Bab I
Pendahuluan
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang penelitian yang berkenaan dengan topik yang akan dibahas, perumusan masalah di perusahaan tempat penelitian yang akan menjadi topik pembahasan, menentukan tujuan penelitian yang akan menjadi acuan melakukan perancangan lebih lanjut, menerangkan manfaat – manfaat dari penelitian yang akan dilakukan dan menentukan batasan masalah agar ruang lingkup penelitian lebih jelas.
I.1 Latar Belakang
Persaingan dunia industri di Indonesia semakin meningkat terutama pada industri tekstil, setelah Indonesia menandatangani perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China. Seiring dengan penerapan perjanjian ini, tarif Bea Masuk (BM) 108 pos tarif tekstil dan produk tekstil dari lima persen menjadi nol persen mulai 1 Januari 2010 akan menyebabkan pasar tekstil domestik dibanjiri produk China. Hal ini diperparah dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang membuat beban peusahaan di bidang tesktil menjadi lebih berat (wartakota.co.id, 2011). Oleh sebab itu, perusahaan – perusahaaan tekstil di Indonesia harus mampu bersaing dengan produk – produk impor yang akan membanjiri pasar. Salah satu usaha untuk dapat bersaing dengan produk – produk impor selain dengan peningkatan kualitas produk adalah dengan meningkatkan produktivitas perusahaan. Perusahaan pun bisa menurunkan biaya produksi terutama material
handling cost dan biaya yang terkait dengan tata letak pada lantai produksi, karena
beberapa sumber menyatakan bahwa kegiatan pemindahan barang atau pengangkutan pada suatu perusahaan tertentu dapat mencapai sekitar 50% - 70% kegiatan produksi, dan bukan 20% atau 10% seperti biasanya dikemukakan (Apple, 1990). Hal ini dikarenakan aktivitas produksi suatu industri secara normal berlangsung lama dengan tata letak yang tidak selalu berubah-ubah, maka setiap kekeliruan yang dibuat didalam perencanaan tata letak ini akan menyebabkan kerugian-kerugian yang tidak kecil. Maka dari itu, tujuan utama didalam perencanaan tata letak pabrik pada dasarnya adalah untuk meminimalkan total biaya yang antara lain menyangkut elemen-elemen biaya sebagai berikut (Wignjosoebroto, 2009):
a) Biaya untuk konstruksi dan instalasi baik untuk bangunan mesin, maupun fasilitas produksi lainnya.
b) Biaya pemindahan bahan (material handling cost).
c) Biaya produksi, maintenance, safety, dan biaya penyimpanan produk setengah jadi.
PT. Satya Sumba Cemerlang adalah perusahaan textile yang bergerak dibidang jasa dengan menggunakan sistem make to order sehingga perusahaan berproduksi sesuai dengan pesanan dari konsumen. PT. Satya Sumba Cemerlang yang terletak di daerah Majalaya kabupaten Bandung, telah beroperasi sejak tahun 1984. Pada mulanya perusahaan hanya memiliki satu departemen saja, yakni departemen
Dyeing (pencelupan benang) dengan luas lantai produksi sebesar 1599 m2. Pada
januari 2010, perusahaan membuat departemen baru yaitu departemen weaving (pertenunan benang hingga menjadi kain greige).
