1
A.
Latar Belakang MasalahRemaja merupakan suatu masa dimana individu sedang melewati berbagai macam tahap untuk dapat melalui suatu fase tertentu. Tahap-tahap yang akan dilewati ini tentu memerlukan usaha untuk dapat melewatinya dengan baik. Para remaja akan dihadapkan dengan berbagai masalah baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri remaja tersebut. Masalah yang akan dihadapi pada masa remaja ini tentu akan sangat beragam yang tentunya dapat disebabkan oleh banyak faktor dari dalam kehidupan. Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, para remaja tentu memiliki sikap dalam menghadapinya yang tentunya akan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Maka dari itu para remaja harus mampu untuk dapat menentukan cara atau jalan yang paling baik dalam mencari penyelesaiannya. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya pada masa ini lah manusia mulai belajar bagaimana mencari cara dan metode yang tepat dalam menghadapi serta menyelesaikan permasalahan hidup yang pasti akan dialami oleh setiap orang.
Berbicara mengenai permasalahan, tentunya banyak terdapat permasalahan yang tengah dihadapi oleh para remaja saat ini yang juga sangat beragam. Salah satunya adalah fenomena bullying pada remaja. Bullying merupakan perilaku verbal atau perilaku fisik yang dimaksudkan untuk mengganggu orang lain yang lebih lemah.
Bullying dapat dibedakan menjadi verbal bullying dan physical bullying (Santrock dalam Suwarjo, 2009). Salah satu contoh bullying fisik yaitu meludahi, melempar, menginjak kaki, menjambak, dan lain-lain. Kemudian bullying verbal dapat berupa menghina, menuduh, bergosip, dan lain sebagainya. Hironimus Sugi dari Plan International menyimpulkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak-anak di sekolah menduduki peringkat kedua setelah kekerasan pada anak-anak dalam keluarga. Padahal, jika siswa kerap menjadi korban kekerasan, mereka dapat memiliki watak kekerasan di masa depan. Hal ini secara kolektif akan berdampak buruk terhadap kehidupan bangsa (Astuti, 2008).
Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada tahun 2001 mengeluarkan hasil statistic yang mencengangkan bahwa 77% pelajar Amerika Serikat mengalami bullying secara fisik, verbal maupun mental. Ini berarti 1 dari 4 anak di Negeri itu telah terkena bullying. Data yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi menunjukkan bahwa Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan adanya kenaikan yang cukup signifikan pada angka kekerasan yang terjadi pada anak di tahun 2011. Sekretaris Jenderal Komnas PA Samsul Ridwan menyebutkan bahwa adanya peningkatan laporan atau pengaduan yang diterima oleh Divisi Pengaduan dan Advokasi Komnas Anak. Untuk jumlah pengaduan yang masuk, peningkatannya melesat hingga 98 persen pada tahun 2011, pengaduan itu berjumlah sebanyak 2.386 pengaduan dari 1.234 laporan pada tahun sebelumnya (tahun 2010).
(http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/09443360/.Bullying.Masih.Jadi.Momok)
Kemudian di Jepang, menurut Richard Werly dalam tulisannya Persecuted even on the Playground di majalah Liberation (2001), 10% pelajar yang stres karena bullying, sudah pernah melakukan usaha bunuh diri paling tidak sekali. Departemen Pendidikan
Jepang memperkirakan 26 ribu pelajar SD dan SMP membolos sekolah karena perilaku diskriminatif yang mereka hadapi di sekolah.
Perilaku bullying sebenarnya dapat terjadi di mana saja, misalnya saja seperti di jalan menuju sekolah, di jalan pulang dari sekolah, bahkan juga dapat terjadi di rumah atau di tempat-tempat umum. Selain itu dengan adanya kemajuan teknologi juga dapat memungkinkan pelaku bullying menjajah korbannya melalui pesan pendek dari telepon genggam atau melalui internet yang biasa disebut cyber bullying. Tindakan bullying ini tentu memerlukan usaha untuk mencegahnya, salah satunya yaitu adanya peran orangtua untuk dapat lebih aktif dan tanggap lagi dalam memonitor dan mengontrol perilaku anak-anaknya salah satunya dengan memperhatikan telepon genggam putra-putrinya agar memastikan mereka terbebas dari ancaman maupun tindakan bullying.
