STRATEGI DISTRIBUSI
PADA INDUSTRI MAKANAN
Disusun Oleh :
MUMUH MULYANA - H251100061 IRMAWATY – H251100051 MIN ROHAYATI – H251100131 ECO FEMIANDINI – H251100041
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ilmu Manajemen Pemasar an
Pada Sekolah Pascar sar jana IPB
Dosen :
Dr . Ir . JONO M. MUNANDAR, MSC.
DEPARTEMEN MANAJEMEN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
STRATEGI DISTRIBUSI
PADA INDUSTRI MAKANAN
PENDAHULUAN
Salur an Distr ibusi menjadi bagian penting dalam pr oses penyampaian pr oduk dar i
per usahaan manufaktur / pr odusen kepada konsumen akhir . Sebagus apa pun pr oduknya
dan segencar apa pun pr omosinya, tanpa sal ur an distr ibusi yang sistemati s tidak akan
membuat pr oduk ter sebut dikenal dan dikonsumsi oleh konsumen akhir . Jar ingan
distr ibusi ter dir i dar i beber apa elemen yang saling ter kait dan mempengar uhi, beber apa
elemen ter sebut antar a lain adalah supplier , manufact ur er , dist r ibut or dan r et ailer ser ta
pelanggan. Saat ini r antai dan salur an distr ibusi tidak hanya ber tujuan untuk mengur angi
biaya t etapi lebih dar i itu adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Salur an distr ibusi mer upakan suatu jar ingan dar i or ganisasi value chain yang
menjalankan fungsi menghubungkan bar ang dan jasa dengan konsumen. Kegiat an yang
dilakukan oleh int er mediat r y ini pada pr insipnya akan mengur angi hubungan langsung
antar a pr odusen dengan konsumen. Pada intinya fungsi fungsi pemasar an yang dapat
dijalankan oleh suatu jar ingan atau jalur distibusi adalah sebagai ber ikut :
1. Fungsi Per tukar an
Sebagai fungsi per tukar an, salur an distr ibusi memiliki fungsi sebagai ber ikut :
a. Pembelian, di dalam fungsi pembelian ini par a int er mediar ies dalam hal ini
pedagang besar , ber tidak sebagai agen pembelian bagi par a pengecer nya atau
pemakai industr i
b. Penjualan, elemen yang ada pada salur an distr ibusi akan melakukan penjualan
kepada level yang ada dibaw ahnya
c. Pengambilan Resiko, dengan adanya inter midiar ies maka akan ter jadi pembagian
r esiko ter hadap tr ansaksi yang telah dilakukan.
2. Fungsi Penyediaan fi sik
Fungsi penyediaan fisik dalam salur an distr ibusi menjadi sangat penting untuk dapat
r esponsivness dengan member ikan salur an distr ibusi tugas untuk dapat melakukan
hal hal sebagai ber ikut :
a. Pengumpulan, fungsi pegumpulan yang dijalankan oleh inter midiar ies ini sangat
membantu didalam efisiensi penyulur an.
b. Penyimpanan, fungsi penyimpanan ini sangat ber manfaat pada bar ang bar ang yang
mudah atau cepat r usak.
c. Pengangkutan, fungsi memidahkan bar ang dar i tempat dihasilkan ke t empat yang
dikonsumsi.
3. Fungsi Penunjang
Sebagai fungsi penunjang, salur an distr ibusi mempunyai fungsi sebagai ber ikut :
a. Pelayanan sesudah pembelian, member ikan jaminan ter hadap kenyamanan
penggunaan bar an ter sebut setelah dibeli oleh konsumen
b. Pembelanjaan, fungsi ini diper lukan dalam tujuan untuk memper oleh sejumlah
dana dar i tr ansaksi yang ter jadi.
c. Penyebar an Infor masi, melalui pember ian infor masi yang ber guna dan cukup bagi
konsumen sehingga membantu per usahaan dalam mengur angi biaya konsumen
akhir .
d. Koor dinasi Salur an, Fungsi ini sangat ber kaitan dengan fungsi penyebar an
infor masi dan apabila ter jadi komunikasi yang baik antar elemen maka akan sangat
memudahkan didalam pelaksanaan penyalur an.
RINGKASAN JURNAL
Joanna Now akow ska-Gr unt dalam jur nalnya yang ber judul Str ategy of Distr ibution in
Food Industr y Companies mengur aikan hasil penelitiannya pada or ganisasi yang
menggunakan sebuah model salur an distr ibusi pr oduk makanan.
