BAB III
LANDASAN TEORI
3.1. Kenyamanan Termal1
1. Tingkat aktivitas (metabolisme dalam tubuh)
American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning Engineering (ASHRAE) mendefinisikan kenyamanan termal sebagai hasil pemikiran seseorang mengenai kepuasan terdadap keadaan termal di sekitarnya.
Oleh karena kenyamanan adalah “suatu pemikiran, persamaan empiris harus
digunakan untuk mengaitkan respon kenyamanan terhadap sambutan tubuh.
Kenyamanan termal merupakan kepuasan yang dialami oleh seseorang manusia
yang menerima suatu keadaan termal. Keadaan ini dapat dialami secara sadar
ataupun tidak. Pemikiran ‘suhu netral’ atau suhu tertentu yang sesuai untuk
seseorang dinilai agak kurang tepat karena nilai kenyamanan bukan merupakan
konsep yang pasti dan berbeda bagi setiap individu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal antara lain:
2. Insulasi pakaian (nilai clo)
3. Temperatur udara
4. Temperatur radian
5. Kadar kelembapan udara relatif
6. Kecepatan angin
3.2. Suhu Radiasi2
3.3. Suhu Udara (T)
Selain pengaruh dari suhu udara terhadap suhu tubuh manusia, ada hal lain
yang ikut mempengaruhi suhu tubuh manusia yaitu suhu radiasi. Suhu radiasi
adalah panas yang beradiasi dari objek yang dapat mengeluarkan panas. Suhu
radiasi memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan suhu udara
dalam melepas atau menerima panas dari atau ke lingkungan.
Dalam setiap lingkungan kerja akan terjadi pertukaran panas yang
berkelanjutan, refleksi dan absorbsi.
3
Tubuh manusia mempertahankan keseimbangan panas tersebut dengan
meningkatkan sirkuliasi darah ke kulit, karena itu kita berkeringat pada hari panas. Pada umumnya, sistem sistem termoregulasi tubuh manusia selalu
mencoba untuk mempertahankan kestabilan suhu internal (inti) tubuh sekitar
36,1oC hingga 37,2oC (97oF hingga 99oF). Suhu inti harus selalu berada dalam
interval tersebut untuk menghindari kerusakan terhadap tubuh dan performansi.
Ketika pekerjaan fisik dilakukan, tambahan suhu tubuh akan terjadi. Jika
ditambahkan keadaan yang tingkat kelembabannya tinggi terhadap suhu ambient,
maka hasilnya akan mengarah pada kelelahan dan resiko kesehatan.
2
Ibid., hal 16.
3
Ketika hari dingin, tubuh mereduksi sirkulasi darah ke kulit dan kita akan merasa
sedikit hangat. Tubuh menghasilkan panas melalui metabolisme dan pekerjaan
fisik. Untuk menjaga keseimbangan panas internal, tubuh melakukan pertukaran
panas dengan lingkungan dengan empat cara berikut ini.
1. Konveksi
Proses ini tergantung pada perbedaan udara dan suhu kulit. Jika suhu udara
lebih panas daripana kulit, maka kulit akan menyerap panas dari udara, yang
dapat dikatakan berarti menambah panas ke tubuh. Akan tetapi, jika suhu
udara lebih dingin daripada kulit, maka tubuh akan kehilangan panas.
2. Konduksi
Proses ini berkaitan dengan perbedaan suhu dari kulit dan permukaan yang
mengenai kontak langsung. Contoh, jika menyentuh sesuatu yang panas, maka
kulit akan menerima panas dan mungkin akan mengalami luka bakar.
3. Penguapan
Proses ini tergantung pada perbedaan tekanan uap air dari uap kulit dan uap
air pada lingkungan (atau kelembaban relatif).
4. Radiasi
Proses ini tergantung pada perbedaan termperatur kulit dengan
permukaan pada lingkungan. Contoh, berdiri di bawah pancaran sinar
matahari akan membuat kita menerima radiasi dari matahari.
Dari suatu penelitian dapat diperoleh hasil bahwa produktivitas kerja manusia
akan mencapai tingkat paling tinggi pada suhu sekitar 24 oC sampai
3.4. Kecepatan Udara (v)4
Kelembaban relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air pada udara
dengan jumlah maksimum uap air di udara yang bisa ditampung pada temperatur
tersebut. Kelembaban relatif antara 40%-70% kurang begitu berpengaruh
terhadap thermal comfort. Pada ruangan kantor, biasanya kelembaban dipertahankan pada 40% sampai 70% karena adanya komputer, sedangkan pada Pergerakan udara melalui tubuh dapat mempengaruhi aliran panas ke dan
dari suhu tubuh. Pergerakan udara akan bervariasi dalam setiap waktu, ruang dan
arah. Gambaran kecepatan udara pada suatu titik dapat bervariasi dalam waktu,
intensitas. Penelitian terhadap respon manusia, misalnya, ketidaknyamanan karena
aliran udara menunjukkan pentingnya variasi kecepatan udara. Pergerakan udara
(kombinasi dengan suhu udara) akan mempengaruhi tingkatan udara hangat atau
keringat 'diambil' dari tubuh, sehingga mempengaruhi suhu tubuh (Ken Parsons,
2003). Kecepatan aliran udara yang melewati seseorang dapat membantu
mendinginkan orang tersebut apabila angin lebih dingin dari lingkungan.
Kecepatan aliran udara adalah faktor yang sangat penting dalam kenyamanan
suhu karena manusia sensitif akan hal ini. Udara yang tidak bergerak yang
mendapat panas dalam ruangan tertutup akan menyebabkan seseorang merasa
kaku ataupun berkeringat. Menggerakkan udara dapat meningkatkan heat loss melalui konveksi tanpa perubahan pada temperatur udara keseluruhan.
3.5. Kelembaban Udara (RH)
4
tempat kerja outdoor, kelembaban relatif mungkin lebih besar dari 70% pada hari
yang panas. Lingkungan yang mempunyai kelembaban relatif tinggi mencegah
penguapan keringat dari kulit. Di lingkungan yang panas, kelembaban sangat
penting karena semakin sedikit keringat yang menguap pada kelembaban tinggi.
3.6. Keseimbangan Termal5,6
5
Naville, Stanton dkk. 2005. Handbook of Human Factors and Ergonomics Method. London:
Pengaturan suhu atau regulasi termal adalah suatu pengaturan secara
kompleks dari suatu proses fisiologis dimana terjadi kesetimbangan antara
produksi panas dengan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat
dipertahankan. Suhu tubuh manusia yang dapat kita raba/rasakan tidak hanya
didapat dari metabolism, tetapi juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. Panas
lingkungan yang semakin tinggi menyebabkan pengaruh yang semakin besar
terhadap suhu tubuh, sebaliknya jika suhu lingkungan semakin rendah maka
semakin banyak panas tubuh yang hilang. Dengan kata lain terjadi pertukaran
proses antara tubuh manusia yang di dapat dari metabolisme dengan tekanan
panasyang dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan. Selama pertukaran masih
seimbang, tidak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun
keselamatan kerja. Keseimbangan panas antara panas yang dihasilkan dengan
Gambar 2.1. Keseimbangan antara Panas yang Dihasilkan dengan Panas yang Dikeluarkan
Sumber: Handbook of Human Factors and Ergonomics Method, Naville Stanton
Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya
berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui
pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Heat stress
dapat terjadi pada kondisi panas yang diproduksi lebih besar daripada panas yang
hilang. Keseimbangan panas yang terjadi dalam tubuh dapat dilihat pada Gambar
2.2. berikut.
ASHRAE (1989a) memberikan persamaan keseimbangan panas sebagai
berikut:
M – W = (C + R + Esk) + ( Cres + Eres)
Dimana :
M : tingkat produksi energi metabolisme
W : tingkat pekerjaan mekanik
C : tingkat kehilangan panas konvektif dari kulit
R : tingkat kehilangan panas radiatif dari kulit
Esk : tingkat kehilangan panas pengupan total dari kulit
Cres : tingkat kehilangan panas konvektif dari pernapasan
Eres : tingkat kehilangan panas penguapan dari pernapasan
Catatan bahwa:
Esk = Ersw + Edif
Dimana:
Ersw : tingkat kehilangan panas penguapan kulit melalui keringat
Sebuah pendekatan praktis menganggap produksi panas didalam tubuh (M
– W), kehilangan panas pada kulit (C + R + Esk) dan kehilangan panas
dikarenakan pernapasan (Cres – Eres). Tujuan berikutnya adalah untuk
mengukur komponen persamaan keseimbangan panas di dalam istilah-istilah
parameter yang bisa ditentukan (diukur atau ditaksir). Produksi panas di
dalam tubuh di hubungkan kepada aktivitas seseorang. Umumnya, oksigen
dibawa ke dalam tubuh (menghirup udara) dan dibawa melalui darah ke
sel-sel tubuh, dimana digunakan untuk membakar makanan. Kebanyakan energi
yang dilepaskan berkenaan dengan panas bergantung pada aktivitas, beberapa
pekerjaan ekternal yang dilakukan.
Dimana:
fcl : Faktor area pakaian. Area permukaan tubuh yang ditutupi pakaian
Acl dibagi dengan area permukaan tubuh yang terbuka tanpa
pakaian
Rcl : daya tahan panas pakaian
to : Suhu operatif (oC)
tsk : Suhu kulit rata-rata (oC)
tr : Suhu radian rata-rata (oC)
Dimana v adalah kecepatan udara (m/s-2).
Koefisien perpindahan panas radiatif (hr) dapat ditentukan dengan:
hr = 4εσ
Dimana:
ε : Emisifitas area permukaan tubuh
σ : konstanta Stefan-boltzman 5,67 x 10-8 (Wm-2K-4)
Ar : area radiatif efektif tubuh (m2)
Suhu permukaan tubuh yang tertutupi oleh pakaian dihitung dengan:
Mulai dengan tcl = 0,0 dan lakukan evaluasi terhadap nilai-nilai baru untuk hr,
tcl, ht, tcl, hingga terjadi selisih antar tcl≤ 0,01.
Suhu operatif dihitung dengan rumus :
to =
Sedangkan kombinasi perpindahan panas dihitung dengan rumus:
h = hc +hr
Esk =
Cres + Eres = 0.0014 M (34 - ta) + 0,0173 M (5,87-Pa)
r adalah efisiensi dari keringat, nilai r menyatakan bebrapa keringat yang
menetes.
3.7. Perpindahan Panas dari Tubuh ke Kulit7
Metabolisme produksi panas terjadi pada semua bagian tubuh dan sistem
termoregulasi mengatur berapa banyak panas yang dipindahkan ke kulit. Dari
Gambar 3.13. dapat dilihat betapa pentingnya untuk mengetahui bahwa
perpindahan panas dipengaruhi oleh pakaian.
Gambar 3.3. Model Perpindahan Panas Sederhana dengan Insulasi Pakaian Sumber: Human Thermal Environments, Ken Parsons
3.8. Individual Clothing8
Dalam menjaga keseimbangan panas tubuh yang mengalir ke kulit,
menentukan suhu kulit, melalui perpindahan ke permukaan pakaian, menentukan
suhu pakaian dan suhu lingkungan luar maka tubuh harus menjaga keseimbangan
7
Ibid., hal. 212-213.
8
panas, panas akan mengalir keluar dari tubuh sampai mencapai kesetimbangan
suhu tubuh, suhu kulit dan suhu pakaian dalam suhu lingkungan
3.9. Metabolisme Tubuh Manusia (Metabolic Rate)9,10
3.10. Heat Stress Index (HSI)
Metabolic rate adalah panas di dalam tubuh sepanjang beraktivitas. Nilai dari metabolic rate sangat bervariasi tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan. Pada umumnya, metabolic rate diukur dalam satuan met (1 met = 50
kcal h-1 m-2). Semakin banyak melakukan aktivitas fisik maka semakin banyak
panas yang dihasilkan. Metabolisme merupakan proses perubahan secara fisik dan
kimiawi dalam jaringan maupun sel tubuh untuk mempertahankan hidup dan
pertumbuhannya. Semakin cepat terjadinya proses metabolisme, maka semakin
banyak energi yang dihasilkan dari proses pembakaran kalori tubuh.
11
Heat Stress Index (HSI) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya indikasi heat stress pada pekerja di
tempatnya bekerja. Metode ini dikembangkan oleh Belding dan Hact pada tahun
1955. Pada dasarnya, HSI merupakan perbandingan dari penguapan yang
dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan panas (Ereq) dari penguapan yang
diperoleh dari lingkungan (Emax).
9
3.11. Indeks Suhu Bola Basah (ISBB)12
2.12. Penilaian Beban Kerja Fisik
WBGT (Wet Bulb Globe Temperatur) sering disebut juga dengan ISBB.
Perhitungan ISBB terbagi menjadi 2 bagian, yaitu perhitungan ISBB di luar
ruangan dengan panas radiasi dan perhitungan ISBB di dalam ruangan (tanpa
panas radiasi).
Untuk ISBB dengan panas radiasi, digunakan rumus:
ISBB = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering
Sedangkan, rumus ISBB tanpa radiasi digunakan rumus
ISBB : 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola
13
2.12.1.Penilaian Beban Kerja Secara Langsung
Penilaian beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif,
yaitu metode penilaian langsung dan metode penilaian tidak langsung.
Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang
dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.
Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energi yang diperlukan untuk
dikonsumsi. Meskipun metode pengukuran asupan oksigen lebih akurat, namun
hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan
12
Ibid., hal. 345.
13
yang mahal. Kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme, respirasi
suhu tubuh dan denyut jantung dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh dan Denyut Jantung
Kategori
Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk
hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan regresi
kuadratis sebagai berikut:
E = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733 x X2
Dimana:
E = Energi (Kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)
2.12.2. Penilaian Beban Kerja Secara Tidak Langsung
Metode penilaian tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi
selama bekerja. Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu
metode untuk menilai cardiovasculair strain dengan metode 10 denyut (Kilbon,
1992) dimana dengan metode ini dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:
Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja
mempunyai beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, sangkil dan murah juga
tidak diperlukan peraltan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan tidak
menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa. Denyut nadi untuk
mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yaitu:
1. Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan
dimulai.
2. Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja.
3. Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat dengan denyut
nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting
didalam peningkatan cardia output dari istirahat sampai kerja maksimum.
Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja
maksimum oleh Rodahl (1989) dalam Tarwaka, dkk (2004:101) didefinisikan
sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam presentase yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.
100
Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah: (220 – umur) untuk laki-laki
dan (200 – umur) untuk perempuan Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi
beban kerja bedasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan
denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = %
BAB VI
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau Jl
Lubuk Pakam Sumberejo Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara
20551. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan April 2017- Selesai.
4.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif (Deskriptif
Research), yaitu penelitian yang berusaha untuk memaparkan pemecahan masalah terhadap suatu masalah yang ada sekarang secara sistematis dan faktual
berdasarkan data-data. Jadi penelitian ini meliputi proses pengumpulan,
penyajian, dan pengolahan data, serta analisis pemecahan.
3.3. Objek Penelitian
Objek penelitian yang diamati adalah operator stasiun ketel uap (Boiler
Station) yang mengalami paparan panas.
4.4. Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah :
Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam pengukuran adalah variabel terikat,
1. Variabel terikat
a. Kondisi termal Heat stress index
2. Variabel bebas
3. Variabel intervening : Kondisi psikologis
4. Variabel moderator : Cara berpakaian pekerja
4.5. Kerangka Konseptual Penelitian
Kerangka konseptual menggambarkan alur berpikir/konsep dalam
menyelesaikan permasalahan, yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Temperatur
4.6. Rancangan Penelitian
4.5. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode, yaitu:
1. Metode grafik
Dilakukan dengan membandingkan gambar-gambar grafik kondisi temperatur
ruangan (T), kecepatan angin (V), kelembaban udara (RH), temperatur basah,
temperatur kering, grafik area permukaan tubuh Dubois, grafik data psikologi
operator, grafik indeks suhu bola basah, perbandingan denyut nadi, suhu tubuh
dan tekanan darah.
2. Metode Statistik
Metode statistik meliputi: uji kecukupan data (data termal), uji regresi dan
korelasi pengaruh kecepatan angin terhadap suhu dan pengaruh kelembaban
terhadap suhu, perhitungan nilai rata-rata, standar deviasi, area permukaan tubuh
Dubois data personal, perhitungan indeks suhu bola basah (ISBB), perhitungan
Heat Stress Index dan perhitungan keseimbangan panas.
4.6. Analisa Data
Analisis dilakukan dengan menggunakan metode, yaitu:
1. Metode non statistik.
Adapun metode non statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:
Analisis grafik hasil penelitian temperatur ruangan (T), kecepatan udara (V),
kelembaban (RH) dan kuesioner termal yang ada di pabrik dan
membandingkannya dengan standar kenyamanan yang diterapkan oleh ASHRAE
keluarkan Menteri Tenaga Kerja tentang nilai ambang batas (NAB) faktor fisika
di tempat kerja.
2. Metode statistik
Adapun metode statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:
Analisis regresi dan korelasi untuk melihat hubungan antara variabel bebas
(faktor lingkungan: suhu, kecepatan udara, kelembaban relatif, suhu basah, suhu
kering dan suhu bola serta faktor manusia: tingkat metabolisme dan insulasi
pakaian) juga hubungan tekanan darah, denyut nadi dan suhu tubuh terhadap
kesehatan pekerja.
4.7. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dan saran berisi hal-hal yang penting hasil dari penelitian dan
BAB V
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data Respon Fisiologis
Data respon fisiologis dikumpulkan dan diolah pada penelitian berikut
merupakan data denyut nadi. Data denyut nadi digunakan untuk menilai secara
langsung dengan menentukan jumlah kebutuhan energi yang dikonsumsi untuk
suatu operator.
5.1.1. Karakteristik Operator
Karakteristik operator yang akan diambil merupakan identitas operator
pada stasiun boiler. Identitas operator pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Data Pribadi Operator Stasiun Boiler Operator Jenis Kelamin Usia
(tahun)
Berat Badan (kg)
Tinggi Badan (cm)
Operator 1 L 45 55 163
Operator 2 L 43 60 162
Operator 3 L 35 56 167
Operator 4 L 46 59 161
Operator 5 L 39 62 164
5.1.2. Tingkat Data Denyut Nadi Operator
Tingkat denyut nadi istirahat dan data denyut nadi kerja operator dapat
Tabel 5.2. Denyut Nadi Istirahat dan Denyut Nadi Kerja Operator
5.1.3. Data Kuesioner Kenyaman Termal
Kenyamanan termal yang dirasakan oleh operator pada lantai produksi
dapat dilihat dari kuesioner kenyamanan termal yang dibagikan.
5.1.6. Perhitungan Beban Kerja Operator
Metode penilaian secara langsung digunakan untuk menentukan jumlah
kebutuhan energi yang di konsumsi untuk suatu operator.
Data yang dikumpulkan untuk perhitungan beban kerja merupakan data
denyut nadi istirahat (DNI) dan denyut nadi kerja (DNK) operator pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6. Rekapitulasi Denyut Nadi Operator
No. Operator Umur
5.1.7. Pengolahan Fisiologi
5.1.7.1. Metode Penilaian Secara Langsung
Y = 1,80411 − 0,0229038 X + 4,71733 . 10-4 X2
Dimana:
Y = Energi (kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)
Kategori beban kerja berdasarkan konsumsi energi (Y) dengan konversi satuan ke
dalam Kkal per jam adalah sebagai berikut:
Beban kerja ringan : 100−200 kkal/jam
Beban kerja sedang : >201−350 kkal/jam
Beban kerja berat : >351−500 kkal/jam
Sebagai contoh berikut adalah perhitungan konsumsi energi untuk
operator 1 dengan Denyut Nadi Kerja 146 yaitu:
Y = 1,80411 − 0,0229038 (146) + 4,71733. 10-4 (146)2
= 8,515Kkal/menit
= 510,909 Kkal/jam
5.1.7.2. Metode Penilaian secara Tidak Langsung
Perhitungan % Cardiovascular Load (%CVL) Cardiovascular Load yaitu suatu perhitungan untuk menentukan klasifikasi beban kerja berdasarkan
peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum.
Cardiovasculair Load (%CVL) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
istirahat
a. Laki-laki = 220 – umur
b. Wanita = 200 - umur
Dari perhitungan % CVL tersebut akan dibandingkan dengan klasifikasi
yang telah ditetapkan sebagai berikut :
< 30% = Tidak terjadi kelelahan
30 – <60% = Diperlukan perbaikan
60 – <80 = Kerja dalam waktu singkat
80 – <100% = Diperlukan tindakan segera
>100% = Tidak diperbolehkan beraktivitas
Sebagai contoh, berikut adalah perhitungan %CVL dari operator 1.
DNM Operator 1 = 220 – 35 = 185
Perhitungan %CVL untuk Operator 1 adalah sebagai berikut:
%
5.4.3. Perhitungan Proporsi Work-Idle
Perhitungan proporsi work dan idle dilakukan dengan menggunakan data
activity sampling yang dilakukan pada 5 operator. Perhitungan proporsi work dan idle dilakukan dalam 2 pengukuran. Seluruh operator dilantai produksi bekerja dari pukul 07.01 WIB sampai dengan 16.00 WIB dengan jam istirahat dari pukul
12.00 sampai 13.00. Berdasarkan jam kerja tersebut, jumlah populasi penelitian
Jumlah satuan menit dari pukul 08.00-12.00 dan 13.00-17.00 adalah 420 (populasi
waktu penelitian). Untuk menentukan jumlah sample dari 420 data populasi waktu
penelituian. Untuk menentukan jumlah sample dari populasi tersebut, maka
digunakan teknik pengambilan sampel dengan rumus slovin.
n ≥
dimana, N = Jumlah populasi (420)
e = % galat (digunakan 5%)
dengan persamaan diatas maka dapat dihitung jumlah sampel pada pengamatan
BAB VI
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
6.1. Analisis Kondisi Lingkungan Kerja Akibat Termal
Kondisi lingkungan kerja akibat termal di boiler dipengaruhi oleh paparan panas dari tungku pembakaran boiler.
6.1.1. Analisis Persepsi Paparan Panas Operator
Kuesioner termal digunakan untuk mengetahui keluhan pekerja mengenai
kondisi termal dan dampak keluhan fisik akibat termal (Listiani Nurul Huda,
2012).
Dampak kelelahan fisik yang diindentifikasi sebelum dan sesudah bekerja
terdiri dari bagian tangan, bahu, punggung dan kaki. Untuk masing-masing
pertanyaan diberi diberi skala nilai dari 0 untuk kategori tidak lelah, 1 untuk
kategori sedikit lelah, 2 untuk kategori lelah, 3 untuk kategori sangat lelah.
Kuesioner diberikan kepada operator bagian tarik abu di stasiun boiler yang
berjumlah 5 orang.
Berdasarkan data yang diperoleh, maka diketahui bahwa secara rata-rata
termal yang diharapkan operator yaitu jauh lebih sejuk, dan efek dari kondisi
termal rata-rata yang dirasakan operator sangat menganggu. Dengan demikian
maka kondisi tersebut memerlukan perhatian untuk perbaikan terhadap
kenyamanan termal operator di stasiun kerja.
6.1.2. Analisis Heat Stress Index (HSI)
Perhitungan Heat Stress Index secara rata-rata adalah. Berdasarkan standar
Ken Parsons, hal tersebut menunjukkan bahwa heat stress index yang terjadi di
stasiun kerja tersebut termasuk dalam kategori “very severe heat strain” atau “tekanan panas yang sangat mengganggu dan berbahaya bagi kesehatan”, dimana
dalam kategori ini, kondisi panas yang dirasakan sudah akan mengganggu
kesehatan dan kenyamanan operator.
Hasil perhitungan regresi dan korelasi dari tiap variabel termal terhadap
nilai HSI diperoleh variabel temperatur udara memiliki nilai korelasi yang
tertinggi yaitu sebesar 0,964 yang berarti berpengaruh sangat kuat terhadap HSI.
Maka, temperatur menjadi variabel yang diutamakan dalam usulan perbaikan.
Tabel 6.1. merupakan hasil rekapitulasi perhitungan korelasi dari tiap variabel
termal.
6.1.3. Analisis Indeks Suhu Bola Basah (Wet Bulb Globe Temperature)
Berdasarkan perhitungan pada pengolahan data, maka diperoleh hasil
Menggunakan hasil ISBB dan kategori beban kerja, maka dapat diketahui
presentase jam kerja dan istirahat.
6.1.4. Analisis Keluhan Kelelahan Fisik Pada Kondisi Termal
Hasil identifikasi dengan kuisioner kelelahan menjukkan bahwa bagian
tubuh yang mengalami tingkat keluhan tertinggi adalah bahu , kedua tertinggi
adalah punggung. Gambar 6.2. menunjukkan tingkat keluhan operator bagian tarik
abu di stasiun boiler. Kategori sangat lelah pada keluhan fisik bagian tangan
dirasakan operator 2 dan kategori lelah dirasakan operator 1,3,4, dan 5. Kategori
sangat lelah pada keluhan fisik bagian bahu dirasakan operator 2,3,4 dan kategori
lelah dirasakan operator 1 dan 5.
6.1.5. Analisis Postur Kerja dengan Rapid Entire Body Assesment (REBA)
Selain postur kerja terdapat faktor yang dapat menyebabkan risiko keluhan
yaitu peregangan otot yang berlebihan seperti aktivitas mengangkat,
memindahkan dan mendorong, sikap kerja tidak alamiah seperti pergerakan
tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk dan kepala terangkat (Seviana
2016).
Analisis postur kerja pada aktivitas menarik abu dari dalam tungku
pembakaran boiler termasuk dalam kategori tingkat risiko “Tinggi” dengan skor
REBA akhir sebesar 10 dan level tindakan 3 yang berarti perlu tindakan
secepatnya. Tindakan perbaikan yang diperlukan perbaikan desain kerja seperti
mengurangi paparan panas. Perancangan alat yang dirancang adalah penyangga
stick.
6.2. Perancangan Alat Bantu Kerja Operator Tarik Abu
Pengamatan antropometri dilakukan untuk perancangan alat penyangga
stick. Data dimensi yang digunakan dalam perancangan alat yakni Lebar Bahu (LB), Tinggi Siku Berdiri (TSB), dan Diameter Genggaman (DG) dengan data
diperoleh dari pengukuran operator stasiun boiler dan Laboratorium Ergonomi
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pemecahan masalah yang dilakukan maka
dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Lebar bahu dana tinggi siku berdiri menggunakan persentil 95 sedangkan
dimensi diameter genggaman menggunakan persentil 50.
2. Penilian postur kerja aktual dengan metode REBA menunjukkan bahwa
kelima operator mengalami perlu tindakan secepatnya dengan level resiko
tinggi.
7.2. Saran
Saran yang diberikan untuk penelitian ini adalah
1. Sebaiknya perusahaan menambahkan pendingin pada lantai produksi di
stasiun boiler agar dapat memenuhi standar suhu yang ditetapkan.
2. Diperlukan penentuan tenaga kerja dan rotasi kerja terhadap operator.
3. Sebaiknya perusahaan menambah waktu jam istirahat dan penambahan jarak
mesin dan operator. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan kinerja