• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh anggaran penjualan terhadap pey

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh anggaran penjualan terhadap pey"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH ANGGARAN PENJUALAN TERHADAP

PENYUSUNAN HARGA POKOK PENJUALAN UNTUK

MENGOPTIMALKAN LABA PADA PT. ASTRA DAIHATSU

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kelancaran atau keberhasilan suatu perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen di dalam mengambil keputusan. Agar suatu operasi perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka manajemen memerlukan informasi yang dapat dipercaya sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Dan sejalan dengan semakin berkembangnya volume perusahaan, maka menejemen semakin dituntut untuk mangatasi aneka ragam masalah yang dihadapi. Suatu manajemen yang baik tidak hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi manajerial , tetapi dituntut untuk membuahkan keputusan yang tepat. Oleh karena itu untuk mendapatkan keputusan yang tepat, manajer harus mampu mengukur dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan di dalam organisasinya.

(2)

Tujuan utama perusahaan pada umumnya adalah untuk memperoleh laba yang optimal. Hal ini tidaklah mengherankan karena dengan laba suatu perusahaan dapat mempertahankan hidupnya dan memperluas usahanya. Selain itu keberhasilan suatu perusahaan sering kali dinilai dari tingkat laba yang dihasilkan. Untuk menghasilkan laba, suatu perusahaan dapat melakukan dua cara. Cara pertama dengan menaikan harga jual. Tindakan ini memang dapat meningkatkan laba,namun dalam kondisi persaingan yang semakin ketat ini,perusahaan tidak mudah untuk menaikan harga jual karena dapat menyebabkan konsumen lari ke produk pesaing yang memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas produk yang sama. Cara kedua adalah dengan menekan biaya produksi secara efisien dan mengendalikan komponen biaya-biayanya sehingga biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan seminimal mungkin. Biaya produksi yang tidak terkendali akan menyebabkan harga pokok terlalu tinggi, yang selanjutnya akan menurunkan daya saing produk dan akhirnya dapat menurunkan laba. Untuk itu biaya produksi harus dicatat dengan baik dan dihitung dengan benar sehingga dapat menghasilkan harga pokok produk yang tepat. Dengan demikian perusahaan dapat menetapkan harga jual yang kompetitif,yang dapat mengoptimalkan laba sekaligus memenuhi tuntutan konsumen.

Agar manajemen dapat menggunakan biaya secara efisien, maka ia memerlukan informasi biaya yang handal.pengertian harga pokok menurut Mulyadi (1999,hal10) adalah sebagai berikut: “Harga pokok adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau pengorbanan sumber ekonomi dalam mengolah bahan baku menjadi produk”. Dengan demikian, apabila perhitungan harga pokok telah dilakukan dengan tepat dan benar, maka akan memungkinkan tercapinya penetapan harga jual yang efektif. Untuk memperoleh informasi harga pokok yang tepat dibutuhkan suatu metode yang tepat untuk mengakumulasikan biaya-biaya yang terjadi. Ada dua metode perhitingan harga pokok yang umum digunakan, yaitu process costing method (metode harga pokok proses), dan job order costing method (metode harga pokok pesanan).

(3)

dikumpulkan untuk masing-masing pesanan. Metode harga pokok pesanan biasanya banyak dipakai untuk perusahaan yang memproduksi produk sesuai pesanan dimana harga pokok pesanan yang satu akan berbeda dengan harga pokok pesanan yang lain yang memiliki spesifikasi yang berbeda. Perusahaan yang memproduksi berdasarkan pesanan ini memiliki dua macam sistem perhitungan harga pokok, yaitu sistem harga pokok yang sesungguhnya dan sistem harga pokok pesanan dimuka. Dengan metode harga pokok pesanan dimuka perusahaan dapat menghitung harga pokok sebelum proses produksi dilaksanakan,sehingga dapat diajukan harga penawaran yang tepat kepada calon pemesan. Untuk itu dibutuhkan informasi biaya produksi yang akurat dan tepat waktu, sehingga perhitungan harga pokok pesanan dimuka ini dapat dilakukan dengan baik. Misalkan proses produksi akan ditentukan oleh spesifikasi dari pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain,tergantung dari spesifikasi dari pemesan. Harga jual yang akan ditetapkan oleh perusahaan adalah harga jual dimuka, dimana harga harus selalu ditentukan sebelum proses produksi dilaksanakan sebagai bahan pertimbangan diterima atau ditolak suatu pesanan. Untuk itu perusahaan menggunakan metode harga pokok pesanan dimuka. Pengertian sistem harga pokok ditentukan dimuka merupakan sistem pembebanan harga pokok pada produk yang dihasilkan, sebesar harga pokok yang ditentukan dimuka, sebelum proses produksi dilakukan.

(4)
(5)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, penulis akan mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1.Bagaimana perhitungan harga pokok dimuka.

2.Bagaimana penetapan harga jual produk pesanan yang dihasilkan perusahaan.

3.Apakah perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang dilakukan perusahaan berperan dalam menunjang efektivitas penetapan harga jual.

1.3 Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yg telah diuraikan tersebut diatas, maka dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut “Apakah Ada Pengaruh Perhitungan Harga Pokok Produksi Terhadap Penetapan Harga Jual Produk” .

1.4 Maksud dan Tujuan

Dengan ditetapkan permasalahan yang diungkapkan dalam identifikasi masalah. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah:

1 Untuk mengetahui bagaimana peranan perhitungan harga pokok pesanan dimuka. 2 Untuk mengetahui bagaimana penetapan harga jual produk pesanan yang dihasilkan perusahaan.

3 Untuk mengetahui apakah perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang dilakukan perusahaan berperan dalam menunjang efektivitas penetapan harga jual produk.

1.5 Kegunaan Penelitian

(6)

1.Sebagai sumbangan pemikiran atau sebagai bahan pertimbanagan bagi perusahaan yang bersangkutan dalam usaha penetapan harga pokok pesanan dimuka.

2.Bagi masyarakat khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi, penulis berharap hasil

penelitian ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan terapan, terutam dalam perhitungan harga pokok pesanan dimuka.

3.Bagi penulis sendiri, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan teoritis yang di dapat selama kuliah, sehingga membuka wawasan yang lebih luas.

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini terbagi dalam lima bab, agar pembahasannya dapt dipahami dengan jelas, dimana setiap bab berisi :

BAB I Pendahuluan, bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, maksud dan tujuan,kegunaan penelitian, sistematika penulisan. BAB II Landasan Teori, bab ini berisi tentang penjelasan-penjelasan tentang tinjauan teoritis biaya, pengertian harga pokok produksi, system biaya produksi, laporan biaya produksi, perbedaan full costing dan variable costing, perbedaan karakteristik metode dan proses dalam menentukan harga pokok, akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok pesanan, akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok proses, tujuan dan manfaat penentuan harga pokok produksi, harga jual.

BAB III Metodologi Penelitian, bab ini berisi tentang penjelasan mengenai metode yang digunakan dan jenis data yang digunakan dalam proses penelitian

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Teoritis Biaya

2.1.1 Pengertian dan Penggolongan Biaya

Pada dasarnya perhitungan harga produksi adalah berdasarkan biaya- biaya apa saja yang telah dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut, oleh karena itu perlu kita ketahui terlebih dahulu apa itu biaya dan bagaimana penggolongannya.

2.1.1.1 Pengertian Biaya

Pengertian biaya secara umum menurut Marcell dan Kuepper (1991 : 6 ) , yaitu: 1) banyaknya barang-barang yang dipakai,

2) keterkaitan pemakaian barang-barang untuk mencapai hasil tertentu, 3) penilaian barang-barang yang dipakai untuk mencapai hasil tertentu.

Dengan demikian dapat definisikan bahwa biaya adalah pemakainan barang-barang yang dinilai untuk mencapai hasil (output) tertentu.

Menurut Usry dan Hammer ( 2004 : 29 ), “ biaya merupakan suatu nilai tukar prasyarat atau pengorbanan yang dilakukan guna memperoleh manfaat”. Pengorbanan yang dimaksudkan dapat berupa pengeluaran kas maupun modal. Biaya menurut Bustami dan Nurlela (2009 : 7 ) yaitu “ pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”. Biaya ini belum habis masa pakainya, dan digolongkan sebagai aktiva yang dimasukkan dalam neraca.

