• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN JOYFUL LEARNING PADA PROSES P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDEKATAN JOYFUL LEARNING PADA PROSES P"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

0

PENDEKATAN

JOYFUL LEARNING

PADA PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

(KAJIAN TEORITIS DAN NEUROSAINS)

Subuh Anggoro

Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. Raya Dukuhwaluh Kembaran Banyumas 53182

Telp. 0281-636751, Fax. 0281-637239 email : [email protected]

Pendahuluan

Siswa Indonesia adalah yang paling bahagia di sekolah. Berdasarkan hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 terhadap siswa usia 15 – 16 tahun dari 65 negara 2012 diketahui bahwa Indonesia menduduki peringkat tertinggi di dunia berdasarkan indeks kebahagiaan, sedangkan Korea Selatan menduduki peringkat terakhir. Akan tetapi indeks kebahagiaan ini tidak berbanding lurus dengan prestasi belajar siswa. Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara untuk Matematika dan Sains (OECD, 2013).

Berdasarkan hasil survei prestasi belajar yang lain, Mutu pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia. Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson, mutu pendidikan Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil, sedangkan tempat pertama dan kedua ditempati Finlandia dan Korea Selatan (Kompas, 27 Nopember 2012). Hal ini bertolak belakang dengan pengakuan sebagian negara-negara Asia (Singapura, Hongkong dan Korea Selatan) sebagai negara-negara-negara-negara yang menempati peringkat tertinggi untuk bidang matematika, sains dan membacayang dikeluarkan oleh peneliti dari Boston College Amerika Serikat (Kompas, 12 Desember 2012).

(2)

1 berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Kegiatan yang dikembangkan dalam pembelajaran Sains seharusnya bertujuan untuk mendorong siswa agar mengamati dan mengeksplorasi lingkungan mereka, untuk memahami hubungan di alam, hubungan antara manusia dan alam, dan untuk belajar memahami manusia sebagai bagian integral dari mata rantai kehidupan. Sehingga belajar Sains akan dapat menjadi lebih menyenangkan, baik untuk siswa dan guru, apabila didasarkan pada pengalaman nyata (Hart et. al. 2000). Disamping itu dalam proses pembelajaran Sains, mendengar dan melihat saja tidak cukup untuk belajar. Jika siswa bisa melakukan sesuatu dengan informasi yang diperoleh, siswa akan memperoleh umpan balik seberapa bagus pemahamannya.

Setiap pembelajaran seharusnya dikembangkan sedemikian rupa supaya siswa merasa bahwa kondisi dalam pembelajaran memiliki suasana yang fleksibel, menyenangkan, dan inpiratif. Bila suasana itu terjadi dalam pembelajaran maka kegiatan belajar siswa akan penuh kebermaknaan serta aktivitas dan kreativitas yang dilakukan siswa dapat dicapai secara optimal (Ruhimat, 2009).

Joyful Learning atau pembelajaran yang menyenangkan merupakan alternatif pendekatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah dasar. Anak akan bersemangat dan gembira dalam belajar karena mereka tahu apa makna dan gunanya belajar, karena belajar sesuai dengan minat dan hobinya (meaningful learning) karena mereka dapat memadukan konsep pembelajaran yang sedang dipelajarinya dengan kehidupan

sehari-hari, bahkan dengan berbagai topik yang sedang “in” berkembang di masyarakat (Marsh, 2008; Willis, 2011 dan Kholil, 2009).

Joyful Learning

Joyful menurut Oxford English Dictionary adalah “ kind of feeling, expressing and causes great pleasure”. Sedangkan Joyful Learning adalah sebuah pendekatan proses pembelajaran atau pengalaman belajar yang membuat pembelajar merasa nyaman (feel pleasure) yang merupakan bagian dari proses atau strategi pembelajarannya.

(3)

2 memberikan yang terbaik untuk menyenangkan pihak lain. Guru dengan semangat menggebu-gebu akan berusaha optimal memimpin kelas dengan cara yang paling menarik, sedangkan peserta dengan antusias dan berlomba-lomba ikut aktif ambil bagian dalam setiap kegiatan. Dengan demikian, Joyful Learning menjadi sarana yang membuat guru maupun peserta didik menjadi betah menjalani sesi demi sesi pelajaran sehingga hasilnya akan maksimal.

