• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Keadaan Geografis. Kabupaten Sukabumi merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa dan Bali. Posisi geografis Kabupaten Sukabumi terletak di antara 106

°

49’ – 107

°

00’ Bujur Timur (BT) dan 6

°

57’ – 7

°

25’ Lintang Selatan (LS) dengan luas wilayah 4.128 km2

Wilayah Kabupaten Sukabumi berada pada ketinggian berkisar antara 0 – 2960 meter, dengan bentuk topografis wilayah pada umumnya meliputi permukaan yang bergelombang di daerah selatan dan bergunung di daerah bagian utara dan tengah. Adanya daerah pantai dan gunung-gunung menyebabkan keadaan lereng sangat miring (lebih besar dari 35° ) meliputi 29° dari luas kabupaten Sukabumi, 37% dengan kemiringan antara 13° - 35° dan 21% dengan kemiringan 2°-13°. Keadaan topografi yang demikian menyebabkan wilayah Kabupaten Sukabumi menjadi rawan longsor dan erosi tanah (BPS 2008).

(412.799,54 Ha). Batas wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi adalah sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat; sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia; sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak Propinsi Banten dan Samudera Indonesia; dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.

Kabupaten Sukabumi memiliki iklim tropis, dengan curah hujan setahun sebesar 3247 mm dari 124 hari hujan dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan 762 mm dan hari hujan 25 hari. Curah hujan antara 3000 – 4000 mm/tahun terdapat di daerah utara, sedangkan curah hujan antara 2000 – 3000 mm/tahun terdapat dibagian tengah sampai selatan Kabupaten Sukabumi. Suhu udara berkisar antara 17.2°C – 32.8°C dengan suhu rata-rata 25.50°C, sedangkan kelembaban rata-rata sebesar 86.2 persen (Dinkes 2008).

Wilayah Administratif. Wilayah administratif di Kabupaten Sukabumi, sejak tahun 2006 terdapat 47 kecamatan, 345 desa, 3 kelurahan, 2996 rukun warga (RW) dan 11,499 rukun tangga (RT). Ibukota Kabupaten Sukabumi saat ini berada di Kota Palabuhanratu dan memiliki jarak fisik dengan Ibukota Negara ± 140 km, dengan Ibukota Propinsi Jawa Barat ± 153 km dan dengan Kota Sukabumi ± 60 k

m.

(2)

Kependudukan. Penduduk Kabupaten Sukabumi berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) selama empat tahun terakhir terus meningkat. Tahun 2005 sekitar 2,224,993 jiwa, tahun 2006 sekitar 2,278,836 jiwa, tahun 2007 sekitar 2.291.003 jiwa dan tahun 2008 sekitar 2,376,620 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2005 sebesar 1.93%, tahun 2006 sebesar 1.67%, tahun 2007 sebesar 0.53%, tahun 2008 sebesar 1.66% dengan tingkat kepadatan penduduk 579.39 orang per km persegi.

Penduduk miskin tahun 2005 berjumlah 746.857 jiwa (218.211 KK) atau 34.06% dari jumlah penduduk, tahun 2006 naik menjadi 813,742 jiwa (226,401 KK) atau 38% dari jumlah penduduk. Sementara tahun 2007 terjadi penurunan penduduk miskin menjadi 619,919 jiwa (181,697 KK) atau 29.0% dari jumlah penduduk dan tahun 2008 menjadi 606.072 jiwa (177,638 KK) atau 28.0% dari jumlah penduduk.

Sektor atau lapangan usaha yang memiliki kontribusi

terbesar terhadap PDRB adalah pertanian, rata-rata sebesar 38.7 %,

diikuti oleh sektor industri pengolahan rata-rata sebesar 17.8 %, sektor

perdagangan, hotel dan restoran rata-rata sebesar 16.1 %.

Potensi Sumberdaya Alam. Potensi sumber daya pertanian di Kabupaten Sukabumi terutama tersebar di bagian utara aliran sungai Cimandiri. Kondisi ini tidak bisa terlepas dari keberadaan Gunung Gede Pangrango di sebelah utara dan Gunung Salak di sebelah Barat. Sejak dulu daerah utara terkenal sebagai penghasil komoditi perkebunan berupa karet dan teh , serta berkembang menjadi daerah persawahan, usaha tani sayur mayur, peternakan dan budidaya ikan air tawar yang cukup potensial.

Potensi sumber daya pesisir dan kelautan Kabupaten Sukabumi terutama tersebar di 7 (tujuh) wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, yaitu sepanjang ± 117 km yang memanjang dari wilayah kecamatan Cisolok, Palabuhanratu, Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung, dan Tegalbuleud. Adapun jenis potensi sumber daya pesisir dan kelautan yang ada antara lain: perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, penyu, bahan tambang dan mineral, serta pariwisata.

Sarana Pelayanan Kesehatan. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan tuntutan terhadap peningkatan layanan kesehatan masyarakat ketersediaan dan keterjangkauan (akses) ke sarana kesehatan menjadi hal yg penting. Jumlah puskesmas sebanyak 57 buah ditambah dengan Puskesmas pembantu sebanyak 111 buah. Sehingga rasio

(3)

puskesmas terhadap jumlah penduduk pada tahun 2008 adalah 1: 42,206, yang berarti 1 Puskesmas melayani 42,206 penduduk. Rumah Sakit sebanyak 5 buah, dimana 3 milik Pemda dan 2 milik swasta, dengan sarana tempat tidur (TT) sebanyak 371 buah di RS milik Pemda. Sehingga rasio TT dibandingkan dengan jumlah penduduk 1:6,484. Sarana kesehatan lain milik swasta adalah 12 Rumah Bersalin,Balai Pengobatan 51 buah, Toko Obat 22 buah, Apotik 33 buah. Praktek dokter swasta 261, laboratorium klinik 7 buah, praktek bidan swasta 213 buah. Sedanglan sarana kesehatan yg dibangun oleh warga masyarakat seperti Posyandu sebanyak 3,061 buah dengan kategori pratama 1,049 buah, purnama 894 dan mandiri 236 buah (Dinkes 2008).

Status Gizi dan Derajat Kesehatan. Status balita dengan gizi buruk menunjukkan peningkatan yaitu 1.51% tahun 2005; 1.6% tahun 2006; 1.76% tahun 2007 dan tahun 2008 sebesar 1.68% dari 191,896 anak yg ditimbang. Prevalensi gizi buruk menurut wilayah kerja Puskesmas cukup bervariasi, kisarannya dibawah 1% sampai diatas 1%, namun tidak ada kecamatan yang prevalensi gizi buruk diatas 5 %, sehingga tidak ada kecamatan yang tergolong rawan gizi.

Dengan alokasi anggaran yang meningkat setiap tahun, dan didukung dengan penambahan tenaga kesehatan dan sarana kesehatan, Kabupaten Sukabumi berhasil meningkatkan derajat kesehatan dengan indikator makro seperti pada Tabel 17.

Tabel 17 Derajat kesehatan dengan indikator makro di Kabupaten Sukabumi

Indikator Satuan 2005 2006 2007 2008

AHH Tahun 65.70 65.87 65.94 66.56

AKB Per 1000 53.25 44.39 42.00 < 42.00

AKI Per 100,000 364.17 363.19 < 363.19 < 363.19

2. Karakteristik Keluarga Balita Sasaran

2.1. Keadaan lingkungan fisik tempat tinggal dan sanitasi

Naluri untuk bertahan hidup menyebabkan manusia selalu ingin hidup sehat. Kondisi lingkungan fisik yang berada disekitar tempat tinggal mempunyai peranan besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang atau kelompok masyarakat. Kondisi lingkungan fisik mencakup aspek yang sangat luas sehingga dalam penelitian ini terbatas pada keadaan tempat tinggal dan sanitasi meliputi keadaan fisik rumah, MCK dan sumber air minum.

(4)

Rumah. Keadaan rumah balita contoh yang diteliti meliputi lantai dan dinding. Tabel 18 menunjukkan bahwa sebagian besar (80.7%) rumah sudah berlantai ubin/keramik dan semen, namun ada sebagian kecil masih berlantai tanah. Berdasarkan persyaratan kesehatan perumahan lantai rumah harus kedap air dan mudah dibersihkan (Kepmenkes RI No 829/Menkes/SK/VII/1999) Lantai yang tidak kedap air dan tidak didukung ventilasi yang baik dapat menimbulkan peningkatan kelembaban dan kepengapan yang akan memudahkan penularan penyakit (Depkes 2001).

Dinding sebagian besar (73.5%) rumah balita contoh sudah terbuat dari tembok batu bata dengan semen ataupun dengan tanah liat, sedangkan sebagian lainnya masih terbuat dari kayu atau bambu . Berdasarkan Depkes (2008) penggunaan jenis dinding dapat pula digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Apabila dibandingkan dengan data Riskesdas nasional (63.7%), maka kondisi keluarga balita contoh memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nasional.

Tabel 18 Sebaran keluarga balita berdasarkan kondisi fisik rumah

Kondisi Fisik Rumah

Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Lantai Ubin/keramik 9 50.0 8 53.3 10 62.5 8 44.4 9 56.3 Semen 5 27.8 3 20.0 2 12.5 8 44.4 3 18.7 Semen & karpet

plastic 1 5.6 1 6.7 0 0 0 0 0 0 Bambu 2 11.0 3 20.0 2 12.5 2 11.2 4 25.0 Tanah 1 5.6 0 0 2 12.5 0 0 0 0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 Dinding Bata/batu dg semen 13 72.2 10 66.7 10 62.5 16 88.9 12 75.0 Bata/batu dg tanah liat 0 0 0 0 1 6.2 0 0 0 0 Kayu/bamboo 5 27.8 5 33.3 5 31.3 2 11.1 4 25.0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Sarana pembuangan limbah dari aktivitas kehidupan sehari hari termasuk limbah kotoran manusia mempunyai peranan yang besar terhadap kesehatan seseorang maupun masyarakat. Pembuangan kotoran (tinja) yang tidak layak akan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit-penyakit yang penularannya melalui tinja. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002)

(5)

sebagian besar penyakit dapat dikendalikan dengan sanitasi yang baik melalui pembuangan tinja yang memenuhi syarat kesehatan. Jenis sarana pembuangan tinja yang dianggap ‘saniter’ apabila menggunakan jenis leher angsa (Riskesdas 2008). Tabel 19 menunjukkan bahwa pembuangan tinja keluarga balita contoh yang menggunakan WC berseptictank (milik sendiri dan umum) masih lebih rendah (59.0%) apabila dibandingkan dengan rata-rata nasional (68.9 %). Persentase keluarga balita yang menggunakan tempat pembuangan tinja belum saniter masih cukup tinggi dan menyebar pada semua kelompok, baik kelompok kontrol maupun perlakuan,termasuk pembuangan tinja pada sungai/parit/selokan sebesar 9.6 persen.

