• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM CREDIT UNION DAN DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV GAMBARAN UMUM CREDIT UNION DAN DAERAH PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

23

BAB IV

GAMBARAN UMUM CREDIT UNION

DAN DAERAH PENELITIAN

Credit Union Unggul Sejahtera berdiri sejak Bulan April 2011 bertempat di Pondok Remaja Salib Putih, Kecamatan Argomulyo, Salatiga. Kantor pusat CUUS berada di Jalan Cemara 2, Nomor 65, Kecamatan Sidorejo, Kelurahan Sidorejo Lor, Salatiga. CUUS memiliki empat tempat pelayanan yaitu kantor pusat, Tempat Pelayanan 02 (TP 02), Tempat Pelayanan 03 (TP 03), dan Tempat Pelayanan 04 (TP 04). Tempat pelayanan 02 berada di daerah Kabupaten Semarang, Kecamatan Bancak, Desa Lembu. Tempat pelayanan 03 berada di daerah Kabupaten Boyolali, Kecamatan Kemusu, Desa Kendel. Tempat Pelayanan 04 berada di daerah Kabupaten Grobogan, Kecamatan Pulokulon, Desa Randurejo. Keempat tempat pelayanan hanya TP 01 dan TP 03 yang melakukan kegiatan pelayanan, sementara itu TP 02 dan TP 04 belum dapat melakukan aktifitas karena permasalahan kaderisasi. Berkaitan dengan permasalahan kaderisasi dari TP 02 dan TP 04 maka aktivitas tersebut ditangani oleh penggurus pusat, sedangkan TP 03 memulai kegiatan di Bulan Agustus 2011.

Bab ini menggambarkan kondisi daerah penelitian di TP 03 Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali yang meliputi: Sejarah Credit Union, awal mula CUUS berdiri, struktur organisasi CUUS, profil tempat pelayanan Kendel, kegiatan CUUS, produk – produk CUUS, dan gambaran monografi daerah penelitian.

4.1. Gambaran Credit Union

Credit Union (CU) merupakan badan hukum yang berwujud koperasi yang termasuk ke dalam kategori Lembaga Keuangan Mikro (LKM). LKM dicirikan oleh serangkaian aturan yang dinamis, inovatif dan lentur yang dirancang sesuai kondisi lingkungan sosial dan ekonomi lokal (Adams & Fitchett, 1992). LKM merupakan suatu fenomena yang kompleks berdimensi ekonomi dan

(2)

sosio-24

kultural. Dimensi ekonomi karena LKM berkaitan dengan pengembangan potensi daerah yang menyangkut dengan keuangan, dimensi sosio-kultural karena masyarakat pedalaman atau pedesaan merupakan prioritas yang masih kental akan kebudayaan yang berimbas dengan interaksi antar warga dan kelompok untuk dapat mengakses daerah prioritas. Kedua dimensi disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat diantaranya cara penyampaian pesan yang harus disesuaikan dengan kebudayaan dan nilai - nilai lokal, selain penyampaian pesan yang disesuaikan dengan kebudayaan lokal tingkat kemampuan masyarakat untuk mengembangkan usaha perlu mendapat perhatian karena selanjutnya akan berpengaruh kepada stabilitas moral dan etika lokal. (Ledgerwood, 1999:1) mendefinisikan keuangan mikro sebagai penyediaan layanan keuangan untuk masyarakat berpendapatan rendah, termasuk pedagang kecil, pedagang kaki lima, petani kecil, penjual jasa (penata rambut, penarik becak), tukang, dan produsen kecil. Masyarakat ini sering disebut sering dikelompokan sebagai usaha mikro dan kecil. Akses – akses yang terbatas terutama di daerah pedalaman / pedesaan membuat jenis – jenis LKM bergerak ‘menjemput bola’ untuk membantu pengembangan potensi yang beradadi daerah tersebut. LKM mempunyai aktivitas yang tergabung ke dalam tabel berikut,

(3)

25

Tabel 4.1.

