pasien

Penelitian dari Gvozdenovic, R., et al., yang melaporkan bahwa glaukoma dengan miopia tinggi ( ≥ 5 D) mempunyai diameter diskus optikus yang besar dan RNFL yang menipis

Retinal Nerve Fiber Layer in primary open angle glaucoma with high myopia determined by optical coherence tomography and scanning laser polarimetry.. Chinese

PERBEDAAN RETINAL NERVE FIBER LAYER THICKNESS DENGAN OPTICAL COHERENCE TOMOGRAPHY PADA PASIEN.. TUBERKULOSIS SEBELUM DAN SUSUDAH MENDAPAT ETAMBUTOL

Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan Retinal Nerve Fiber Layer sebelum dan sesudah pemakaian etambutol di RSUP.. Adam

ikut serta dalam penelitian tentang “Perbedaan retinal nerve fiber layer thickness sebelum dan sesudah pemakaian etambutol pada pasien tuberkulosis di RS.H.Adam Malik