Tabel 19 Sebaran keluarga berdasarkan kondisi MCK

Jenis WC Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % WC sendiri dg septic tank 9 50.0 8 53.3 6 37.5 10 55.6 4 25.0 WC sendiri tanpa septic tank 3 16.7 2 13.3 3 18.8 3 16.7 4 25.0 WC umum dg septic tank 0 0 0 0 0 0 1 5.6 1 6.3 WC umum tanpa septic tank 2 11.1 2 13.3 3 18.8 2 11.1 1 6.3 WC tetangga 1 5.6 1 6.7 0 0 0 0 2 12.5 Jamban cemplung 1 5.6 1 6.7 1 6.3 2 11.1 2 12.5 Sungai/parit/selokan 2 11.1 1 6.7 3 18.8 0 0 2 12.5 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Keadaan sumber air minum. Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef dalam Riskesdas (2008) akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari, sarana sumber air yang digunakan improved. Sarana sumber air yang improved adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng, sumur bor/pompa, sumur terlindung dan air hujan, selain itu dikategorikan not improved. Tabel 20 menunjukkan bahwa sebagian besar (63.9%) sumber air bersih untuk minum pada keluarga balita contoh sudah tergolong improved, namun juga masih terdapat sebagian keluarga yang menggunakan sumber air minum yang terbuka yaitu sumur terbuka, mata air dan sungai.

(6)

Tabel 20 Sebaran keluarga balita berdasarkan sumber air minum Sumber Air Minum Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % N % PAM 2 11.1 1 6.7 4 25.0 4 22.2 2 12.5 Sumur tertutup 9 50.0 6 40.0 6 37.5 5 27.8 4 25.0 Sumur terbuka 4 22.2 0 0 2 12.5 0 0 1 6.3 Mata air 2 11.1 8 53.3 6 37.5 8 44.4 7 43.8 Sungai 0 0 0 0 1 6.3 0 0 0 0

Air Isi ulang 1 5.6 2 13.3 1 6.3 2 11.1 1 6.3

Air kemasan 1 5.6 0 0 1 6.3 0 0 1 6.3

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr Tiap keluarga ada yang mempunyai sumber air minum >1

Kategori sanitasi lingkungan fisik disusun dari sebagian aspek lingkungan fisik yang terbatas pada jenis lantai rumah, jenis sarana pembuangan tinja dan sumber air minum, diperoleh bahwa secara keseluruhan persentase keluarga yang tergolong kategori sanitasi sedang dan baik relatif sama. Namun berdasarkan masing-masing kelompok perlakuan ditemukan sebagian besar keluarga contoh kecuali keluarga kelompok P3 masih tergolong sedang, dan sebaliknya kondisi sanitasi sebagian besar keluarga balita kelompok P3 tergolong baik. Menurut Riyadi (2006) keadaan kesehatan seseorang juga dipegaruhi faktor lingkungan. Sebaran keluarga balita contoh berdasarkan kondisi sanitasi lingkungan disajikan pada Tabel 21.

Tabel 21 Sebaran keluarga berdasarkan kondisi sanitasi lingkungan fisik

Kondisi Sanitasi Fisik Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % N % Sedang 10 55.6 8 53.3 11 68.8 8 44.4 13 81.3 Baik 8 44.4 7 46.7 5 31.2 10 55.6 3 18.7 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

2.2. Karakteristik keluarga balita

Besar keluarga dan Jumlah Balita. Tempat tinggal balita contoh sebagian besar bersama kedua orang tuanya, namun ada sebagian lain yang hanya tinggal bersama salah satu orangtuanya (ayah atau ibu) yaitu balita contoh pada kelompok P0 (control) dan perlakuan P4. Selain orangtua, ternyata sebagian balita contoh tinggal bersama kakek/nenek dan bibi/pamannya. Sebaran balita berdasarkan tempat tinggal disajikan pada Tabel 22

(7)

Tabel 22 Sebaran balita berdasarkan tempat tinggal Tinggal Serumah Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Orang tua 16 88.8 12 80.0 12 75.0 16 88.9 13 81.3 Ayah saja 1 5.6 0 0 0 0 0 0 1 6.2 Ibu saja 0 0 2 13.3 1 6.2 0 0 0 0 Kakek/Nenek 0 0 1 6.7 3 18.8 1 5.6 2 12.5 Keluarga lain 1 5.6 0 0 0 0 1 5.6 0 0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr Besar keluarga balita dikelompokan menjadi tiga yaitu kecil (≤4 orang), sedang (5-6 orang) dan besar (≥ 7 orang). Tabel 23 menunjukkan sebagian besar jumlah keluarga balita contoh tergolong sedang. Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga memilki andil dalam permasalahan gizi.

Tabel 23 Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga

Besar Keluarga Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % ≤ 4 orang 5 27.8 6 40.0 8 50.0 4 22.2 8 50.0 5 – 6 orang 13 72.2 9 60.0 8 50.0 14 77.8 8 50.0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr Jumlah anggota keluarga yang besar akan mempersulit dalam memenuhi kebutuhan pangan, terutama balita yang memerlukan perhatian khusus karena belum bisa mengurus keperluan sendiri serta dalam masa pertumbuhan. Menurut Khomsan et al (2004) jumlah anggota keluarga dan kategori rumah tangga mempunyai efek yang nyata terhadap tingkat kecukupan protein. Tabel 24 menunjukkan bahwa jumlah balita pada keluarga balita berkisar antara 1 hingga 2 balita dan sebagian besar hanya memiliki 1 orang balita.

Jumlah balita pada keluarga contoh berkisar antara 1 hingga 2 balita. Tabel 24 menunjukkan bahwa sebagian keluarga pada semua kelompok perlakuan memiliki 1 anak balita. Sebaran jumlah balita disajikan Tabel 24.

Tabel 24 Sebaran keluarga berdasarkan jumlah balita keluarga

Jumlah Balita Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % 1 orang 17 94.4 14 93.3 15 93.8 15 83.3 16 100 2 orang 1 5.6 1 6.7 1 6.3 3 16.7 0 0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 0 100

(8)

2.3. Pendidikan Orangtua

Pendidikan orangtua balita contoh bervariasi mulai tidak sekolah hingga tamat SLTA. Tabel 25 menunjukkan bahwa pendidikan ayah dan ibu balita sebagian besar adalah tamat sekolah dasar (SD) dan bahkan pada ayah (8.3%) serta ibu (7.7%) balita pada kelompok P2 yang tidak pernah sekolah. Sebaran keluarga contoh berdasarkan pendidikan orang tua disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan umum orangtua balita contoh masih tergolong rendah dan secara umum tingkat pendidikan ibu balita contoh lebih rendah dibandingkan ayah balita. Menurut Soekirman (2000) pendidikan umum berhubungan dengan ketahanan pangan keluarga dan pola pengasuhan anak. Kedua faktor tersebut merupakan penyebab tidak langsung terjadinya KEP. Pendidikan rendah yang dimiliki orang tua berdampak pada status gizi balitanya karena berhubungan pola asah, asih dan asuh kepada anak balitanya. Disisi lain wanita dengan pendidikan lebih rendah, biasanya mempunyai anak lebih banyak karena pada umumnya tidak dapat/sulit diajak memahami dampak negatif dari mempunyai anak banyak (Khomsan & Kusharto 2002).

Tabel 25 Sebaran keluarga berdasarkan pendidikan orangtua

Pendidikan Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Ayah Tidak sekolah 0 0 0 0 1 8.3 0 0 0 0 Tidak Tamat SD 1 5.9 1 8.3 0 0 2 12.5 0 0 Tamat SD 10 58.8 7 58.3 8 66.7 9 56.3 9 64.3 Tamat SLTP 2 11.8 2 16.7 2 16.7 3 18.8 3 21.4 Tamat SLTA 4 23.5 2 16.7 1 8.3 2 12.5 2 14.3 Total 17 100 12 100 12 100 16 100 14 100 Ibu Tidak sekolah 0 0 0 0 1 7.7 0 0 0 0 Tidak tamat SD 1 6.3 2 14.3 1 7.7 0 0 0 0 Tamat SD 12 75.0 9 64.3 9 69.2 11 68.8 10 76.9 Tamat SLTP 3 18.8 2 14.3 2 15.4 3 18.8 3 23.1 Tamat SLTA 0 0 1 7.1 0 0 2 12.5 0 0 Total 16 100 14 100 13 100 16 100 13 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

2.4. Pekerjaan Orangtua

Pekerjaan orangtua balita contoh cukup bervariasi meliputi bidang pertanian, perikanan, perdagangan, jasa angkutan dan jasa lain termasuk buruh, pegawai swasta dan pegawai negeri. Sebagian besar pekerjaan KK (ayah) adalah buruh dan sopir/ojek, sedangkan ibu balita sebagian besar tidak

(9)

bekerja atau sebagai ibu rumahtangga. Hanya sebagian kecil ibu balita yang bekerja yaitu kelompok perlakuan P2 dan P4 bekerja sebagai buruh dan berdagang. Menurut Khomsan (2007) pekerjaan merupakan sumber pendapatan keluarga, dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap bulan.