(8)

untuk mencapai tujuan tertentu”. Berdasarkan pengertian yang diberikan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah pengorbanan untuk memperoleh sebuah hasil.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang menyamakan pengertian biaya dengan beban. Namun dalam akuntansi dibedakan antara pengertian biaya dan beban. Setiap beban adalah biaya, tapi tidak setiap biaya adalah beban. Berikut diberikan definisi beban. Definisi beban menurut Bustami dan Nurlela (2009 : 8), “beban adalah biaya yang telah memberikan manfaat dan sekarang telah habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat memberikan manfaat dimasa akan datang dikelompokkan sebagai harta. Biaya ini dimasukkan kedalam Laporan Laba-Rugi, sebagai pengurangan dari pendapatan”. Carter dan Usry (2006 : 30) mendefinisikan beban sebagai, “ aliran keluar terukur dari barang atau jasa, yang kemudian ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba”.

Dari uraian diatas tampak perbedaan antara biaya dan beban. Biaya ( cost) ditunjukkan untuk memperoleh barang dan jasa, serta masih memberikan manfaat diwaktu mendatang dan merupakan asset dalam neraca. Sedangkan beban (expense ) adalah biaya yang tealh habis manfaatnya dan akan dimasukkan sebagai beban kedalam perhitunga Laba-Rugi serta bertujuan untuk peenciptaan pendanaan.

2.1.1.2 Penggolongan Biaya

Klasifikasi biaya atau penggolongan biaya adalah suatu proses pengelompokan biaya secara sistematis atas keseluruhan elemen biaya yang ada kedalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih ringkas dan penting.

Akuntansi biaya dalam hal pengelompokan biaya dikenal konsep “ Different cost for different purpose”, oleh karena hal ini maka biaya dikelempokkan berdasarkan tujuannya masing-masing. Garrison, Noreen, dan Brewer (2006 : 64) mengelompokkan biaya berdasarkan tujuannya seperti yang dirincikan.

1) Menyiapkan laporan keuangan eksternal. Untuk tujuan ini biaya dibagi lagi menjadi dua yaitu, biaya produk dan biaya periodic.Biaya produk mencakup semua biaya yang terkait dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk. Biaya-biaya ini terdiri atas bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

(9)

3) Menentukan biaya ke objek biaya seperti departemen atau produk. Didalam perusahaan objek biaya dapat dihubungkan dengan produk yang dihasilkan, departemen, ataupun individu. Penggolongan biaya atas tujuan ini dibagi menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung. 4) Pembuatan Keputuasan. Biaya adalah bahan yang sangat penting dalam pembuatan keputusan. Untuk tujuan ini maka diperlukan pemahaman yang kuat mengenai konsep biaya differenisial

( differential cost ), biaya kesempatan (opportunity cost), dan biaya tertanam ( sunk cost). Biaya kualitas atau mutu adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kualitas barang yang di produksi.

Biaya kualitas dibagi empat yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian dan biaya kegagalan internal dan eksternal.

a) Biaya pencegahan yaitu biaya yang berkaitan dengan aktivitas untuk mengurangi jumlah produk atau jasa yang cacat.

b) Biaya penilaian disebut juga biaya inspeksi untuk mengidentifikasi produk cacat sebelum produk tersebut dikirimkan pada konsumen.

c) Biaya kegagalan internal diakibatkan oleh identifikasi cacat selama proses penilaian. Biaya ini meliputi sisa bahan, barang yang di tolak, pengerjaan ulang produk cacat, dan waktu yang terbuang karena masalah kualitas.

d) Biaya kegagalan eksternal, biaya ini terjadi apabila produk cacat sampai ketangan konsumen. Biaya ini meliputi garansi perbaikan dan penggantian, penarikan produk di pasar, dll.

Adapun klasifikasi biaya menurut carter dan usry (2006 : 40) didasarkan hubungan antara biaya dengan :

1) produk ( satu lot, batch, atau unit dari suatu barang jadi atau jasa), 2) volume produksi,

3) departemen, proses, pusat biaya, atau subdivisi lain dari manufaktur, 4) periode akuntansi,

5) suatu keputusan, tindakan atau evaluasi.

2.2 Pengertian Harga Pokok Produksi

(10)

tersebut meliputi biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Menurut Rayburn ( 1999: 31), “harga pokok produksi meliputi keseluruhan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa”.

Menurut Samryn ,( 2001 : 27) “harga pokok produksi meliputi semua biaya yang terjadi dalam rangka pembelian atau pembuatan produk”.

Cara perhitungan harga pokok produksi pada perusahaan manufaktur dapat diperlihatkan melalui table dibawah.

Harga Pokok Produksi

Persediaan awal bahan baku xxx

Pembelian bahan baku xxx +

Bahan baku yang tersedia untuk dijual xxx Persediaan akhir bahan baku xxx –

Pemakaian bahan baku xxx

Upah langsung xxx

Overhead pabrik xxx +

Total biaya produksi xxx

Persediaan awal barang dalm proses xxx +

Total barang dalam proses xxx

Persediaan akhir barang dalam proses xxx – Harga pokok produksi xxx

2.2.1 Unsur-unsur Harga Pokok Produksi

Ada tiga unsur biaya yang membentuk harga pokok produksi. a. Biaya Bahan Langsung (Direct Material Cost)

b. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

c. Biaya Pabrik Tidak langsung (Factory Overhead Cost)

(11)

yang mencerminkan biaya pengubahanbahan baku langsung menjadi barang jadi. Berikut penjabaran unsur-unsur harga pokok produksi.

a. Biaya bahan langsung (direct material cost)

Bahan langsung atau bahan baku adalah semua bahan yang secara fisik langsung menjadi bagian utama dari barang jadi, dapat ditelusui pada produk dan jumlahnya material. Hal yang menjadi pertimbangan utama dalam mengelompokkan suatu bahan kedalam bahan langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi. Bahan baku dapat diperoleh dengan membeli ataupun memproduksi sendiri, maka biaya bahan langsung merupakan semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku tersebut yang termasuk biaya angkut, biaya bongkar muat, biaya gudang, dan lain-lain. Bahan baku masuk pada perkiraan persediaan dalam perusahaan.

Ada 2 metode pencatatan persediaan dalam akuntansi yaitu: 1) Sistem periodik

Sistem periodik merupakan metode pencatatan yang tidak dapat menunjukkan jumlah persediaan akhir secara langsung di akhir periode akuntansi. Jumlah persediaan akhir dihitung langsung fisiknya digudang, sedangkan nilai persediaan yang terpakai di sesuaikan berdasarkan sisa barang di gudang pada akhir periode dengan metode perhitungan sbb :

Persediaan bahan baku awal xxx Pembelian bahan baku xxx + Jumlah bahan baku yang tersedia untuk dipakai xxx Persediaan bahan baku akhir xxx - Jumlah bahan baku yang terpakai xxx

2) Sistem perpetual

(12)

Tanggal Dibeli Dipakai Sisa

Menurut metode ini harga pokok bahan baku yang pertama dibeli juga harus pertama digunakan dalam proses produksi. Sedangkan harga pokok bahan baku yang dibeli lebih akhir merupakan nilai persediaan. Metode ini terutama dilakukan apabila terdapat bahan baku yang mudah kusut. Berdasarkan anggapan bahwa bahan baku yang pertama beli adalah bahan baku yang pertama dipakai maka persediaan bahan baku akhir akan berisi bahan yang diterima paling akhir sehingga bahan baku mengikuti harga sedang berlaku.

 Metode LIFO ( Last in Fist Out)

Menurut metode ini, harga pokok bahan yang paling akhir dibeli dipakai sebagai harga pokok bahan yang digunakan dalam proses produksi.

 Metode Rata-rata (Average Method)

Harga pokok yang digunakan dalam proses produksi merupakan harga rata-rata pembelian bahan baku yang masih tersedia digudang. Untuk menghitung rata-rata perunit bahan baku sangat tergantung pada sistem pencatatan yang digunakan dimana apabila yang dipakai adalah sistem priodikal maka disebut weightes average, tetapi apabila sistem perpetual maka disebut metode moving average.

