BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan di Bumi tanpa air, maka kehidupan di bumi akan punah. Namun akhir akhir ini air menjadi barang yang langka, bahkan Wakil presiden Bank Dunia, Ismail Serageldin dalam Forum Air Sedunia (World Water Forum /WWF) pada tahun 1995 mengatakan bahwa perang di masa depan tidak lagi dipicu oleh perebutan emas hitam (minyak), tetapi oleh emas biru (air). Pada masa mendatang, air menjadi barang paling berharga bagi umat manusia. Krisis air juga selalu menjadi biang mencuatnya berbagai konflik kepentingan. kondisi air bersih dunia benar-benar di ambang krisis. Hal itu disebabkan kebutuhan air bersih dunia meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun akibat pertambahan jumlah penduduk yang sangat besar. Implikasi yang ditimbulkan dari kondisi tersebut antara lain satu di antara lima penduduk dunia tidak mempunyai akses pada air bersih. Begitupun dengan kota-kota besar di Indonesia, seperti kota Jakarta.
Menurut data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menunjukkan bahwa penyedotan air bawah tanah di DKI Jakarta—baik legal maupun ilegal— telah sampai pada tahap defisit. Penyedotan air tanah Jakarta pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 251,8 juta meter kubik. Angka tersebut belum termasuk air tanah yang disedot untuk proyek pembangunan dan industri. Sesuai ketentuan, batas aman penyedotan air tanah adalah 20-30 persen dari potensi keseluruhannya yang mencapai 532 juta meter kubik per tahun atau sekitar 186,2 juta meter kubik. Dari hasil analisa keseluruhan pada tahun 2005 menunjukkan adanya "defisit" air bawah tanah sebesar 66,6 juta meter kubik (belum termasuk eksploitasi air bawah tanah untuk proyek pembangunan dan industri, yang berjumlah besar). Keadaan ini menunjukkan kritisnya sumber air tanah serta perlunya upaya mengendalikan penggunaan air tanah tersebut
Akibat pemanfaatan air tanah secara besar-besaran, maka kondisi air tanah di DKI Jakarta memprihatinkan. Bahkan, ada yang menyebut bahwa cadangan air tanah di kota yang berpenghuni hampir 12 juta orang ini hanya cukup untuk keperluan sembilan tahun ke depan. Sementara pelayanan air bersih dari perusahaan air minum (PAM Jaya) belum maksimal.
Salah satu solusi yang diambil pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi krisis air tanah tersebut dengan sumur resapan yang dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 68 tahun 2005 tanggal 8 Juni 2005. Sumur resapan adalah teknologi sederhana yang dibuat untuk menampung dan meresapkan air hujan atau upaya untuk menambah cadangan air tanah.
Dari data Pemprov DKI Jakarta mencatat saat ini sumur resapan yang sudah dibangun baru mencapai 37.840 titik atau sekitar 16,71 persen dari total kebutuhan 226.466 titik. Maka untuk itu Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mencanangkan Gerakan Peduli Sumur Resapan yang diprakarsai Dinas Pertambangan Provinsi DKI Jakarta dengan mengambil lokasi di pusat belanja Senayan City, Jakarta. Sumur resapan sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian cadangan air tanah, serta menjamin ketersediaan air bersih bagi warga Jakarta.
Bahkan sumur resapan ini menjadi salah satu upaya yang diandalkan Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah krisis air tanah di DKI Jakarta. Hal ini ditandai dengan pencanangan gerakan sumur resapan untuk menyelamatkan air tanah di DKI Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta. upaya menjaga kelestarian air tanah yang berkelanjutan harus dilakukan untuk melestarikan air tanah, dan salah satu cara yang efektif adalah dengan membuat sumur resapan.
Melihat hal tersebut, maka mendorong keingintahuan penulis untuk meneliti apakah kebijakan sumur resapan bersifat antisipatif atau hanya merupakan kebijakan yng bersifat responsif semata dalam menjawab masalah krisis air tanah di DKI Jakarta.