Pekerjaan kepala keluarga (KK) lain pada balita yang tidak tinggal dengan orang tua,yaitu: pada kelompok P0 dan P1 KK bekerja sebagai buruh; KK kelompok P2 bekerja sebagai petani yang mempunyai lahan (1 orang) dan buruh ( 2 orang); KK kelompok P3 bekerja sebagai petani yang mempunyai lahan (1 orang) dan buka toko (1 orang), sedangkan pada kelompok P4, kepala keluarga bekerja sebagai petani yang mempunyai lahan (1 orang) dan PNS (1 orang). Sebaran keluarga berdasarkan jenis pekerjaan orang tua disajikan Tabel 26.

Tabel 26 Sebaran keluarga berdasarkan pekerjaan orangtua

Pekerjaan Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Ayah Tidak bekerja 1 5.8 0 0 0 0 0 0 0 0 Petani 0 0 1 8.3 0 0 1 6.3 0 0 Buruh tani 1 5.8 2 16.8 2 16.7 0 0 2 14.3 Nelayan 0 0 0 0 1 8.3 0 0 0 0 Pedagang 2 11.8 1 8.3 2 16.7 1 6.3 1 7.1 PNS 0 0 0 0 0 0 1 6.3 0 0 Pegawai swasta 1 5.9 1 8.3 2 16.7 0 0 0 0 Buruh 9 52.9 3 25.0 1 8.3 7 43.7 4 18.6 Sopir/ojek 2 11.8 1 8.3 3 25.0 2 12.4 3 21.4 Lainnya 1 5.8 3 25.0 1 8.3 4 25.0 4 28.6 Total 17 100 12 100 12 100 16 100 14 100 Ibu Ibu rumahtangga 15 93.8 12 85.8 8 61,5 15 93.8 11 84.6 Petani 0 0 1 7.1 0 0 1 6.7 0 0 Pedagang 0 0 0 0 2 15.4 0 0 1 7.7 Buruh 0 0 0 0 3 23,1 0 0 1 7.7 Lainnya 1 6.2 1 7.1 0 0 0 0 0 0 Total 16 100 14 100 13 100 16 100 13 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

2.5. Pendapatan Keluarga

Pekerjaan merupakan sumber utama pendapatan keluarga. Rata-rata pendapatan keluarga contoh cukup bervariasi berkisar antara Rp 716,666.70 hingga Rp 1,238,667.00, dimana pendapatan keluarga tertinggi terdapat pada keluarga balita kelompok P1 dan terendah kelompok P4. Berdasarkan kategori kuintil, Tabel 27 menunjukkan bahwa secara umum sebagian besar pendapatan

(10)

keluarga balita contoh masih tergolong rendah. Persentase kategori pendapatan tinggi terbanyak pada keluarga balita kelompok P1, kategori pendapatan sedang terbanyak adalah kelompok P3 dan P4, sedangkan kategori pendapatan rendah terbanyak adalah kelompok P3. Sebaran keluarga balita contoh berdasarkan kategori pendapatan disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27 Sebaran keluarga berdasarkan kategori pendapatan keluarga

Kategori Pendapatan Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % N % Rendah ( < Rp 625.000) 7 38.9 7 46.7 5 31.3 9 50.0 6 37.5 Sedang (Rp 625.000 - Rp.1.500.000) 7 38.9 3 20.0 6 37.4 9 50.0 8 50.0 Tinggi (> Rp 1.500.000) 4 22.2 5 33.3 5 31.3 0 0 2 12.5 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

2.6. Pengetahuan Pangan Gizi dan Pola Pengasuhan.

Pengetahuan pangan gizi merupakan aspek kognitif pengasuh yang mencerminkan pemahaman tentang gizi, pangan dan kesehatan. Secara umum perilaku konsumsi seseorang sangat erat dengan wawasan atau cara pandang yang dimiliki terhadap nilai tindakan yang dilakukan. Pada tingkat rumahtangga, pengetahuan pangan dan gizi terutama ibu rumahtangga (isteri), berpengaruh terhadap jenis pangan yang dikonsumsi sebagai refleksi dari praktek dan perilaku berkaitan dengan gizi (Hardinsyah 1996). Sebaran pengasuh balita berdasarkan tingkat pengetahuan gizi dan kesehatan disajikan pada Tabel 28. Tabel 28 Sebaran pengasuh balita berdasarkan pengetahuan gizi kesehatan

pengasuh Pengetahuan Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % N % Rendah 15 83.3 11 73.3 10 62.5 13 72.2 11 68.8 Sedang 3 16.7 4 26.7 6 37.5 5 27.8 5 31.2 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr Tabel 28 menunjukkan tingkat pengetahuan gizi kesehatan ibu/pengasuh balita contoh sebagian besar masih tergolong rendah dan sebaliknya tidak ada yang tergolong baik. Persentase terbesar tingkat pengetahuan yang tergolong sedang ditemukan pada kelompok P2 (37.5.%), sedangkan tingkat pengetahuan

(11)

rendah terbanyak pada ibu/pengasuh balita kelompok P0 (83.3%). Pengetahuan pangan gizi yang rendah seringkali dapat menimbulkan anggapan yang tidak selaras dengan prinsip gizi dan juga seringkali kesulitan dalam pemilihan dan pengolahan bahan pangan serta pemberian makanan yang terbaik untuk balitanya.

2.7. Pola Asuh

Pengasuhan adalah proses inisiatif. Pola pengasuhan yang diteliti terbatas pada pengasuhan makan dan pengasuhan hidup sehat yang meliputi pola akses pelayanan kesehatan dasar dan pola asuh kebersihan (hygiene). Tabel 29 menunjukkan bahwa ibu balita merupakan pengasuh utama sebagian besar balita contoh, sedangkan pengasuh balita terbanyak berikutnya adalah nenek/kakek. Anggota keluarga lain yang juga berperan sebagai pengasuh balita adalah paman/bibi dan kakak kandung balita yang sudah dewasa. Menurut Hartog (2006) beberapa studi menunjukkan wanita dengan pendidikan lebih tinggi cenderung mempunyai komitmen waktu dan upaya lebih baik untuk mengasuh anak daripada wanita dengan berpendidikan rendah.

Tabel 29 Sebaran balita berdasarkan pengasuh

Pengasuh Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % N % Ibu 8 44.4 9 60.0 8 50.0 9 50.0 9 56.2 Nenek/Kakek 4 22.2 3 20.0 6 37.4 4 22.2 3 18.8 Bibi/Paman 1 5.6 1 6.7 1 6.3 3 16.7 2 12.5 Kakak balita 5 27.8 2 13.3 1 6.3 2 11.1 2 12.5 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Pola Asuh Makan. Pola asuh makan yang diteliti terbatas pada apa dan bagaimana balita makan serta situasi yang terjadi pada saat makan, meliputi pemberian ASI, kolustrum, pemberian makanan pertama selain ASI dan frekuensi pemberian makan. Sebaran balita berdasarkan pola asuh makan disajikan pada Tabel 30. Hasil penilaian terhadap praktek pengasuhan makan terhadap balita contoh, sebagian besar 44.6% tergolong sedang. Persentasi terbesar pola asuh makan yang tergolong baik adalah kelompok P3 (38.9%) dan sebaliknya tergolong pola asuh yang buruk pada balita kelompok P0 (44.0%).

(12)

Tabel 30 Sebaran balita berdasarkan pola asuh makan

Pola Asuh Makan

Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Buruk 8 44.4 6 40.0 5 31.2 4 22.2 2 12.5 Sedang 7 38.9 5 33.3 8 50.0 7 38.9 10 62.5 Baik 3 16.7 4 26.7 3 18.8 7 38.9 4 25.0 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Pola akses pelayanan dasar. Pola pengasuhan kesehatan yang dilakukan pengasuh dalam mengakses pelayanan dasar yang diteliti meliputi imunisasi dasar yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) dan vitamin A dosis tinggi (10.000 IU) yang diperoleh balita sebagai upaya memberikan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit infeksi. Imunisasi dasar terbatas pada imunisasi yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA yaitu imunisasi BCG, DPT, dan Campak, sedangkan Vitamin A merupakan kapsul vitamin A dosis tinggi yang diberikan setiap 6 bulan sekali. Hasil penilaian terhadap praktek pengasuh dalam mengakses pelayanan dasar terhadap balita contoh secara umum sudah baik, meskipun masih terdapat yang tergolong buruk. Persentase terbesar pengasuhan dalam mengakses pelayanan dasar yang tergolong baik adalah kelompok perlakuan P4 (68.7%), dan sebaliknya yang tergolong buruk pada kelompok P0 (kontrol). Sebaran balita contoh berdasarkan pola akses pelayanan kesehatan disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31 Sebaran balita berdasarkan pola akses pelayanan kesehatan

Pola Akses Yankes Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Buruk 6 33.3 1 6.7 5 31.2 3 16.7 2 12.5 Cukup 5 27.8 5 33.4 3 18.8 7 38.9 3 18.8 Baik 7 38.9 9 38.9 8 50.0 8 44.4 11 68.7 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Pola asuh perawatan kebersihan (higiene). Perawatan kesehatan merupakan bentuk perilaku ibu atau pengasuh dalam menerapkan pola hidup sehat pada balita sehingga selalu berada dalam kondisi terbebas dari penyakit. Pola asuh perawatan yang diteliti meliputi mencuci tangan ketika menyuapi dan setelah buang air besar, kebiasaan mandi dan menggosok gigi serta pemakaian sandal/alas kaki. Hasil penilaian praktek perawatan kebersihan terhadap balita contoh, secara umum tergolong sudah baik, meskipun masih terdapat sebagian

(13)

kecil tergolong buruk. Persentasi terbesar pola asuh perawatan kebersihan yang tergolong baik adalah kelompok perlakuan P1 dan sebaliknya tergolong buruk terdapat pada balita kelompok P0, P2 dan P4. Sebaran balita contoh berdasarkan pola asuh perawatan kebersihan (hygiene) disajikan pada Tabel 32. Tabel 32 Sebaran balita berdasarkan pola asuh higiene

Pola Asuh Higiene Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Buruk 1 5.6 0 0 1 6.3 0 0 1 6.3 Cukup 7 38.8 5 33.3 8 50.0 9 50.0 6 37.4 Baik 10 55.6 10 66.7 7 43.7 9 50.0 9 56.3 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

3. Daya Terima dan Kepatuhan Konsumsi Biskuit Fungsional 3.1. Daya Terima Biskuit

Penilaian terhadap daya terima biskuit fungsional meliputi rasa biskuit dan rasa krim dilakukan secara inderawi. Selain itu juga dilakukan penggalian pendapat pengasuh balita terhadap bentuk dan porsi biskuit fungsional sebagai paket PMT serta tingkat kesukaan dan kebosanan balita terhadap paket PMT biskuit fungsional setiap bulan selama intervensi. Menurut Muctadi (1994) makanan tambahan anak kecil dapat dilihat penerimaannya berdasarkan kriteria ibu. Makanan tambahan anak kecil dapat diterima apabila ibu menyenangi rasa makanan tambahan tersebut.

