SANKSI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
MAKALAH SANKSI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Mei 16, 2017BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
‘‘Dalam negara hukum, penyelenggaraan tugas pemerintahan dan kenegaraan terdapat aturan hukum tertulis dalam konstitusi atau peraturan-peraturan yang terhimpun dalam Hukum Tata Negara.
Namun, HTN tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan secara efektif untuk menyelenggarakan persoalan-persoalan yang bersifat teknis sehingga membutuhkan hukum lain yang bersifat teknis yaitu Hukum Administrasi Negara.
Didalam Hukum Administrasi Negara, Mengatur tantang Sanksi-sanksi sebagai salah satu kewenangan Administrasi Negara (pemerintah) dan sebagai alat penegakan Hukum Administrasi Negara.
Sehingga penting bagi kita mempelajari Sanksi Hukum Administrasi Negara, untuk dapat memahami macam-macam sanksi dan pengenaan sanksinya, Demi Pemerintahan yang baik berdasarkan Keadilan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sanksi Hukum Administrasi Negara
Negara, yaitu alat kekuasaan (machtmiddelen), bersifat hukum publik (publiekrechtlijke), digunakan oleh pemerintah (overheid), sebagai reaksi atas ketidakpatuhan (reactive op niet-naleving).
Sedangkan, menurut para ahli ada beberapa pengertian sanksi administrasi Negara, antara lain :
J.B.J.M. ten Berge : Sanksi merupakan inti dari penegakan hukum administrasi. Sanksi diperlukan untuk menjamin penegakan hukum administrasi.
P de Haan dkk : Dalam HAN, penggunaan sanksi administrasi merupakan penerapan kewenangan pemerintahan, di mana kewenangan ini berasal dari aturan hukum administrasi tertulis dan tidak tertulis.
J.J. Oosternbrink : Sanksi administratif adalah sanksi yang muncul dari hubungan antara pemerintah – warga negara dan yang dilaksanakan tanpa perantara pihak ketiga (kekuasaan peradilan), tetapi dapat secara langsung dilaksanakan oleh administrasi sendiri.
B. Unsur-Unsur Sanksi Hukum Administrasi Negara Alat Kekuasaan (machtmiddelen)
Bersifat Hukum Publik (publiekrechtelijke) Digunakan oleh Pemerintah (overheid)
Sebagai Reaksi atas Ketidakpatuhan (reactie op niet-neleving)
C. Tujuan Sanksi Hukum Administrasi Negara
‘’Tujuan Sanksi Administrasi adalah Diantaranya, menurut :
J.B.J.M. ten Berge, ”Tujuannya adalah untuk menegakan hukum administrasi. Sanksi diperlukan untuk menjamin penegakan hukum administrasi” .
P de Haan dkk, ”Tujuannya adalah untuk Penerapan kewenangan pemerintahan, di mana kewenangan ini berasal dari aturan hukum administrasi tertulis dan tidak tertulis.
D. Subjek dan Objek Sanksi Hukum Administrasi Negara ‘’Subjek Sanksi Hukum Administrasi Negara Adalah
Negara yang mempunyai hubungan hukum dengan pemerintah, dimana orang atau warga Negara tersebut tidak menjalankan suatu perbuatan berdasarkan peraturan perundang-undangn yang dikeluarkan oleh pemerintah.
‘’Objek Sanksi Hukum Administrasi Negara
Adalah Setiap perbuatan Pelanggaran terhadap Peraturan perundang-undangan yang dilakukan oleh Orang-orang tertentu (yang mempunyai kepentingan)
E. Jenis Sanksi Hukum Administrasi Negara
‘’Jenis Sanksi Administrasi dari segi sasarannya yaitu :
Sanksi Reparatoir (Reparatoir Sancties)
‘’Artinya sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas pelanggaran norma, yang ditujukan untuk mengembalikan pada kondisi semula sebelum terjadinya pelanggaran, misalnya bestuursdwang, dwangsom).
Sanksi Punitif (Punitieve Sancties)
‘’Artinya sanksi yang ditujukan untuk memberikan hukuman pada seseorang, misalnya adalah berupa denda administrative.
Sanksi Regresif
’’Artinya sanksi yang diterapkan sebagai reaksi atas ketidak patuhan terhadap ketentuan yang terdapat pada ketetapan yang diterbitkan.
‘’Jenis Sanksi Admininistrasi Menurut Pasal 80 Undang-Undang No 30 Tahun 2014
a) Sanksi Administratif Ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1)
berupa:
Teguran lisan;
Teguran tertulis; atau
Penundaan kenaikan pangkat, golongan, dan/atau hak-hak jabatan.
‘’Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam menggunakan Wewenang tidak berdasarkan pada Peraturan Perundang-undangan; dan AUPB’’. Artinya (Melanggar Ketentuan Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Admininistrasi Pemerintahan)
b) Sanksi Administratif Sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2)
berupa:
Pembayaran uang paksa dan/atau ganti rugi;
Pemberhentian sementara dengan memperoleh hak - hak jabatan; atau Pemberhentian sementara tanpa memperoleh hak-hak jabatan.
