• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Connected Untuk Meningka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Model Connected Untuk Meningka"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL CONNECTED UNTUK MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 3

TAMPAKSIRING GIANYAR

Ni Kdk. Yenni Indah Permata Sari

1

, I Md. Putra

2

, IGA. A. Sri Asri

3 1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP,

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1,

[email protected]

2,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS siswa melalui model pembelajaran Connected. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian siswa kelas V SD Negeri 3 Tampaksiring, Gianyar tahun pelajaran 2013/2014 berjumlah 39 orang. Tindakan dilakukan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri atas 2 pertemuan dan siklus II terdiri atas 2 pertemuan. Setiap pertemuannya secara berdaur mulai perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data nhasil belajar dikumpulkan dengan tes dalam bentuk tes pilihan ganda biasa. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran connected dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar ips pada siswa kelas V di SD Negeri 3 Tampaksiring Gianyar tahun pelajaran 2013/2014. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari rat-rata yang diperoleh pada siklus 1 yaitu 68,46 dan pada siklus 2 didapatkan rat-rata nilai yaitu 80,13. Berdasarkan hasil ini pada kriteria tinggi dan mencapai ketuntasan 100% sesuai indikator keberhasilan yang ditetapkan sudah tercapai. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada semua guru kelas di sekolah dasar tempat penelitian hendaknya menerapkan model pembelajaran connected dalam pembelajaran IPS.

Kata-kata kunci :Model Connected, Hasil Belajar, IPS

Abstract

This study aims to determine the improvement of student learning outcomes through the social sciences Connected learning model . This research is Classroom Action Research ( CAR ) with research subjects Elementary School fifth grade students 3 Tampaksiring, Gianyar academic year 2013/2014 amounted to 39 people . Actions carried out in 2 cycles. Cycle I consists of 2 meetings and the second cycle consists of 2 meetings . Each meeting is cycle from planning, implementation, observation and reflection. The data collected with the test nhasil learning in the form of a regular multiple choice test . Collected data were analyzed by descriptive quantitative. The results suggest the application of connected learning model can improve the activity and learning outcomes ips on class V students in Elementary School 3 Tampaksiring Herzliya academic year 2013/2014. Improving student learning outcomes can be seen from the rat - derived average is 68.46 in cycle 1 and cycle 2 rat obtained average values are 80,13 . Based on these results on high criteria and achieve mastery 100% corresponding success indicators set has been reached. Based on this study it is suggested to all classroom teachers in primary schools where the research should apply the learning model connected in social studies learning ..

(2)

PENDAHULUAN

Menghadapi perkembangan dibidang ilmu pendidikan serta menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka pemerintah berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 Bab II, pasal 3, tentang sistem pendidikan nasional sebagai berikut.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kehidupan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU NO 20 THN 2003 : 6). Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, pemerintah berusaha semaksimal mungkin membenahi kualitas maupun kuantitas di bidang pendidikan.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar. Secara ekplisit terlihat bahwa ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pembelajaran ini lebih menekankan pada bagaimana upaya guru untuk mendorong atau memfasilitasi siswa belajar bukan pada apa yang dipelajari.siswa. Istilah pembelajaran lebih banyak berperan dalam mengkonstuksikan pengetahuan bagi dirinya.

Salah satu model pembelajaran yang cocok diterapkan dalam pembelajaran di kelas yaitu model connected. Fogarty (dalam Trianto, 2007), mengemukakan bahwa model terhubung (connected) merupakan model integrasi inter bidang studi. Model ini mengintegrasikan satu konsep, ketrampilan dalam satu bidang studi. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna. Pembelajaran tipe connected adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan satu konsep yang satu dengan konsep lain, mengaitkan satu ketrampilan dengan ketrampilan lain dan dapat juga

mengaitkan pekerjaan hari itu dengan hari berikutnya dalam satu bidang studi.

