• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I

METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF (PENETAPAN KADAR TEOFILIN DALAM CAMPURAN (PENETAPAN KADAR TEOFILIN DALAM CAMPURAN

TEOFILIN DAN

TEOFILIN DAN PARACETAMOL)PARACETAMOL)

Oleh : Oleh : Kelompok I Kelompok I

AA.

AA. Sg. Sg. Narithi Narithi Maharani Maharani (0908505038)(0908505038) Vera

Vera Carolina Carolina Gumi Gumi (0908505039)(0908505039) Ni

Ni Putu Putu Wahyu Wahyu Pradnya Pradnya Icwari Icwari (0908505040)(0908505040) Ni

Ni Made Made Lisna Lisna Meilinayanti Meilinayanti (0908505042)(0908505042)

JURUSAN FARMASI JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA UNIVERSITAS UDAYANA

2011 2011

(2)
(3)

METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF METODE SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF

(PENETAPAN KADAR TEOFILIN DALAM CAMPURAN TEOFILIN DAN (PENETAPAN KADAR TEOFILIN DALAM CAMPURAN TEOFILIN DAN

PARASETAMOL) PARASETAMOL)

II.. TTUUJJUUAANN 1.

1. MembuaMembuat spet spektra ktra dari dari masing-masing-masing masing komponekomponen daln dalam camam campuranpuran 2.

2. MeMenennentutukakan n papanjanjang ng gegelolombmbangang zero crossing  zero crossing  3.

3. MembuaMembuat kurvt kurva baku a baku dari ldari larutan arutan standarstandarnya panya pada pada panjang njang gelombagelombangng zero crossing  zero crossing  4.

4. MeMenetnetapkapkan an kadkadar ar teteofiofililinn

IIII.. DDAASSAAR R TTEEOORRII Spe

Spektrktrofotofotomeometri tri derderivativatif if mermerupaupakan kan metmetode ode manimanipulpulatiatif f terterhadahadap p spespektrktra a padpadaa

spe

spektrktrofotofotomeometri tri ultultraviravioleolet t dan dan cahacahaya ya tamtampak.pak.KaKadar dar lalarurutatan n cacampmpururan an dua dua zat zat dadapapatt ditentukan dengan metode spektrofotometri.Namun bila tidak dipisahkan terlebih dahulu maka ditentukan dengan metode spektrofotometri.Namun bila tidak dipisahkan terlebih dahulu maka spe

spektktrum rum kokompmponeonen-kn-komompoponenennynnya a seseriring ng salsaling ing tutumpmpang ang titindindih h (o(oveverlrlapappiping)ng).B.Bililaa dikehendaki pengukuran tanpa pemisahan, dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri dikehendaki pengukuran tanpa pemisahan, dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri ultraviolet derivatif, dimana kadarnya diukur pada panjang gelombang

ultraviolet derivatif, dimana kadarnya diukur pada panjang gelombang zero  zero crosscrossing ing .Spektra.Spektra serapa

serapan n normal salah normal salah satu konsentrasi dari satu konsentrasi dari masingmasing-masi-masing ng senyawasenyawa/kompo/komponen nen dibuat spektradibuat spektra derivat pertama, derivat kedua dan derivat ketiga dengan menggambarkan selisih absorban dua derivat pertama, derivat kedua dan derivat ketiga dengan menggambarkan selisih absorban dua  panjang gelombang berdekatan vs harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut.Dari spektra  panjang gelombang berdekatan vs harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut.Dari spektra

der

derivat ivat tertersebsebut ut ditditentuentukan kan panpanjang jang gelgelombaombangng   zero   zero crossicrossing ng  komkomponeponen, n, dimdimana ana dA/dA/dλ dλ  komponennya bernilai nol (Susanti, 2011).

komponennya bernilai nol (Susanti, 2011).

Pada spektrofotometri konvensional, spektrum serapan merupakan plot serapan (A) Pada spektrofotometri konvensional, spektrum serapan merupakan plot serapan (A) terhadap panjang gelombang (λ). Pada metode spektrofotometri derivatif, plot A lawan λ, terhadap panjang gelombang (λ). Pada metode spektrofotometri derivatif, plot A lawan λ, ditransformasikan menjadi plot dA/d lawan e untuk derivatif pertama, dan d2A/ dλ2 lawan λ  ditransformasikan menjadi plot dA/d lawan e untuk derivatif pertama, dan d2A/ dλ2 lawan λ  untuk derivatif kedua, dan seterusnya. Panjang gelombang serapan maksimum suatu senyawa untuk derivatif kedua, dan seterusnya. Panjang gelombang serapan maksimum suatu senyawa   pad

  pada a spespektrktrum um nornormal mal akan menjadakan menjadi i λ λ   zero   zero crossicrossing ng   pada   pada spektrspektrum um derivatderivative ive pertampertama.a. Pa

Panjnjanang g gegellomombabang ng tetersrsebebut ut ttididak ak memempmpununyayai i ssererapapan an atatau au dAdA/d/dλ λ = = 00. . MMetetododee spe

spektrktrofotofotomeometri tri derderivativatif if dapdapat at digdigunakunakan an untuntuk uk analanalisis isis kuakuantitntitatiatif f zat zat daldalam am camcampurpuranan dimana spektrumnya mungkin tersembunyi dalam suatu bentuk spektrum besar yang saling dimana spektrumnya mungkin tersembunyi dalam suatu bentuk spektrum besar yang saling tumpang tindih dengan mengabaikan proses pemisahan zat yang bertingkat- tingkat.

