PERLINDUNGAN HUKUM DAN UPAYA PEMERINTAH DALAM
MENGATASI PEKERJA ANAK MENURUT PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
Faradiena Aulya Wanengpati
Universitas Bina Nusantara Jl. Kemanggisan Ilir III, No.45, Jakarta 11480 021-534 5830
ABSTRAK
Praktik mempekerjakan anak-anak di Indonesia menunjukkan masih lemahnya tingkat perekonomian dan penegakan hukum negara ini. Penanganan pekerja anak membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat karena pekerja anak, khususnya anak yang bekerja pada pekerjaan berbahaya kerap mengalami resiko kecelakaan, kekejaman fisik/psikis, dan eksploitasi ekonomi. Penelitian ini difokuskan pada bagaimana peraturan perundangan nasional memberikan perlindungan kepada pekerja anak, serta upaya apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi pekerja anak ditinjau dari peraturan perundangan nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah normatif-empiris dengan analisis deskriptif sebagai teknik analisis datanya. Simpulan dari penelitian ini yaitu peraturan perundangan nasional yang memberikan perlindungan kepada pekerja anak adalah Undang-Undang No. 20 Tahun 1999, Undang-Undang No. 1 Tahun 2000, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003, dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 jo. Undang-Undang No. 35 Tahun 2014. Upaya pemerintah dalam mengatasi pekerja anak ditinjau dari perundangan nasional yaitu Pengawas Ketenagakerjaan dan Rencana Aksi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak di tingkat Nasional serta Provinsi dan Kabupaten/Kota. Peraturan perundangan yang ada dan upaya yang sudah dilakukan pemerintah masih belum berhasil dalam menangani masalah pekerja anak sehingga diperlukan kesungguhan dari instansi-instansi yang berwenang dalam membuat masalah pekerja anak lebih teratasi.
Kata Kunci : perlindungan hukum, upaya pemerintah, pekerja anak, peraturan perundang-undangan
ABSTRACT
The practice of employing children in Indonesia shows acute poverty and weak law enforcement in the country. Addressing child labors needs support from all elements of society as child labors, especially those working in hazardous works, are particularly at risk of accident, physical/psychological abuse and economic exploitation. The research was focused on how the national legislations could provide protection to child labors and efforts taken by the government in addressing child labors under the national legislations. This research applied a normative-empirical research method and descriptive analytical as its data analysis technique. The research found that some national legislations such as Law Number 20 Year 1999, Law Number 1 Year 2000, Law Number 13 Year 2003, and Law Number 23 Year 2002 juncto Law Number 35 Year 2014 had been used to give protection to child labors. Government’s efforts in addressing child labor under the national legislations include Labor Inspectors and Plan of Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labor at the National, Provincial and District/Municipal levels. The existing legislations and efforts taken by the government still cannot address the issue of child labors effectively, so that more serious efforts from relevant parties will be needed to better address the issue.
PENDAHULUAN
Eksploitasi anak dalam bidang ketenagakerjaan sebagai pekerja anak dapat berbentuk perlakuan secara tidak manusiawi, misalnya jam kerja yang panjang, pemberian upah rendah, jaminan sosial pekerja tidak diberikan, dan sebagainya. Seharusnya masa anak-anak dapat ditandai dengan dijalaninya kehidupan secara wajar, namun sebaliknya, apabila mereka menjadi pekerja maka dengan kata lain masa depan mereka terampas karena pekerjaan yang mereka lakukan tersebut. Dalam pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara, sangat perlu memanfaatkan dengan semaksimal mungkin pemberantasan keterbelakangan serta kemiskinan, menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan serta meningkatkan kualitas individunya. Usaha untuk meningkatkan kualitas individu akan berhasil dengan baik jika dilakukan mulai dari anak-anak dan dilaksanakan bersama-sama.
