• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE PADA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE PADA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE PADA

PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Rosi Siti Rosidah

Universitas Majalengka

[email protected]

Abstrak— Didalam zaman yang semakin cepat maju menuntut sumber daya manusia harus siap bersaing dalam hal apapun. Dengan demikian, bisa mempengaruhi dalam aspek pendidikan. Aspek tersebut merupakan aspek yang sangat penting bagi siswa yang dapat mengubah pemikiran yang luas. Dalam kehidupannya seorang siswa harus mempunyai modal yakni kemampuan siswa untuk mengetahui hal-hal yang bersifat dasar. Dalam hal ini, pembelajaran IPS khususnya di sekolah dasar sebagai dasar pembentuk kepribadian individu-individu yang dapat melatih kemampuan potensi yang telah dimiliki. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil bisa dilihat dengan adanya perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap atau keterampilan dalam diri siswa. Peran guru dalam pendidikan merupakan langkah utama untuk mencerdaskan siswa-siswa, karena proses pembelajaran bergantung pada siapa yang menyampaikan. Dengan demikian, berdasarkan kenyataannya masih banyak ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan hasil belajar siswa, akhirnya hasil belajar pun masih rendah belum menunjukkan hasil yang optimal. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan diatas, maka perlu adanya peningkatan hasil belajar yaitu dengan menggunakan model scramble. Dalam model ini, diharapkan siswa mampu berpikir secara bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan dengan mencari tahu jawaban yang cocok yang telah disediakan, sehingga siswa terlibat aktif dan fokus dalam pembelajaran. Dalam model ini dapat memberikaan pengalaman secara langsung. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu adanya tindakan guru untuk menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatakan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.

(2)

2

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peranan penting dan menduduki posisi sentral dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1 ayat 1 bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlah mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sesuai dengan pernyataan dalam Permendiknas 2006 (dalam Sapriya 2008 : 194) yaitu: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang di berikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi.

Tujuan pendidikan IPS sebagai bidang studi yang diberikan pada jenjang pendidikan dilingkungan persekolahan, bukan hanya memberi bekal pengetahuan saja, tetapi dapat mengembangkan nilai, sikap, keterampilan sosial, kewarganegaraan, fakta, peristiwa, konsep dan generalisasi, serta mampu merefleksikan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Maka dari itu, guru diharapkan mampu memiliki keterampilan atau

kemampuan dalam menciptakan suasana yang kondusif, menggunakan model pembelajaran yang inovatif, metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta membuat siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran IPS dikelas.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dalam pembelajaran IPS di Kelas IV SD Negeri Sukasari 1 Desa Sukasari Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka masih seperti pembelajaran biasanya dilakukan dengan cara menggunakan metode yang masih bersifat konvensional atau ceramah dan guru belum melibatkan siswa secara aktif dalam suatu pembelajaran dan guru belum mampu mengembangkan potensi siswa yang dimiliki. Akhirnya hasil belajar pun bisa dikatakan masih rendah belum menunjukkan hasil yang optimal, bahkan sebagian besar masih banyak siswa yang tidak mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan (KKM). Dalam hasil belajar terdapat tiga indikator yang harus dicapai oleh siswa baik dalam ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotor (keterampilan). Dilihat dari ranah kognitif siswa diperoleh informasi dari hasil ulangan belajar siswa yang dibuat oleh guru yakni 75 berdasarkan nilai KKM (Keriteria Ketuntasan Minimal), sedangkan dari 28 siswa hanya 13 siswa yang memperoleh ketuntasan yakni 46,42%, dan yang tersisa 15 siswa atau 53,57% yang belum memperoleh ketuntasan (KKM). Sedangkan dalam segi sikap dan kepribadian siswa kurang bersikap kerja sama dalam pembelajaran, dan kurangnya percaya diri dalam berpendapat, serta dalam

(3)

3

segi psikomotor siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan diatas guru harus mampu mendesain model pembelajaran yang inovatif dan dapat menarik perhatian siswa, agar siswa dapat mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan. Model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru yaitu dengan menggunakan model kooperatif. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar adalah model Scramble. Dari pendapat di atas bahwa model pembelajaran tipe

Scramble merupakan suatu model

pembelajaran yang dapat membangun siswa untuk berfikir secara kritis, menciptakan suasana yang menggembirakan, dan mendorong siswa untuk mencarii tahu jawaban yang telah diberikan secara bekerja sama, sehingga siswa terlibat aktif dan fokus dalam pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan diatas, diharapkan dengan penggunaan model

Scramble dalam proses pembelajaran

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga mencapai titik ketuntasan yang telah ditetapkan, menerapkan sikap kerja sama yang terjalin dari kerja kelompok dalam kehidupan siswa, serta membantu siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran dengan penuh percaya diri.