(4)

Un

Untutuk k suasuatu tu lalarutrutan an yayang ng memengangandundung ng dua dua kokompmponeonen n yayang ng memenyenyerarap, p, x x dan dan y,y, ser

serapaapan n ataatau u absoabsorbarbansi nsi (A) (A) diukdiukur ur padpada a dua dua panjpanjang ang gelgelombaombang.Kng.Keteetelitlitian ian yang yang tingtinggigi didapatkan dengan memilih panjang gelombang yang serapannya maksimal karena dengan didapatkan dengan memilih panjang gelombang yang serapannya maksimal karena dengan   pe

  pergergeseseraran n sesedikdikit it papada da kurkurva va seserarapapan n titidak dak memenyenyebabbabkakan n peperurubabahan han absabsororbanbansi si yanyangg terlampau jauh.Pada metode spektrofotometri derivatif, jumlah komponen dalam campuran terlampau jauh.Pada metode spektrofotometri derivatif, jumlah komponen dalam campuran dapa

dapat t mencmencapaapai i 8 8 komkomponeponen n dengdengan an syasyarat rat selselisiisih h panjpanjang ang gelgelombaombang ng makmaksimsimum um antantaraara komponen minimal 5 nm. Jika jumlah komponen dalam sampel lebih dari 3 maka untuk  komponen minimal 5 nm. Jika jumlah komponen dalam sampel lebih dari 3 maka untuk  me

mengnghithitung ung kadkadar ar didigugunaknakanan   so  softwftware are mulmultikotikompomponennen yyaang ng tteerrddapapaat t ppadada a aallatat spektrofotometer UV-Vis (Fatah, 2008).

spektrofotometer UV-Vis (Fatah, 2008). Bila panjang gelombang

Bila panjang gelombang  zero crossing  zero crossing  masing-masing senyawa tidak sama denganmasing-masing senyawa tidak sama dengan   pan

  panjang jang gelgelombombang ang padpada a serserapan apan makmaksimsimumnyumnya, a, maka maka penepenetaptapan an kadakadar r camcampurapuran n duadua seny

senyawa awa dapdapat at dildilakukakukan an tantanpa pa pempemisaisahan han terterlebilebih h dahudahulu. lu. Akan Akan tettetapi api apaapabilbila a panpanjangjang gelombang

gelombang   zero crossing   zero crossing  masingmasing-masing -masing senyawa senyawa sama dengsama dengan panjang an panjang gelombagelombang padang pada serapan maksimumnya akan terjadi pelebaran pita, sehingga kurva derivatif pertama tidak akan serapan maksimumnya akan terjadi pelebaran pita, sehingga kurva derivatif pertama tidak akan membantu pemisahan spektranya. Pada situasi tersebut maka dicoba derivatif kedua (Fatah, membantu pemisahan spektranya. Pada situasi tersebut maka dicoba derivatif kedua (Fatah, 2008).

2008). De

Deririvasvasi i atatau au pepengungunaanaan n dederivrivatatif if kekedua dua dadan n seselalanjunjutntnya ya akaakan n memenyenyebabbabkakann ter

terbentbentuknya uknya spespektrktrum um yang yang leblebih ih tintinggi ggi padpada a derderivativatif if selselanjuanjutnya tnya (ga(gambarmbar. . 1). 1). DeDenganngan demikian jumlah spektrum akan bertambah karena pemecahan sejumlah puncak-puncak yang demikian jumlah spektrum akan bertambah karena pemecahan sejumlah puncak-puncak yang lebih terinci menjadi dua spektrum.

lebih terinci menjadi dua spektrum.

Gambar 1.Bentuk spektrum derivatif pertama sampai Gambar 1.Bentuk spektrum derivatif pertama sampai

keempat suatu pita Gauss (Fatah, 2008). keempat suatu pita Gauss (Fatah, 2008).

(5)

Penentuan kadar teofilin dalam campuran teofilin dan parasetamol perlu dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri derivatif karena serapan maksimum dari   parasetamol dan teofilin berada pada panjang gelombang yang berdekatan. Hal ini

menyebabkan terjadinya tumpang tindih (overlapping ) spektrum secara total. Spektrum yang tumpang tindih menyebabkan kesulitan dalam penetapan kadar teofilin karena terganggu oleh serapan parasetamol. Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk meningkatkan   pemecahan puncak yang saling tumpang tindih tersebut sehingga teofilin dapat ditetapkan kadarnya tanpa terganggu oleh serapan parasetamol.Penetapan kadar teofilin dalam campuran   parasetamol dan teofilin secara spektrofotometri derivatif dapat dilakukan dengan

menggunakan metode zero crossing dan metode peak to peak(Wulandari, 2008 ).

Metode spektrofotometri derivatif telah diaplikasikan secara luas di dalam kimia analisis kuantitatif, analisis lingkungan, farmasetik, klinik, forensik, biomedik, dan industri. Metode ini merupakan salah satu analisis multi komponen yang dapat dilakukan apabila:

 Hasil preparasi sampel tidak memungkinkan mendapatkan senyawa tunggal

 Tidak diinginkan pemisahan dalam preparasi sampel

 Spektrum zat tersebut mungkin tersembunyi dalam suatu bentuk spektrum besar  yang salingtumpang tindih dengan mengabaikan proses pemisahan zat yang bertingkat-tingkat.

 Senyawa yang akan ditentukan kadarnya memiliki absorbansi rendah dan memiliki  pengaruh dapat meningkatkan nilai absorbansi.( Hayun, 2006 ).