 Metode Identifikasi Khusus

Metode ini membebankan harga pokok produksi dengan memberi tanda khusus pada setiap kemasan bahan baku misalnya berupa kartu atau label yang berisi , informasi mengenai kuantitas yang dibeli, harga perunit dan kuantitas yang digunakan. Sehingga setiap pemakaian bahan yang

bersangkutan dapat ditentukan harga poko perunit dan totalnya, demikian pula sisa persediaan bahan tersebutpada akhir periode. Metode ini dinilai kurang praktis jika jenis bahan yang dimiliki relatif banyak.

b. Biaya tenaga kerja langsung ( direct labor cost)

(13)

“biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang secara langsung melaksanakan kegiatan produksi barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan, baik secara manual maupun dengan menggunakan mesin-mesin produksi.

Sutrisno ( 1999 : 65) menulis ada tiga dasar penentuan upah karyawan, yaitu: 1) Tariff berdasarkan jam kerja

Jika seorang pekerja diupah berdasarkan jam kerja, maka besarnya upah kotor yang akan dibayarkan kepada pekerja adalah sebesar jumlah jam kerja termasuk jam lembur dikalikan dengan tariff upah per jam kerja.

Upah kotor = Jumlah jam kerja x tariff / jam

2) Tarif berdasarkan unit yang diproduksi

Apabila perusahaan menggunakan tariff berdasarkan unit produksi yang dihasilkan, maka upah kotor yang akan diterima oleh pekerja adalah sebesar unit produksi yang dihasilakan oleh masing-masing pekerja dikalikan dengan tarif upah perunit.

Upah kotor = unit dihasilkan x tariff per unit

3) Tarif berdasarkan insentif

Pada tarif ini, upah kotor akan dibayarkan sebesar upah standar ditambah dengan insentif tertentu. Insentif ini diberikan karena pekerja kurang mampu memproduksi melebihi jumlah standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

c. Biaya pabrik tidak langsung (factory overhead cost)

(14)

Untuk itu diberikan beberapa cara perhitungan beban overhead yang umum dalam perusahaan manufaktur, berikut perinciannya.

1) Berdasarkan taksiran jumlah unit yang diproduksi Tarif overhead per unit = Anggaran biaya overhead

jumlah unit produksi

Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis barang.

2) Berdasarkan taksiran biaya bahan langsung

% biaya overhead terhadap bahan baku = anggaran biaya overhead pabrik taksiran biaya bahan baku.

Semakin besar biaya bahan langsung yang dikeluarkan dalam pengolahan produk, maka semakin besar juga biaya overhead pabrik yang dibebankan kepadanya. Metode ini jarang dipakai karena tidak ada hubungan yang logis antara biaya bahan baku dan overhead.

3) Berdasarkan taksiran biaya upah langsung

% biaya overhead terhadap BTKL = anggaran biaya overhead pabrik taksiran biaya tenaga kerja langsung

4) Berdasarkan taksiran jam kerja langsung

Tarif overhead per jam kerja langsung = Anggaran biaya overhead pabrik taksiran jam kerja langsung

5) Berdasarkan taksiran jam kerja mesin

Tarif overhead per jam = anggaran biaya overhead pabrik taksiran jam mesin

2.3 Sistem Biaya Produksi

(15)

a. Sistem biaya sesungguhnya ( Historical costing)

Sistem ini disebut juga system biaya actual adalah suatu system dalam pembebanan haraga pokok produk atau pesanan atau jasa pada saat biaya tersebut sudah terjadi atau biaya yang sesungguhnya dinikmati. Penyajian hasil baru akan dilakukan apabila semua operasi sudah selesai pada periode akuntansi yang bersangkutan. Sistem ini biasanya digunakan pada metode harga pokok proses yang menggunakan pencataan persediaan produk jadi dengan metode periodic.

b. Sistem biaya ditentukan dimuka (Standard costing)

Sistem biaya ditentukan dimuka adalah suatu system dalam pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan atau jasa dihsilkan sebesar harga pokok yang ditentukan dimuka sebelum suatu produk atau jasa dikerjakan. Metode harga pokok standar ini biasanya digunakan pada perusahaan yang memproduksi secara masal dan menggunakan pencataan persedaiaan produk jadi dengan metode perpetual.

Pada akhir periode akuntansi, kedua sistem biaya ini dicatat dan kemuadian dibandingkan sehingga menyebabkan adanya varians antara biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya yang ditentukan dimuka. Varians yang timbul disebut dengan varians lebih ( over applied ) dan varians kurang ( over applied ).

c.Sistem harga pokok normal ( normal costing)

Pada metode ini, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berdasarkan biaya sesungguhnya karena biaya tersebut mudah untuk ditelusuri kepada produk tertentu, maka biaya

overhead pabrik mengggunakan tarif pembebanan dimuka. Metode ini biasanya digunakan pada metode harga pokok pesanan ( job order costing) yang menggunakan pencatatan persediaan produk jadi dengan metode perpetual.

2.3.1 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

Metode penentuan harga pokok produksi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode pembiayan penuh dan metode pembiayaan variable. Mulyadi (1990 : 377) menyatakan metode full costing

(16)

yang ada diantara kedua metode tersebut adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap.

2.3.1.1 Metode Pembiayaan Penuh (Full Costing)

Metode pembiayaan penuh atau full costing atau sering pula disebut absorbtion costing atau

conventional costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi baik yang bersifat tetap maupun variabel sebagai bahagian dari harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap.

Menurut LM Samryn, full costing adalah :

“Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa memperhatikan perilakunya.

Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi pihak luar perusahaan, oleh karena itu sistematikanya harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menjamin informasi yang tersaji dalam laporan tersebut

Horngen dan Foster (1995:667) mendefinisikan: “kalkulasi biaya absorbsi (absorption costing)

adalah metode kalkulasi harga pokok persediaan dalam mana seluruh biaya pabrikasi langsung dan seluruh biaya overhead pabrikasi-variable dan tetap- diperlakukan sebagai inventoriable cost. Yakni persediaan menyerap seluruh biaya ini”. Dengan demikaian seluruh biaya produksi akan dimasukkan ke dalam nilai persediaan.

Tuanakotta (1999:251) memberikan penjelasan, “jika kita menggunakan konsep biaya masukan total, maka semua biaya yang diperlakukan dalam produksi harus dimasukkan dalam penilaian asset yang diproduksi”.

Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari: 1) biaya bahan baku,

(17)

3) overhead pabrik- biaya tetap, 4) overhead pabrik- biaya variable.

Dalam metode full costing, overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas dasar tarif yang telah ditentukan pada kapasitas normal atau atas dasar overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, overhead pabrik tetap akan melakat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi yang belum laku dijual dan baru dianggap sebagai biaya ( unsur harga pokok penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjual.

Disebabkan overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal, maka jika dalan suatu periode overhead pabrik sesungguhnya berbeda dengan yang dibebankan tersebut, akan terjadi pembebanan overhead berlebihan (over applied factory overhead) atau pembebanan biaya overhead pabrik kurang (underapplied factory overhead).

Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual, maka pembebanan

overhead pabrik lebih atau kurang tersebut tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok produksi yang masih dalam persediaan tersebut ( baik yang berupa persediaan produk dalam proses maupun produk jadi). Apabila dalam suatu periode akuntansi tidak terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang, maka biaya overhead pabrik tetap tidak mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba-rugi sebelum produknya laku dijual. Metode

full costing menunda pembebanan overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai saat produk yang bersangkutan dijual. Jadi overhead pabrik yang terjadi, baik yang berperilaku tetap maupun yang variable masih dianggap sebagai aktiva (karena melekat pada persediaan) sebelum persediaan tersebut terjual.

2.3.1.2 Metode Pembiayaan Variabel (Variabel Costing)

(18)

overhead pabrik variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.

Menurut Mas’ud Machfoed variabel costing adalah “ Suatu metode penentuan harga pokok dimana biaya produksi variabel saja yang dibebankan sebagai bagian dari harga pokok.

Pendekatan variabel costing di kenal sebagai contribution approach merupakan suatu format laporan laba rugi yang mengelompokkan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap dan tidak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.