Perusahaan telah melakukan 3 kali perluasan pada lantai produksi yaitu pada tahun 2000 sebesar 1700 m2, tahun 2006 sebesar 140 m2, dan pada tahun 2010 sebesar 217 m2. Penambahan departemen baru yakni departemen weaving dan perluasan pabrik secara bertahap ini, berdampak pada tata letak fasilitas pabrik yang tidak teratur dan diletakkan secara random. Misalnya saja mesin-mesin untuk tiap departemen masih diletakkan bercampur, tidak dikhusukan berdasarkan masing-masing departemen. Sedangkan perusahaan hanya memproduksi 1 jenis produk untuk masing-masing departemen dengan diproduksi secara masal dan memerlukan waktu produksi yang cukup lama, maka dari itu layout yang cocok adalah product layout dimana semua fasilitas produksi yang diperlukan diatur dan ditempatkan kedalam satu departemen secara khusus. Salah satu contoh adalah mesin Direct Warping dan Sizing yang merupakan salah satu fasilitas dari departemen Weaving berada satu ruangan dengan fasilitas-fasilitas dari departemen Dyeing sehingga terjadi back tracking yang membuat pekerja bolak-balik untuk mengambil material untuk dikerjakan. Back tracking dapat menambah total jarak perpindahan bahan pada lantai produksi yang mengakibatkan total momen perpindahan material bertambah pula. Selain itu, terdapat pula beberapa mesin yang jaraknya cukup jauh walaupun prosesnya berurutan yang membuat aktivitas material handling yang cukup tinggi, sehingga layout menjadi tidak
efisisien. Berikut adalah data waktu perpindahan material beserta jarak perpindahannya:
Tabel I.1 Jarak perpindahan material
Dari Ke Jarak
Gudang Benang Sofcone 120,00
Softcone Dying 90
Dying Centrifugal 15,00
Centrifugal RF 22,00
Centrifugal Coneup 70,00
RF Cone up 80,00
Cone up Gudang Benang 125,00
Gudang Benang Direct Warping 59,00 Gudang Benang Sectional Warping 144,00
Direct Warping Sizing 2,00
Sizing Reaching 78,00
Sectional Warping Reaching 7,00
Reaching Weaving 7,00
Weaving Inspection 37,00
Inspection Folding 12,00
Folding Gudang Kain 124,00
(Sumber data: PT. Satya Sumba Cemerlang)
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan memperbaiki dan melakukan penataan ulang fasilitas pabrik dengan pendekatan yang bisa meminimalkan aktivitas material handling. Hal ini dikarenakan, perancangan tata letak pabrik yang baik akan membuat kegiatan – kegiatan produksi yang terjadi di perusahaan akan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan tata letak fasilitas pabrik yang tidak terencana sebelumnya. Tata letak fasilitas pabrik yang baik membuat aliran proses dalam sistem menjadi teratur sehingga aliran bahan dalam sistem dan jarak perpindahan dapat diminimalkan. Aliran barang biasanya merupakan tulang punggung fasilitas produksi, dan harus dirancang dengan cermat serta tidak boleh dibiarkan tumbuh atau berkembang menjadi satu pola lalulintas yang membingungkan bagai benang kusut (Apple, 1990). Metode yang akan digunakan dalam melakukan perancangan tata letak fasilitas pada PT. Satya Sumba Cemerlang adalah dengan menggunakan
algoritma CRAFT, karena kriteria dasar yang digunakan adalah meminimumkan biaya material handling.
I.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana usulan perbaikan tata letak fasilitas lantai produksi PT. Satya Sumba Cemerlang dengan menggunakan algoritma CRAFT ?
2. Bagaimana mensimulasikan tata letak fasilitas existing dan usulan pada PT. Satya Sumba Cemerlang?
I.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini berdasarkan permasalahan yang terjadi adalah sebagai berikut:
1. Memberikan usulan perbaikan tata letak fasilitas lantai produksi PT. Satya Sumba Cemerlang dengan menggunakan algoritma CRAFT.
2. Mensimulasikan tata letak fasilitas eksisting dan usulan PT. Satya Sumba Cemerlang.
I.4 Batasan Penelitian
Untuk mengarahkan penelitian agar mencapai maksud serta tujuan yang direncanakan, maka penulis membatasi kajian permasalahan sebagai berikut: 1. Penentuan tata letak fasilitas dilakukan pada proses produksi pencelupan
benang dengan produksi 120 kg cheese dan produksi pertenunan 1 beam dengan panjang 1200 meter.
2. Perhitungan jarak antar fasilitas akan menggunakan metode rectilinear.
3. Rancangan tata letak faslitias yang baru disusun berdasarkan ongkos material
handling (OMH) yang minimum.
4. Tidak memperhatikan kerusakan pada mesin dan peralatan pada PT. Satya Sumba Cemerlang.
5. Tingkat keahlian dan metode kerja operator tidak menjadi pembahasan.
6. Tidak membahas mengenai biaya pemindahan mesin, perluasan pabrik, biaya produksi, dan biaya-biaya lainnya yang terkait dengan usaha untuk pengaplikasian layout usulan.
