Pengantar
PSIKOLOGI
AL-QURAN
Dimensi keilmuan
di balik Mushaf Utsmani
DR Lukman Saksono, MSc
Drs Anharudin
Pengantar Psikologi Al-Quran 3
PENGANTAR
PSIKOLOGI AL QURAN
DR Lukman Saksono, MSc
Drs Anharudin
1992Jakarta
4 Pengantar Psikologi Al-Quran
PENGANTAR PSIKOLOGI AL QURAN
Dimensi Keilmuan di Balik Mushal Utsmani
Oleh: DR Lukman Saksono. MSc
Drs Anharudin
Disain kulit: Tim Pustaka
Cetakan pertama: Januari 1992
Hak pengarang dilindungi undang-undang
Penerbit: PT
Pengantar Psikologi Al-Quran 5
ISI
Pengantar 5BAB I Pendahuluan : Reinterpretasi kandungan Al Quran 9
Metode Alternatif 10
Reinterpretasi Simbolik 16
Relevansi Metodologi 20
BAB II Dasar teori, Persamaan, dan Perbedaan manusia 22
Perbedaan Manusia 25
Universalites dan Kesamaan Manusia 29
Al Quran tentang persamaan dan perbedaan 31
BAB III Kunci untuk memahami Psikologi al-Quran 35
Struktur Abjad 35
Makna Huruf dan Angka 39
Struktur dan Tanda ’Ain 43
Aspek Pragmatik Bacaan Juz 51
Skema Sistem Sebelas 52
BAB IV Karakter Juz: Memperkenalkan Psikologi Utsmani 54
Dasar Analisis dan Interpretasi 54
Ciri Mushaf Utsmani 56
Juz 30 58
Juz 29 69
Juz 28 79
6 Pengantar Psikologi Al-Quran Juz 27 88 Juz 26 96 Juz 25 103 Juz 24 109 Juz 23 114 Juz 22 121 Juz 21 126 Juz 20 133 Juz 19 139 Juz 18 145 Juz 17 151 Juz 16 158 Juz 15 165 Juz 14 170 Juz 13 177 Juz 12 182 Juz 11 188 Juz 10 193 Juz 9 198 Juz 8 202 Juz 7 206 Juz 6 210 Juz 5 216 Juz 4 221 Juz 3 225 Juz 2 229 Juz 1 233 BAB V Penutup : Sebuah Renungan dan Kesimpulan 240
Ilmu Mengenai Manusia 240
Al Quran : Sumber Filsafat Modern 245 Lampiran
Pengantar Psikologi Al-Quran 7
PENGANTAR
lhamdulillah buku “Pengantar Psikologi Al Quran” ini selesai sebagai seri ke-2 Ulumul Quran setelah buku pertama yang berjudul “Pengantar Fenomenologi Al Quran”.
Ucapan terimakasih dan penghargaan kepada Bapak Letjen TNI (Purn) Soesilo Soedarman (Menparpostel), Bapak Letjen TNI (Purn) Wiyogo Atmodarminto (Gubernur KDKI Jakarta), Letjen TNI (Purn) Bambang Triantoro (Sekjen Depdikbud), Mayjen TNI Darwanto (Sekjen Depnaker), Mayjen TNI Soetopo (Aspers Kasad), Mayjen TNI ZA Maulani (Sekjen Deptrans), Mayjen TNI Basofi Sudirman (Wakgub bidang Pemerintahan DKI Jakarta), Brigjen TNI Nuhadi Purwosaputro, MSc (Kapuspen ABRI), Brigjen TNI Utomo (Kapusbintal ABRI), Brigjen TNI Noerasril Noerdin (Anggota DPR RI Fraksi ABRI), Kolonel Inf Moerwanto Soeprapto (Dirbinsosbud Dirjen Rohbin Deptrans), Kolonel Inf Agum Gumilar (Asintel Kasdam Jaya), Kolonel Jaf Syahrir Muhammad Syakwi(Asops Kopassus) dan Kolonel Juf E. Sukarya AG. Atas dukungan moril material dalam proses kreatif pengembaraan intelektual menggali dimensi keilmuan al-Quran Mushal Utsmani ini.
Last but not least, kepada Bapak Drs Ras Siregar perlu acungan jempol dan penghargaan tidak terkira atas prakarsanya sehingga kehadiran buku ini mendapat prioritas utama.
***
ernyata hal yang tak diduga telah terjadi. Buku
8 Pengantar Psikologi Al-Quran
pertama mendapat sambutan hangat dari umat. Kehadirannya sangat membantu memudahkan transfer keilmuan dalam rangka me-masyarakatkan budaya baca tepat al-Quran (Tadarus).
Sambutan hangat umat inilah yang memacu kehadiran buku Ulumul-Quran seri ke-2. Dalam buku ini dapat diterima informasi karakter manusia yang jumlahnya 30 jenis sesuai dengan jumlah juz al-Quran itu. Diharapkan dengan mengenal 30 jenis karakter manusia menurut pendekatan dimensi keilmuan Mushal Utsmani ini menjadikan kita semakin ”arif” dalam mengimplementasikan ”lita’arofu” antar sesama manusia sebagai hamba Allah ini. Di mana terkandung filsafat manusia yang dalam, sekaligus gambaran tentang protret diri dan jatidiri setiap insan yang mendambakan kedamaian, kesejahtraan dan ketenangan hidup di muka bumi yang fana ini, tempat dimana status sebagai ”kholifah” difungsikan dan dilestarikan sepanjang sejarah peradaban masih bergema di alam semesta yang luas dan dasyat ini. Darinya akan ditemukan konsep perbedaan dan persamaan manusia, sekaligus menjawab pertanyaan mengapa manusia merupakan umat yang satu, yang butuh kedamaian namun juga gemar berperang antar sesama.
Diharapkan konsep kehidupan yang Islami dalam kesemestaan dunia ini menggugah naluri untuk hidup rukun antar sesama makhluk Tuhan dan sesama pengemban amanat ”Taabud” di muka bumi ini, seiring semakin taatnya kepada aturan main dan sistem kehidupan yang Allah perlihatkan melalui al-Quran dengan berbagai pemahaman esensial, formal, dan obyektif-empiriknya.
Semoga kehadiran buku ini membawa gairah dan menggugah dari keterlenaan dalam mengkaji dan mengamalkan al-Quran.
Wassalamualaikum wr wb Jakarta, 1-1-1992
Pengantar Psikologi Al-Quran 9
BAB I
PENDAHULUAN
Reinterpretasi
Kandungan Al-Quran
udul sub-bab di atas nampaknya bernada provo-katif, sebab seolah-olah buku ini akan menawarkan sebuah pemikiran yang benar-benar baru dan kontroversial. Padahal tidak semuanya demikian. Materi yang hendak disajikan dalam buku ini hanya semata-mata berupa hasil riset mendalam tentang susunan al-Quran --- yang dikenal sebagai Mushaf Utsmani --- yang telah dilakukan selama beberapa tahun. Kenapa mesti format atau ”mushaf al-Quran” yang menjadi pusat perhatian dalam studi ini?. Jawabannya, karena studi tentang ”ayat-ayat” al-Quran melalui pendekatan ”tafsir ayat”, telah dapat kita jumpai di mana-mana. Karenanya, untuk memberikan sebuah konstribusi keilmuan al-Quran yang benar-benar ”baru”, maka studi ini menyoroti dimensi lain dari al-Quran, yaitu dimensi Mushaf atau ”struktur” susunan al-Quran, suatu dimensi yang selama ini luput dari perhatian umat Islam.
Tentu saja, hasil studi ini memerlukan suatu evaluasi atau kritik. Apapun bentuk kritik, dan dari kalangan manapun, sangat diharap-kan. Terutama dari mereka yang benar-benar tertarik akan ke-benaran dan kehebatan al-Quran. Kritik terhadap hasil studi ini, tentu saja, diharapkan tidak hanya menyangkut persoalan meto-dologi dan epistemologi, tetapi juga menyangkut segi teologi. Kritik
10 Pengantar Psikologi Al-Quran
terakhir, berkaitan erat dengan persoalan sejauh mana hasil studi ini bisa diterima dan dibenarkan secata teologi, berdasarkan persepsi teologi umat Islam yang kini telah mapan. Namun demikian, diperlukan suatu sikap yang arif dalam melakukan kritik, dan tidak terburu-buru dengan cara yang a-priori.
Hasil sebuah riset, yang dilakukan melalui pergulatan panjang, baik intelektual maupun spiritual, cukup layak untuk dikritik atau dikounter dengan hasil riset juga. Dengan kritik semacam itu, maka akan tercipta suatu keterbukaan intelektual dan proses doalogis secara arif.
Metode Alternatif
Metodologi yang dikembangkan dalam melakukan studi al-Qur-an ini, didasarkal-Qur-an atas beberapa asumsi dasar, Dal-Qur-an asumsi dasar inilah yang harus dijadikan landasan dalam melakukan kritik me-todologis selanjutnya.
Asumsi pertama, al-Quran sebuah kitab yang berisi susunan sandi
(lambang) dan simbol. Dengan kata lain, al-Quran berisi bahasa sandi, dan bukan hanya semata-mata bahasa bunyi. Memang, jika asumsi yang dipakai bahwa al-Quran berisi ”bahasa bunyi” sebagaimana terdapat pada susunan kata (yang dikenal sebagai ayat), yang dapat diucapkan secara lisan, maka studi al-Quran --- sebagaimana yang telah umum dilakukan --- hanya akan terpaku pada studi ”ayat”. Tetapi, apa yang dikenal sebagai bahasa sandi dalam konteks ini, tidak lain bahasa tertulis atau ”aksara” yang di dalamnya terkandung suatu pesan sekaligus karakteristik, yang mengacu pada realitas obyektif.
