• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN LEMBAGA KEUANGAN ISLAM INDO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBANDINGAN LEMBAGA KEUANGAN ISLAM INDO"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDI NGAN LEMBAGA KEUANGAN I SLAM I NDONESI A

DAN MALAYSI A

Nurul Huda1, Zulihar1

1

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi. Jakarta 10510 Jln. Letjen Suprapto, Cempaka Putih Jakarta 10510

[email protected]

Abstract

The development of Islamic financial institutions in Indonesia (Banking and Insurance) is relatively more slowly than the Islamic finance institution in Malaysia. In Malayasia Islamic financial institutions began in 1983 was marked by the establishment of Islamic banking first, then followed by Islamic Insurance Institute the following year. While the new Islamic banking in Indonesia was started in 1991 and operationatedin 1992 and together with Malaysia a year later Sharia Insurance appeared in Indonesia. The number of the Institute of Islamic Banking and Insurance in Indonesia is more than in Malaysia.

Keyw ords: Banking, Insurance, Islamic Finance

Pendahuluan

Kontribusi kaum muslimin yang sangat besar terhadap kelangsungan dan perkemba-ngan pemikiran ekonomi pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya, telah diabai-kan oleh para ilmuwan Barat. Buku-buku teks ekonomi Barat hampir tidak pernah menye-butkan peranan kaum muslimin ini. Menurut Chapra, meskipun sebagian kesalahan terletak di tangan umat Islam karena tidak meng-artikulasikan secara memadai kontribusi kaum muslimin, namun Barat memiliki andil dalam hal ini, karena tidak memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi peradaban lain bagi kemajuan pengetahuan manusia.

Para sejarahwan Barat telah menulis sejarah ekonomi dengan sebuah asumsi bah-wa periode antara Yunani dan Skolastik adalah steril dan tidak produktif. Sebagai contoh, sejarahwan sekaligus ekonom terkemuka, Joseph Schumpeter, sama sekali mengabaikan peranan kaum muslimin. Ia memulai penulisan sejarah ekonominya dari para filosof Yunani dan langsung melakukan loncatan jauh selama 500 tahun, dikenal sebagai The Great Gap, ke zaman St. Thomas Aquinas (1225-1274 M). Pada era modern, ekonomi Islam mulai dirajut kembali untuk dimunculkan sebagai sebuah konsep ilmu teoritis maupun aplikatif. Pemba-gian mazhab alur pemikiran Ekonomi Islam muncul dalam tiga mazhab. Mazhab Baqir As Sadr, Mainstream, dan alternatif Kritis. Hal yang melatarbelakangi pembagian ketiga maz-hab ini adalah adanya perbedaan pendapat

akan adanya konsep apa dan bagaimana eko-nomi Islam. Akan tetapi, belum secara pasti dapat dibuktikan bahwa aplikasi konsep dan teori ekonomi Islam di masyarakat saat ini adalah sudah cukup dinaungi oleh ketiga maz-hab tersebut diatas. Dalam bahasan ekonomi Islam modern, Sudarsono (2008) membagi fa-se perkembangan ekonomi Islam modernis da-lam dua bagian. Fase pertama (sebelum 1970-an) kebanyakan sarjana ekonomi Islam lebih condong pada pewacanaan pendekatan nor-matif dan teknis kelembagaan. Sedangkan, fa-se kedua (1980) sarjana muslim lebih memfo-kuskan diri pada usaha merumuskan aspek fi-losofis dan metodologi ekonomi Islam. Upaya pemunculan kembali ekonomi Islam ditengah masyarakat dunia dengan tawaran konseptual keilmuan dan sistem ekonomi yang seolah nampak baru mulai diupayakan secara masif semenjak abad modernis, khususnya seperti halnya yang telah terjadi di Indonesia, ekono-mi Islam telah terasa masif semenjak mun-culnya kegiatan perbankan Islam di Indonesia yang dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992.

(2)

adalah Bank Islam Malaysia Berhad ( BIMB ) dimana bank ini mulai beroperasi pada 1 Juli 1983.

Perkembangan lembaga keuangan Is-lam dewasa ini merupakan suatu keharusan terkait dengan semakin lemahnya system ke-uangan dunia saat ini, berulangnya krisis ekonomi atau khususnya krisis keuangan men-jadi pemicu untuk munculnya model atau sys-tem keuangan alternative. Sissys-tem keuangan Islam mulai teruji saat terjadinya krisis, krisis keuangan dunia pada pertengahan tahun 1997 menyebabkan banyaknya perbankan yang ha-rus dilikuidasi (16 bank konvensional di Indonesia terpaksa dilikuidasi). Bank Islam yang ada saat itu di Indonesia yaitu Bank Mua-malat selamat dari dampak krisis. Begitupula ketika krisis keuangan terjadi di Amerika Serikat yang terkenal dengan sebutan Sub-prime mortgage Bank-bank Islam atau lemba-ga keuanlemba-gan Islam tidak merasakan dampak akibat peristiwa tersebut, pada hal banyak lembaga keuangan Internasional mengalami

collaps. Tulisan ini mencoba menggambarkan keberadaan lembaga keuangan Islam yang berada di Indonesia dan Malaysia yang meli-puti, Perbankan, Asuransi dan Pasar Modal Is-lam. Pertanyaan yang diajukan dalam makalah ini:

1. Bagaimana keberadaan perbankan Islam di Indonesia dan Malaysia baik institusinya maupun produk yang dikembangkan ? 2. Bagaimana keberadaan Asuransi Islam di

Indonesia dan Malaysia baik institusinya maupun produk yang dikembangkan) ?

Perbankan I slam

Perbankan Islam memiliki sejarah yang unik. Dikatakan unik karena lembaga ini memi-liki karakteristik tersendiri sehingga berbeda dengan perbankan konvensional, sehingga acuan perbankan Islam bukanlah dari perban-kan konvensional itu sendiri, aperban-kan tetapi dari

Baituttamwil Dalam sejarahnya, Baitulmaal

merupakan lembaga keuangan pertama yang ada pada zaman Rasulullah. Lembaga ini per-tama kali hanya berfungsi untuk menyimpan harta kekayaan negara dari zakat,infaq, s hada-qah, pajak dan harta rampasan perang. Kemu-dian, pada zaman pemerintahan para sahabat Nabi berkembang pula lembaga lain yang dise-but dengan Baitutamwil, yang merupakan lem-baga keuangan Islam yang menampung

dana-dana masyarakat untuk diinvestasikan ke pro-yek-proyek atau pembiayaan perdagangan yang menguntungkan.

Baitutamwil ini kemudian pada akhirnya berkembang menjadi berbagai lembaga keua-ngan Islam yang cukup diperhitungkan di ka-asan Timur Tengah. Hal ini dapat dilihat dari munculnya Al Kuwaiti Beit ut Tamwil, Interna-ional Leasing Company, dan Kuwait Gulf In-estent House di Kuwait. Selain itu juga terda-at

Beit Ihlas Al Turki di Turki serta Beit Tamweel Al-Awkaf di Bangladesh.

Akan tetapi penggunaaan nama Baitu-amwil ternyata tidak bisa dengan mudah diper-unakan di beberapa negara-negara Islam yang dahulunya merupakan jajahan dari negara-ne-ara di kawasan Eropa, karena istilah baituttam-wil tidak dikenal dalam sistem perundang-undangan negara-negara tersebut yang ba-nyak mewarisi perundang-undangan dari ne-gara yang menjajah. Atas dasar itulah dipergu-nakan nama bank Islam untuk menggantikan nama Baituttamwil. Di dunia internasional, bank-bank Islam ini tetap menggunakan nama perbankan meskipun prinsip operasionalnya te-tap seperti Baitutamwil. Di antara namanya adalah Bahrain Islamic Bank, Faisal Islamic Bank of Bahrain, Islamic Bank of Bangladesh, dan berbagai bank Islam yang lain.

(3)

Parahnya lagi adalah peraturan perundang-undangan ini pula yang diwariskan kepada pe-merintah Indonesia pada masa kemerdeka-annya. Atas dasar itulah, maka daripada me-ngalami banyak hambatan dari segi legalitas untuk dapat mendirikan lembaga perbankan Islam dan juga mengambil berbagai pelajaran dari negara-negara Islam yang pernah dijajah, maka lembaga perbankan Islam dapat diwu-judkan dengan meminjam nama bank, dan di-cantumkan label Islamdi belakangnya, seperti yang juga terjadi di negara-negara Timur Te-ngah lainnya.

Berbagai ide untuk mengembangkan suatu lembaga keuangan dengan mengguna-kan sistem bagi hasil sudah muncul sejak lama di negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Beberapa pemikir muslim yang me-nyampaikan ide tentang perlunya suatu bank Islam, diantaranya adalah Anwar qureshi pada tahun 1940, Naim Siddiqi pada tahun 1948 dan Mahmud Ahmad pada tahun 1952. Akan tetapi para pemikir Islam pada saat itu belum memberikan uraian yang lebih rinci mengenai konsep perbankan Islam.