Selain itu, bullying juga kerap terjadi di lingkungan sekolah, terutama di kawasan yang jarang diketahui atau di luar pengawasan guru. Tindakan bullying yang sering terjadi di sekolah biasanya terjadi di lorong sekolah, kantin, pekarangan, lapangan, toilet pada waktu-waktu yang diperkirakan siswa tidak akan terjadi pemeriksaan. Tindakan yang dapat dilakukan guna mencagah terjadinya tindakan bullying di sekolah adalah diharapkan bagi para guru agar dapat mengawasi secara menyeluruh dan intensif terhadap murid-muridnya.
Menurut SEJIWA (2006), bullying diartikan sebagai tindakan penggunaaan kekuasaan atau kekuatan yang menyakiti seseorang atau sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Adapun pendapat yang lain juga dikemukakan oleh Olweus (Baron dkk,2007) yang menyebutkan bullying adalah sebuah agresi yang dilakukan seseorang secara berulang pada orang lain yang lebih kecil atau
yang dianggap tidak memiliki kekuatan dengan keterkaitan bahwa orang tersebut tidak bisa melawan hanya bisa menerima.
Olweus (1993) mengemukakan bahwa bullying merupakan suatu tindakan negatif yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berulang-ulang dan terjadi dari waktu ke waktu, kemudian bullying melibatkan adanya ketidakseimbangan kekuasaan dan kekuatan, sehingga korban dari tindakan bullying berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterimanya.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku atau tindakan bullying di antaranya menurut Astuti (2008) yaitu perbedaan kelas, ekonomi, agama, gender, etnisitas / rasisme, tradisi senioritas, keluarga yang tidak rukun, situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif, dan yang terakhir karakter individu atau kelompok. Pada faktor yang terakhir yaitu karakter individu atau kelompok terdapat rasa dendam, iri hati dan ingin mendapat popularitas yang menimbulkan keinginan pelaku untuk dapat menguasai seseorang dengan kekuatan fisik yang dimilikinya. Karakter yang terbilang negatif seperti ini mengacu pada karakteristik konsep diri rendah yang diungkap oleh (Carpenito, 1998 dalam Tarwoto & Wartonah), yaitu menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu, tidak ingin berkaca, menghindari diskusi tentang topik dirinya, menolak usaha rehabilitasi, melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat, mengingkari perubahan pada dirinya, peningkatan ketergantungan pada orang lain, tanda dari keresahan seperti marah dan keputusasaan, menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya, tingkah laku yang dapat merugikan orang lain dan juga merusak seperti contohnya penggunaan obat-obatan dan alkohol, menghindari kontak sosial dan kurang bertanggung jawab.
Menurut Rola (Sahputra, 2009) dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Konsep diri positif lebih kepada penerimaan diri, bukan sebagai suatu kebanggaan yang besar tentang diri. Konsep diri positif bersifat stabil dan bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya, sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. Individu yang memiliki konsep diri positif akan merancang tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai serta mampu menghadapi kehidupan didepannya dan menganggap hidup adalah suatu proses penemuan.
Konsep diri negatif terbagi dua tipe yaitu, dimana pandangan individu tentang dirinya benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya. Pandangan tentang dirinya terlalu stabil dan teratur, hal ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Orang-orang yang terlibat dalam tindakan bullying dapat dibagi menjadi pelaku dan korban bullying. Meskipun pelaku tampaknya tidak terlalu memiliki masalah dengan konsep diri daripada korban, penelitian oleh Christie - Mizell (2003) menunjukkan bahwa konsep diri negatif adalah salah satu prediktor yang paling penting dari perilaku bullying di kalangan anak-anak sekolah dasar dan menengah. Pelaku memiliki kekuatan fisik dan mental yang lebih kuat, yang dapat menjadi alasan mengapa pelaku melihat fisik mereka sebagai kemampuan yang lebih menguntungkan daripada korban. Pada penelitian tersebut membahas mengenai bagaimana hubungan antara perselisihan orangtua dan konsep diri
anak yang akan memberkan partisipasi dalam perilaku bullying pada anak SD dan sekolah menengah. Implikasi yang diusulkan dalam penelitian tersebut yaitu untuk pencegahan bullying dan membangun konsep diri anak, serta melibatkan seluruh sistem keluarga dalam proses intervensi.