Aktivitas Lembaga Keuangan Mikro

Asas Tujuan Kegiatan Usaha

a. Keadilan. b. Kebersamaan. c. Kemandirian. d. Kemudahan. e. Keterbukaan. f. Pemerataan. g. Keberlanjutan. h. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. a. Meningkatkan akses pendanaan skala mikro bagi masyarakat. b. Membantu peningkatan pemberdayaan ekonomi dan produktivitas masyarakat. c. Membantu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah. a. Memberikan pinjaman atau pembiayaan bagi perorangan, kelompok, atau anggotanya yang menjalankan usaha mikro. b. Menerima simpanan. c. Melakukan usaha jasa keuangan lainya yang tidak bertentangan dengan undang – undang Lembaga Keuangan Mikro. Sumber: Undang – undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Lembaga

Keuangan Mikro.

Berdasarkan Undang–Undang Nomor 1 Tahun 2013, LKM bertujuan meningkatkan akses pendanaan skala mikro bagi masyarakat dan membantu peningkatan pemberdayaan ekonomi serta produktivitas masyarakat. Tujuan lain LKM adalah membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat miskin dan atau berpenghasilan rendah. Kapasitas LKM sangat dipengaruhi oleh modal sosial. Modal sosial ini dibentuk oleh hubungan sosial anggota kelompok dan keberadaan tokoh di tengah – tengah masyarakat (Salam, Abdul, 2008 : 141). Keberadaan dan tindakan tokoh masyarakat merupakan cerminan masyarakat untuk mengambil sikap penting dalam partisipasi pemberdayaan masyarakat secara khusus melalui LKM.

4.2. Sejarah Singkat Credit Union

Credit Union adalah sekumpulan orang yang saling percaya,dalam suatu ikatan pemersatu, yang bersepakat untuk menabungkan uang mereka, sehingga

(4)

26

menciptakan modal bersama, untuk dipinjamkan di antara sesama mereka, dengan balas jasa yang layak untuk tujuan yang produktif dan kesejahteraan anggotanya.

Berawal dari masalah perekonomian di Jerman abad ke–19 sebagai akibat dampak dari musim dingin dan gagal panen sehingga terjadi kelaparan di hampir seluruh wilayah Jerman. Lintah darat5 mencoba memanfaatkan situasi tersebut

dengan meminjamkan uang namun disertai Bunga tinggi, masyarakat berbondong-bondong ke kota mengadu nasib mencari pekerjaan. Mereka berusaha mencari nafkah sebagai buruh kasar di pabrik-pabrik. Revolusi industri menjelang pertengahan abad ke-19 tenaga buruh mulai diganti dengan tenaga mesin, sehingga pengangguran merajalela.

Solusi yang dilakukan antara lain kaum kaya mengumpulkan uang dan membagi-bagikannya kepada kaum miskin. Namun penggunaan uang tidak terkontrol dan tidak sedikit para penerima derma cepat-cepat memboroskan uangnya agar segera minta derma lagi. Cara lain dengan mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman. Roti-roti yang terkumpul dibagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Tetapi usaha ini pun tidak menyelesaikan masalah kemiskinan secara permanen. Hari ini diberi, besok sudah habis, begitu seterusnya.

Kemudian Raifeisen menyimpulkan bahwa kesulitan si miskin hanya dapat diatasi dengan jalan si miskin mengumpulkan uangnya sendiri untuk dipinjamkan kepada sesama miskin lainnya. Orang tidak pernah di waktu yang sama membutuhkan uang, utama bukan sekadar simpan – pinjam tetapi saling tolong – menolong agar tidak saling susah. Apabila anda sedang susah akan saya tolong, apabila saya sedang susah anda menolong saya. Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin membangun Koperasi yang bernama Credit Union.

(5)

27

Gambar 3. F.W Raiffeisen6. 4.3. Landasan Credit Union

Tabel 4.3.

