TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM I (3)

Teks penuh

(1)

“TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI

GEOGRAFIS DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG”

.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 17.508 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km (DKP, 2008). Keadaan ini menyebabkan kawasan pesisir menjadi andalan sumber pendapatan bagi masyarakat indonesia. Dengan keberadaan hutan mangrove yang terluas didunia, terumbu karang yang eksotik, rumput laut yang terhampar dihampir sepanjang pantai, sumber perikanan yang tidak ternilai banyaknya dan keadaan lahan yang relatif subur untuk pertanian menyebabkan tekanan terhadap wilayah pesisr semakin besar.

Wilayah pesisr juga merupakan daerah yang terpadat penduduknya. Sekitar 140 juta jiwa atau 60% penduduk Indonesia tinggal diwilayah pesisir (DKP, 2008). Selain faktor dari manusia, perubahan iklim global juga meningkatkan tekanan terhadap wilayah pesisr melalui semakin meningkatnya muka air laut akibat pemanasan global.

Pengelolaan wilayah pesisir harus dilakukan secara cepat dan tepat dengan memanfaatkan data yang kontinyu dan teknologi yang mampu menggambarkan wilayah pesisir dengan baik. Integrasi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu cara untuk mengelola wilyah pesisr dengan data yang kontinyu dan sebaran spasial yang bisa menampilkan secara sederhana bentuk kawasan peisisir. Secara sederhana intergrasi antara penginderaan jauh dan SIG dapat memetakan kondisi wilayah pesisir sehingga dapat dipantau kondisinya.

(2)

Berdasarkan definisi dan pengertiannya, sistem informasi geografi (SIG) dapat diuraikan atas beberapa subsistem yaitu: data input, data output, data manajemen, serta data manipulasi dan analisis. Komponen SIG meliputi: Perangkat keras, perangkat lunak, data, serta informasi

geografi dan manajemen. Sistem informasi geografi menyimpan semua informasi deskriptif beserta unsurunsurnya sebagai atribut dalam basis data. Selajutnya SIG membentuk dan menyimpannya dalam tabel-tabel (Relasional). Setelah itu, SIG menghubungkan unsur-unsur tersebut dengan tabel-tabel yang bersangkutan. Dengan demikian, atribut-atribut ini dapat diakses melalui lokasi unsur-unsur peta. Sebaliknya, unsur-unsur peta dapat diakses melalui atribut-atributnya. Dengan demikian, unsur-unsur tersebut dapat dicari dan ditemukan berdasarkan atribut-atributnya.

Tujuan kegiatan pada umumnya adalah untuk melakukan inventarisasi sumber daya alam di wilayah pulau-pulau di pesisir perairan Laut khususnya di negara Indonesia. Istilah sumber daya alam itu sendiri terlalu luas untuk ditafsirkan, oleh karena itu pada kegiatan ini dibatasi sumber daya alam yang akan diinventarisir adalah lebih mengarah kepada sumber daya alam hayati yang terdeteksi oleh data satelit penginderaan jauh. Apabila lebih disederhanakan lagi menjadi inventarisasi penutup / penggunaan lahan, khususnya habitat pesisir Terumbu Karang.

Penginderaan jauh, citra foto, citra satelit dapat dimanfaatkan sebagai sumberdata lingkungan abiotik (sumberdaya alam), lingkungan biotik (flora dan fauna), serta lingkungan budaya (bentuk penggunaan lahan). Dalam citra penginderaan jauh terdapat banyak informasi yang dapat direkam antara lain untuk pendekatan ekologikal, pendekatan spasial, serta

pendekatan kompleksitas kewilayahan.Pemanfaatan data penginderaan jauh untuk perencanaan wilayah dapat melengkapi informasi peta yang sudah ada dan untuk menambahkan informasi terbaru, mengingat perkembangan suatu wilayah relatif berlangsung cepat sehingga sangat memerlukan data untuk monitoring dan evaluasi terhadap implementasi rencana tata ruang.

Contoh penggunaan data penginderaan jauh dalam pengelolaan pesisir :

(3)

2. Mengidentifikasi dan memetakan tumpahan minyak serta pencemaran di wilayah pesisir.

3. Memetakan perubahan garis pantai.

4. Deteksi daerah potensial penangkapan ikan.

5. Identifikasi kelayakan lokasi untuk pengembangan, misalnya pariwisata dan budidaya perikanan.

6. dan lain lain.

Integrasi Penginderaan jauh dan SIG dalam pengelolaan wilayah pesisir dapat menggunakan Indeks Kepekaan Lingkungan (IKL)/Environmental Sensitivity Index (ESI). Indeks Kepekaan Lingkungan merupakan gambaran nilai-nilai biologi, sosial-ekonomi dan sosial-budaya pada suatu wilayah pesisir dan laut tertentu yang digunakan sebagai prioritas respon terhadap tumpahan minyak (NOAA, 1992). Dalam perkembangannya IKL bukan hanya untuk menilai kepekaan lingkungan terhadap tumpahan minyak, tetapi juga kepekaan wilayah pesisir terhadap polutan dan bahan pencemar lainnya baik yang berasal dari sungai, pemukiman, maupun kegiatan-kegiatan disekitar pantai.

Tingkat kerentanan suatu ekosistem pesisir terhadap dampak yang terjadi akibat kegiatan manusia dan pembangunannya sangat tergantung pada kekuatan ekosistem tersebut menahan perubahan yang terjadi, hal ini ditunjukkan oleh tingkat kepekaan ekosistem tersebut. Tingkat kepekaan suatu ekosistem yang merupakan gambaran dari kekuatan ekosistem tersebut untuk kembali pulih seperti keadan semula dipengaruhi oleh kondisi biologi dan ekologi ekosistem tersebut. Hal inilah yang menjadi dasar teori dalam penetuan IKL, sehingga hasil penilaian IKL dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisr.

(4)

administrasi, jumlah penduduk, kondisi jalan, kondisi sungai serta bentuk topografi suatu lahan maupun topografi pantai dan lautnya (batimetri).

Selain pemanfaatan data-data SIG tersebut, SIG juga dapat menganalisis data-data spasial sehingga memberikan bentuk lain dari data spasial masukkan sebelumnya yang akan berguna dalam menentukan nilai IKL. Keunggulan dari SIG adalah kemampaunnya menangani data spasial bereferensi geografi yang berintegrasi dengan data atribut sehingga data-data tersebut dapat dianalisis bentuk keruangannya. Hasil analisis tersebut seperti panjang, luas, volume, keterkaitan, klasifikasi dan perkiraan yang berbentuk tampilan spasial. Keadaan tersebut diperoleh dari analisis dan manipulasi data spasial yang merupakan keunggulan lain dari SIG, adapun contoh analisis dan manipulasi data spasial yang dilakukan dalam SIG seperti overlay, interpolasi, buffering dan klasifikasi.

(5)

SUMBER:

https://luthfiizzaty.wordpress.com/2015/06/01/penginderaan-jauh-dan-pengelolaan-wilayah-pesisir/

https://mbojo.wordpress.com/2008/12/24/perencanaan-pengelolaan-wilayah-pesisir-dengan-memanfaatkan-sistem-informasi-geografi-dan-data-penginderaan-jauh/

http://agnesryskintia.blogspot.co.id/2015/05/pemanfaatan-penginderaan-jauh-dan.html

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...