Apabila dilihat dari penelitian sebelumnya yang memahami apakah dan bagaimana karakteristik anak dapat mempengaruhi hasil perilakunya, maka dapat diartikan bahwa karakter atau kepribadian seseorang dapat mempengaruhi tingkah lakunya. Adapun Tarwoto dan Wartonah (2003) mengungkap beberapa kriteria kepribadian yang sehat, yaitu citra tubuh positif dan akurat yang bermaksud bahwa kesadaran akan diri berdasar atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai akan kesehatan diri. Termasuk persepsi saat ini dan masa lalu. Kemudian ideal dan realitas yaitu individu yang mempunyai ideal diri yang realitas dan mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai. Lalu yang ketiga konsep diri positif yang menunjukkan bahwa individu akan sesuai dalam hidupnya. Kemudian ada harga diri tinggi, jika seseorang mempunyai harga diri yang tinggi maka akan memandang dirinya sebagai seorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang dirinya sama dengan apa yang ia inginkan. Ada juga terdapat kepuasan penampilan peran yang dimaksud adalah kepribadian yang sehat akan dapat membangun hubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan, dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain serta membina hubungan interpenden. Kriteria yan terakhir yaitu identitas jelas, yaitu individu merasakan keunikan dirinya yang memberi arah kehidupan dalam mencapai tujuan.
Seperti yang dapat kita lihat bersama dari banyaknya hasil penelitian dari para ahli, salah satunya oleh Rigby (Astuti, 2008), bullying yang banyak dilakukan di sekolah umumnya mempunyai tiga karakteristik yang terintegrasi sebagai berikut yaitu yang pertama adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korbannya,
kemudian yang kedua yaitu tindakan bullying itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga akan menimbulkan sebuah perasaan tertekan pada korban, lalu karakteristik yang terakhir yaitu perilaku bullying dilakukan secara berulang atau terus menerus. Perilaku bullying dapat terjadi di mana saja, baik itu di tempat yang ramai dikunjungi orang maupun tempat yang tergolong sepi didatangi orang. Kemudian perilaku bullying dapat juga disebabkan oleh banyak faktor yang berasal dari dalam kehidupan. Misalnya saja seperti bagaimana faktor lingkungan sekitar, bagaimana orangtua memberikan stimulus yang tepat atau tidak, dan juga salah satunya yaitu bagaimana konsep diri yang telah terbentuk dalam diri seseorang, apakah itu konsep diri yang positif atau konsep diri yang negatif.
Pada penelitian ini, penulis memilih remaja yang duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) karena pada usia tersebut seorang anak lebih berpotensi besar untuk melakukan tindakan bullying. Hal ini juga diungkapkan oleh Riaukisna dkk. (2005) bahwa pada dua SMA di Jakarta didapatkan fakta bahwa kecenderungan untuk melakukan kontak fisik langsung terjadi pada anak laki-laki di usia 18 tahun. Tetapi dalam hal ini penulis tidak membedakan subjek penelitian dari segi jenis kelamin. Meskipun tampaknya anak laki-laki lebih cenderung melakukan tindakan bullying baik berupa kontak fisik atau non fisik, tapi tidak menutup kemungkinan anak perempuan tidak memiliki potensi untuk melakukan tindakan bullying juga. Seperti halnya pada penelitian oleh Hastuti (2013) bahwa remaja perempuan mempunyai skor bullying lebih tinggi dan mereka lebih dominan untuk melakukan tindakan bullying secara verbal. Maka dari itu, fokus penelitian yang akan diangkat yaitu apakah terdapat hubungan yang positif atau negatif antara konsep diri dan perilaku bullying pada siswa menengah atas.
B.
Tujuan PenelitianMencari tau hubungan antara konsep diri dengan perilaku bullying pada remaja di sekolah.
C.
Manfaat PenelitianHasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan terhadap ilmu psikologi perkembangan serta psikologi pendidikan, adapun manfaat tersebut antara lain :
1. Manfaat Teoristis
Memberikan sumbangan terhadap ilmu psikologi terutama psikologi perkembangan dan psikologi sosial mengenai mengenai Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku Bullying Siswa Menengah Atas (SMA).