Dasar – Dasar Credit Union

Tujuan Prisnsip Organisasi Prinsip Usaha

1. Mendidik, membimbing dan mengembangkan anggota memiliki sikap hidup terencana ke depan, hemat dan peduli kepada generasi penerus. 2. Tata cara simpanan dan

pinjaman tegas, tepat terarah, cepat, layak balas jasa, dan membantu. 3. Mendidik individu bahwa

uang itu konsep dan sarana, bukan tujuan, tujuan hidup cukup dan tentram. 1. CU dikelola dengan kaidah ekonomi kooperasi. 2. Pemilik CU adalah anggotanya sendiri. 3. Anggota, dengan

pendidikan CU, harus memahami hak dan kewajiban anggota CU. 4. Anggota adalah

pelaksana usaha dan pengawas, serta pengguna jasa dari CU.

1. Anggota

menciptakan modal bersama terdiri dari: simpanan pokok, simpanan wajib, ada uang pangkal, simpanan hari tua dlsb.

2. Hasil pengumpulan modal dipinjamkan pada anggota dengan bunga atau balas jasa yang cukup untuk operasional CU tetapi juga ringan untuk anggota. 3. Pinjaman diutamakan

(6)

28

untuk tujuan produktif.

Struktur CU Fungsionaris CU Kelengkapan CU

1. Keanggotaan terbuka dan sukarela.

2. Anggota mau memenuhi hak dan menerima kewajiban.

3. Satu orang satu suara, berapapun simpanannya. 4. Kontrol pengawasan oleh

anggota.

5. Keputusan tertinggi pada Rapat Anggota Tahunan (RAT).

6. Tidak diskriminatif, inklusif, dan pluralis. 7. Ukuran keberhasilan

struktur ada pendidikan terus, setiakawan, swadaya, tentram, dan hormat serta perhatian kepada tiap anggota.

1. Badan Keputusan Tertinggi RAT.

2. Badan Pengurus: Ketua Umum, Ketua 1 (Pendidikan), Ketua 2 (Panitia Kredit), Ketua 3 (Panitia Penagihan) – semua dipilih secara demokratis dalam RAT. 3. Badan Pengawas:

ideologi / moral dan pendidikan, organisasi dan manajemen, dan keuangan. Dipilih dalam RAT.

4. Manajemen: Manajer CU,

administrasi/pembukuan, keuangan, tim kredit dan penagihan untuk CU – diemployed.

5. Manajer TP – diemployed.

1. AD/ART dan Badan Hukum Koperasi Kredit. 2. PolJak (Pola Kebijakan). 3. Kantor: Ruang Pelayanan serta Ruang Ketua dan Tim Kredit. 4. Buku: Buku

Tabungan Anggota; Buku Tabungan Harian, Buku Tabungan Hari Tua/ Pendidikan Anak, Buku Pinjaman dan Angsuran – dicetak standard Bank. 5. Slip-slip tabungan, angsuran, formulir pinjaman dan angsuran, dlsb. 6. Komputer untuk pembukuan. Sumber: Dokumentasi Credit Union Unggul Sejahtera.

Pelaksanaan kegiatan CU memang bukan utama untuk kegiatan pengembangan keuangan, namun sisi etika, moral dan kemanusiaan adalah yang utama. Etika, moral, dan kemanusiaan tertuang di tiga pilar Credit Union, antara lain :

1. Pendidikan

Kegiatan utama CU untuk meningkatkan harkat martabat hidup anggotanya adalah melalui pendidikan dengan tujuan agar anggota

(7)

29

mengerti peran serta, hak dan kewajibannya, lebih rasional dan bijaksana mengatur keuangan rumah tangga dan usahanya, mengetahui dan memahami laporan keuangan serta perkembangan CU. Terdapat motto: dimulai, berkembang, dikontrol , dan bergantung kepada pendidikan. 2. Swadaya

CU selalu berusaha semakin besar dan sehat dengan mengandalkan kekuatan dari dalam: Modal dari Anggota, organisasi dikelola oleh anggota, dan hasil usaha pun untuk para anggota. Terdapat motto: dari, oleh, dan untuk anggota.

3. Solidaritas

Anggota CU harus selalu memotivasi diri agar tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan memperjuangkan kepentingan bersama dan harus saling melayani dengan saling percaya dan bekerja sama. Contoh konkretnya: menabung secara teratur, jika meminjam mengangsur secara tertib agar anggota yang lain mendapat kesempatan memperoleh bantuan. Terdapat motto: anda susah saya bantu, saya susah anda bantu.