Barulah pada tahun 1940-an, upaya untuk mewujudkan suatu lembaga keuangan dengan basis bagi hasil mulai menampakkan bentuknya secara nyata, terutama dengan ber-dirinya suatu lembaga keuangan yang menge-lola dana-dana jamaah haji dengan cara yang tidak sama dengan yang dilakukan oleh lem-baga keuangan konvensional. Hal ini terjadi dan dilakukan di Malaysia (dahulu bernama Persekutuan Tanah Melayu) dan juga Pakistan. Meskipun begitu, tetap saja lembaga yang di-dirikan tersebut tidak bisa menggunakan nama baitut tamwil dikarenakan hukum yang berlaku adalah hukum dari negara-negara barat yang sebelumnya banyak melakukan penjajahan di negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim, seperti Malaysia dan Pakistan. Barulah pada tahun 1960-an, tepatnya pada tahun 1963, bentuk nyata dari lembaga perbankan Islam mulai terlihat dengan berdirinya Mit Ghamr Lokal Saving Bank di Mesir, sebuah lembaga keuangan Islam unit desa yang didi-rikan oleh Prof Ahmed Najjar.

Mit Ghamr Lokal Saving Bank ini berkembang dengan pesat dikarenakan lem-baga tersebut beroperasi dengan prinsip tanpa bunga dan dalam kegiatannya banyak mem-bantu masyarakat pedesaan. Ditambah

de-ngan bantuan yang banyak diberikan oleh Raja Faisal dari Arab Saudi membuat lembaga ini mampu untuk mengembangkan dirinya hingga memiliki 9 cabang dan juga satu juta nasabah. Akan tetapi, karena adanya persoalan politik, diantaranya adanya kecurigaan bahwa Mit Ghamr akan melakukan praktek Islamisasi di Mesir, kecurigaan dari kelompok Uni Sosialis yang berkuasa serta kekecewaan dari para bankir Mesir lainnya yang bank mereka men-jadi korban nasionalisasi maka pada tahun 1967 bank ini ditutup oleh pemerintah Mesir. Meskipun begitu bukan berarti sistem bank tanpa bunga sama sekali tidak berkembang di Mesir. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Nasser Social Bank di negara tersebut pada tahun 1971 oleh pemerintahan Anwar Sadat, meskipun sifatnya lebih ke arah komersial dibandingkan sosial.

Usaha untuk mengembangkan perban-kan Islam terus dilakuperban-kan. Pada tahun 1969 secara bersama beberapa negara dari kelom-pok Islam internasional yang terbentuk dalam wadah Organisasi Konferensi Islam (OKI) se-dunia menggagas ide tentang perlunya bank Islam pada tingkat internasional. Konferensi ini diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pa-da 21 sampai 27 April 1969 dengan diikuti oleh 19 negara peserta dan 6 negara sebagai peninjau). Konferensi tersebut membahas soal riba dan bank yang hasilnya memutuskan be-berapa hal, yaitu:

1. Tiap keuntungan haruslah tunduk pada hukum untung dan rugi. Jika tidak de-mikian, maka hal itu termasuk riba, dan ri-ba itu sedikit ataupun ri-banyak, hukumnya haram.

2. Diusulkan supaya dibentuk suatu bank Islam yang bersih dari sistem riba dalam waktu secepat mungkin.

3. Sementara bank Islam belum berdiri, bank-bank yang menerapkan bunga masih diperbolehkan untuk beroperasi hanya apa-bila memang benar-benar dalam keadaan darurat.

(4)

sebuah proposal untuk mendirikan bank Islam di tingkat internasional dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri negara-negara anggota OKI yang berlangsung di Karachi, Pakistan pada bulan Desember 1970. Proposal dengan nama Pendirian Bank Islam Internasional Un-tuk Perdagangan dan Pembangunan ini kemu-dian dikaji oleh para ahli dari 18 negara Islam dan kemudian dibicarakan kembali dalam si-dang para Menteri Luar Negeri OKI di Beng-hazi, Libya, pada bulan Maret 1973. Dalam sidang tersebut pada akhirnya diputuskan agar OKI memiliki bidang yang secara khusus me-nangani masalah ekonomi dan juga keuangan. Sebagai kelanjutan dari sidang menteri luar negeri OKI tersebut, pada bulan Juli 1973, komite ahli yang direkomendasikan dan me-wakili negara-negara Islam penghasil minyak bertemu di Jeddah, Arab Saudi dalam rangka pendirian bank Islam. Hasil dari serangkaian pembahasan tersebut disampaikan pada bulan Mei 1974 dalam sidang para Menteri Keuangan negara-negara anggota OKI, yaitu dengan di-dirikannya Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank dengan modal awal 2 miliar dinar atau 2 miliar SDR (Special Drawing Right). Dengan berdirinya IDB maka banyak negara Islam yang lain yang juga mendirikan lembaga perbankan Islam. Bebe-rapa diantaranya adalahDubai Islamic Bank yang didirikan pada tahun 1975 oleh sekelom-pok usahawan muslim dari beberapa negara. Sementara pada tahun 1977 berdiri pula dua bank swasta bebas bunga dengan nama Faysal Islamic Bank of Egypt dan Faysal Islamic Bank of Sudan, yang didirikan oleh Almarhum Raja Faisal bin Abdul Azis al-Saud dari Arab Saudi, yang dianggap telah memberikan sumbangan besar dalam perkembangan ekonomi Islam dan perbankan syari’ah. Pada tahun 1977 pemerintah Kuwait juga turut serta me-ngembangkan perbankan Islam mendirikan

Kuwait Finance House. Selain itu Pakistan, Iran, Malaysia dan juga Turki juga turut serta mengembangkan bank Islam.

Berdirinya bank-bank Islam ternyata tidak di dominasi oleh negara-negara muslim saja, namun negara-negara besar lainnya dengan penduduk yang mayoritas non-muslim telah pula mengambangkan perbankan Islam. Ke-sempatan pengembangan di negara non muslim tersebut ternyata cukup besar. Ketika diadakan Islamic Banking Conference di

Toronto, Kanada, pada tanggal 25 Mei 1995, Don Blankarn, mantan ketua Special Committe on Banks and Banking telah mengemukakan “There is a huge opportunity for Islamic ban-king and Finance in Canada” Diantaranya, bank-bank Islam tersebut didirikan diDenmark, Luxembourg, Switzerland, United Kingdom, Amerika dan Australia serta New Zealand

Asuransi I slam

Secara historis kajian tentang “asuransi” telah dikenal sejak zaman dahulu. Ini dikarena-kan nilai dasar penopang dari konsep “asuransi” yang terwujud dalam bentuk tolong-menolong sudah ada bersama dengan adanya manusia.

Konsep asuransi sebenarnya sudah di-kenal sejak jaman sebelum masehi dimana manusia pada masa itu telah menyelamatkan jiwanya dari berbagai ancaman, antara lain ke-kurangan bahan makanan. Salah satu cerita mengenai kekurangan bahan makanan terjadi pada jaman Mesir Kuno semasa Raja Firaun berkuasa.

Suatu hari sang raja bermimpi yang di-artikan oleh Nabi Yusuf bahwa selama 7 tahun negeri Mesir akan mengalami panen yang ber-limpah dan kemudian diikuti oleh masa pace-klik selama 7 tahun berikutnya. Untuk berjaga-jaga terhadap bencana kelaparan tersebut Raja Firaun mengikuti saran Nabi Yusuf de-ngan menyisihkan sebagian dari hasil panen pada 7 tahun pertama sebagai cadangan ba-han makanan pada masa paceklik. Dengan de-mikian pada masa 7 tahun paceklik rakyat Mesir terhindar dari risiko bencana kelaparan hebat yang melanda seluruh negeri.

Pada tahun 2000 sebelum masehi para saudagar dan aktor di Italia membentuk Colle-gia Tennirium, yaitu semacam lembaga asu-ransi yang bertujuan membantu para janda dan anak-anak yatim dari para anggota yang meninggal. Perkumpulan serupa yaitu Collegia Nititum, kemudian berdiri dengan beranggo-takan para budak belian yang diperbantukan pada ketentaraan kerajaan Romawi.

(5)

Pada zaman Alexander Agung (336-323 sebe-lum Masehi) ada usaha manusia yang mirip dengan asuransi, yaitu upaya dari beberapa kotapraja untuk mengisi kasnya dengan cara meminjam uang dari perseorangan dengan syarat-syarat sebagai berikut: (i) jumlah uang pinjaman diberikan sekaligus kepada kotapraja oleh yang meminjamkan, misalnya 6.000 drachmen. (ii) Setiap bulan kotapraja mem-bayar sejumlah 50 drachmen kepada yang me-minjamkan uang hingga ia wafat. (iii) Ketika ia wafat, kepada ahli warisnya atau keluarganya, kotapraja akan memberikan 200 drahcmen un-tuk biaya pemakaman.

Dalam literatur Islam dikenal dengan konsep “aqilah” yang sering terjadi dalam se-jarah pra-Islam dan diakui dalam literatur hu-kum Islam. Jika ada salah satu anggota suku Arab pra-Islam melakukan pembunuhan, maka dia (si-pembunuh) dikenakan diyat dalam bentuk blood money yang dapat ditanggung oleh anggota suku yang lain sebagai kompen-sasi saudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat dari pembunuh disebut aqilah. Lalu mereka mengumpulkan dana (al-kanzu) yang mana dana tersebut untuk membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak se-ngaja. Hadits Nabi Muhammad Saw:

ةﺮ ﺮه ا ﻦ

]

ضر

[

لﺎ

:

ﺮﻓ ﺰه ﻦ نﺎ أﺮ ا ا

ﻰ إاﻮ ﺼ ﺎﻓزﺎﻬ ﻄ ﻓ ﺎ و ﺎﻬ ﻓﺮ ىﺮ ﻻأﺎ هاﺪ إ

ا

]

ص

[

ﺔ د ﻰﻀ و ةﺪ ووأ ةﺮﻏ ﺎﻬ ﺔ د نأ ﻰﻀ ﻓ

ﺎﻬ ﺎ ى ةأﺮ ا

] .