Dengan asumsi diatas maka kita akan berkenalan dengan ber-bagai macam sandi dalam al-Quran. Pada unit terkecil, yang berada pada instansi pertama, sandi atau simbol yang ada dalam al-Quran adalah huruf atau abjad, dan angka yang ada di dalamnya.
Huruf atau abjad yang dipakai untuk menulis bahasa al-Quran, di-samping memiliki padanan angka, juga memiliki makna simbolik, atau katakanlah, memiliki dimensi obyektif, baik yang mengacu
Pengantar Psikologi Al-Quran 11
pada benda-benda kosmik (semestawi), maupun struktur tubuh manusia.
Unit selanjutnya, yang berada pada instansi kedua, terletak pada susunan huruf, yang kemudian menjadi kata, dan kata itu menjadi nama surat. Nama surat, di samping sebagai susunan huruf , juga mencerminkan suatu bahasa atau kata, yang menjadi simbol dari benda tertentu, baik yang ada di dalam semesta maupun dalam tubuh manusia.
Unit ketiga, susunan huruf yang kemudian menjadi kata dan atau kalimat, yang dalam hal ini biasanya disebut sebagai ”ayat”. Setiap ayat memiliki angka (nomor urut) pada setiap surat, sebagai-mana setiap huuruf ataupun nama surat juga memiliki angka (nomor urut). Setiap ayat, sesuai dengan nomor urut dan posisinya dalam surat dan juz, jika dibaca akan berpengaruh langsung terhadap kondisi fisik dan psikologis si pembacanya.
Pada instansi terakhir, terletak pada susunan atau unit ayat yang disebut sebagai juz. Setiap juz menggambarkan karakter manusia. Karena itu setiap manusia, apapun agama dan asal-usul bangsa serta etnisnya, memiliki juz dalam al-Quran. Percaya atau tidak terhadap al-Quran, siapapun membaca ayat dalam juz-nya, akan mendapatkan pengaruh langsung dari bacaannya.
Dengan demikian, pada instansi pertama, terdapat setidaknya 28, 30 atau bahkan 45 macam sandi huruf (abjad) yang dipakai untuk menulis al-Quran. Pada instansi kedua, terdapat 114 sandi nama surat yang berbeda-beda dalam al-Quran , yaitu dari surat pertama (al-Fatihah) sampai dengan surat ke-114 (an-Naas).
Pada instansi ketiga, terdapat 6236 sandi ayat, yang dikelompokkan ke dalam 114 surat, dan atau 30 bagian (juz). Pada instansi terakhir, terdapat 30 macam bagian, yang masing-masing bagian memiliki tema tersendiri.
Asumsi kedua, semua surat dalam al-Quran dari surat ke-1 (al-Fatihah) sampai ke-114 (an-Naas) merupakan gambaran tentang
perjalanan hidup atau eksistensi manusia. Baik surat yang menga-
12 Pengantar Psikologi Al-Quran
cu pada benda-benda kosmik maupun merujuk pada sifat manusiawi, semua merupakan gambaran realitas kedirian dan ek-sistensi manusia.
Jika diamati secara teliti, akan tampak bahwa 114 surat yang ada dalam al-Quran mencerminkan gambaran yang tidak semuanya bersifat konstruktif, tetapi sekaligus yang bersifat destruktif juga. Misalnya, ada sifat kemunafikan (al-Munafiquun), kecurangan (al-Muthaffifin) atau kekafiran (al-Kafiruun), tetapi sekaligus ada juga kearifan atau kebijakan (al-A’raaf dan Lukman). Ada ke-hancuran (al-Qari’ah, al-Waqi’ah, dan al-Haaqah), tetapi sekaligus ada juga “bangun-kembali” (al-Qiyamah). Ada hasrat dan nafsu kebinatangan (al-An’aam), tetapi sekaligus ada juga nafsu spiritualitas (al-Ma’arij, al-A’laa) dan sebagainya.
Dengan demikian, sifat semacam kemunafikan (al-Munafiquun), kekafiran (al-Kafirun), ketenangan (al-Mukmin), kecurangan Muthaffifin), keimanan Mukminun) dan kepatuhan (al-Jatsiah), semua itu milik setiap manusia, sebagai mahluk Tuhan yang absurd, dan penuh kontradiktif di dalamnya.
Melalui asumsi semacam ini, maka kita akan bersikap adil, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap eksistensi seluruh umat manusia. Manusia makhluk yang satu. Betapapun ber-beda warna kulit, ras, agama dan kepercayaannya, tetapi ia feno-mena Qurani. Bukankah dalam al-Quran itu sendiri, terdapat nama surat al-insan (manusia) (surat ke-76) sebagai bagian dari eksistensi kosmis.
Oleh karena itu, nama surat seperti al-Kaafiruun, al-Muthaffifin, al-Munafiquun, al-Mukminun, al-Mukmin, dan sebagainya itu, pada dasarnya juga merupakan gambaran tentang kondisi psi-kologis dan sifat kedirian atau kepribadian setiap manusia, dan bukanlah merupakan gejala sosiologis. Hal ini berarti bahwa, da-lam diri setiap manusia terdapat sifat kemunafikan, kekafiran, kelicikan, kerakusan, keimanan, dan sebagainya. Tak ada manusia yang sepenuhnya mukmin, dan tak ada manusia yang sepenuhnya kafir atau munafik. Setiap manusia memiliki berbagai sifat, baik yang “konstruktif” maupun yang “destruktif”, baik yang “humanis”
Pengantar Psikologi Al-Quran 13
maupun yang “dehumanis”, baik yang “moralis” maupun yang “de-moralis”. Dan, manusia sendiri tidak “mampu” untuk menghilang-kan sama sekali sifat-sifat yang ada dalam dirinya, betapapun sifat yang dianggap “negatif”. Sebab pada dasarnya manusia selalu ada pada tarik-menarik antara berbagai kutu yang saling ber-lawanan.
Untuk lebih memperjelas asumsi diatas, berikut diajukan bebe-rapa nama surat yang secara eksplisit dapat dijelaskan sebagai gambaran mengenai sifat-sifat manusia.
1.Surat ke-6 ( ) atau Binatang Ternak. Ini dapat juga berarti bahwa dalam diri setiap manusia terdapat nafsu atau pun instink kebinatangan.
2.Surat ke-7 ( ) atau Puncak atau Kearifan. Ini dapat berarti bahwa, selain terdapat nafsu kebinatangan (hedonistik) juga terdapat kecenderungan “spiritualitas” dan moralitas, yang berada pada instansi tertinggi dalam proses perjalanan hidup dan kejiwaannya.
3.Surat ke-63 ( ) atau Orang Munafiq. Ini dapat berarti bahwa dalam diri setiap orang terdapat sifat kemunafikan dan sekaligus kecurangan.
4.Surat ke-23 ( ) atau Orang Beriman. Ini dapat berarti bahwa dalam diri manusia terdapat instink untuk mempercayai pada yang supra-natural.
5.Surat ke-40 ( ) atau Ketenangan. Ini berarti bahwa kondisi batin yang tenang merupakan kecenderungan hakiki setiap orang. Kecenderungan untuk mencapai rasa aman dan tenteram merupakan sifat dasar manusia.
6.Surat ke-109 ( ) atau Orang Kafir. Ini berarti, dalam diri setiap manusia terdapat kekafiran atau kejumudan.
Jelaslah bahwa 114 surat yang ada dalam al-Quran gambaran tentang diri setiap manusia, baik segi fisis, biologis, psikologis, maupun mentalitas kulturalnya. Oleh karena itulah, nama surat
14 Pengantar Psikologi Al-Quran
dalam al-Quran mencerminkan suatu struktur yang kompleks, seba-gaimana kompleksitasnya struktur alam semesta, tubuh dan kondisi kejiwaan manusia itu sendiri.
Asumsi ketiga, manusia dan alam semesta dua variasi dalam satu
eksistensi. Alam semesta ada dalam diri manusia, dan sebaliknya manusia merupakan bagian dari unsur kosmik. Oleh karena itu, 114 surat dalam al-Quran, disamping merupakan gambaran tentang manusia sebagai mikro-kosmik, sekaligus merupakan gambaran tentang alam semesta sebagai makro-kosmik. Sebagai suatu contoh, kita dapat memilah-milah berbagai tema dalam surat yang ada dalam al-Quran, baik yang mencerminkan sandi tentang benda semestawi, maupun fenomena ”manusiawi”.
a. Tema Kebinatangan
- Al-Baqarah ( ) Sapi Betina - Al-An’am ( ) Binatang Ternak - An-Naml ( ) Semut - An-Nahl ( ) Lebah - Al-`Ankabut ( ) Laba-laba - Al-Fiil ( ) Gajah b. Tema Kehancuran
- Al-Waqi’ah ( ) Hari Kehancuran - Al-Haaqah ( ) Hari Kehancuran - Al-Qiyamah ( ) Hari Kiamat - Al-Qariah ( ) Hari Kehancuran c. Tema Wanita Atau Manusia Perempuan
- An-Nisaa ( ) Wanita
- Maryam ( ) Kehamilan Wanita - Al-Mujadalah ( ) Wanita Menggugat
Pengantar Psikologi Al-Quran 15
- Al-Mumtahanah ( ) Wanita Diuji d. Tema Laki-laki Kebapakan
- Ali Imran ( ) Keluarga Imran - Huud ( ) Nabi Huud - Yuunus ( ) Nabi Yuunus - Yuusuf ( ) Nabi Yuusuf - Ibrahiim ( ) Nabi Ibrahiim - Luqman ( ) Luqman - Muhammad ( ) Muhammad
- Nuuh ( ) Nuuh
e. Tema Sifat-Sifat Kedirian
- Al-Mukmin ( ) Orang Mukmin - Al-Mukminuun ( ) Orang Iman - Al-Muthaffifiin ( ) Orang Curang - Al-Munafiquun ( ) Orang Munafik - Al-Kafiruun ( ) Orang Kafir - Ar-Rahman ( ) Kasih Sayang - Al-Humazah ( ) Pengumpat - Al-Ikhlash ( ) Keikhlasan - Al-Jatsiyah ( ) Orang Patuh f. Tema Kosmis
- Al-Hijr ( ) Batu - Al-Kahfi ( ) Gua - Al-Hadiid ( ) Besi - Al-Ahqaaf ( ) Bukit Pasir - At-Thuur ( ) Bukit
16 Pengantar Psikologi Al-Quran
- An-Najm ( ) Binatang - Asy-Syam ( ) Matahari - Al-Qomar ( ) Rembulan
Melalui pendekatan dan asumsi dasar di atas, maka kita akan me-lakukan studi al-Quran secara holistik, sistemik dan menyeluruh. Sebab perhatian kita tidak hanya semata-mata tertuju pada bunyi (bahasa) pada setiap kata yang biasa disebut sebagai ayat, tetapi pada seluruh aspek simbolik yang ada dalam al-Quran. Ayat itu bagian, atau sub-sistem simbol (sandi) yang terkandung dalam al-Quran. Selain ayat, masih banyak simbol (sandi) lain yang tidak kalah penting, yaitu nama surat, huruf dan angka juz dan lain-lain.
