25
GEMISTOCYTIC
ASTROCYTOMA
Rr. Suzy Indharty
Pendahuluan
Gemistocytic Astrocytoma pertama digambarkan oleh Nissl sebagai gemastete glia (flattened glia) pada tahun 1904.1 Nama tersebut berasal dari bahasa Yunani gemisto berarti “filled, stuffed” dan yang dalam bahasa Inggris sebagai gemistocytic.
Gemistocytic astrocytoma memperlihatkan subtipe histologis yang jelas pada difus astrocytoma. Dalam klasifikasi World Health Organizasion (WHO), GA termasuk grade II, tetapi lebih agresif daripada varian difus astrocytoma yang lain.2 Ini sesuai dengan adanya suatu fraksi yang besar dari sel-sel tumor gemistocytic (>20%) pada difus astrocytoma sebagai tanda prognosis yang jelek. Mayoritas gemistocytic astyrocytoma tumbuh dengan cepat menjadi astrocytoma anaplastic (WHO grade III) atau glioblastoma (WHO grade IV).3
Reaksi astrosit dapat juga menimbulkan suatu gemistocytic, terutama pada infark subakut dan akut demielinasi.
Secara umum, gemistocyte berlebih-lebih, homolog, dan sitoplasma eosinophjilic. Gemistocytic Astrocytoma selalu memunyai nucleus yang eccentric, walaupun dalam bentuk nonneoplastic.
Nuclear atypia dibedakan nonneoplastic dari gemistocytic neoplastic.4
BAB 25 Gemistocytic Astrocytoma
373 dengan menggunakan dasar presentasi
antigen pada ekspresi nya dari major histocompatibility complex (MHC) Class II antigen. Selain itu, digunakan juga immuno-cytochemistry dan in situ hybridization (ISH).
Immunocytochemistry
Immunolabeling telah dilakukan dengan menggunakan marker microglia, termasuk CR3/43, Ki-M1P, dan ibal pada bagian jaringan di dekatnya yang menggunakan metode standard.9 CR3/43 monoclonal antibody (HLA)-D dikenal sebagai β–chain dari limposit antigen manusia yang berhubungan dengan (DR), DP, dan DQ. Ki-M1P dikenal sebagai CD68. Ibal berikatan dengan fimbrin dan baik sebagai marker microglia.10 CR3/43 kemungkinan adalah marker terbaik untuk “activated” microglia manusia yang bekerja pada seksi paraffin. Dilaporkan sebelumnya terhadap specificitynya pada jaringan CNS nonneoplastic.11
Daerah yang mewakili jaringan dipilih pada basis dengan pewarnaan hematoxylin dan eosin dan dibuktikan dengan menggunakan immuno-histochemistry. Pencitraan digital dilakukan pada 150-bit resolusi yang menggunakan mikroskop Zeiss Axipophot (Carl Zeiss, Gittingen, Germany) dengan objektif 40 x berhubungan dengan Practica color scanner (Practica, Dresden, Germany). Sejumlah Labeled microglia dan sel-sel gemistocytic astrocytoma, seperti jumlah total dari nucleus, ditentukan mewakili lapangan pandang per kasus melalui dua perbedaan penelitian dan dokumentasi dengan digital photography. Daerah jaringan photography dan digunakan untuk menghiitung adalah 0.19 mm2 untuk semua tes marker.
Gemistocytic index (GI) pada studi ini telah dihitung ulang untuk contoh
daerah jaringan dari seksi CR3/43-immunolabeled. Tampak densitas dari sel-sel ini pada jumlah total dari gemistocytic dibagi jumlah total nucleus. Microglial index (MI) menggambarkan jumlah total microglia dibagi jumlah total nucleus pada setiap lapangan, dan telah dihitung untuk setiap kasus menggunakan semua ke tiga immunolabeled section (CR3/43, Ki-M1P, dan ibal).