Contoh Tindakan atau perbuatan yang dapat dikenakan Sanksi Administratif Sedang :
‘’Penggunaan Diskresi yang tidak memiliki sebab dan persetujuan dari atasan pejabat. Artinya ‘’Melanggar Ketentuan pasal 25 ayat (1) Undang-undang Administrasi Pemerintahan yang berbunyi :
‘’Setiap Penggunaan Diskresi yang berpotensi mengubah alokasi anggaran wajib memperoleh persetujuan dari Atasan Pejabat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c) Sanksi Administratif Berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (3)
berupa:
Pemberhentian tetap dengan memperoleh hak-hak keuangan dan fasilitas lainnya; Pemberhentian tetap tanpa memperoleh hak-hak keuangan dan fasilitas lainnya;
Pemberhentian tetap dengan memperoleh hak-hak keuangan dan fasilitas lainnya serta dipublikasikan di media massa; atau
Pemberhentian tetap tanpa memperoleh hak-hak keuangan dan fasilitas lainnya serta dipublikasikan di media massa.
Contoh Tindakan atau perbuatan yang dapat dikenakan Sanksi Administratif Berat :
d) Sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjatuhan sanksi (Pasal 82 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014) : Ayat (1) dilakukan oleh :
Atasan Pejabat yang menetapkan Keputusan;
Kepala daerah apabila Keputusan ditetapkan oleh pejabat daerah;
Menteri/pimpinan lembaga apabila Keputusan ditetapkan oleh pejabat di lingkungannya; dan
Presiden apabila Keputusan ditetapkan oleh para menteri/pimpinan lembaga.
Ayat (2) dilakukan oleh :
Gubernur apabila Keputusan ditetapkan oleh Bupati/Walikota; dan
Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri apabila Keputusan ditetapkan oleh gubernur.
Pemahaman mengenai Penjatuhan Sanksi (Pasal 83 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014) :
Sanksi administratif ringan, sedang atau berat dijatuhkan dengan mempertimbangkan unsur proporsional dan keadilan.
Sanksi administratif ringan dapat dijatuhkan secara langsung, sedangkan sanksi administratif sedang atau berat hanya dapat dijatuhkan setelah melalui proses pemeriksaan internal.
F. Macam - Macam Sanksi Hukum Administrasi Negara
Diantaranya :
Paksaan Pemerintahan (Bestuursdwang)
‘'Paksaan pemerintahan merupakan tindakan nyata yang dilakukan organ pemerintah atau atas nama pemerintah untuk memindahkan, mengosongkan, menghalang-halangi, memperbaiki pada keadaan semula apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan yang bertentangan dengan kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Paksaan pemerintahan harus memperhatikan ketentuan Hukum yang berlaku baik Hukum tertulis maupun tidak tertulis, yaitu asas-asas pemerintahan yang layak seperti asas kecermatan, asas keseimbangan, asas kepastian hukum dan lain-lain.. Contoh Pelanggaran yang tidak bersifat substansial seorang mendirikan rumah tinggal di daerah pemukiman, tanpa IMB.
Pemerintah tidak sepatutnya langsung menggunakan paksaan pemerintahan, dengan membongkar rumah tersebut, karena masih dapat dilakukan legalisasi, dengan cara memerintahkan kepada pemilik rumah untuk mengurus IMB. Jika perintah mengurus IMB tidak dilaksanakan maka pemerintah dapat menerapkan bestuursdwang, yaitu pembongkaran.
Contoh Pelanggaran yang bersifat substansial, misalkan pada pengusaha yang membangun industri di daerah pemukiman penduduk, yang berarti mendirikan bangunan tidak sesuai dengan RT/RW yang ditetapkan pemerintah, maka pemerintah dapat langsung menerapkan bestuursdwang.
Peringatan yang mendahului Bestuursdwang, hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan bestuursdwang di mana wajib didahului dengan suatu peringatan tertulis, yang dituangkan dalam bentuk Ketetapan Tata Usaha Negara.
Isi peringatan tertulis ini biasanya meliputi hal-hal sebagai berikut, Peringatan harus definitif, Organ yang berwenang harus disebut, Peringatan harus ditujukan kepada orang yang tepat, Ketentuan yang dilanggar jelas,
Pelanggaran nyata harus digambarkan dengan jelas, Memuat penentuan jangka waktu, Pemberian beban jelas dan seimbang, Pemberian beban tanpa syarat, Beban mengandung pemberian alasannya, Peringatan memuat berita tentang pembebanan biaya.
Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang menguntungkan
Ini diterapkan dalam hal jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan atau syarat-syarat yang dilekatkan pada penetapan tertulis yang telah diberikan, juga dapat terjadi pelanggaran undang-undang yang berkaitan dengan izin yang dipegang oleh si pelanggar.
