• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBINAA KEPATUHAN PESERTA DIDIK PADA NO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBINAA KEPATUHAN PESERTA DIDIK PADA NO"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBINAA KEPATUHAN PESERTA DIDIK PADA NORMA SEKOLAH

(Studi Kualitatif Penataan Situasi Pendidikan oleh Guru di SMU KOPRI Banjarmasin)

Sarbaini

Abstrak : Penelitian ini untuk memperoleh deskripsi mengenai penataan situasi pendidikan yang dilakukan sekolah/guru dalam membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan tipe penelitian observational case studies. Sampel didasarkan pada pertimbangan reputasi sekolah dibanding beberapa SMU Swasta lainnya yang ada di Kotamadya Banjarmasin. Subjek penelitian pimpinan sekolah, guru yang relatif senior dan aktif-terlibat dalam membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, serta peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumenter. Hasil peneletian menunjukkan penataan situasi sekolah melalui penataan fisik ruang-ruang dan sosio-psikologis yang dimaksudkan untuk menciptakan situasi yang memberikan iklim tertentu yang mengundang, makin menumbuh-kembangkan dan meningkatkan dorongan diri peserta didik untuk mematuhi norma.

Kata Kunci : pembinaan, kepatuhan, peserta didik, norma sekolah

PENDAHULUAN

Indikasi bahwa di suatu sekolah telah tumbuh dan berkembang nilai disiplin dalam perilaku peserta didiknya antara lain terdapatnya perilaku patuh pada norma sekolah. Kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, akan mewujudkan lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tentram, efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya. Penumbuhkembangan kepatuhan peserta didik pada norma sekolah di tingkat SMU menjadi lebih urgen, karena peserta didik umum berada dalam taraf transisi, baik fisik, sosial maupun emosional, dan pada kondisi yang “rawan”.

Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pada SMU di berbagai kota memperlihatkan adanya perilaku peserta didik yang kurang disiplin di lingkungan sekolah (Jurusan PBB FIP IKIP Bandung, 1988; Bahri, 1994:6). Adanya perilaku peserta didik yang tidak patuh pada norma yang berlaku, tidak hanya di dalam lingkungan sekolah, bahkan juga di luar sekolah (Liwoso, 1989:2; Pikiran Rakyat, 1994:4), tapi juga menimbulkan keresahan dan pertanyaan.

(2)

kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, khususnya dalam hal penataan fisik, sosial dan osikologis yang dilakukan sekolah”?

TINJAUAN PUSTAKA

Sekolah dan Sosialisasi Norma

Sekolah menurut Dewey mempunyai dua fungsi utama yakni fungsi psikologis dan fungsi sosial. Dengan demikian, sekolah berfungsi selain membimbing perkembangan kondisi psikologis, juga membantu mempersiapkan peserta didik sebagai anggota masyarakat bagi kehidupan masyarakat mendatang (Darmodiharjo, 1981:19). Jadi kata Hetherrington dan Parke (1979) dapat dikatakan sekolah mempunyai peluang besar dalam mempengaruhi perkembangan anak (Larner dan Hultsch, 1983:272). Atau menurut Hirst, ia sebagai organisasi yang memiliki beberapa tujuan dalam mempersiapkan manusia” (Kay, 1975:204), dalam arti sebagai tujuan untuk mengembangkan kualitas pribadi, termasuk penanaman nilai-nilai dan norma-norma” (Cotgrove, dalam Kay, 1975:205), dan berotientasi pada norma tertentu (Breckenbridge, 1966:146).

Sekolah dalam melakukan sosialisasi norma, tidak hanya mempersiapkan peserta didik agar memiliki norma-norma, namun juga sebagai pribadi yang mampu menumbuhkan, memelihara dan mengembangkan norma-norma pada dirinya selaras dengan perannya di sekolah dan di masyarakat. Sosialisasi norma di sini tidak bermakna pencelupan aatau peleburan diri anak (Soelaeman, 1994:89), tetapi mengembangkan “diri kreatif” (Supratiknya, 1993:251) peserta didik.