Tekhnik ini menawarkan berbagai macam keuntungan dibandingkan dengan metode absorbansi biasa seperti dapat meningkatkan resolusi dari spektrum yang over lapping ,waktu analisis yang lebih cepat ,biaya yangdibutuhkan lebih murah dan lebih sederhana

A. Metode Peak-to-Peak 

Spektrum serapan larutan baku teofilin dan sampel dibuat spektrum derivatif   pertama. Spektrum derivatif pertama dibuat dengan memplotkan dA/dλ terhadap panjang

gelombang (λ). Amplitudo diperoleh dari selisih serapan 2 panjang gelombang yang  berderet teratur dibagi Δ λ, dalam hal ini Δ λ adalah 1 nm. Panjang gelombang peak-to- peak  ditentukan dari penggabungan spektrum derivatif larutan baku teofilin dan sampel.

(6)

dimana terdapat spektrum yang saling berhimpitan satu sama lain secara total yang menghasilkan puncak maksimum dan puncak minimum.

B. Metode Zero Crossing 

Pada metode   zero crossing  spektra serapan normal salah satu konsentrasi dari masing-masing senyawa atau komponen dibuat spektra derivat pertama, derivat kedua dan derivat ketiga dengan menggambarkan selisih absorban dua panjang gelombang berdekatan vs harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut. Dari spektra derivat tersebut ditentukan  panjang gelombang zero crossing  komponen, dimana  zero crossing  masing-masing zat ditunjukkan oleh panjang gelombang yang memiliki serapan nol pada berbagai konsentrasi. Apabila suatu campuran zat memiliki memiliki λ zero crossing lebih dari satu, maka yang dipilih untuk dijadikanλanalisis adalah λ zero crossing  yang :

 serapan senyawa pasangannya dan campurannya persis sama, karena pada λ tersebut dapat secara selektif mengukur serapan senyawa pasangannya.

 memiliki serapan yang paling besar, karena pada serapan yang paling besar, serapannya lebih stabil sehingga kesalahan analisis dapat diperkecil (Hayun, 2006).

Teofilin

Teofilin (C6H8 N4O2.H2O) memiliki berat molekul 198,18. Teofilin mengandung satu

molekul air hidrat atau anhidrat. Mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 102,0% C7H8 N4O2dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Teofilin sukar larut dalam air,

tetapi mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam ammonium hidroksida; agak  sukar larut dalam etanol, dalam kloroform dan dalam eter (Depkes RI, 1995).

Teofilin memiliki nama lain Anhydrous Theophylline, 1,3-Dimethylxanthine; Teofilina dan Theophyllinum. Bobot molekul dari obat ini adalah 180,2. Rumus struktur dari teofilin dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

(7)

Gambar 2. Rumus Struktur Teofilin

3,7-Dihydro–1,3–dimethyl–1 H -purine–2,6–dione

Teofilin berupa serbuk kristal putih dengan titik lebur 270° - 274°. 1 bagian teofilin terlarut dalam 120 bagian air, 80 bagian etanol dan 110 bagian kloroform; terlarut sebagian dalam eter; larut dalam asam encer, ammonia, dan larutan alkali hidroksida. Absorbansi teofilin pada λmax 270 nm dalam Larutan asam adalah sebesar 536 a sedangkan dalam larutan alkali atau basa absobansinya sebesar 650a pada λmax 275 nm. Kurva absorbansi teofilin pada larutan asam serta basa dapat dilihat pada gambar di bawah:

Gambar 3. Kurva Absorbansi Teofilin

(8)

Paracetamol memiliki nama lain Acetaminophen atau N -Acetyl–   p –aminophenol N -(4-Hydroxyphenyl)acetamide. Berat molekulnya 151,2(Anonim, 2005)

Gambar 4. Rumus Struktur Paracetamol

Pemeriaan paracetamol berupa kristal putih atau terdiri dari serbuk kristal. Titik  didihnya dalam air berkisar antara 169.0° sampai 170.5°. Paracetamol sedikit larut dalam air  dingin, sangat larut dalam air panas, larut dalam etanol, metanol, dimetilformamide, etilene diklorida, aseton, dan etil asetat; sedikit larut dalam eter dan kloroform; serta tidak larut dalam  petrolium eter, pentane dan benzene.Larutan asam encer—245 (A1

1=668a); Larutan basa encer 

 —257 nm (A1

1=715a)(Anonim, 2005).

Gambar 5. Kurva Absorbansi Parasetamol

(9)

A. Alat • Spektrofotometer UV/VISKuvetTimbangan analitik Labu takar 10 mlPipet tetesBotol vialPipet ukur 5 ml B. Bahan •Aquadest

Larutan stok Parasetamol 2,26 mg/mlLarutan stok Teofilin 2,1 mg /ml

IV. CARA KERJA

1. Pembuatan spektra parasetamol dan teofilin.

Dibuat spektrum normal dari larutan tersebut dengan rentang panjang gelombang 220-320 nm.

2. Penentuan zero crossing .

Dari spektra serapan normal yang diperoleh, dibuat spektra derivat pertama, derivat kedua

dan derivat ketiga dengan menggambarkan dAλ dua panjang gelombang terhadap harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut. Dari spektra derivat tersebut ditentukan panjang

gelombang zero crossing  parasetamol, dimana dAλ  parasetamol bernilai nol. 3. Pembuatan kurva baku.

Dibuat larutan baku kafein seri konsentrasi 0,75; 1,25; 1,75; 2,25; 2,75 dan 3,25 mg%. Kurva baku dibuat dengan mengukur seri kadar larutan baku kafein pada panjang gelombang zero crossing . Nilai d3A/dλ 3spektrum dan kadar dibuat dengan persamaan linier 

sehingga diperoleh persamaan y = bx + a (y = nilai d3A/dλ 3, x = konsentrasi; b = slope; a =

(10)

4. Penetapan kadar teofilin.

Larutan sampel campuran dibaca pada panjang gelombang   zero crossing   parasetamol. Nilai d3A/dλ 3spektrum kafein pada panjang gelombang  zero crossing  parasetamol dan dimasukkan

ke dalam persamaan kurva baku teofilin.