Penarikan kembali ketetapan ini menimbulkan persoalan yuridis, karena di dalam HAN terdapat asas het vermoeden van rechtmatigheid atau presumtio justea causa, yaitu bahwa pada asasnya setiap ketetapan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dianggap benar menurut hukum. Oleh karena itu, Ketetapan Tata Usaha Negara yang sudah dikeluarkan itu pada dasarnya tidak untuk dicabut kembali, sampai dibuktikan sebaliknya oleh hakim di pengadilan.
Kaidah HAN memberikan kemungkinan untuk mencabut Ketetapan Tata Usaha Negara yang menguntungkan sebagai akibat dari kesalahan si penerima Ketetapan Tata Usaha Negara sehingga pencabutannya merupakan sanksi baginya.
Sebab-sebab Pencabutan Ketetapan Tata Usaha Negara sebagai Sanksi ini terjadi melingkupi jika, yang berkepentingan tidak mematuhi pembatasan-pembatasan, syarat-syarat atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang dikaitkan pada izin, subsidi, atau pembayaran.
Jika yang berkepentingan pada waktu mengajukan permohonan untuk mendapat izin, subsidi, atau pembayaran telah memberikan data yang sedemikian tidak benar atau tidak lengkap, hingga apabila data itu diberikan secara benar atau lengkap, maka keputusan akan berlainan misalnya penolakan izin.
Pengenaan Uang Paksa (Dwangsom)
‘’N.E. Algra, mempunyai pendapat tentang pengenaan uang paksa ini, menurutnya, bahwa uang paksa sebagai hukuman atau denda, jumlahnya berdasarkan syarat dalam perjanjian, yang harus dibayar karena tidak menunaikan, tidak sempurna melaksanakan atau tidak sesuai waktu yang ditentukan, dalam hal ini berbeda dengan biaya ganti kerugian, kerusakan, dan pembayaran bunga.
Menurut hukum administrasi, pengenaan uang paksa ini dapat dikenakan kepada seseorang atau warga negara yang tidak mematuhi atau melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai alternatif dari tindakan paksaan pemerintahan
‘’Pendapat P de Haan DKK menyatakan bahwa, terdapat perbedaan dalam hal pengenaan denda administratif ini, yaitu bahwa berbeda dengan pengenaan uang paksa yang ditujukan untuk mendapatkan situasi konkret yang sesuai dengan norma, denda administrasi tidak lebih dari sekedar reaksi terhadap pelanggaran norma, yang ditujukan untuk menambah hukuman yang pasti. Dalam pengenaan sanksi ini pemerintah harus tetap memperhatikan asas-asas hukum administrasi, baik tertulis maupun tidak tertulis.
BAB III PENUTUP Kesimpulan
‘’Didalam Pengenaan Sanksi Administrasi Negara, Tidak Perlu menggunakan peratara pihak ketiga (dalam hal ini hakim/pengadilan), karena sanksi merupakan Keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat Concriet, Individual dan Final, artinya dapat langsung dieksekusi atau dilaksanakan penegakan hukumnya tanpa ada rujukan lebih lanjut berdasarkan Undang-Undang dan Asas Umum Pemerintahan yang Baik
Dengan kata lan Perumusan dan penetapan sanksi harus dilihat sesuai dengan undang undang tertentu yang berkaitan dengan Perbuatan atau tindakan yang dilakukan.
Mengenai Asas het vermoeden van rechtmatigheid atau presumtio justea causa, yaitu bahwa setiap ketetapan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dianggap benar menurut hukum. Oleh karena itu, Ketetapan Tata Usaha Negara yang sudah dikeluarkan itu pada dasarnya tidak untuk dicabut kembali, sampai dibuktikan sebaliknya oleh hakim di pengadilan.
Referensi
http://www.edipranoto.com/2011/05/sanksi-hukum-administrasi.html
http://www.jdih.kemenkeu.go.id/fullText/2014/30TAHUN2014UU.HTM
Heruman Jayadi SH., MH. Dosen Hukum Administrasi Negara Universitas Mataram
http://sidqioe.blogspot.co.id/2014/06/sanksi-hukum-administrasi-negara.html#sthash.7LfPeatO.dpuf
Komentar
Postingan populer dari blog ini
PRESENTASI SANKSI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Mei 16, 2017Dalam pemenuhan Tugas Kuliah, Mengerjakan Makalah dengan baik dan cepat belum tentu meraih nilai yang maksimal, tentu hal yang penting untuk melengkapinya adalah presetasi,
Berikut Contoh Presentasi Hukum Administrasi Negara mengenai ''SANKSI SANKSI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA''
BACA SELENGKAPNYA
Diberdayakan oleh Blogger
Gambar tema oleh Michael Elkan
RAMA DHAN KUNJUNGI PROFIL
Arsip
Laporkan Penyalahgunaan