Kehadiran anak dalam keluarga maupun masyarakat merupakan sumber daya manusia di masa depan. Anak sebagai generasi mendatang tentunya harus dilindungi baik jasmani maupun rohani serta terpenuhi hak-haknya agar tumbuh kembangnya sempurna. Namun, faktanya masih banyak anak yang bekerja atas dasar kondisi kemiskinan.
Di Indonesia sendiri, data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa terdapat 1,7 juta pekerja anak. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, pekerja anak yang cukup besar berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.
Kompleksnya permasalahan pekerja anak, jelas membutuhkan perhatian yang serius untuk upaya penanganannya. Hal ini tentunya harus didukung oleh berbagai pihak karena masalah pekerja anak merupakan masalah yang harus ditangani secara berkelanjutan. Kerja keras dan kontribusi pemerintah dan semua pihak termasuk orangtua dan pengusaha akan mampu mengatasi permasalahan pekerja anak secara tuntas.
Pemerintah sendiri tentunya telah mengeluarkan berbagai peraturan perundangan demi melindungi pekerja anak yang ada di negara ini. Namun, meski telah terdapat peraturan perundangan yang mengaturnya, jumlah pekerja anak di Indonesia tetap meningkat setiap tahunnya. Dengan adanya peraturan perundangan yang melarang adanya pekerja anak, tidak secara otomatis permasalahan mengenai pekerja anak menjadi selesai dan tidak ditemuinya lagi pekerja anak.
Dengan demikian, dalam melaksanakan peraturan perundangan, perlu dilakukan upaya-upaya langsung ke lapangan serta pelaksanaan program-program yang konkrit dan kompeten.
Pada dasarnya, fakta pekerja anak yang terdapat di Indonesia merupakan gambaran sejauh mana anak sebagai bagian dari rakyat Indonesia dilindungi, yang sesungguhnya telah dijabarkan dalam kehidupan kita, selain itu kehadiran pekerja anak juga merupakan cerminan atas lemahnya kondisi perekonomian negara, atas dasar fakta bahwa anak terpaksa bekerja, walaupun hal tersebut bukanlah kewajiban mereka. Oleh karena itu, penulis bermaksud untuk mengetahui perlindungan hukum kepada pekerja anak serta upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi masalah pekerja anak.
METODE PENELITIAN
Berbagai peraturan perundangan digunakan sebagai dasar dari penelitian ini, selain itu, pengumpulan data primer juga digunakan oleh penulis. Maka, tipe penelitian yang diterapkan berdasarkan pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah penelitian hukum normatif empiris. Penelitian hukum empiris dalam disiplin ilmu hukum normatif adalah penelitian terhadap penerapan perundang-undangan yang dilakukan oleh para praktisi hukum, seperti putusan hakim, surat gugatan, tuntutan, dan lain-lain.
Dalam penelitian ini ada tiga varibel yang akan dijelaskan untuk memberikan batasan makna dan batasan operasional yaitu perlindungan hukum, upaya pemerintah dan pekerja anak. Pembatasan variabel tersebut diambil dari pandangan teoritis.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis. Data yang dikumpulkan diolah dan dikaji sesuai dengan urutan permasalahan dan akhirnya dianalisis. Analisis yang digunakan adalah dengan metode kualitatif. Dengan demikian, hasilnya akan berbentuk suatu analisis deskriptif.