Dalam pendekatan ini biaya-biaya berubah sejalan dengan perubahan out put yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak internal oleh karena itu tidak harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Horngren dan Foster (1995:667) menyatakan, “ kalkulasi biaya variabel (variable costing) adalah metode kalkulasi harga pokok persediaan dalam mana seluruh biaya langsung pabrikasi dan biaya overhead variabel pabrikasi dimasukkan sebagai inventoriable cost; biaya overhead tetap pabrikasi dikeluarkan dari inventoriable cost dan menjadi biaya saat dikeluarkan”.

Metode pembiayaan variable atau variable costing atau dikenal juga denagn nama direct costing

adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produksi sedangkan biaya tetap dianggap sebagai biaya periodik.

Tuanakotta ( 1999:252) manyatakan, “fixed cost pada metode pembiayaan variabel diklasifikasikan sebagai period cost dan dianggap sebagai biaya untuk periode sekarang”.

Harga pokok produk menurut metode variabel terdiri dari: 1) biaya bahan baku,

2) biaya tenaga kerja, 3) overhead pabrik variable.

(19)

Jika metode full costing menunda pembebanan overhead pabrik tetap maka metode variable costing sebaliknya tidak menyetujui penundaan pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut. Penundaaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama dalam periode yang akan datang.

Metode pembiayaan variabel memberikan keuntungan bagi manajemen dalam membuat keputusan dan menetukan pengendalian biaya. Misalnya menentukan penerimaan pesanan khusus. Tetapi diluar kebutuhan manajemen tersebut, konsep ini diragukan terutama dalam penilaian asset dan penentuan laba periodik.

2.3.1.3 Metode Akumulasi Biaya Produksi

Akumulasi biaya merupakan cara untuk mengetahui seberapa besar biaya yang dikerluarkan untuk suatu produk dan jasa dalam perhitungan harga pokok produksi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam akumulasi biaya, tetapi yang lazim digunakan adalah dua metode sebagai berikut:

a. Metode harga pokok pesanan ( job order costing method ) b. Metode harga pokok proses ( process costing method )

2.3.1.3.1 Metode harga pokok pesanan

Sutrisno (1999 : 71 ) mengatakan, “metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk sejumlah produk atau jasa tertentu yang dapat dipisahkan identitas masing-masing produk tersebut dan perlu ditentukan harga pokoknya secara individual”.

Adapun karakteristik biaya pesanan secara umum

1) sifat proses produksi yang dilakukan terputus-putus, dan tergantung pada pesanan yang diterima,

2) spesifikasi dan bentuk produk tergantung pada pemesan,

3) pencatatan biaya produki masing-masing pesanan dilakukan secara terpisah pada setiap pesanan,

4) harga pokok produksi dan laba kotor juga dihitung berdasarkan masing-masing pesanan, 5) total biaya produksi untuk setiap elemen biaya dikalkulasi setelah pesanan selesai,

(20)

7) sistem biaya biasanya menggunakan metode biaya normal.

Sistem biaya normal adalah sistem akuntansi dimana bahan baku dan tenaga kerja langsung dibebankan pada objek biaya berdasarkan biaya actual, dan biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan tariff ditentukan dimuka.

Untuk menentukan biaya berdasarkan pesanan secara teliti dan akurat, setiap pesanan harus dapat diidentifikasi secara terpisah dan terlihat secara terperinci dalam kartu biaya pesanan untuk masing-masing pesanan. Metode harga pokok pesanan ini dapat diterapkan untuk pekerjaan pada perusahaan manufaktur, pekerjaan konstruksi, industri percetakan, jasa pelayanan hukum, jasa arsitek, dsb.

Prosedur akuntansi untuk metode harga pokok pesanan adalah sbb: 1) biaya- biaya produksi diakumulasikan pada setiap pesanan,

2) biaya-biaya produksi untuk setiap pesanan dan data lainnya yang berhubungan dengan pesanan tersebut diakumulasikan dalam kartu biaya pesanan,

3) pemakaian biaya-biaya produksi untuk setiap pesanan dibebankan pada perkiraan barang dalam proses,

4) setelah produk selesai dikerjakan, kartu pesanan diikhtisarkan, dan biaya perunit dihitung dengan membagikan jumlah biaya produksi untuk setiap pesanan tersebut dengan jumlah unit yang dihasilkan, biaya produksi yang semula dibebankan ke perkiraan barang dalam proses dipindahkan ke perkiraan barang jadi.

Berikut diberikan contoh perhitungan biaya berdasarkan pesananan:

PT. Medan Motor adalah perusahaan penghasil komponen untuk sepeda motor, proses produksi yang digunakan adalah berdasarkan pesanan.

Data beikut adalah data transaksi harian yang dicatat dalam buku besar perusahaan:

1. Pembelian dan penerimaan bahan Bahan A Rp. 1.200.000

(21)

Rp. 4.950.000

Biaya dibayar dimuka Rp. 1.240.000 Jurnal :

Bahan Rp. 4.950.000 Biaya dibayar dimuka Rp. 1.240.000

Utang usaha Rp. 6.190.000

2. Penggunaan bahan

Penggunaan bahan langsung untuk: Pesanan 1 Rp. 1.040.000 Pesanan 2 Rp. 1.200.000 Pesanan 3 Rp. 900.000 Total Rp. 3.140.000 Penggunaan BTL Rp 720.000 Rp. 3.860.000 Jurnal :

Barang dalam proses Rp. 3.140.000 Pengendali overhead pabrik Rp. 720.000

Bahan Rp. 3.860.000

3. Biaya tenaga kerja dilihat dari kartu jam tenaga kerja Tenaga kerja langsung:

Pesanan 1 Rp. 1.220.000 Pesanan 2 Rp. 1.400.000 Pesanan 3 Rp. 1.000.000 Total Rp. 3.620.000 Tenaga kerja tak langsung Rp. 425.000 Rp. 4.045.000 Jurnal:

(22)

Utang gaji Rp. 4.045.000

4. Biaya-biaya terjadi yang berkaitan dengan overhead pabrik Biaya penyusutan mesin Rp. 750.000

Biaya listrik Rp. 500.000 Pajak Bumi dan Bangunan pabrik Rp. 150.000 Gaji supervise produksi Rp. 1.250.000 Jurnal:

Pengendali overhead pabrik Rp.2.650.000

Biaya penyusutan mesin Rp. 750.000 Biaya listrik Rp. 500.000 Pajak bumi dan bangunan pabik Rp. 150.000 Gaji supervise pabrik Rp. 1.250.000

5. Pembebanan biaya overhead pabrik pada pesanan, berdasarkan tariff ditentukan dimuka, dengan tariff 80% dari biaya tenaga kerja langsung

Jurnal:

Barang dalam proses Rp. 2.896.000 BOP dibebankann Rp.2.896.000

Perhitungan untuk masing-masing pesanan:

Pesanan 1 = 80% x Rp. 1.220.000 = Rp. 976.000 Pesanan 2 = 80% x Rp. 1.400.000 = Rp. 1.120.000 Pesanan 3 = 80% x RP. 1.000.000 = Rp. 800.000 Rp. 2.896.000

6. Ketiga pesanan telah selesai dikerjakan dan siserahkan ke pemesan dengan nilai masing-masing pesanan 1,2, dan 3 yaitu, Rp. 4.200.000, Rp. 4.120.000, Rp. 4.260.000

Jurnal:

Kas/ Piutang usaha Rp. 12.580.000 Penjualan Rp. 12.580.000

(23)

Barang jadi Rp. 9.656.000

Harga pokok penjualan = Harga pokok produksi

Perhitungan maing-masing harga pokok produksi pesanan 1, 2, dan 3, sbb:

Pesanan 1 Pesanan 2 Pesanan 3 Bahan langsung Rp. 1.040.000 Rp. 1.200.000 Rp. 900.000 Tenaga kerja

langsung

Rp. 1.220.000 Rp. 1.400.000 Rp. 1.000.000

BOP dibebankan Rp. 976.000 Rp. 1.120.000 Rp. 800.000 Total Rp. 3.236.000 Rp. 3.720.000 Rp. 2.700.000

7. Selisih pembebanan biaya overhead actual dan yang dibebankan lebih tinggil sebesar Rp. 246.000 ( 2.896.000- 2.650.000)

Untuk pembebanan biaya overhead yang ditentukan dimuka, dapat terjadi selisih pembebanan terlalu tinggi maupun terlalu rendah, oleh karena itu diperlukan suatu perlakuan untuk penyesuaikannya.