Rasa biskuit. Rasa merupakan karakteristik yang menentukan apakah suatu makanan yang disajikan akan habis dimakan atau tidak. Menurut Mc Williams (2001) rasa makanan sangat penting dalam menentukan daya terima dan kualitas. Hasil penilaian rasa menunjukkan bahwa sebagian besar (80.7%) pengasuh balita contoh pada semua kelompok perlakuan menyatakan rasanya enak dan sebaliknya hanya sebagian kecil (6.0%) menyatakan tidak suka dan sebesar 3.6% menyatakan biskuit agak pahit dan terlalu manis. Hal ini berarti secara umum cita rasa biskuit fungsional sebagai makanan tambahan (PMT) anak balita dapat diterima dengan baik oleh balita sasaran. Adanya rasa yang disukai tersebut dapat meningkatkan kemauan (selera) balita untuk mengkonsumsi biskuit yang diberikan dan dapat mempertahankan selera yang masih cukup tinggi untuk tetap mau mengkonsumsi selama 90 hari intervensi. Sebaran pendapat pengasuh balita contoh tentang rasa biskuit fungsional disajikan pada Tabel 33.

(14)

Tabel 33 Pendapat pengasuh terhadap rasa biskuit

Pendapat tentang Rasa Biskuit P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah n % n % n % n % n % N % Enak 14 77.7 11 73.3 13 81.4 16 88.8 13 81.3 67 80.8 Cukup enak 1 5,6 0 0 0 0 1 5.6 1 6.2 3 3.6 Tidak suka 2 11,1 1 6.7 1 6.2 1 5.6 0 0 5 6.0 Lainnya 0 0 2 13.3 1 6.2 0 0 0 0 3 3.6 Tidak tahu 1 5.6 1 6.7 1 6.2 0 0 2 12.5 5 6.0 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100 Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P :Btp + Kp sela 1 hr Lainnya P1 : agak pahit, P2 : manis

Rasa krim. Hasil serupa juga diperoleh pada penilaian terhadap rasa krimnya, dimana sebagian besar (65.1%) pengasuh menyatakan rasa krimnya enak, namun cukup berimbang antara yang menyatakan anaknya tidak suka (10.8%) dan rasanya cukup enak (9.6). Hal ini berarti rasa krim dari biskuit fungsional tersebut sudah dapat diterima dengan baik, namun demikian kualitas rasa masih perlu lebih ditingkatkan, terutama tingkat kemanisan dan penurunan aroma amis. Sebaran pendapat pengasuh tentang rasa krim biskuit secara lengkap disajikan pada Tabel 34.

Tabel 34 Pendapat pengasuh terhadap rasa krim biskuit fungsional Pendapat tentang

Rasa Krim Biskuit

P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah n % n % n % n % N % N % Enak 11 61.1 14 93.3 11 68.8 11 61.1 7 43.8 54 65.1 Cukup enak 2 11.1 0 0 0 0 3 16.7 3 18.8 8 9.6 Tidak suka 3 16.7 0 0 1 6.3 3 16.7 2 12.5 9 10.8 Lainnya 1 5.6 0 0 1 6.3 1 5.6 1 6.3 4 4.8 Tidak tahu 1 5.6 1 6.7 3 18.8 0 0 3 18.8 8 9.6 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100

Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P :Btp + Kp sela 1 hr

. Lainnya : P0 = manis, P2= agak kurang manis, P3=terlalu manis, P4= anyir

Bentuk Biskuit. Bentuk merupakan faktor pertama selain warna yang akan mempengaruhi reaksi awal seseorang dalam menentukan sikap terhadap makanan yang disajikan terutama pada anak anak. Hasil penilaian menunjukkan bahwa bentuk biskuit bundar dengan hiasan icing bergambar orang senyum dinilai sudah baik oleh sebagian besar (77.1%) pengasuh balita, dan sebaliknya hanya 2.4% yang menyatakan kurang baik dan tidak menyukai. Artinya balita sasaran dapat menerima dengan baik dan menyukai biskuit fungsional yan berbentuk bundar. Bentuk biskuit yang disukai, akan dapat meningkatkan daya tarik balita untuk mengkonsumsi. Sebaran pendapat tentang rasa krim biskuit secara lengkap disajikan pada Tabel 35.

(15)

Tabel 35. Pendapat pengasuh terhadap bentuk biskuit fungsional Pendapat tentang

Bentuk Biskuit

P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah

n % n % n % n % n % N %

Bentuk sudah baik 12 66.7 13 8.,7 13 81.3 14 77.8 12 75.0 64 77.1 Bentuk cukup baik 5 27.8 2 13.3 2 12.5 4 22.2 4 25.0 17 20.5 Bentuk kurang baik 1 5.6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1.2 Bentuk tidak disukai 0 0 0 0 1 6.3 0 0 0 0 1 1.2 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3:Btp+ Kp rutin; P4:Btp + Kp sela 1 hr

Porsi Biskuit dan Krim. Porsi makanan, selain berkaitan dengan penampilan, perencanaan penghidangan juga merupakan salah satu penyebab tidak dihabiskannya makanan. Hasil penilaian terhadap porsi biskuit menunjukkan bahwa sebagian besar (85.5%) pengasuh balita contoh pada semua kelompok perlakuan menyatakan porsinya sudah tepat dan sebaliknya hanya sebagian kecil (10.8%) menyatakan terlalu banyak dan 2.4 persen menyatakan terlalu sedikit. Artinya porsi biskuit fungsional yang diberikan setiap hari sebanyak 50 g sudah sesuai dengan kemampuan kapasitas konsumsi balita sehingga dapat menekan terjadinya sisa. Hal ini mengingat kemampuan perut anak usia 2-5 tahun terbatas atau lebih kecil daripada orang dewasa. Sebaran pendapat pengasuh tentang porsi biskuit fungsional secara lengkap disajikan pada Tabel 36.

Tabel 36 Pendapat pengasuh terhadap porsi biskuit fungsional Pendapat tentang Porsi Biskuit P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah n % n % n % n % n % N % Terlalu banyak 3 16.7 4 26.7 0 0 2 11.1 0 0 9 10,8 Porsinya tepat 12 66.7 11 73.3 16 100 16 88.9 16 100 71 85,5 Terlalu sedikit 2 11.1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2,4 Tidak tahu 1 5.6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1,2 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100 Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp +Knp ; P2 :Bbs+ Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

Hasil serupa diperoleh pada penilaian terhadap porsi krim probiotik, dimana sebagian besar (77.1%) pengasuh menyatakan porsi krimnya sudah tepat, namun sebagian lain (15.7%) menyatakan masih terlalu banyak dan sebaliknya 6.0 persen menyatakan terlalu sedikit. Hal ini berarti bahwa porsi krim biskuit fungsional yang diberikan sebagai makanan tambahan (PMT) setiap hari sebanyak 15 g sudah sesuai dengan kemampuan kapasitas konsumsi balita mampu sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya sisa.

(16)

Sebaran pendapat pengasuh tentang porsi krim biskuit fungsional secara lengkap disajikan pada Tabel 37.

Tabel 37 Sebaran pendapat pengasuh tentang porsi krim Pendapat Porsi Krim P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah n % n % n % n % N % N % Terlalu banyak 5 27,.8 2 13.3 1 6.3 2 11.1 3 18.8 13 15.7 Porsinya tepat 10 55.6 13 86.7 14 87.5 14 77.8 13 81.3 64 77.1 Terlalu sedikit 2 11.1 0 0 1 6.3 2 11.1 0 0 5 6.0 Tidak menjawab 1 5.6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1.2 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100 Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

3.2. Tingkat kesukaan dan kebosanan biskuit fungsional selama intervensi ( 90 hari)

Biskuit merupakan salah satu makanan yang sudah popular dan disukai anak-anak. Hasil wawancara terhadap pengasuh, pada bulan pertama tanpa membedakan kelompok perlakuan (Gambar 7) diperoleh sekitar 69.9% balita contoh menyukai biskuit dan hanya sekitar 7.2 % yang tidak suka karena rasa terlalu manis dan rasa pahit, sedangkan yang menyatakan bosan sekitar 22.9%. Pada pemantauan bulan kedua, menunjukkan terjadi penurunan persentase kesukaan sekitar 6% dan beralih pada peningkatan persentase bosan, semula 22.9% menjadi 36.1%. Kebosanan mungkin saja terjadi pada beberapa anak balita setelah sekian lama mengkonsumsi biskuit karena setiap hari anak balita diharuskan mengkonsumsi biskuit yang sama sebanyak 4 keping (50 g) dan karena di rumah ada makanan lain atau mudahnya akses jajanan lain disekitar rumah. Pemantauan bulan ketiga, persentase yang menyatakan suka masih tetap (63.9%), sedangkan persentase yang menyatakan bosan menurun dan bergeser menjadi tidak suka yaitu sekitar 3.6 persen. Masih tingginya penerimaan atau tingkat kepatuhan konsumsi terhadap paket biskuit fungsional hingga akhir intervensi, selain karena karakteristik (rasa, bentuk) biskuit yang disukai, porsi yang tepat dan sudah merupakan makanan yang sudah biasa dimakan anak-anak, juga karena manfaat yang dirasakan setelah mengkonsumsi (nafsu makan menjadi lebih baik, tidak mudah (jarang sakit). Adanya intervensi PMT biskuit fungsional juga dapat menghemat pengeluaran uang jajan anak dan menurunkan kebiasaan jajan (sejenis ‘chiki’, permen, minuman ‘berenergi’, dan lainnya) yang dikeluhkan

(17)

ibu-ibu balita. Menurut Hartog et al. (2006) budaya makan merupakan faktor yang penting dalam proses penerimaan suatu produk baru. Produk baru akan lebih mudah diterima jika produk tersebut dianggap sesuai dengan konsep yang kuat terhadap apa yang dapat dimakan dan secara teknis dapat diaplikasi di daerahnya.