Pada seri Ulumul-Quran buku pertama, telah diuraikan mengenai dasar rasionalitas yang melatar-belakangi studi ini. Dan, juga dibahas mengenai makna sandi huuruf dan angka, dan makna sim-bol di balik nama surat dalam al-Quran. Dalam buku ini, akan dibahas makna simbolik dan obyektif di balik pembagian juz.
Namun demikian, untuk membantu memahami buku ini, akan dilakukan penelaahan ulang mengenai makna simbol-huruf dan angka dan juga apa makna simbolik nama surat yang terkandung dalam al-Quran. Materi ini akan dibahas pada bab III.
Perlu disampaikan dalam bab ini bahwa metode pemahaman ini ditemukan oleh seorang Ustadz Lukman Abdul Qohar (65 tahun), yang kini tinggal di Jakarta. Namun demikian, metode ini telah berkembang dan dikembangkan melalui berbagai kelompok studi dan diskusi di berbagai tempat, sebagai studi alternatif tentang kebenaran al-Quran. Namun demikian, studi ini sama sekali bukan merupakan kritik atau kounter terhadap metode pemahaman al-Quran atau Ilmu Tafsir (ayat) yang kini telah berkembang dalam masyarakat. Metode ini justru lebih bersifat komplementer terhadap studi al-Quran yang telah ada, dan jika dapat diterima secara wajar, dapat menjadi sumbangan bagi hasanah perkembangan ilmu-ilmu al-Quran.
Pengantar Psikologi Al-Quran 17
Reinterpretasi Simbolik
Reinterpretasi dan pembaharuan yang ditawarkan dalam metode ini terletak pada aspek pemahaman mengenai ”makna esensial” tentang al-Quran itu sendiri. Pertama, al-Quran yang kita kenal, sebagai sebuah buku atau kitab yang berisi sandi tertulis itu, di pahami sebagai ”gambaran” tentang ”fenomena tunggal” kehidupan (peradaban) manusia dan alam semesta. Ini berarti bahwa al-Quran hanyalah ide, gambaran, sandi, yang realitas obyektifnya adalah apa-apa yang riil dan terbentang di hadapan mata kita. Dengan demikian, al-Quran bukan merupakan gambaran mengenai ”fenomena” yang ”baik-baik” saja, tetapi sekaligus menyangkut berbagai fenomena.
Dengan demikian maka studi al-Quran berarti mencari kaitan simbolik (makna) antara yang tertulis dalam sandi atau simbolik da-lam kertas (kitab al-Quran) itu, dengan realitas bendawi yang nyata dan empirik. Baik realitas itu bersifat konstruktif-humanis seperti keadilan dan ketentraman, tetapi sekaligus realitas yang destruktif-humanis semacam peperangan, kerakusan dan kehancuran. Dengan kata lain, studi al-Quran berarti mendeduksikan secara langsung sandi atau simbolik ke dalam pengertian dan pemahaman mendalam tentang fenomena oyektif-empiriknya, yaitu manusia, kehidupan (peradaban) dan alam semesta.
Kedua, apabila pemahaman pertama dapat diterima, maka pe-mahaman kedua akan berarti bahwa studi sandi yang tertulis dalam sebuah kitab, yang disebut al-Quran itu, akan sama nilainya dengan mempelajari manusia, alam semesta dan kehidupan (peradaban atau kebudayaan). Dengan kata lain juga, studi al-Quran secara ”esensial” tidak harus berarti studi tentang ayat-ayat yang tertulis dalam lembaran kitab suci itu, tetapi juga studi mengenai fenomena materil yang tampak di hadapan kita. Bukankah alam semesta, manusia dan peradaban (sejarah) itulah al-Quran yang sebenarnya. Al-Quran dalam pengertian kitab atau buku, hanyalah tulisan atau bahkan barang cetakan, yang tidak lain juga merupakan produk manusia, bagian dari sejarah peradaban manusia itu sendiri.
18 Pengantar Psikologi Al-Quran
Karena itu, al-Quran yang sebenarnya adalah manusia, alam semesta dan peradaban (kehidupan) itu sendiri.
Dalam hal ini maka orang Barat justru telah “berhasil” melaku-kan studi al-Quran dalam pengertian yang riil. Mereka telah mem-pelajari dimensi objektif al-Quran itu sendiri, atau ayat yang bukan berbentuk huruf atau tulisan, melainkan benda kosmik, dan manusia beserta peradabannya yang terbentang luas dihadapan mata. Karena itulah, maka dari sanalah berbagai ilmu al-Quran muncul; seperti geologi, fisika-kimiawi, elektronika, antropologi, psikologi, sosiologi, arkeologi, dan beraneka ragam ilmu teknik (teknologi) dan benda-benda teknologisnya.
Ketiga, jika pemahaman kedua dapat diterima, maka pemahaman ketiga akan berarti bahwa semua ilmu itu ilmu al-Quran. Apa yang disebut Ilmu al-Quran, dengan demikian, akan berarti segala bentuk (produk) ilmu yang telah diketemukan oleh manusia, baik yang menyangkut segi natural ; fisika-kimiawi, biologi, astronomi, geologi, dan sebagainya, ataupun ilmu yang menyangkut segi kurtural dan peradaban manusia ; Antropologi, Psikologi, Arkeologi, Sosiologi, Polotik dan sebagainya.
Pemahaman diatas, jelas dapat menghilang sikap ”bias” kultural, atau semacam pandangan yang sektarianistis, etnosentrik dan religiosentrik terhadap segala bentuk penemuan ilmiah, dan segala macam eksistensi budaya manusia. Pemahaman diatas juga menem-patkan al-Quran sebagai suatu konsep atau “pandangan-dunia” yang melampaui batas-batas kebangsaan, peradaban dan kebudayaan; Timur-Barat, Modern-Tradisional, dan sebagainya.
Keempat, jika pemahaman ketiga dapat diterima, maka pemaha-man berikutnya berarti bahwa apa yang disebut sebagai ”Islam”, atau ”Pandangan Dunia Qurani”, tidak lain pandangan yang me-nempatkan berbagai aspek kehidupan manusia atau alam semesta sebagai satu ”kesatuan” fenomenal. Ini berarti, bahwa kehidupan umat manusia, alam semesta, perdaban dan kebudayaanya satu, dan sekaligus merupakan ”satu-kebenaran-tunggal”. Pandangan kesatuan dan ”universal” ini yang dalam satu kata lebih tepat, barangkali ialah ”tauhid”.
Pengantar Psikologi Al-Quran 19
Pandangan ”tauhid” akan berimplikasi bahwa manusia yang ber-aneka ragam dalam penampilan fisik, sebagaimana tampak pada perbedaan ras dan suku bangsa, adat istiadat dan tata-cara ritual-agam, tradisi dan kepercayaan upacara dan kebiasaan, adalah manusia yang sama dan satu, yang berada pada satu agama Tuhan yang disebut sebagai ”Islam”. Dengan kata lain, apa yang disebut sebagai ”Islam”, satu-satunya ”agama” manusia, yang berarti ”kesatuan” dalam keaneka-ragaman. Demikian juga alam semesta yang begitu luas dimensinya, yang menampakkan berbagai ragam bentukan fisika-kimiawi, juga kesatuan, yang berada dalam satu ”agama” yang disebut sebagai ”Islam”, atau ”sunnatullah”.
Begitu juga dalam diri setiap manusia, yang merupakan kesatuan jaringan sel-sel dan organ tubuh, juga berada dalam satu kesatuan ”kausalitas” yang disebut sebagai ”sunnatullah” atau ”Islam”. Dalam setiap tubuh manusia hidup, terdapat darah yang selalu mengalir, denyut jantung yang selalu berdetak, dan berbagai macam gerak serta mekanisme syaraf yang selalu konsisten, semua itu berada dalam satu kesatuan ”agama” yang disebut sebagai ”sunna-tullah” atau ”Islam”.
Dengan pandangan seperti di atas, maka istilah ”Islam” benar-benar akan menjadi suatu konsep yang ”membebaskan” manusia dari segala macam ”prasangka” ideologi dan agama, stereotip etnis dan segala macam sikap ”monopoli kebenaran” . Semua fenomena, fenomena Qurani dan Islami atau fenomena tunggal kebenaran. Baik manusia dengan segala macam eksistensi kultural dan agama-nya, maupun alam semesta dengan segala macam kenampakkan luar dan dimensi kausalitasnya, semua Islam, dan berada dalam satu ”frame” kebenaran. Karena itu, di sini tidaklah relevan untuk meng-gunakan istilah ”Islami” dan ”tidak Islami” dalam menatap segala persoalan.