Norma bagi Kazt dan Kahn merupakan aturan-aturan yang mengatur prosedur suatu organisasi sosial (Cohen dan Manion, 1980:323), sebagai aturan main dalam bentuk peraturan, ketetapan dan hukum yang tertulis, untuk menilai tindakan dan kelompok, dan standar yang mentukan apa yang benar dan salah, tepat dan tidak tepat, adil dan tidak adil maupun baik dan buruk dalam hubungan sosial(Looms, 1960:16), sebagai keharusan yang bersifat operasional, karena adanya sanksi (Djahiri, 1985:20).

Kepatuhan Peserta Didik pada Norma Sekolah

Kepatuhan terjadi dalam situasi-situasi di mana seseorang dengan sungguh-sungguh menghendaki orang-orang lain agar berperilaku dalam berbagai cara (Barn dan Byrne, 1974:281). Namun, kepatuhan dalam dimensi pendidikan adalah kerelaan dalam tindakan terhadap perintah-perintah dan keinginan dari kewibawaan seperti dari orang tuan atau guru (Good, 1973:392). Jadi munculnya kepatuhan adalah karena kewibawaan (Webb,1981:5). Tingkat kesadaran dari kepatuhan seseorang berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg, berkembang (Djahiri, 1985:25), dari karena takut pada, kekuasaan atau paksaan, ingin dipuji, kiprah umum, adanya aturan hukum, adanya manfaat dan kesenangan, memuaskan baginya, hingga sampai kepada tingkat karena dasar prinsip etis yang layak secara universal.

Situasi Pendidikan

(3)

ditimbang, melainkan sebagaimana ia hayati, sebagai keseluruhan pengalaman dari orang-orang yang bersangkutan dimana mereka melakukan tindakan-tindakan tertentu. Penataan situasi pendidikan tidak terlepas pada 3 aspek yang saling terpadu, yaitu penataan situasi fisik, sosial dan psikologis.

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi mengenai penataan situasi pendidikan yang dilakukan sekolah/guru dalam membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, meliputi penataan fisik, sosial dan psikologis. Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah memberi sumbangan dan masukan kepada sekolah terhadap berbagai upaya nyata yang dilakukan guru dalam membina perilaku disiplin, khususnya kepatuhan peserta didik pada norma sekolah melalui penataan situasi sekolah secara fisik, sosial dan psikologis.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan tipe penelitian studi kasus, yang mengacu pada tipe studi kasus dari Bogdan dan Biklen (1982:59-61), salah satunya adalah observastional case studies. Lokasi penelitian SMU Swasta KOPRI Kotamadya Banjarmasin. Pemilihan sampel sekolah didasari pertimbangan reputasi sekolah dibanding beberapa SMU Swasta lainnya yang ada di Banjarmasin, terutama yang seusianya. Selain itu, pendapat masyarakat di lingkungan sekolah itu dan kemudahan serta keramahan yang diberikan (Lighfoot, 1983:11). Hal demikian juga dilakukan oleh dalam menentukansekolah yang menjadi lokasi penelitian. Subjek penelitian adalah pimpinan sekolah, guru yang relatif senior dan aktif terlibat dalam membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, serta peserta didik. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumenter. Teknik pengumpulan data terpenting adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data penelitian, karena alat pengumpul data yang paling tepat pada penelitian kualitatif adalah manusia (Hadisubroto, 1988:10).

Dengan mengacu pada kriteria-kriteria dari Lincoln dan Guba (1985:20) dan Moleong (1988:147), penetapan keabsahan data hasil penelitian dilakukan atas berdasarkan atas kriteria-kriteria berikut; Kredibilitas melalui member check dan triangulasi, Transferabilitas, Dependabilitas dan Konfirmabilitas, yang ditempuh melalui proses audit trail. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data dan tahapan penafsiran data.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Situasi Fisik, Sosial dan Psikologis

(4)

terdapat pos piket bermotif rumah Banjar, sejajar dengannya terletak bangunan yang terdiri dari ruang guru dan labotarium IPA.