ىرﺎ ا اور

[

Al-muwalat: perjanjian jaminan: Penjamin menjamin seseorang yang tidak memiliki waris dan tidak diketahui ahli warisnya. Penjamin se-tuju untuk menanggung bayaran dia, jika orang yang dijamin tersebut melakukan jina-yah. Apabila orang yang dijamin mati, pen-jamin boleh mewarisi hartanya sepanjang ti-dak ada warisnya.

At-Tanahud: Makanan yang dikumpul-kan dari para peserta safar kemudian dicam-pur jadi satu. Makanan tersebut dibagikan pa-da saatnya kepapa-da mereka, kenpa-dati mereka mendapatkan porsi yang berbeda-beda. Rasu-lullah Saw bersabda:

“Bahwa marga Asy’ari (Asy’ariyyin) ketika ke-luarganya mengalami kekurangan bahan ma-kanan, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam satu kumpulan kemudian dibagi diantara mereka secara merata, mereka adalah bagian dari kami dan kami adalah ba-gian dari mereka”.

Dalam kasus ini makanan yang diserahkan bisa jadi sama kadarnya atau berbeda-beda. Begitu halnya dengan makanan yang diterima, bisa jadi sama porsinya dan bisa juga berbeda-beda.

Al-‘umra (Donation for life). Al-Baji (494 H) bermadzhab Maliki ketika mendiskusikan masalah jual-beli gharar mengatakan: “Jika A menyerahkan rumahnya kepada pihak B de-ngan kompensasi B memberikan biaya hidup kepada A sampai ia meninggal”. Al-Baji berko-mentar: “Saya tidak setuju dengan model tran-saksi seperti itu, tapi jika terjadi, saya tidak membatalkannya”. Rumah dalam kasus di atas, sebagai premi dalam asuransi, sedangkan biaya hidup selama hayat adalah sebagai man-faat asuransi yang akan diperoleh oleh A. Mo-del praktek di atas adalah gambaran adanya kegiatan yang mempunyai semangat dan nilai asuransi secara bersama.

Ibn Abidin (1784-1836) dianggap orang pertama di kalangan fuqaha’ yang memberi komentar tanggapan tentang masalah asu-ransi. Ibn Abidin adalah seorang ulama ber-madzhab Hanafi, yang mengawali untuk mem-bahas asuransi dalam karyanya yang populer,

Hasyiyah Ibn Abidin bab Jihad pasal Isti’man al-Kafir, Beliau menulis:

“Bahwa telah menjadi kebiasaan bila-mana para pedagang menyewa kapal dari se-orang harby, mereka membayar upah pe-ngangkutannya. Ia juga membayar sejumlah uang untuk seorang harby yang berada di ne-geri asal penyewa kapal, yang disebut sebagai

sukarah (premi asuransi), dengan ketentuan bahwa barang-barang pemakai kapal yang disewanya itu, apabila musnah karena keba-karan, atau kapal tenggelam, atau kapal di-bajak atau sebagainya, maka penerima uang premi asuransi itu menjadi penanggung, se-agai imabalan dari uang yang diambil dari pe-agang itu. Penanggung itu mempunyai wakil yang mendapat perlindungan (musta’man) yang bertempat di kota-kota pelabuhan Negara Islam atas izin penguasa. Wakil tersebut me-nerima uang premi asuransi dari para peda-gang tersebut, dan apabila barang-barang me-reka terkena masalah yang disebutkan di atas maka si wakillah yang membayar kepada para pedagang itu sebagai uang pengganti sebesar jumlah uang yang pernah diterimanya.

(6)

peda-gang mengambil uang pengganti dari barang-barang yang telah musnah itu, karena yang demikian itu iltizamu ma lam yalzam ( ﺎ ماﺰ إ

مﺰ ) mewajibkan sesuatu yang tidak lazim / wajib.

Selanjutnya sesuai dengan rekomen-dasi fatwa Muktamar Ekonomi Islam yang per-tama kali bersidang pada tahun 1976 M di Makkah dengan dihadiri oleh 200 ulama, dipu-tuskan konsep Asuransi Kerjasama (at-ta’min at ta’awuniy ﻲ وﺎﻌﺘﻟا ﻴﻣﺄﺘﻟا). Kemudian di-kuatkan lagi pada Majma’ al-Fiqh al-Islamiy yang bersidang pada 28 Desember 1985 di Jeddah, juga memutuskan pengharaman Asu-ransi Jenis Perniagaan. Majma’ Fiqh juga se-cara ijma’ mengharuskan asuransi jenis kerja-sama (ta’awuni) sebagai alternatif asuransi Islam menggantikan jenis asuransi konven-sional. Majma’ Fiqh menyerukan agar seluruh umat Islam dunia menggunakan asuransi ta’a-wuni.

Prinsip – Prinsip Dasar Asuransi

Sya-ri` ah

Asuransi syari`ah merupakan bagian dari Ekonomi Islam merupakan salah satu as-pek dari sistem syari`ah yang tentunya memi-liki nilai dasar atau prinsip-prinsip yang sesuai dengan nilai-nilai illahiyah dalam pelaksanaan oprasionalnya, namun nilai nilai dari prinsip-prinsip asuransi syari`ah terdapat juga dalam prinsip-prinsip asuransi secara umum, adapun prinsip asuransi secara umum tersebut antara lain :

1. Prinsip Insurable Interest (Prinsip kepenti-ngan), Yang dimaksud dengan prinsip In-surable Interest (Prinsip kepentingan) ada-lah hak atau adanya hubungan dengan persoalan pokok dari perjanjian, seperti menderita kerugian finansial sebagai aki-bat terjadinya kerusakan, kerugian, atau kehancuran suatu benda. Kepentingan di-sini dapat terjadi karena adanya beberapa hal.

a. Kepemilikan, misalnya kendaraan milik kita sendiri.

b. Kuasa dari orang lain, misalnya kenda-raan yang sedang dalam proses per-baikan di bengkel.

c. Karena undang undang, misalnya pe-milik gedung bertanggung jawab atas kerugian yang dialami pengunjung ge-dung.

Karena itu, pengakuan terhadap hak milik dan tanggung jawab atas hak milik sese-orang yang dikuasakan kepada kita, diatur dan diakui dalam Islam.

Tanpa Insurable interest maka suatu per-janjian akan merupakan perjajian taruhan atau perjanjian perjudian dan dapat me-nimbulkan niat jahat untuk menyebabkan terjadinya kerugian dengan tujuan mem-peroleh keuntungan. Dengan kata lain, jika kepentingan itu tidak ada, maka harus di-katagorikan sebagai kegiatan perjudian. Sedangkan Islam tegas sekali melarang tentang perjudian seperti yang tercantum dalam surat Al Baqarah: 219 dan surat Al Maidah : 90-91.

2. Prinsip Utmost Good Faith (Prinsip I`tikad baik atau prinsip kejujuran yang sempurna.

Dalam perjanjian asuransi, unsur saling percaya antara penanggung dan tertang-gung itu sangat penting. Penangtertang-gung per-caya bahwa tertanggung akan memberikan segala keterangan dengan benar. Di lain pihak tertanggung juga percaya bahwa ka-lau terjadi peristiwa penanggung akan membayar ganti rugi. Saling percaya ini dasarnya adalah itikad baik.

Karena itu, hal yang sangat penting bagi kedua belah pihak dalam prinsip Utmost Good Faith ini adalah adanya informasi yang benar dari masing-masing pihak. Ar-tinya, informasi yang diberikan tidak me-ngandung unsur kebohongan, penipuan dan kecurangan. Di dalam bermuamalah hal tersebut dapat merusak perjanjian (aqad), Karena dalam perjanjian (Aqad) muamalah satu sama lain harus saling me-menuhi aqad atau perjanjian tersebut. Se-perti yang tertuang dalam surat Al Maidah: 2.

Maka dari penjelasan di atas yang di-maksud dengan Utmost Good Faith adalah kewajiban untuk mengungkapkan dengan sukarela, secara penuh dan akurat, semua fakta material atas resiko-resiko yang dia-jukan baik diminta atau tidak.

(7)

ditentukan dalam polis. Bentuk Idemnity yaitu: cash, repair, replacement, dan reins-tatement.

a. Cash, maksudnya jika terjadi klaim oleh tertanggung, maka penanggung (Perusahaan asuransi) mengganti

ke-rugian tersebut dalam bentuk uang tu-nai (cash) sesuai dengan jumlah yang harus dibayar. Contoh : Penggantian untuk gedung yang terbakar pada polis kebakaran dengan uang tunai.

b. Repair, dalam arti malakukan perbaikan terhadap objek tanggungan yang men-derita kerugian. Contoh : Perbaikan mobil pada polis kendaraan bermotor. c. Replecement, yang dimaksud ialah jika

terdapat kerugian pada objek tanggu-ngan yang tidak dapat/mungkin dilaku-kan perbaidilaku-kan (repair) maka objek tanggungan tersebut dapat diganti de-ngan objek tanggude-ngan yang sama (objek dan nilainya seperti keadaan semula).