Dengan beberapa pandangan di atas, maka apa yang dikenal se-bagai ”kebenaran”, tidak lain fenomena yang sangat riil, yang terbentang luas di hadapan mata. Karena itu manusia perlu setiap saat membaca fenomena kebenaran yang riil itu. Al Quran itu kebe-naran, dan al-Quran itu sendiri secara esensial tidak lain alam
20 Pengantar Psikologi Al-Quran
semesta, manusia dan kehidupan riil yang ada di depan mata. Karena itu, kebenaran itu sesuatu yang “given”, dan inheren dalam diri manusia, mutlak adanya sehingga tak dapat dinaifkan. Namun demikian, orang tak akan dapat membaca “kebenaran” tanpa mela-lui suatu proses berpikir. Dengan kata lain, apabila seseorang (manusia) mau berpikir sedikit saja, maka di hadapannya telah terbentang “fenomena kebenaran” yang dapat dijadikan pelajaran atau bahan bacaan.
Dengan pandangan di atas, maka proses berpikir manusia pada dasarnya “belajar dari kebenaran” untuk menemukan “kebenaran baru” yang lebih kualitatif. Sebab, kebenaran itu sendiri tidak hanya berdimensi luas dan banyak, tetapi juga berdimensi kualitas dan intensitas. Di bawah kaki ada kebenaran yang telah tercapai dan dapat diinjak, tetapi di depan mata terdapat horison kebenaran baru yang terbentang luas antara ada dan tiada. Dengan pandangan ini, maka apa yang disebut sebagai “kesalahan” tidak lain “kebenaran dalam bentuk lain”, atau “kebenaran” dalam intensitas dan kualitas yang berbeda.
Relevansi Metodologi
Kerangka Metodologi dan asumsi dasar atau “paradigma” yang telah dibahas di atas, berkaitan erat dengan pembahasan buku ini, yang akan menyoroti aspek susunan al-Quran yang disebut juz. Fenomena juz dalam al-Quran, dipandang sebagai simbol-simbol yang menjelaskan perbedaan karakter dasar manusia. Dengan pen-dekatan ini, kita akan memberi makna keilmuan (ilmiah) pada fenomena juz. Artinya, mustahil jika susunan pembagian juz yang begitu konsisten dan kompleks itu tidak mengandung pesan keilmu-an. Dengan pendekatan ini pula, kita tidak lagi menganggap remeh atau menganggap tak ada gunanya pada juz itu. Melainkan, kita akan memberkan perhatian dan sekaligus mengambil makna secara proposional, sebagai sumber keilmuan.
Pengantar Psikologi Al-Quran 21
Aspek keilmuan antropologi dan psikologi, yang terkandung dalam kitab al-Quran, nampaknya terletak pada susunan al-Quran itu sendiri, yaitu pada pembagian juz. Memang, studi manusia dan berbagai aspek kebudayaannya, tidak harus mengacu pada kitab al-Quran. Sebab, di barat telah tersedia berbagai teori antropologi dan psikologi yang cukup jelas, dan bahkan dapat dipertanggung-jawab-kan secara akademik.
Namun, kita juga dapat memahami kompleksitas kesamaan dan perbedaan manusia dengan cara mendeduksikan simbol-simbol tertulis dalam al-Quran itu, ke dalam realitas obyektif manusiawi. Memang, studi ini tidak akan memberikan ”perubahan sosial” seca-ra beseca-rarti , apalagi ”perubahan akademis”. Sebab, apalah artinya ”berkutik dengan simbol huruf dan angka”, selain hanya sekedar ”intellectual exercises”.
Berbeda dengan hasil studi orang Barat tentang manusia dan kon-disi psikologisnya, yang di samping telah didukung sarana teknolo-gis, juga ditopang dengan sarana institusional, perangkat lunak dan perangkat keras. Studi ini, di samping belum sepenuhnya bersifat ”ilmiah”, juga masih belum sepenuhnya dapat ”diterima” atau bahkan dikenal oleh khalayak masyarakat luas. Namun demikian, setidaknya melalui studi ini, pembaca dapat memperoleh ”gambaran baru” tentang apa itu al-Quran. Dan, apa makna lembaran kertas yang tertulis, yang disebut al-Quran itu, bagi kehidupan manusia.
22 Pengantar Psikologi Al-Quran
BAB II
DASAR TEORI PERSAMAAN
DAN PERBEDAAN MANUSIA
alam khasanah perkembangan ilmu pengetahuan moderen, manusia telah menjadi ”obyek” studi yang semakin mena-rik. Berbagai sub-disiplin ilmu sosial dan humanika telah muncul lengkap dengan spesialisasinya. Memasuki abad ke-20 ini, antro-pologi, psikologi, sosiologi, sejarah dan berbagai ilmu sosial-kema-nusian lainnya telah lahir sebagai disiplin ilmu yang ”mandiri”. Dengan kerangka metodologinya yang semakin empiris-positivistik, ilmu terseut melepaskan diri dari induk pengetahuannya, yakni fil-safat sosial (manusia).
Tetapi, pernahkan manusia selesai dipelajari? Ternyata tidak. Manusia tidak selesai dan tidak akan pernah selesai dipelajari de-ngan pendekatan ilmu apapun. Bahkan ilmu tentang manusia kini justru berkembang semakin ”involutif” dengan kecenderungan spe-sialisasinya. Filsafat manusia misalnya, telah tumbuh dan berkem-bang dengan munculnya berbagai aliran (madzhab), bersamaan de-ngan perjalanan waktu. Bahkan semakin ”mendalam” manusia dite-ropong melalui berbagai aliran filsafat, semakin tampak tampaklah absurditasnya. Demikian juga, semakin jauh manusia dipahami dan ”dipereteli” dengan metodologi sain sosial moderen, yang berkecen-derungan posivitas, semakin banyaklah dimensi manusia yang hilang dari perspektifnya.
Paradigma positivisme-empiristik dalam metodologi sains sosial moderen, kini telah sampai pada puncak ’materialisme-sejati’, yang
Pengantar Psikologi Al-Quran 23
menempatkan manusia sepadan dengan benda materiil (kosmik) atau bagian dari alam semesta (natural). Pernyataan ini bukanlah re-fleksi dari sikap yang pesimistis terhadap perkembangan ilmu pe-ngetahuan. Melainkan hanya semacam ungkapan ”iri” terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang justru muncul dan dikuasai di Barat. Sementara, kita sendiri hanya berperan sebagai konsumen atau sebagai bangsa yang selalu mengkonsumsi produk Barat.
Perkembangan ilmu pengetahuan, bagaimanapun bentuk dan arah nya tetap menjadi bagian dari ”sunnatullah”. Sejarah umat manusia terus berjalan, dan perkembangan cara berpikir manusia beserta hasil olah-pikirnya, tidaklah dapat dibendung. Ia merupakan bagian dari ”hukum kausalitas” abadi. Karena itu, naif jika seseorang men-coba menentang hukum sejarah atau mengecam perkembangan ilmu pengetahuan.
Bukankah manusia secara eksistensial itu ”Tuhan” di atas bumi. Karena itulah, maka ia pun ”bebas” untuk beruat apa saja, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan semestawi. Manusia memiliki kebebasan ”mutlak” untuk mengeksploitasi dan mengolah alam semesta dalam rangka tujuan pemenuhan hajat hi-dupnya, bahkan manusia pun bebas untuk mengeksploitasi sesama, kalau memang mampu dan perlu. Hasil perbuatan ”bebas” manusia itulah yang mendorong dan menciptakan perubahan dalam sejarah dan peradaban. Ilmu pengetahuan bagian terkecil dari peradaban manusia. Hasil rekayasa manusia ”jenius” yang memiliki kehausan intelektual untuk mengetahui banyak tentang berbagai persoalan.
Memang hanya manusia, satu-satunya makhluk yang selalu ”gelisah”, ingin mengerti siapa dirinya dan bagaimana alam semesta sekelilingnya, termasuk manusia. Pergulatan pemikiran manusia dalam memahami bentuk ”rasionalitas” alam semesta, telah melahir kan berbagai disiplin ilmu fisika-kimiawi. Rasionalitas dan logika alam semesta itulah yang tampak dalam berbagai aksiomatika, teori dan berbagai rumus fisika-kimiawi. Rumus dan perhitungan teori tentang alam fisika-kimiawi terus berkembang dan selalu berubah mencapai titik ”kesempurnaan”. Ini berarti bahwa rasionalitas alam semesta ini suatu horison kebenaran yang amat luas. Demikian juga,
24 Pengantar Psikologi Al-Quran
pergulatan filsafat sosial dan ilmu humanika telah melahirkan ber-bagai aliran, teori dan paradigma.
Dalam konteks ini, kita akan mencoba memahami manusia de-ngan cara pandang yang ”baru”, yaitu manusia dalam perspektif kitab al-Quran. Pemahaman ini bukan dimaksudkan untuk melaku-kan ”kritik” terhadap ilmu sosial (manusia) yang datang dari Barat. Dan, juga bukan sebagai pernyataan apologis, yang secara a-priori menganggap segala sesuatu telah tercantum dalam kitab al-Quran.
Untuk tetap bersikap konsisten dengan metodologi dan asumsi dasar dalam studi ini, ilmu sosial Barat tetap dipandang sebagai ilmu al-Quran. Dengan demikian, kitab al-Quran bukan satu-satu-nya kerangka acuan yang ”harus” dipakai untuk memahami realitas dan kompleksitas keberadaan manusia. Sebab, untuk mempelajari alam semesta dan manusia, orang tidak harus membuka kitab al-Quran, berpacu dengan ayat dan sandi. Ini sama artinya bahwa orang dapat mempelajari ” al-Quran” langsung pada sumbernya, yaitu realitas obyektif manusia dan alam semesta, serta kehidupan itu sendiri.
