• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Tugas Kecerdasan Buatan Metode H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Tugas Kecerdasan Buatan Metode H"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

JARINGAN SYARAF TIRUAN

METODE HEBBIAN

AULIA HELMINA PUTRI

13.63.0657

Kelas 5 B Non-reguler

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

UNIVESITAS ISLAM KALIMANTAN

MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY

(2)

A. Jaringan Syaraf Tiruan

Jaringan syaraf adalah merupakan salah sat representasi buatan dari otak manusia yang selalu mencoba untuk mensimulasikan proses pembelajaran pada otak manusia tersebut. Istilah buatan disini digunakan karena jaringan syaraf ini di implementasikan dengan menggunakan program komputer yang mampu menyelesaikan sejumlah proses perhitungan selama proses pembelajaran.

1.1 Otak Manusia

Otak manusia berisi jutaan sel syaraf yang bertugas untuk memproses informasi. Tiap-tiap sel bekerja seperti suatu prosesor sederhana dan saling berinteraksi sehingga mendukung kemampuan kerja otak manusia seperti yang terlihat pada gambar 1.1 berikut ini.

Gambar 1.1 Susunan Syaraf Manusia

Gambar tersebut menunjukkan susunan syaraf pada manusia. Setiap sel syaraf (neuron) akan memiliki satu inti sel, inti sel ini nanti yang akan bertugas untuk melakukan pemrosesan informasi. informasi yang datang akan diterima oelh dendrit. Selain menerima informasi, dendrit juga menyertai axon sebagai keluaran dari suatu pemrosesan informasi. informasi hasil olahan ini akan menjadi masukan bagi neuron lain yang mana antar dendrit kedua sel tersebut dipertemukan dengan synapsis. Informasi yang dikirimkan antar neuron ini berupa rangsangan yang dilewatkan melalui dendrit. Informasi yang dikirimkan antar neuron ini diterima dendrit akan dijumlahkan dandikirim melalui axon ke dendrit akhir yang bersentuhan dengan dendrit dari neuron yang lain. Hubungan antar neuron terjadi secara adapti, artinya struktur hubungan tersebut terjadi secara dinamis. Otak manusia selalu memiliki kemampuan untuk belajar dengan melakukan adaptasi.

B. Metode Hebbian

2.1 Sejarah Hebbian

(3)

Isinya menyangkut kemungkinan mekanisme modifikasi sinaptik dalam otak yang kemudian digunakan untuk melatih jaringan syaraf tiruan. Pada tahun 1949 Hebb merangkum hasil peneliian yang telah dilakukannya selama 20 tahun kedalam bku yang berjudul “The Organization of Behavior”, yang pada intinya mengatakan bahwa perilaku dapat dijelaskan melalui aksi-aksi neuron.

Ide yang paling terkenal didalam buku Hebb diatas adalah sebuah postulat yang kemudian dikenal dengan nama metode belajar Hebb “Jika axon sebuah sel A cukup dekat untuk bisa mengeksitasi sel B dan secara berulang atau terus menerus melakukan penembakan, beberapa proses atau perubahan metabolisme akan terjadi pada satu atau kedua sel, sehingga efisiensi sel A sebagai salah satu sel penembak B akan meningkat”. Walaupun Hebb tidak pernah memberikan bukti fisiologis yang signifikan mengenai teorinya, namun penelitian-penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa sejumlah sel menunjukkan pola belajar Hebbian.

2.2 Asosiator Linier

Hukum pembelajaran Hebb dapat diimplementasikan pada berbagai arsitektur jaringan neural. Salah satu arsitektur jaringan neural yang sederhana adalah asosiator linear seperti terlihat pada gambar berikut

Gambar 2.2 Assosiator Linier

Keluaran vektor a dihitung dari vektor masukan p :

(4)

Memori asosiatif didesain untuk mempelajari Q pasang vektor contoh masukan / keluaran

{ p

1

, t

1

}, p

2

, t

2

}, ..., {p

q

, t

q

}

Dengan kata lain, jika jaringan menerima input p =

p

q

maka

harus

menghasilkan keluaran a =

t

q,

dengan

q = 1,2 ... , Q. Jika masukan

sedikit berubah (mis.,

p

=

p

+ d), maka keluaran juga sedikit berubah

(mis.,

a

=

tq

+ e).