Prinsip ganti rugi atau indemnity hanya berlaku bagi asuransi yang kepentingannya dapat dinilai dengan uang, dan dalam hal ini tidak berlaku bagi kontrak asuransi jiwa dan asuransi kecelakaan.

Prinsip ganti rugi (indemnity) merupakan hal wajar dalam rangka untuk memelihara hak dan tanggungjawab terhadap harta benda yang dititipkan Allah kepada ham-banya.

4. Prinsip Proximate Cause. Proximate cause

adalah suatu sebab aktif, efisien yang me-ngakibatkan terjadinya suatu peristiwa se-cara berantai atau berurutan dan inter-vensi kekuatan lain, diawali dengan beker-ja dengan aktif dari suatu sumber baru dan independent. Contoh seperti pada suatu perkelahian yang terjadi di tepi jalan, di-mana salah seorang diantaranya dipukul jatuh kebadan jalan, sedangkan pada saat bersamaan melintas sepeda motor dan menabraknya. Akibatnya, orang tersebut menderita luka parah pada bagian kepala, hingga meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dengan demikian, dalam kasus ini penyebab dominan ( Proxi-mate cause) kematian orang tersebut ada-lah tertabrak kendaraan, bukan perke-lahian.

Islam mengajarkan kepada kita agar mem-berikan hukuman kepada siapapun yang bersalah sesuai dengan kadar kesalahan. Dalam hal peristiwa yang termasuk dalam katagori proximate cause penyebab do-minan; maka tentu hukuman atau yang bertanggung jawab atas akibat kerugian yang muncul adalah yang paling dominan dalam penyebab terjadinya hal tersebut. 5. Prinsip Subrogation, subrogation

merupa-kan hak penanggung yang telah memberi-kan ganti rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian. Prinsip ini sebenarnya merupakan konsekwensi logis dari prinsip

indemnity, yang hanya memberikan ganti rugi kepada tertanggung sebesar kerugian yang dideritanya. Contohnya, dalam asu-ransi kebakaran; bilamana terjadi kebaka-ran karena kesalahan okebaka-rang lain (pihak ketiga) kerugian–kerugian yang terjadi bisa digeserkan kepada pihak ketiga.

Subrogasi mempunyai tujuan mencegah tertanggung mendapat ganti kerugian yang melebihi kerugian (dobel/2 pergantian dari perusahaan asuransi dan pihak yang me-nyebabkan kerusakan) yang dideritanya. Dengan adanya subrogasi tersebut, terce-gahlah pula bahwa pihak yang bersalah menjadi bebas. Barang siapa menurut hu-kum bertanggung jawab atas suatu mu-sibah, tetap terkena sanksinya. Hal terse-but paling baik bagi ketertiban masyarakat. Dengan demikian, tidak akan terjadi ada-nya satu pihak menzalimi pihak lain atau suatu pihak harus memberi ganti rugi ter-hadap perbuatan yang dilakukan oleh pihak ketiga. Islam secara tegas melarang sikap saling menzalimi dalam muamalat.

6. Prinsip Contribution, Contribution (Kon-tribusi) menurut sudut pandang asuransi terbagi menjadi dua yaitu sudut pandang penanggung (perusahaan asuransi) dan sudut pandang tertanggung (pemegang polis)

(8)

pe-nanggung berbeda. Sedangkan untuk sudut tertanggung, Al Musahamah ‘kon-tribusi‘ adalah suatu bentuk kerjasama mutual di mana tiap–tiap peserta mem-berikan kontribusi dana kepada suatu pe-rusahaan dan peserta tersebut berhak memperoleh kompensasi atas kontibusinya tersebut berdasarkan besarnya saham (premi) yang ia miliki (bayarkan).

Dalam ayat Al Qur`an sesungguhnya telah termuat tentang konsep kontribusi atau kerjasama mutual yaitu dalam surat Al Mai-dah Ayat 2:

“dan tolong menolonglah kamu dalam kebenaran dan ketakwaan.” ( Q.S Al- Mai-dah: 2

Metode Penelitian

Untuk menjawab permasalahan atau-pun pertanyaan penelitian di atas maka meto-de penelitian yang digunakan yaitu meto-deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder. Data yang digunakan data perbankan dan Asu-ransi Islam di Indonesia serta Perbankan dan Asuransi Islam di Malaysia

Hasil dan Pembahasan

Secara formal perkembangan perban-kan Islam di Indonesia baru dimulai pada ta-hun 1992, akan tetapi perkembangan perban-kan Islam di tanah air sebenarnya sudah dimu-lai secara formal dan informal jauh sebelum tahun tersebut. Ide awal tentang perlunya sa-tu lembaga keuangan perbankan berbasis Is-lam di Indonesia muncul dengan adanya pen-dapat yang disampaikan oleh K.H. Mas Mansur, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1937-1944 dimana beliau telah menguraikan tentang penggunaan bank kon-vensional sebagai hal yang terpaksa dilakukan karena umat Islam belum mempunyai bank sendiri yang bebas riba. Pada organisasi Mu-hammadiyah hal ini dilanjutkan diadakan Mu’ tamar Khusus di Sidoarjo pada tahun 1968, yang membahas salah satu diantaranya tang hukum bank, putusan Majlis Tarjih ten-tang bank terdiri atas tiga bagian: pertim-bangan atau konsideran, keputusan atau kete-tapan, dan penjelasan. Konsideran terdiri atas pertimbangan akademik, pertimbangan sosial, dan pertimbangan dalil.

Ketegasan keputusan Majlis Tarjih ten-tang bunga bank, baru ditetapkan ketika

Mu-syawarah Besar PP Muhammadiyah diadakan di Yogyakarta pada tanggal 27 Juni 2006, te-patnya pada Fatwa Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dituangkan pada keputusan Nomor: 8 Tahun 2006, yang memutuskan bahwa bunga bank adalah riba, dan jelas keharamannya.

Setelah dikeluarkannya Pakto 1988 yang berisi tentang liberalisasi perbankan yang memungkinkan pendirian bank-bank baru selain yang telah ada, dimulailah pendirian Bank-bank perkreditan rakyat dengan basis sistem Islam di beberapa daerah di Indonesia. Yang pertama kali mendapat izin usaha adalah Bank Perkreditan Rakyat Islam (BPRS) Berkah Amal Sejahtera dan BPRS Dana Mardhatillah pada tanggal 19 Agustus 1991, serta BPRS Amanah Rabaniah pada tanggal 24 Oktober 1991 yang ketiganya beroperasi di Bandung, dan BPRS Hareukat pada tanggal 10 November 1991 di Aceh

Keberadaan BPRS tersebut mendorong un-tuk didirikannya bank umum yang bebas dari bunga. Hanya kurang dari dua tahun semenjak paket kebijakan Oktober 1988 tersebut dike-luarkan, Pada tanggal 19-22 Agustus 1990 dia-dakan Lokakarya Ulama tentang Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor. Dari hasil lo-kakarya tersebut kemudian di bahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV Maj-lis Ulama Indonesia (MUI) yang berlangsung di Jakarta, pada tanggal 22-25 Agustus 1990, yang kemudian merekomendasikan untuk di-bentuknya sebuah lembaga keuangan Syari’ah dengan membentuk sebuah kelompok kerja.

Pada akhirnya, permintaan yang ada dari sebagian kalangan masyarakat tersebut dijawab oleh pemerintah dengan sebuah res-pon positif pada tahun 1991, yaitu dengan di-dirikannya PT Bank Muamalat Indonesia mela-lui akta pendirian yang ditandatangani pada 1 November 1991. Melalui proses pengumpulan modal yang dilakukan oleh Presiden RI saat itu, Soeharto pada tanggal 3 November 1991 terkumul komitmen modal disetor untuk PT Bank Muamalat sebesar Rp 106.126.382.000. Dengan rangkaian proses tersebut, maka pada 1 Mei 1992 Bank Muamalat Indonesia mulai beroperasi.

(9)

dimulainya era sistem perbankan Islam di Indonesia, meskipun pada waktu itu belum disebutkan secara jelas akan konsep perban-kan Islam, hanya disebutperban-kan bank yang bero-perasi dengan konsep bagi hasil, yaitu pada pasal 13 ayat (c). Sehubungan dengan lahir-nya UU tersebut, pada tanggal 30 Oktober 1992 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pe-merintah (PP) no 72 tahun 1992 tentang bank yang beroperasi dengan prinsip bagi hasil dan lalu peraturan tersebut diundangkan pada tanggal 30 Oktober 1992.

Pemerintahan reformasi pertama pim-pinan Presiden BJ Habibie, yang merupakan salah seorang intelektual muslim Indonesia memberikan kekuatan baru atas dasar legal-formal perbankan Islam di tanah air dengan mengeluarkan UU 10 tahun 1998 tentang Per-bankan yang menandai dual banking system di tanah air, dimana perbankan Islam disebutkan secara jelas di situ. Dengan berlakunya UU tersebut maka Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1992 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pencabutannya dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1999 ten-tang Pencabutan Pemerintah No. 70 Tahun 1992 tentang Bank Umum sebagaimana telah beberapa kali dirubah, terakhir dengan turan Pemerintah No. 73 Tahun 1998, Pera-turan Pemerintah No. 71 tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat dan Peraturan Peme-rintah No. 72 tentang Bank Berdasarkan prin-sip bagi Hasil.