Dengan memasuki sebuah lingkungan akademis dan bergulir dengan teori Barat tentang manusia, seseorang telah sah dikatakan atau dianggap sebagai mempelajari ” al-Quran”. Dengan memasuki sebuah laboratorium, dan bergulat dengan eksperimen melalui ru-mus biologi dan fisika-kimia, seseorang telah sah untuk dianggap sebagai memahami ” al-Quran”. Tak ada prasyarat apapun bagi setiaporang untuk dapat dijuluki sebagai ”Ulil-Albab” atau ahli ilmu al-Quran. Dengan demikian, maka semua ilmuwan adalah ulama. Dan setiap intelektual, apapun pengakuan ”agama fomulanya”, Ulil-Albab.
Konsep al-Insaan (surat ke-76), dan an-Naas (surat ke-114) dalam kitab al-Quran, jelas melampaui batas keagamaan dan keper-cayaan formal setiap manusia. Sebab mustahil kitab al-Quran itu berisi konsep diskriminatif. Karena itulah, maka melalui studi ini akan dikembangkan sebuah “paradigma” atau teori tentang kesama-an dkesama-an perbedakesama-an mkesama-anusia. Sebab, saat ini diperlukkesama-an suatu teori
Pengantar Psikologi Al-Quran 25
atau penjelasan tentang kata ”Islam”, sebagai konsep yang mengacu pada universalitas manusia dan alam.
Perbedaan Manusia
Istilah perbedaan manusia di sini, bukanlah suatu fenomena keti-dak-samaan yang diskriminatif, yang bersifat evaluatif sehingga memandang lebih (positif) terhadap yang satu, dan memandang kurang (negatif) terhadap yang lain. Manusia sama dan satu, tetapi ia berada dalam kenampakan yang berbeda-beda, baik secara psikis maupun fisis.
Secara fisis dan kultural, manusia menampakkan ciri yang berbe-da-beda. Antropolgi salah satu disiplin yang paling dini dalam menangkap perbedaan ini. Perbedaan kenampakan fisis manusia pertama-tama dapat dilihat pada warna kulit, sebagaimana tercermin dalam perbedaan ras. Dalam salah satu teorinya, antroplogi memba-gi empat (4) besar ras manusia yang ada di dunia, yaitu Kaukasid (bangsa kulit putih Eropa), Mongoloid (rumpun bangsa Asia Timur dan Tenggara), Negroid (bangsa kulit hitam negro) dan Austral-Melanesoid (bangsa selatan kulit sawo-matang).
Dalam setiap ras besar, terdapat sub-ras yang menampakkan ciri-ciri spesifik, semisal bentuk kepala, pelupuk mata dan gelombang rambut. Di bawah sub-ras, terdapat juga variasi kenampakan manu-sia, terutama yang berkaitan dengan asal-usul keturunan dan sejarah yang umumnyadisebut sebagai etnik atau suku bangsa. Manusia terbagi ke dalam berbagai suku bangsa, yang hampir tak terhitung jumlahnya.
Dari segi sosiologis dan ekonomi-politik, manusia menampakkan kondisi kuantitatif yang berbeda, meskipun perbedaan ini tidak subs –tansial sifatnya. Namun, perbedaan kondisi kuantitatif, yang nam-pak dalam perbedaan asset penguasaan sumber produksi dan ekono-mi dapat pula mempengaruhi kondisi psikologis. Misalnya, dengan kehidupannya yang miskin secara materiil, seseorang jadi tidak mampu menyalurkan potensi dan bakatnya secara optimal, sehingga kemudian ia menjadi manusia yang cenderung minder dan
”infe-26 Pengantar Psikologi Al-Quran
rior” berhadapan dengan orang lain. Dari segi akses penguasaan sumber materiil, manusia tampak berbeda antara yang miskin dan yang kaya.
Dari segi kapasitas intelektual, meskipun ini lebih merupakan produk dari kemampuan struktur masyarakat dan sejarahnya, secara individual manusia juga menampakkan perbedaannya. Sekelompok orang mampu mengangkat dirinya atau menyalurkan dirinya seba-gai pemikir yang produktif dan mampu mengekspresikan buah pi-kirannya ke dalam berbagai karya. Tetapi, sekelompok lain justru benar-benar ”miskin” informasi, sehingga sama sekali tidak memili-ki referensi dan tidak mampu mengekspresikan kemampuan intelek-tualnya ke dalam karya-karya kreatif.
Dari segi kebudayaan dan kepercayaan religius, manusia juga menampakkan perbedaan. Sosilogi dan antropologi juga telah berhasil membedakan variasi (perbedaan) kenampakkan peradaban manusia yang muncul di permukaan bumi ini. Misalnya manusia hidup dalam lingkaran ”kosmis peradaban” yang berbeda-beda, ada agama-agama besar yang muncul sebelum Masehi.
Setiap ”agama dan peradaban”, telah memberikan suplemen hi-dup bagi manusia pemeluknya. Manusia selalu hihi-dup dalam ling-karan kosmis, yang disebut sebagai ”agama” atau ”peradaban”, dan merasa aman di dalamnya. Dengan demikian, tak ada seorang ma-nusia yang hidup tanpa ”agama”, meskipun dunia moderen telah memunculkan sebuah ”agama” baru, yang disebut dengan ”huma-nisme”. Setiap lingkaran kosmis kebudayaan dan agama, mencer-minkan sesuatu bentuk ”syariat” bagi pemeluknya.
Penjumlahan dari semua ”lingkaran kosmis” manusia dalam hi-dupnya dari sejak jaman kuno, sebelum dan setelah Masehi, itulah yang dalam konteks ini hendak disebut dengan satu kata :”Islam”. Dengan demikian, apa yang disebut sebagai ”syariat-Islam” itu fenomena universal, yaitu fenomena manusia dan berbagai lingkaran kosmis agama dan peradabannya.
Semua perbedaan di atas mengacu pada aspek fisis dan sosiologis (kultural), yaitu bagaimana manusia menampakkan diri dalam per-bedaan warna kulit, ekspresi tingkah laku, kepemilikan sumber
Pengantar Psikologi Al-Quran 27
materiil, dalam konteks lingkaran kosmis yang disebut sebagai ”agama” atau ”kebudayaan”, termasuk di dalamnya kondisi ekonomi. Persoalan kemudian, apakah ada perbedaan mendasar yang ada pada individu setiap manusia, terutama di tingkat psikis atau aspek kejiwaan. Ternyata ada. Psikologi merupakan disiplin yang telah lama bergulat dengan perbedaan aspek kejiwaan dan kondisi ”dalam” setiap manusia.
Dalam perspektif psikologis, kondisi ”dalam” atau kejiwaan ma-nusia tidak lain merupakan ”produk” dari sejarah hidup atau per-jalanan individual setiap orang sejak kecil. Meskipun manusia menampakkan kondisi dasar yang relatif sama, misalnya hasrat untuk bertahan hidup, hasrat akan kehancuran, dan segala macam pembawaan yang sifatnya instinktif, namun manusia memiliki tipe yang berbeda, yang relatif dapat dipolakan. Seorang Jung, misal-nya, secara psikologis membedakan manusia ke dalam dua varian-besar, yaitu tipe ”introvert” dan tipe ”extrovert”. Tipe pertama, manusia yang cenderung tertutup atau eksklusif terhadap lingkung-an (sosial) sekitar. Sedlingkung-angkat tipe kedua, mlingkung-anusia ylingkung-ang cenderung terbuka dan inklusif terhadap lingkungan (sosial) sekitar.
Ini suatu sinyalemen bahwa, betapapun dalam kenyataan riil manusia hidup dalam ”lingkaran kosmis” yang sama, tetapi secara individual ia memiliki perbedaan kondisi psikologis. Pernyataan ini dapat juga berarti, meskipun manusia hidup dalam lingkaran kosmis (peradaban) yang berbeda, bisa saja secara individual ia memiliki kondisi psikologis yang relatif sama, misalnya dalam kasus seorang yang introvert. Jika kedua pernyataan ini digambar maka akan tampak sebagai berikut:
28 Pengantar Psikologi Al-Quran
g
@ = individu dengan kondisi psikologis ”introvert” @@
=
individu dengan kondisi psikologis ”ekstrovert” Dalam salah satu teori psikologi, manusia lahir dalam keadaan suci dan bersih, bagaikan selembar kertas putih yang belum tergo-res oleh tinta, atau semacam wadah kosong yang belum terisi. Dalam menjadi dirinya, manusia dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungan sosialnya. Dalam pandangan ini, manusia dianggap semata-mata sebagai produk lingkungan dan sejarah. Penjelasan teori psikologi yang ”deterministik” ini, akan sulit untuk menjelaskan fenomena perbedaan kondisi psikologis setiap manusia. Misalnya, kenapa lingkungan yang sama dapat melahirkan manusia yang berbeda-beda, baik dalam kecenderungan berperilaku maupun dalam cara berpikir dan menyelesaikan masalah.Dengan demikian, diperlukan pandangan yang tidak sepihak dalam memahami fnomena psikologis manusia, atau pandangan yang tidak mengacu pada ”determinisme” lingkungan. Namun, jika determinisme lingkungan akan ditempatkan pada satu pihak, maka di pihak lain diandaikan ada pandangan yang ”psychological determinism”. Artinya, dalam diri setiap manusia terdapat ”sesuatu” yang relatif tetap, yang merupakan pembawaan asal atau dibawa sejak dari dalam kandungan, sekaligus terdapat ”sesuatu”
Lingkaran Budaya (agama) A Lingkaran kosmis Budaya (agama) B @@@ @@@ @@@ @@@ @@@ @@@@ @@@@ @@@@ @@@ @@@ @@@ @@@ @@@ @@@@ @@@@ @@@ @@@@ @@@@ @@@@
Pengantar Psikologi Al-Quran 29
yang dapat berubah dan amat tergantung terhadao dunia luarnya. Sesuatu itulah yang akan disebut sebagai ”karakter dasar”. Dengan demikian, manusia lahir tidak dalam keadaan kosong sama sekali, meskipun dirinya membawa kemungkinan untuk dibentuk oleh alam dan lingkungan sosialnya.