Di bagian Pendahuluan, Joanna mengungkapkan bahw a Str ategi yang diadopsi
per usahaan akan memiliki dampak ter hadap per kembangan per usahaan. Str ategi yang
tepat dan kuat akan menghantar kan per usahaan pada kesuksesan bisni s dan per usahaan
dan Str ategi yang lemah akan menghantar kan per usahaan pada kebangkr utan per usahaan
atau hanya sekedar mampu ber tahan di tengah per saingan pasar . Sehingga dengan
Saat ini, par a manajer selalu dihadapkan dengan tiga per tanyaan str ategis yang
fundamental ter kait upaya per usahaan dalam memahami apa dan bagaimana menaw ar kan
sesuatu kepada konsumen untuk memuaskan kebutuhannya. Per tanyaan ter sebut adalah
sebagai ber ikut :
1. Kesadar an akan eksist ensi per usahaan dan visi str ategi s per usahaan di masa
mendatang
2. Pasar dan Pr oduk
3. Penetapan / Pengendalian Model Oper asi
Jika digambar kan ketiga per tanyaan ter sebut akan nampak seper ti gambar di baw ah
ini :
Jaw aban dar i ketiga per tanyaan ter sebut mer upakan pilihan str ategis bagi per usahaan.
Pener apan str ategi untuk mew ujudkan oper asi yang efi sien dalam per usahaan
hampir mir ip sebuah per mainan, untuk mencapai tujuan per usahaan. Seti ap per mainan
mempunyai atur an dan setiap pemain akan memilih dan membuat beber apa keputusan
untuk memanfaatkan kesempat an mer aih kesuksesan. Per usahaan yang ber bisnis di level
pasar domestik atau inter nasional pun akan dihadapkan dengan keputusan per saingan
dalam setiap inter aksi bisnisnya. Pr oses pilihan str ategi bisnis akan mencakup dua
Per t ama, Komponen Analisis Lingkungan yang mengur ai peluang dan tantangan.
Kedua, Komponen Analisis Or ganisasi yang ter kait Kekuat an dan Kelemahan Or ganisasi Menur ut J. Penc (1994), dalam for mulasi str ategi ter dapat 4 hal yang har us
diper hatikan, sebagaimana yang ter lihat dalam gambar ber ikut ini :
Atur an yang har us diikuti oleh Manajer dalam Per umusan Str ategi :
a. Tidak memandang sesuatu pada satu sisi dan ti dak ber at sebelah
b. Tidak melalaikan dan mengabaikan apapun, sekalipun kesempatan yang ber sifat
tempor er
c. Kembangkan dan per dalam pengetahuan tentang suatu aktivitas
d. Diver sifikasi pr oduksi menjadi langkah ter baik untuk meluncur kan pr oduk yang
dikembangkan secar a ber tahap (mengar ahkan pada posisi ter baik) .
e. Menyetujui bahw a str at egi yang paling utama bukanlah ber juang memenangkan
per saingan namun menyediakan pr oduk/ jasa kepada pelanggan
f. Secar a si stematis melakukan inovasi
g. Melakukan upaya untuk memper luas dan ber investasi di pasar
h. Secar a ener gik melakukan pengembangan ker jasama dengan per usahaan lain di luar
i. Fokus mengembangkan ker jasama dengan lembaga r iset seper ti per gur uan tinggi,
lembaga R&D, peneliti
j. Memper hatikan Lingkungan yang Ter tutup (seper ti politik, aspek legal dsb)
STRATEGI DISTRIBUSI
Selanjutnya Joanna mengungkapkan bahw a Str ategi Distr ibusi sebagai elemen
per saingan dalam Per usahaan. Obser vasi tentang mekanisme yang mempengar uhi per ilaku
konsumen di pasar t er tentu menunjukkan bahw a salah satu ar ea yang paling utama yang
dihar apkan per usahaan menjadi peluang dan menjadi basi s keunggulan dar i pesaingnya
adalah DISTRIBUSI PRODUK. Pendekatan Ekonomi menunjukkan bahw a distr ibusi
mer upakan divisi yang luas yang dipahami dalam per edar an bar ang di antar a masyar akat .