Ada dua cara, yaitu:

1) ditutup ke harga pokok penjualan,

2) dialokasikan antara barang dalam proses, barang jadi dan harga pokok penjualan dalam propersi overhead yang dibebankan pada periode tersebut, yaitu pada saldo akhir masing-masing akun.

2.3.1.4 Metode Harga Pokok Proses

Pada industri manufaktur yang menghasilkan produk massa, umumnya biaya produksi dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode harga pokok proses, karena produk yang dihasilkan relative homogen sehingga pencatatan biaya dari setiap jenis produk tidak perlu dilakukan.

(24)

Adapun karakteristik metode harga pokok proses adalah sebagai berikut : 1) aktivitas produksi bersifat terus menerus,

2) produksi bersifat massa, dengan tujuannya mengisi persediaan yang siap dijual,

3) produk yang dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya relatif homogen dan berdasarkan standar,

4) biaya dibebankan kesetiap unit dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi,

5) pengumpulan biaya dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu.

Metode harga pokok proses, mengembangkan prosedur untuk:

1) pengumpulan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik untuk masing-masing departemen,

2) perhitungan biaya perunit untuk masing-masing departemen,

3) memindahkan biaya dari departemen sebelumnya ke departemen berikutnya atau ke gudang produk jadi,

4) membebankan biaya ke barang dalam proses yang terdapat pada setiap departemen.

Ekuivalen unit dalam metode harga pokok proses

Pada penentuan biaya proses, umumnya tidak semua produk yang dimasukkan dalam proses selesai akhir periode bersangkutan, sering kali adanya persediaan awal dan akhir dari barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian yang beragam.Untuk pembebanan biaya apabila terdapat barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian tertentu, perlu dilakukan penyetaraan barang dalam proses tersebut menjadi barang jadi yang disebut dengan unit ekuivalen produksi. Jadi unit ekuivalen produksi menunjukkan unit barang jadi dan unit barang dalam proses yang disetarakan dengan barang jadi.

Ada dua metode untuk perhitungan unit ekuivalen produksi, yaitu : a.) Metode rata-rata tertimbang

(25)

2.3.1.4.1 Metode rata-rata tertimbang

Dengan merata-ratakan biaya penyelesaian persediaan awal barang dalam proses periode sebelumnya dengan menambahkan biaya periode berjalan untuk mendapatkan biaya perunit. Kebaikan dari metode ini adalah sederhana, dengan memperlakukan unit pada persediaan awal barang dalam proses sebagai produk periode berjalan, semua unit ekuivalen akan termasuk dalam kategori yang sama pada saat perhitungan biaya perunit. Sedangan kelemahan utama metode ini adalah kurang akuratnya perhitungan biaya perunit untuk output periode berjalan dan untuk unit pada persediaan awal barang dalam proses.

Rumus : Unit ekuivalen produksi = produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian)

2.3.1.4.2 Metode FIFO

Memisahkan biaya perunit yang terdapat pada persediaan awal dari biaya perunit produk yang dimasukkan dan diselesaikan pada suatu periode tertentu. Biaya produk yang ditransfer terdiri dari biaya barang dalam prosesa awal dari periode sebelumnya, dan biaya produk selama periode berjalan.

Rumus: Unit ekuivalen produksi = produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian)-(BDP awal x tingkat penyelesaian)

2.4 Laporan biaya produksi

Dalam penentuan biaya proses, semua biaya yang dibebankan kesetiap departemen produksi dapat diikhtisarkan dalam laporan biaya produksi untuk masing-masing departemen. Laporan biaya produksi setiap departemen memiliki format yang beragam, dengan informasi menunjukkan skedul kuantitas, pembebanan biaya, dan pertanggungjawaban biaya.

a) Skedul kuantitas,memnuat informasi BDP awal, barang masuk proses pada periode bersangkutan, barang jadi yang ditransfer ke dapartemen berikutnya atau gudang, BDP akhir, produk hilang, produk rusak dan produk cacat.

(26)

c) Pertanggungjawaban biaya, memuat informasi biaya yang ditransfer kedepartemen berikutnya atau gudang, biaya produk yang hilang akhir proses, biaya produk rusak, biaya produk cacat. Biaya yang telah di serap BDP.

Contoh soal perhitungan biaya metode harga pokok produksi.

PT. Sulit Air adalah perusahaan minuman dalam kemasan botol, mempunyai dua departemen produksi, yaitu departemen pencampuran dan departemen pengolahan.

Data produksi dan biaya untuk bulan September 2007 sebagai berikut: Data Produk :

Departemen pencampuran Barang masuk proses 75.000 L

Barang selesai di transfer ke departemen pengolahan 74.500 L Barang dalam proses akhir 500 L

(tingkat penyelesaian 100%bahan,80%biaya konversi) Departemen pengolahan

Produk diterima dari departemen pencampuran 74.500 L Penambahan unit produk 1.000 L

Produk selesai ditransfer ke gudang 75.200 L Barang dalam proses akhir 300 L

(tingkat penyelesaian 100% bahan, 75% biaya konversi) Penyelesaian:

1. Unit ekuivalen

Departemen pencampuran

Produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian) Bahan : 74.500 L + ( 500L x 100% ) = 75.000 L

Biaya konversi: 74.500 L + ( 500L x 80 % ) = 74.900 L

(27)

2. Laporan Biaya Produksi

PT. SULIT AIR

LAPORAN BIAYA PRODUKSI DEPARTEMEN PENCAMPURAN BULAN SEPTEMBER 2007

1. Skedul kuantitas

Barang masuk proses 75.000 L Barang yang di transfer ke departemen pengolahan 74.500 L Barang dalam proses akhir

(100%bahan, 80% biaya konversi ) 500 L 75.000 L 2. Biaya dibebankan

Elemen biaya Total U.E Biaya / unit Bahan baku Rp. 9.000.000 75.000 L Rp. 120 Tenaga kerja Rp. 5.617.500 74.900 L Rp. 75 Overhead pabrik Rp. 7.490.000 74.900 L Rp. 100 Rp. 22.107.500 Rp. 295

3. Pertanggungjawaban biaya

HP. Selesai ditaransfer ke departemen pengolahan 74.500L x Rp. 295 Rp. 21.977.500 HP. Produk dalam proses

Biaya bahan : 500 x 100% x Rp 120 = 60.000 Biaya tenaga kerja: 500 x 80 % x Rp 75 = 30.000 Biaya overhead : 500 x 80 % x Rp 100 = 40.000

(28)

PT. SULIT AIR

LAPORAN BIAYA PRODUKSI DEPARTEMEN PENGOLAHAN

BULAN SEPTEMBER 2007

1. Skedul kuantitas

Produk diterima dari departemen pencampuran 74.500L Produk tambahan 1.000L 75.500L Produk di transfer ke gudang 75.200L Produk dalam proses akhir

(100% bahan, 75% biaya konversi) 300L 75.500L 2. Biaya dibebankan

Elemen biaya Total U.E Biaya/ unit dr dept. pencampuran Rp.21.977.500 75.500L Rp. 291,093 Bahan baku Rp. 6.040.000 75.500L Rp. 80 Tenaga kerja Rp. 4.525.500 75.425L Rp. 60 Overhead pabrik Rp. 3.017.000 75.425L Rp. 40 Rp. 35.560.000 Rp. 471,093 3. Pertanggungjawaban biaya

HP. selesai ditransfer ke gudang

75.200L x Rp. 471,093 Rp. 35.426.193,6 HP barang dalam proses

HP. dept pencampuran: 300 x Rp 291,093 = 87.327,9 Biaya bahan : 300 x 100%x Rp80= 24.000 Biaya tenaga kerja : 300 x 75% x Rp 60= 13.500 Biaya overhead : 300 x 75% x Rp 40= 9.000

Rp. 133.827,9 TOTAL Rp. 35.560.021,5

(29)

Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau kurang.

Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel. Sedangkan unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak termasuk biaya overhead pabrik tetap.

Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :

1. Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel costing, menggunakan pendekatan “tingkah laku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.

2. Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.

(30)

Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih melekat pada persediaan produk atau jasa. Sedangkan dalam variabel costing, biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.

4. Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan (over-applied factory overhead). Menurut metode full costing, selisih tersebut dapat diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual (harga pokok persediaan).

5. Dalam metode full costing, perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.

6. Dalam variabel costing, menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin), yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full costing dengan metode variable costing adalah :

1. Dalam metode full costing, dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode yang sama.

2. Dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead pabrik telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan, sehingga tidak terdapat bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya.

3. Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode full costing. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi.

4. Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP) dalam rangka perencanaan dan pengendalian.

(31)

 Akuntansi Biaya dalam perusahaan manufaktur bertujuan untuk menentukan harga pokok per satuan produk yang dihasilkan.

 Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktur harus mengikuti proses pengolahan produk, sejak dari bahan baku dimasukkan dalam proses sampai menjadi produk jadi, seperti dalam skema berikut ini:

Siklus Siklus

Pembuatan Produk Akuntansi Biaya

Pembelian dan Harga Pokok Penyimpanan Persediaan Bahan Baku Bahan Baku

Biaya Biaya Tenaga Kerja Overhead Langsung Pabrik

Pengolahan Harga Pokok Bahan Baku Bahan Baku Menjadi yang Dipakai Produk Jadi

Persediaan Harga Pokok Produk Jadi Produk Jadi

(32)

2.6.1 Perbedaan Karakteristik Metode Harga Pokok Proses dan Metode Harga Pokok Pesanan

Karakteristik kedua metode tersebut berkaitan dengan karakteristik proses pengolahan produknya, yaitu:

Proses pengolahan produk Terus menerus (kontinyu) Terputus-putus (intermitten) Produk yang dihasilkan Produk standar Tergantung spesifikasi

pemesan

2.6.2 Perbedaan Karakteristik Proses Produksi Metode Harga Pokok Proses dan Metode Harga Pokok Pesanan

Metode Harga Pokok Proses Metode Harga Pokok Pesanan

(33)

yang dihasilkan selama bulan/periode ybs.

satuan produk yang diproduksi dalam pesanan ybs.

2.7 Akuntansi Biaya Berdasarkan Metode Harga Pokok Pesanan

 Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan, memulai kegiatan produksinya setelah menerima order dari pembeli, tetapi sering juga terjadi, perusahaan mengeluarkan order produksi untuk mengisi persediaan di gudang.

 Syarat penggunaan Metode Harga Pokok Pesanan:

 Masing-masing pesanan, pekerjaan, atau produk dapat dipisahkan identitasnya secara jelas dan perlu dilakukan penentuan harga pokok pesanan secara individual.

 Biaya produksi harus dipisahkan ke dalam dua golongan, yaitu: biaya langsung (BBB & BTKL) dan biaya tak langsung (selain BBB & BTKL).

 BBB dan BTKL dibebankan/diperhitungkan secara langsung terhadap pesanan ybs., sedangkan BOP dibebankan kepada pesanan atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

 Harga pokok setiap pesanan ditentukan pada saat pesanan selesai.

 Harga pokok per satuan produk dihitung dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dibebankan pada pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk dalam pesanan ybs.

 Untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan digunakan Kartu Harga Pokok (Job Cost Sheet), yang merupakan rekening/buku pembantu bagi rekening kontrol Barang Dalam Proses.

2.7.1 Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Pesanan 2.7.1.1 Pencatatan Biaya Bahan Baku (BBB)

Dibagi dua prosedur, yi:

(34)

Persediaan Bahan Baku xxx

Utang Dagang/Kas xxx

 Prosedur pencatatan pemakaian bahan baku, menggunakan metode mutasi persediaan (perpetual). Dalam setiap pemakaian bahan baku harus diketahui pesanan mana yang memerlukannya. Jurnalnya:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

2.7.1.2 Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)  Diperlukan pengumpulan dua macam jam kerja, yi:

 Jam kerja total selama periode kerja tertentu.

 Jam kerja yang digunakan untuk mengerjakan setiap pesanan.

 Perusahaan harus menyelenggarakan kartu hadir masing2 karyawan, untuk mengumpulkan informasi jam kerja total selama periode kerja tertentu, untuk pembuatan

Daftar Upah. Disamping itu, perusahaan harus mencatat penggunaan jam kerja masing2 karyawan untuk mengerjakan pesanan. (Masing2 karyawan dibuatkan Kartu Jam Kerja/Job Time Ticket)

 Jurnal untuk pembagian upah:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx

Gaji dan Upah xxx

2.7.1.3 Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)

 BOP dikelompokkan menjadi bbrp golongan, yi:

 Biaya Bahan Penolong

 Biaya reparasi dan pemeliharaan, berupa pemakaian persediaan spareparts dan persediaan supplies pabrik

 Biaya tenaga kerja tak langsung

(35)

 Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu (contoh: terpakainya asuransi dibayar di muka)

 Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran tunai (contoh: biaya reparasi mesain pabrik, biaya listrik)

 BOP dalam metode harga pokok pesanan harus dibebankan kepada setiap pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.

 Tarif BOP ditentukan pada awal tahun/periode dengan cara sbb: Tarif BOP = Taksiran jumlah BOP selama 1 periode

Jumlah Dasar pembe

Dasar Pembebanan BOP:

Satuan produk

Biaya Bahan Baku

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Jam Tenaga Kerja Langsung

Jam Mesin

 BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan selama satu tahun yang sama, kemudian pada akhir tahun dibandingkan dengan yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif

 Pencatatan BOP yang Dibebankan kepada produk:

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx

 Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan (untuk mempertemukan BOP Dibebankan dengan BOP Sesungguhnya)

Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

 Pencatatan BOP yang Sesungguhnya:

Misal: 1. Pemakaian Bahan Penolong:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

(36)

2. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Tak langsung:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

Gaji dan Upah xxx

2.7.1.4 Pencatatan Produk Selesai

 Biaya produksi yang telah dikumpulkan dalam Kartu Harga Pokok dijumlah dan dikeluarkan dari rekening Barang Dalam Proses dengan jurnal sbb:

Persediaan Produk Jadi xxx Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

 Harga Pokok Produk jadi dicatat dalam Kartu Persediaan (Finish Goods Ledger Card) dan Kartu Harga Pokok Pesanan tersebut dipindahkan ke dalam arsip Kartu Harga Pokok Pesanan yang telah selesai.

2.8 Akuntansi Biaya Berdasarkan Metode Harga Pokok Proses

2.8.1 Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Proses 2.8.1.1 Biaya Bahan

Pencatatan pemakaian Bahan Baku di Departemen A:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

Pencatatan pemakaian Bahan Penolong pada Bagian Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen A xxx Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen B xxx Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen C xxx

(37)

2.8.1.2 Biaya Tenaga Kerja (Langsung & Tak Langsung):

Pencatatan biaya tenaga kerja (langsung & tak langsung) di Departemen Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A xxx Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B xxx Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen C xxx

Gaji dan Upah xxx

2.8.1.3 Biaya Overhead Pabrik

BOP pada Metode Harga Pokok Proses adalah biaya produksi selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya tenaga kerja, baik langsung maupun tak langsung yang terjadi di departemen produksi.

BOP dapat dibebankan kepada produk atas dasar tarif dan dapat juga dibebankan atas dasar BOP yang sesungguhnya terjadi dalam satu periode.

Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk dapat dilakukan jika:

 Produksi relatif stabil dari periode ke periode

 BOP, terutama yang tetap, bukan merupakan bagian yang berarti dibandingkan dengan jumlah seluruh biaya produksi

 Hanya diproduksi satu macam produk.

 Pencatatan berbagai jenis BOP di Departemen Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

(38)

2.9 Tujuan dan Manfaat Penentuan Harga Pokok Produksi

Penentuan harga pokok produksi dalam suatu perusahaan sangat penting dilakukan karena perusahaan membutuhkannya untuk menentukan harga jual dari produknya maupun tujauan lainnya yang erat hubungannya dengan penentuan strategi dan efisiensi perusahaan dalam bersaing.