Dalam UU tersebut diatur dan diberikan landasan hukum serta berbagai jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplemen-tasikan secara langsung oleh perbankan Islam, termasuk juga petunjuk yang diperlukan bagi bagi bank-bank konvensional untuk membuka unit usaha Islam atau mengkonversikan secara total untuk menjadi bank umum Islam. Lang-kah ini memberikan peluang bagi dunia per-bankan konvensional untuk juga membuka unit usaha Islam ataupun secara total meng-konversikan kegiatan usahanya menjadi bank Islam. Peluang ini kemudian dilihat oleh PT Bank Susila Bakti yang dimiliki oleh Yayasan Karyawan Bank Dagang Negara untuk keluar dari krisis dengan mengkonversi jenis usaha-nya menjadi bank umum Islam dengan nama PT Bank Islam Mandiri sesudah proses penye-hatan bank dilaksanakan. Dual banking system sendiri sudah dimulai seiring dengan

berla-kunya UU No 7 Tahun 1992 tentang Perban-kan, dimana diakui beroperasinya bank dengan konsep bagi hasil dan tanpa bunga.

Pada tanggal 16 Juli 2008 pemerintah Indonesia menerbitkan UU No.21 tahun 2008 tentang perbankan Islam dan hal ini memberi-kan dampak yang cukup signifimemberi-kan berkem-bangnya Bank Islam dan Bank Perkereditan Rakyat Islam (BPRS). Berdasarkan laporan Bank Indonesia bulan Januari 2010 sudah ter-dapat 6 Bank Umum Islam (BUS) yaitu: BMI, BSM, Bank Islam Mega, Bank Islam BRI, Bank Islam Bukopin dan Bank Islam Panin dan terdapat 25 Unit Usaha Islam (UUS) seperti UUS BNI,UUS Danamon,UUS BII dan seterus-nya. Sedangkan jumlah BPRS sebanyak 140 sehingga total keseluruhan menjadi 171 bank Islam

Tabel 1

Jaringan Kantor Perbankan Islam 2005-2009

Jenis Bank 2005 2006 2007 2008 2009 Jan-10 Bank Umum

Islam

Jumlah Bank 3 3 3 5 6 6

Jumlah

Kantor 304 349 401 581 711 815

Unit Usaha

Islam (UUS)

Jumlah UUS 19 20 26 27 25 25

Jumlah

Kantor 154 183 196 241 287 288

Bank Perkreditan Rakyat

Islam

Jumlah Bank 92 105 114 131 138 140

Jumlah

Kantor 92 105 185 202 225 263

Total Kantor 550 637 782 1024 1223 1366 Sumber : Bank Indonesia

(10)

Tabel 2

Pembiayaan BUS dan UUS 2005- Jan 2010 ( Milyar Rupiah)

Akad 2005 2006 2007 2008 2009

Jan-10

Mudharabah 3,124 2,335 4,406 7,411 10,412 10,363

Musyarakah 1,898 4,062 5,578 6,205 6,597 6,556

Murabahah 9,487 12,624 16,553 22,486 26,321 26,532

Istishna 282 337 351 369 423 402

Ijarah 316 836 516 765 1,305 1,313

Qardh 125 250 540 959 1,829 1,974

Total 17237 22450 29951 40203 48896 47,140

Sumber : Bank Indonesia, data diolah

Hal ini bisa dipahami karena pembiyaan murabahah termasuk kategori akad yang bersifat certainty contract, dimana dari pers-pektif bank akan memberikan tingkat keuntu-ngan yang pasti dan risiko relative lebih ren-dah. Selain itu skim murabahah merupakan produk yang paling populer dan banyak diper-gunakan oleh perbankan syariah di seluruh du-nia, termasuk di Indonesia

Asuransi I slam di I ndonesia

Saat ini, Indonesia dikenal sebagai sa-lah satu negara dengan jumsa-lah operator asu-ransi Islam cukup banyak di dunia. Ber-dasarkan data Dewan Islam Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), terdapat 51 pemain asuransi Islam di Indonesia yang telah mendapatkan rekomendasi. Mereka terdiri dari 42 operator asuransi Islam, tiga reasuransi Is-lam, dan enam broker asuransi dan reasiuransi Islam. Perkembangan industri asuransi Islam di negeri ini diawali dengan kelahiran asuransi Islam pertama Indonesia pada 1994. Saat itu, PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) berdiri pa-da 24 Februari 1994 yang dimotori oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalui Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, De-partemen Keuangan RI, serta beberapa pe-ngusaha Muslim Indonesia. Selanjutnya, STI mendirikan dua anak perusahaan. Mereka ada-lah perusahaan asuransi jiwa Islam bernama PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) pada 4 Agustus 1994 dan perusahaan asuransi keru-gian Islam bernama PT Asuransi Takaful Umum (ATU) pada 2 Juni 1995. Setelah Asu-ransi Takaful dibuka, berbagai perusahaan asuransi pun menyadari cukup besarnya po-tensi bisnis asuransi Islam di Indonesia. Hal

tersebut kemudian mendorong berbagai pe-rusahaan ramai-ramai masuk bisnis asuransi Islam, di antaranya dilakukan dengan langsung mendirikan perusahaan asuransi Islam penuh maupun membuka divisi atau cabang asuransi Islam. Bahkan, sejumlah pemain asuransi be-sar dunia pun turut tertarik masuk dalam bisnis asuransi Islam di Indonesia. Mereka menilai Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia merupakan potensi pengem-bangan bisnis cukup besar yang tidak dapat di-abaikan. Di antara perusahaan asuransi global yang masuk dalam bisnis asuransi Islam Indonesia adalah PT Asuransi Allianz Life Indonesia dan PT Prudential Life Assurance.

Lembaga Keuangan I slam Malaysia

Perbankan I slam Malaysia

Malaysia, yang berdiri pada tahun 1963, terletak di kawasan Asia Tenggara dan meru-pakan negara yang terdiri atas tiga sku bangsa mayoritas, yaitu Melayu, Cina dan India. Seba-gai sebuah negara, Malaysia tergolong unik ka-rena terletak di dua tempat, yaitu seme-nanjung Melayu di daratan benua Asia dan bagian utara pulau Kalimantan. Hingga tahun 1965, negara pulau Singapura juga pernah menjadi bagian dari negara tersebut. Malaysia juga merupakan negara dengan berbagai ma-cam agama, diantaranya adalah muslim 58%, Kristen 24%, Hindu 8%, dan agama lain-lain adalah 10%. Meskipun begitu, di Malaysia, agama resmi negara tersebut adalah agama Islam. Karena itulah pemerintah Malaysia se-cara serius memikirkan kemungkinan untuk mengembangkan perbankan Islam di nega-ranya dan secara resmi menerapkan dual eco-nomic system sejak tahun 1983. Tahap awal pengembangan perbankan Islam di Malaysia dimulai dengan dikeluarkannya Islamic Banking Act pada tahun 1983.

(11)

Tabel3

Jumlah Asuransi Islam Indonesia Hingga 2009

Jenis NO Perusahaan Jenis No Perusahaan

1

PT Asuransi Takaful Umum

27

PT Asuransi Ramayana, Tbk

2

PT Asuransi Takaful Keluarga

28

PT Asuransi Jiwa Mega Life

3

PT Asuransi Islam Mubarakah

29

PT AJ Central Asia Raya

4

PT MAA Life Assurance

30

PT Asuransi Parolamas

5

PT MAA General Assurance

31

PT Asuransi Umum Mega

6

PT Great Eastern Life Indonesia

32

PT Asuransi Jiwa Askrida

7

PT Asuransi Tri Pakarta

33

PT Asuransi Jiwasraya (Persero)

8

PT AJB Bumiputera 1912

34

PT Equity Financial Solution

9 PT Asuransi Jiwa BRIngin Life Sejahtera 35

PT Asuransi Kredit Indonesia

10 PT Asuransi BRIngin Sejahtera Artamakmur 36

PT Asuransi Bintang, Tbk

11

PT Asuransi Binagriya Upakara

37

PT Asuransi Bangun Askrida

12

PT Asuransi Jasindo Takaful

38

PT Prudential Life Assurance

13

PT Asuransi Central Asia

39

PT Jasaraharja Putera

14 PT Asuransi Umum BumiPutera Muda 1967 40

PT AIG Life

Asuransi I slam

15

PT Asuransi Astra Buana

41

PT Asuransi Karyamas Sentralindo

16 PT BNI Life Indonesia

Asuransi I slam

42

PT Asuransi Jiwa Sequis Life

17 PT Asuransi Adira Dinamika 43

PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo)

18 PT Staco Jasapratama 44

PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre)

19 PT Asuransi Sinar Mas

Reasuransi I slam

45

PT Maskapai Reasuransi Indonesia (Marein)

20 PT Asuransi Tokyo Marine Indonesia 46

PT Fresnel Perdana Mandiri

21 PT Asuransi Jiwa Sinar Mas 47

PT Asiare Binajasa

22 PT Tugu Pratama Indonesia 48

PT Amanah Jamin Indonesia

23 PT Asuransi AIA Indonesia 49

PT Asrinda Re-Brokers dan AA Pialang Asuransi

24 PT Asuransi Allianz Life Indonesia

50

PT Madani Karsa Mandiri

25 PT Panin Life, Tbk 51

PT AON Indonesia

Asuransi I slam

26 PT Asuransi Allianz Utama Indonesia

Broker Asuransi dan

Reasuransi

Sumber : DSN-Majelis Ulama Indonesia

Selain itu pada tahun 1983 pemerintah Malaysia juga mengeluarkan UU Investasi Pe-merintah atau Government Investment Act di-mana dalam UU tersebut dikatakan bahwa pe-merintah berwenang untuk menerbitkan surat investasi pemerintah atau Government Invest-ment Certificate (GIC) yang merupakan surat berharga dan dikeluarkan dengan prinsip Is-lam. Surat investasi yang dikeluarkan oleh pe-merintah Malaysia ini merupakan salah satu instrumen keuangan Islam dalam rangka un-tuk menjaga tingkat likuiditas secara harian yang ada di perbankan Islam. Hal ini dapat

dimungkinkan karena GIC yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia dapat dibeli oleh ma-syarakat Malaysia dengan prinsip Qradhul Has-san (pinjaman kebajikan) serta pembelinya da-pat memperoleh dividen. Sistem ekonomi dan keuangan Islam di Malaysia menjadi semakin lengkap dengan dikeluarkannya UU Takaful atau asuransi Islam di negara tersebut pada tahun 1984.