2.3 Aturan Hebb (Hebb Rule)

Hebb Rule adalah metode pembelajaran yang paling sederhana. Pada metode ini pembelajaran dilakukan dengan cara memperbaiki nilai bobot sedemikian rupa sehingga jika ada 2 neuron yang terhubung, dan keduanya pada kondisi hidup pada saat yang sama, maka bobot antara keduanya dinaikkan. Apabila data direpresentasikan secara bipolar, maka perbaikan bobotnya adalah :

w1 (baru) = w1(lama) + x1*y

Keterangan :

W1 = bobot data input ke – i X1 =input data ke – i

Y = output data

Misalkan kita akan menggunakan pasangan vektor input s dan vektor output sebagai pasangan vektor yang akan dilatih, sedangkan vektor yang hendak digunakan untuk testing adalah vektor x.

Terdapat juga aturan Hebb dengan supervisi (supervised Hebb Rule), dimana pada persamaannya, keluaran aktual digantikan dengan keluaran target. Persamaannya

:

Dengan tiq adalah elemen ke – i dari vektor target t ke – q. Untuk memudahkan learning rate diset bernilai 1.

(5)

2.3 Algoritma Hebb Inisialisasi semua bobot

Wij = 0 ; dengan i = 1,2,...n; dan j=1,2,...,m

Untuk setiap pasangan input-outpt (s-t), lakukanlah langkah-langkah sebagai berikut

a. Set input dengan nilai sama dengan vektor input : Xi = si ; (i = 1,2...,n)

b. Set output dengan nilai sama dengan vektor output : Yj = tj ; (j=1,2,...m)

c. Perbaiki bobot :

Wij(baru) = wij(lama) + xi*yj ;

(i=1,2,...,n ; dan j = 1,2,...,m). Dengan catatan bahwa nilai bias selalu 1. Contoh soal :

1. Buatlah model Hebb untuk menyelesaikan fungsi logika AND dengan input output dan output biner

x

1

x

2

y

1

1

1

1

0

0

0

1

0

0

0

0

Solusi

(6)

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

0

1

0

0

0

0

1

1

1

0

1

1

0

0

0

0

1

1

1

0

0

1

0

0

0

0

1

1

1

Bobot baru jaringan hasil training : • w1 = 1

w2 = 1

wb = 1

masukan dan keluaran biner

w

1

w

2

net = ∑ x

i

*w

i

)

+ wb

Y = f net = , jika net ≥

Y = f(net) = 0, jika net

0

1

1

(1 . 1) + (1 . 1)

+ 1

1

1

0

(1 . 1) + (0 . 1)

+ 1

1 seharusnya 0

0

1

(0 . 1) + (1 . 1)

+ 1

1 seharusnya 0

0

0

(0 . 1) + (0 .

1) + 1

1

seharusnya 0

Pola tidak dikenali oleh jaringan. Contoh Soal Fungsi OR

1. Misalkan kita ingin membuat jaringan syaraf tiruan untuk melakukan pembelajaran terhadap fungsi OR dengan input dan target bipolar sebagai berikut

Input Bias Target -1 -1 1 -1 -1 1 1 1 1 -1 1 1 1 1 1 1

(7)

X = -1 -1 -1 1 1 -1 1 1 T = -1 1 1 1

Bobot awal = w =

0 0 b = 0

Perubahan bobot: Data ke-1

w1 = 0 + 1 = 1 w2 = 0 + 1 = 1 b = 0 - 1 = -1 Data ke-2 w1 = 1 - 1 = 0 w2 = 1 + 1 = 2 b = -1 + 1 = 0 Data ke-3 w1 = 0 + 1 = 1 w2 = 2 - 1 = 1 b = 0 + 1 = 1 Data ke-4 w1 = 1 + 1 = 2 w2 = 1 + 1 = 2 b = 1 + 1 = 2

Kita bisa melakukan pengetesan terhadap salah satu data yang ada, misal kita ambil x=[-1 –1].