(11)

1. Absorbansi Parasetamol dan Teofilin pada Rentang Panjang Gelombang 200-300 nm Λ ParacetamolA TheopilinA 200 1.011 0.999 203 0.850 0.983 206 0.663 0.917 209 0.467 0.752 212 0.359 0.569 215 0.326 0.433 218 0.322 0.352 221 0.327 0.315 224 0.335 0.289 227 0.344 0.264 230 0.353 0.245 233 0.364 0.214 236 0.374 0.182 239 0.377 0.165 242 0.376 0.162 245 0.368 0.165 248 0.360 0.172 251 0.344 0.183 254 0.315 0.207 257 0.267 0.248 260 0.233 0.279 263 0.195 0.311 266 0.171 0.33 269 0.155 0.337 272 0.146 0.336 275 0.138 0.326 278 0.129 0.306 281 0.121 0.27 284 0.111 0.218 287 0.099 0.155 290 0.087 0.106 293 0.077 0.079 296 0.070 0.066 299 0.064 0.059

(12)

Kurva Baku Teofilin

(13)

2. Absorbansi Larutan Baku Teofilin Konsentrasi (μgmL) λ  (nm) A 4,5 281 0,268 284 0,248 287 0,152 5 281 0,248 284 0,257 287 0,140 5,15 281 0,317 284 0,269 287 0,117 5,5 281 0,263 284 0,278 287 0,155 6 281 0,325 284 0,291 287 0,144

3. Absorbansi Sampel Campuran Parasetamol dan Teofilin

(14)

281 0,474

284 0,411

287 0,242

V. Perhitungan

1. Pengenceran Larutan Parasetamol

Diketahui : Cstok Paracetamol : 1 mgmL = 1000 μgmL

Clarutan Paracetamol : 4

mL μg

V larutan Paracetamol : 10 mL

Ditanya : Vstok Paracetamolyang diperlukan = ... ?

Perhitungan :

Dilakukan pengenceran sebanyak 2 kali, yaitu terlebih dahulu dibuat larutan paracetamol

dengan konsentrasi 100 μgmL

Diketahui : Cstok Paracetamol : 1 mgmL = 1000 μgmL

Clarutan Paracetamol : 100 μgmL

V larutan Paracetamol : 10 mL

Cstok Paracetamol . Vstok Paracetamol = Clarutan Paracetamol . Vlarutan Paracetamol

1000 μgmL . Vstok Paracetamol = 100 μgmL . 10 mL Vstok Paracetamol = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  1000 10 . 100 Vstok Paracetamol = 1 mL Pengenceran kedua:

Diketahui : Cstok Paracetamol : 100

mL μg

Clarutan Paracetamol : 4 μgmL

V larutan Paracetamol : 10 mL

(15)

100 μgmL . Vstok Paracetamol = 4 μgmL . 10 mL Vstok Paracetamol = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 4 Vstok Paracetamol = 0,4 mL

Jadi, untuk membuat larutan paracetamol dengan konsentrasi 4 μgmLdipipet larutan

 paracetamol 100μgmLsebanyak 0,4 ml, kemudian diencerkan dengan aquadest hingga 10 ml.

2. Pengenceran Larutan Teofilin

Diketahui : Cstok Teofilin : 1 mgmL = 1000 μgmL

Clarutan Teofilin : 4 μgmL

V larutan Teofilin : 10 mL

Ditanya : Vstok Teofilin yang diperlukan?

Perhitungan :

Dilakukan pengenceran sebanyak 2 kali, yaitu terlebih dahulu dibuat larutan teofilin

dengan konsentrasi 100 μgmL

Diketahui : Cstok Teofilin : 1

mL mg = 1000 mL μg Clarutan Teofilin : 100 μgmL V larutan Teofilin : 10 mL

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = Clarutan Teofilin . Vlarutan Teofilin

(16)

Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  1000 10 . 100 Vstok Teofilin = 1 mL Pengenceran kedua:

Diketahui : Cstok Teofilin : 100 μgmL

Clarutan Teofilin : 4

mL μg

V larutan Teofilin : 10 mL

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = Clarutan Teofilin . Vlarutan Teofilin

100 μgmL . Vstok Teofilin = 4 μgmL . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 4 Vstok Teofilin = 0,4 mL

Jadi, untuk membuat larutan teofilin dengan konsentrasi 4μgmLdipipet larutan teofilin

100μgmLsebanyak 0,4 ml, kemudian diencerkan dengan aquadest hingga 10 ml.

3. Penentuan absorbtivitas molar teofilin Diketahui : Amax teofilin : 0,337

Tebal kuvet (b) : 1 cm

C Teofilin : 4

mL μg

Ditanya : Absorbtivitas molar teofilin (ε) = … ? Jawab : A = εb c ε = ε = mL  g  cm 4µ  1 337 , 0 ×

(17)

= 0,08425mL µ gcm

4. Penentuan konsentrasi larutan seri baku teofilin

Konsentrasi larutan dibuat agar tidak terlalu pekat atau terlalu encer, sehingga dibuat larutan yang memberikan absorbansi 0,434

Diketahui : A : 0,434

Tebal kuvet (b) : 1 cm

εteofilin :0,08425mL µ gcm

Ditanya : Cteofilinketiga ?

Jawab : A = εb c C = ε  × b  A = g ml/ 1 -cm 0,08425 1 434 , 0  µ  × cm = 5,15μg/ml

Dibuat satu seri larutan baku teofilin dengan konsentrasi :4,5 μg/ml; 5μg/ml; 5,15 μg/ml; 5,5 μg/ml; 6 μg/ml

5. Pengenceran Untuk Pembuatan Seri Larutan Baku Teofilin Diketahui : Cstok Teofilin : 100

mL g  µ 

V larutan baku teofilin : 10 mL

Ditanya : Vstok Teofilinyang dipipet ?