HASIL DAN BAHASAN
1.1 Peraturan Perundang-undangan yang Memberikan Perlindungan kepada Pekerja Anak di Indonesia
Norma
Konvensi Internasional Peraturan Perundangan Nasional UU 20/1999 UU 1/2000 UU 13/2003 UU
23/2002
UU 35/2014 Definisi anak Pasal 2 Pasal 1 butir
26 Pasal 1 butir 1 Larangan mempekerjakan anak Pasal 68
Pekerjaan ringan Pasal 7 Pasal 69 Pekerjaan pada
kurikulum pendidikan atau pelatihan
Pasal 8 Pasal 70
Pekerjaan untuk bakat dan minat
Pasal 8 Pasal 71
Tempat kerja pekerja anak Pasal 72 Pasal 73 Larangan mempekerjakan pada pekerjaan terburuk / eksploitasi ekonomi
Pasal 1 Pasal 74 (1) Pasal 76I
Usia minimum pada pekerjaan berbahaya
Pasal 3
Pengertian BPTA Pasal 3 Pasal 74 (2) Penanggulangan
pekerja anak sektor informal Pasal 75 Perlindungan dari eksploitasi ekonomi Pasal 13 Pasal 59 Pasal 66 Sanksi pidana Pasal 7 Pasal 183
Pasal 185 Pasal 187 Pasal 78 Pasal 88 Pengawasan Ketenagakerjaan Pasal 176 s/d Pasal 181
Berdasarkan beberapa peraturan perundangan yang telah dijelaskan pada penelitian ini, maka dapat dilihat bahwa terdapat berbagai norma yang terbagi pada pasal-pasal yang tersebar dalam beberapa peraturan perundangan yang diteliti. Penulis kemudian melakukan mapping atas peraturan perundangan yang digunakan dalam penelitian. Pemaparan di atas merupakan mapping peraturan perundangan yang digunakan dalam penelitian terkait perlindungan pekerja anak.
1.2 Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Pekerja Anak Menurut Peraturan Perundang-undangan Aturan Keppres 12/2001 Keppres 59/2002 Permenaker-trans 09/MEN/V/ 2005 Keterangan Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5
Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak Pasal 12 Pasal 1 Pasal 2 RAN-PBPTA merupakan pelaksanaan dari KAN-PBPTA
Penyusunan RAN-PBPTA adalah sebagai pedoman bagi pelaksanaan Program Aksi Nasional
Penghapusan BPTA Lampiran penepatan
RAN-PBPTA sebagaimana diatur dalam Keppres 59/2002 Laporan Pengawasan Ketenagakerjaan Pasal 1 butir 3 Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Formulir laporan pengawasan ketenagakerjaan berdasarkan Pasal 4 dilampirkan pada Lampiran I dan Lampiran II Permen ini
Berdasarkan beberapa peraturan perundangan yang telah dijelaskan pada penelitian ini, maka dapat dilihat bahwa terdapat berbagai norma yang terbagi pada pasal-pasal yang tersebar dalam beberapa peraturan perundangan yang diteliti. Penulis kemudian melakukan mapping atas peraturan perundangan yang digunakan dalam penelitian. Pemaparan di atas merupakan mapping peraturan perundangan yang digunakan dalam penelitian terkait perlindungan pekerja anak.
2.1 Instrumen Hukum dan Implementasi Perundang-undangan dalam Memberikan Perlindungan kepada Pekerja Anak
2.1.1 Ratifikasi Konvensi ILO No. 138 dan 182
Negara yang sudah melakukan ratifikasi Konvensi ILO 182 seperti Indonesia, diharuskan untuk melakukan harmonisasi terhadap sejumlah peraturan perundangan seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan dan peraturan perundangan lainnya. Setelah dilakukan ratifikasi, langkah selanjutnya adalah memperbarui peraturan perundangan nasional yang sudah diratifikasi.
Indonesia telah meratifikasi dua konvensi internasional yaitu Konvensi ILO 138 yang diratifikasi melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 1999 dan Konvensi ILO 182 yang diratifikasi melalui Undang-Undang No. 1 Tahun 2000. Kedua konvensi tersebut telah diimplementasikan ke dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan melalui Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 74, Pasal 183, Pasal 185, dan Pasal 187.
Konvensi ILO 138 dan 182 juga merupakan dasar penyusunan dari suatu Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan untuk Anak (KAN-PBPTA) dan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan untuk Anak (RAN-PBPTA) berdasarkan Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2001 dan Keputusan Presiden No. 59 Tahun 2002. Rencana Aksi Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan untuk Anak dilakukan di tingkat provinsi (RAP-PBPTA) dan kabupaten/kota (RAK-PBPTA).