PEMBAHASAN

Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora yaitu sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Pendidikan IPS adalah penyederhanaan

atau adaftasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang dioganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan (Sapriya, 2009 : 11). Selaras dengan pendapat di atas, menurut Gunawan (2011 : 51) “IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial”.

Dengan adanya hal itu, maka seseorang akan mengetahui tentang dirinya yang seharusnya berhubungan dengan alam dan berintraksi dengan manusia lain. Karena setiap manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup dengan sendirinya, tetapi akan membutuhkan bantuan orang lain dan akan dibutuhkan pula oleh orang lain dalam hal apapun.

Tujuan utama pembelajaran IPS adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi. Selanjutnya wahab (dalam Gunawan, 2011 : 21) berpendapat bahwa: Tujuan pengajaran IPS di sekolah tidak lagi semata-mata untuk memberi pengetahuan dan menghapal sejumlah fakta dan informasi akan tetapi lebih dari itu. Para siswa selain diharapkan memiliki kemampuan mereka juga dapat mengembangkan keterampilanya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya.

Dengan demikian dari berbagai pendapat di atas dapat diuraikan bahwa tujuan pembelajaran IPS merupakan satu kesatuan yang dapat

(4)

4

mempengaruhi atau membina warga negara yang baik dan tujuan ini sesuai dengan tingkat perkembangan pendidikan IPS sekarang. Maka dengan adanya hal itu, siswa akan mempelajari dan memahami norma-norma yang berlaku, sehingga siswa mendapat pengalaman yang bersifat positif dan siswa mampu mengembangkan keterampilan dari berbagai segi seperti tingkat akademik, mengembangkan dalam tingkat potensi maupun dalam tingkat sosial. Sehingga, siswa peka terhadap masalah sosial dan terampil dalam mengatasi setiap permasalahan yang terjadi, baik yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat, dan siswa mampu menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat dan negara.

Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah hasil belajar. Hasil belajar merupakan suatu komponen yang saling berkaitan dan hasil dikatakan sebagai akhir dari setiap kegiatan, sedangkan belajar adalah perubahan psikis yang mempunyai objek utama adalah manusia. Menurut Nawawi (dalam Susanto, 2013 : 5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah “Tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pembelajaran tertentu”. Menurut Fayakun (Diani, Yuberti dan Syafitri:266) menyatakan ‘Hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu’.

Berdasarkan pemaparan pendapat diatas, dapat diuraikan bahwa hasil belajar yaitu tahap akhir siswa yang menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah proses

pembelajaran yang didominasi melalui tiga ranah yaitu ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Sehingga dapat membentuk kualitas individu yang memiliki pengetahuan yang luas atau dapat membentuk tingkah laku yang diharapakan.

Dengan demikian, untuk melihat hasil belajar siswa yaitu dengan cara mengetahui indikator hasil belajar. Menurut Arifin (2013 : 27) “Indikator hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran”. Dikatakan berhasilnya sebuah pembelajaran apabila hasil daripada proses pembelajaran menyentuh tiga jenis perilaku belajar yang sesuai dengan tingkatan perkembangan umur individu, seperti: Ranah Kognitif (Cognitif Domain), Ranah Afektif (Affective Domain) dan Ranah Psikomotor (Psychomotor

Domain).

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif. Dapat dikatakan bahwa ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan akademis peserta didik yang mencakup kegiatan otak (Sudaryono, 2012). Menurut Bloom (dalam Karwati dan Priansa, 2014 : 200) terdiri dari enam jenis perilaku kognitif, yaitu: 1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan 2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari 3) Penerapan, mencakup kemampuan menerangkan

(5)

5

metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru 4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik 5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru 6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.