Perhitungan : • Vstok Teofilin

- konsentrasi 1 = 4,5 μg/ml

(18)

100 μgmL . Vstok Teofilin = 4,5 μgmL . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 5 , 4 Vstok Teofilin = 0,45 mL

Jadi, volume yang dipipet dari larutan stok teofilin 100 µ gmL adalah 0,45 mL.

Vstok Teofilin

- konsentrasi 2 = 5 μg/ml

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = CTeofilin dalam Sa mpel . VSampel

100 μgmL . Vstok Teofilin = 5 μgmL . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 5 Vstok Teofilin = 0,5 mL

Jadi, volume yang dipipet dari larutan stok teofilin 100 µ gmL adalah 0,5 mL. • Vstok Teofilin

- konsentrasi 3 = 5,15 μg/ml

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = CTeofilin dalam Sa mpel . VSampel

100 μgmL . Vstok Teofilin = 5,15 mL μg . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 15 , 5 Vstok Teofilin = 0,515 mL

Jadi, volume yang dipipet dari larutan stok teofilin 100 µ gmL adalah 0,5 mL.

- konsentrasi 4 = 5,5 μg/ml

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = CTeofilin dalam Sa mpel . VSampel

100 μgmL . Vstok Teofilin = 5,5 μgmL . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 5 , 5 Vstok Teofilin = 0,55 mL

(19)

Jadi, volume yang dipipet dari larutan stok teofilin 100 µ gmL adalah 0,55 mL.

- konsentrasi 5 = 6 μg/ml

Cstok Teofilin . Vstok Teofilin = CTeofilin dalam Sa mpel . VSampel

100 μgmL . Vstok Teofilin = 6 μgmL . 10 mL Vstok Teofilin = mL  g  ml  mL  g   µ   µ  100 10 . 6 Vstok Teofilin = 0,6 mL

Jadi, volume yang dipipet dari larutan stok teofilin 100 µ gmL adalah 0,6 mL.

6. Penentuan Panjang Gelombang Zero Crossing

a. d λ  dA Diketahui : λ  1 = 200 nm λ 2 = 203 nm A1 = 1,011 A2 = 0,850 Ditanya : dAλ  Perhitungan : 1 2 1 2 λ  λ  λ  − = A  A d  dA nm 200 nm 203 1,011 0,850 − − = λ  d  dA nm 3 161 , 0 − = λ  d  dA

(20)

1 nm 67 -0.0536666 − = λ  d  dA • λ  Diketahui : λ  1 = 200 nm λ 2 = 203 nm Ditanya : λ  Perhitungan : 2 2 1 λ  λ  λ = + 2 nm 203 nm 200 + = λ  nm 201,5 = λ 

Dengan cara yang sama, diperoleh : λ rata-rata A Paracetam ol DA I Paracetamol 201.5 1.011 -0.053666667 204.5 0.850 -0.062333333 207.5 0.663 -0.065333333 210.5 0.467 -0.036000000 213.5 0.359 -0.011000000 216.5 0.326 -0.001333333 219.5 0.322 0.001666667 222.5 0.327 0.002666667 225.5 0.335 0.003000000 228.5 0.344 0.003000000 231.5 0.353 0.003666667 234.5 0.364 0.003333333 237.5 0.374 0.001000000 240.5 0.377 -0.000333333 243.5 0.376 -0.002666667 246.5 0.368 -0.002666667 249.5 0.360 -0.005333333 252.5 0.344 -0.009666667 255.5 0.315 -0.016000000 258.5 0.267 -0.011333333 261.5 0.233 -0.012666667 264.5 0.195 -0.008000000 267.5 0.171 -0.005333333 270.5 0.155 -0.003000000 273.5 0.146 -0.002666667 276.5 0.138 -0.003000000 279.5 0.129 -0.002666667 282.5 0.121 -0.003333333 285.5 0.111 -0.004000000 288.5 0.099 -0.004000000 291.5 0.087 -0.003333333 294.5 0.077 -0.002333333

(21)

Pada derivat pertama tidak diperoleh nilai nol, maka dihitung derivat kedua dari absorbansi paracetamol

(22)

Perhitungan deivat kedua parasetamol b. Derivat kedua 2 2 λ  d   A d  Diketahui : = -0.053666667 =-0.062333333 λ 1 = 200 nm λ 2 = 203 nm Ditanya : 2 2 λ  d   A d  =? Perhitungan : 2 2 λ  d   A d  ? nm) 200 ( nm) (203 67) -0.0536666 ( 3 0.06233333 -2 2 2 2 − − = λ  d   A d  nm 209 , 1 002333334 , 0 2 1 2 2 − − = nm d   A d  λ  3 2 2 nm 7 7,13813068 00 , 0 − − = λ  d   A d 

Dengan cara yang sama, dihitung turunan pertama dan kedua dari setiap konsentrasi di atas. Sehingga didapat derivat pertama dan kedua sebagai berikut.