2.1.2 Penegakan Hukum terhadap Pengusaha atau Perusahaan yang Mempekerjakan Anak Analisa penulis terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Perlindungan Anak dalam memberikan perlindungan kepada pekerja anak adalah masih adanya kesenjangan dalam menegakkan kedua Undang-Undang ini, serta kaitannya dalam menangani masalah pekerja anak di Indonesia. Di satu sisi, masalah pekerja anak ditangani melalui penegakan hukum dengan membawa kasus tersebut ke pengadilan. Dalam menegakkan kasus pekerja anak, dilihat dari empat putusan pengadilan yang penulis analisa, baru satu kasus saja yang menggunakan tuntutan alternatif. Dapat dilihat pula, pada tuntutan-tuntutan tunggal, Undang-Undang Ketenagakerjaan tidak digunakan (tidak dijadikan tuntutan). Sebenarnya tuntutan tunggal dapat berpotensi meringankan atau membebaskan pengusaha dari hukuman dikarenakan ketidak mampuan jaksa dalam membuktikan kasus tersebut di pengadilan.
Di sisi lain, ditemukan fakta adanya sejumlah anak yang dipekerjakan oleh perusahaan tetapi belum ada penegakan hukumnya. Dimungkinkan terjadinya hal ini karena adanya kelemahan dari para penegak hukum dan penegak hukum dalam bidang ketenagakerjaan itu sendiri.
Undang Ketenagakerjaan memberikan aturan yang lebih lengkap dibandingkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Undang-Undang-Undang-Undang Ketenagakerjaan memperbolehkan anak untuk dipekerjakan, namun dengan berbagai persyaratan yang bertujuan agar pekerja anak memperoleh hak-haknya serta mendapatkan perlindungan hukum. Sedangkan Undang-Undang Perlindungan Anak melarang siapapun yang melakukan eksploitasi ekonomi terhadap anak. Undang-Undang Perlindungan Anak memaknai eksploitasi ekonomi pada anak sebagai BPTA layaknya yang dijelaskan Undang-Undang Ketenagakerjaan
Dengan demikian, Undang-Undang Perlindungan Anak menggunakan “eksploitasi ekonomi” untuk memberikan batasan BPTA. Bukan berarti terminologi eksploitasi ekonomi dapat menghapuskan pekerja anak, karena terminologi ini hanyalah dibatasi pada bentuk kriminalisasi terhadap siapa saja yang mengeksploitasi anak-anak secara ekonomi. Sementara itu, Undang-Undang Ketenagakerjaan memberikan ketentuan yang lebih luas dan mendalam atas perlindungan pekerja anak baik di sektor BPTA maupun tidak (pekerjaan ringan), artinya Undang-Undang Ketenagakerjaan mengatur tentang segala bentuk pekerjaan yang dilakukan pekerja anak.
Ada kalanya belum terdapat pemahaman dari pengadilan untuk menggunakan Undang-Undang yang relevan dalam menghukum “siapa saja” yang mempekerjakan anak, pemahaman antara pengadilan di satu daerah dengan daerah lainnya dapat dikatakan masih belum merata dan sama dikarenakan adanya dua Undang-Undang yang memberikan sanksi bagi pengusaha atau perusahaan yang mempekerjakan anak, tetapi sebagian besar hanya menggunakan satu Undang-Undang saja dalam tuntutan.
Penulis berpendapat bahwa dalam menegakkan hukum dan membuktikan unsur-unsur dalam pasal dakwaan, norma eksploitasi ekonomi pada dasarnya lebih sulit dibuktikan. Dalam praktiknya, pengusaha atau perusahaan bisa saja terbukti mempekerjakan anak, namun bukan dengan tujuan “mengeksploitasi ekonomi” sebagaimana penjelasan pada Undang-Undang Perlindungan Anak tersebut. Pengusaha atau perusahaan yang hanya mempekerjakan anak tanpa adanya unsur “bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak” dapat dihukum dengan norma Undang-Undang Ketenagakerjaan. Dengan begitu, pengadilan seharusnya memiliki pemahaman yang menyeluruh terkait dengan norma yang diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan norma yang diatur
dalam Undang Ketenagakerjaan termasuk unsur dari kedua norma dalam kedua Undang-Undang tersebut.