Pencitraan Spektroskopi
Secara histologis low grade difus astrocytoma yaitu suatu tumor yang well-differentiated dibedakan dengan pertumbuhan yang lambat, infiltrasi difus dari sekitar otak, dan cenderung progress menjadi tipe yang lebih ganas, seperti anaplastic astrocytoma (WHO grade III) dan glioblastoma multiforme (WHO grade IV). Proton MR spektroskopi dari low grade astrocytoma memperlihatkan meningginya myo-inositol (m-Ins), creatine normal (Cr), cholin meninggi (Cho), dan menurunnya N-acetylaspartate (NAA).12 Secara umum, MR spektroskopi dari tumor memperlihatkan meningginya ratio Cho/Cr dan menurunnya ratio NAA/Cr, serta meningginya tingkat histologis dengan keganasan dan meningginya level Cho tanpa melihat tipe dari tumor.13 Perbaikan histologis low grade astrocytoma dapat juga diperoleh penderita dengan dengan komponen mixed oligodendroglial yang multi-volume MR spektroskopi memperlihatkan Cho tidak meninggi dan level dari m-Ins/glycine (Gly) meningkat.
BAB 25 GEMISTOCYTIC ASTROCYTOMA
374
sclerosis plague berhubungan dengan histologisnya, level m-Ins ditemukan meninggi di daerah yang berisi predominan fibrillary gliosis daripada preferensi protoplasmic gliosis.15 m-Ins adalah suatu molekul sugar-like pada astrosit dan osmolyte dianggap penting dan pengatur volume sel. m-Ins juga dianggap sebagai marker astrosit.16 Puncak m-Ins yang tampak melalui MR spektroskopi juga berisi Gly. Gly adalah asam amino nonessential sederhana yang berlebihan pada cairan dan jaringan mammalia. Pada otak mammalia Gly berfungsi sebagai neurotransmitter dan/ atau neuro-modulator. Dua tipe dari transporter Gly (GlyT2 dan GlyT1). GlyT2 berhubungan dengan saraf-saraf glycinergic dan GlyT1 diekspresikan oleh astrosit yang terlibat di dalam regulasi ekstrasellular Gly.17
Pemeriksaan pencitraan MR spektroskopi dari suatu tumor dapat tidak kentara/jelas, seperti gambaran dengan relatif level normal dari Cho dan isolated level m-Ins/Gly yang tinggi. Variasi tingkat Cho kemungkinan dekat berhubungan dengan proporsi yang rendah dari sel-sel yang terbagi dalam tumor, gangguan keseimbangan antara angka biosynthesis dan degradasi dari membran.
Diskusi
Sel-sel gemistocytic diketahui timbul dalam berbagai kondisi reaksi termasuk hipoksia atau iskhemik. Gemistocytic ditemukan dalam tumor glial kemungkinan diartikan sebagai sel-sel glial non-neoplastic entrapped yang transforme ke dalam fenotipe gemistocytic akibat kehilangan nutrisi karena bertambahnya permintaan dari sel-sel tumor sekitarnya. Jika dianggap sebagai suatu sel tumor yang sebenarnya, taxonomy dari gemistocytic tidak pasti.
Satu hal, gemistocytic tampaknya berhubungan dengan non-proliferasi yang hebat dan sel-sel giant terletak pada beberapa glioma high-grade.18
Hasil pada saat ini, bahwa meningginya MIB-1 LI pada gemistocytic astrocytoma adalah suatu hasil dari immunostaining nucleus dari sel-sel selain gemistocytic, yaitu suatu pemeriksaan bahwa telah ditegaskan melalui studi komparatif pada perbedaan intratumoral dalam proliferasi sel digunakan teknik inkorporasi sebagai tambahan terhadap immunohistochemistry.19
Ekspresi dari fibroblast growth factor (FGF) memunyai hubungan yang spesifik dengan sel-sel gemistocytic. Baik acidic maupun basic FGF adalah faktor angiogenic yang mampu merangsang proliferasi dan motilitas sel-sel endothelial, dan mitogenic untuk endothelial dan sel-sel glial. Acidic FGF berlebih lebih berada pada sitoplasma dari protoplasmic, dan terutama gemistocytic astrosit, dengan kontradiksi hasil terhadap sellular subset expresi basic FGF.20 Spekulasi bahwa sejumlah besar FGF dibebaskan dari kurang aktifnya sel-sel glial, seperti gemistocytic yang dapat menyebabkan proliferasi pembuluh darah di dekatnya dan sel-sel tumor glial.21 Pemeriksaan lebih lanjut, pada karakteristik dari susunan ekspresi growth factors dan reseptornya memunyai peranan spesifik terhadap sel-sel gemistocytic pada ciri-ciri biological tumor glial.