I.5 Manfaat Penelitian I.5.1 Manfaat bagi Penulis
1. Dapat menambah kemampuan dalam bidang tata letak fasilitas.
2. Dapat mengimplementasikan keilmuan Teknik Industri di dunia nyata.
I.5.2 Manfaat bagi Perusahaan (PT. Satya Sumba Cemerlang)
1. Memberikan usulan tata letak fasilitas yang lebih efektiv dan efisien dalam hal pemanfaatan ruang dan aliran produk yang lebih teratur, sehingga dapat meningkatkan efisiensi perusahaan dalam hal material handling.
I.6 Kontribusi Penelitian I.6.1 Kontribusi pada Keilmuan
Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan penelitian dibidang industry untuk memperbaiki tata letak pabrik.
Kajian penelitian ini diharapkan dapat menambah kontribusi terhadap penelitian-penelitian sebelumnya yang telah mengkaji permasalahan tata letak pabrik pada lantai produksi.
I.6.2 Kontribusi pada Praktik
Berkaitan dengan kebutuhan praktis bagi perusahaan-perusahaan, temuan dari penelitian ini diharapkan dapat:
1. Memberikan masukan-masukan bagi perusahaan, terutama perusahaan di sector manufaktur maupun tekstil.
2. Memberikan masukan berupa perencanaan tata letak yang baik bagi perusahaan.
I.7 Sistematika Penulisan Bab 1 Pendahuluan
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang permasalahan yang terjadi pada PT. Setya Sumba Cemerlang, merumuskan permasalahan yang terjadi pada perusahaan, tujuan dari penelitian yang akan dilakukan, manfaat yang dapat diberikan kepada perusahaan, batasan-batasan masalah yang dapat membuat
penelitian yang dilakukan lebih terfokus, dan sistematika penulisan yang akan digunakan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian. Teori-teori tersebut didapatkan berdasarkan hubungan dengan metode dan algoritma yang akan digunakan dalam penelitian. Teori yang digunakan meliputi pengertian dan definisi tata letak fasilitas, pemindahan barang (Material Handling), dan algoritma penyelesaian tata letak fasilitas dan ProModel.
Bab III Metodologi Penelitian
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai model konseptual dan langkah-langkah yang harus ditempuh selama penelitian dilakukan sehingga solusi dan usulan perbaikan dapat diperoleh. Langkah-langkah tersebut disusun secara sistematis hingga Langkah-langkah-Langkah-langkah tersebut dapat diuraikan dengan terperinci.
Bab IV Pengumpulan Dan Pengolahan Data
Bab ini membahas mengenai pengumpulan data dari layout awal dan cara pengolahan data tersebut. Sub bab pengumpulan data berisi informasi mengenai data-data yang diperlukan untuk merancang ulang tata letak fasilitas lantai produksi PT. Satya Sumba Cemerlang, yang meliputi data layout awal yang diambil adalah data luas area, aliran material, dan frekuensi perpindahan material. Data-data tersebut didapatkan dengan melakukan wawancara dengan operator dan melakukan observasi langsung di lantai produksi. Selanjutnya pada sub bab pengolahan data, dilakukan perhitungan kebutuhan mesin, dilanjutkan dengan perhitungan luas area yang dibutuhkan, lalu perhitungan dengan menggunakan algoritma CRAFT sehingga menghasilkan layout usulan. Lalu dilakukan simulasi layout eksisting dan layout usulan.
Bab V Analisis
Pada bab ini akan dilakukan analisis mengenai hasil software WinQSB yang mencakup analisis pemilihan alternatif dan analisis penyesuaian, serta analisis kebutuhan mesin, analisis kebutuhan ruang, dan analisis layout usulan. Selain itu, akan dilakukan juga analisis terhadap hasil simulasi dari proses produksi yang membandingkan kinerja tata letak eksisting dan tata letak usulan Bab VI Penutup
Bab ini membahas mengenai kesimpulan dan saran. Kesimpulan diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan dan berkaitan dengan tujuan penelitian. Saran diberikan kepada perusahaan dari hasil kesimpulan yang diperoleh dan diberikan juga untuk penelitian selanjutnya.