Gambar 7 Kesukaan anak terhadap biskuit fungsional menurut pemantauan

Berdasarkan alur kecenderungan persentase anak balita yang masih menyukai dan mau mengkonsumsi biskuit hingga bulan ketiga dengan jumlah (kepatuhan) yang tetap tinggi dan sebaliknya persentase kebosanan hingga akhir intervensi (90 hari) masih rendah, maka dapat dikatakan bahwa biskuit fungsional dapat diterima sebagai makanan tambahan bagi anak balita dengan berat rendah.

3.3. Cara dan Jumlah Konsumsi Biskuit

Hasil observasi dan wawancara langsung pada pengasuh pada saat kunjungan ke rumah balita contoh, menunjukkan bahwa cara anak balita mengkonsumsi biskuit fungsional cukup bervariasi, antara lain: biskuit dimakan secara langsung bersamaan dengan krim, ada yang krimnya dihabiskan terlebih dahulu baru kemudian biskuitnya, serta ada pula yang biskuit dicelupkan ke dalam air putih atau air teh terlebih dahulu, baru kemudian dikonsumsi. Demikian pula cara pemberian biskuit oleh pengasuh kepada anak balita juga cukup bervariasi, antara lain: pengasuh memberi sedikit demi sedikit biskuit dengan cara menyuapi balita sambil bermain, balita mengkonsumsi sendiri di rumah masing-masing, namun

69.9% 63,9 63,9 22,9 36,1 32,5 7,2 0 3,6 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3

Suka Bosan Tidak Suka

(18)

juga ada balita yang mengkonsumsi biskuit secara bersama-sama balita lain dengan berkumpul di rumah kader posyandu pada sore hari atau waktu yang disepakati bersama.

Biskuit fungsional yang diberikan kepada anak balita dengan berat badan rendah, dianjurkan untuk dikonsumsi habis 1 porsi yang terdiri dari sekitar 50 gram biskuit dan 15 gram krim (4 keping/bungkus) setiap harinya. Rata-rata jumlah biskuit yang dikonsumsi harian sekitar 41.5 gram (3.32 ± 0.81 keping) pada semua kelompok perlakuan, sedangkan rata-rata tertinggi pada kelompok perlakuan P3 sebesar 45.1 gram (3.61 keping) dan rata-rata terendah pada kelompok P1 sebesar 38.3 gram (3.06 keping). Hasil uji Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata antar kelompok perlakuan (p>0.05). Artinya jumlah total biskuit yang dikonsumsi harian selama 90 hari intervensi oleh balita contoh pada semua kelompok , baik kontrol maupun perlakuan relatif sama atau tidak ada perbedaan jumalah yang berarti. Rata-rata jumlah biskuit yang dikonsumsi harian menurut kelompok per hari maupun selama intervensi (90 hari) disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38 Rata-rata jumlah biskuit yang dikonsumsi harian dan selama intervensi Rata – rata biskuit yang dikonsumsi Kelompok Perlakuan P0 ( n=18) P1 (n=15) P2 (n=16) P3 (n=18) P4 (n=16) Keping Per hari 3.34 ± 0.81 3.07 ± 1.14 3.27 ± 0.86 3.61 ± 0.54 3.29 ± 0.69 Per 90 hari 300.3 ± 72.6 276.0 ±102.8 294.1± 77.4 325.3 ± 48.4 296.5 ± 61.7 Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Sejumlah biskuit fungsional yang dikonsumsi oleh anak balita selama intervensi 90 hari dapat memberikan kontribusi (tambahan) asupan gizi balita contoh, terutama energi dan protein. Rata-rata kontribusi energi dan protein dari biskuit fungsional yang dikonsumsi anak balita BBR per hari disajikan pada Tabel 39. Berdasarkan Tabel 39 tersebut, rata-rata kontribusi energi sudah diatas 15 persen AKG energi. Kontribusi energi tertinggi adalah kelompok perlakuan P3 (279.49 Kalori atau 20.96 % AKE), sedangkan terendah adalah kelompok perlakuan P1 (237.15 Kal atau 17.92% AKE). Kontribusi energi dari makanan tambahan biskuit ini lebih besar dibandingkan hasil survey melalui telepon pada ibu dan pengasuh

(19)

lebih dari 600 anak di Amerika, dimana kontribusi energi pada snack pagi hari menyediakan 124 – 156 Kalori, sedangkan snack pada sore hari menyediakan 139 – 170 Kalori (Miller et al 2007). Hasil uji Anova menunjukkan tidak ada beda nyata (p>0.05) kontribusi energi antar kelompok perlakuan. Artinya kontribusi tambahan energi dari konsumsi makanan tambahan biskuit kontrol dan biskuit fungsional selama intervensi tidak ada beda, diantaranya karena biskuit yang digunakan semua kelompok mengandung Kalori relatif sama.

Tabel 39. Rata-rata kontribusi energi dan protein harian biskuit fungsional terhadap kecukupan gizi

Kelompok Perlakuan /Jenis Zat Gizi

Jumlah per satuan zat gizi % AKG

P0 Energi (Kal) Protein (g) 258.03 ± 62.42 3.74 ± 0.93 19.25 15.28 P1 Energi (Kal) Protein (g) 237.15 ± 88.36 8.92 ± 3.33 17.92 36.67 P2 Energi (Kal) Protein (g) 251.75 ± 67.52 9.47 ± 2.54 18.31 37.51 P3 Energi (Kal) Protein (g) 279.49 ± 41.62 10.51 ± 1.56 20.96 42.89 P4 Energi (Kal) Protein (g) 254.76 ± 53.02 9.58 ± 1.99 18.12 37.12

Rata-rata kontribusi protein pada kelompok kontrol sekitar 15 persen ,sedangkan kelompok perlakuan sudah diatas 30 persen AKG protein. Kontribusi protein tertinggi ditemukan pada kelompok perlakuan P3 (10.51 g atau 42.89 % AKP), sedangkan terendah adalah kelompok perlakuan kontrol (P0) yaitu 3.74 g atau 15.28% AKG protein. Hasil uji Anova menunjukkan terdapat perbedaan sangat nyata (p<0.01) tambahan asupan (intake) protein antar kelompok perlakuan. Artinya kontribusi tambahan intake protein dari konsumsi PMT biskuit fungsional selama 90 hari intervensi berbeda antar kelompok. Selain faktor jumlah biskuit yang dikonsumsi, juga karena biskuit kelompok perlakuan (P1, P3 dan P4) mengandung protein yang tinggi berasal dari bahan isolat protein kedelai dan tepung ikan lele. Isolat protein kedelai merupakan bentuk protein kedelai yang paling murni karena kadar protein minimumnya 95% dalam berat kering (Koswara 1995). Protein ikan lele juga mengandung semua

(20)

asam amino esensial dalam jumlah yang cukup (Astawan 2008) dan komposisi kimia yang ada dalam tepung protein ikan tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam ikan sebagai bahan bakunya, termasuk protein dan senyawa nitrogen lainnya (Sunarya 1990). Biskuit tinggi protein perlakuan mengandung sekitar 10.5 g protein persaji (50 g) atau setara 40 persen AKG protein balita sasaran, sehingga dapat dikatakan memenuhi kriteria BPOM (2004), dimana makanan dikatakan sumber protein yang baik bila mengandung sedikitnya 20 persen AKG yang dianjurkan per saji. 3.4. Kepatuhan Konsumsi Biskuit

Biskuit fungsional sebagai makanan tambahan dianjurkan hanya dikonsumsi oleh anak balita contoh agar diperoleh manfaat yang optimal. Namun kenyataannya, selain anak balita contoh juga terdapat anggota keluarga lain yang turut mengkonsumsi biskuit fungsional yaitu anak kandung lainnya (saudara kandung), orang tua (ayah-ibu), nenek-kakek dan juga anak balita tetangga. Anak kandung atau saudara balita sasaran merupakan anggota lain yang paling sering (38.6%) turut mengkonsumsi biskuit fungsional. Sebaran anggota keluarga lain yang turut mengkonsumsi biskuit fungsional disajikan pada Tabel 40.

Tabel 40 Anggota keluarga dan orang lain yang turut mengkonsumsi

Anggota Klg lain yang Mengkonsumsi P0 (n=18) P1 (n-15) P2 (n=16) P3 (p=18) P4 (n=16) Jumlah (N=83) n % n % n % N % n % N % Anak lainnya 8 44.4 7 46.7 5 31.3 7 38.9 5 31.3 32 38.6 Ibu/Bapak 0 0 2 13.3 2 12.5 1 5.6 1 6.3 6 7.2 Anggota klg lain (kakek/nenek,dll) 1 5.6 3 20.0 3 18.8 1 5.6 2 12.5 10 12.0 Balita tetangga 1 5.6 0 0 2 12.5 1 5.6 1 6.3 5 6.0 Keterangan: P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Idealnya biskuit fungsional dikonsumsi sesuai yang dianjurkan setiap hari selama intervensi 90 hari sehingga tambahan asupan gizi dan probiotik dapat memberikan manfaat gizi dan kesehatan secara optimal. Hasil pemantauan selama 3 bulan menunjukkan bahwa kepatuhan konsumsi biskuit fungsional cukup tinggi pada semua kelompok perlakuan yaitu berkisar antara 76.67% hingga 90.35 % dengan rata rata tingkat kepatuhan 82.85%. Rata-rata tingkat kepatuhan tertinggi terdapat pada anak balita kelompok P3 (90.35 ± 13.45%) dan terendah pada kelompok P1 (76.67 ± 28.56%). Berdasarkan kategori tingkat kepatuhan sebagaimana

(21)

terlihat pada Tabel 41, kategori tingkat kepatuhan tinggi paling banyak (88.9%) pada balita contoh kelompok perlakuan P3 dan sebaliknya kategori rendah paling banyak (18.7%) pada kelompok perlakuan P1.