CU tergolong ke dalam LKM non-bank untuk mendukung pencapaian kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang kesulitan mengakses sitmulus pendanaan untuk mengembangkan usaha atau potensi yang dimiliki masyarakat yang tinggal di pedesaan.Asas – asas dan tujuan LKM tersebut menjadi dasar CU untuk melakukan kegiatan, dengan kepastian hukum tersebut masyarakat yang menggunakan jasa CU sebagai pengembangan masyarakat diharapkan dapat terlindungi dari segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan koperasi. Berikut adalah bagan yang menempatkan CU di LKM.

(8)

30

Gambar 4. Jenis Lembaga Keuangan Mikro.

Roh atau jiwa yang mendasari keberlangsungan CU adalah berlandaskan dari jatidiri Koperasi. Jatidiri koperasi terdiri dari tiga bagian yang tidak terpisahkan antara lain, pengertian atau definisi, nilai – nilai, dan prinsip7. Definisi koperasi adalah perkumpulan orang – orang otonom yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya mereka yang sama

7Rumusan ICIS (International Cooperative Identity Statement; Manchester, Inggris, September

1995)

“menjadikan pengertian Koperasi seragam dan menjadi tolok ukur Koperasi yang benar”. Lembaga Keuangan Mikro Perbankan Non - Bank Badan Hukum Koperasi Tidak Berbadan Hukum BRI Unit BPR Unit Retail Bank

KJK KJKS CU / KOPDIT BMT KUBE LUEP UED UPKS

(9)

31

melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan diawasi secara demokratis. Ciri – ciri dari definisi koperasi menunjukan:

1. Koperasi merupakan perkumpulan orang sekaligus perusahaan.

2. Anggota adalah pemilik sekaligus sebagai pengguna produk perusahaan. 3. Anggota mempunyai kebutuhan dan aspirasi yang sama.

Sistem kesepakatan koperasi melalui rapat anggota tahunan (RAT) yang tetap mengutamakan kepentingan bersama, CU mempunyai otonomi untuk melaksanakan kegiatan koperasi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Nilai – nilai yang diutamakan koperasi dan diadopsi CU terdiri atas tujuh butir, diantaranya:

1. Menolong diri sendiri. 5. Keadilan.

2. Bertanggung jawab. 6. Swadaya.

3. Demokrasi. 7. Solidaritas.

4. Kesetaraan

4.3.1. Menolong Diri Sendiri

Butir pertama yaitu menolong diri sendiri dimaksudkan dengan tujuan untuk menolong anggota jika suatu saat mempunyai kebutuhan yang mendesak, dengan demikian anggota tidak perlu kesusahan mencari bantuan kepada pihak – pihak yang menawarkan dana talangan. Cukup dengan mengambil simpanan yang dimiliki oleh anggota dengan pengecualian bahwa anggota yang bersangkutan memiliki tabungan yang cukup sehingga memiliki hak untuk mengambil pinjaman disesuaikan dengan jumlah tabunganya. CU memudahkan anggota ketika membutuhkan dana yang mendesak, karena tidak memerlukan jaminan. Jumlah tabungan anggota merupakan jaminan bagi anggota, jumlah pinjaman disesuaikan dengan tabungan dan apabila jumlah pinjaman lebih besar dari tabungan maka akan dikenakan jaminan dengan ketentuan sikap dan watak peminjam.

(10)

32 4.3.2. Bertanggung Jawab

Nilai – nilai yang kedua adalah bertanggung jawab, CU menekankan sikap anggota yang bertanggung jawab terhadap kewajiban atau berpegang teguh kepada langkah yang ditekuninya. Sikap tanggung jawab dibentuk dari pemenuhan kewajiban ketika menabung untuk kebutuhan keluarga dan melunasi tanggungan hutang ketika anggota tersebut melakukan pinjaman.