(23)

Kurva derivate kedua parasetamol dan teofilin λ rata-rata A Paracetamol DA I Paracetamol DA II Paracetamol 201.5 1.011 -0.053666667 -0.0000072 204.5 0.850 -0.062333333 -0.0000024 207.5 0.663 -0.065333333 0.0000236 210.5 0.467 -0.036 0.0000198 213.5 0.359 -0.011 0.0000075 216.5 0.326 -0.001333333 0.0000023 219.5 0.322 0.001666667 0.0000008 222.5 0.327 0.002666667 0.0000002 225.5 0.335 0.003 0.0000000 228.5 0.344 0.003 0.0000005 231.5 0.353 0.003666667 -0.0000002 234.5 0.364 0.003333333 -0.0000017 237.5 0.374 0.001 -0.0000009 240.5 0.377 -0.000333333 -0.0000016 243.5 0.376 -0.002666667 0.0000000 246.5 0.368 -0.002666667 -0.0000018 249.5 0.360 -0.005333333 -0.0000029 252.5 0.344 -0.009666667 -0.0000042 255.5 0.315 -0.016 0.0000030 258.5 0.267 -0.011333333 -0.0000009 261.5 0.233 -0.012666667 0.0000030 264.5 0.195 -0.008 0.0000017 267.5 0.171 -0.005333333 0.0000015 270.5 0.155 -0.003 0.0000002 273.5 0.146 -0.002666667 -0.0000002 276.5 0.138 -0.003 0.0000002 279.5 0.129 -0.002666667 -0.0000004 282.5 0.121 -0.003333333 -0.0000004 285.5 0.111 -0.004 0.0000000 288.5 0.099 -0.004 0.0000004 291.5 0.087 -0.003333333 0.0000006 294.5 0.077 -0.002333333 0.0000002 297.5 0.070 -0.002 0.0000006

(24)

7. Kurva Baku Derivat Kedua Teofilin a. Derivat pertama dAλ Konsentrasi 4,5 mL μg Diketahui : λ  1 = 281 nm λ 2 = 284 nm A1 = 0,268 A2 = 0,248 Ditanya : dAλ  Perhitungan : 1 2 1 2 λ  λ  λ  − = A  A d  dA nm 281 nm 284 0,268 0,248 − − = λ  d  dA nm 3 02 , 0 − = λ  d  dA 1 nm 0,0067 − − = λ  d  dA

(25)

Diketahui : λ  2 = 284 nm λ 3 = 287 nm A2 = 0,248 A3 = 0,152 Ditanya : dAλ  Perhitungan : 2 3 2 3 λ  λ  λ  − − = A  A d  dA nm 284 287nm 0,248 0,152 − − = λ  d  dA nm 3 096 , 0 − = λ  d  dA 1 nm 0,032 − − = λ  d  dA b. Derivat kedua 2 2 λ  d   A d  • Konsentrasi 4,5 mL μg Diketahui : = -0,0067 =-0,032 λ 1 = 281 nm λ 2 = 284 nm Ditanya : 2 2 λ  d   A d  =?

(26)

Perhitungan : 2 2 λ  d   A d  nm) 281 ( nm) (284 -0,0067) ( 0,032 -2 2 2 2 − − = λ  d   A d  nm 695 , 1 0253 , 0 2 1 2 2 − − = nm d   A d  λ  3 2 2 nm 0,014946 − − = λ  d   A d 

Dengan cara yang sama, dihitung turunan pertama dan kedua dari setiap konsentrasi di atas. Sehingga didapat derivat pertama dan kedua sebagai berikut.

Konsentrasi λ

A

Derivate

pertama Derivate kedua (nm) 4.5 281 0.268 -0.0067 -0.000014946 284 0.248 -0.0320 287 0.152 5 281 0.284 -0.0090 -0.000017699 284 0.257 -0.0390 287 0.14 5.15 281 0.317 -0.0160 -0.000020452 284 0.269 -0.0507 287 0.117 5.5 281 0.263 0.0050 -0.000027139 284 0.278 -0.0410 287 0.155 6 281 0.325 -0.0113 -0.000022222 284 0.291 -0.0490 287 0.144

(27)

8. Kurva baku konsentrasi terhadap 2 2 λ  d   A d 

Karena hubungan linear hanya ditunjukkan oleh data kesatu sampai keempat, maka untuk  menetapkan kadar, dibuat kurva kalibrasi untuk ketiga data tersebut

Konsentrasi mL μg Turunan Kedua 4.5 -0.000014946 5 -0.000017699 5.15 -0.000020452 5.5 -0.000027139

Kurva kalibrasi teofilin

Dik : r = 0,894

a= 3,993 x 10-5

 b = -1,19 x 10-5

(28)

9. Persamaan Kurva Baku Teofilin y = -1,19 x 10-5x +3,993 x 10-5; dimana y = 2 2 λ  d   A d  dan x = konsentrasi

Derivat pertama dan kedua sampel Diketahui : λ  1 = 281 nm λ 2 = 284 nm λ 3 = 287 nm A1 = 0,474 A2 = 0,411 A3 = 0,242 Ditanya : 2 2 λ  d   A d  Perhitungan : a. Derivat pertama dAλ Derivat pertama (i)

Perhitungan : 1 2 1 2 λ  λ  λ  − = A  A d  dA nm 281 nm 284 0,474 0,411 − − = λ  d  dA nm 3 063 , 0 − = λ  d  dA 1 nm 0,021 − − = λ  d  dA

Derivat pertama (ii)

2 3 2 3 λ  λ  λ  − − = A  A d  dA 284nm 287nm 0,411 0,242 − − = λ  d  dA

(29)

nm 3 169 , 0 − = λ  d  dA 1 nm 0,0563 − − = λ  d  dA b. Derivat kedua 2 2 λ  d   A d  Diketahui : = -0,021 = -0,0563 λ 1 = 281 nm λ 2 = 284 nm Ditanya : 2 2 λ  d   A d  =? Perhitungan : 2 2 λ  d   A d  ? nm) 281 ( nm) (284 -0,021) ( 0,0563 -2 2 2 2 − − = λ  d   A d  nm 1695 0353 , 0 2 1 2 2 − − = nm d   A d  λ  3 -2 2 nm 6 0,00002084 − = λ  d   A d 

(30)