Joyful learning sebenarnya merupakan strategi, konsep dan praktik pembelajaran yang merupakan sinergi dari pembelajaran bermakna, pembelajaran kontekstual, teori konstruktivisme, pembelajaran aktif (active learning) dan psikologi perkembangan anak. Dengan demikian walaupun esensinya sama, bahkan metodologi pembelajaran yang dipilih juga sama, tetap ada spesifikasi yang berbeda terkait dengan penekanan konseptualnya yang relevan dengan perkembangan moral dan kejiwaan anak. Anak akan bersemangat dan gembira dalam belajar karena mereka tahu apa makna dan gunanya belajar. Belajar yang sesuai dengan minat dan hobinya (meaningful learning) karena mereka dapat memadukan konsep pembelajaran yang sedang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dengan berbagai topik yang sedang

“in” berkembang di masyarakat (Kholil, 2009).

Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Sehingga pada saat kali pertama disebut kata school, asal mula kata sekolah berasal dari bahasa latin yakni kata skhole, scola, scolae atau schola, kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu

senggang” (Topatimasang dalam Kholil, 2011). Kata skhole, scola, scolae dan schola digunakan untuk menyebut sebuah kegiatan yang dilakukan oleh orang Yunani Kuno untuk mengisi waktu luangnya. Menggunakan waktu senggangnya untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Semua asal kata sekolah ini mempunyai arti

yang sama yaitu ”waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).

Hubungan antara Joyful Learning dengan Perkembangan Otak

(4)

3 dengan kepatuhan pada perintah, otak siswa dijauhkan dari pemrosesan informasi dan penyimpanan jangka panjang yang efektif.

Berdasarkan studi pencitraan syaraf pada amigdala, hippocampus, dan bagian sistem limbik lainnya, melalui pengukuran dopamin dan transmitter lainnya, tingkat kenyamanan siswa memiliki dampak yang amat penting pada transmisi dan penyimpanan informasi di dalam otak. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan ini- rasa percaya diri, kepercayaan dan sikap positip terhadap guru, ruang kelas dan komunitas sekolah yang mendukung- semuanya terkait langsung terhadap kondisi pikiran yang kompatibel dengan pembelajaran, pengingatan

dan berpikir tingkat tinggi yang sukses. Atmosfir “penemuan yang menyenangkan” dimana

siswa dari segala tingkat umur akan mempertahankan antusisme masa taman kanak-kanak yang menjalani setiap hari dengan penuh suka cita dalam belajar (Kohn, 2004).

Otak dan tubuh manusia merespons secara positip pada tertawa yang melepaskan endorfin, epineferin (adrenalin), dan dopamin, serta meningkatkan volume oksigen dalam proses pernapasan. Ketika siswa belajar dalam lingkungan belajar yang diperkaya dan dengan stimulus indra yang beragam maka siswa akan memberi perhatian yang lebih besar dengan lebih banyak kesempatan untuk terhubung secara personal dan interpersonal dengan materi yang disampaikan dan merasa bahwa informasi tersebut relevan dengan kehidupan mereka (Willis, 2007).

Di dalam kelas, semakin banyak ragam model pembelajaran yang diperkenalkan kepada otak untuk mempelajari sebuah materi, semakin banyak banyak jalur-jalur dendritik yang terbentuk. Di sana akan terdapat lebih banyak jembatan penghubung sinaptik dari sel-ke-sel, dan jalur-jalur ini apabila digunakan lebih sering, menjadi semakin kuat dan tetap aman dari prunning (pemangkasan sel). Menyampaikan informasi secara visual akan membentuk koneksi dengan loba-loba normal occipital (loba-loba posterior otak yang memproses input optikal). Kemudian dengan membuat siswa mendengar informasi secara berkesinambungan akan mengaitkan sebuah sirkuit dendritik dengan loba temporal (loba-loba yang ada pada sisi-sisi otak yang memproses input auditori dan berperan penting dalam pengaturan emosi dan pemrosesan memori). Hal ini akan mempercepat akses otak kepada informasi yang tersimpan (Kohn, 2004).