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan kepada remaja agar lebih pandai dalam membentuk konsep diri yang positif dan memahami batasan-batasan dalam berperilaku agar mencegah terjadinya perilaku bullying.
b. Memberikan masukan pada peneliti selanjutnya jika hipotesis dalam penelitian ini terbukti maka disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk lebih mengembangkan penelitian. Akan tetapi apabila penelitian ini tidak terbukti disarankan penelitan selanjutnya untuk mencari varibel bebas yang lebih tepat.
D.
Keaslian PenelitianBerbagai penelitian mengenai variable perilaku bullying dan variabel konsep diri pernah dilakukan. Akan tetapi ada perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Antara lain keaslian mengenai topik, keaslian alat ukur dan keaslian mengenai subjek yang digunakan.
Penelitian yang berkaitan dengan kecenderungan bullying yang pernah dilakukan yaitu oleh Ulfah Maghfirah (2009), dengan judul Hubungan antara Iklim Sekolah dengan Kecenderungan Perilaku Bullying. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku bullying. Subjek dalam penelitian ini adalah 73 siswa/siswi SMP Negeri 2 Bantul. Teori yang digunakan yaitu Olweus yang menyatakan bullying melibatkan adanya ketidakseimbangan kekuasaan dan kekuatan, sehingga korban dari tindakan bullying berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterimanya
Penelitian bullying juga pernah dilakukan oleh Dera Andhika Duana (2010), yang meneliti tentang Hubungan antara Kecerdasan Emosi pada Remaja Siswa SMP dengan Intensi Melakukan Bullying di Sekolah. Dari hasil peelitian tersebut menunukkan bahwa adanya hubungan antara kecerdasan emosi pada remaja siswa SMP dengan intensi melakukan bullying di sekolah. Subjek penelitian ini adalah 93 siswa/siswi SMP Negeri 14 Yogyakarta.
Terdapat juga penelitian lain mengenai bullying yaitu yang pernah dlakukan Rika Lestari Tri Utami (2009) yang meneliti tentang hubungan antara Pola Asuh Otoriter dengan Perilaku Bullying pada Siswa Sekolah Menengah. Dari penelitian ini didapatkan bahwa perilaku bullying akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pola asuh
otoriter. Subjek penelitian ini siswa kejuruan tingkat menengah atas usia 16-19 tahun, kelas 2 dan 3 berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, tinggal bersama orangtua, berdomisili di Yogyakarta, terdiri dari 85 siswa.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dapat disebut orisinil. Terutama yang terdapat pada :
1. Keaslian topik penelitian
Dalam keaslian penelitian topik, beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terdapat perbedaan variabel-variabel penelitiannya. Dalam penelitian sebelumnya variable bebas yang digunakan dengan kecenderungan bullying adalah iklim sekolah (Maghfirah, 2009). Adapun penelitian lain yang menggunakan variable bebas bullying adalah faktor pola asuh otoriter (Utami, 2009) dan kecerdasan emosi (Duana,2010).
Dari setiap penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, pada penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya dari segi hubungan antara dua variabel yang dibahas, yaitu konsep diri sebagai variabel bebas dan bullying sebagai variabel tergantungnya.
2. Keaslian teori
Dalam penelitian ini, untuk perilaku bullying, peneliti menggunakan teori dari Olweus (1993), Astuti (2008). Sedangkan untuk teori konsep diri menggunakan teori dari Berzonsky (1981).Tarwoto & Wartonah (2003), Agustiani (2006).
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala konsep diri dan skala bullying. Skala yang digunakan peneliti merupakan skala bullying yang telah dimodifikasi dari peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Ulfa Maghfirah (2009) dengan menggunakan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Olweus (Solberg & Olweus 2003), sedangkan untuk skala konsep diri peneliti menggunakan skala yang dimodifikasi dari peneliti sebelumnya yaitu Novia Irianti (2012) menggunakan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Berzonsky (1981).
4. Keaslian subjek penelitian
Karakteristik subjek dalam penelitian ini menggunakan subjek siswa/siswi kelas X hingga XII SMA, yang berada pada usia 16-18 tahun. Subjek dalam penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian terdahulu dalam hal jenis kelamin, namun berbeda dari segi usia dan sekolah.