Divisi ini ter gandung pada sistem sosi al, ekonomi dan politik yang ber laku di
masing-masing negar a. Distr ibusi mencakup pula manfaat dan dana yang dialokasikan, sekalipun
dalam ekonomi pasar , distr ibusi diter jemahkan sebagai per tukar an bar ang dan uang tunai
Dalam pandangan Makr oekonomi, distr ibusi mer upakan pr oses dan str uktur yang
sesuai dalam memindahkan bar ang dar i pabr i k ke konsumen akhir . Per pindahan ini akan
membutuhkan per alatan teknis dan mater ial dan hubungan antar a mer eka sebagai dampak
dar i pemilihan ar us bar ang. Pandangan Ekonomi Mikr o, distr ibusi ber dampak pada
keputusan-keputusan yang dibuat dalam per umusan str ategi per usahaan mulai pilihan
metode menjual dan car a menyelesaikan pr oduk sampai ke konsumen akhir .
Aspek w aktu dan r uang menjadi hal penting pula dalam mew ujudkan kuantitas dan
kualitas suatu pr oduk yang ditaw ar kan kepada konsumen akhir . Pr oses penyediaan
pr oduk yang baik pada konsumen menghar uskan per usahaan melakukan sejumlah tugas
yang kompleks, ter masuk :
•
Pengir iman pr oduk jadi ke pener ima akhir , dengan mutu, jaminan, ketahanan danpengemasan yang sesuai;
•
Pengur angan dalam w aktu penyer ahan•
Pengur angan Biaya Distr ibusi;•
Lead-time yang fleksibel;•
Memper luas layanan untuk pelanggan;•
Analisis pasar atas per mintaan dengan per timbangan per sainganPelaksanaan Tugas per usahaan dalam memilih salur an distr ibusi dan metode
penyalur an pr oduk secar a fisik, sehingga r encana penjualan dapat ter capai ser ta layanan
kepada pelanggan dapat ter penuhi, akan sangat memper timbangkan dan memper hatikan
aspek biaya-bi aya. Distr ibusi akan menjadi lebih atr aktif bagi pelanggan, saat semua
aktivitas yang ter kait ter w ujud dengan baik dan juga fungsi distr ibusi dapat member ikan
manfaat yang lebih. Dengan hal-hal ter sebut, w aktu dan r uang pr oses pr oduksi dan
konsumsi akan menjadi efektif, sehingga per bedaan per mintaan dan penaw ar an dapat
diatasi. Memastikan ar us mater ial, ar us infor masi dan ar us keuangan tidak ter ganggu akan
mew ujudkan salur an distr ibusi yang efisien.
STUDI KASUS
Untuk memper jelas pembahasan tentang si stem distr ibusi, Joanna melakukan
penelitian dengan mengambil obyek Sistem Infor masi Pusat Logistik di WGRO – Poznan.
Obyek ini diambil kar ena WGRO menjadi suatu pr oyek besar yang melibatkan banyak
per usahaan di Gildia. Gildia telah melakukan pembangunan dan pengembangan sekitar
5000 per usahaan yang kebanyakan ber ada di Bar at -Tengah dan Utar a Polandia. Skema
Objek yang sangat penting dalam pr oses per tukar an yang dilakukan per usahaan
ter sebut adalah pusat logistik dan distr ibusi. Sentr a ini mempunyai tugas utama untuk
mengor ganisasi dan mengkoor dinasi pasokan besar dan “per mainan” yang distandar isasi
dar i komoditas agr ikultur -per kebunan untuk par a kliennya. Tiga Fase ar us bar ang secar a
fisik: Fase Per sediaan, Fase Pemr osesan dan Fase Pendistr ibusian.
Ar us bar ang fisik dan infor masi mengacu pada kedua hal yaitu penghantar an
individual dan ter or ganisir pada tahap per sedi aan. Ar tinya pr odusen komoditas makanan
agr ikultur individu sama baiknya dengan kelompok pr odusen dan pr odusen spesialis
dalam menjalankan per usahaannya. Kelompok Pr odusen mer upakan penghantar yang
sangat menguntungkan dar i sudut pandang efisiensi, kar ena mer eka dapat mensuplai
pr oduk pada satu w aktu dalam jumlah yang besar . Dalam kasus ini, Kelompok Pr odusen
mer upakan gr up penghantar yang memiliki ijin dan memiliki jaminan untuk ber konsultasi
di WGRO ter kait pr oses pr oduksi pr oduknya.