2.2 Analisa Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Pekerja Anak Menurut Peraturan Perundang-undangan
2.2.1 Analisa Pengawasan Ketenagakerjaan Seksi Norma Kerja Anak
Penyampaian laporan pengawasan ketenagakerjaan diatur dan dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No: PER.09/MEN/V/2005 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan Pelaksanaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Mekanisme pelaporan dimulai dari kabupaten/kota, ke provinsi, lalu terakhir ke pemerintah pusat.
Dalam pengawasan norma kerja anak yang dilakukan oleh pengawas ketenagakerjaan, digunakan formulir laporan untuk mengetahui norma apa saja yang dilanggar. Namun, dalam formulir laporan pengawasan itu, tidak ditemukan informasi pekerja anak. Tidak adanya informasi tentang pekerja anak yang disediakan di dalam formulir laporan pengawasan ketenagakerjaan akan mengakibatkan sulit ditanganinya pekerja anak yang bekerja di perusahaan-perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ini juga merupakan kelemahan aturan pelaksana dari Undang-Undang Ketenagakerjaan berupa Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No: PER.09/MEN/V/2005 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan Pelaksanaan Pengawasan Ketenagakerjaan.
Kelemahan lainnya yang terdapat dalam aturan-aturan yang berlaku adalah dalam aturan pelaksana lainnya dari Undang-Undang Ketenagakerjaan, yaitu pada Pasal 75 ayat (2). Pasal tersebut menyebutkan bahwa pemerintah wajib membuat Peraturan Pemerintah (PP) untuk menanggulangi pekerja anak yang bekerja di luar hubungan kerja (sektor informal) yang juga merupakan peraturan dalam rangka mengatasi pekerja anak, namun hingga kini PP yang diamanahkan pembuatannya dalam Pasal 75 tersebut belum juga terwujud.
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dipaparkan oleh penulis di atas, dijelaskan bahwa ada kalanya pengusaha tidak diadili di pengadilan atas dasar pertimbangan ekonomi dan sosial terhadap pekerja-pekerja lainnya pada perusahaan tersebut. Padahal terdapat ketentuan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan bahwa siapapun yang melanggar pasal-pasal terkait pekerja anak akan dipidana penjara, kurungan dan/atau denda.
Mentalitas para penegak hukum yang dapat menjadi faktor keberhasilan penegakan hukum, apabila belum maksimal dan sepenuhnya konsisten dalam menegakkan peraturan perundangan yang berlaku, akan menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem penegakan hukum. Dapat dikatakan mentalitas penegak hukum ketenagakerjaan, dalam hal ini adalah pengawas ketenagakerjaan masih lemah. Hal ini kemudian menyebabkan ketidak adilan bagi para pekerja anak, karena tidak ditegakkannya ketentuan pidana kepada pengusaha atau perusahaan yang mempekerjakan anak. Dengan adanya toleransi terhadap pengusaha dan perusahaan ini, mereka kemudian masih dapat terus menjalankan kegiatan usahanya.
2.2.2 Analisa Penghapusan Pekerja Anak pada BPTA di Tingkat Nasional
Berkaitan dengan besarnya jumlah pekerja anak, pemerintah berkewajiban untuk melakukan upaya dalam mengatasi pekerja anak, terlebih lagi untuk menghapus pekerja anak pada BPTA yang dijadikan prioritas. Upaya dalam mengatasi dan menghapuskan pekerja anak pada BPTA dilakukan secara terencana, terpadu dan terkoordinasi dengan stakeholder terkait. Hal ini berhasil tercapai melalui RAN-PBPTA yang dirancang oleh pemerintah.