10. Teofilin Dalam Sampel Diketahui : Persamaan y = -1,19 x 10-5x +3,993 x 10-5 y = 2 -0,000020846 2 = λ  d   A d 

Ditanya : Kadar teofilin dalam sampel (x) Perhitungan : y = -1,19 x 10-5x +3,993 x 10-5 6 0,00002084 − = -1,19 x 10-5x +3,993 x 10-5 1,19 x 10-5x = 6,0776x 10-5 x = 5,10723

Jadi, kadar teofilin dalam sampel adalah 5,10723μgmL

11. Perolehan kembali

Perolehan kembali= Kadar sebenarnya x 100% Kadar teoritis

= 5,10723 x 100% 6,0

(31)

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar teofilin dalam campuran parasetamol dan teofilin dengan menggunakan metode spektrofotometri derivatif, di mana pada metode ini kadar teofilin dapat ditentukan dengan membaca larutan sampel pada panjang gelombang  zero crossing. Digunakan metode spektrofotometri derivatif karena serapan maksimum dari  paracetamol dan teofilin berada pada panjang gelombang yang berdekatan.Spektrum yang

tumpang tindih menyebabkan kesulitan dalam penetapan kadar teofilin karena terganggu oleh serapan paracetamol. Metode spektrofotometri derivatif ini digunakan untuk meningkatkan  pemecahan puncak yang saling tumpang tindih tersebut sehingga teofilin dapat ditetapkan

kadarnya tanpa terganggu oleh serapan paracetamol.

Praktikum ini diawali dengan membuat larutan standar paracetamol dan larutan standar teofilin dengan kadar 4 µg/ml masing-masing sebanyak 10ml dari larutan stok 1 mg/ml. Dilakukan proses pengenceran sebanyak 2 kali, untuk menghindari kesalahan  pemipetan karena volume pemipetan yang sangat kecil, maka pertama- tama dibuat larutan standar paracetamol 100 µg/ml dari larutan stok paracetamol 1mg/ml dan larutan standar  teofilin 100 µg/ml dari larutan stok teofilin 1mg/ml masing-masing sebanyak 10 ml. Selanjutnya, dari masing-masing larutan tersebut dibuat larutan standar parasetamol 4 µg/ml dan larutan standar teofilin 4 µg/ml masing sebanyak 10 ml. Kemudian, masing-masing larutan standar tersebut dibaca absorbansinya pada rentang panjang gelombang 200 –  300 nm karena panjang gelombang maksimum parasetamol dan teofilin terletak pada rentang tersebut. Berdasarkan pustaka, absorbansi maksimum parasetamol terletak pada  panjang gelombang 245 nm dalam pelarut asam dan 257 nm dalam pelarut basa sedangkan absorbansi maksimum teofilin terletak pada panjang gelombang 270 nm dalam pelarut asam dan 275 nm dalam pelarut basa. Pada praktikum ini didapatkan absorbansi maksimum  parasetamol yaitu 0,377 terletak pada panjang gelombang 239 nm dan absorbansi maksimum teofilin yaitu 0,337 terletak pada panjang gelombang 269 nm. Hasil yang didapat ini berbeda dengan pustaka dapat disebabkan oleh kondisi percobaan pada literatur berbeda dengan kondisi percobaan yang dilakukan oleh praktikan.

(32)

Selanjutnya dari spektra larutan standar parasetamol dan teofilin diturunkan spektrum derivatif dari kurva normal parasetamol dan teofilin. Ditentukan derivatif pertama untuk  absorbansi parasetamol dan teofilin. Dari data derivatif tersebut selanjutnya dibuat grafik  dA/dλ paracetamol dan dA/dλ teofilin terhadap harga rata – rata 2 panjang gelombang yang   berdekatan untuk menentukanλ zero crossing. Dari grafik ternyata tidak diperoleh harga untuk  λ  zero crossing  maka perlu ditentukan derivat 2 dari absorbansi parasetamol dan absorbansi teofilin dan dibuat grafik d2A/dλ 2  paracetamol dan teofilin terhadap harga rata –  rata 2 panjang gelombang. Dari nilai derivat kedua yang didapat ternyata terdapat 3 derivat  bernilai nol yaitu pada panjang gelombang 224 nm, 242 nm dan 284 nm. Dari ketiga nilai derivat tersebut ditentukan satu nilai zero crossingnya berdasarkan nilai derivat yang tidak  terletak pada panjang gelombang maksimal parasetamol, karena jika zero crossing ditentukan  pada panjang gelombang parasetamol maka nilai absorbansi yang didapat pada pengukuran absorbansi teofilin justru nilai absorbansi parasetamol. Selanjutnya dilihat dimana nilai derivat kedua parasetamol yang memberikan nilai terbesar pada derivat kedua teofilin, itulah yang digunakan sebagai zero crossing . Dari grafik diatas didapatkan λ zero crossing  pada 284 nm karena paracetamol memberikan nilai absorbansi 0,111 sedangkan teofilin memberikan nilai absorbansi sebesar 0,218, perbedaan absorbansi kedua senyawa tersebut dinilai cukup   besar dibandingkan dengan absorbansi paracetamol dan teofilin pada panjang gelombang

lainnya.