Pemr osesan Logistik mencakup aktivitas penggabungan antar a pengir iman dan
penyediaan pada jar ingan klien besar yang menjual pr oduk agr i-per kebunan. Depar temen
Penggabungan memiliki per lengkapan moder n untuk menekan dan mengklasifikasikan
pr oduk dengan bar -code sehingga pr oduk dapat melew ati fase ini lalu dinyatakan
ter standar dan memiliki kualitas yang tinggi. Hal yang penting adalah, aktivitas WGRO
menjadikan penjualan pr oduk dapat ber langsung di hall moder n.
Depar temen Pemasar an dan Per dagangan memainkan bagian esensial dalam lapisan
distr ibusi WGRO. Tugas Depar mten Pemasar an adalah ber konsentasi mempengar uhi
pembeli untuk bisa mengambil manfaat dar i sar ana pr omosi yang membuat populer
pr oduk yang dipasar kan. Depar temen Per dagangan ber per an mencar i klien secar a efektif.
Sentr a Logistik dan Di str ibusi ini mer upakan pengkolabor asian antar a konsumen yang
membutuhkan pr oduk dengan pr odusen yang akan menjual pr oduknya, melalui
mekanisme per tukar an infor masi. Penaw ar an dilakukan melalui inter net Di WGRO pun
ter dapat oper ator (Paker Company) yang ber tugas untuk ber w enang menyetujui pasokan
dar i penghantar , pengemasan, pencatatan logistik dan pengir iman bar ang kepada
KESIMPULAN
Juga mempr oses dan mendistr ibusikan dengan per alatan moder n, menggunakan oper ator logistik, yang semuanya mampu menyediakan pr oduk yang ber kualitas tinggidi Gildia.
Ar us Infor masi disebar melalui inter net sehingga memudahkan untuk mengaksesnya bagi yang membutuhkan
Semua aktivitas ter sebut membuat Gildia memiliki jar ingan per tukar an bar ang antar a distr ibutor dengan pembeli pr oduk agr ikultur dan menjadikan Sentr a Logistikmemiliki per an yang sangat penting dalam r antai pasokan industr i makanan agr ikultur
Di samping, menjalankan per an penting sebagai penyedia layanan infor masi antar a penjual dan pembeliULASAN HASIL REVIEW JURNAL
Untuk melengkapi pemahaman kita tentang str ategi distr ibusi pada industr i
makanan, ber ikut ini beber apa ulasan dan ur aiannya:
Joanna dalam jur nalnya mengungkapkan tentang model salur an distr ibusi yang
digunakan oleh WGRO (Pusat Per dagangan Agr o-Hor tikultur a di daear h Poznan, Polandia)
yang mengintegr asikan sist em infor masi ber basi s inter net dan fungsi oper ator logistik
dalam menghubungkan antar a pr odusen hasil per kebunan dengan customer yang
membutuhkan pr oduk ter sebut. Selur uh data tentang pr oduk yang ter sedia, dan pelanggan
yang membutuhkan pr oduk ter data secar a baik di pusat data dan infor masi WGRO. Lalu
tr ansaksi bisnis ber langsung dengan Oper ator Logistik sebagai pihak yang mengeksekusi
tr ansaksi t er sebut sehingga pr oduk diter ima pelanggan dan par a pr odusen mener ima
pembayar an hasil penjualan pr oduk yang dihasilkannya. Moden dan si stem distr ibusi ini
menjadi pilihan model dan str ategi distr ibusi yang efektif ser ta menguntungkan bagi
pengemasan yang handal dan pendampingan ter hadap petani / pr odusen di saat pr oses
pr oduksi ber langsung.
Pemilihan salur an distr ibusi menjadi penting dalam r angka memasar kan pr oduk
kepada pelanggan. Apabila sebuah per usahaan memiliki masalah dalam salur an distr ibusi
maka pemasar an pr oduknya akan ter ganggu yang dapat mengakibatkan per for mansi
per usahaan akan menur un. Untuk itu dalam pemilihan salur an distr ibusi per lu
diper hatikan beber apa hal yaitu :
Efektivitas
Cakupan layanan
Efisiensi biaya
Kemampuan adaptasi dalam jangka w aktu yang panjangModel dalam Salur an Distr ibusi
Dalam model tr adisional, per usahaan mengunakan beber apa bentuk salur an
distr ibusi, salah satunya adalah seper ti pada Gambar 2.3 dibaw ah ini:
Gambar 2.3 Salur an dan Rantai Distr ibusi
Sumber : Ander son,E. (et al) (1997) St r at egic Channel Design. Jour nal of Sloan ManagementReview ,59-69.