Seluruh halaman depan dan sampingnya, di dalam pagar terdapat berbagai tanaman bunga dan di sepanjang koridor bangunan itu terdapat deretan kursi, serta pada setiap pintu kelas terdapat tong sampah dari plastik. Pada halaman samping ruang kepala sekolah menuju kantin dan bagian depannya juga ditanami dan disusun pot aneka tanaman bunga.

Penempatan ruang guru di bagian depan berhadapan dengan pintu pagar sekolah adalah dengan maksud agar dapat memantau sekaligus mengawasi peserta didik keluar masuk lingkungan sekolah (BAH, ID, RID, SOF, KHA). Deretan kursi di sepanjang koridor adalah menciptakan kondisi, agar pada waktu istirahat para peserta didik dapat duduk di situ, dengan secara tidak nyata dapat memonitor perilaku dan mengenal mereka, khususnya dalam hal pakaian, juga memberikan rasa aman pada peserta didik, karena pada jama istirahat mereka tidak boleh ada di dalam kelas. Jadi walaupun tidak berbelanja, mereka dapat duduk-duduk saja di luar, dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (BAH, ID, RID, SOF).

Penempatan ruang perpustakaan di pertengahan banguna sekolah dan berdampingan dengan ruang BP/UKS, dimaksudkan selain sebagai ruang baca, juga berperan sebagai tempat peserta didik mengerjakan tugas, baik dalam rangka mencari bahan maupun karena menjalani suatu sanksi. Ruang baca ditata secara terbuka, sehingga guru-guru yang melewati perpustakaan akan melihat dengan jelas siapa yang ada di ruang baca dan tidak ada peluang menjadi tempat persembunyian peserta didik. Di samping itu, karena letaknya berdampingan dengan ruang BP/UKS, maka secara tidak langsung petugas BP dapat memantau para peserta didik yang akan pergi ke WC maupun melihat suasana di kantin sekolah (BAH, ID).

Penempatan ruang kepala sekolah yang berdekatan dengan kantin sekolah dan ruang tata usaha di ujung belakang sekolah, dimaksudkan agar peserta didik terkondisikan ke bagian belakang sekolah, jauh dari pintu pagar, karena pintunya hanya satu, juga perilaku peserta didik akan termonitor. Penempatan ruangan ini adalah untuk mengantisipasi peserta didik yang ada di kantin pada jam-jam belajar dan takut berlama-lama di kantin (BAH, RID).

Tata Krama Siswa. Peserta didik yang baru duduk di kelas 1, rata-rata sudah diberikan masing-masing naskah tata tertib dan tata krama (ID, RID). Selain pengenalan aturan formal tentang situasi sosial psikologis, para guru juga mempunyai pandangan masing-masing dalam memupuk hubungan sosial psikologis antara guru dengan peserta didik. Misalnya BAH, memupuk dengan prinsip: “siswa langsung mendapatkan pelayanan dari guru, guru siap melayani. Hal demikian dilandasi oleh iklim kekeluargaannya lumayan baik”.

Upaya lain yang dilakukan guru dalam memupuk situasi sosial psikologis antara guru dan peserta didik antara lain melalui himbauan kepala sekolah dalam setiap kali rapat bulanan kepada guru, khususnya wali kelas minimal setiap minggu, hari Sabtu memberi nasehat, kalau bisa kumpul-kumpul di hari minggu.

(5)

Dari hasil observasi terhadap perilaku peserta didik di sekolah, suasana riang pada saat jam istirahat. Kalau mau masuk pintu, mengetuk pintu mengucapkan ‘assalammua’alaikum’ berdiri saat guru memasuki kelas, menyalami guru saat pulang pada jam terakhir. Bersama-sama para guru membersihkan lingkungan sekolah dan taman masing-masing, khususnya setiap pagi Jum’at dan saat lomba kelas 7 K. Saat berbicara dengan guru, mengucapkan ‘ulun’ untuk menunjuk diri pribadi dan ‘inggih’ dalam mengiyakan, dan bersikap hormat.

Landasan kebijakan penataan situasi fisik, sosial dan psikologis untuk pembinaan norma kepatuhan pada peserta didik, antara lain adalah program 7 K (ketertiban, keamanan, kebersihan, keindahan, kekeluargaan, kerindangan, dan kesehatan) dan hasil rapat bulanan sekolah (BAH, RID). Semua tindakan penataan situasi fisik, sosial dan psikologis didasari oleh konsensus, kebersamaan dalam kebijakan dan tidakan.

