Upaya Strategis Meningkatkan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga dan Ekspansi Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia
Oleh: Ali Muhayatsyah1
ksistensi perbankan syariah saat ini menempati posisi yang sangat strategis di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dalam memobilisasi dana dari masyarakat melalui kegiatan funding dan kegiatan financing. Bank syariah memiliki peran sebagai lembaga intermediary antara unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus units) dengan unit-unit yang kekurangan dana (deficit units). Melalui bank syariah, kelebihan dana tersebut dapat disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan sehingga memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Kualitas bank syariah sebagai lembaga perantara ditentukan oleh kemampuan manajemen bank untuk melaksanakan perannya (Sudarsono, 2004).
Upaya yang sangat penting untuk mendukung eksistensi perbankan syariah saat ini adalah meningkatkan minat masyarakat untuk menabung di bank syariah atau dalam istilah perbankan meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK). Saat ini pertumbuhan marketshare perbankan syariah terhadap perbankan nasional hingga akhir 2012 mencapai tumbuh 4,3%, ini terbukti dari jumlah total penghimpunan dana yang dilakukan bank syariah sebesar Rp.134,45 triliun. Walaupun itu masih cukup kecil dalam skala nasional, namun dapat diprediksi akan mengalami pertumbuhan secara periodik. Sementara itu ekspansi pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah hingga akhir 2012 mencapai 80,85% dari total penyaluran dana perbankan syariah atau Rp.135,58 triliun (Bank Indonesia, 2013).
Dari data tersebut di atas sebenarnya prospek ekonomi syariah di Indonesia cukup menjanjikan di masa depan. Hal ini, disebabkan adanya kesadaran sebagian masyarakat, terutama yang berpendidikan tinggi untuk menjalankan kehidupan sosial ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Kondisi tersebut harus diantisipasi dengan kesiapan sarana dan prasarana guna mendukung berkembangnya perekonomian secara optimal di masa
depan. Sarana dan prasarana tersebut, tidak hanya bersifat material, tetapi juga non material, serta sistem pendidikan yang mengakomodasikan kebutuhan tersebut, sehingga
tercipta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam membangun dan
mengembangkan ekonomi syariah di masa depan.
Adapun yang menjadi perhatian khusus yang selalu menjadi langkah konkrit pengembangkan bank syariah adalah peningkatan sisi internal dan eksternal bank syariah. Pada sisi internal dapat dilihat melalui kinerja keuangan dan menajemen bank, seperti (kecukupan modal, perolehan laba usaha, risiko usaha, penambahan sumber daya manusia, cakupan pangsa pasar (marketing), kompetensi Dewan Pengawas Syariah (DPS), jumlah kantor cabang (office chanelling), pelayanan, teknologi dan inovasi produk).
Disamping itu, pada sektor eksternal yang menjadi pertimbangan utama dari sisi keuangan adalah tingkat bagi hasil (return) atau ekspektasi keuntungan yang diperoleh bank
syari’ah. “elai itu adalah bidikan nasabah emosional maupun potensial. Pemanfaatan faktor emosional dan potensial adalah sangat penting untuk dilakukan, seperti pendekatan penokohan akan sangat positif mengingat budaya Indonesia yang paternalistik terutama di daerah yang masih kental keislamannya. Namun dari pada itu nasabah potensial juga tidak kalah penting seperti para pengusaha di dalam negeri maupun luar negeri seperti investor asing Timur Tengah, Asia dan Eropa. Dengan peningkatkan pengihimpunan dana dari berbagai sumber dapat dipastikan dana yang tersalurkan kemasyarakat menjadi lebih tinggi dan profitabilitas bank syariah meningkat, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ini mengalami pertumbuhan cukup baik.
Perlu diingat bahwa, bank syariah tidak bisa hanya mengharapkan terlalu besar terhadap keberadaan mayoritas muslim dari masyarakat Indonesia, yang merupakan bidikan sebagai nasabah atas sentimen agama, atau dikategorikan sebagai nasabah emosional. Masyarakat muslim pada umumnya, dapat juga bersikap rasional atas keberadaan bank syariah. Tidak serta merta mereka beralih ke bank syariah hanya persoalan agama. Jika bank syariah tidak mampu memberikan kenyamanan dan keamanan dari penyimpanan hartanya, atau tidak mampu memberikan kepuasan kepada mereka dari sisi pelayanannya, maka tidak mustahil bank syariah akan ditinggalkan nasabahnya. Fenomena perkembangan bank
syariah ini harus diimbangi dengan kualitas dan fasilitas yang memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa bank syariah harus menata dari sisi internal yang mampu mempengaruhi
Strategi Ekspansi Pembiayaan Produktif
Secara umum a k syari’ah dapat diartika se agai edia i ter ediasi ya g usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya dilandasi oleh syariat-syariat Islam baik dalam bentuk jual-beli, bagi hasil maupun sewa-menyewa. Namun secara eksplisit konsep bagi hasil lah yang benar-benar mewakili konsep Islam dalam perbankan, karena selain ia bisa mengerakkan sektor rill secara berimbang, ia juga berindikasi jangka panjang sehingga akan mempunyai kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. Jadi
erdasarka pe gertia di atas ideal ya a k syari’ah adalah a k agi hasil ya g
mengedepankan konsep loss and profit sharing dalam pegembangan produknya (Muhayatsyah, 2012).
Dominasi produk jual beli dalam bank syariah selama ini memang suatu hal yang tidak bisa dihindari, karena bank syariah saat ini cenderung bergerak sesuai dengan kubutuhan yang ada pada masyarkat. Kondisi tersebut tentu tidak ada yang salah, akan tetapi bisa saja memimbulkan kesan bahwa bank syariah lebih tertarik menggunakan pembiayaan jangka pendek yang beresiko lebih kecil dibandingkan mudharabah atau musyarakah yang bersifat jangka panjang. Hal ini secara objektif kembali menunjukkan
kele aha a k syari’ah sebagai bank bagi hasil dalam mengaplikasikan dan mensosialisasikan produk-produknya.
Dengan tingginya pertumbuhan penghimpunan dana pada bank syariah diharapkan dapat dioptimalkan dengan pertumbuhan penyaluran dana kepada sektor riil baik berupa pembiayaan-pembiayaan produktif. Dari beberapa penelitian menemukan beberapa faktor yang menjadi pengaruh terhadap jumlah besar kecilnya pembiayaan diantaranya adalah faktor besarnya dana pihak ketiga (DPK), bagi hasil, luasnya jaringan bank, 5C seperti watak
(character), jaminan (collateral), modal (capital), kemampuan (capacity) dan kondisi
ekonomi (condition of economy), tabungan / deposito mudharabah, margin (keuntungan yang diharapkan), dan beberapa rasio keuangan seperti rasio FDR, NPF dan lainnya. Secara
teoritis, model penilaian ini merupakan pedoman yang baik bagi bank syariah untuk menghindari terjadinya risiko pembiayaan.
(personality), prospek usaha, maksud atau tujuan peminjaman (purpose), mengetahui
kemampuan calon debiturnya (payment) (Kamini, 2008).
Dalam proses transisi ini, perbankan syariah diharapkan dapat fokus pada program strategis yang mendorong pada pemerataan ekonomi, seperti mengarahkan pembiayaan perbankan syariah pada sektor ekonomi produktif dan masyarakat yang lebih luas. Kemudian mengembangkan produk yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor produktif. Melaksanakan transisi pengawasan yang tetap menjaga kesinambungan pengembangan perbankan syariah. Kemudian melakukan revitalisasi peningkatan sinergi dengan bank induk, yang terakhir meningkatkan edukasi dan komunikasi produk perbankan syariah (Bank Indonesia, 2013).
Daftar Pustaka
Ba k I do esia, Outlok Per a ka “yariah , Jakarta: Direktorat Per a ka “yari’ah,
2013.
Ka i i, Made, Kegiata Ba k dala Pe ghi pu a Da a Masyarakat, makalah dalam www.legalitas.org, 2008.
Muhayatsyah, Ali, Criti al A alysis of Growth Mura aha i Isla i Ba ki g i I do esia,
makalah perkuliahan Manajemen Investasi Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,
Agustus 2012. Diterbitkan di
Academia.edu.http://www.academia.edu/1260368/Critical_Analysis_of_Growth_ Murabaha_in_Islamic_Banking_Indonesian_Language_