Ranah afektif menilai sikap peserta didik dengan harapan penguasaan sikap semakin baik dalam penguasaan aspek kognitif (Sudaryono, 2012). Menurut Krathwol dan Bloom (dalam Karwati dan Priansa, 2014 : 202) memiliki lima jenis perilaku ranah afektif, yaitu: 1) Penerimaan, mencakup kepekaan tentang dan kesediaan memperhatikan hal tersebut 2) Partisipasi, mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan 3) Penilaian dan penerimaan sikap, mencakup penerimaan terhadap suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menetukan sikap 4) Organisasi, mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup 5) Pembentuk pola hidup, mencakup kemampuan menghayati nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.

Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan

(skill) atau kemampuan bertindak

setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu (Sudaryono, 2012). Ranah psikomotor dikembangkan oleh Simpson (dalam Karwati dan Priansa, 2014 : 203 - 204) memiliki tujuh jenis prilaku kemampuan motorik, yaitu: 1) Persepsi,

mencakup kemampuan memilah atau mendeskripsikan secara khusus dan menyadari perbedaannya 2) Kesiapan, mencakup kemampuan menempatkan diri pada keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau mencakup aktivitas jasmani dan rohani (mental) 3) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan meniru atau mencontohkan gerakan yang dilakukan orang lain 4) Gerakan terbatas, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh 5) Gerakan koompleks, mencakup kemampuan melakukan gerakan kompleks secara tepat, efesien, dan lancar 6) Penyesuaian pola gerakan, mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak 7) Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerakan baru atas dasar prakarsa sendiri.

Sementara itu, ketiga ranah di atas saling keterkaitan antara satu sama lain, karena siswa dalam proses pembelajaran tidak hanya diukur dalam kedua domain, melainkan harus adanya ketiga domain yang telah ditetapkan. Domain yang ketiga ini merupakan domain yang mengukur tingkat keterampilan yang telah ada pada diri siswa dan harus dikembangkan sesuai potensi. Di samping itu, guru harus mampu mengamati dalam sikap dan keterampilan siswa dikelas agar guru dan siswa bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap individu. Ketika ranah-ranah tersebut dapat terbentuk dalam diri individu, maka bisa dikatakan proses pembelajaran berhasil dan siswa mampu mengembangkan sikap dan keterampilan dalam masyarakat.

Motivasi belajar dari orang-orang terdekat merupakan salah satu

(6)

6

yang menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa didalam pembelajaran. Secara perinci, dapat diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

Menurut Syah (2006: 132), terdapat tiga faktor yang dapat mempegaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut: 1) Faktor internal (dari dalam diri peserta didik 2) Faktor eksternal (dari luar diri peserta didik) dan 3) Faktor Pendekatan Belajar, dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan peserta didik dalam menunjang efektivitas dan efisien proses pembelajaran materi tertentu.

Menurut Majid (2013 : 174) pembelajaran kooperatif adalah “Model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok yang terdiri dari 4 sampai dengan 5 orang yang mempunyai karakter yang berbeda-beda atau bersifat heterogen.

Dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh keadaan suatu emosi, apabila siswa merasa terpaksa dalam mengikuti proses pembelajaran. Maka disamping itu, siswa akan merasa kesulitan dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru. Salah satu model kooperatif adalah model scramble.

Sesuai dengan sifat jawabannya model Scramble memiliki macam - macam bentuk, diantaranya:

1) Scramble kata, yakni sebuah permainan menyusun kata-kata

dan huruf - huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna.

Misalnya: T-p-e-i-a-n = Petani 2) Scramble kalimat, yakni sebuah

permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak. Bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna, tepat, dan benar.

Contohnya: Pergi – aku – bus – ke – naik – Bandung = Aku pergi ke Bandung naik bus

3) Scramble wacana yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat - kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya logis dan bermakna. Hanya saja jika scramble wacana, yang diacak adalah sebuah kata atau kalimat yang mana kata atau kalimat tersebut menjadi sebuah clue atau petunjuk dan selanjutnya dari petunjuk yang siswa dapatkan, mereka menyusunnya menjadi sebuah wacana.

Contohnya: Muda-Rokok – Bahaya – Kesehatan – Perlindungan – Bagi – kebutuhan – Untuk – Generasi = Perlindungan bahaya rokok untuk kebutuhan kesehatan bagi generasi muda.

Pada acakan kalimat tersebut, perintah selanjutnya siswa diperintahkan untuk menyusun menjadi kalimat yang runtut dan kemudian siswa diminta untuk membuat suatu wacana tentang kalimat yang telah dirapikan tadi. Sehingga hasil akhirnya tidak hanya sebuah deretan kata atau kalimat, melainkan sebuah wacana hasil pemikiran siswa.