Universalitas dan Kesamaan Manusia
Meskipun manusia satu sama lain menampakkan ciri yang ber-beda, sebagaimana telah ditunjukkan di atas, namun semua perbe-daan itu hanyalah berada pada tingkat aksidensi, dan bukan pada esensi (hakiki). Hakekat manusia adalah makhluk yang satu dan sama. Manusia adalah makhluk Tuhan yang berada dalam satu ordo yang sama. Dari segi kenampakan struktur tubuh, secara umum manusia adalah sama, sebagai makhluk yang memiliki dua tangan dan dua kaki, melahirkan dan menyusui, dua mata, kepala, serta berjalan tegak, dan tidak merangkak sebagaimana binatang berkaki empat.
Secara anatomis, makhluk manusia memiliki kesamaan. Denyut jantung, struktur sel darah, jaringan urat syaraf, struktur tulang dan paru-paru (pernapasan) dan keseluruhan ”bahan baku” yang ada di dalamnya, sama. Meskipun terdapat variasi, misalnya dalam golongan darah, tetapi variasi itu tidaklah substansial, sebab secara materiil, manusia berasal dari segumpal darah (nuthfah) yang berisi zat dan unsur fisika kimiawi yang merupakan bagian dari alam semesta. Dengan demikian, manusia berasal-usul dari Tuhan Pencipta yang sama, Tuhan yang hanya satu itu, dan karenanya ia merupakan produk dari satu pabrik.
Fenomena ajaran yang diikuti, dan kepercayaan agama yang di-hayati setiap individu dalam kehidupannya, dimensi psikologis yang aksidental sifatnya. Seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kosmis agama (kebudayaan) Hindu, misalnya, akan lebih mungkin apabila ia kemudian menjadi seorang Hindu, dan dia akan merasa lebih aman dan tenteram ketika berada dalam
30 Pengantar Psikologi Al-Quran
lingkungan kosmisnya itu. Demikian juga misalnya, seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kosmis kebudayaan Islam.
Tapi, kepercayaan terhadap Tuhan dan ajarannya, tidak dengan sendirinya kemudian mempengaruhi ”karakter-dasar” yang ia bawa sejak dalam kandungan. Dengan kata lain, pengakuan formal terhadap suatu bentuk keperyaaan dan agama, tidak akan ”merubah” karakter individual setiap manusia. Ini berarti bahwa bisa saja terjadi, dua orang yang ”agama” formalnya berbeda, tetapi memiliki karakter yang relatif sama.
Itulah mengapa, konsep ”manusia” (human being) sebenarnya mengacu pada universalitas dan kesamaan derajat manusia, yang melampaui batas etnis, ras, agama dan peradaban. Orang dapat saja berasumsi bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan. Tetapi juga dapat dikembangkan suatu asumsi, jangankan di hadapan Tuhan, di hadapan ”orang arif” manusia pun sama. Kemudia ada lagi ungkapan bahwa yang paling mulia, dan yang membedakan ”kelas” manusia di sisi Tuhan adalah ketakwaannya. Dengan kata lain, orang yang bertakwa itulah yang paling mulia di hadapan-Nya. Pernyataan ini memang bernada diskriminatif. Tetapi dapat dinetralisir, dengan asumsi bahwa semua manusia pada dasarnya telah bertakwa kepada Tuhan, karena itu semua manusia akan sama-sama mulianya di hadapan Tuhan.
Dengan pandangan ini, maka tidak ada orang yang lebih bertanggung-jawab di hadapan Tuhan, dan tidak ada orang yang dapat ”dikambing-hitamkan” di hadapan Tuhan. Manusia sama-sama memiliki tanggung-jawab, baik terhadap dirinya sendiri, masyarakat maupun Tuhannya sejalan dengan kapasitasnya masing-masing. Sebab, dalam diri setiap manusia sama-sama terdapat sebuah predikat, yaitu sebagai ”wakil” Tuhan di atas bumi. Ini berarti bahwa manusia dan segala hasil macam karyanya (peradaban atau man-made), serta alam semesta, merupakan ”pengejawan-tahan” dari firman-Nya yang Agung. Itulah mengapa, dalam surat ke-41 (al-Fushilat) ayat 53, disebutkan bahwa ayat-ayat (firman) Tuhan itu berada di mana-mana, baik di angkasa (alam semesta) maupun dalam tubuh manusia.
Pengantar Psikologi Al-Quran 31
Al-Quran tentang Persamaan dan Perbedaan
Di sini mulailah kita memasuki penjelasan yang relatif ”kontro-versial”. Untuk sejenak kembali pada asumsi dasar --- bahwa al-Quran sebuah kitab, berisi sandi yang tertulis secara sistematik, dan mengacu pada realitas empirik manusia dan alam semesta --- maka fenomena perbedaan dan kesamaan manusia juga dapat dijelaskan melalui interpretasi simbolik susunan kitab al-Quran.
Perbedaaan karakter dasar manusia, dapat dijelaskan pertama-tama dengan perbedaan karakter sandi yang terkecil yaitu huruf. Huruf atau abjad Hijaiyah, yang ada dalam kitab al-Quran, masing-masing merupakan sandi tentang perbedaan individual setiap manusia. Dari abjad pertama ( ) hingga abjad ke-30 ( ), masing-masing menampakkan bentuk dan karakternya yang berbeda-beda pula, sebagaimana perbedaan karakter setiap manusia. Dengan demikian, ada 30 jenis karakter-dasar manusia, yang membedakan-nya satu sama lain.
Kedua, perbedaan manusia dapat dijelaskan dengan perbedaan kandungan (isi) juz dalam susunan kitab al-Quran. Setiap juz ada-lah sandi tentang sebuah ”pribadi” yang memiliki karakter dasar tertentu. Dengan demikian, terdapat 30 jenis manusia, sebagaimana 30 macam juz dalam susunan kitab al-Quran. Dengan demikian, sesuatu yang ”tetap” dalam diri manusia, yang ada sejak dalam kan-dungan adalah ”juz”. Karena itu, tak ada juz yang lebih baik dari yang lain,
Setiap huruf dalam al-Quran, mengacu pada padanan juz, sesuai dengan urutan abjadnya, dan mengacu pada realitas manusia ter-tentu secara kongkrit. Demikian misalnya, seorang yang berjuz 19 akan memiliki karakter yang berbeda dengan seorang berjuz 25, karena masing-masing memiliki kandungan surat (suratan) yang berbeda. Juz adalah cetak-tebal (blue-print) bagi setiap manusia, dan juz itulah yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karena itu, dalam setiap juz terdapat huruf cetak-tebal yang membedakan satu juz dengan lainnya.
32 Pengantar Psikologi Al-Quran
Penjelasan di atas akan memperjelas kedudukan ayat dalam surat al-Hujrat ayat 13:
Wahai manusia, Kami ciptakan Anda (dalam perbedaan seks) laki-laki dan perempuan, dan membuatmu bersuku-suku bangsa dan berkabilah-kabilah, agar Anda dapat saling bersikap arif. Sesungguh nya yang paling mulia di antara Anda di hadapan Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tuhan maha mengetahui dan maha bijaksana.
Pesan moral ayat di atas, agar setiap manusia dapat mengem-bangkan sikap yang arif, yang dapat menerima berbagai fenomena keaneka-ragaman manusia, tanpa bersikap diskriminatif.
Perbedaan individual setiap manusia terletak pada perbedaan juznya. Secara teoritik, dua orang yang juznya sama memiliki ke-cenderungan dan karakter-dasar yang sama. Namun demikian, apa yang muncul dipermukaan, sebagaimana tercermin dalam kebiasaan dan cara mengekspresikan ”suratan”-nya bisa berbeda. Dan, inilah segi yang dapat ”berubah” dalam diri manusia, yang dapat dipenga-ruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan sekitar.
Teori ”kertas putih”, akan sangat sulit untuk menjelaskan, misal-nya, kenapa dua orang anak yang lahir kembar, dibesarkan dalam satu ibu dan lingkungan keluarga, dan mendapat pelayanan ling-kungan yang sama, tetapi kemudian masing-masing menampilkan karakter yang berlainan. Ini berarti bahwa ada ”sesuatu” dalam diri setiap manusia yang relatif dasariah dan tetap, yang dibawa sejak dalam kandungan. Sesuatu itulah juz, dan juz seseorang telah ada dalam diri manusia sejak dalam kandungan, bersaman dengan di-tiupkannya tanda ”kehidupan”(ruh) dalam dirinya.
Munculnya (pemberian) ruh dan juz pada momentum tertentu dalam diri seorang manusia di kandungan, sekitar usia janin empat bulan dua hari, bisa jadi merupakan bagian dari peristiwa kosmis,
Pengantar Psikologi Al-Quran 33
atau rangkaian peristiwa dalam kerangka ”sunnatullah”. Sebuah peristiwa yang belum sempat menjadi bahan penyelidikan ilmiah bagi umat manusia. Namun demikian, juz dalam diri setiap manusia itu kongkrit, ia merupakan sebuah cap, kodrat, atau takdir yang tak dapat ditolak, sebagaimana setiap orang tidak dapat menolak jenis kelaminnya secara normal. Juga tidak dapat menolak eksistensi dan kelahirannya sebagai manusia yang ber-etnik atau ras tertentu.