Tabel 41 Sebaran balita menurut kategori tingkat kepatuhan

Tingkat Kepatuhan Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Rendah 1 5.6 3 20.0 3 18.7 0 0 1 6.3 Sedang 3 16.7 3 20.0 1 6.3 2 11.1 4 25.0 Tinggi 14 77.7 9 60.0 12 75.0 16 88.9 11 68.7 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp selang 1 hr

Tingkat kepatuhan konsumsi biskuit fungsional antar waktu pemantauan (bulan pertama hingga bulan ketiga) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan yang tidak tajam pada kelompok control maupun pada semua kelompok perlakukan (Gambar 8). Hasil uji t berpasangan menunjukkan tidak ada beda yang nyata (p> 0.05) antara tingkat kepatuhan pada awal intervensi (bulan ke-1) dan akhir intervensi (bulan ke-3), demikian juga hasil uji Anova menunjukkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit balita contoh pada bulan pertama, bulan kedua maupun bulan ketiga tidak ada perbedaan yang nyata (p>0.05) antar kelompok perlakuan (Lampiran 3). Keadaan ini dapat dikatakan bahwa tingkat kepatuhan mengkonsumsi biskuit fungsional tetap tinggi dan relatif tidak berubah selama 3 bulan pelaksanaan intervensi. Kepatuhan konsumsi biskuit yang sangat tinggi (100%), terutama ditemukan pada balita-balita yang para pengasuh menyatakan suka dan merasakan manfaat gizi dan kesehatan setelah mengkonsumsi PMT biskuit; respon dan motiviasi ibu yang baik pada kegiatan pemberian PMT biskuit serta karena sebagian besar keluarga anak balita contoh termasuk keluarga berpenghasilan rendah yang tidak banyak memiliki ketersediaan dan alternative pilihan makanan jajanan untuk anak balita di rumahnya. Menurut hasil penelitian Arinta (2010) terdapat hubungan nyata antara tingkat partisipasi ibu dengan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit fungsional, namun tidak ada hubungan nyata dengan partisipasi kader posyandu.

(22)

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr Gambar 8. Tingkat kepatuhan konsumsi paket PMT biskuit selama Intervensi

3.5. Manfaat dan Efek Samping setelah Mengkonsumsi Biskuit Fungsional

Makanan bagi anak balita harus memenuhi kriteria tertentu, diantaranya aman, mempunyai nilai gizi yang baik dan bermanfaat bagi kesehatan. Hasil wawancara dengan pengasuh tentang manfaat yang dirasakan atau terlihat pada anak balitanya setelah diberikan biskuit sebagian besar adalah anak menjadi lebih sehat (50.6%), berat badan anak bertambah (44.6%) dan dapat mencegah anak sakit (2.4%).

Makanan yang aman merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi sebelum syarat lain. Hasil wawancara dengan pengasuh tentang efek samping yang dikeluhkan atau dialami anak balitanya setelah diberikan paket biskuit sebagian besar (96.6%) menyatakan tidak pernah ada efek samping setelah mengkonsumsi paket PMT biskuit selama 90 hari dan hanya 1,2 persen yang menyatakan pernah BAB agak encer 1 kali dan merasakan kadang-kadang mual (1.2%) pada awal-awal mengkonsumsi biskuit fungsional. Sebaran balita contoh menurut ada atau tidaknya efek samping yang pernah dialami disajikan pada Tabel 42

Berdasarkan Tabel 42 tersebut diatas secara umum dapat dikatakan bahwa paket biskuit fungsional aman dikonsumsi oleh balita dengan berat badan rendah (BBR). Adanya efek sementara yang dirasakan oleh sebagian kecil balita contoh disinyalir merupakan masa adaptasi karena kejadian hanya berlangsung pada awal pemberian paket biskuit saja dan belum tergolong penyakit diare. Secara individual setiap anak memliki toleransi yang

90,35 83,89 77,47 78,3 77,5 74,5 84,85 84,37 75,58 94,39 91,79 85,63 86,65 83,39 77,83 Bln1 Bln2 Bln3

perlakuan

P0 P1 P2 P3 P4

(23)

berbeda dan dikatakan diare jika ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi dengan atau tanpa darah dan/atau lendir (Suraatmaja 2005).

Tabel 42 Sebaran efek samping setelah mengkonsumsi paket biskuit Efek samping setelah konsumsi Biskuit P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah n % n % n % n % n % N % Tidak pernah 18 100 15 100 15 93.8 17 94.4 16 100 81 96.6 Pernah, sekali pada awal 0 0 0 0 0 0 1 5.6 0 0 1 1.2 Pernah, kadang-kadang mual 0 0 0 0 1 6.2 0 0 0 0 1 1.2 Jumlah 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 83 100 Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

4. Konsumsi Gizi Balita (Energi, Protein, Vitamin A dan Vitamin C)

Zat gizi dibutuhkan oleh tubuh agar setiap orang dapat hidup aktif, sehat dan produktif dapat dipenuhi melalui konsumsi beragam jenis makanan. Semakin beragam jenis makanan yang dikonsumsi, semakin besar peluang terpenuhi kebutuhan akan zat gizi. Rata–rata konsumsi gizi balita contoh menggambarkan konsumsi harian, sedangkan menurut Suhardjo dan Martianto (1996) untuk mengetahui sejauhmana masalah konsumsi gizi, indikator yang dapat digunakan adalah tingkat konsumsi gizi. Rata-rata konsumsi dan tingkat konsumsi gizi disajikan pada Tabel 43.

Konsumsi energi dan protein balita contoh semua kelompok perlakuan pada akhir intervensi menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan konsumsi energi tertinggi terlihat pada kelompok perlakuan P0 (kontrol) , P2 dan P3. Hasil uji beda t berpasangan konsumsi energi balita pada kelompok P0, P2 dan P3 menunjukkan ada perbedaan nyata (p< 0.05) antara konsumsi energi pada awal dan akhir. Peningkatan kelompok P0 (kontrol) terlihat tinggi diduga karena pada awal intervensi terjadi defisit energi yang besar dan lebih besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa balita dalam kondisi defisit energi berat, terjadinya peningkatan konsumsi energi lebih mudah dibandingkan yang defisit ringan.

Peningkatan konsumsi protein tertinggi nampak pada kelompok perlakuan P1 dan P3. Hasil uji beda t berpasangan konsumsi protein balita pada kelompok P1 dan P3 menunjukkan ada perbedaan yang nyata (p<0.05) antara konsumsi protein pada awal dan akhir. Peningkatan kelompok P3 terlihat paling tinggi dibandingkan kelompok lainnya, diduga selain karena adanya tambahan

(24)

protein yang cukup tinggi dan lengkap asam amino dari paket biskuit fungsional, juga karena adanya efek dari probiotik E. faecium IS-27526. Adanya probiotik selain dapat meningkatkan penyerapan gizi di dalam tubuh, juga dapat meningkatkan nafsu makan.

Tabel 43 Konsumsi dan tingkat konsumsi gizi menurut kelompok perlakuan

Variabel

Rata-rata Zat Gizi dan SD Menurut Kelompok Perlakuan P0 ( n=18) P1 (n=15) P2 (n=16) P3 (n=18) P4 (n=16) Awal Intervensi -Energi (Kal) -Energi (%) - Protein (g) -Protein (%) -Vitamin A (mg) - Vitamin C (mg) 653.5 ± 185.2 48.5 ± 14.0 19.9 ± 6.7 80.9 ± 28.7 275.3 ± 222.0 7.2 ± 14.2 682.2 ± 226.0 52.1 ± 19.9 19.7 ± 6.4 81.6 ± 30.5 374.8 ± 169.3 7.7 ± 8.3 801.3 ± 260.6 60.4 ± 23.7 24.4 ± 8.1 98.7 ± 37.6 296.1 ± 144.9 13.4 ± 24.6 758.2 ± 210.3 57.0 ± 18.2 22.2 ± 8.1 91.3 ± 38.0 288.8 ± 206.7 9.0 ± 15.4 738.2 ± 296.7 53.9 ± 23.7 22.6 ± 11.2 90.3 ± 47.7 272.2 ± 231.8 13.6 ± 20.6 Akhir Intervensi -Energi (Kal) - Energi (%) -Protein (g) -Protein (%) -Vitamin A (mg) - Vitamin C (mg) 845.7 ± 145.5* 63.1 ± 12.7 22.1 ± 4.6 89.3 ± 19.3 356.4 ± 274.2 8.9 ± 13.3 839.3 ± 228.9* 63.8 ± 20.8 25.2 ± 6.9 * 103.5 ± 31.6 381.8 ± 261.4 19.2 ± 22.6 908.2 ± 234.5 67.5 ± 20.2 28.1 ± 7.8 114.3 ± 38.1 286.1 ± 228.0 4.9 ± 6.3 965.2 ± 269.3* 72.6 ± 18.2 29.1 ± 7.3 * 119 ± 35.3 387.9 ± 237.8 13.1 ± 14.9 866.9 ± 259.2 63.5 ± 23.3 25.1 ± 6.8 100.1 ± 33.7 301.3 ± 279.4 13.0 ± 23.9 Keterangan : * beda nyata antara awal dan akhir intervensi (p<0.05)

Tingkat konsumsi energi (TKE) pada Gambar 9 menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan pada semua kelompok, baik kelompok kontrol (P0) maupun perlakuan. Peningkatan tingkat konsumsi energi yang cukup besar terlihat pada balita kelompok P3 (Btp + Kp rutin) dan kelompok P0 (kontrol), namun pada akhir intervensi hanya balita pada kelompok P3 yang sudah mampu melebihi dari 70% AKE.