Secara tidak langsung anggota terbentuk sikap bertanggung jawab melalui proses – proses seperti menabung dan melakukan pinjaman. Sikap bertanggung jawab nampak ketika melakukan perjanjian pinjaman dengan diketahui oleh penjamin – penjamin yang terlibat di perjanjian pelunasan pinjaman tersebut. Motivasi anggota untuk menabung termasuk suatu bentuk tanggung jawab kepada keluarga, karena jika suatu saat ada keperluan mendesak anggota dapat mengambil tabungan tersebut. Menabung adalah pemikiran jangka panjang untuk kebutuhan masa datang.

4.3.3. Demokrasi

Demokrasi merupakan wujud kebersamaan dalam Negara juga merupakan hak sekaligus kewajiban bagi warga Negara karena sistem kekuasaan yang berlaku adalah : “Res publica” dari, oleh, dan untuk rakyat8.Konsep demokrasi merupakan dasar penyelenggaran CU yaitu dari, oleh, dan untuk anggota konsep tersebut sesuai dengan Undang– Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1 dan 4 yang mendasarkan penyelenggaraan perekonomian kepada asas kekeluargaan, kebersamaan, berwawasan lingkungan, kemandirian, dan berkeadilan. Setiap tahun CU menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) salah satunya adalah menentukan besar bunga pinjaman dan bunga simpanan. Penerapan dari, oleh, dan untuk anggota terlihat ketika anggota penggurus duduk bersama

8Diunduh dari situs http://konsepdemokrasi.blogspot.com/ tanggal 27 Maret 2013, pukul 10.06

(11)

33

untuk membahas kepentingan bersama demi mewujudkan CU yang mandiri dan sejahtera. Keanggotaan terbuka dan sukarela, tidak ada paksaan dan terbuka bagi semua orang tanpa membedakan ras, suku, agama, gender. Anggota CU mendambakan hak-hak yang sama untuk bersuara dan berperan serta dalam pengambilan keputusan tanpa dipengaruhi oleh jumlah saham, tabungan.

4.3.4. Kesetaraan

Anggota merupakan pemegang saham tidak memandang apakah anggota tersebut dari golongan atau jabatan tertentu. Anggota sebagai pemilik lembaga CU karena anggota memiliki saham sehingga anggota juga dapat bertindak sebagai penggurus.

Kesetaraan terhadap laki-laki atau perempuan dalam CU yang mempunyai hak yang sama dalam pengambilan keputusan dan mendapat manfaat yang optimal.

4.3.5. Keadilan

Keadilan dapat berarti kondisi yang adil, baik perbuatan / perlakuan yang diterima dalam hubungannya dengan hak dan kewajiban sebagai anggota. Semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama, baik dalam arti ekonomi maupun tanggung jawab sosial.

4.3.6. Swadaya

Swadaya merupakan kerja keras yang muncul dari kelompok atau individu yang bersangkutan. Swadaya dapat dikatakan sebagai bentuk kemandirian masyarakat untuk memenuhi segala macam kebutuhan masyarakat demi kepentingan pembangunan. Berkaitan dengan kegiatan CU untuk membangun masyarakat yang lebih sejahtera, dengan prinsip dari, oleh dan untuk anggota CU adalah lembaga swadaya independent tanpa campur tangan lembaga lain atau perseorangan.

(12)

34 4.3.7. Solidaritas

Dasar penyelenggaran perekonomian di Indonesia adalah disusun atas dasar kekeluargaan, jadi solidaritas merupakan salah satu unsur kekeluargaan tersebut. Nilai solidaritas tampak ketika produk CU yaitu Solduka9, hutang anggota dihapuskan simpanan dilipatgandakan.

CU tidak hanya sekedar menghimpun simpanan dan memberikan kredit dari dan kepada anggota saja, tetapi yang paling utama adalah bagaimana setiap anggota memperhatikan kepentingan kelompok daripada kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain setiap anggota hendaknya saling melayani.

Tujuh butir nilai – nilai koperasi tersebut dianalogikan ke prinsip – prinsip CU antara lain:

1. Keanggotaan yang sukarela dan terbuka. 2. Pengawasan demokratis oleh anggota. 3. Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi. 4. Kemandirian.