(5)

4 mengisolasi akson-akson pembawa informasi dari neuron dan membuat transmisi sinyal syaraf menjadi lebih cepat dan efisien).Ketika otak menjadi efisien, sirkuit-sirkuit yang tidak sering digunakan akan terpangkas, tetapi koneksi-koneksi yang paling sering digunakan menjadi lebih tebal sehingga membuatnya lebih efisien (Guild, 2004).

Beberapa studi tentang otak telah menemukan bahwa ketika siswa berada dalam kondisi emosional positif seperti dalam keadaan senang, bermain, dan nyaman dan disertai dengan beberapa stimuli yang mengandung tantangan.Dalam kondisi emosional positif, apabila siswa diberi ujian, berdasarkan pencitraan syaraf menunjukkan memori berjalan lebih baik, kefasihan verbal meningkat, berpikir lebih fleksibel dan menghasilkan gagasan kreatif untuk pemecahan masalah. Mereka bahkan menunjukkan perilaku sosial yang lebih positif-suka membantu, mampu bersosialisasi, fokus, sabar, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik (Wills, 2011).

Siswa memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengingat dan memahami dengan baik apa yang mereka pelajari apabila hal itu menarik atau mengandung bagian yang membuat mereka harus menemukan sendiri jawabannya. Ketika ketertarikan siswa tinggi, stres dan kegelisahan akan menurun, sehingga siswa lebih dapat menerima kesalahan mereka dan mau mencoba kembali. Dengan demikian karena fokus mereka meningkat, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diberikan guru.

Hasil-hasil Penelitian tentang Joyful Learning

Berdasarkan penelitian Chen, et. al. (2010) dan Kirikkaya, et al. (2010) joyful perception memberikan pengaruh positif terhadap motivasi belajar peserta didik. Sejumlah educational gamesdengan pendekatan joyful learning telah dikembangkan dan didasarkan pada teori dan strategi ilmu pendidikan/pedagogika (Chen & Tsai, 2009; Kebritchi & Hirumi, 2008).

(6)

5 memperoleh informasi kemampuan tiap siswa secara cepat dan akurat sehingga dapat menentukan in-class instructional strategy dan memberikan after-school assistances (Wei, et. al, 2011).

Jadal (2012)a dan Jadal (2012)b memaparkan tentang pelaksanaan pendekatan activity-based joyful learning (ABJL) di sekolah dasar di Maharastra India. Pendekatan ABJL merupakan sebuah strategi pembelajaran yang keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses pembelajaran. Pendekatan ABJL mengacu prinsip-prinsip learning by playing, learning by doing, learning by enjoying & learning by problem solving. Pendekatan pembelajaran ini memerlukan keterlibatan multi sensory organs siswa selama proses pembelajaran. Berdasarkan beberapa penelitian yang menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda yang mengacu pada joyful learning activities memberikan hasil yang positif.

Joyful learning juga dikembangkan di Bangladesh melalui program IDEAL. Melalui program ini model pembelajaran yang sebelumnya menggunakan pola hafalan (rote learning) dan teacher-centered dimodifikasi menjadi pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna (meaningful learning) serta child-centered. Guru maupun peserta didik merasakan suasana yang menyenangkan ketika berada di sekolah. Anak-anak sangat menyukai kondisi kelas yang cerah dengan dekorasi yang menarik. Setiap peserta didik mendapat space tersendiri untuk berekspresi. Meja dan kursi terbuat dari bahan yang ringan sehingga mudah dipindah dan disesuaikan kebutuhan.

Guru tidak terlalu lama berdiri di depan kelas untuk menerangkan pelajaran. Materi yang diberikan menggunakan strategi pembelajaran role playing, dance, stories and drawing, serta peserta didik diajak untuk bekerjsama dalam kelompok. Guru menggunakan media yang bervariasi seperti gambar, realia, boneka maupun kartu bergambar untuk mendukung pembelajaran.

Chopra dan Chabra (2013) memaparkan tentang modeI sekolah yang menggunakan pendekatan Joyful Learning di India. Tujuan pendidikan yang dikembangkan di Dirgantar School adalah (1) ‘help the child become an independent and motivated learner’; (2) ‘help should be provided to each and every child’; dan yang ketiga adalah ‘learning process builds upon the

child’s life experience’. Dalam pandangan manajemen sekolah tersebut, merupakan

(7)

6 sekolah berpandangan ketrampilan dan pemahaman peserta didik hanya dapat dibangun melalui pengalaman belajar yang luas dengan lingkungan.