BAB 25 Gemistocytic Astrocytoma
375 Low grade astrocytoma dengan fraksi
gemistocytic secara signifikan progres lebih cepat dan khas dengan suatu mutasi TP5322 dan mutasi p53.6 Adanya morphology gemistocytic harus dianggap nyata sebagai high grade astrpcytoma.24 Prognosis basis biological tidak memuaskan pada gemistocytic astrocytoma tetapi ini masih belum jelas, sejak gemistocytic nya memunyai aktivitas proliferasi yang lambat, walaupun terdapat pada anaplastic astrocytomas atau glioblastomas.22 Memberi kesan bahwa proporsi gemistocytic tidak hanya pada efek prognosis.25 Dilaporkan bahwa peranan gemistocytic adalah sebagai suatu faktor prognosis pada difus astrocytoma.26 Telah ditegaskan bahwa masih diperlukan studi dengan jumlah yang cukup dengan well-matched gemistocytic dan non-gemistocytic dari tumor astrocytic untuk memutuskan apakah tingkatan suatu tumor dengan jumlah yang signifikan dari gemistocytic sudah dapat dipertanggungjawabkan.24
Terapi
Tujuan optimal terhadap terapi adalah perawatan penderita dengan menekan penyakitnya. Tujuan ini tidak menguntungkan karena sangat jarang tercapai apabila penderita dengan tumor serebral neuroepithelial. Pada kebanyakan penderita panjangnya survival dan kualitas hidupnya terbatas, terutama dengan bertambahnya defisit neurologis. Dalam keterbatasan ini, reseksi operasi umumnya bermanfaat sebagai terapi walaupun dalam beberapa penderita merupakan langkah pertama dari manajemen multimodalitas. Walaupun jika tidak dapat dilakukan reseksi total, reduksi dari massa dapat tercapai dengan terapi selanjutnya, seperti radioterapi atau kemoterapi.
Pada low grade glioma, reseksi operasi masih merupakan tanda tanya. Tidak pasti riwayat natural dan kemungkinan panjangnya survival pada penderita yang tidak diterapi masih kontroversi.
Faktor yang memengaruhi survival bergantung pada usia penderita saat dilakukan operasi, riwayat tumor, dan ekstensi reseksi operasi tumor. Peranan radioterapi tidak jelas.
Saat ini, peranan terapi operasi dari low grade serebral glioma memberi simpulan hanya dengan membandingkan durasi dan kualitas hidup setelah reseksi sebagian atau total. Diperkirakan bahwa reseksi yang luas menegaskan seakurat mungkin, dan berhubungan dengan survival.
BAB 25 GEMISTOCYTIC ASTROCYTOMA
376
BAB 25 Gemistocytic Astrocytoma
377
Gambar 4. Durante operasi
BAB 25 GEMISTOCYTIC ASTROCYTOMA
378
Gambar 6. Pada sediaan jaringan tumor otak tampak sel-sel tumor dengan selularitas yang moderat (sedang), dengan inti sebagian membesar, bentuk bulat, oval, dan atipik, dengan kromatin sebagian kasar merata, sebagian padat basofilik, dan sitoplasma sedikit serta eosinofilik. Sebagian, sekitar lebih dari 20%, tampak sel-sel dengan inti bulat, oval kromatin padat basofilik, terletak di pinggir, dengan sitoplasma eosinofilik dan banyak. Setempat tampak sel giant. Perdarahan tampak luas, nekrosis banyak ditemukan, dan mitosis jarang dijumpai.