Pada tahun 1993 perkembangan per-bankan Islam di Malaysia memasuki tahap pe-ngembangan yang baru dimana diperkenalkan skema ” Skim Perbankan Tanpa Faedah atau

(12)

dalam skema ini bank konvensional sangat mungkin untuk turut serta memasarkan pro-duk yang ada pada perbankan Islam dengan menggunakan sistem Islamic Windows. De-ngan adanya cara ini maka jumlah kantor bank yang menawarkan produk bank Islam me-ningkat dengan cukup pesat di Malaysia. Data yang ada menunjukkan bahwa hingga Novem-ber 1999, jumlah lembaga keuangan konven-sional yang membuka Islamic Windows karena menmgikuti skim IFBS yang kemudian diubah menjadi Islamic Banking Scheme sudah men-capai 54 buah, terdiri dari 24 bank komersial, 18 lembaga keuangan dan juga 5 bank dagang serta 7 lainnya merupakan ”discount houses”.

Dalam masa tahap kedua tersebut, pada tahun 1994 Pasar Uang Antar Bank Islam (Islamic Interbank Money Market ) berdiri pada 1 Januari 1994. 3 aspek yang penting yang mendasari pendiriannya adalah perdaga-ngan instrumen pembiayaan Islami antar bank, investasi Islami antar bank dan juga sis-tem kliring cek islami antar bank. Pada awal-nya haawal-nya 5 bank saja yang menjadi peserta pasar uang Islami antarbank di Malaysia, akan tetapi pada tahun 1999 jumlahnya sudah mencapai 54 bank. Jumlah ini meningkat de-ngan cukup pesat dikarenakan dede-ngan sistem ini, maka bank peserta pasar uang Islami antar bank yang mengalami kekurangan dana dapat meminta bank lain yang kelebihan dana untuk menginvestasikan dananya di bank yang keku-rangan dana tersebut dalam bentuk Islamic Banking Mudharabah Deposit. Bank Islam ke-dua di Malaysia juga lahir pada masa tersebut, yaitu Bank Muamalat Malaysia Berhad (BMMB) yang berdiri pada 1 Oktober 1999 .

Tahap yang terbaru dalam pengem-bangan perbankan Islam di Malaysia tidak khusus hanya dalam hal perbankan, akan te-tapi berupa pembuatan Financial Sector Master Plan dalam konsep keuangan Islam, baik da-lam hal perbankan maupun asuransi Isda-lam. FMSP yang berjalan selama 10 tahun ini dibagi menjadi 3 fase, yaitu

a. Penguatan infrastruktur operasional dan juga kelembagaan,

b. Merangsang terjadinya kompetisi dan juga peningkatan infrastruktur, dan c. Peningkatan standar kinerja lembaga

keuangan Islam melalui proses liberali-sasi yang progresif

Lembaga perbankan Islam di Malaysia memiliki kedudukan yang unik, karena berada di bawah UU yang berbeda, tergantung dari bentuk lembaga perbankan tersebut. Islamic Banking Act yang keluar pada tahun 1983 me-rupakan suatu usaha untuk mewujudkan ke-inginan dari masyarakat Islam Malaysia akan adanya lembaga perbankan yang beroperasi sesuai dengan Islam. Bank Islam penuh di negara tersebut beroperasi dengan landasan hukum Islamic Banking Act ini. Selain itu, di Malaysia juga terdapat Islamic Windows serta bank konvensional yang juga menawarkan ber-bagai produk perbankan Islam. Dengan adanya perbedaan ini maka operasional dari fully Islamic bank di Malaysia menjadi jauh lebih kuat dalam penerapan ketentuan Islam yang ada. Hal inilah yang dialami oleh Bank Islam Malaysia Berhad pada awal pendiriannya, di-mana melalui Islamic Banking Act ini terlihat keinginan dari berbagai pihak di Malaysia, teru-tama pemerintah dan Bank Negara Malaysia untuk terus menjaga dan membesarkannya hingga BIMB siap memiliki mitra untuk ber-saing dan bekerjasama dalam rangka mewu-judkan sistem keuangan Islam di Malaysia.

Meskipun masyarakat muslim di Malaysia memiliki mazhab pemikiran yang sa-ma dengan sa-masyarakat muslim di Indonesia, yaitu mazhab Syafii, akan tetapi beberapa apli-kasi konsep Islam dalam perbankan Islam di Malaysia dan Indonesia dapat saja berbeda. Karena itulah peranan dewan pengawas Islam dalam perbankan Islam di Malaysia menjadi sangat penting. Seperti diketahui bahwa lem-baga yang memegang kewenangan tertinggi dalam penerapan hukum Islam muamalah di Malaysia adalah National Sharia Advisory Coun-cil atau NSAC. Lembaga yang berdiri pada 1 Mei 1997 ini berada dalam struktur organisasi dari Bank Negara Malaysia (BNM) dan para anggota NSAC ditunjuk oleh dewan direksi dari BNM untuk melaksanakan tugasnya dalam jangka waktu 3 tahun serta dapat melanjutkan tugasnya tersebut dalam periode berikutnya bila terpilih kembali. Adapun beberapa tujuan dari pendirian NSAC ini adalah :

(13)

2. Melakukan koordinasi terhadap berbagai isu-isu Islam tentang keuangan dan juga perbankan Islam, serta

3. Melakukan analisa serta evaluasi berbagai aspek Islam dari skim atau produk baru yang diajukan oleh perbankan Islam di Malaysia ataupun asuransi takaful di Malaysia.

Ada beberapa alasan yang mendasari me-ngapa NSAC berada di dalam struktur yang ada di dalam bank sentral Malaysia. Akan te-tapi alasan yang utama adalah respon yang di-berikan dalam menanggapi berbagai masalah yang berkaitan dengan hukum Islam akan se-makin cepat dengan adanya dewan Islam Malaysia tersebut di dalam bank sentral, mes-kipun juga menimbulkan pertanyaan akan ke-mampuan NSAC untuk tetap mempertahankan independensinya karena keberadaannya ber-ada di dalam struktur bank sentral Malaysia.

Perbankan Islam di Malaysia memiliki beberapa jenis akad yang ditawarkan kepada para nasabah mereka. Berbagai akad yang di-tawarkan tersebut termasuk akad pendanaan, jasa kartu, pembiayaan perdagangan, dan ju-ga berbaju-gai jasa perbankan lainnya. Selain itu Malaysia juga dikenal sebagai negara yang memiliki beberapa akad yang unik dari bank Islam di negara tersebut yang tidak dimiliki oleh negara lain, yaitu Ba’i Bithaman Ajil (BBA), Musyarakah Mutanaqisah dan juga Va-riable Rate Ijarah. Selain itu Malaysia juga ja-uh lebih inovatif dalam rangka pengembangan skim pembiayaan dalam perbankan Islam mereka. Ini terlihat dengan adanya skim caga-mas mudharabah bond yang merupakan obli-gasi hipotik (mortgage) pertama di dunia de-ngan menggunakan skema mudharabah. Ada-pun beberapa akad khas yang ada pada bank Islam di Malaysia adalah :

1. Akad ba’i Al Inah, akad ini merupakan ba-gian dari akad jual dan beli dimana pihak penjual melakukan penjualan asetnya ke-pada pembeli dengan janji untuk mela-kukan pembelian kembali dengan pihak yang sama. Dengan hal itu maka dapat di-katakan bahwa ba’i Al Inah merupakan penjualan tunai yang dilanjutkan dengan pembelian kembali barang tersebut secara tangguh. Dalam hal ini beberapa proses yang perlu dilakukan dalam akad ini :

1. Nasabah melakukan penjualan asetnya ke bank dengan harga tertentu

2. Bank melakukan pembayaran dengan harga tersebut kepada pihak nasabah 3. Bank lalu melakukan penjualan kembali

aset tersebut kepada nasabah dengan melakukan penambahan marjin keuntu-ngan,

4. Nasabah membayar harga aset ter-sebut ditambah dengan marjin keuntu-ngan yang telah disepakati sesuai de-ngan kesepakatan yang ada.