Berdasarkan pandangan orang tua peserta didik diketahui bahwa Dirgantar School adalah sekolah yang sangat baik bagi anak-anak mereka. Guru memperlakukan siswa dengan penuh perhatian, kecintaan dan kesabaran. Anak-anak menganggap guru sebagai teman, pembimbing

dan ‘philosopher’. Guru memiliki ‘patience’ yang besar terhadap peserta didik dan mereka

mengunjungi komunitas orangtua mereka setiap minggu untuk mendiskusikan perkembangan anak-anak. Orangtua memiliki kepercayaan yang besar terhadap sekolah dan anak-anak tidak mempermasalahkan jauhnya rumah mereka dengan sekolah. Bahkan mereka sangat gembira ketika berangkat dan mengikuti pelajaran (Chopra dan Chabra, 2013).

Siswa di Dirgantar School merasakan bahwa sekolah merupakan hadiah terbesar yang Tuhan berikan. Mereka menganggap guru sebagai teman karena tidak pernah meremehkan mereka. Mereka merasa terlindung dan aman bersekolah di Dirgantar School. Guru suka mengajak bernyanyi, bermain dan menari bersama siswa sehingga mereka menikmati proses pembelajaran (Chopra dan Chabra, 2013).

Guru memiliki hubungan yang sangat erat dengan siswa. Siswa senang berbagi suka dan duka dengan guru. Siswa sangat mempercayai guru dan tidak takut mengekspresikan harapan dan keinginan mereka. Guru memperhatikan kemampuan siswa sejak awal dan memberikan tugas berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa. Bagi guru berlaku anggapan bahwa

‘We never beat any child as we believe love , attention and care is the need of the hour for the holistic development of the child’ (Chopra dan Chabra, 2013)..

Guru di Dirgantar School menggunakan pendekatan teori pendidikan yang kontekstual dan tidak menggunakan prinsip-prinsip pendidikan secara ‘taken for granted’ sebelum digunakan di kelas. Berdasarkan hasil observasi di kelas, guru biasa bisa menjadi luar biasa ketika mereka diberi kebebasan untuk untuk mengembangkan proses pembelajaran dan membangun hubungan yang hangat dengan siswa. Rasa sayang dan kepercayaan terhadap guru merupakan faktor terpenting yang membuat siswa merasa bertanggungjawab dan perhatian terhadap kemajuan belajarnya (Chopra dan Chabra, 2013).

(8)

7

Guru memiliki hubungan yang sangat erat dengan siswa. Siswa senang berbagi suka dan duka dengan guru. Siswa sangat mempercayai guru dan tidak takut mengekspresikan harapan dan keinginan mereka. Guru memperhatikan kemampuan siswa sejak awal dan memberikan tugas berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa. Bagi guru berlaku anggapan bahwa

‘We never beat any child as we believe love , attention and care is the need of the hour for the holistic development of the child’ (Chopra dan Chabra, 2013)..

Guru di Dirgantar School menggunakan pendekatan teori pendidikan yang kontekstual dan tidak menggunakan prinsip-prinsip pendidikan secara ‘taken for granted’ sebelum digunakan di kelas. Berdasarkan hasil observasi di kelas, guru biasa bisa menjadi luar biasa ketika mereka diberi kebebasan untuk untuk mengembangkan proses pembelajaran dan membangun hubungan yang hangat dengan siswa. Rasa sayang dan kepercayaan terhadap guru merupakan faktor terpenting yang membuat siswa merasa bertanggungjawab dan perhatian terhadap kemajuan belajarnya (Chopra dan Chabra, 2013).

Pendekatan joyful learning meningkatkan partisipasi anak-anak perempuan di Bangladesh untuk bersekolah. Mereka menjadi termotivasi untuk bersekolah dan orang tua memahami pengtingnya pendidikan bagi anak mereka.