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

Gambar 9 Tingkat konsumsi energi (TKE) awal dan akhir Intervensi 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P0 P1 P2 P3 P4 % T KE Perlakuan TKEawal TKEakhir

(25)

Tingkat konsumsi protein (TKP) pada Gambar 10 juga menunjukkan adanya kenaikan pada semua kelompok perlakuan. Gambar 10 menunjukkan tingkat konsumsi protein pada semua kelompok perlakuan (P1,P2,P3 dan P4) ditemukan lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (P0). Peningkatan terbesar terlihat pada kelompok perlakuan P3, sedangkan pada akhir intervensi hanya kelompok P2 dan P3 yang sudah melapaui 100%. Hasil uji beda t berpasangan menunjukkan hanya pada kelompok P1,P2 dan P3 yang berbeda secara nyata (p<0.05) antara konsumsi protein awal dan akhir intervensi. Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian makanan tambahan biskuit fungsional yang megandung tinggi protein dari protein ikan dan isolat protein kedelai dapat memberikan tambahan konsumsi protein yang bermakna pada balita berat badan rendah. Pada fase pertumbuhan, protein memegang peranan yang sangat penting, karena pada fase proses biosintesis berlangsung dengan cepat terutama pembentukan protein tubuh. Setiap hari, sekitar seperempat protein (asam amino) yang tersedia dalam tubuh tidak dapat dirubah untuk penggunaan lain seperti bahan energi dan sebanyak 3 persen jumlah protein total berada dalam keadaan dinamis, yang bergantian dipecah dan disintesis kembali. Oleh karena itu protein (asam amino) dibutuhkan setiap hari untuk mendukung pertumbuhan baru dan memelihara sel-sel (Sizer & Whitney 2008; Almatsier 2001).

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr Gambar 10 Tingkat konsumsi protein (TKP) awal dan akhir Intervensi

0 20 40 60 80 100 120 P0 P1 P2 P3 P4 A% T KP Perlakuan TKPawal TKPakhir

(26)

Berdasarkan kategori tingkat konsumsi energi, pada awal intervensi ditemukan sebagian besar balita contoh pada kelompok kontrol (P0) dan semua kelompok perlakuan tergolong defisit berat energi dan sebaliknya hanya sebagian kecil (5.6 s/d 6.7%) yang tergolong cukup. Sebaran balita contoh berdasarkan kategori tingkat konsumsi energi disajikan pada Tabel 44.

Tabel 44 Sebaran balita berdasarkan kategori tingkat konsumsi energi pada awal dan akhir intervensi

Kategori Tingkat Konsumsi Energi Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Awal Intervensi < 70% ( defisit berat) 17 94.4 13 85.6 10 62.5 15 83.3 12 75.0 70 s/d 90 % (defisit ringan) 1 5.6 1 6.7 5 31.2 2 11.1 3 18.7 > 90 % (cukup) 0 0 1 6.7 1 6.3 1 5.6 1 6.3 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 Akhir Intervensi < 70% ( defisit berat) 12 66.7 11 74.4 11 68.8 10 55.6 11 68.8 70 s/d 90 % (defisit ringan) 6 33.3 2 13.3 2 12.5 4 22.2 3 18.7 > 90 %(cukup) 0 0 2 13.3 3 18.7 4 22.2 2 12.5 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

Pada akhir intervensi, Tabel 44 menunjukkan adanya perbaikan kategori konsumsi energi pada semua kelompok, yaitu penurunan jumlah kategori defisit energi berat bergeser menjadi kategori defisit energi ringan. Peningkatan jumlah balita contoh dengan kategori tingkat konsumsi energi cukup hanya terjadi pada kelompok perlakuan P1, P2, P3 dan P4, dan sebaliknya tidak terjadi pada kelompok kontrol (P0).

Berdasarkan kategori tingkat konsumsi protein, pada awal intervensi ditemukan balita contoh pada kelompok kontrol (P0) dan semua kelompok perlakuan tersebar relatif merata pada semua kategori. Namun jumlah kategori tingkat konsumsi protein cukup pada balita contoh kelompok P1 dan P2 lebih tinggi dibandingkan pada balita kelompok lainnya. Pada akhir intervensi, Tabel 45 menunjukkan adanya perbaikan kategori konsumsi energi pada semua kelompok, yaitu penurunan jumlah kategori defisit protein berat bergeser menjadi kategori defisit protein ringan. Peningkatan jumlah balita contoh dengan kategori tingkat konsumsi protein cukup juga terjadi pada semua kelompok, namun secara umum peningkatan yang tertinggi ditemukan pada balita kelompok

(27)

perlakuan P3. Sebaran balita contoh berdasarkan kategori tingkat konsumsi protein disajikan pada Tabel 45.

Tabel 45 Sebaran balita contoh berdasarkan kategori tingkat konsumsi protein pada awal dan akhir intervensi

Kategori Tingkat Konsumsi Protein Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Awal Intervensi < 70% ( defisit berat) 7 38.9 5 33.3 2 12.5 5 27.8 6 37.5 70 s/d 90 % (defisit ringan) 4 22.2 5 33.3 5 31.2 4 22.2 4 25.0

> 90 %

(cukup) 7 38.9 5 33.4 9 56.3 9 50.0 6 37.5 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100 Akhir Intervensi < 70% ( defisit berat) 3 16.7 1 6.7 2 12.4 1 5.5 2 12.4 70 s/d 90 % (defisit ringan) 7 38.9 6 40.0 3 16.8 3 16.7 7 43.8

> 90 %

(cukup) 8 44.4 8 53.3 11 68.8 14 77.8 7 43.8 Total 18 100 15 100 16 100 18 100 16 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

5. Profil Mikrobiota Feses Balita

Mikroba yang secara alamiah terdapat dalam tubuh disebut flora normal atau mikrobiota (Waluyo 2004). Mikrobiota di dalam usus manusia secara alamiah terdapat sekitar 100-400 jenis bakteri yang secara sederhana dikelompokkan dalam ‘bakteri baik’ yang bermanfaat bagi kesehatan dan ‘bakteri jahat’ yang menyebabkan penyakit (bakteri pathogen), dimana keduanya hidup dalam keseimbangan. Komposisi mikrobiota dalam feses bisa menjadi indikator kondisi seseorang (Sri Winarni 2010). Mikrobiota dalam saluran pencernaan orang yang sehat berbeda dengan orang yang sedang menderita sakit (Drisko 2003). Jumlah bakteri dominan dikendalikan oleh beberapa faktor seperti makanan inang, system kekebalan tubuh inang, tingkat daya hidup bakteri, adanya infeksi dan dosis konsumsi makanan suplemen probiotik (Wahyudi & Samsundari 2008). Untuk mengidentifikasi jenis mikrobiota yang ada dalam feses balita contoh dilakukan analisis sejumlah sub contoh balita dengan metode PCR. Analisis PCR dilakukan secara terbatas pada jenis bakteri Bifidobakteria, Koliform (E.coli) dan Enterococcus faecium pada feses balita contoh sebelum (24 contoh) dan sesudah (24 contoh) dilakukan intervensi PMT biskuit.

(28)

5.1 Bakteri Bifidobakteria.

Bifidobacterium adalah salah satu bakteri baik dari genus bakteri asam laktat yang hidup di dalam usus besar manusia dan hewan

(http://id.wikipedia.org/wiki /Bifidobacterium). Bakteri Bifidobakteria secara

alamiah biasanya terdapat dalam saluran pencernaan manusia. Bifidobakteria digolongkan sebagai bakteri asam laktat dan sampai saat ini ada sekitar 30 jenis yang telah diisolasi. Beberapa hari setelah kelahiran, Bifidobacteria telah mengkoloni saluran pencernaan bayi, namun populasi Bifidobacteria terus menurun dengan bertambahnya umur kecuali jika Bifidobacteria ditambahkan dalam makanan atau minuman (Wahyudi & Samsundari 2008). Hasil analisis PCR Bifidobacteria dalam fekal balita, menggunakan Primers g-Bifid; dengan kontrol positif Bifidobacterium animalis dan kontrol negatif Nuclease free water disajikan Gambar 11 dan 12.

Gambar 11. Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) Bifidobakteria, N0 1-24 sampel, kontrol positif

Bifidobacterium animalis (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no 26)

Keterangan :

No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket

1 P3 - Pre 11 P0 + Pre 21 P1 + Pre

2 P3 + Post 12 P0 - Post 22 P1 + Post

3 P3 + Pre 13 P4 + Pre 23 P1 + Pre

4 P3 + Post 14 P4 + Post 24 P1 + Post

5 P1 + Pre 15 P4 + Pre

6 P1 + Post 16 P4 + Post

7 P2 + Pre 17 P3 + Pre 25 kontrol

positif

Bifidobacterium animalis

8 P2 + Post 18 P3 + Post

9 P0 + Pre 19 P3 + Pre 26 kontrol

negative

Nuclease free water

(29)

Gambar 12. Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) Bifidobakteria, N0 1-24 sampel, kontrol positif Bifidobacterium animalis (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no 26) Keterangan :

No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket

1 P3 + Pre 11 P3 + Pre 21 P2 + Pre

2 P3 + Post 12 P3 + Post 22 P2 + Post

3 P2 + Pre 13 P1 + Pre 23 P4 - Pre

4 P2 + Post 14 P1 - Post 24 P4 - Post

5 P4 + Pre 15 P1 - Pre

6 P4 + Post 16 P1 - Post

7 P4 - Pre 17 P4 + Pre 25 kontrol

positif

Bifidobacteri um animalis

8 P4 + Post 18 P4 - Post

9 P3 + Pre 19 P0 + Pre 26 kontrol

negative

Nuclease free water

10 P3 + Post 20 P0 + Post

Gambar 11 dan 12 menunjukkan bahwa pada balita kelompok biskuit kontrol P0 (Bbs + KnP) Gambar 11 (M9,M10,M11,M12) dan Gambar 12 (M19,M20) pada akhir intervensi 25 persen teridentifikasi positif bakteri Bifidobacteria, 60 persen balita kelompok perlakuan P1 (Btp + KnP) dan P4 (Btp + KP selang 1 hari) teridentifikasi positif, sedangkan balita kelompok P2 (Bbs + KP) dan P3 (Btp + KP rutin) 100 persen teridentifikasi positif Bifidobacteria (Tabel 46). Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian biskuit fungsional yang mengandung tinggi protein dan krim probiotik rutin tiap hari maupun selang 1 hari dapat mempertahankan dan juga meningkatkan keberadaan Bifidobacteria pada saluran pencernaan balita. Bifidobacteria merupakan bagian terbesar mikrobiota dalam usus normal dan berperan penting dalam perlawanan terhadap bakteri dan mikroorganisme membahayakan (Pirrainen et al 2008),

(30)

merangsang system kekebalan, membantu pencernaan dan penyerapan gizi makanan. Namun populasi Bifidobakteria terus menurun dengan bertambahnya umur kecuali ditambahkan dalam makanan atau minuman. Populasi Bifidobacteria dipengaruhi oleh sejumlah faktor meliputi jenis diet, antibiotik dan stress (Wahyudi & Samsundari 2008). Peningkatan populasi Bifidobacteria di dalam saluran pencernaan, dapat dilakukan antara lain dengan pemberian gizi yang baik dan lingkungan yang stabil (Lu & Walker 2001) dan menambahkan proporsi probiotik (Surono 2004; Pirrainen et al 2008) agar bakteri yang baik (Bifidobacteria) di dalam saluran pencernaan dapat berkembang dengan baik, sehingga mampu bersaing dalam mengurangi kemampuan bakteri pathogen mendominasi saluran pencernaan. Sebaran balita contoh berdasarkan hasil PCR Bifidobacteria pada feses disajikan pada Tabel 46.