Kitab al-Quran berisi suatu paradigma yang bersifat ganda. Dilihat dari struktur susunan suratnya, 114 surat gambaran tentang sifat jati diri manusia. Tetapi dilihat pada susunan juznya yang berisi 30, ia merupakan gambaran tentang perbedaan karakter dasar manusia. Ini menunjukkan bahwa betapapun manusia itu berbeda-beda kondisi psikologisnya, yang tercermin dalam 30 macam perbe-daan karakter individual setiap manusia, tetapi manusia pada dasarnya sama, yaitu suatu makhluk yang di dalamnya terdapat terdapat 114 unsur-unsur, baik rohaniah maupun jasmaniah.
Dilihat dari strukturnya, susunan al-Quran terdiri atas 114 surat. Surat ke-114 ialah an-Naas (Manusia). Karena itu, 114 angka eksis-tensi manusia. Angka 114, jika dimampatkan (1 + 1 + 4), akan sama dengan angka 6. Dan surat an-Naas, juga terdiri atas 6 ayat. Surat ke-76 adalah al-Insan (manusia). Angka 76, dimampatkan menjadi 13. Angka 13 adalah mengacu pada titik anatomis atau sub-struktur tubuh manusia fisis. Secara teoritik, manusia terdiri atas 30 macam, sebagaimana terdapat 30 juz dalam al-Quran. Tetapi kenapa surat al-Insan terdiri atas 31 ayat. Angka 31 sama dengan 30 + 1. Ini berarti bahwa meskipun manusia dibedakan ke dalam 30 macam jenis, tetapi ia tetap satu dan sama. Sebagaimana 30 juz sendiri rangkaian dari 114 surat, yang secara keseluruhan mencerminkan satu kepribadian manusia.
Di sinilah konsep al-Quran tentang persamaan esensial dan eksis-tensial manusia. Sebuah konsep yang diberikan oleh Nabi Muhammad. Seorang Muhammad, di samping sebagai Nabi, juga manusia biasa, yang pernah hidup pada abad ke-6 Masehi. Sebagai manusia, ia telah meninggal. Tetapi, ia telah mewariskan sandi ter-tulis yang terdapat dalam sebuah kitab, yang dikenal dengan
al-34 Pengantar Psikologi Al-Quran
Quran. Dan di dalam kitab tersebut terdapat salah satu surat, yang juga bernama Muhammad (surat ke-47).
Bukankah secara esensial, yang disebut Muhammad manusia itu sendiri, sejak awal mula kemunculannya hingga sekarang ini. Dengan kata lain, Muhammad itu al-Quran itu sendiri, dan al-Quran secara esensial ialah manusia dan alam semesta. Dengan demikian, dapat dipahami jika kaum sufi kemudian merindukan nur-Muhammad, yaitu sinar kehidupan itu sendiri, yang begitu luas dan abadi. Muhammad lambang kesatuan dan universalitas manusia dan alam semesta. Muhammad makhluk, yang membedakannya dengan khaliq.
Karena itu, sebagai seorang nabi. Muhammad bukanlah hanya nabinya umat Islam dalam pengertian sosiologis, tetapi nabinya umat manusia. Bahkan ia sendiri rahmat alam semesta, yang berarti kehidupan dan peradaban umat manusia itu sendiri.
Dengan pengertian semacam ini, maka semakin dalam dan jelas makna ”syahadat” bagi setiap manusia. Syahadat memiliki makna yang begitu luas dan dalam. Syahadat sebuah kesaksian pada diri manusia sendiri bahwa di dalam diri setiap manusia (Muhammad) terdapat misi (rasul), yaitu misi sebagai wakil Allah di atas bumi. Tak ada Tuhan kecuali Allah dan tak ada manusia kecuali umat manusia yang satu itu, yang merupakan utusan atau ”misi”-Nya di atas Bumi.
Pengantar Psikologi Al-Quran 35
BAB III
KUNCI UNTUK MEMAHAMI
PSIKOLOGI AL-QURAN
alam bab ini, pembaca akan dipacu untuk memahami kunci yang dapat dipakai untuk membedah kedalaman keilmuan al-Quran. Setidak-tidaknya, dalam konteks ini ada beberapa kunci yang perlu dikuasai terlebih dahulu sebelum seorang memasuki apa yang disebut: ”Psikologi Utsmani” yang merupakan salah satu aspek keilmuan di balik susunan kitab al-Quran.Pertama, kenalilah bahwa setiap huruf dalam al-Quran itu memiliki posisi angka dan makna.
Kedua, huruf-huruf dapat disusun ke dalam suatu struktur yang mencerminkan struktur tubuh dan jaringan anatomis manusia. Struktur abjad dapat dipakai untuk memahami kelemahan dan kelebihan anatomis (fisis) setiap orang (juz).
Ketiga, setiap tanda ’ain dalam halaman al-Quran, memiliki makna simbolik yang mengacu pada titik anatomis manusia.
Keempat, dari susunan anatomis atau sub-struktur tubuh manu-sia, yang tercermin pada susunan ’ain, dapat disusun suatu rumus yang dapat dipakai untuk mendeteksi kelemahan dan kelebihan setiap orang (juz).
Struktur Abjad
Sebelum mengenal makna huruf dan angka dalam al-Quran, terlebih dahulu diperkenalkan huruf-huruf al-Quran yang merupa-kan kunci untuk memahami al-Quran selanjutnya. Sebagaimana
36 Pengantar Psikologi Al-Quran
telah dikatakan sebelumnya, huruf al-Quran memiliki bentuk dan karakter khusus.
Perlu dikemukakan di sini bahwa al-Quran Mushaf Utsmani) yang berisi 114 surat, dengan 6236 ayat, terbagi atas 30 juz dengan 558/559 tanda ’ain, dan dituliskan dalam 484 halaman itu, menggu-nakan setidaknya sebanyak 45 bentuk huruf. Meskipun, orang pada umumnya hanya menganggap hanya ada 28 bentuk huruf murni yang berfungsi sebagai tanda pengenalan konsonan.
Dilihat dari dasar bentukannya, ada tiga bentuk dasar dalam alfabetik Hijaiyah yang kita kenal, yaitu (a) Huruf Tunggal, (b) Huruf Kembar Tiga, (c) Huruf Kembar Dua. Apabila variasi dasar bentukan huruf digambar secara sistematik, maka akan tampak sebagai berikut: 1 32 23 2 33 24 3
25 4
26 5
27 6
28 7
29 8
30 9
31 10
11
12
13
14 Huruf tunggal Huruf kembar tiga Huruf kembar tiga Huruf kembar dua
Pengantar Psikologi Al-Quran 37 15 16 17 18 19 20 21 22
Masing-masing huruf di atas, memiliki padanan makna. Dan, apabila setiap huruf dan padanan makna disusun ke dalam struktur tubuh manusia, maka akan tampak gambar sebagaimana pada halaman berikut ini :
38 Pengantar Psikologi Al-Quran 12 27 26 25 24 23 15 1 2 3 4 5 16 17 18 19 20 28 6 21 29 7 22 30 8 31 9 32 10 33 11 OTAK MATA MULUT TENGGOROKAN PARU-PARU DARAH/JANTUNG
KANAN
LIVER/HATI PERUTKIRI
13 14Pengantar Psikologi Al-Quran 39
Melalui gambar tersebut, setiap orang (juz) akan dapat dilihat di mana letak kelemahannya. Setiap huruf menunjukkan juz dan setiap posisi merujuk pada bagian anatomis (sub-struktur) tubuh yang menjadi kelemahan dan atau kelebihan. Dan, angka dibawah huruf, juga menunjukkan juz yang relatif lebih dekat karakternya, di samping juz pemampatan.
Makna Huruf dan Angka
Sampai di sini jelaslah bahwa peranan huruf dalam al-Quran sebenarnya sangat sentral, karena itu ia merupakan kunci untuk membedah keilmuan al-Quran. Dengan demikian, mengurai keda-laman keilmuan al-Quran semestinya dimulai dari pemahaman atas makna-makna huruf yang ada di dalam al-Quran. Dengan memulai pemahaman terhadap huruf, maka kita akan dapat menjaring kedala-man keilmuan al-Quran sampai akar-akarnya.
Kenapa fenomena huruf itu pentung?. Sebab, apabila dilihat dari segi susunan simbol, maka simbol huruflah yang paling dominan. Perhatikanlah, misalnya banyak fenomena simbolik yang berupa huruf, yang menyolok dalam al-Quran, yaitu :
a.Terdapat nama surat yang terdiri dari satu huruf, yaitu surat ke-38 ( ) dan surat ke-50 ( ).
b.Terdapat nama surat yang hanya terdiri atas dari dua huruf, yaitu surat ke-36 ( ) dan surat ke-20 ( ).
c.Terdapat ayat-ayat yang terdiri atas rangkaian huruf, yang meru-pakan ”kata”, seperti dalam surat ke-19 ( ), surat ke-27 ( ) dan sebagainya.
d.Terdapat ayat yang diawali huruf terpisah, seperti ( ) dan ( )
Pertanyaan kemudian, apakah bukan mustahil jika huruf itu sendiri merupakan sandi atau simbol dari suatu realitas obyektif tertentu yang ada di dalam semesta ini, baik itu benda, unsur
fisika-40 Pengantar Psikologi Al-Quran
kimiawi, ataupun tatanan kosmos lainnya. Jika setiap huruf memi-liki makna simbolik, lantas bagaimana makna itu dapat ditemukan.