Berdasarkan pendapat diatas, pembelajaran dengan melalui model

(7)

7

Scramble adalah suatu model

pembelajaran yang dapat berpengaruh secara positif terhadap siswa, yang dapat meningkatkan konsentrasi sehingga siswa dapat dilatih berkreasi untuk menyusun kata, kalimat, atau menyusun wacana secara acak dengan merangkai kembali secara tersususun dan bermakna. Dengan adanya hal itu, maka model ini dapat dilakukan dalam semua pembelajaran.

Dalam hal ini, Menurut Huda (2014 : 306) “kelebihan dan kekurangan model kooperatif tipe scramble yaitu”: 1) Membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan 2) Memupuk rasa solidaritas dalam kelompok 3) Melatih siswa untuk berpikir cepat dan tepat 4) Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal dengan jawaban acak 5) Melatih kedisiplinan siswa 6) Materi yang diberikan dapat mengesankan dan sulit untuk dilupakan 7) Mendorong siswa lebih kompetitif dan semangat untuk lebih maju.

Disamping kelebihan dari kooperatif Tipe Scramble bahkan terdapat juga kekurangannya. Kekurangan dari kooperatif tipe

Scramble adalah: 1) Siswa bisa saja

mencontek jawaban temannya 2) Memerlukan waktu yang relatif panjang 3) Siswa tidak dilatih untuk berfikir kreatif 4) Siswa menerima bahan mentah yang hanya perlu diolah dengan baik.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan kelas (PTK). Menurut Kemmis (dalam Sanjaya, 2015 : 24) berpendapat bahwa “Penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang

dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka”.

Desain penelitian yang digunakan adalah model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Adapun tahapan tiap siklusnya yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, tindakan pengamatan dan refleksi.

SIMPULAN

IPS merupakan salah satu pembelajaran di sekolah dasar yang didalamnya mengajak siswa untuk berintraksi dengan orang lain, walaupun orang tersebut tidak mengenalinya. Karena setiap manusia tidak akan pernah lepas dari bantuan orang lain. Dalam hal ini, pembelajaran ips tidak hanya dijadikan ukuran untuk keberhasilan dikelas, melainkan memupuk ilmu-ilmu sosial yang bisa di implementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Dalam model kooperatif tipe scramble mengutamakan siswa dalam kelompok untuk bekerja sama memecahakan masalah dengan berpikir secara kritis untuk mencari jawaban yang sesuai dalam menyelesaikan masalah. Adapun kelebihan dari model ini adalah membangkitkan kegembiraan, melatih keterampilan, melatih siswa untuk berpikir cepat dan tepat, serta materi yang diberikan dapat mengesankan dan sulit untuk dilupakan.

Berdasarkan uraian diatas bahwa model scramble dapat mempermudah guru dalam memberikan materi pembelajaran dan agar tujuan atau hasil pembelajaran dapat tercapai.

(8)

8

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2013). Evaluasi pembelajaran,

Prinsip, Teknik, Prosedur.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Diani R. Dkk. (2016). Uji Effect Size

Model Pembelajaran Scramble Dengan Media Video Terhadap Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MAN 1 Pesisir Barat. Jurnal

Pendidikan Fisika Al-Biruni. 05(02).

Hal. 265-275.

Gunawan, R. (2011). Pendidikan IPS;

Filosofis, Konsep dan Aplikasi.

Bandung: Alfabeta.

Huda, M. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Karwati, E dan Priansa. (2014).

Manajemen Kelas. Bandung:

Alfabeta.

Majid, A. (2013). Strategi

Pembelajaran. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, W. (2015). Penelitian

Tindakan Kelas. Jakarta:

Prenadamedia Group.

Sapriya, (2008). Pendidikan IPS Konsep

Dan Pembelajaran. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Susanto, A. (2013). Teori belajar Dan

Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Referensi

Dokumen terkait

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran IPS materi permasalahan sosial dapat meningkatkan

Pembelajaran Kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. 11 Pada hakikatnya pembelajaran cooperativesama

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II atau kelompok eksperimen dan yang

Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi pengetahuan matematika siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran

Negeri 3 Mataram tahun pelajaran 2012/2013?” Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT Numbered Head Together

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe scramble dapat meningkatkan proses belajar keberagaman karakteristik individu siswa kelas IV UPT SDN 1 Baranti Sidrap karena diterapkan