Menurut peserta didik, hubungan antara mereka dengan guru dalam situasi sosio-psikologis dirasakan mereka baik, terbuka dan wajar. Dalam melaksanakan kegiatan di sekolah, mereka selain menyuruh, tetapi juga ikut terlibat bersama kami dalam kegiatan tersebut, misalnya aksi kebersihan, kesegaran jasmani dan pertandingan olah raga antar kelas (PH, FAH).

Pembahasan

Penataan situasi fisik sekolah melalui penataan ruang-ruangnya mempunyai tujuan dan maksud tertentu, demikian juga penataan situasi sosio-psikologis terhadap upaya-upaya yang dilakukan guru maka tujuan dan maksud tertentu yang diinginkan, dapat dikenal, diketahui dan di’baca’ peserta didik, yakni untuk menciptakan situasi yang memberikan iklim yang tertentu bagi pengembangan diri masing-masing, baik guru maupun peserta didik. Dalam hal ini situasi yang mengundang, makin menumbuh-kembangkan dan meningkatkan dorongan diri peserta didik untuk mematuhi norma sekolah. Jadi upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan mempunyai maksud-maksud dan tujuan tertentu. Hal ini memperkuat kembali apa yang dikemukakan oleh Soelaeman (1988:57-58) bahwa segala aktifitas dan kreatifitas manusia itu, baik yang motorik, yang psikologis, bahkan yang bercorak filsafi, bukannya sembarang, melainkan selalu terarah, memiliki maksud dan tujuan tertentu. Penyadaran akan tujuan dapat membantu orang dalam mengarahkan dan merencanakan perilakunya dan berfungsi sebagai pedoman untuk mempersatukan langkah dan upayanya dalam mencapai tujuan tersebut.

Beberapa upaya yang dilakukan guru dalam menata situasi fisik, sosio-psikologis di sekolah merupakan isyarat bahwa tugas mereka tidak hanya mengajar, tetapi bagian dari upaya mendidik. Karena upaya yang dilakukan diarahkan kepada pencapaian maksud dan tujuan tertentu yang penuh dengan muatan norma-norma tertentu pula.

Ruang yang ditata bukan hanya ruang fisik semata, tetapi ruang juga mengandung nuansa sosio-psikologis, karena menurut Brouwer (1983:65) ruang merupakan hal yang luas yang di dalamnya segala hal diberi tempat. Ruang ialah syarat yang harus dipenuhi supaya manusia bisa bergerak.

(6)

hanya sekedar mematuhi, tetapi benar-benar ingin ikut aktif terlibat di dalam ruang itu. Manakala peserta didik tidak hanya membaca apa yang diinginkan oleh para guru dari penataan ruang itu, tetapi mampue berdialog dengan tatanan ruang tersebut, sebab sesuai dengan kebutuhannya, maka mendorong peserta didik untuk terlibat aktif dengan apa yang diinginkan dari penataan tersebut.

Jika demikian adanya, terjadinya ‘pertemuan internasional’ (Soelaeman, 1985:177) atau ‘fenomena self’ (Lindgren, 1976:34) sebagai suatu tingkat keterhunian suatu lingkungan atau ruang, yaitu bila yang bersangkutan merasa terlibat di dalamnya, menghayatinya tidak lagi sebagai ruang tataan guru, tetapi ruang milik mereka sendiri. Jadi, penataan ruang-ruang fisik dan interaksi sosial psikologis yang terjadi di dalamnya, tidaklah selalu berada dalam keadaan apa adanya, tetapi memuat ‘sesuatu’ yang ingin dituju, karena menurut Soelaeman (1994:88), anak tidak dididik dalam ruang dan keadaan abstrak, melainkan selalu di dalam dan diarahkan kepada suatu kehidupan masyarakat tertentu.