Pemaknaan abjad atau huruf, pertama-tama dilakukan melalui pendekatan mistik. Artinya, makna setiap huruf dalam al-Quran itu ”ditemukan” melalui semacam ”pengalaman batin”. Pada tahap awal, bisa jadi setiap makna hanya bersifat hipotetis. Tetapi kemu-dian, setelah penemuan yang diperoleh melalui jalan mistik, intuitif dan inspiratif itu diuji-cobakan ke dalam realitas obyektif selama bertahun-tahun, khususnya terhadap manusia, hasilnya menunjuk-kan semacam kepastian. Dengan kata lain, apabila makna-makna yang telah ditemukan itu itu dideduksikan ke dalam realitas empirik, maka akan jelas bahwa makna-makna tersebut memiliki dasar obyektifitas.
Berikut ini adalah daftar uruf-huruf al-Quran atau alfabetik Hijaiyah beserta padanan angka, dan makna simbolik di baliknya. Inilah kunci pokok untuk memahami makna simbolik di balik susunan al-Quran.
Setiap huruf memiliki makna simbolik dan setiap huruf juga me-rupakan sandi dari sebuah juz. Demikian misalnya huruf ( ) huruf ke-13, dan merupakan sandi dari juz 13. Secara simbolik, huruf tersebut bermakna kaki atau pendirian. Dengan demikian, dapat ”dipastikan” nanti bahwa seorang juz 13 memiliki kelemahan fisis yang bersifat laten pada bagian kakinya. Demikian seterusnya, bahwa setiap huruf menggambarkan titik anatomis/psikis setiap orang, sekaligus menggambarkan kelemahan atau kelebihan orang itu. Perhatikan daftar makna huruf pada daftar berikut:
Pengantar Psikologi Al-Quran 41
Ang -ka
Padanan Huruf
(abjad) Makna simbolik (aspek obyektif)
1 Otak / Pribadi
2 Mata
3 THT, termasuk mulut
4 Tulang atau Rangka
5 Tangan / Penanganan 6 Sendi/Syaraf/Hukum/Kausalitas 7 Paru-paru / Udara 8 Darah / Jantung 9 Hati Nurani 10 Perut/Pencernaan/Getaran 11 Tali rasa/Perasaan/Pusar 12 Ambisi/Motivasi/Alat Vital 13 Kaki /Pendirian 14 Rencana/Langkah Awal/Perhitung-an 15 Langkah Nyata
16 Intisari / Inti / Dasar
17 Estimasi
18 Pertimbangan / Kesehatan 19 Masalah / Pemusatan masalah /
Pemecahan
20 Batas Pandang Manusia / Aturan Main
21 Kepala / Pemikiran Ulang
42 Pengantar Psikologi Al-Quran
22 Target / Tujuan
23 Manusia / Tubuh
24 Mata Rantai / Kaitan
25 Lingkungan
26 Modal / Potensi / Waktu 27 Usaha Pembentukan Manusia 28 Manajemen/Pemberian Ruh dan
Juz
29 Gejolak / Strategi 30 Inti / Sifat / Kandungan
Sampai di sini, jelaslah bahwa bukan hanya ayat (susunan huruf yang menjadi kata) yang memiliki makna dan arti simbolik, akan tetapi huruf al-Quran pun memiliki makna dan arti. Pembuktian makna-makna huruf tersebut di atas harus dilakukan dengan cara mendedukasikan asumsi-asumsi dasar ke dalam dunia empiriknya, yaitu manusia.
Struktur dan Tanda ’Ain
Dalam Mushaf Utsmani, di kanan kiri halaman al-Quran terdapat huruf atau tanda ’ain, yang disertai angka-angka di dalamnya. Apa sebenarnya tanda ’ain dalam al-Quran itu?
Pada dasarnya, tanda ’ain hanyalah semacam catatan-kaki, yang dipakai untuk mengisyaratkan adanya posisi atau titik penting dalam susunan ayat dalam halaman al-Quran. Namun pada umumnya, tanda ’ain ini dianggap sebagai tanda berhenti membaca atau ruku’. Dalam pengertian awam, ada suatu pesan ”Berhentilah” membaca pada ruku’ tertentu. Meskipun, apa yang dimaksud denganberhenti tidak pernah jelas: berenti untuk apa; untuk istirahat atau untuk mengamati bahwa ada sesuatu yang penting dan perlu diperhatikan
Pengantar Psikologi Al-Quran 43
pada posisi tanda berhenti itu. Itulah kelatahan yang tidak mengerti dasar keilmuannya.
Tanda ’ain, abjad ke-18. Angka ini nampaknya memiliki hubung-an simbolik denghubung-an baris pada halamhubung-an al-Qurhubung-an Mushaf Utsmhubung-ani, yang jumlahnya juga 18. Itulah mengapa, tanda ”berhenti” memba-ca atau (ruku’) menggunakan huruf (abjad) ke-18 ( ), bukan huruf lainnya. Huruf ( ) , apabila dibunyikan akan menjadi ( ) yang berarti mata. Dengan demikian, kenapa pada posisi ayat tertentu, kita mesti dianjurkan untuk mengamati dengan mata, dan bila perlu berhenti sejenak, untuk memperhatikan pada ’ain berapa dan bagian yang menunjukkan apa, pembacaan al-Quran itu dilakukan.
Hasil riset yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa tanda ’ain merupakan suatu simbol yang mencerminkan titik anatomis dan sekaligus kondisi batin manusia. Mushaf Utsmani memberikan gambaran, dan sekaligus rumus tentang struktur tubuh manusia, dan titik anatomis pada setiap orang (juz). Angka pada tanda ’ain itulah yang menunjukkan titik penting dalam tubuh manusia.
Setiap orang (juz) pada dasarnya memiliki kelemahan fisis yang berbeda, dan perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan mengana-lisa simbol-simbol ’ain yang ada pada juznya. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang struktur simbolik ’ain dalam mushaf al-Quran, dapat dipakai untuk menjelaskan titik anatomis atau sub-struktur tubuh setiap orang.
Jumlah tanda ’ain dalam setiap juz berbeda-beda, tetapi yang paling sedikit adalah 14 (Juz 14 dan Juz 6). Sedangkan tanda ’ain yang paling lengkap terdapat pada juz 30, sebanyak 39 ’ain. Dari tanda ’ain yang paling lengkap, dapat disusun menjadi suatu bentuk gambar yang mencerminkan filsafat manusia. Dari hasil rekayasa intelektual yang telah dilakukan, tentu saja melalui suatu ”proses kreatif” yang amat panjang, telah dapat disusun suatu skema yang berbentuk salib terbalik.
Kenapa gambar salib terbalik?. Secara filosofis, karena semua bentuk keilmuan para Nabi dan Rasul kini telah terbenam. Misalnya , keilmuan hidrologi dari Nabi Yuunus, keilmuan agronomi dari
44 Pengantar Psikologi Al-Quran
Nabi Yuusuf, keilmuan geologi dari Nabi Huud, keilmuan dari Nabi Isa, semuanya telah lenyap dimakan sejarah. Ketika pada jaman para nabi, semua keilmuan dapat langsung ditanyakan kepada Nabi bersangkutan. Tetapi pada saat ini, orang harus menggali dahulu, baru menemukan ilmu. Berikut ini adalah gambar salib yang men-cerminkan filsafat manusia dalam versi Utsmani:
Pengantar Psikologi Al-Quran 45 STRUKTUR ’AIN 22
31 2 1 3 4 7 8 6 9 11 10 12 5 13 32 33 34 35 36 37 38 39 30 29 28 27 26 25 24 23
14 15 16 17 18 19 20 21
46 Pengantar Psikologi Al-Quran
Pada sayap ke atas gambar salib, digambarkan bahwa manusia masa kini secara eksistensial (fisis) terdiri atas 13 titik anatomis. Pada sayap atau tangkai inilah posisi Isa disalib dengan telanjang, hingga hampir seluruh bagian tubuh kelihatan. Di sinilah kita dapat memahami titik anatomis atau sub-struktur tubuh manusia. Dalam sandi kultural, dapat dilihat penyaliban ”Isa” menampakkan titik anatomisnya, sehingga secara jelas ”Isa” sering digambarkan seba-gai ahli anatomi dan penyembuhan penyakit. Pemahaman atas titik tersebut, dapat dipakai untuk mendeteksi kelemahan dan kelebihan setiap orang (juz).
Manusia fisik terdiri atas 13 titik. Angka 13 inilah angka eksis-tensi dan misteri manusia. Sandi-sandi yang mencerminkan angka 13 misteri manusia banyak sekali. Dapat disebutkan antara lain. 1.Surat ke-76 al-Insan, yang artinya Manusia. Angka 76 apabila
dimampatkan akan menjadi 13. 2.Angka 13 sering dianggap angka sial.
3.Huruf ( ) sampai dengan ( ), jumlah titiknya adalah 13. 4.Halaman terakhir pada juz 13 (halaman 16 juz 13) jumlah
ayat-nya 13.
5.Surat ke-1 (al-Fatihah) hingga surat ke-13 (ar-Ra’du) jumlah ayatnya 1750, sama dengan 13 (dimampatkan).
6.Pada saat tahalul (ibadah haji) dilakukan pemotongan 3 helai rambut dan 10 kuku jari. Ini berarti bahwa dari ujung rambut hingga ujung kuku terdapat 13 titik.
7.Masih banyak sandi lain yang mencerminkan 13 jumlah titik dalam tubuh manusia.
Oleh karena manusia terdiri atas 13 titik anatomi, maka jumlah tanda ’ain dalam juz (juz sebagai gambar jati diri manusia) paling sedikit adalah 13, yaitu pada juz 4 dan juz 6. Ini menggambarkan bahwa eksistensi manusia setidaknya terdiri atas 13 titik anatomis (fisis), plus titik ke-14-nya, yaitu kejiwaan atau rencana hidupnya.