Berikut diberikan beberapa tujuan umum dari penentuan harga pokok produksi.

a. Sebagai pengawasan dari biaya yaitu untuk menghindari pemborosan. Agar diperoleh harga pokok produksi yang teliti serta pengawasan yang baik, maka biaya digolangkan pada setiap proses atau departemen-departemen. Biaya yang sebenarnya terjadi pada setiap proses dibandingkan denagn standar. Dengan demikian pemborosan dapat dihindari karena standar dibentuk berdasarkan biaya yang seharusnya terjadi.

b. Sebagai alat perencanaan, sebelum produksi dijalankan terlebih dahulu membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, misalnya apakah produksi ditingkatkan atau dikurangi dan juga dibuat ramalan atas unsure-unsur biaya yang diperlukan untuk setiap periodenya. Perencanaan ini penting agar seluruh keperluan dapat diketahui dan disediakan pada jumlah dan waktu yang diperlukan.

c. Sebagai pedoman menentukan harga jual. Biaya produksi bukanlah factor utama menetapkan harga jual, tetapi menjaga agar harga jual tetap berada diatas harga pokok produksi.

d. Harga pokok produksi perlu untuk menentukan nilai persediaan yang mana menjadi syarat mutlak dalam menetapakan harga pokok penjualan dengan teliti.

e. Menentukan efisiensi atau tidaknya suatu perusahaan, ini dilakukan dengan membandingkan harga pokok histories dengan harga pokok standar. Hal ini berguna untuk pengawasan biaya maupun sebagai alat perencanaan.

Disamping tujuan-tujuan yang diuraikan diatas, penentuan harga pokok produksi penting bagi manajemen untuk keperluan analitis dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah khusus berikut ini.

(39)

jadi yang dihasilkan sebelum dilakukan perubahan komposisi. Dengan dilakukannya perubahan komposisi ini diharapkan juga harga pokok produksi dapat ditekan serendah mungkin.

b. Apakah tenaga kerja langsung perlu ditambah atau dikurangi.

c. Apakah sebaiknya perusahaan membeli bahan atau produk tertentu dari pihak luar atau memproduksi sendiri.

Definisi operasional :

Menurut Rayburn ( 1999: 31), “harga pokok produksi meliputi keseluruhan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa”.

Unsur- unsur dalam perhitungan harga pokok produksi, yaitu: biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsuung, dan overhead pabrik.

a. Biaya bahan baku langsung

Perhitungan biaya bahan baku yang digunakan oleh UD. Sumber Nelanyan yaitu dengan cara mengalikan harga bahan baku per kilo dengan beratnya bahan baku yang digunakan.

b. Biaya tenaga kerja langsung

Perusahaan menggunakan system upah borongan dalam menghitung biaya tenaga kerja yang brhubungan dengan proses produksi.

c. Biaya overhead pabrik

Overhead pabrik digunakan tarif aktual karena harga pokok dihitung setelah barang selesai diproses yaitu berdasarkan catatan historikal.

2.10 Harga Jual

2.10.1 Pengertian Harga Jual

(40)

menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual sama dengan biaya produksi ditambah mark-up”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

2.10.2 Sasaran Penetapan Harga Jual

Para pemasar berusaha untuk mencapai sasaran tertentu melalui komponen-komponen penetapan harga. Beberapa perusahaan mencoba untuk meningkatkan keuntungan dengan menetapkan harga rendah untuk menarik bisnis baru. Menurut Boone dan Kurtz (2002:70) “ada empat kategori dasar atau sasaran penetapan haga, yaitu: 1) profitabilitas, 2) volume, 3) tingkat kompetisi, dan 4) pretise”.

1) Sasaran profitabilitas

Sebagian besar perusahaan mengejar sejumlah sasaran profitabilitas dalam strategi penetapan harganya. Para pemasar mengerti bahwa laba diperoleh dari selisih pendapatan dan beban. Dan juga pendapatan merupakan harga jual dikalikan dengan jumlah yang terjual. Berbagai teori ekonomi mendasari prinsip maksimalisasi keuntungan (profit maximization). Akan tetapi pada kenyatannya prinsip ini masih sulit diterapkan. Maka banyak perusahaan beralih pada sasaran profitabilitas yang lebih sederhana, yaitu Target Return Goal, dimana perusahaan menetapkan harga dengan tingkat profitabilitas yang diinginkan sebagai pengembalian finansial atas penjualan ataupun investasi.

2) Sasaran volume

(41)

3) Tingkat Kompetisi

Sasaran penetapan harga ini hanyalah untuk menyamakan harga dengan pesaing. Jadi perusahaan berusaha untuk menghindari perang harga dengan tidak menekankan elemen harga dari bauran pemasaran dan memfokuskan usaha persaingannya pada variabel selain harga seperti menambah nilai, meningkatkan kualitas, mendidik konsumen, dan menciptakan hubungan.

Sasaran Prestise. Pengaruh harga pada prestise membuat sebuah harga menjadi relatif tinggi untuk mengembangkan dan menjaga sebuah citra dari kualitas dan eksklusivitas. Para pemasar menetapkan sasaran tersebut karena mereka mengakui peran harga dalam mengkomunikasikan citra suatu perusahaan dan produk-produknya.

2.10.3 Strategi Penentuan Harga Jual

Harga yang ditentukan untuk sebuah produk akan mempengaruhi pendapatan perusahaan dan pada akhirnya tingkat laba. Perusahaan menentukan harga jual produknya dengan tiga dasar pertimbangan yaitu biaya produksi, suplai persediaan, dan harga persaingan.

1) Penentuan harga berdasarkan biaya produksi

Pada strategi ini, perusahaan menentukan harga untuk sebuah produk dengan mengestimasi biaya per unit untuk memproduksi produk tersebut dan menambahkan suatu kenaikan. Jika metode ini digunakan, perusahaan harus mencatat semua biaya yang melengkapi produksi sebuah produk dan diupayakan agar harga tersebut dapat menutupi semua biaya tersebut.Sebuah strategi harga harus menghitung skala ekonomis. Bagi produk atau jasa yang berada di dalam skala ekonomis, harga harus cukup rendah agar dapat mencapai volume tingkat penjualan yang tinggi sehingga biaya produksi mengalami penurunan.

2) Penentuan harga berdasarkan suplai persediaan

Pada umumnya perusahaan cenderung menurunkan harga jika mereka harus mengurangi persediaan.

3) Penentuan harga berdasarkan harga pesaing

Penentuan harga berdasarkan harga pesaing dibagi atas tiga yaitu:

(42)

menggunakan strategi ini bila produknya tidak elastis terhadap harga karena kebanyakan konsumen tidak akan beralih ke produk pesaing untuk mengambil keuntungan dari harga yang lebuh rendah.

b) Penentuan harga defensive, dimana perusahaan menrunkan harga produk untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Selain itu beberapa perusahaan juga menurunkan harga untuk menyerang pesaing baru yang masuk ke dalam pasar, disebut dengan biaya predatori.

c) Penentuan harga prestise, harga prestise ditentukan dengan tujuan untuk memberikan kesan lini terbaik bagi produk perusahaan. Perusahaan yang memiliki diversifikasi bauran produk akan menggunakan strategi penetrasi harga pada beberapa produk dan penentuan harga prestise untuk produk lainnya.

2.10.4 Alternatif Strategi Penetapan Harga

Banyak strategi-strategi khusus yang digunakan oleh perusahaan untuk menentukan harga barang dan jasa, yang berasal dari strategi pemasaran yang mereka rumuskan untuk mencapai keseluruhan sasaran organisasi. Menurut Sukirno (2006 : 226) ada enam strategi Penetapan harga : (1) Penetapan harga yang kompetitif. (2) Menentukan harga terobosan. (3) Menetapkan harga berdasarkan permintaan. (4) Kepemimpinan harga. (5) Menjual barang berkualitas dengan harga yang rendah. (6)

Kebijakan harga tinggi jangka pendek. 1) Penetapan Harga Kompetitif

Hal ini berlaku pada pasar dimana terdapat produsen atau penjual. Dalam pasar seperti ini untuk menjual barangnya, perusahaan harus menetapkan harga pada tingkat yang bersamaan dengan barang yang sejenis yang dipasarkan.

2) Menentukan Harga Terobosan

Cara ini sering dipakai ketika meluncurkan barang baru, yang menetapkan harga pada tingkat yang rendah atau murah dengan harapan dapat memaksimalkan volume penjualan.