Tabel 46 Sebaran balita contoh berdasarkan hasil PCR Bifidobacteria

Hasi Uji PCR Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Awal Intervensi - Negatif 4 100 1 20 0 0 1 16.0 3 50.0 - Positif 0 0 4 80 3 100 5 84.0 3 50.0 Total 4 100 5 100 3 100 6 100 6 100 Akhir Intervensi - Negatif 3 75.0 2 40.0 0 0 0 0 2 33.3 - Positif 1 25.0 3 60.0 3 100 6 100 4 66.7 Total 4 100 5 100 3 100 6 100 6 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

5.2. Bakteri Enterococcus faecium

Bakteri Enterococcus faecium adalah salah satu jenis spesies dari bakteri asam aktat (BAL) yang terdapat dalam usus manusia. BAL memiliki peranan penting pada kehidupan manusia sebagai bagian dari mikrobiota normal pada saluran pencernaan. E. faecium merupakan bakteri penumpang sementara, sehingga sangat perlu digantikan secara terus menerus. Dalam beberapa studi E. faecium bersifat resisten terhadap antibiotk spektrum luas dan terbukti efektif dalam mengurangi frekuensi diare (Wahyudi & Samsundari 2008). Hasil analisis PCR E. faecium dalam fekal balita, menggunakan Primers EM1A-EM1B; dengan kontrol positif Enterococcus faecium ATCC 19434 (No 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no26) disajikan pada Gambar 13 dan 14.

(31)

Gambar 13. Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) E. faecium, N0 1-24 sampel, kontrol positif E. faecium ATCC 19434 (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no 26) Keterangan :

No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket

1 P3 - Pre 11 P0 - Pre 21 P1 - Pre

2 P3 + Post 12 P0 - Post 22 P1 + Post

3 P3 - Pre 13 P4 - Pre 23 P1 - Pre

4 P3 + Post 14 P4 + Post 24 P1 - Post

5 P1 - Pre 15 P4 - Pre

6 P1 + Post 16 P4 + Post

7 P2 + Pre 17 P3 - Pre 25 kontrol

positif

Enterococcus faecium ATCC 19434

8 P2 - Post 18 P3 - Post

9 P0 - Pre 19 P3 - Pre 26 kontrol

negative

Nuclease free water

10 P0 - Post 20 P3 + Post

Gambar 14. Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) E. faecium, N0 1-24 sampel, kontrol positif E. faecium ATCC 19434 (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no 26)

(32)

Keterangan:

No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket No Perlakuan Hasil Ket

1 P0 - Pre 11 P3 - Pre 21 P2 - Pre

2 P0 - Post 12 P3 - Post 22 P2 - Post

3 P2 - Pre 13 P1 - Pre 23 P4 - Pre

4 P2 - Post 14 P1 - Post 24 P4 + Post

5 P4 - Pre 15 P1 - Pre

6 P4 + Post 16 P1 + Post

7 P4 - Pre 17 P4 - Pre 25 kontrol

positif

Enterococcus faecium ATCC 19434

8 P4 + Post 18 P4 + Post

9 P3 - Pre 19 P0 - Pre 26 kontrol

negative

Nuclease free water

10 P3 + Post 20 P0 - Post

Gambar 13 dan 14 dan Tabel 47 menunjukkan bahwa pada feses balita kelompok biskuit kontrol P0 (Bbs + KnP) pada Gambar 13 (M10,M12) dan Gambar 14 (M2,M20) pada awal maupun pada akhir intervensi (selama 90 hari) 100 persen tetap tidak teridentifikasi adanya bakteri E. faecium, sedangkan balita kelompok perlakuan P1 (Btp + KnP), P2 (Bbs + KP), P3 (Btp + KP rutin) dan P4 (Btp + KP selang hari) teridentifikasi positif E. faecium yang meningkat. Peningkatan feses balita yang teridentifikasi positif pada kelompok P1 (Btp + KnP) relatif sama dengan balita pada kelompok P2 (Bbs + KP), sedangkan peningkatan teringgi pada balita kelompok P3 dan P4 (Tabel 47). Balita kelompok biskuit fungsional P3 (Btp + KP rutin) pada Gambar 13 (M2, M4, M18, M20) dan Gambar 14 (M10, M12) sebanyak 66.7 persen dan P4 (Btp + KP selang 1 hari) pada Gambar 13 (M14,M16) dan Gambar 14 (M6,M8,M18,M24) sebanyak 100 persen positif E.faecium (Tabel 47). Hal ini mengindikasikan bahwa adanya E. faecium pada feses sebagai refleksi saluran pencernaan balita adalah efek dari pemberian biskuit fungsional dengan probiotik E. faecium IS 27526 baik rutin tiap hari maupun selang 1 hari. Komponen yang terdapat dalam biskuit fungsional yaitu isolat protein kedelai dan tepung protein ikan lele Dumbo ternyata dapat memberikan efek prebiotik yang dapat menunjang viabilitas probiotik Enteroccocus faecium IS-27526. Hal ini sejalan dengan penelitian pada tikus percobaan Harianti (2009) dimana selain dapat meningkatkan berat badan tikus, pemberian biskuit fungsional juga meningkatkan kandungan BAL dalam feses. Sinbiotik prebiotik dan probiotik dapat memberikan efek pada host dengan meningkatkan kelangsungan dan keberadaan mikroorganisme yang menguntungkan (NICUS 2007).

(33)

Tabel 47 Sebaran balita berdasarkan hasil PCR Enterococcus faecium Hasil Uji PCR Kelompok Perlakuan P0 P1 P2 P3 P4 n % n % n % n % n % Awal Intervensi - Negatif 4 100 5 100 3 100 6 100 6 100 - Positif 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Total 4 100 5 100 3 100 6 100 6 100 Akhir Intervensi - Negatif 4 100 3 60.0 2 66.7 2 33.3 0 0 - Positif 0 0 2 40.0 1 33.3 4 66.7 6 100 Total 4 100 5 100 3 100 6 100 6 100

Keterangan:P0 :Bbs + KnP; P1:Btp + Knp; P2 :Bbs + Kp; P3 :Btp + Kp rutin; P4 :Btp + Kp sela 1 hr

5.3. Bakteri Fekal E. coli

Escherichia coli (E.coli) adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negative dan merupakan bakteri yang sangat umum dikenal. Walaupun ditemukan dimana-mana, termasuk pada tubuh manusia (pada umumnya ditemukan dalam usus besar), strain E.coli pada umumnya berbahaya karena diantaranya dapat menyebabkan diare dan bahkan kematian. Namun kehadirannya di dalam usus besar manusia merupakan keadaan normal untuk mendukung kesehatan (Wahyudi & Samsundari 2008). Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) E. coli dalam feses balita contoh dengan Primers Universal Stress Protein A (uspA),kontrol positif E. coli uspA (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water disajikan Gambar 15 dan 16.

Gambar 15. Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) E. coli, N0 1-24 sampel, kontrol positif E. coli uspA (no 25) dan kontrol negatif Nuclease free water (no 26)

Gambar

Tabel 18 Sebaran keluarga balita berdasarkan kondisi fisik rumah
Tabel  19  Sebaran keluarga  berdasarkan kondisi MCK
Tabel   20  Sebaran keluarga balita berdasarkan sumber air minum  Sumber Air  Minum  Kelompok  Perlakuan P0 P1 P2  P3  P4  n  %  n  %  n  %  n  %  N  %  PAM  2  11.1  1  6.7  4  25.0  4  22.2  2  12.5  Sumur tertutup  9  50.0  6  40.0  6  37.5  5  27.8  4
Tabel   23  Sebaran keluarga  berdasarkan besar keluarga
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa strategi/sisi kreatif yang tampak dan dapat diterapkan pada perancangan buku pop-up , dalam

Menurut Handoko (2000) semangat kerja karyawan akan tercermin dari karyawan yang selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku mau bekerja dengan sungguh-sungguh,

Rendahnya volume kayu per hektar dan nilai kayu mangrove pada kawasan tersebut disebabkan tingginya aktivitas pengambilan kayu mangrove sebagai kayu cerocok, bahan baku

 Jarak pandang menyiap (Jd) yaitu jarak pandang yang dibutuhkan dapat menyiap kendaraan lain yang berada pada lajur jalannya dengan menggunakan lajur untuk arah

Dari keterangan di atas, ada dua jenis pemeriksaan berdasarkan lokasi, yaitu pemeriksaan kantor (room audit) dan pemeriksaan lapangan (field audit). Pada pemeriksaan kantor

Jika bahu mangsa terkehel, lengan atas, lengan bawah atau pergelangan tangan patah, gunakan sandang lengan terbuka seperti yang ditunjukkan.. Dapatkan bantuan perubatan

Adapun manfaat pengukuran kinerja peranannya sebagai alat manajemen adalah untuk: (1) Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan untuk pencapaian kinerja,

Dari hasil postest dari kedua sampel tersebut kemudian dilakukan uji normalitas untuk mengetahui sampel tersebut berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas