• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbaikan Desain Kerja Untuk Mereduksi Heat Stress Pada Pekerja Stasiun Ketel Uap (Boiler Station) di PTPN II Pagar Merbau Chapter III VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbaikan Desain Kerja Untuk Mereduksi Heat Stress Pada Pekerja Stasiun Ketel Uap (Boiler Station) di PTPN II Pagar Merbau Chapter III VII"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Kenyamanan Termal1

1. Tingkat aktivitas (metabolisme dalam tubuh)

American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning Engineering (ASHRAE) mendefinisikan kenyamanan termal sebagai hasil pemikiran seseorang mengenai kepuasan terdadap keadaan termal di sekitarnya.

Oleh karena kenyamanan adalah “suatu pemikiran, persamaan empiris harus

digunakan untuk mengaitkan respon kenyamanan terhadap sambutan tubuh.

Kenyamanan termal merupakan kepuasan yang dialami oleh seseorang manusia

yang menerima suatu keadaan termal. Keadaan ini dapat dialami secara sadar

ataupun tidak. Pemikiran ‘suhu netral’ atau suhu tertentu yang sesuai untuk

seseorang dinilai agak kurang tepat karena nilai kenyamanan bukan merupakan

konsep yang pasti dan berbeda bagi setiap individu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal antara lain:

2. Insulasi pakaian (nilai clo)

3. Temperatur udara

4. Temperatur radian

5. Kadar kelembapan udara relatif

(2)

6. Kecepatan angin

3.2. Suhu Radiasi2

3.3. Suhu Udara (T)

Selain pengaruh dari suhu udara terhadap suhu tubuh manusia, ada hal lain

yang ikut mempengaruhi suhu tubuh manusia yaitu suhu radiasi. Suhu radiasi

adalah panas yang beradiasi dari objek yang dapat mengeluarkan panas. Suhu

radiasi memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan suhu udara

dalam melepas atau menerima panas dari atau ke lingkungan.

Dalam setiap lingkungan kerja akan terjadi pertukaran panas yang

berkelanjutan, refleksi dan absorbsi.

3

Tubuh manusia mempertahankan keseimbangan panas tersebut dengan

meningkatkan sirkuliasi darah ke kulit, karena itu kita berkeringat pada hari panas. Pada umumnya, sistem sistem termoregulasi tubuh manusia selalu

mencoba untuk mempertahankan kestabilan suhu internal (inti) tubuh sekitar

36,1oC hingga 37,2oC (97oF hingga 99oF). Suhu inti harus selalu berada dalam

interval tersebut untuk menghindari kerusakan terhadap tubuh dan performansi.

Ketika pekerjaan fisik dilakukan, tambahan suhu tubuh akan terjadi. Jika

ditambahkan keadaan yang tingkat kelembabannya tinggi terhadap suhu ambient,

maka hasilnya akan mengarah pada kelelahan dan resiko kesehatan.

2

Ibid., hal 16.

3

(3)

Ketika hari dingin, tubuh mereduksi sirkulasi darah ke kulit dan kita akan merasa

sedikit hangat. Tubuh menghasilkan panas melalui metabolisme dan pekerjaan

fisik. Untuk menjaga keseimbangan panas internal, tubuh melakukan pertukaran

panas dengan lingkungan dengan empat cara berikut ini.

1. Konveksi

Proses ini tergantung pada perbedaan udara dan suhu kulit. Jika suhu udara

lebih panas daripana kulit, maka kulit akan menyerap panas dari udara, yang

dapat dikatakan berarti menambah panas ke tubuh. Akan tetapi, jika suhu

udara lebih dingin daripada kulit, maka tubuh akan kehilangan panas.

2. Konduksi

Proses ini berkaitan dengan perbedaan suhu dari kulit dan permukaan yang

mengenai kontak langsung. Contoh, jika menyentuh sesuatu yang panas, maka

kulit akan menerima panas dan mungkin akan mengalami luka bakar.

3. Penguapan

Proses ini tergantung pada perbedaan tekanan uap air dari uap kulit dan uap

air pada lingkungan (atau kelembaban relatif).

4. Radiasi

Proses ini tergantung pada perbedaan termperatur kulit dengan

permukaan pada lingkungan. Contoh, berdiri di bawah pancaran sinar

matahari akan membuat kita menerima radiasi dari matahari.

Dari suatu penelitian dapat diperoleh hasil bahwa produktivitas kerja manusia

akan mencapai tingkat paling tinggi pada suhu sekitar 24 oC sampai

(4)

3.4. Kecepatan Udara (v)4

Kelembaban relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air pada udara

dengan jumlah maksimum uap air di udara yang bisa ditampung pada temperatur

tersebut. Kelembaban relatif antara 40%-70% kurang begitu berpengaruh

terhadap thermal comfort. Pada ruangan kantor, biasanya kelembaban dipertahankan pada 40% sampai 70% karena adanya komputer, sedangkan pada Pergerakan udara melalui tubuh dapat mempengaruhi aliran panas ke dan

dari suhu tubuh. Pergerakan udara akan bervariasi dalam setiap waktu, ruang dan

arah. Gambaran kecepatan udara pada suatu titik dapat bervariasi dalam waktu,

intensitas. Penelitian terhadap respon manusia, misalnya, ketidaknyamanan karena

aliran udara menunjukkan pentingnya variasi kecepatan udara. Pergerakan udara

(kombinasi dengan suhu udara) akan mempengaruhi tingkatan udara hangat atau

keringat 'diambil' dari tubuh, sehingga mempengaruhi suhu tubuh (Ken Parsons,

2003). Kecepatan aliran udara yang melewati seseorang dapat membantu

mendinginkan orang tersebut apabila angin lebih dingin dari lingkungan.

Kecepatan aliran udara adalah faktor yang sangat penting dalam kenyamanan

suhu karena manusia sensitif akan hal ini. Udara yang tidak bergerak yang

mendapat panas dalam ruangan tertutup akan menyebabkan seseorang merasa

kaku ataupun berkeringat. Menggerakkan udara dapat meningkatkan heat loss melalui konveksi tanpa perubahan pada temperatur udara keseluruhan.

3.5. Kelembaban Udara (RH)

4

(5)

tempat kerja outdoor, kelembaban relatif mungkin lebih besar dari 70% pada hari

yang panas. Lingkungan yang mempunyai kelembaban relatif tinggi mencegah

penguapan keringat dari kulit. Di lingkungan yang panas, kelembaban sangat

penting karena semakin sedikit keringat yang menguap pada kelembaban tinggi.

3.6. Keseimbangan Termal5,6

5

Naville, Stanton dkk. 2005. Handbook of Human Factors and Ergonomics Method. London:

Pengaturan suhu atau regulasi termal adalah suatu pengaturan secara

kompleks dari suatu proses fisiologis dimana terjadi kesetimbangan antara

produksi panas dengan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat

dipertahankan. Suhu tubuh manusia yang dapat kita raba/rasakan tidak hanya

didapat dari metabolism, tetapi juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. Panas

lingkungan yang semakin tinggi menyebabkan pengaruh yang semakin besar

terhadap suhu tubuh, sebaliknya jika suhu lingkungan semakin rendah maka

semakin banyak panas tubuh yang hilang. Dengan kata lain terjadi pertukaran

proses antara tubuh manusia yang di dapat dari metabolisme dengan tekanan

panasyang dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan. Selama pertukaran masih

seimbang, tidak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun

keselamatan kerja. Keseimbangan panas antara panas yang dihasilkan dengan

(6)

Gambar 2.1. Keseimbangan antara Panas yang Dihasilkan dengan Panas yang Dikeluarkan

Sumber: Handbook of Human Factors and Ergonomics Method, Naville Stanton

Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya

berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui

pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Heat stress

dapat terjadi pada kondisi panas yang diproduksi lebih besar daripada panas yang

hilang. Keseimbangan panas yang terjadi dalam tubuh dapat dilihat pada Gambar

2.2. berikut.

(7)

ASHRAE (1989a) memberikan persamaan keseimbangan panas sebagai

berikut:

M – W = (C + R + Esk) + ( Cres + Eres)

Dimana :

M : tingkat produksi energi metabolisme

W : tingkat pekerjaan mekanik

C : tingkat kehilangan panas konvektif dari kulit

R : tingkat kehilangan panas radiatif dari kulit

Esk : tingkat kehilangan panas pengupan total dari kulit

Cres : tingkat kehilangan panas konvektif dari pernapasan

Eres : tingkat kehilangan panas penguapan dari pernapasan

Catatan bahwa:

Esk = Ersw + Edif

Dimana:

Ersw : tingkat kehilangan panas penguapan kulit melalui keringat

(8)

Sebuah pendekatan praktis menganggap produksi panas didalam tubuh (M

– W), kehilangan panas pada kulit (C + R + Esk) dan kehilangan panas

dikarenakan pernapasan (Cres – Eres). Tujuan berikutnya adalah untuk

mengukur komponen persamaan keseimbangan panas di dalam istilah-istilah

parameter yang bisa ditentukan (diukur atau ditaksir). Produksi panas di

dalam tubuh di hubungkan kepada aktivitas seseorang. Umumnya, oksigen

dibawa ke dalam tubuh (menghirup udara) dan dibawa melalui darah ke

sel-sel tubuh, dimana digunakan untuk membakar makanan. Kebanyakan energi

yang dilepaskan berkenaan dengan panas bergantung pada aktivitas, beberapa

pekerjaan ekternal yang dilakukan.

Dimana:

fcl : Faktor area pakaian. Area permukaan tubuh yang ditutupi pakaian

Acl dibagi dengan area permukaan tubuh yang terbuka tanpa

pakaian

Rcl : daya tahan panas pakaian

to : Suhu operatif (oC)

tsk : Suhu kulit rata-rata (oC)

tr : Suhu radian rata-rata (oC)

(9)

Dimana v adalah kecepatan udara (m/s-2).

Koefisien perpindahan panas radiatif (hr) dapat ditentukan dengan:

hr = 4εσ

Dimana:

ε : Emisifitas area permukaan tubuh

σ : konstanta Stefan-boltzman 5,67 x 10-8 (Wm-2K-4)

Ar : area radiatif efektif tubuh (m2)

Suhu permukaan tubuh yang tertutupi oleh pakaian dihitung dengan:

Mulai dengan tcl = 0,0 dan lakukan evaluasi terhadap nilai-nilai baru untuk hr,

tcl, ht, tcl, hingga terjadi selisih antar tcl≤ 0,01.

Suhu operatif dihitung dengan rumus :

to =

Sedangkan kombinasi perpindahan panas dihitung dengan rumus:

h = hc +hr

(10)

Esk =

Cres + Eres = 0.0014 M (34 - ta) + 0,0173 M (5,87-Pa)

r adalah efisiensi dari keringat, nilai r menyatakan bebrapa keringat yang

menetes.

3.7. Perpindahan Panas dari Tubuh ke Kulit7

Metabolisme produksi panas terjadi pada semua bagian tubuh dan sistem

termoregulasi mengatur berapa banyak panas yang dipindahkan ke kulit. Dari

Gambar 3.13. dapat dilihat betapa pentingnya untuk mengetahui bahwa

perpindahan panas dipengaruhi oleh pakaian.

Gambar 3.3. Model Perpindahan Panas Sederhana dengan Insulasi Pakaian Sumber: Human Thermal Environments, Ken Parsons

3.8. Individual Clothing8

Dalam menjaga keseimbangan panas tubuh yang mengalir ke kulit,

menentukan suhu kulit, melalui perpindahan ke permukaan pakaian, menentukan

suhu pakaian dan suhu lingkungan luar maka tubuh harus menjaga keseimbangan

7

Ibid., hal. 212-213.

8

(11)

panas, panas akan mengalir keluar dari tubuh sampai mencapai kesetimbangan

suhu tubuh, suhu kulit dan suhu pakaian dalam suhu lingkungan

3.9. Metabolisme Tubuh Manusia (Metabolic Rate)9,10

3.10. Heat Stress Index (HSI)

Metabolic rate adalah panas di dalam tubuh sepanjang beraktivitas. Nilai dari metabolic rate sangat bervariasi tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan. Pada umumnya, metabolic rate diukur dalam satuan met (1 met = 50

kcal h-1 m-2). Semakin banyak melakukan aktivitas fisik maka semakin banyak

panas yang dihasilkan. Metabolisme merupakan proses perubahan secara fisik dan

kimiawi dalam jaringan maupun sel tubuh untuk mempertahankan hidup dan

pertumbuhannya. Semakin cepat terjadinya proses metabolisme, maka semakin

banyak energi yang dihasilkan dari proses pembakaran kalori tubuh.

11

Heat Stress Index (HSI) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya indikasi heat stress pada pekerja di

tempatnya bekerja. Metode ini dikembangkan oleh Belding dan Hact pada tahun

1955. Pada dasarnya, HSI merupakan perbandingan dari penguapan yang

dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan panas (Ereq) dari penguapan yang

diperoleh dari lingkungan (Emax).

9

(12)

3.11. Indeks Suhu Bola Basah (ISBB)12

2.12. Penilaian Beban Kerja Fisik

WBGT (Wet Bulb Globe Temperatur) sering disebut juga dengan ISBB.

Perhitungan ISBB terbagi menjadi 2 bagian, yaitu perhitungan ISBB di luar

ruangan dengan panas radiasi dan perhitungan ISBB di dalam ruangan (tanpa

panas radiasi).

Untuk ISBB dengan panas radiasi, digunakan rumus:

ISBB = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering

Sedangkan, rumus ISBB tanpa radiasi digunakan rumus

ISBB : 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola

13

2.12.1.Penilaian Beban Kerja Secara Langsung

Penilaian beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif,

yaitu metode penilaian langsung dan metode penilaian tidak langsung.

Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang

dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.

Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energi yang diperlukan untuk

dikonsumsi. Meskipun metode pengukuran asupan oksigen lebih akurat, namun

hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan

12

Ibid., hal. 345.

13

(13)

yang mahal. Kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme, respirasi

suhu tubuh dan denyut jantung dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh dan Denyut Jantung

Kategori

Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk

hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan regresi

kuadratis sebagai berikut:

E = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733 x X2

Dimana:

E = Energi (Kkal/menit)

X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)

2.12.2. Penilaian Beban Kerja Secara Tidak Langsung

Metode penilaian tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi

selama bekerja. Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu

metode untuk menilai cardiovasculair strain dengan metode 10 denyut (Kilbon,

1992) dimana dengan metode ini dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:

(14)

Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja

mempunyai beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, sangkil dan murah juga

tidak diperlukan peraltan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan tidak

menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa. Denyut nadi untuk

mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yaitu:

1. Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan

dimulai.

2. Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja.

3. Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat dengan denyut

nadi kerja.

Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting

didalam peningkatan cardia output dari istirahat sampai kerja maksimum.

Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja

maksimum oleh Rodahl (1989) dalam Tarwaka, dkk (2004:101) didefinisikan

sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam presentase yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.

100

Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah: (220 – umur) untuk laki-laki

dan (200 – umur) untuk perempuan Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi

beban kerja bedasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan

denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = %

(15)
(16)

BAB VI

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau Jl

Lubuk Pakam Sumberejo Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara

20551. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan April 2017- Selesai.

4.2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif (Deskriptif

Research), yaitu penelitian yang berusaha untuk memaparkan pemecahan masalah terhadap suatu masalah yang ada sekarang secara sistematis dan faktual

berdasarkan data-data. Jadi penelitian ini meliputi proses pengumpulan,

penyajian, dan pengolahan data, serta analisis pemecahan.

3.3. Objek Penelitian

Objek penelitian yang diamati adalah operator stasiun ketel uap (Boiler

Station) yang mengalami paparan panas.

4.4. Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah :

Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam pengukuran adalah variabel terikat,

(17)

1. Variabel terikat

a. Kondisi termal Heat stress index

2. Variabel bebas

3. Variabel intervening : Kondisi psikologis

4. Variabel moderator : Cara berpakaian pekerja

4.5. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual menggambarkan alur berpikir/konsep dalam

menyelesaikan permasalahan, yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Temperatur

(18)

4.6. Rancangan Penelitian

4.5. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode, yaitu:

1. Metode grafik

Dilakukan dengan membandingkan gambar-gambar grafik kondisi temperatur

ruangan (T), kecepatan angin (V), kelembaban udara (RH), temperatur basah,

temperatur kering, grafik area permukaan tubuh Dubois, grafik data psikologi

operator, grafik indeks suhu bola basah, perbandingan denyut nadi, suhu tubuh

dan tekanan darah.

2. Metode Statistik

Metode statistik meliputi: uji kecukupan data (data termal), uji regresi dan

korelasi pengaruh kecepatan angin terhadap suhu dan pengaruh kelembaban

terhadap suhu, perhitungan nilai rata-rata, standar deviasi, area permukaan tubuh

Dubois data personal, perhitungan indeks suhu bola basah (ISBB), perhitungan

Heat Stress Index dan perhitungan keseimbangan panas.

4.6. Analisa Data

Analisis dilakukan dengan menggunakan metode, yaitu:

1. Metode non statistik.

Adapun metode non statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:

Analisis grafik hasil penelitian temperatur ruangan (T), kecepatan udara (V),

kelembaban (RH) dan kuesioner termal yang ada di pabrik dan

membandingkannya dengan standar kenyamanan yang diterapkan oleh ASHRAE

(19)

keluarkan Menteri Tenaga Kerja tentang nilai ambang batas (NAB) faktor fisika

di tempat kerja.

2. Metode statistik

Adapun metode statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:

Analisis regresi dan korelasi untuk melihat hubungan antara variabel bebas

(faktor lingkungan: suhu, kecepatan udara, kelembaban relatif, suhu basah, suhu

kering dan suhu bola serta faktor manusia: tingkat metabolisme dan insulasi

pakaian) juga hubungan tekanan darah, denyut nadi dan suhu tubuh terhadap

kesehatan pekerja.

4.7. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan dan saran berisi hal-hal yang penting hasil dari penelitian dan

(20)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data Respon Fisiologis

Data respon fisiologis dikumpulkan dan diolah pada penelitian berikut

merupakan data denyut nadi. Data denyut nadi digunakan untuk menilai secara

langsung dengan menentukan jumlah kebutuhan energi yang dikonsumsi untuk

suatu operator.

5.1.1. Karakteristik Operator

Karakteristik operator yang akan diambil merupakan identitas operator

pada stasiun boiler. Identitas operator pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Data Pribadi Operator Stasiun Boiler Operator Jenis Kelamin Usia

(tahun)

Berat Badan (kg)

Tinggi Badan (cm)

Operator 1 L 45 55 163

Operator 2 L 43 60 162

Operator 3 L 35 56 167

Operator 4 L 46 59 161

Operator 5 L 39 62 164

5.1.2. Tingkat Data Denyut Nadi Operator

Tingkat denyut nadi istirahat dan data denyut nadi kerja operator dapat

(21)

Tabel 5.2. Denyut Nadi Istirahat dan Denyut Nadi Kerja Operator

5.1.3. Data Kuesioner Kenyaman Termal

Kenyamanan termal yang dirasakan oleh operator pada lantai produksi

dapat dilihat dari kuesioner kenyamanan termal yang dibagikan.

5.1.6. Perhitungan Beban Kerja Operator

Metode penilaian secara langsung digunakan untuk menentukan jumlah

kebutuhan energi yang di konsumsi untuk suatu operator.

Data yang dikumpulkan untuk perhitungan beban kerja merupakan data

denyut nadi istirahat (DNI) dan denyut nadi kerja (DNK) operator pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6. Rekapitulasi Denyut Nadi Operator

No. Operator Umur

5.1.7. Pengolahan Fisiologi

5.1.7.1. Metode Penilaian Secara Langsung

(22)

Y = 1,80411 − 0,0229038 X + 4,71733 . 10-4 X2

Dimana:

Y = Energi (kkal/menit)

X = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)

Kategori beban kerja berdasarkan konsumsi energi (Y) dengan konversi satuan ke

dalam Kkal per jam adalah sebagai berikut:

Beban kerja ringan : 100−200 kkal/jam

Beban kerja sedang : >201−350 kkal/jam

Beban kerja berat : >351−500 kkal/jam

Sebagai contoh berikut adalah perhitungan konsumsi energi untuk

operator 1 dengan Denyut Nadi Kerja 146 yaitu:

Y = 1,80411 − 0,0229038 (146) + 4,71733. 10-4 (146)2

= 8,515Kkal/menit

= 510,909 Kkal/jam

5.1.7.2. Metode Penilaian secara Tidak Langsung

Perhitungan % Cardiovascular Load (%CVL) Cardiovascular Load yaitu suatu perhitungan untuk menentukan klasifikasi beban kerja berdasarkan

peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum.

Cardiovasculair Load (%CVL) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

istirahat

(23)

a. Laki-laki = 220 – umur

b. Wanita = 200 - umur

Dari perhitungan % CVL tersebut akan dibandingkan dengan klasifikasi

yang telah ditetapkan sebagai berikut :

< 30% = Tidak terjadi kelelahan

30 – <60% = Diperlukan perbaikan

60 – <80 = Kerja dalam waktu singkat

80 – <100% = Diperlukan tindakan segera

>100% = Tidak diperbolehkan beraktivitas

Sebagai contoh, berikut adalah perhitungan %CVL dari operator 1.

DNM Operator 1 = 220 – 35 = 185

Perhitungan %CVL untuk Operator 1 adalah sebagai berikut:

%

5.4.3. Perhitungan Proporsi Work-Idle

Perhitungan proporsi work dan idle dilakukan dengan menggunakan data

activity sampling yang dilakukan pada 5 operator. Perhitungan proporsi work dan idle dilakukan dalam 2 pengukuran. Seluruh operator dilantai produksi bekerja dari pukul 07.01 WIB sampai dengan 16.00 WIB dengan jam istirahat dari pukul

12.00 sampai 13.00. Berdasarkan jam kerja tersebut, jumlah populasi penelitian

(24)

Jumlah satuan menit dari pukul 08.00-12.00 dan 13.00-17.00 adalah 420 (populasi

waktu penelitian). Untuk menentukan jumlah sample dari 420 data populasi waktu

penelituian. Untuk menentukan jumlah sample dari populasi tersebut, maka

digunakan teknik pengambilan sampel dengan rumus slovin.

n ≥

dimana, N = Jumlah populasi (420)

e = % galat (digunakan 5%)

dengan persamaan diatas maka dapat dihitung jumlah sampel pada pengamatan

(25)

BAB VI

ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1. Analisis Kondisi Lingkungan Kerja Akibat Termal

Kondisi lingkungan kerja akibat termal di boiler dipengaruhi oleh paparan panas dari tungku pembakaran boiler.

6.1.1. Analisis Persepsi Paparan Panas Operator

Kuesioner termal digunakan untuk mengetahui keluhan pekerja mengenai

kondisi termal dan dampak keluhan fisik akibat termal (Listiani Nurul Huda,

2012).

Dampak kelelahan fisik yang diindentifikasi sebelum dan sesudah bekerja

terdiri dari bagian tangan, bahu, punggung dan kaki. Untuk masing-masing

pertanyaan diberi diberi skala nilai dari 0 untuk kategori tidak lelah, 1 untuk

kategori sedikit lelah, 2 untuk kategori lelah, 3 untuk kategori sangat lelah.

Kuesioner diberikan kepada operator bagian tarik abu di stasiun boiler yang

berjumlah 5 orang.

Berdasarkan data yang diperoleh, maka diketahui bahwa secara rata-rata

(26)

termal yang diharapkan operator yaitu jauh lebih sejuk, dan efek dari kondisi

termal rata-rata yang dirasakan operator sangat menganggu. Dengan demikian

maka kondisi tersebut memerlukan perhatian untuk perbaikan terhadap

kenyamanan termal operator di stasiun kerja.

6.1.2. Analisis Heat Stress Index (HSI)

Perhitungan Heat Stress Index secara rata-rata adalah. Berdasarkan standar

Ken Parsons, hal tersebut menunjukkan bahwa heat stress index yang terjadi di

stasiun kerja tersebut termasuk dalam kategori “very severe heat strain” atau “tekanan panas yang sangat mengganggu dan berbahaya bagi kesehatan”, dimana

dalam kategori ini, kondisi panas yang dirasakan sudah akan mengganggu

kesehatan dan kenyamanan operator.

Hasil perhitungan regresi dan korelasi dari tiap variabel termal terhadap

nilai HSI diperoleh variabel temperatur udara memiliki nilai korelasi yang

tertinggi yaitu sebesar 0,964 yang berarti berpengaruh sangat kuat terhadap HSI.

Maka, temperatur menjadi variabel yang diutamakan dalam usulan perbaikan.

Tabel 6.1. merupakan hasil rekapitulasi perhitungan korelasi dari tiap variabel

termal.

6.1.3. Analisis Indeks Suhu Bola Basah (Wet Bulb Globe Temperature)

Berdasarkan perhitungan pada pengolahan data, maka diperoleh hasil

(27)

Menggunakan hasil ISBB dan kategori beban kerja, maka dapat diketahui

presentase jam kerja dan istirahat.

6.1.4. Analisis Keluhan Kelelahan Fisik Pada Kondisi Termal

Hasil identifikasi dengan kuisioner kelelahan menjukkan bahwa bagian

tubuh yang mengalami tingkat keluhan tertinggi adalah bahu , kedua tertinggi

adalah punggung. Gambar 6.2. menunjukkan tingkat keluhan operator bagian tarik

abu di stasiun boiler. Kategori sangat lelah pada keluhan fisik bagian tangan

dirasakan operator 2 dan kategori lelah dirasakan operator 1,3,4, dan 5. Kategori

sangat lelah pada keluhan fisik bagian bahu dirasakan operator 2,3,4 dan kategori

lelah dirasakan operator 1 dan 5.

6.1.5. Analisis Postur Kerja dengan Rapid Entire Body Assesment (REBA)

Selain postur kerja terdapat faktor yang dapat menyebabkan risiko keluhan

yaitu peregangan otot yang berlebihan seperti aktivitas mengangkat,

memindahkan dan mendorong, sikap kerja tidak alamiah seperti pergerakan

tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk dan kepala terangkat (Seviana

2016).

Analisis postur kerja pada aktivitas menarik abu dari dalam tungku

pembakaran boiler termasuk dalam kategori tingkat risiko “Tinggi” dengan skor

REBA akhir sebesar 10 dan level tindakan 3 yang berarti perlu tindakan

secepatnya. Tindakan perbaikan yang diperlukan perbaikan desain kerja seperti

(28)

mengurangi paparan panas. Perancangan alat yang dirancang adalah penyangga

stick.

6.2. Perancangan Alat Bantu Kerja Operator Tarik Abu

Pengamatan antropometri dilakukan untuk perancangan alat penyangga

stick. Data dimensi yang digunakan dalam perancangan alat yakni Lebar Bahu (LB), Tinggi Siku Berdiri (TSB), dan Diameter Genggaman (DG) dengan data

diperoleh dari pengukuran operator stasiun boiler dan Laboratorium Ergonomi

(29)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pemecahan masalah yang dilakukan maka

dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1. Lebar bahu dana tinggi siku berdiri menggunakan persentil 95 sedangkan

dimensi diameter genggaman menggunakan persentil 50.

2. Penilian postur kerja aktual dengan metode REBA menunjukkan bahwa

kelima operator mengalami perlu tindakan secepatnya dengan level resiko

tinggi.

7.2. Saran

Saran yang diberikan untuk penelitian ini adalah

1. Sebaiknya perusahaan menambahkan pendingin pada lantai produksi di

stasiun boiler agar dapat memenuhi standar suhu yang ditetapkan.

2. Diperlukan penentuan tenaga kerja dan rotasi kerja terhadap operator.

3. Sebaiknya perusahaan menambah waktu jam istirahat dan penambahan jarak

mesin dan operator. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan kinerja

Gambar

Gambar 2.2. Pertukaran Panas Tubuh Ke Lingkungan
Gambar 3.3. Model Perpindahan Panas Sederhana dengan Insulasi Pakaian
Tabel 2.4. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh dan Denyut Jantung
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 2 untuk status hara Ca- Tukar berdasarkan Kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982),

Ketidaknyamanan yang terjadi kepada para operator akibat paparan panas ini, pada akhirnya dapat menurunkan kinerja operator yang dapat dilihat dari menurunnya kinerja

Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa plant boiler dan seluruh komponen sudah terpasang, sistem yang digunakan adalah air akan dipompa masuk ke dalam steam drum yang akan di

Penurunan kekerasan tidak semata-mata hanya terjadi karena adanya perbesaran butir, tetapi dengan adanya pengeroposan pada material yang dapat dilihat dari hasil metalografi

Kemampuan reaktor bekerja secara ototermal dalam waktu yang lama dapat dilihat dari profil akumulasi panas tiap siklus pada bagian inert reaktor. Gambar 3 menunjukkan

Pengendapan minyak atau pembentukan batu ketel akan dapat menimbulkan over heating (panas berlebih yang terjadi dalam pipa yang tersumbat oleh kotoran yang membatu

Teknik replika, merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memprediksi sisa umur, melalui pengambilan gambar dalam ben- tuk struktur mikro pada

Potensi bahaya yang masuk ke dalam kategori moderat adalah suhu panas yang mencapai 900°C pada mesin furnace memiliki ting- kat probability 3 kemungkinan terjadi atau tidak terjadi