3) Menetapkan Harga berdasarkan Permintaan

(43)

menawarkan tiket murah untuk orang yang selalu berpergian bagi pelajar dan orang tua yang sudah pensiun.

4) Kepemimpinan Harga

Penentuan harga seperti ini berlakun dalam pasar barang yang bersifat oligopoli yang merupakan struktur pasar, dimana terdapat perusahaan yang dominan yang mempunyai persaingan yang lebih kukuh dari pada perusahaan lainya.

5) Menjual Barang berkualitas dengan Harga Rendah

Kebijakan ini dapat dilakukan oleh perusahaan industri Manufaktur atau Hypermarket seperti Makro dan Carrefour. Srategi penentuan harga mereka lebih menekankan kepada peningkatan volume barang yang terjual dan bukan memperoleh keuntungan yang tinggi.

6) Kebijakan Harga Tinggi Jangka Pendek

Kebijakan Harga (Price Skimming) adalah cara untuk menetapkan harga tinggi yang bersifat sementara, yaitu pada waktu barang yang dihasilkan mulai dipasarkan. Pada periode itu, perusahaan belum menghadapi persaingan dan akan menetapkan harga yang tinggi supaya pengembalian modal dapat dipercepat.

Sedangkan menurut Boone dan Kurtz (2002:78),”secara umum, perusahaan dapat memilih dari tiga alternatif strategi penetapan harga: skimming, penetrasi, dan penetapan harga kompetitif”. 1) Strategi penetapan harga skimming, strategi ini sengaja menetapkan harga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk-produk pesaing.

2) Strategi penetapan harga penetrasi, menetapkan suatu harga rendah sebagai senjata utama pemasaran. Penetapan harga penetrasi mengasumsikan bahwa menetapkan harga di bawah harga pasar akan menarik para pembeli dan menggeser sebuah merek pendatang.

3) Strategi penetapan harga kompetitif, organisasi-organisasi mencoba mengurangi tekanan persaingan harga dengan menyamakan harga dengan perusahaan lain dan mengkonsentrasikan usaha pemasaran mereka pada elemen produk, distribusi, dan unsur-unsur promosi.

2.10.5 Metode Penetapan Harga

Menurut Herman (2006:175) ada beberapa metode penetapan harga (methods of price determination) yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaan, yaitu:

(44)

2) Metode berbasis pasar (market-based pricing) a) Harga pasar saat ini (current market price)

b) Harga pesaing (competitor price)

c) Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current marker price)

3) Metode berbasis biaya (cost-based pricing)

a) Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up)

b) Biaya variabel plus tambahan tertentu (variable cos plus mark-up)

2.10.5.1 Metode Taksiran (Judgemental Method)

Perusahaan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini. Pnetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun market survey telah dilakukan. Biasanya metode ini digunakn oleh para pengusaha yang tidak terbiasa dengan data statistik. Penggunaan metode ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk surveyor. Akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena ditetapkan oleh instink.

2.10.5.2 Metode Berbasis Pasar (Market-Based Pricing)

a) Harga pasar saat ini (current market price)

Metode ini dipakai apabila perusahaan mengeluarkan produk baru, yaitu hasil modifikasi dari produk yang lama. Perusahaan akan menetapkan produk baru tersebut seharga dengan produk yang lama. Penggunaan metode ini murah dan cepat. Akan tetapi pangsa pasar yang didapat pada tahun pertama relatif kecil karena konsumen belum mengetahui profil produk baru perusahaan tersebut, seperti kualitas, rasa, dan sebagainya.

b) Harga pesaing (competitor price)

Metode ini hampir sama dengan metode harga pasar saat ini. Perbedaannya menetapkan harga produknya dengan mereplikasi langsung harga produk perusahaan saingannya untuk produk yang sama atau berkaitan. Dengan metode perusahaan berpotensi mengalami kehilangan pangsa pasar karena dianggap sebagai pemalsu. Ini dapat terjadi apabila produk perusahaan tidak mampu menyaingi produk pesaing dalam hal kualitas, ketahanan, rasa, dan sebagainya.

c) Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current market price)

(45)

nasional atau internasional, perubahan dalam trend consumer spendling, siklus dalam trendi dan model, perubahan cuaca, dan sebagainya. Faktor internalnya yaitu kemungkinan kenaikan gaji dan upah, peningkatan efisiensi produk atau operasi, peluncuran produk baru, penarikan produk lama dari pasar, dan sebagainya.

Dengan metode ini, perusahaan mengidentifikasi harga pasar yang berlaku pada saat penyiapan anggaran dengan melakukan survey pasar atau memperoleh data sekunder. Harga yang berlaku tersebut dikalikan dengan penyesuaian (price adjustment) setelah mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang ditetapkan dalam angka indeks (persentase). Indeks 87 berarti 87/100.

2.10.5.3 Metode Berbasis Biaya (Cost-Based Pricing)

a) Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up)

Dalam metode ini budgeter harus mengetahui berapa proyeksi full cost untuk produk tertentu.

Full cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dan atau dibebankan sejak bahan baku mulai diproses sampai produk jadi siap untuk dijual. Hasil penjumlahan antara full cost dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (required profit margin) yang ditentukan oleh direktur pemasaran atau personalia yang diberikan wewenang dalam penetapan harga, akan membentuk proyeksi harga untuk produk itu pada tahun anggaran mendatang. Required profit margin dapat juga ditetapkan dalam persentase. Untuk menetapkan profit, budgeter harus mengalikan full cost

dengan persentase required profit margin. Penjumlahan antara profit dengan full cost akan menghasilkan proyeksi harga.

b) Biaya variabel plus tambahan tertentu (variable cost plus mark-up)

(46)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode Deskriptif Analisis,yaitu metode yang memusatkan masalah yang ada pada saat ini dimana dalam prosesnya bukan sekedar mengumpulkan dan mengolah data,tetapi juga menganalisa, meneliti dan menginterpretasikan serta membuat kesimpulan dan memberi saran yang kemudian disusun pembahasannya secara sistematis sehingga dapat dipahami masalahnya. Untuk menunjang metode diatas pada penelitian ini penulis menggunakan dua jenis data yaitu:

1. Data primer

Yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian.Untuk mendapatkan data primer,penulis melaksanakan studi lapangan yaitu mengadakan peninjauan langsung ke tempat pelaksanaan kerja dengan cara:

a. Observasi,yaitu mengadakan peninjauan langsung ke objek penelitian pada beberapa perusahaan

b. Wawancara, yaitu upaya mendapatkan informasi secara lisan yaitu dengan melakukan tanya jawab kepada beberapa pejabat yang berwenang.

c. Dokumentasi, yaitu mencatat data-data yang diperlukan, sejarah singkat dari beberapa perusahaan, bidang usaha perusahaan dan data lainnya yang berhubungan dengan

masalah yang di teliti.

2. Data Sekunder

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menganalisa kecirian variasi keluasan makna interpersonal dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia dan variasi keluasan makna interpersonal secara kontekstual

Harsono, SU, Ketua Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan permohonan ijin kepada SMA Negeri 1 Polanharjo

Sedangkan maksud dan tujuan penelitian ini adalah menerapkan metode two stage least square (2 SLS) dalam mengatasi permasalahan endogenitas pada analisis regresi

Dengan metode desain faktorial dapat diketahui faktor yang dominan mempengaruhi sifat fisik gel sunscreen dan interaksi antara dua faktor yang diteliti.Area komposisi sorbitol

Menimbang, bahwa setelah mempelajari dengan seksama berkas perkara a quo serta putusan hakim tingkat pertama dalam konpensi, Majelis Hakim Mahkamah Syar'iyah Aceh

BMT Walisongo Semarang belum mampu mengembangkan produk- produk baru yang inovatif yang mampu meningkatkan daya saing dengan lembaga keuangan berskala besar serta lembaga

Dalam penelitian ini, hal yang diamati berkaitan dengan Perlindungan Konsumen PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam hal terjadinya kecelakaan Kereta Api. Penelitian ini dilakukan

Harga tidak bervariasi sehingga dalam penelitian ini digunakan biaya transaksi sebagai pegukuran untuk menentukan perilaku rumahtangga petani peternak sapi. Biaya transaksi