Namun demikian, dalam penataan situasi sosial psikologis antara guru dan peserta didik, tidak lepas dari peran status formalnya, karena perilaku manusia ditentukan oleh struktur dan fungsi-fungsi, demikian menurut funcitonalism structural theory (Parsons, 1951:12). Dengan demikian perilaku ataupenampialn guru dalam memupuk situasi sosial psikologisnya dengan peserta didik di sekolah, juga dipengaruhi oleh struktur sekolah sebagai lembaga birokrasi dan fungsi-fungsinya yang harus dijalankan dan diperankan oleh guru.

Di samping itu, dilihat dari analisis “social fact” Durkheim (1973:24), bahwa ada “social fact” yang mengatur tindakan manusia. Sekolah adalah sebuah masyarakat yang memiliki sistem sosial tersendiri dan penampilan warga sekolah, dalam hal ini situasi sosial psikologis antara guru dan peserta didik, akan dibatasi “rule-governed behavior” oleh sistem sosial itu.

Oleh karenanya dalam penataan situasi sosial psikologis nampak mempunyai keterkaitan dengan konsep “social distance” (jarak sosial). Artinya menurut Adiikarta (1988:105), betapa pun akrabnya hubungan guru dengan pelajar, ia akan selalu mempertahankan suatu jarak tertentu, meskipun sifatnya relatif dan sangat pribadi. Guru tidak mungkin melarutkan diri sepenuhnya ke dalam lingkungan pelajar. Dapat dikatakan bahwa dalam penataan situasi sosial psikologis antara guru dengan peserta didik di sekolah, diharapkan guru harus tetap mempertahankan posisinya sebagai pembimbing bagi peserta didik dalam proses sosialisasi dan individualisasi norma-norma yang berlaku di sekolah.

Penataan situasi fisik, sosial dan psikologis di lingkungan sekolah, dengan demikian bukanlah tidakan yang tidak berdasar, akan tetapi merupakan upaya-upaya tertentu dalam mencapai tujuan dan maksud, artinya upaya tersebut dilandasi oleh alasan dan motif tertentu. Sebab situasi sebagai suasana di mana kita berada, tidak secara objektif dalam arti dapat diukur dan ditimbang, melainkan sebagaimana ia hayati (Kouwe-Linschoten, 1956:92; Soelaeman, 1985:18), dan menurut Langeveld (1056:10; Soelaeman, 1985:18) merupakan keseluruhan pengalaman dari orang-orang yang bersangkutan di mana mereka melakukan tindakan-tindakan tertentu.

(7)

maupun psikologis. Situasi demikian berarti melahirkan iklim yang mampu mengundang peserta didik untuk berperilaku patuh pada norma sekolah. Karena iklim menurut Lindgren (1976;Soelaeman, 1994:157) memberikan kondisi bagi lahirnya perilaku terentu pada mereka yang ada di dalamnya.

Pembinaan yang dilakukan sekolah dalam bentuk penataan situasi sekolah berupa fisik, sosial psikologis adalah berlandaskan pada suatu kebijakan, yakni dari Permen No. 19 tahun 1990 yang menyangkut tentang Wawasan Wiyata Mandala dan Tata Krama Pergaulan Siswa, program 7 K dan hasil rapat bulanan sekolah. Adanya kebijakan demikian menunjukkan, penataan situasi yang dilakukan betul-betul mempunyai landasan, selain maksud dan tujuan. Landasan kebijakan merupakan fondasi dalam menentukan upaya-upaya yang dilakukan dalam mencapai maksud dan tujuan. Karena landasan kebijakan tersebut berfungsi sebagai “principium rationis sufficientis” (Soelaeman, 1988:65), yakni dasar yang mencukupi penuturan atau penjabarannya secara rasional. Prinsip ini merupakan dasar rasional yang terjabar dari pada suatu tindakan. Menurut Langeveld (1951:10; Soelaeman, 1988:66) adalah tidak dibenarkan untuk menyatakan suatu pandangan atau pendapat yang tidak berlandasan pada suatu dasar pikiran. Landasan kebijakan yang diacu guru dalam penataan situasi sekolah adalah berupa landasan formal dan landasan operasional.

