A. Latar Belakang Masalah
Manusia menggunakan alat indera sebagai sarana komunikasi dengan lingkungannya. Alat indera menerima dan mengubah stimuli fisik (seperti gelombang cahaya dan getaran suara) menjadi impuls neuron yang menghasilkan sensasi (seperti mengalami adanya cahaya dan suara). Selanjutnya, sensasi diinterpretasi sehingga apa yang dilihat, didengar atau dirasakan oleh manusia dapat dikenali sebagai suatu benda, suara dan lain sebagainya, bukan hanya suatu stimuli yang tidak berarti. Proses ini disebut sebagai proses persepsi (Kassin, 2003; King, 2010; Zimbardo, Weber & Johnson, 2000).
memori jangka panjang adalah semantic memory, yaitu ingatan tentang makna suatu informasi, episodic memory, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi, dan procedural memory, yaitu ingatan mengenai keahlian yang dimiliki individu (Lahey, 2007 & Reed, 2007). Kemampuan memasak, mengendarai sepeda, hingga kemampuan untuk tetap dapat memainkan suatu alat musik meskipun individu tersebut telah lama tidak memainkannya adalah contoh dari procedural memory (Lahey, 2007). Spiro (2010, dalam Seluzicki, 2013) menyatakan bahwa kemampuan memainkan alat musik adalah bagian memori yang paling kompleks yang tidak dipengaruhi oleh penyakit Alzheimer. Berlatih memainkan alat musik bahkan menurunkan resiko terjangkit penyakit dementia sebanyak 63%, sedangkan pemusik yang telah didiagnosa menderita dementia tetap tidak kehilangan keahliannnya dalam memainkan alat musik. Sluming dkk (2002, dalam Seluzicki, 2013) menemukan bahwa pemusik yang berlatih memainkan alat musik selama bertahun-tahun mengalami peningkatan massa otak yang berkontribusi terhadap menurunnya resiko terjangkit penyakit Alzheimer.
1984), Deutsch mengutip karya Aristoxenus yang mengatakan bahwa pemahaman terhadap musik bergantung pada persepsi indera dan memori dan bahwa hanya dengan dua bidang inilah manusia mengikuti perkembangan musik. Selanjutnya Dowling (2010) menambahkan bahwa persepsi sangat terikat dengan memori dan tidak dapat dipisahkan sebagai dua proses yang berbeda.
mengenali warna begitu melihatnya, tetapi pada individu penderita sindrom color anomia, ia mengenali perbedaan warna tetapi tidak dapat memberitahukan dengan
jelas nama dari warna tersebut. Relative pitch merupakan kemampuan yang sama seperti color anomia dalam bidang auditori tetapi relative pitch bukanlah gangguan, melainkan suatu kemampuan yang dapat dilatih (Blake & Sekuler, 2006).
Unrau (2006) menjelaskan relative pitch sebagai metode utama yang digunakan manusia dalam memproses musik. Hal ini penting dalam orkestra, penulisan lagu, dan mengenali karya musik. Hasil karya penulis lagu yang paling kreatif sekalipun akan menjadi sia-sia jika musik yang ia hasilkan tidak dapat diproses oleh telinga dan otak pendengarnya (Blake & Sekuler, 2006). Terlalu banyak hal yang baru dan berbeda dalam satu musik membuat musik tersebut tidak dapat dipahami manusia, sebaliknya jika terus diulang-ulang, lagu tersebut akan menjadi bosan (Dowling, 2010). Bukan hanya dalam musik, McDermott, Lehr dan Oxenham (2008) menyatakan pentingnya relative pitchdalam mengenali suara percakapan dan musik yang terdiri dari jangkauan nada yang berbeda-beda dan dihasilkan oleh alat musik dan pembicara yang berbeda pula sehingga relative pitchmerupakan fitur penting dalam kegiatan memproses suara pada individu.
beretnis Asia bagian Timur memiliki relative pitch yang cenderung lebih baik. Penelitian ini mengukur relative pitch pada subjek dengan menggunakan empat jenis interval yang berbeda. Penelitian ini menggunakan dua nada dasar yaitu C dan F# dengan nada kedua bersifat ascending (nada semakin tinggi) dan menggunakan partisipan non musisi. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Hove, Sutherland dan Krumhansl (2010) adalah untuk membedakan kemampuan etnis dalam mengenali relative pitch. Berdasarkan komunikasi personal melalui email dengan salah seorang peneliti di penelitian ini, ia menyatakan bahwa nada dasar yang digunakan hanya C dan F# (Komunikasi Personal, 2013). Meskipun peneliti menyatakan nada dasar yang digunakan lebih baik diperbanyak, tetapi tes ini mungkin terlalu sulit bagi partisipan non musisi. Michael Hove (Komunikasi Personal, 2013) juga menyatakan bahwa ia tidak yakin ada alat tes yang dikhususkan untuk menguji kemampuan relative pitch.
familiar, sehingga mereka dapat mengenali kesalahan nada tanpa harus melatih relative pitch.
pelatihan, kemudian diberikan masalah yang baru, Gick & Holyoak (1983; dalam Roediger III, 1990) menunjukkan bahwa pelatihan yang pernah diikuti partisipan tidak membantu dalam menyelesaikan masalah yang baru, kecuali jika masalah tersebut sangat menyerupai masalah yang diberikan pada saat pelatihan sehingga partisipan dapat membandingkan dan menemukan penyelesaian masalah yang baru. Topik lain mengenai tes memori implisit yang mempengaruhi bidang pendidikan adalah sejauh apa materi yang dipelajari di sekolah dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah dalam konteks lain, misalnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan pembuatan alat tes relative pitch yang dilakukan peneliti, yaitu sejauh apa materi yang dipelajari subjek selama pelatihan musik dapat membantu subjek dalam menentukan relative pitch. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada alat tes yang dikhususkan untuk menguji kemampuan individu dalam menentukan relative pitch (Komunikasi Personal, 2013). Oleh sebab itu peneliti merancang tes memori implisit yaitu alat ukur relative pitchyang diharapkan dapat membantu menentukan tingkat relative pitch pada individu.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Perancangan Alat Ukur
Perancangan alat ukur ini bertujuan memperoleh alat ukur relative pitch yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan individu dalam menentukan relative pitch.
D. Manfaat Alat Ukur
Alat ukur ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain: 1. Manfaat teoritis
a. Alat ukur ini diharapkan menambah wawasan teoritis mengenai memori. 2. Manfaat praktis
a. Alat ukur ini diharapkan berguna untuk mengukur tingkat relative pitch yang dimiliki individu untuk membantu proses seleksi minat dan bakat serta membantu perancangan metode dan strategi belajar siswa di bidang musik.
b. Alat ukur ini diharapkan dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya yang bermaksud melakukan penelitian mengenai memori, khususnya relative pitch.
E. Sistematika Penulisan
Bab I : Pendahuluan memuat uraian mengenai latar
dengan variabel yang diteliti.
Bab III : Metode penelitian, berisi uraian mengenai metode yang digunakan peneliti yang meliputi spesifikasi alat ukur, sampel, teknik sampling dan prosedur penelitian.
Bab IV : Analisa data memuat data subjek penelitian, analisa data dengan menggunakan statistik dan interpretasi data yang digunakan dalam bagian pembahasan. Bab V : Kesimpulan dan saran membahas hasil penelitian