Penutup

Joyful Learning merupakan metode pembelajaran yang melibatkan rasa senang, bahagia, dan nyaman dari pihak-pihak yang sedang berada dalam proses belajar mengajar. Di sini terdapat keterikatan cinta dan kasih sayang antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik. Tak ubahnya seperti ikatan cinta antara sepasang kekasih, keterikatan hati di dalam proses belajar mengajar akan membuat masing-masing pihak berusaha memberikan yang terbaik untuk menyenangkan pihak lain. Guru dengan semangat menggebu-gebu akan berusaha optimal memimpin kelas dengan cara yang paling menarik, sedangkan peserta dengan antusias dan berlomba-lomba ikut aktif ambil bagian dalam setiap kegiatan. Dengan demikian, Joyful Learning menjadi sarana yang membuat guru maupun peserta didik menjadi betah menjalani sesi demi sesi pelajaran sehingga hasilnya akan maksimal.

(9)

8 DAFTAR PUSTAKA

Chopra, V. dan S. Chabra,.2013. Digantar In India: A Case Study For Joyful Learning. Journal of Unschooling and Alternative Learning 2013 Vol. 7 Issue 13.

Hayes, D. 2007 . Joyful Teaching and Learning in Primary School. Great Britain by Bell & Bain Ltd, Glasgow

Hongkong Arts Development Council. 2005. Joyful Learning The Arts-in Education Program. Hongkong Arts Development Council. Hongkong

Jadal M.M., 2012a. Use of Activity Based Joyful Learning Approach in Teaching Environmental Science Subject At Primary Level. Indian Streams Research Journal Volume 2, Issue. 7, Aug 2012, pp.1-5 . Available online at www.isrj.net

---, 2012b.Increasing The Achievement Of Students By Using The Activity Based Joyful Learning Approach.Journal of Arts and CultureVolume 3, Issue 2, 2012, pp.-110-114.ISSN: 0976-9862 & E-ISSN: 0976-9870, Available online at

http://www.bioinfo.in/contents.php?id=53.

Kebritchi, M., & Hirumi, A. (2008). Examining the pedagogical foundations of modern ducational computer games. Computers & Education, 51(4), 1729-1743

Kholil, A. 2009. Joyful Learning sebagai Landasan Pembelajaran Siswa Aktif. [Online] tersedia http.kholil.blogspot.com

Kirikkaya, E. B., İşeri, Ş., & Vurkaya, G. (2010). A Board Game about Space and Solar System

for PrimarySchool Students. The Turkish Online Journal of Educational Technology, 9(2), 1-13.

Kompas. 2013. Siswa Indonesia Peringkat 64 Dari 65 Negara,Tapi Paling Bahagia di Dunia 06 Desember 2013 [Online] tersedia : www.kompas.com

Kompas, 2012. Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia. 27 Nopember 2012 [Online] tersedia :

www.kompas.com

Kompas, 2012. Pendidikan Asia Nomor Satu di Dunia. 12 Desember 2012 [Online] tersedia :

www.kompas.com

Nurihsan, A. J dan A. Mubiar. 2011. Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja Tinjauan Psikologi, Pendidikan dan Bimbingan. Bandung: Refika Aditama

(10)

9 Sardiman. 2004. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Willis, Judy. 2011. Understanding How the Brain Thinks. [Online] tersedia:

http://www.edutopia.org/blog/willis_judemd/Understanding How the Brain Thinks

Referensi

Dokumen terkait

- Mencari data dan informasi tentang larangan riba - Mendiskusikan data/bahan yang diperoleh secara bergantian - Menilai dan menganalisa hasil kelompok lain - Membuat

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh etika auditor (independensi, integritas dan objektivitas),

to Learn Math at the Students of SMP State 53 Palembang Marhamah Fajriyah Nasution, Faculty of Teacher Training and Education of Sriwiiaya University.

Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan argumennya yang berkaitan dengan penyelesaian dan penyajian himpuanan dari  sistem  pertidaksamaan nilai mutlak

Alasan lainnya adalah karena KKP sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai salah satu pendekatan konseling adiksi obat, yaitu: (1) KKP adalah pendekatan konseling

tos, bûti arti, ðalia þmoniø skleidþiasi ne tik lite- ratûros, bet ir kino poetikoje. De Mauro meni- ninko kalbos teorijà ir filosofijà siûlo lyginti su Ludwigo