Y = 2 + (-1*2) + (-1*2) = -2

2.4 Aplikasi

(8)

input (yaitu tq = pq). Disini autoassociative memory digunakan untuk menyimpan satu set pola dan pola tersebut akan dipanggil kembali, termasuk dengan mengunakan masukan yang rusak. Pola yang disimpan adalah sebagai berikut :

Yang merupakan vektor input sekaligus target. Vektor-vektor tersebut mereprenstasikan bilangan (0,1,2) dalam kisi 6 x 5. Digit ini harus dikonversi manjadi vektor, untuk dijadikanpola contoh bagi jaringan. Setiap kotak putih direpresentasikan dengan “-1” dan kotak hitam direpresentasikan dengan “1”. Selanjutnya untuk membuat vektor input, kisi 6 x 5 tersebut dibaca perkolom. Sebagai contoh, vektor pola pertama adalah

P

1

= [-1 1 1 1 1 -1 1-1 -1 -1 -1 1 1 -1 ... 1 -1]

t

Vektor

P

1 adalah untuk digit “0”.

P

2 untuk “1” dan

P

3 untuk “2”. Dengan menggunakan aturan Hebb, bobot matriks dihitung.

Perhatikan bahwa pq menggantikan posisi tq, karena ini adalah autoassociative memory).

Karena hanya ada elemen – elemen vektor yang memiliki dua kemungkinan nilai “-1” dan “1” maka fungsi transfer linier digantikan dengan fungsi transfer symetrical hard limit.

Contoh soal :

(9)

Gambar 2.4.1 Pemetaan huruf pada matriks 9x7

Pada Gambar 8.30 tersebut, kode 1 menunjukkan suatu kotak berwarna hitam, sedangkan kode 0 menunjukkan suatu kotak berwarna putih. Untuk mempermudah dalam mengimplementasikannya, matriks 9x7 tersebut dibawa ke bentuk vektor 63 kolom. Pada Gambar 8.30 tersebut vektor yang bersesuaian adalah:

0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1

Misalkan ada 15 data yang akan dilatih, yaitu 5 data A, 5 data B, dan 5 data H, sebagai berikut (Gambar 2.4.2, 2.4.3 dan 2.4.4):

Gambar 2.4.2 Pola Huruf A pada matriks 9x7

(10)

Gambar 2.4.4 Pola Huruf H pada matriks 9x7

Gambar 2.4.5 Pola huruf yang digunakan sebagai bobot

Matriks yang dilatih yaitu :

P=[1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1; 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0; 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1; 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0; 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0; 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0; 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1; 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1; 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1; 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1];

Dengan vektor output

T=[1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3];

Angka 1 menunjukkan kelas A, angka 2 menunjukkan kelas B, dan angka 3 menunjukkan kelas H. Sedangkan untuk matriks bobot diperoleh dari transformasi dari Gambar 2.4.5

w=[0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1; 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0; 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1];

Sebagai nilai awal dipilih learning rate (α=0,05), dengan pengurangan sebesar 0,1*α; dan maksimum epoh (MaxEpoh=30).

(11)

P1 = (1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1);

Jarak pada:

* Bobot ke-1 = 5,9161 * Bobot ke-2 = 4,7958 * Bobot ke-3 = 4,4721

Jarak terkecil pada bobot ke-3 Target data ke-1= 1

Bobot ke- 3 baru (w3):

1,0000 1,0000 -0,0500 -0,0500 -0,0500 1,0000 1,0000 1,0000 ... 1,0500 0,0000 0,0000 0,0000 1,0500 1,0000 1,0000 1,0500 ... 0,0000 0,0000 0,0000 1,0500 1,0000 1,0000 1,0500 0,0000 ... 0,0000 0,0000 1,0500 1,0000 1,0000 1,0500 1,0500 1,0500 ... 1,0500 1,0500 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 ... 1,0000 1,0000 1,0000 1,0500 0,0000 0,0000 0,0000 1,0500 ... 1,0000 1,0000 1,0500 0,0000 0,0000 0,0000 1,0500 1,0000 ... 1,0000 1,0500 0,0000 0,0000 0,0000 1,0500 1,0000

α = 0,0450 α Data ke-2:

P2 = (0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1);

Jarak pada

* Bobot ke-1 = 3,3166 * Bobot ke-2 = 5,5678 * Bobot ke-3 = 5,7228

Jarak terkecil pada bobot ke-1 Target data ke-2= 1

Bobot ke-1 baru (w1):

0,0000 0,0000 0,0000 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 ... 0,0000 1,0000 0,0000 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,9550 ... 0,0450 0,0000 0,0450 0,9550 0,0000 0,0000 0,9550 0,0450 ... 0,0000 0,0450 0,9550 0,0000 0,0000 1,0000 1,0000 1,0000 ... 1,0000 1,0000 0,0000 0,0000 1,0000 0,9550 0,9550 0,9550 ... 1,0000 0,0000 0,0000 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 1,0000 ... 0,0000 1,0000 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 1,0000 1,0000 ... 1,0000 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 1,0000 1,0000