Landasan kebijakan formal adalah karena sekolah merupakan lembaga formal, yang dalam pelaksanaan lembaga tersebut, tidak bisa lepas dari seperangkat aturan yang bersifat formal juga. Perangkat peraturan formal inilah yang memberikan dasar rasional untuk melakukan pembinaan kepatuhan peserta didik pada norma sekolah, melalui penataan situasi sekolah. Sedangkan landasan kebijakan operasional adalah mengacu pada mekanisme dan hasil rapat bulanan sekolah. Forum rapat bulanan sekolah menghasilkan konsensus dan kebersamaan dalam menentukan kebijakan, tindakan dan evaluasi serta memberikan dasar rasional dalam penataan situasi sekolah guna membina kepatuhan peserta didik kepada norma sekolah.

Landasan kebijakan formal dan operasional yang menjadi acuan guru dalam menata situasi di sekolah guna membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah dapat dilihat sebagai bagian dari kepentingan “social heritage” (Henderson, 1959:35; Soelaeman, 1985:210), atau lebih luas bagi Darmodiharjo (1981:18) untuk kepentingan culture pre-server, culture transmitter, culture transformer. Namun dalam konteks mengembangkan pribadi peserta didik, yakni pribadi yang patuh terhadap norma sekolah, yang mampu mengacu pada “norma ketertiban, keamanan, kebersihan, keindahan, kekeluargaan, kerindangan, dan kesehatan”, seperti norma yang dalam Wawasan Wiyata Mandala, dan norma “sopan santun” dalam Tata Krama Siswa, serta norma “kebersamaan dan otonomi pribadi” dalam tindakan operasional pembinaan kepatuhan.

KESIMPULAN

(8)

2. Pembinaan yang dilakukan sekolah dalam bentuk penataan situasi sekolah berupa fisik, sosial dan psikologis adalah berlandaskan pada suatu kebijakan formal, yakni Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990, yang menyangkut tentang Wawasan Wiyata Mandala, Tata Krama Siswa (termasuk tata tertib sekolah) dan Program 7K, sedangkan landasan kebijakan operasionalnya adalah forum dan hasil rapat bulanan.

3. Landasan kebijakan formal dan operasional yang menjadi acuan guru dalam menata situasi sekolah guna membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah adalah mengembangkan pribadi peserta didik, yakni pribadi yang patuh terhadap norma ketertiban, keamanan, kebersihan, kekeluargaan dan kesehatan, dalam Wawasan Wiyata Mandala, norma sopan santun, Program 7 K, serta norma kebersamaan dan otonomi pribadi dalam tindakan operasional.

Saran

1. Dalam penataan situasi sekolah, kepala sekolah dan guru hendaknya tidak hanya terpaku dan puas kepada penataan fisik, sosial dan psikologis yang ada, tetapi hendaknya mampu mengembangkan kreatifitas lagi, guna meningkatkan penataan situasi yang ada berdasarkan kebutuhan peserta didik. Karenanya pada periode tertentu perlu diadakan evaluasi dan pembaharuan penataan, jika perlakukan yang terdapat dalam penataan situasi sekolah, ternyata mulai menunjukkan gejala kurang efektif lagi dalam membina kepatuhan peserta didik pada norma sekolah.

2. Kepala sekolah dan guru guna perluasan wawasan dan peningkatan kemapuan teknis operasional pengembangan kepatuhan peserta didik pada norma melalui penataan situasi sekolah, hendaknya mencari peluang dan melakukan studi banding kepada sekolah yang lebih maju, bekerja sama atau melakukan dialog dengan sesama para guru antar sekolah maupun LPTK, para ahli, orang tua dan peserta didik sendiri serta masyarakat di lingkungan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Adiwikarta, Sutardja, 1988. Sosiologi Pendidikan, Isu dan Hipotesis tentang Hubungan Pendidikan dengan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud. P2LPTK.

Bahri, Syamsul. 1989. Disiplin Diri dalam Belajar Dihubungkan dengan Penamaan Disiplin yang Dilakukan Orang Tua dan Guru. Tesis. PPS IKIP Bandung; Tidak diterbitkan.

Bakhtiar, Harsya. 1993. Pendidikan Tidak Dapat Tunduk Kepada Asumsi Ekonomi Media Indonesia. 10 April 1993.

Baron, Robert. A and Byrne, Donn. 1974. Social Psychology, Understanding Human Interaction. Boston: Ally and Bacon.Inc.

(9)

Breckenridge, Marian, E, M.S. 1966. Child Development, Physical and Psychological Growth Through Adolescence. London: W.B. Sadders Company.

Cohen, Louis and Manidon, Lawrence. 1980. Perspective on Classroom and Schools. London: Holt, Rinehart and Winston.

Darmodihardjo, 1981. “Peranan IKIP dalamPengembangan dan Pembinaan Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan”. Dalam Analisis Pendidikan Jakarta: Tahun II Nomor. 3

Djahiri, A. Kosasih. 1985. Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral, VCT dan Games dalam VCT. Bandung: Jurusan PMPKN FPIPS IKIP Bandung.

Durkeim, Emile, 1973. Moral Education, trans-Everett Wilson and Herman Schrurer, New York: The Free Press.

Good, Carter.V, 1973. Dictionary of Education. New York: McGraw-Hill Book Company.

Hadisubroto, Subino. 1988. Pokok-pokok Pengumpulan Data, Analisis Data, Penafsiran Data dan Rekomendasi Data Penelitian Kualitatif. Bandung: PPS IKIP Bandung.

Jurusan PBB. 1988. Laporan Hasil PPL BP Mahasiswa Jurusan PBB. Bandung: FIP IKIP Bandung.

Kay, William. 1975. Moral Education, A Sociological Study of the Influence of Society, Home and School. London : George Allen and Unwin.

Lerner, Richard. M and Hultsch, David. F. 1985. Human Development, A Life-Span Perspective. New York: McGraw-Hill Book Company.

Lightfoot, Sara Lawrence, 1988. The Good High School. New York: Basic Book, Inc.Publishers.

Liwoso, M.A, 1989. Latar Belakang Keterlibatan Siswa Remaja dalam Minuman Keras; Studi Kasus Mengenai Siswa Peminum Minuman Keras. Tesis. PPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Moleong, Lexy.J. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : Depdikbud. P2LPTK.

Parson, Talcott, 1951. The Social System, Glenoeo: The Free Press.

Soelaeman, M.I. 1994. Pendidikan dalam Keluarga. Bandung: Alfabeta.

(10)

Soealaeman, M.I. 1985. Suatu Upaya Pendekatan Terhadap Situasi Kehidupan dan Pendidikan dalam Keluarga dan Sekolah. Disertasi. FPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Supratiknya, A. 1993. Teori-teori Psiko-dinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Tim Pengkasi Sejarah dan Filsafat Pendidikan. 1990. Keperluan dan Keharusan Ilmu Pendidikan. Jakarta: IKIP Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dimana pada tahun tersebut, kondisi dunia baru saja terlepas dari Perang Dunia II dan memasuki Perang Dingin yang membentuk blok-blok aliansi negara, yaitu blok barat dipimpin

Dalam proses pemohonan pembiayaan, para pihak Baitul Qiradh Amanah memberikan pelayanan yang baik kepada setiap nasabah dan modal yang diberikan untuk usaha

Dengan terbentuknya Kota Gunungsitoli sebagai daerah otonom, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkewajiban membantu dan memfasilitasi terbentuknya Kelembagaan

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir ini tepat pada

Selain itu hasil wawancara dengan dua orang guru BK yang ada di sekolah MTs Muhammadiyah Lakitan pada tanggal 3 November 2016 diketahui bahwa peserta didik kelas

Berdasarkkan hasil tes MFT (Multistage Fitness Test) menunjukkan bahwa nilai signifikan (0,04) lebih kecil dari alpha (5%) atau 0,05. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan

banyak tempat-tempat usaha jasa penitipan kendaraan bermotor (parkir) yang mencantumkan klausula baku, contohnya saja yang terjadi di parkiran pasar tengah kota

Ruspiani, Kemampuan dalam Melakukan Koneksi Matematika dalam Yanto Permono dan Utari Sumarmo, Mengembangkan Kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematik Siswa SMA