Ketiga r antai dan salur an distr ibusi memiliki kar akt er istik yang ber beda beda,
Pola 1 : pola ini menggunakan pihak ketiga untuk dapat beker jasama dengan manufact ur er
untuk dapat memasar kan pr oduknya. Dalam salur an ter sebut jika pr oduk ter sebut
memer lukan aft er sales ser vices maka pelanggan dapat memintanya kepada dealer dimana
mer eka membeli yang kemudian jika tidak dapat diselesaikan oleh dealer ter sebut maka
keluhan pelanggan dapat dieskalasi hingga ke manufact ur er .
Pola 2 : Pada pola ini manufactur er menggunakan kemampuan sendir i dalam memasar kan
pr oduknya dengan membuat kantor per w akilan untuk penjualan pr oduk. Dengan pola
seper ti ini maka pelanggan melakukan kont ak langsung dengan per w akilan sehingga
apabila ter jadi keluhan maka hal ter sebut dapat langsung disampaikan kepada
manufact ur er.
Pola 3 : Pola ini hanya menggunakan dist r ibutor sebagai kepanjangan tangan dar i
manufact ur er. Pola ini hampir sama dengan pola 1 hanya saja layer yang ber ada dibaw ah
manufact ur er hanya satu.
Ter lepas dar i ber bagai bentuk model r antai dan salur an distr ibusi diatas, pelanggan
membutuhkan pelayanan yang cepat dan t epat sehingga dapat member ikan kepuasan bagi
pelanggan.
Dengan mult iple channel maka ter dapat pilihan bagi pembeli dan penjual dalam
melakukan tr ansaksi , hal ini disesuaikan dengan kar aker istik pr oduk dan keinginan
pelanggan dalam ber tansaksi. Pelanggan indivi du yang ingin melakukan tr ansaksi melalui
dir ect channel maka bisa menghubungi sales r epr esent at ive ataupun bisa menggunakan layanan websit e. Lain halnya jika pelanggan kor por asi yang memer lukan aft er sales ser vices
maka mer eka akan membeli melalui distr ibutor untuk mendapatkan after sales ser vices.
Gambar 2.4 Mult iple Channel
Sumber : Ander son,E.,et al. (1997) St r at egic Channel Desi gn. Jour nal of Sloan ManagementReview ,59-69.
Dengan mult iple channel ter dapat pembagian pelanggan ber dasar kan segmen segmen
ter tentu sehingga per usahaan dapat menjangkau semua pasar yang ada. Per usahaan akan
membagi pr oduk ber dasar kan salur an distr ibusinya dan hal ini dapat dilakukan bila
ter dapat per bedaan yang mendasar dar i pr oduk yang ditaw ar kan.
Model Composit e Channel membagi tugas antar a manufact ur er dan level yang ada
dibaw ahnya. Hal ini menyebabkan setiap layer distr ibusi beker ja sesuai dengan spesi alisasi
yang dimilikinya. Dalam model di baw ah ini digambar kan bahw a manufact ur er mempunyai
tugas untuk mencar i demand dar i pr oduk ter sebut dalam bentuk mar ket ing t ask, kemudian
setelah t er dapat per mintaan pr oduk maka distr ibutor dar i pabr ikan akan melakukan
distr ibusi bar ang yang ingin dibeli oleh pelanggan. Dan jika t er jadi adanya keluhan
ter hadap bar ang yang dibeli maka manufact ur er akan menyer ahkan kepada par t ner yang
Gambar 2.5 Composit e Channel
Sumber : Ander son,E.,et al. (1997) St r at egic Channel Desi gn. Jour nal of Sloan ManagementReview ,59-69.
Model Salur an Distr ibusi Elektr onik. Salur an distr ibusi elektr onik adalah r antai
hubungan antar a per usahaan dan pelanggan ser ta per usahaan dengan mitr a distr ibusinya.
Adanya kebutuhan yang cepat dan handal menyebabkan lahir nya salur an distr ibusi
elektr onik yang dibuatuntuk memuaskan pelanggan dan atau mitr a distr ibusi. Ter dapat 4
macam pengembangan salur an distr ibusi dengan menggunakan salur an elektr onik,
keempat pengembangan salur an distr ibusi ter sebut adalah t r ansact ion enhancement ,
e-channel compr ession, e-e-channel expansion, dan ee-channel innovat ion.