Setelah diperoleh panjang gelombang zero crossing paracetamol, maka dibuat kurva  baku teofilin atau kurva kalibrasi yang bertujuan untuk menguji apakah hukum Lambert Beer 

masih berlaku pada panjang gelombang zero crossing yang diperoleh. Serapan teofilin pada   panjang gelombang maksimum digunakan untuk mencari absorbtivitas molar teofilin

sehingga diperoleh absortivitas molar teofilin sebesar 0,08425mL µ gcm. Selanjutnya ditentukan konsentrasi teofilin pada absorbansi 0,434 sebab pada absorbansi tersebut memberikan kesalahan pengukuran yang terkecil. Dari perhitungan didapatkan konsentrasi

teofilin pada absorbansi 0,434 sebesar 5,15 µ  g ml sehingga dibuat rentang variasi konsentrasi

(33)

Diukur absorbansi dari kelima seri larutan teofilin tersebut pada panjang gelombang yang menghasilkan panjang gelombang zero crossing , yaitu pada panjang gelombang rata-rata 285,5 nm namun pengukuran absorbansi dilakukan pada tiga panjang gelombang yaitu 281 nm, 284 nm dan 287 nm. Didapatkan nilai absorbansi dari masing-masing variasi konsentrasi larutan tersebut pada panjang gelombang 281 berturut-turut sebesar 0,268; 0,284; 0,317; 0,263 dan 0,325. Kemudian nilai absorbansi dari masing-masing variasi konsentrasi larutan tersebut pada panjang gelombang 284 berturut-turut sebesar 0,248; 0,257; 0,269;0,278; dan 0,291. Sedangkan, nilai absorbansi dari masing-masing variasi konsentrasi larutan tersebut  pada panjang gelombang 287 berturut-turut sebesar 0,152; 0,140; 0,117; 0,155; dan 0,144.

Selanjutnya ditentukan konsentrasi larutan sampel, sehingga dibuat kurva kalibrasi teofilin dari pengukuran absorbansi masing-masing variasi konsentrasi larutan pada panjang gelombang 281 nm, 284 nm dan 287 nm dan dicari nilai regresi untuk menentukan kurva  baku teofilin tersebut memenuhi hukum Lambert Beer atau tidak. Persamaan regresi linier 

teofilin yang diperoleh adalah y =-1,19 . 10-5x +3,993.10-5 dengan nilai regresi 0,894. Dari

nilai regresi yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa kurva kalibrasi teofilin tersebut memenuhi hukum Lambert Beer dan selanjutnya kadar sampel dapat ditentukan menggunakan kurva kalibrasi tersebut. Pengukuran nilai absorbansi sampel dilakukan pada   pada panjang gelombang 281 nm, 284 nm dan 287 nm dan diperoleh niai absorbansi  berturut-turut sebesar 0,474; 0,411; dan 0,242. Nilai absorbansi sampel teofilin tersebut dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear yang diperoleh dan didapatkan kadar teofilin dalam sampel yaitu sebesar 5,1 µg/ml. Hasil ini mendekati kadar sampel yang diketahui yaitu

6 µ  g ml  sehingga persentase perolehan kembalinya adalah 85,1205%. Nilai kadar sampel yang didapat berbeda dengan nilai kadarsampel teofilin yang sebenarnya, hal ini mungkin disebabkan oleh nilai koefisien regresi linier yang kurang bagus yaitu 0,894 sehingga kadar  teofilin yang didapat dari persamaan linier nilainya berbeda dengan kadar sesungguhnya.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Clarke’s Analysis of Drug and Poison. London: Pharmaceutical Press.

DepKes RI.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik  Indonesia.

Fatah, A.M. 2008.   Pemanfaatan Spektrofotometri Derivatif Untuk Penetapan Kadar   Dekstrometorfan Hidrobromida Dalam Tablet Obat Batuk.

Available at : www.i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=7138 Last Opened : Saturday, April 2nd2011, 11:35.

Hayun, Harianto dan Yenti. 2006.   Penetapan Kadar Triprolidina Hidroklorida dan  Pseudoefedrina Hidroklorida dalam Tablet Anti Influenza secara Spektrofotometri  Derivatif.

Available at : http://jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2006/v03n02/hayun0302.pdf  Last Opened : Saturday, April2nd2011, 11:25.

Susanti, N.M.P., I.N.K. Widjaja., N.P.L. Laksmiani. 2011. Petunjuk Praktikum Kimia  Analisis. Bukit Jimbaran : Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana.

Wulandari, D., Regina D. F., Christine P. 2008. Penetapan Kadar Teofilin Dalam Campuran  Parasetamol, Salisilamida, dan Teofilin Secara Spektrofotometri Derivatif.

Available at : http: // usd.ac.id/06/publ_dosen/far/devi.pdf  Last Opened : Saturday, April2nd2011, 10:30.

Gambar

Gambar 1.Bentuk spektrum derivatif pertama sampaiGambar 1.Bentuk spektrum derivatif pertama sampai
Gambar 2. Rumus Struktur Teofilin
Gambar 5. Kurva Absorbansi Parasetamol

Referensi

Dokumen terkait

Bersama ini kami laporkan bahwa setelah diadakan pengecekan kembali pada data yang tercantum di DNS calon peserta USBN SDN

The NASA UAVSAR was deployed June 2010 to support Deep Water Horizon oil spill response activities specifically, oil detection and characterization, oil extent mapping in

Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.. Mahasiswa

Konten unduh (download) seperti pdf, zip harus disertai judul, deskripsi/abstrak yang jelas dan mudah dipahami pengunjung sebelum mereka mengunduh. Tersedia Konten Informasi

Pengukuran kinerja mandiri dilakukan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah pada tataran pengambil kebijakan daerah dan tataran pelaksana kebijakan daerah dengan

Ada autoresponse yang tampil di website dan dikirim ke email pengunjung ketika pengunjung menghubungi berupa ucapan terimakasih, waktu response yang dibutuhkan untuk menjawab

12 Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat - Pusat 4 Badan Litbangkes 13 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan, Badan PPSDMK. 14 Direktorat

pada hutan produksi yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Pasal 71 huruf a, huruf b angka 3), huruf f, huruf i, Pasal 73 ayat (5)