5. Pendidikan dan pelatihan. 6. Kerja sama antar koperasi. 7. Kepedulian terhadap masyarakat.

Prinsip – prinsip CU akan membangun sikap diantara anggota dan penggurus untuk saling melengkapi kekurangan yang ada, sehingga CU dapat menjadi LKM yang memiliki ciri khas pembangunan moral dan ekonomi yang memiliki dasar pengembangan masyarakat / Community Development. CU memiliki fondasi atau dasar – dasar yang kuat untuk berpegang teguh kepada asas Community Development untuk perkembangan sikap dan moral masyarakat,. Fondasi tersebut terbentuk dari awal terciptanya nilai – nilai CU hingga prinsip – prinsip CU, diantaranya adalah:

9Solidaritas Dukacita adalah sumbangan kematian. Produk tersebut diberlakukan ketika sudah

menjadi anggota BKCU (Badan Koordinasi Credit Union) yaitu memiliki aset sebesar 1 Miliyar Rupiah.

(13)

35 1. Sikap

 Belajar dari hal – hal positif untuk hidup di tengah masyarakat, dan selalu mencari hal yang benar tiap individu dalam segala situasi.  Membiasakan diri untuk bertindak proaktif dan responsif.  Mempunyai ketekunan dalam segala hal.

 Berpengharapan, kreatif, berani mengambil resiko, teguh hati, kerja keras, dan kerja cerdas.

2. Visioner

 Hukum tabur – tuai.

 Pemikiran hari ini akan menentukan masa yang akan datang. 3. Kejujuran

 Terbuka, tidak berbohong, menghargai dan memberi rasa hormat kepada tiap individu dan kelompok saat berinteraksi.

 Peduli dan ikhlas.

 Sikap positif dari dalam diri dan orang lain.  Bertindak sesuai dengan hati nurani.

 Mudah bergaul dan selalu tertarik terhadap yang dikerjakan. 4. Keberanian

 Mementingkan kepentingan bersama daripada individu.

 Keberanian adalah mengatakan yang sebenarnya, hal tersebut membangun kejujuran diantara sesama anggota CU.

5. Pengorbanan

 Pengorbanan adalah ketika anggota harus mendahulukan kepentingan CU dibandingkan waktu bersama dengan keluarga ataupun kepentingan pribadi.

6. Integritas

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas merupakan keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan, kejujuran atau wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa di kehidupan bernegara.

(14)

36

 Integritas CU adalah mempunyai prisnsip dan memiliki komitment. 4.4. Langkah Awal Credit Union Unggul Sejahtera

Yayasan Trukajaya merupakan salah satu lembaga yang berperan besar dalam pendirian Credit Union Unggul Sejahtera (CUUS). Perlu waktu bagi Trukajaya untuk mempelajari dan mendalami Credit Union (CU) sebelum mensosialisasikan kepada masyarakat luas khususnya di wilayah kerja Trukajaya. Pengenalan Trukajaya tentang CU diawali dengan sebuah seminar tentang pembangunan ekonomi kerakyatan dengan sub tema CU pada tahun 2007 bertempat di Dinning Hall Sinode GKJ diikuti staf dan perwakilan masyarakat desa dampingan antara lain Bendo, Klari, Ngampon, Polobogo, dan Karanggondang, difasilitasi oleh Dr. Francis Wahono, Phd dari Yayasan Cindelaras Yogyakarta. Namun ketika masyarakat Desa dampingan belum tertarik untuk membentuk CU. Akhir tahun 2010 GKJ Purworejo meminta Trukajaya dan Dr. Francis Wahono untuk memfasilitasi seminar tentang CU dan Koperasi. Seminar tersebut justru mendapatkan antusiasme dari masyarakat Purworejo hingga akhirnya Bulan Februari 2011 membentuk CU bernama CU Angudi Laras. Pengalaman di Purworejo memunculkan semangat dari staf Trukajaya untuk membentuk CU bersama dengan masyarakat di wilayah kerja Trukajaya. Maret 2011 membentuk tim untuk melakukan sosialisasi CU terdiri atas 4 orang staf Trukajaya yaitu Soni, Widi, Eni, dan Teguh di 4 lokasi (Lembu, Kendel, Randurejo, dan Salatiga). Hasil sosialisasi tersebut mendapat respon positif dari masyarakat hingga akhirnya dilaksanakan workshop CU tanggal 25 sampai 27 April bertempat di Pondok Remaja Salib Putih Salatiga difasilitasi oleh Dr. Francis Wahono, Phd dan di ikuti oleh 30 orang pendiri.

Hari Rabu Kliwon, Tanggal 27 April 2011, jam 13.15 WIB, bertempat di Pondok Remaja Salib PutihSalatiga CU lahir dengan nama CUUS. Filosofi Petani menjadi inspirasi dari gerakan CUUS yaitu: Wiji Mitayani, Tandur Temen,Kerjo

(15)

37

Wekel, Panen Bareng10. Filosofi ini kemudian disederhanakan dalam sebuah Slogan: Nandur Wiji, Panen Dadi11.

4.4.1. Struktur Organisasi Credit Union Unggul Sejahtera

Credit Union Unggul Sejahtera (CUUS) merupakan sebuah perkumpulan yang mandiri dimana anggota adalah pemilik dari CUUS sehingga tidak ada lembaga lain yang dapat mempengaruhi atau mengatur jalannya CUUS. Seluruh keputusan berada ditangan anggota yang ditetapkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Guna menjalankan gerakan CUUS ditetapkan struktur organisasi CUUS yang meliputi Pembina, Pengawas dan Pengurus. Personel yang ditetapkan untuk masa 5 tahun mendatang adalah sebagai berikut:

Pembina : 1. Suwarto Adi. 2. Widiatmojo. 3. Francis Wahono.

Pengawas : 1. Danar Pramonosidi. 2. Epilia Widiastuti 3. Suriptiningsih.

Pengurus : Ketua Umum : Kristin Damayanti Ketua Bidang Pendidikan : Bagus Indra Kusuma

Ketua Bidang Kredit : Daud Kristiyanto

10Benih yang bermutu, menanam dengan kesungguhan, bekerja keras, dan menikmati hasil

bersama – sama.

(16)

38

Sekertaris : 1. Setyo Utomo. Bendahara 1 : 1. Eli Supriyatno.

2. Subandi 2. Dwi Lestari.

Bendahara 2 : 1. Suprapti.

Anggota : 1. Lopo Aris Wibowo. 2. Suyadi.

3. Sri Widayati. 4. Jamari.

5. Solikin.

CUUS mempunyai Empat Tempat Pelayanan yaitu Lembu, Kendel, Randurejo, dan Salatiga. Operasional keempat Tempat Pelayanan tersebut akan diangkat seorang Manajer yang bertugas mengawal jalannya proses kegiatan dari masing-masing Tempat Pelayanan kemudian di koordinasikan dan dilaporkan perkembangannya kepada pengurus dan anggota. Manajer yang ditunjuk adalah Bp. Teguh Setyo Budi Nugroho. Kemudian Bulan Desember 2011 Bp Teguh Setyo Budi Nugroho mengundurkan diri dari CUUS, maka di tunjuk Bp. Teguh Pambudi untuk menjadi Manager.

4.4.2. Profil Tempat Pelayanan

Credit Union Unggul Sejahtera (CUUS) menyediakan tempat pelayanan untuk memudahkan perkembangan perekonomian desa dampingan Yayasan Trukajaya. Terdapat empat tempat pelayanan (TP) yang berada di empat Kabupaten. TP 1 (Pusat) berada di Jl. Cemara II 65 Salatiga (Kantor Yayasan Trukajaya), TP 2 berada di Balai Desa Lembu, Kecamatan Bancak Kabupaten Semarang, TP 3 berada di Balai Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, TP 4 berada di Balai Desa Randurejo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan.TP akan melayani setiap transaksi setiap hari Selasa dan Jum’at, namun sementara

(17)

39

ini TP yangmelakukan kegiatan hanya di TP 1 dan TP 3. Pelayanan TP 2 dan TP 4 sementara dilakukan oleh TP 1.

4.5. Gambaran Daerah Penelitian

Desa atau Kelurahan Kendel berada di wilayah Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 998,6298 hektar, jarak dari pusat kecamatan 8 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, dari ibu kota Kabupaten 46 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam; dari ibu kota Provinsi 84 km dengan waktu tempuh 3,5 jam.Akses menuju Desa Kendel tidak terlalu sulit, sebab jalannya relatif datar dan cukup keras walaupun tidak diaspal. Namun memang Kendel jauh dari jalur kendaraan umum. Kendel terdiri atas empat Rukun Warga (RW) dan dua puluh tujuh Rukun Tetangga (RT). Secara keseluruhan Desa Kendel terdiri atas 1.385 kepala keluarga dengan jumlah penduduk laki – laki 1154 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 231 jiwa yang tersebar di enam Dukuh dan empat Dusun.

(18)

40

Gambar 5. Peta Sketsa Desa Kendel.

Sebelah utara Desa Kendel berbatasan dengan Desa Lemah Ireng, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Bawu, sebelah selatan dengan Desa Karangmojo dan sebelah barat dengan Desa Karanggatak, Desa Kauman. Penduduk Desa Kendel sebagian besar bermatapencaharian Petani sekaligus pemilik tanah berjumlah 862 jiwa.

(19)

41

4.5.1. Gambaran Tempat Pelayanan 03 Desa Kendel, Kabupaten Boyolali

Tempat pelayanan CUUS yang berlokasi di Dusun Dagen, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali hingga 22 April 2013 beranggotakan 164 anggota yang terdiri dari 69 Laki – laki, 95 Perempuan jenjang umur mulai dari 0 Bulan sampai 90 Tahun dengan jumlah aset mencapai Rp. 572.000.000,. Berikut adalah susunan kepenggurusan CUUS Desa Kendel :

 Koordinator Tempat Pelayanan : Bapak Suyadi.

 Koordinator Pendidikan : Bapak Jamari.

 Kepala Bagian Kredit : Ibu Suprapti.

 Adminintrasi : Ibu Siti Fatnawati.

Gambar 6. Tempat Pelayanan 03.

Kepenggurusan CUUS TP 03 tersebut dibawah koordinasi CUUS pusat yang berkantor di Salatiga. Perekonomian CUUS disusun atas dasar dari, oleh dan untuk anggota. Setiap anggota sudah begitu paham dengan mekanisme dan dasar – dasar dari CUUS, mulai dari awal mekanisme masuk menjadi anggota, produk dan kegunaanya hingga mengenai kegiatan simpan – pinjam. Hal tersebut penting diketahui oleh anggota karena CUUS milik bersama sehingga diantara anggota diwajibkan menjadi penggurus untuk membangun perekonomian mandiri yang berlandaskan gotong royong.

Gambar

Gambar 3. F.W Raiffeisen 6 .
Gambar 4. Jenis Lembaga Keuangan Mikro.
Gambar 5. Peta Sketsa Desa Kendel.
Gambar 6. Tempat Pelayanan 03.

Referensi

Dokumen terkait

Penyajian Buku Profil Kesehatan ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan sikap terhadap pentingnya keberadaan data dan informasi yang

Hasil analisis dengan menggunakan independent sample t-test menunjukkan bahwa Rasio CAMEL CAR memiliki F hitung > F tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa menolak

Keputusan Raja Kediri untuk menikahkan Dewi Sekartaji, sang putri dengan Panji Asmarabangun membuat Padukasari, istri kedua baginda raja gundah,

5.3.1 Tahap sikap, pengaruh norma dan persepsi kawalan terhadap keusahawanan sosial dalam kalangan pelajar UUM .... 5.3.3 Perbezaan keenderungan keusahawanan

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan pada 4 Kota di Provinsi Sumatera Utara (Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kota Sibolga, Kota Padang Sidimpuan) dengan

5 JUMLAH PESERTA KB BARU MKJP, PB PRIA DARI KELUARGA PRA-S DAN KS-I.. DI KABUPATEN BANTUL SAMPAI DENGAN BULAN MEI

Dalam penelitian ini penulis akan mencoba memaparkan beberapa aspek terkait peran FKUB kota Banjarmasin meliputi dasar berdirinya forum kerukunan umat beragama, maksud dan

Lihat juga Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi , ( Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hlm, 23.. anak yang berjumlah