(12)

Proses tersebut diteruskan untuk data ke-3 sampai data ke-15, kemudian dilanjutkan epoh ke-2 sampai ke-30, untuk setiap data dengan menggunakan cara yang sama. Setelah mencapai epoh yang ke-30 diperoleh bobot akhir: 197 w1 =

-0,0297 -0,0297 -0,0140 1,0297 -0,0140 -0,0297 -0,0297 0,0000 ... 0,0113 1,0297 0,0000 1,0297 0,0113 0,0000 0,0000 0,9010 ... 0,0990 0,0000 0,0990 0,9010 0,0000 0,0443 0,9044 0,0513 ... 0,0000 0,0513 0,9044 0,0443 0,0443 0,9557 0,9080 0,9080 ... 0,9080 0,9557 0,0443 0,1330 0,9590 0,9375 0,9375 0,9375 ... 0,9590 0,1330 0,1330 0,8670 0,0000 0,0000 0,0000 0,8670 ... 0,1330 1,0297 0,8670 0,0000 0,0000 0,0000 0,8670 1,0297 ... 1,0000 0,8670 -0,0140 0,0000 -0,0140 0,8670 1,0000

w2 =

1,0000 0,1358 1,0217 1,0217 1,0217 0,1014 -0,0005 1,0000 ... 0,8858 0,0000 0,0000 0,0000 0,9203 0,0797 1,0000 0,0000 ... 0,0000 0,0000 0,0000 0,0244 0,9756 1,0000 0,0244 0,0244 ... 0,0244 0,0244 0,9203 0,0553 0,9733 0,0712 0,9570 0,9570 ... 0,9570 0,0903 -0,0322 1,0000 0,0185 0,0185 0,0185 0,0185 ... 0,9097 0,0506 1,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0291 ... 0,9709 1,0000 0,8858 0,0000 0,0000 0,0000 0,0345 0,9655 ... 0,9733 0,1464 1,0322 1,0322 1,0322 0,9978 -0,0005

w3=

1,0000 0,9823 -0,0504 -0,0504 -0,0504 0,9823 1,0000 1,0000 ... 1,0327 0,0000 0,0000 0,0000 1,0327 1,0000 1,0000 1,0327 ... 0,0194 0,0194 0,0194 1,0327 1,0000 1,0000 1,0327 0,0194 ... 0,0194 0,0194 1,0327 1,0000 1,0000 1,0327 1,0132 1,0132 ... 1,0132 1,0327 1,0000 1,0000 1,0000 0,9806 0,9806 0,9806 ... 1,0000 1,0000 1,0000 1,0504 0,0177 0,0177 0,0177 1,0504 ... 1,0000 1,0000 1,0327 0,0000 0,0000 0,0000 1,0327 1,0000 ... 1,0000 1,0327 0,0000 0,0000 0,0000 1,0327 1,0000

Apabila kita ingin melakukan testing input:

X = (0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1);

(13)

Gambar 2.4.5 Pola huruf yang digunakan sebagai tes

maka kita cari terlebih dahulu jarak input tersebut dengan kedua bobot. Nomor dari bobot dengan jarak yang terpendek akan menjadi kelasnya.

Jarak pada:

* bobot ke-1 = 0,0693 * bobot ke-2 = 1,7655 * bobot ke-3 = 2,2446

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Modul Belajar Jaringan Hebb.ppt

elearning.upnjatim.ac.id/courses/SPKKELASB/.../jaringanhebb, tanggal akses 16 Desember 2014

Metode Belajar Hebbian

iwayan.info/Lecture/NeuralNetwork_S1/CatVersi090810/Kuliah_5_Metode _Belajar_HEBBIAN.pdf, tanggal akses 16 Desember 2014

Jaringan Syaraf Tiruan

http://share.its.ac.id/pluginfile.php/14163/mod_resource/content/1/jst1.pdf, tanggal akses 16 Desember 2014

Metode Belajar Hebbian Supervised

Gambar

Gambar 1.1 Susunan Syaraf Manusia
Gambar 2.2 Assosiator Linier
gambar 2.4
Gambar 2.4.1 Pemetaan huruf pada matriks 9x7
+3

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,