dapat dikatakan bahwa realisasi RAN-PBPTA masih jauh dari target. Tahap I pelaksanaan menargetkan penarikan sebanyak 6.000 pekerja anak, namun hanya sebanyak 2.514 pekerja anak yang berhasil ditarik oleh instansi-instansi terkait. Walaupun begitu, pelaksanaan pencegahan pekerja anak dapat diapresiasi karena pencapainnya sudah melebihi target yang dikehendaki yaitu sebesar 27.078 penarikan pekerja anak dari target sebanyak 16.000. Selanjutnya, pelaksanaan program-program lainnya terkait penghapusan pekerja anak sebenarnya patut diapresiasi, karena penghapusan pekerja anak bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, disamping itu, perlunya berbagai koordinasi dari lembaga dan kementerian di berbagai bidang juga mempersulit pelaksanaan.
Namun, kembali lagi terhadap realiasi maupun target penghapusan pekerja anak yang masih jauh dari jumlah pekerja anak itu sendiri. Data statistik dari BPS dan ILO pada tahun 2009, menyebutkan bahwa pekerja anak berjumlah 1,7 juta, tetapi prioritas penarikan pekerja anak adalah anak-anak yang bekerja pada sektor BPTA yang kurang lebih sebanyak 340.000 pekerja anak. Dari 2008 hingga saat ini, RAN baru berhasil menarik 48.055 pekerja anak, dan apabila pekerja anak berhasil ditarik lagi sebanyak 16.000 sesuai dengan target pada tahun 2015, jumlah pekerja anak yang berhasil ditarik pun hanya sekitar 64.000. Bila dibandingkan dengan data BPS dan ILO pada tahun 2009, jumlah penarikan ini masih sangat jauh dari jumlah pekerja anak yang terdapat dalam data statistik. Ditambah lagi, data statistik tersebut sudah dilaksanakan 6 tahun yang lalu, terdapat kemungkinan bertambahnya pekerja anak sejak tahun 2009, walau memang tidak menutup kemungkinan adanya penurunan jumlah pekerja anak sejak tahun 2009 tersebut.
Pada dasarnya, upaya yang dilakukan pemerintah lebih memprioritaskan untuk penghapusan pekerja anak yang bekerja pada sektor BPTA, karena dianggap sangat membahayakan bagi kesehatan, keselamatan, dan moral anak sehingga diperlukan penghapusan segera. Namun, hal ini tentunya tidak selaras dan konsisten terhadap tujuan dari RAN-PBPTA yaitu Indonesia Bebas Pekerja Anak pada tahun 2022, yang menghendaki tidak ditemukannya lagi “pekerja anak” pada tahun 2022, tetapi program penghapusan yang dimiliki hanya difokuskan kepada “pekerja anak yang bekerja pada sektor BPTA.” Apabila pekerja anak pada sektor BPTA berhasil ditarik sepenuhnya, hal ini tidak kemudian menjadikan Indonesia Bebas Pekerja Anak dikarenakan masih terdapatnya pekerja-pekerja anak di luar sektor BPTA.
2.2.3 Analisa Penghapusan Pekerja Anak pada BPTA di Tingkat Daerah
Pelaksanaan penghapusan pekerja anak pada BPTA di tingkat daerah memiliki beberapa tahapan dan berjenjang. Pelaksanaan Rencana Aksi Penghapusan PBPTA dibentuk di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Pemerintah pusat tidak bisa langsung turun dan melaksanakan program tersebut sendiri, hal ini dikarenakan adanya sistem otonomi daerah yang dianut oleh negara Republik Indonesia.
Saat awal pelaksanaannya hingga saat ini, kerap kali pelaksanaan terbatas dengan anggaran ketenagakerjaan, sehingga pelaksanaan Rencana Aksi Provinsi Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (RAP-PBPTA) dan RAK-PBPTA menjadi kurang cepat dan maksimal. Pada dasarnya, apabila daerah memiliki inisiatif untuk mengalokasian anggaran, maka hal ini akan memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan program RAP-PBPTA dan RAK-PBPTA. Inisiatif dari daerah dapat dilakukan dengan mengalokasikan anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tidak hanya itu, program RAP-PBPTA dan RAK-PBPTA juga seharusnya dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sehingga prioritas pembangunannya dicantumkan. Tetapi, apabila hal-hal tersebut tidak dilakukan, maka pelaksanaan program kegiatan akan menjadi sulit. Mekanisme pelaksanaan memang harus berawal dari RPJMD, karena yang memiliki kepentingan adalah dari dinas-dinas tersebut.