Daftar Pustaka
1. Nissl F. Zur Histopathologie der paralytischen Rindenerkrankung. Histol Histopathol Arb Grosshim 1904;1:315
2. Kleihues P, Ohgaki H. Phenotype vs genotype in the evolution of astrocytic brain tumors. Toxicol Pathol 2000;28:164-170
3. Schiffer D, Chio A, Giordana MT, Leone M, Soffietti R. Prognostic value of histologic factors in adult cerebral astrocytoma. Cancer 1988;61:1386-1393
4. Russell DS, Rubinstein LJ. Pathology tumours of the nervous system. London, Edward Arnold 1989
5. Onda K, Davis RL, Wilson CB, Hoshino T. Regional differences in Bromodeoxyuridine uptake, expression of Ki-67 protein and nucleolar organizer region counts in glioblastoma multiforme. Acta Neuropathol (Berl) 1994;87:586-593 6. Watanabe K, Tachibana O, Yonekawa
Y, Kleihues P, Ohgaki H. Role of gemistocytes in astrocytoma progression. Lab Invest 1997;76:277-284
7. Penfield W. Microglia and the process of phagocytosis in gliomas. Am J Pathol 1925;1:77-97
8. Wierzba-Bobrowicz T, Kuchna I, Matyja E. Reaction of microglia cells in human astrocytomas (preliminary report). Folia Neuropathol 1994;32:251-252
9. Tran CT, Wolz P, Egensperger R, Kosel S, Imai Y, Bise K, Kohsaka S, Mehraein P, Graeber MB. Differential expression of MHC class II molecules by microglia and neoplastic astroglia: Relevance for the escape of astrocytoma cells from immune surveillance. Neuropathol Appl Neurobiol 1998;24:293-301
10. Ohsawa K, Imai Y, Sasaki Y, Kohsaka S. Microglia/macrophage-specific protein Ibal bind to fimbrin and enhances its actin-bundling activity. J Neurochem 2004;88:844-856
11. Graeber MB, Bise K, Mehraein P. CR3/43, a marker for activated human microglia: Application to diagnostic neuropathology. Neuropathol Appl Neurobiol 1994;20:406-408
12. Castillo M, Smith JK, Kwoock L. Correlation of myo-inositol levels and grading of cerebral astrocytomas. AJNR Am J Neuroradiol 2000;12:1645-1649
13. Tamiya T, Kinoshita K, Ono Y, Matsumoto K, Furuta T, Ohmoto T. Proton magnetic resonance spectroscopy reflects cellular proliferative activity in astrocytomas. Neuroradiology 2000;42:333-338 14. Urenjak J, Williams SR, Gadian DG,
Noble M. Proton nuclear magnetic resonance spectroscopy unambiguously identifies different neural cell types. J Neurosci 1993;13:981-989
15. Bitsch A, Bruhn H, Vougioukas V, et al. Inflammatory CNS demyelinations: histopathologic correlation with in vivo quantitative proton MRS spectroscopy. AKNR Am J Neuroradiol 1999;20:1619-1627 16. Danielsen ER, Ross B. Magnetic Resonance Spectroscopy Diagnosis of Neurological Diseases. New York: Marcel Decker 1999:34
17. Verleysdonk S, Martin H, Williker W, Leibfritz D, Hamprecht B. Rapid uptake and degradation of glycine by astroglial cells in culture synthesis and release of serine and lactate. Glia 1999;27:239-248
BAB 1 TUMOR OTAK PADA ANAK
380
cell and gemistocytic cell formation. Neurol Med Chir (Tokyo) 1987;27:276-282
19. Onda K, Davis RL, Wilson CB, Hoshino T. Regional differences in bromodeoxyuridine uptake, expression of Ki-67 protein, and nucleolar organizer region counts in glioblastoma multiforme. Acta Neuropathol 1994;87:586-593
20. Stefanik DF, Rizkalla LR, Soi A, Goldblatt A, Rizkalla WM. Acidic and basic fibroblast growth factors are present in glioblastoma multiforme. Cancer Res 1991;51:5760-5765 21. Paulus W, Grothe C, Sensenbrenner
M, Janet T, Baur I, Graf M, Roggendorf W. Localization of basic fibroblast growth factor, a mitogen and angiogenic factor, in human brain tumors. Acta Neuropathol 1990;79:418-423
22. Reis RM, Hara A, Kleihues P, Ohgaki H. Genetic evidence of the neoplastic nature of gemistocytes in astrocytomas. Acta Neuropathol (Berl) 2001;102:422-425
23. Avninder S, Sharma MC, Deb P, Metha VS, Karak ZAK, Mahapatra AK, et al. Gemistocytic astrocytomas: histomorphology, proliferative potential and genetic alterations, a study of 32 cases. J Neurooncol 2006;78(2):123-127
24. Tihan T, Vohra P, Berger MS, Keles GE. Definition and diagnostic implications of gemistocytic astrocytomas: a pathological perspective. J Neurooncol 2006;76:175-183
25. Yang HJ, Kim JE, Paek SH, Chi JG, Jung HW, Kim DG. The significance of gemistocytic in astrocytoma. Acta Neurochir (Wien) 2003;145:1097-1103
26. Martins DC, Malheiros SM, Santiago LH, Stavale JN. Gemistocytic in