Model Salur an Distr ibusi : Tr ansaction Enhancement. Pada salur an distr ibusi yang
menggunakan t r ansact ion enhancement , distr ibusi dilakukan dengan car a offline. Tetapi
ter dapat alir an infor masi yang dilakukan secar a elektr onik dalam r angka memudahkan
alir an infor masi dar i pr odusen ke mitr a distr ibusi. Dengan pola ini maka pemesanan untuk
pr oduk akan dilakukan oleh pelanggan secar a elektr onik tetapi pengir iman pr oduk
dilakukan secar a fisik. Sehingga yang ter jadi adalah per baikan dar i si stem infor masi
sehingga dapat memudahkan pelanggan.
Model Salur an Distr ibusi : E-channel Compr ession. E-Channel Compr ession
mer upakan tahap selanjutnya ketika sudah ter jadi tr ansaksi elektr onik. Dengan e-channel
e-channel compr ession adalah pada saat pemesanan tiket pesaw at t er bang dimana sebelumnya menggunakan agency untuk dapat mener bitkan tiket dan pener bit an tiket
ter sebut dilakukan secar a elektr onik. Dengan menggunakan str ategi e-channel compr ession
maka pelanggan tidak per lu menggunakan agency dalam pemesanan tiket melainkan
pelanggan langsung memesan tiket pesaw at ke air line.
Model Salur an Distr ibusi : E-channel Expansion Pada e-channel expansion,
per usahaan ber usaha untuk memper banyak channel dengan jalan beker jasama dengan
int er mediar y sehingga pelanggan dapat melakukan tr ansaksi lew at int er mediar y ataupun lew at mitr a distr ibusi yang dibangun oleh pr odusen.
Model Salur an Distr ibusi : E-channel I nnovation. E-Channel Innovat ion adalah
sebuah ter obosan bar u yang dibangun oleh per usahaan untuk dapat mendistr ibusikan
pr oduk dimana dalam pr oduk ter sebut juga t er jadi per ubahan. Dengan adanya per ubahan
pada pr oduk ter sebut maka ter dapat salur an distr ibusi bar u yang akhir nya dapat
membentuk sebuah sistem bar u dar i distr ibusi. Dengan adanya pilihan bar u dar i segi
pr oduk dan sistem distr ibusinya maka pelanggan memiliki pilihan untuk dapat menikmati
pr oduk yang dibelinya. Dengan banyaknya jenis pelanggan maka per usahaan dapat
melayani kebi asaan dan keinginan pelanggan secar a lebih menyelur uh.
Per anan Teknologi Infor masi dalam Supply Chain Management
Teknologi infor masi har us mendukung str ategi bisnis yang ditur unkan menjadi
funct ional st r at egy dimana salah satu functional str ategi adalah IT St r at egy. Hal ini penting agar str ategi yang telah dir umuskan oleh per usahaan dapat diimplementasikan untuk
mencapai tujuan per usahaan. Pada gambar 2.6 dijelaskan mengenai hubungan antar a
Gambar 2.6 Hubungan antar a Str ategi Bisnis dan Str ategi IT
Sumber :Tur ban,E;et al (2007). Infor mation Technology for Management.Asia:John Wiley &Sons, Inc p.521
Pada gambar diatas dapat dilihat bahw a Str ategi IT yang akan dibangun har us
menyesuaikan dengan str at egi bisnis sehingga tujuan bisnis akan mendapat dukungan dar i
IT.
Sebuah sistem distr ibusi dapat dibangun dengan menggabungkan salur an distr ibusi
dengan sistem infor masi dan teknologi, sehingga menciptakan suatu mekanisme
ter integr asi yang efektif dan efisi en dalam salur an distr ibusi pr oduk.
DAFTAR PUSTAKA
UTAMA :
Joanna Nowakowska-Gr unt , 2009. Str ategy of Distr ibution in Food Industr y Companies.
Annales Univer sit at is Apulensis Ser ies Oeconomica, 11(2), 2009. War saw a : Czestochow a Univer sity of Technology
PENDUKUNG :
Ander son,E.; Day,S.G.; Rangan,V.K.. (1997) St r at egic Channel Design. Jour nal of Sloan
Car penter ,M.A; Sander s,G (2007).St r at egic Management : a dynamic per spect ive: concept s
and concept s.New Jear sey: Pear son Education.
Tur ban,E; Leidner ,D; McLean,E; Wether be,J. (2007). Infor mat ion Technology for