Yang cukup menarik dari akad ini ada-lah tingkat kemiripannya dengan konsep pinjaman tunai dengan adanya jaminan aset pada bank konvensional, dimana per-bedaannya terletak pada akadnya dan na-sabahnya mendapatkan dana tunai. Jual beli dengan akad ba’i al Inah ini banyak di-izinkan oleh ulama Malaysia. Akan tetapi, sebagian besar ulama yang ada di Timur Tengah dan Indonesia banyak berpendapat bahwa transaksi dengan akad ba’i al Inah tidak sesuai dengan Islam. Apalagi dari 4 mazhab mayoritas yang banyak dipakai oleh umat Islam, hanya mazhab Syafi’i yang mengizinkan penggunaan akad ba’i al Inah. Dan alasan tersebut dipakai oleh pi-hak ulama Malaysia yang tergabung dalam

NSAC. Akan tetapi, Indonesia, sebagai ne-gara yang juga mayoritas umat Islam yang ada memakai mazhab Syafii justru meng-anut pendapat yang hampir sama dengan mayoritas ulama di Timur Tengah, yaitu ba’i Al Inah dilarang untuk dipakai.

2. Akad Ba’i Al Dayn, akad ini merupakan akad dimana yang diperjualbelikan adalah hutang. Hutang yang diperdagangkan ini dapat dilakukan pada saat harga yang sa-ma ataupun juga dengan harga yang su-dah di discount, meskipun ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa konsep penjualan dengan harga discount tidak di-perbolehkan. Penggunaan akad ba’ai Al Dayn merupakan salah satu inovasi ter-sendiri dari NSAC Malaysia, karena pihak

(14)

ala-san NSAC Malaysia untuk pada akhirnya memperbolehkan akad ini adalah karena hutang menurut mereka adalah sama de-ngan harta benda, karena itu hutang layak untuk diperjualbelikan seperti layaknya harta benda yang lain.

3. Akad Ba’i Bithaman Ajil, Akad ba’i bitha-man ajil merupakan akad jual beli muraba-hah dimana pembayarannya dilakukan se-cara tangguh (kredit) dan juga pencici-lannya dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Karena itu konsep ba’i bithaman ajil juga dapat dikatakan sebagai credit murabahah dalam jangka panjang. Ditegaskan bahwa ba’i bithaman ajil (BBA) merupakan suatu kontrak penjualan dima-na bank Islam melakukan penjualan ba-rang secara tangguh (kredit) kepada nasa-bahnya dan nasabah melakukan pemba-yaran dengan menggunakan harga beli bank dan margin biaya yang sudah dise-pakati sebelumnya (Rosly, et.al).

Dalam melaksanakan BBA ada bebera-pa hal yang perlu diperhatikan, terutama da-lam prosesnya, yaitu:

1. Identifikasi asset yang ingin dimiliki oleh nasabah. Proses ini dilakukan oleh nasabah itu sendiri

2. Bank Islam melakukan pembelian asset yang diinginkan untuk dimiliki oleh nasabah tersebut. Pembelian dilakukan dengan har-ga beli dari bank Islam kepada pemilik as-set.

3. Bank Islam lalu melakukan penjualan asset tersebut kepada nasabah dengan harga ju-al yaitu harga beli bank Islam dan marjin keuntungan yang ditetapkan oleh bank Islam.

4. Nasabah membayar kepada bank Islam se-suai dengan harga jual bank Islam kepada nasabah dengan cara mencicil.

Saat ini ini di Malaysia berkembang kon-sep kontrak jual dan beli antara pihak nasabah dengan bank, dimana hal ini tercermin dalam perjanjian Property Purchase Agreement dan juga Property Sale Agreement. Dalam akad ini pihak bank melakukan pembelian aset yang telah dijual sebelumnya kepada pihak bank dan uang pembayaran dari bank tersebut akan diteruskan dari nasabahnya untuk kemudian dibayarkan kembali kepada pemilik awal asset

tersebut. Barulah setelah bank memiliki asset-nya, asset tersebut lalu dijual kembali kepada nasabah dengan konsep PSA tadi.

Dalam praktik yang saat ini terjadi di Malaysia, pihak bank, baik bank konvensional ataupun bank Islam tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan transaksi langsung yang berupa jual dan beli dengan pihak supplier. Bank hanya dapat memberikan fasilitas pem-biayaan ataupun pinjaman saja. Hal ini terjadi karena perbankan Islam di Malaysia berada da-lam koridor hukum sipil, karena UU Perbankan Islam di negara tersebut dikategorikan sebagai hukum sipil. Hal ini membuat perbankan Islam di Malaysia dianggap tidak bisa melaksanakan konsep ba’i bithaman ajil ini secara murni, se-hingga konsep BBA di Malaysia dianggap oleh sebagian ulama tidak lagi murni sesuai Islam.

Seperti layaknya di negara lain yang mengembangkan produk perbankan Islam, produk dan jasa yang ada pada perbankan Is-lam di Malaysia juga cukup banyak ragamnya. Berbagai produk tersebut termasuk dianta-ranya adalah produk dan jasa untuk penda-naan, pembiayaan, pembiayaan perdagangan, jasa perbankan dan juga layanan kartu yang diterbitkan oleh perbankan Islam. Untuk pro-duk pendanaan, baik berupa giro maupun ta-bungan sering menggunakan akad wadiah yad dhamanah dan juga akad mudharabah. Se-dangkan untuk produk pembiayaan rata-rata menggunakan akad ba’i al inah dan juga akad

ba’i bithaman ajil. Karena pengembangan per-bankan Islam di Malaysia cukup inovatif, maka hampir semua produk pembiayaan yang ada pada perbankan konvensional juga dikembang-kan di dalam perbandikembang-kan Islam di Malaysia. Yang cukup menarik adalah rata-rata produk pembiayaan yang ada pada perbankan Islam di Malaysia tidak menggunakan akad berbasis bagi hasil, akan tetapi menggunakan akad mu-rabahah ataupun ba’i bithaman ajil.

(15)

juga ba’i bithaman ajil. Seperti telah dise-butkan bahwa kedua akad tersebut dilarang untuk dipergunakan di negara lainnya. Karena itulah di banyak negara banyak perbankan Is-lam yang belum mengeluarkan produk kartu kredit Islam. Perkembangan terakhir (2009) institusi perbankan di Malaysia berjumlah 65, dengan Islamic Bank sebanyak 17 dan Inter-nasional Islamic bank sebanyak empat yang terdiri dari Al Rajhi Banking & Investment Corporation, Deutsche Bank Aktiengesell schaft, PT. Bank Islam Muamalat Indonesia, Tbk, dan Unicorn International Islamic Bank Malaysia Berhad.

Terkait pembiayaan yang disalurkan perbankan Islam di Malaysia, maka yang memberikan kotribusi terbesar yaitu Bai Bitha man Ajil sebesar RM 42, 732.90 Million pada tahun 2009 dari total RM 132,807.90 Million

atau berkontribusi 32,18% diikuti Ijarah Thum-ma Istisna' Al-Bai sebesar RM 38,953.30 Million (29,33%) dan selanjutnya murabahah sebesar RM 23,016.90 Million (17,33%)

Tabel 4

List of licensed Banking Institution in Malaysia 2009

Bank Jumlah

Commercial Banks 22

Investment Banks 15

Moneybrokers 7

Islamic Banks 17

International Islamic Bank 4

Total 65 Sumber: Bank Negara (Central) Malaysia

Tabel 5

Islamic Banking System: Financing by Concept (RM Million)

Desember 2009 Januari 2010

I slamic banks

I slamic banking scheme

( I BS) Total Islamic banks

Islamic banking scheme

(IBS) Total

Bai Bithaman Ajil 42,732.90 180.70 42,913.60 43,847.70 178.1 44,025.80

Ijarah 4,017.40 15.6 4,033.00 3,994.40 22.7 4,017.10

Ijarah Thumma

Istisna' Al-Bai 38,953.30 0 38,953.30 39,564.50 0 39,564.50

Murabahah 23,016.90 3.3 23,020.20 23,208.60 3.3 23,211.90

Musyarakah 1,875.80 473.7 2,349.50 2,037.30 480 2,517.30

Mudharabah 375.7 0 375.70 375.5 0 375.50

Istisna' 1,486.50 0 1,486.50 1,460.50 0 1,460.50

Others 20,349.60 1.1 20,350.70 20,870.90 1.1 20,872.00

Total Financing 132,807.90 674.40 133,482.30 135,359.40 685.20 136,044.60

Sumber : Bank Negara (Central) Malaysia, www.bnm.gov.my

Komposisi yang sama terjadi pada bulan Januari 2010 yang terbesar Bai Bitha-man Ajil sebesar RM 43,847.70 Million (32,39%), diikuti Ijarah Thumma Istisna' Al-Bai sebesar RM 39,564.50 Million dan Mura-bahah sebesar 23,208.60. Bila dibandingkan dengan Indonesia Maka pada hakikatnya ham-pir sama yaitu transaksi jual beli yang meme-gang peranan penting hal ini karena persoalan risiko bagi bank Islam.