Model connected juga memiliki keunggulan dan kelemahan. Fogarty (dalam Trianto, 2007), mengemukakan menyebutkan beberapa keunggulan pembelajaran model connected antara lain sebagai berikut. 1) Dengan pengintegrasian konsep- konsep dalam satu bidang studi, maka siswa mempunyai gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu. 2) Siswa dapat mengembangkan konsep- konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjalin proses internalisasi. 3) Mengintegrasikan ide- ide dalam konsep- konsep memungkinkan siswa mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki serta mengasimilasi ide- ide dalam memecahkan masalah. 4) Dengan adanya hubungan atau kaitan antara gagasan dalam satu bidang studi siswa mempunyai gambaran yang lebih kompherensif dari beberapa aspek tertentu mereka pelajari lebih mendalam. 5) Konsep- konsep kunci dikembangkan dengan waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh siswa. 6) Tidak mengganggu kurikulum yang sedang berlaku. Kelemahan pembelajaran model connected antara lain: 1) Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi pelajaran tetap terfokus tanpa merentangkan konsep- konsep serta ide antar satu bidang studi. 2) Dalam memadukan ide- ide, pada suatu konsep maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar konsep dalam satu bidang studi menjadi terabaikan.

Pada dasarnya langkah- langkah (Sintak) pembelajaran mengikuti tahap- tahap yang dilalui dalam setiap model pembelajaran yang meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi (Trianto :2007). Berkaitan dengan itu maka sintak model pembelajaran connected diperoleh dari berbagai model pembelajaran langsung (direct instuctions), model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning), maupun model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instructions).

(3)

satu mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah. Menurut Dreeben (Hamzah, 2001:7) IPS diajarkan di sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka panjang (long-term functional needs) bagi siswa dan masyarakat. Sedangkan menurut Sujono (Hamzah, 2001:8) IPS perlu diajarkan di sekolah karena IPS menyiapkan siswa menjadi pemikir. IPS menyiapkan siswa menjadi warga negara yang hemat, cermat dan efisien dan IPS membantu siswa mengembangkan karakternya. Pendapat yang lain adalah pendapat Stanic (Hamzah, 2001:8) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran IPS di sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa, peningkatan sifat kreativitas dan kritis. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS di sekolah merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kecerdasan siswa. Ciri-ciri hasil belajar IPS yang dikemukakan oleh Dimyati dan Moedjiono (1999 : 201) bahwa: (1) Pengetahuan (kognitif). Hasil belajar kognitif merupakan kemajuan intelektual yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar dengan ciri-ciri perubahan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis dan evaluasi; (2) Sikap (afektif). Hasil belajar afektif adalah perubahan sikap yang dialami oleh siswa yang berupa penerimaan atau perhatian, adanya tanggapan dan respon serta penghargaan; (3) Keterampilan (psikomotor). Hasil belajar psikomotor merupakan perubahan tingkah laku yang berupa keterampilan siswa, keberanian, minat, kreativitas dan partisipasi di dalam kegiatan sebagai usaha tanpa tekanan dari guru atau orang lain.

Pendapat tersebut didukung oleh Muhaimin, dkk (1999:45) menyatakan bahwa ciri-ciri hasil belajar adalah : “(1) Menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial, (2) Perubahan itu pokoknya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu relatif lama, dan (3) Perubahan itu terjadi karena usaha”. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri hasil belajar IPS yaitu terjadinya perubahan pada diri pebelajar, yang menghasilkan kemampuan

baru yang bertahan lama, dan terjadi karena usaha.

Pada hakikatnya belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil yang optimal. Kegiatan ini akan tercapai jika siswa sebagai subyek terlibat secara aktif baik fisik maupun emosinya dalam proses belajar mengajar.

Dalam pembelajaran aktif siswa dipandang sebagai subjek bukan objek dan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Disamping itu siswa ikut berpartisipasi ikut mencoba dan melakukan sendiri yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal.

(4)

pembelajaran enggan bertanya kepada siswa yang lebih mampu dengan alasan malu. Salah satu metode pembelajaran yang biasa diterapkan guru dalam kelas adalah metode ekspositori. Meskipun guru tidak terus menerus bicara, namun proses ini menekankan penyampaian tekstual serta kurang mengembangkan motivasi dan kemampuan belajar IPS. Pembelajaran IPS dengan metode ekspositori cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru tampak lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami.

Hal ini merupakan suatu kenyataan yang menjadi tantangan bagi para guru sekolah dasar untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi anak seusia sekolah dasar. Guru sekolah dasar harus mengetahui dan mengerti karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak sekolah dasar itu sendiri, kemudian mengerti dan mengetahui strategi pembelajaran yang tepat bagi anak seusia itu. Untuk mewujudkan hal, tersebut maka dibutuhkan suatu model pembelajaran yang mengintegrasikan satu konsep, keterampilan yang dipadukan dengan pembelajaran lain dalam satu bidang studi..

Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar IPS siswa melalui pembelajaran model connected pada siswa kelas V SDN 3 Tampaksiring Gianyar. METODE

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan dalam dua siklus sampai tujuan yang diharakan tercapai. Masing-masing siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu: (1) perencanaan tindakan yang terdiri dari menyusun rumusan masalah, menentukan tujuan dan metode penelitian serta membuat rencana tindakan; (2) pelaksaan tindakan, apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perubahan yang dilakukan; (3) observasi dan evaluasi, untuk mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan

terhadap siswa; (4) refleksi, peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar perencanaan dan tindakan berikutnya sehingga membentuk sebuah siklus.

Penelitian ini dilaksanakan secara berulang dalam bentuk siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi yang dikembangkan oleh Kanca (2008), yang desainnya seperti gambar berikut.

Penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang dapat dibedakan sebagai berikut. Variabel bebas (Independent Variabel) merupakan variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas merupakan variabel yang variabelnya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi (Sarwono, 2006). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model Connected. Model Connected adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lain dalam satu bidang studi, mengaitkan satu ketrampilan dengan ketrampilan lain dan dapat juga mengaitkan pekerjaan hari itu dengan hari berikutnya dalam satu bidang studi. Variabel terikat (Dependent Variabel) adalah variabel yang memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel terikat adalah variabel yang variabelnya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas (Sarwono, 2006). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah interaksi belajar IPS siswa dan hasil belajar IPS siswa. Interaksi belajar IPS siswa merupakan interaksi yang dilakukan oleh siswa saat melakukan kegiatan pembelajaran IPS. Hasil belajar IPS merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar.

(5)

observasi/evaluasi dan refleksi yang dikembangkan oleh Kanca (2008).

Pada tahap tiap-tiap siklus terbagi atas: Perencanaan Tindakan, Rencana tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran melalui model connected dengan berbantuan media konkret adalah sebagai berikut. 1) Menyusun Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran

mempersiapkan media pembelajaran yang akan dipakai dan sumber Pembelajaran (Lembar Kerja Siswa, Silabus dan Kurikulum) yang nantinya akan digunakan selama proses pembelajaran pada kelompok eksperimen. 2) Menyusun instrumen penelitian berupa tes hasil belajar pada ranah kognitif untuk mengukur hasil belajar yang didapat siswa dalam mata pelajaran IPS. 3) Mengadakan validasi instrumen penelitian yaitu tes hasil belajar.Pelaksanaan Tindakan, Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yaitu dua kali pertemuan untuk pelaksaan tindakan dan satu kali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar IPS. Adapun tahan tindakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajaran model connected di SD N 3 Tampaksiring pada siswa kelas V. 2) Memberikan informasi kepada siswa mengenai kegiatan yang terkait dengan penerapan model connected di SD N 3 Tampaksiring pada siswa kelas V. 3) Menentukan kelompok siswa yang kemampuan akademiknya bersifat heterogen, dan masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. 4) Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk siklus I dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang berorientasi pada model connected. 5) Menyiapkan instrumen penelitian yang berupa tes bentuk uraian. Tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar. Observasi/Evaluasi, Kegiatan evaluasi dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain: 1) Mengamati interaksi belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung, 2) Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model connected. 3) Mengadakan evaluasi

dengan memberikan tes pilihan ganda pada akhir pelajaran. Refleksi , Pada akhir siklus I, peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi/evaluasi selama proses pembelajaran. Pada tahap ini peneliti mengkaji kekurangan-kekurangan dan hambatan-hambatan yang dialami dari tindakan yang telah diberikan untuk dijadikan pertimbangan dalam merancang dan melaksakan tindakan pada siklus berikutnya.

Data hasil akhir IPS dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda. Tes ini menyangkut materi yang dipelajari, dan jumlah tes disesuaikan dengan materi yang dibahas. Data tentang hasil belajar siswa menggunakan pedoman observasi. Variabel yang diobservasi menyangkut aktif mencari informasi tentang konsep yang dibahas, adanya inetraksi positif pada siswa dalam mengenali materi, kemampuan berinteraksi dengan kelompoknya, kerja sama dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dengan kelompoknya, siswa mampu berbahasa dengan baik dan benar baik dalam bentuk lisan maupun tertulis, siswa tidak menemui kesulitan dalam berinteraksi dengan kelompoknya.

Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil apabila kriteria keberhasilan interaksi siswa dalam belajar mencapai kriteria belajar aktif yang diukur dengan menggunakan alat observasi yang dijadikan pedoman konversi kriteria penilaian interaksi belajar.Kriteria keberhasilan hasil belajar siswa apabila mencapai skor 70-75% diatas nilai rata-rata KKM yang ditetapkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(6)

hasil belajar IPS siswa melalui penerapan model Conneted.

Penelitian Tindakan Kelas ini dekenakan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Tampaksiring yang terdiri dari 39 siswa yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Pada proses pembelajaran IPS, guru cenderung masih menggunakan metode konvensional (ceramah dan tanya jawab), guru terkesan menguasai pembelajaran sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan dari guru. Berdasakan hasil observasi nilai belajar IPS, dari 39 siswa tersebut ada 30 siswa yang memperoleh nilai IPS dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sehingga peneliti mencoba mengupayakan model Conneted dan diterapkan dalam pembelajaran IPS.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran dalam

sebuah kelas secara sengaja dimunculkan dan secara bersama. Penelitian direncanakan dalam 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting) , observasi (Observing) dan refleksi (reflecting).

Hasil belajar IPS dikumpulkan dengan metode tes yaitu tes hasil belajar dengan jenis tes objektif dalam bentuk pilihan ganda biasa sebanyak 20 butir soal yang diberikan kepada siswa pada tahap akhir siklus I dan II. Setelah diperoleh data hasil belajar IPS, data dianalisis sehingga diperole ), varians (S2) dan standar deviasi (SD) dari masing-masi

), varians (S2) dan standar deviasi (SD) hasil belajar IPS pada Siklus I dan Siklus II. Hasil Belajar dirangkum dalam tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Tabel Rangkuman Hasil Belajar IPS Siklus I dan Siklus II

Hasil Analisis Siklus I Siklus II

Mean 68,46 80

Standar Deviasi 8,82 5,56

Varian 77,83 30,90

Median 65 80

Modus 65 dan 70 75

Nilai Maksimum 85 95

Nilai Minimum 45 75

Rentangan 49 20

Panjang Kelas 6,37 3,18

Jumlah Kelas 6 6

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa penelitian pada siklus II memiliki nilai rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi dari pada penelitian pada siklus I.

Berdasarkan hasil belajar IPS pada siklus I dikelompokan menjadi lima kategori dengan norma kerangka teoretik kurva normal ideal, seperti berikut. Gambaran yang lebih jelas mengenai distribusi frekuensi hasil belajar IPS penelitian pada siklus I dapat dilihat pada gambar histogram sebagai berikut.

Gambar. 2. Gambar Histogram Distribusi Frekuensi Penelitian Siklus I 0

6 12 18

(7)

Dari hasil perhitungan tersebut, menunjukkan bahwa pengelompokkan distribusi frekuensi untuk hasil belajar IPS pada siklus I terletak disekitar KKM sebanyak 20%, di bawah KKM sebanyak 65% dan di atas KKM 15%.

Berdasarkan hasil belajar IPS penelitian pada siklus II dapat ditampilkan frekuensi absolut dan frekuensi relatif sebagai berikut. Berdasarkan distribusi frekuensi hasil belajar IPS penelitian pada siklus II tersebut, dapat disajikan histogram distribusi frekuensi Siklus II sebagai berikut.

Gambar 3. Histogram Distribusi Frekuensi Penelitian Siklus II

Dari hasil perhitungan tersebut, menunjukkan bahwa pengelompokkan distribusi frekuensi untuk hasil belajar IPS penelitian pada siklus II terletak disekitar KKM sebanyak 65%, di bawah KKM sebanyak 0% dan di atas KKM 35%.

Berdasarkan perhitungan diatas, secara umum dapat dilihat bahwa penelitian pada siklus II mendapatkan nilai hasil belajar siswa yang lebih tinggi dari pada penelitian pada siklus I, ini berarti terdapat peningkatan secara signifikan dari penelitian siklus I ke penelitian siklus II.

Pada hakikatnya belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dilaksanakannya pembelajaran adalah untuk memperoleh hasil yang optimal. Kegiatan ini akan tercapai jika siswa sebagai subjek terlibat secara aktif baik fisik maupun emosinya dalam proses belajar mengajar.

Dalam pembelajaran aktif siswa dipandang sebagai subjek bukan objek dan

belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Di samping itu siswa ikut berpartisipasi ikut mencoba dan melakukan sendiri yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, peran guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal.

Model connected dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pelaksanaan pembelajaran agar berkembang secara optimal. Model ini merupakan salah satu bagian dari model pembelajaran terpadu yang mengaitkan konsep yang satu dengan konsep yang lain dalam satu bidang studi. Dengan penerapan model connected siswa belajar mengaitkan beberapa konsep dalam bidang studi. Fogarty (dalam Trianto, 2007), mengemukakan bahwa model terhubung (connected) merupakan model integrasi dalam satu bidang studi. Model ini mengintegrasikan satu konsep dengan konsep yang lain dalam satu bidang studi. Dengan demikian pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna.

Hadisubroto (dalam Trianto, 2007:43) juga mengemukakan bahwa pembelajaran tipe connected adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan satu pokok bahasan dengan pokok bahasan berikutnya, mengaitkan satu konsep dengan konsep lain, mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lain, mengaitkan satu ketrampilan dengan ketrampilan lain dan dapat juga mengaitkan pekerjaan hari itu dengan hari berikutnya dalam satu bidang studi.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan penggunaan model connected yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan bahwa pada siklus I hasil belajar IPS siswa masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan siswa bersikap pasif dalam kegiatan pempelajaran, waktu yang digunakan siswa agak longgar dari waktu yang dialokasikan, keseriusan siswa saat mengikuti kegiatan pembelajaran masih kurang. Untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I maka dilakukanlah tindakan siklus II.

0 6 12 18

(8)

Perbaikan yang dilakukan pada siklus II adalah dengan mengoptimalkan penerapan model connected, memanfaatkan waktu yang ada untuk kegiatan pembelajaran agar alokasi waktu yang dicanangkan tidak melampaui batas waktu yang ditentukan, melibatkan seluruh siswa agar ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan media konkret digunakan secara optimal untuk memudahkan siswa untuk belajar dan memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan hasil belajar IPS nya.

Hasil penelitian itu sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kilmas (tahun 2004) juga menunjukkan bahwa penerapan model connected mampu meningkatkan hasil belajar siswa sebagai berikut. Pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah sebesar 61,03 dan ketuntasan klasikal sebesar 65,0 %. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas sebesar 74,33 dan ketuntasan klasikal sebesar 74,57 %. Hal ini menunjukkan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Ini berarti bahwa model connected adalah salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan interaksi belajar siswa. Interaksi yang terjadi adalah interaksi multiarah. Disamping itu, model connected dapat dimanfaatkan untuk memotivasi siswa terjadi peningkatan hasil belajar.

Salah satu motivasi yang diberikan berupa reward dan reinforcement kepada siswa. James Drever (dalam Slameto,2003) menyatakan motivasi sangat erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam proses pembelajaran haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau pada diri siswa memiliki motivasi untuk berpikir dan memusatkan perhatian serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang dapat menunjang belajar.

Dengan adanya motivasi dari guru kepada siswa, maka dalam kegiatan pembelajaran akan muncul interaksi antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, sehingga terjadi interaksi yang multiarah. Dengan adanya interaksi belajar dalam kelas, semuanya ikut terlibat dan berperan aktif, sehingga tercipta komunikasi timbal balik antara siswa. Interaksi yang terjadi di

kelas adalah interakasi multiarah, yakni adanya hubungan timbal balik antara siswa dan siswa, antara siswa dan guru. Demikian pula sebaliknya terjadi antara guru dan siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam berinteraksi haruslah menggunakan komunikasi yang efektif agar tercipta hubungan yang tumbuh dan berkembang antara individu yang satu (sebagai komunikator) dengan individu yang lain (sebagai komunikan), yang satu (komunikator) dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada yang lain (komunikan), sedangkan yang satu (komunikan) dengan gayanya sendiri menerima pesan dari sumber (komunikator).

(9)

Konsep- konsep kunci dikembangkan dengan waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh siswa. Oleh karena itulah, penerapan model connected dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar IPS. Hasil belajar IPS merupakan hasil belajar yang dicapai oleh seseorang setelah mengalami proses interaksi pembelajaran mata pelajaran IPS.

Dimyanti dan Moedjiono (1994: 4) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan hasil menyatakan bahwa belajar ditandai oleh ciri- ciri: a. Disengaja dan bertujuan, b. Tahan lama, c. Bukan karena kebetulan, d. Bukan karena kematangan dan petumbuhan

Demikian pula dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hasil belajar merupakan sesuatu yang diadakan, dibuat dijadikan oleh suatu usaha atau dapat juga berarti pendapatan atau perolehan (Porwadarminta, 1996:337). Ini berarti bahwa hasil belajar merupakan sesuatu yang sengaja dilakukan dan mempunyai tujuan tertentu, sehingga menimbulkan perubahan berupa perubahan pengetahuan, perubahan pemahaman, perubahan sikap, perubahan tingkah laku, dan kecakapan serta kemampuan.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang disajikan pada bab IV, dapat disimpulkan bahwa penerapan model connected dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa, khususnya dalam materi peristiwa yang terjadi secara nasional

dalam mempersiapkan dan

mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase hasil belajar IPS siswa Kelas V Semester II SD Negeri 3 Tampaksiring, Gianyar. Pada siklus I hasil belajar IPS siswa berada pada kategori rendah, yaitu 35 %. Kemudian pada siklus II terjadi peningkatan persentase hasil belajar IPS siswa menjadi 100% yang berada pada kategori tinggi.

Berdasarkan simpulan di atas maka saran yang dapat diberikan yaitu: 1) Para siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran sehingga nantinya

memperoleh hasil belajar yang memuaskan. 2) Disarankan kepada guru SD untuk mengimplementasikan model-model pembelajaran yang inovatif seperti model connected sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan interaksi belajar dan hasil belajar siswa. 3) Pihak sekolah hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai rujukan dalam upaya meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

DAFTAR RUJUKAN

Amri, Sofan & Ahmadi, Lif Khoiru. 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Surabaya: Prestasi Pustaka.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Aunurrahman, 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Indra, 2009. “Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Hasil Belajar”.

Tersedia pada

http://indramunawar.blogspot.com/2

009/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html (diakses tanggal 27 Maret 2011).

Kilmas, 2010. “Penerapan Model Pembelajaran Terpadu Model Connected untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Martupuro II”. Tersedia pada http://mariaterisia.blogspot.com/200 9/06/Penelitian menggunakan Model Connected.html (diakses tanggal 9 November 2010).

Muhaimin, dkk. 1999. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya : CV. Citra Media Karya Anak Bangsa.

Nurkancana, Wayan. 1990. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional

(10)

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jakarta: Balai Pustaka. Sadiman,dkk.1984. Media Pendidikan.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sagala Syaiful. 2003. Konsep dan Makna

Pembelajaran.Bandung: Alfabeta. Sedanayasa Gede. 2009. Keterampilan

Komunikasi. Singaraja: Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudarma, Komang, & Desak Putu Parmiti. 2007. Media Pembelajaran. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Sumantri, Mulyani, & Johan Permana. 1998. Strategi belajar Mengajar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional 2007.

Suryabrata Soemadi. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung : Angkasa. Suryobroto. 2002. Proses Belajar Mengajar

di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Sutan, Zanti, Arbi & Syahniar,

Syahrun.1991. Dasar- Dasar Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Gambar

Tabel 1. Tabel Rangkuman Hasil Belajar IPS  Siklus I dan Siklus II
Gambar 3.  Histogram Distribusi Frekuensi Penelitian Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

dahulu menyusun silabus sesuai dengan kurikulum dan karakteristik sekolah. Silabus yang telah disusun dibuat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang.. akan digunakan

Data kualitatif dalam penelitian ini adalah lembar kejar siswa, lembar observasi unjuk kerja siswa, dan lembar observasi aktivitas siswa dan guru selama proses

Diharapkan adanya pembelajaran yang efektif dengan menggunakan media flashcard dan model siklus belajar ( learning Cycle ) akan saling berhubungan dan mempermudah

Tahap perencanaan pada pertemuan ke 2 ini yaitu mempersiapkan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP lampiran B 2 ) dengan materi pokok membuat

Adapun kegiatan yang harus disiapkan pada tahap ini adalah menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKS (Lembar Kerja

Perangkat pembelajaran terdiri dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD). Instrumen pengumpulan data terdiri dari

1) Membuat perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses pembelajaran di kelas, anatara lain analisis indikator, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar

Hasil kualitas proses pembelajaran mata kuliah Kimia Fisika I memperlihatkan bahwa interaksi mahasiswa dengan sumber belajar menunjukkan tren positif terlihat dari nilai rata-rata