Hasil implementasi kegiatan RAP-PBPTA melalui PPA-PKH yang dilaksanakan sejak tahun 2008 hingga saat ini, menunjukkan peningkatan dari segi jangkauan penerima manfaat serta dukungan anggaran. Pada tahun 2008, RAP-PBPTA berhasil menarik pekerja anak pada 48 kabupaten/kota di 7 provinsi. Pada tahun 2010, program diperluas dengan penarikan 3.000 orang pekerja anak pada 50 kabupaten/kota di 13 provinsi. Pada tahun 2011, program ini semakin diperluas dengan penarikan 3.360 pekerja anak pada 56 kabupaten/kota di 15 provinsi. Pada tahun 2012, pemerintah daerah memperluas jumlah target program menjadi 84 kabupaten/kota pada 21 provinsi, dengan penarikan 10.750 pekerja anak. Jumlah data penghapusan pekerja anak terakhir yang dapat penulis temukan yaitu pada tahun 2013, yang terus memperluas jumlah target menjadi 90 kabupaten/kota pada 21 provinsi dengan penarikan 11.000 pekerja anak.
Namun, penulis berpendapat bahwa jumlah pekerja anak berhasil dihapuskan di RAP-PBPTA secara keseluruhan masih kurang signifikan. Dengan banyaknya provinsi dan kabupaten/kota yang terdapat di Indonesia dan tersebarnya pekerja anak di daerah-daerah tersebut, maka seharusnya jumlah target penghapusan ditingkatkan. Tetapi, tidak hanya memberikan target tertentu, harus pula disertai dengan tindakan yang sungguh-sungguh. Jika pemerintah benar-benar mencita-citakan Indonesia Bebas Pekerja Anak, maka penghapusan harus di mulai dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota yang terdapat sehingga kemudian akan memberikan jumlah penghapusan pekerja anak yang signifikan di seluruh Indonesia.
Pada dasarnya, apabila provinsi dan kabupaten/kota melaksanakan Rencana Aksi Penghapusan BPTA sebagai suatu program prioritas dari daerah tersebut, maka bisa dikatakan penghapusan pekerja anak akan berjalan dengan efisien dan sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari empat putusan pengadilan yang dianalisa penulis, baru satu kasus yang menggunakan tuntutan alternatif (menggunakan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Perlindungan Anak), padahal tuntutan alternatif sebenarnya lebih efektif dibandingkan dengan hanya menggunakan tuntutan tunggal (Undang-Undang Perlindungan Anak) dikarenakan terdapat beberapa pilihan dalam menegakkan hukum. Disamping itu, masih terdapat kasus-kasus yang tidak dibawa ke pengadilan sehingga perusahaan/pengusaha tidak mendapatkan efek jera.
Dari sejumlah Undang-Undang yang memberikan perlindungan kepada pekerja anak tersebut, ternyata pekerja anak masih belum juga berhasil diatasi karena masih dijumpainya pekerja anak hingga saat ini, yang dikarenakan adanya celah hukum, yaitu tidak diciptakannya PP yang diamanahkan pembuatannya pada Pasal 75 Undang-Undang Ketenagakerjaan, belum ditegakkannya hukum sepenuhnya terhadap perusahaan/pengusaha yang mempekerjakan anak, dan tidak adanya aturan lebih lanjut apabila terdapat pihak yang melanggar Pasal 72 dan 73 Undang-Undang Ketenagakerjaan. Adanya pengawas ketenagakerjaan merupakan hal yang positif karena sudah terdapat Dinas khusus yang mengawasi bidang ketenagakerjaan. Namun dalam pelaksanaannya, terdapat pula beberapa kelemahan antara lain pengawas ketenagakerjaan yang belum sepenuhnya menegakkan hukum kepada pihak-pihak yang mempekerjakan anak, yaitu dengan banyaknya pengusaha atau perusahaan yang mempekerjakan anak tetapi tidak diberikan hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta formulir laporan pengawasan ketenagakerjaan yang tidak memasukkan pekerja anak sebagai objek temuannya.
Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak belum terealiasi sepenuhnya dikarenakan penghapusan dan penarikan pekerja anak belum mencapai target yang dikehendaki. Pelaksanaan Rencana Aksi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak di Provinsi dan Kabupaten/Kota masih belum terlaksana secara maksimal dikarenakan keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Membuat ketentuan atau peraturan perundangan tersendiri yang secara khusus mengatur tentang pekerja anak, namun hanya pekerja anak yang melakukan pekerjaan ringan.
Mentalitas pengawas ketenagakerjaan sebaiknya lebih konsisten dalam melaksanakan tugas dan fungsi mereka sehingga peraturan perundangan benar-benar diterapkan sepenuhnya tanpa membeda-bedakan dan berlangsung seperti apa yang dicita-citakan.
Pemahaman pengadilan dalam menegakkan kasus pekerja anak seharusnya ditingkatkan. Pengadilan juga seharusnya memiliki pemahaman yang menyeluruh terkait dengan norma yang diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan norma yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan termasuk unsur-unsur dari kedua norma dalam kedua Undang-Undang tersebut.
Keseriusan pelaksanaan RAN-PBPTA dan RAP/RAK-PBPTA sebaiknya ditingkatkan agar mencapai target yang dikehendaki, tepatnya secara khusus anggaran dialokasikan demi terlaksananya program penghapusan pekerja anak secara maksimal. Tidak hanya di BPTA, tetapi pekerja anak di segala sektor dan jenis pekerjaan seharusnya dihapuskan agar Indonesia Bebas Pekerja Anak benar-benar diartikan sebagai tidak ditemuinya lagi pekerja anak, bukan hanya pekerja anak di yang bekerja di BPTA.
Perlu dilakukannya kembali pencatatan data statistik pekerja anak di Indonesia oleh BPS dan Kemenaker atau ILO. Pentingnya hal ini agar angka pekerja anak terdata secara jelas dan akurat sehingga menjadi acuan terhadap program-program yang sedang dilaksanakan. Data statistik yang berlaku saat ini dirasa sudah terlalu lama dan kurang relevan.
Aturan pelaksana berupa Peraturan Presiden mengenai penanggulangan anak yang bekerja di luar hubungan kerja berdasarkan ketentuan pada Pasal 75 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan seharusnya direalisasikan agar instansi-instansi yang berwenang dapat melaksanakan kewajiban dan tugas mereka. Hal ini juga dikarenakan pekerja anak di luar hubungan kerja (informal)
sangatlah banyak dan memang sulit untuk diintervensi, terlebih lagi jika tidak terdapat aturan pelaksananya.
REFERENSI
Djumhana, Muhamad. Hukum Ekonomi Sosial Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1994. Siregar, Bismar. Rasa Keadilan. Surabaya: Bina Ilmu, 1996.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986. Widayanti, Sri Yuni Murti. “Profil Pekerja Anak di Sektor Industri Rumah Tangga.” Jurnal Penelitian
Kesejahteraan Sosial Vol. VI. No. 22 Desember 2007. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, 2007.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. “Baru 63.055 Anak yang Ditarik dari Pekerjaan.” <http://paudni.kemdikbud.go.id/berita/6069.html>
RIWAYAT PENULIS
Faradiena Aulya Wanengpati lahir di kota Jakarta pada 19 Maret 1993. Penulis menamatkan pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Bina Nusantara pada jurusan Business Law pada Agustus 2015.