Asuransi I slamMalaysia

Malaysia dalam membangun asuransi Islamnya mengeluarkan lisensi asuransi Islam

(16)

Tabel 6

Key Takaful Indicators in Malaysia 2004-2008

2004 2005 2006 2007 2008

Islamic Insurance 4 5 8 8 8

No. of Agents

1 4,370 1 4,059 1 5,194 4 3,843 6 0,197 Family

1 1,842 1 1,781 1 1,188 3 2,987 4 4,222 General

2 ,528 2 ,278 4 ,006 1 0,856 1 5,975

No. of Offices 1 34 1 47 151 154 157

No. of Employees 2 ,376 2 ,670 2 ,967 2 ,863 2 ,411 Sumber :Bank Negara(Central) Malaysia

Saat ini jumlah asuransi Islam hingga tahun 2008 berjumlah 8 perusahaan dengan jumlah agen yang terus mengalami peningka-tan, pada tahun 2004 berjumlah 14.370 men-jadi 60,197 pada tahun 2008. Selain itu jumlah kantor asuransi Islam juga mengalami pening-katan dari 134 kantor pada tahun 2004 men-jadi 157 kantor pada tahun 2008 dengan jum-lah pekerja 2,411 orang.

Terkait dengan kinerja dari asuransi Is-lam di Malaysia berikut beberapa indicator ki-nerjanya

Tabel 7

Kinerja Asuransi Islam Malaysia 2004-2008

2004 2005 2006 2007 2008

Takaful Fund Assets

Total (RM million) 5 ,028.6 5 ,878.4 6 ,899.0 8 ,818.3 1 0,569.4

Family 4 ,305.1 5 ,048.4 5 ,800.9 7 ,445.2 8 ,900.1

General 7 23.5 8 30.0 1 ,098.1 1 ,373.1 1 ,669.3

% of GNI 1.1 1.2 1.2 1.4 1.5

% of total assets of the insurance and takaful

industry 5.6 5.7 5.9 6.7 7.5

Sumber : Bank Negara (Central) Malaysia, www.bnm.gov.my, data diolah

Berdasarkan table di atas terlihat bah-wa yang memegang peranan penting dalam industri asuransi di Malayasia jenis Asuransi keluarga dibandingkan dengan asuransi u-mum. Selain itu dapat juga dilihat bahwa kon-tribusi industry asuransi terhadap Gross Natio-nal Income (GNI/pendapatan nasional Malaysia) terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Begitu pula halnya dengan kontri-busi Asset Asuransi Islam terhadap total asset indutri Asuransi terus mengalami kenaikan, Pa-da tahun 2004 sebesar 5,6% naik menjadi 5,7% tahun 2005 dan pada tahun 2008 naik menjadi 7,5%, ini jauh lebih besar dari

Indonesia dimana Assete asuransi syariahnya masih 2,1 % dati total asuransi Nasional

Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang terkait dengan lembaga keuangan Islam yang meliputi bank, asuransi dan pasar modal Islam yang ada di Indonesia dan Malaysia maka ada beberapa kesimpulan yang dapat diungkapkan bahwa Perbankan Islam di Malaysia dimulai pada tanggal 1 juli tahun 1983 yang ditandai lahir-nya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan sebelumnya juga sudah dikeluarkan Islamic Bank act (1983). Pembiayaan terbesar perban-kan Islam di Malaysia yaitu Bai Bithaman Ajil sebesar 32% dari total pembiayaan. Sedang-kan perbanSedang-kan Islam di Indonesia dimulai ta-hun 1992 yang ditandai dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia. Sedangkan Undang-Undang perbankan Syariah baru dikeluarkan tahun 2008 yaitu Undang-Undang No 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. Pembiataan terbesar yang disalurkan bank Islam di Indonesia yaitu pembiayaan murabahah sebe-sar lebih kurang 55 %. Asuransi Islam di Malaysia dimulai pada tahun 1984 dengan di-terbitkannya Undang-Undang takaful, hingga tahun 2008 sudah terdapat 8 perusahaan asu-ransi Islam dengan jumlah asset 7,5% dari total asset industri asuransi di Malaysia. Se-dangkan di Indonesia Asuransi Islam muncul tahun 1994 yang ditandai dengan lahirnya PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) berdiri pada 24 Februari 1994 yang dimotori oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalui Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, De-partemen Keuangan RI, serta beberapa pengu-saha Muslim Indonesia. Hingga tahun 2009 sudah terdapat 51 pemain asuransi Islam di Indonesia yang telah mendapatkan rekomen-dasi. Mereka terdiri dari 42 operator asuransi Islam, tiga reasuransi Islam, dan enam broker asuransi dan reasiuransi Islam.

Daftar Pustaka

Achsien, Iggi H, “Investasi Syariah Di Pasar Modal”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000.

(17)

Teoritis, & Praktis, Prenada Media, Jakarta, 2004.

Algoud, Latifa & Mervyn Lewis, “Islamic Banking”, Edward Elgar Publishing Limited, United Kingdom, 2001.

An-Nabhani, Taqyuddin, “Membangun Sistem Ekonomi Alternatif: Perspektif Islam”, Penerbit Risalah Gusti, Surabaya, 2002.

Antonio, Syafii, Muhammad, ”Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek”, Gema Insani, Jakarta, 2001.

Arifin, Zainul, ”Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah”, AlvaBet, Jakarta, 2002.

Ascarya, ”Akad & Produk Bank Syariah”, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.

Bank Indonesia, “Statistik Perbankan Syariah”, Januari 2010.

Dewi, Gemala, “Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan & Perasuransian Syariah Di Indonesia”, Prenada Media, Jakarta, 2004.

Hakim, S & Rashidian, “Risk and Return of Islamic Stock Market Indexes”, Presented at the International Seminar of Non Bank Financial Institution, Kuala Lumpur, Malaysia, 2004.

Hamid, Abdul Mohamad, “Determinants of Corporate Demand for Islamic Insurance in Malaysia”, International Journal of Economics and Management 3(2), 2009.

Huda, Chairul, Lukman Hakim, “Tindak Pidana dalam Bisnis Asuransi”, LPHI, Jakarta, 2006.

Huda, Nurul & Mustafa Edwin Nasution, ”Investasi Pada Pasar Modal Syariah”, Prenada Kencana Media Group, Jakarta, 2007.

Huda, Nurul & M. Heykal, ”Lembaga Keuangan Islam; Tinjauan Teoritis dan Praktik”,

Prenad Kencana Media Group, Jakarta, 2010.

IBI, “Konsep, Produk dan Implementasi Operasional Bank Syariah”, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2001.

Karim, Adiwarman, ”Bank Islam Analisih Fiqih dan Keuangan”, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004.

Muhammad, “Bank Syariah Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman”, Ekonisia, Yogyakarta, 2003.

Parmudi, Muchammad, ”Sejarah & Doktrin Bank Islam”, KUTUB, Yogyakarta, 2005.

Rivai, Veithzal, dkk, “Bank and Financial Institution Management Conventional & Sharia System”, penerbit PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.

Saeed, Abdullah, “Bank Islam dan Bunga: Studi Kritis dan interprestasi kontemporer tentang Riba dan Bunga”, (terjema-han), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

Salim, Abbas, “Asuransi dan Manajemen Resiko”, PT. RajaGrafindo Persada, Edisi Revisi ke-2, Jakarta, 2003.

Siamat, Dahlan, ”Manajemen Lembaga Keua-ngan”, Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta, 2004.

Sudarsono, Heri, “Bank dan Lembaga Keua-ngan Syariah: deskripsi dan ilustrasi”, penerbit Ekonisia, cetakan ketiga, Yogyakarta, 2005.

Sula, Syakir Muhamad, “Asuransi Syariah (Life And General): Konsep dan Sistem Oprasional”, Gema Insani Press, Jakarta, 2004.

Gambar

Tabel 1  Jaringan Kantor Perbankan Islam 2005-2009
Tabel 2 Pembiayaan BUS dan UUS 2005-Jan 2010 (Milyar
Tabel 5 Islamic Banking System: Financing by Concept  (RM Million)
Tabel 6  Key Takaful Indicators in Malaysia Indonesia dimana Assete asuransi syariahnya

Referensi

Dokumen terkait

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan dorongan semangat, baik secara langsung maupun tidak langsung

Marshall Quotient nya akan semakin menurun, sehingga campurannya akan mengalami bleeding. Dari grafik hubungan kadar aspal dengan karakteristik Marshall Test dapat diketahui

Berdasarkan dari hasil analisis, penulis mengambil kesimpulan bahwa dibutuhkan media edukasi berupa buku untuk anak-anak dan orang tua yang dapat memberikan

PNF adalah fasilitasi pada system neuromuskuler dengan merangsang propioseptif. PNF terdiri atas dasar konsep, bahwa kehidupan ini adalah sederetan reaksi atas

Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis semua data yang telah diperoleh baik data hasil belajar maupun keaktifan siswa. Hasil analisis ini kemudian digunakan sebagai

Skor dimensi sistem sosial pada SMP N 4 Negara yakni 1128 nilai tersebut berada pada rentang skor 1094,8 – 1288 rentang skor tersebut berada pada kriteria katagori sangat baik,

Risiko- risiko yang dihadapi bagi mahasiswa yang tidak mengerti fiqih muamalah adalah: (1) ilmu akuntansi syariah hanya dapat digunakan nanti setelah lulus, itupun

Hasil running dengan fungsi kernel polinomial, parameter kernel 1, upperbound 10 dan loss function kuadratik dari lampiran 6 menunjukkan bahwa waktu komputasi yang