I.2. Permasalahan
Secara umum terjadinya krisis air tanah di DKI Jakarta karena pengambilan air tanah melebihi dari kemampuan pengisian kembali air tanah. Pengambilan air tanah tersebut akibat dari belum memadainya pelayanan PAM Jaya, sehingga mengakibatkan pengambilan air tanah sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Sementara disisi lain ketersediaan air tanah semakin menurun akibat degradasi lingkungan yang menyebabkan kemampuan tanah mengisi kembali semakin berkurang seiring dengan semakin menurunnya luas jumlah daerah tangkapan air hujan di Bopunjur.
Berkaitan dengan masalah tersebut, maka akan diteliti apakah sumur resapan merupakan solusi yang dapat diandalkan utuk menjawab masalah krisis air tanah di DKI Jakarta.
1.3. Pertanyaan penelitian
Bedasarkan permasalahan di atas, dapat diketahui bahwa krisis air tanah di DKI Jakarta disebabkan berbagai faktor. Untuk itu penelitian ini dilakukan guna menjawab pertanyaan ”Apakah kebijakan sumur resapan dapat menjawab masalah krisis air tanah di DKI Jakarta” . Dari pertanyaan tersebut dapat dirinci pertanyaan-pertanyaan berikut :
• Faktor-faktor apa yang mempengaruhi efektifitas kebijakan sumur resapan?
• Bagimana kondisi dari faktor-faktor tersebut?
I.4. Tujuan penelitian
Mengacu pada persoalan sebelumnya, maksud dari penelitian ini adalah agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian diatas. Dengan tujuan didapatkan suatu gambaran pengelolaan sumber air dan permasalahannya. Sehingga dengan mengetahui segala permasalahannya maka dapat menjawab apakah kebijakan sumur resapan dapat menjawab masalah krisis air tanah di DKI Jakarta.
1.5. Signifikansi Penelitian
Air adalah merupakan suatu yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan manusia. air tanah merupakan salah satu sumber air yang banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya karena umumnya air tanah mempunyai kualitas yang lebih baik dari air permukaan. Namun air tanah jumlahnya terbatas. Walaupun pada dasarnya air tanah merupakan siklus yang secara alamiah bisa diperbarui, namun prosesnya berlangsung selama ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun. Karena itu sumberdaya air harus terjaga kelestariannya.
Melihat pentingnya masalah air tanah tersebut, maka dalam penelitian peneliti ingin mengetahui seberapa besar peran kebijakan sumur resapan untuk mengatasi krisis air tanah di DKI Jakarta.
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai literatur maupun bahan rujukan bagi beberapa pihak yang akan melakukan penelitian lanjutan, juga sebagai bahan masukan bagi pemerintah (institusi pengelola) dalam upaya untuk mengatasi masalah krisis air tanah.
1.6. Metodologi Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Salah satu karakter pendekatan ini adalah berusaha melihat suatu realitas sosial berdasarkan konteksnya, memahaminya secara komprehensif, kemudian berusaha membangun konsep dari bawah (grounded).
Sesuai dengan tujuan penelitian yang bermaksud untuk memahami pengelolaan sumberdaya air secara mendalam dan menemukan pola serta memahami inti permasalahannya, maka pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, di mana dengan pendekatan ini dapat digali informasi secara lebih rinci.
Dalam Penelitian ini untuk memahami permasalahan krisis air tanah di DKI Jakarta, penulis menggunakan Teori Pengelolan Sumberdaya Air. Melalui pendekatan ini, permasalahan yang ada pada masalah krisis air tanah dapat diidentifikasi. Dengan mengetahui masalah-masalah yang ada, maka dapat diketahui apakah kebijakan sumur resapan dapat menjawab masalah krisis air tanah yang terjadi di DKI Jakarta.
Langkah awal penelitian adalah memahami terlebih dahulu mengenai pengelolaan air di DKI Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang terjadi di dalam pengelolaan air di DKI Jakarta Dengan diidentifikasi, sehingga dapat diketahui apakah kebijakan sumur resapan dapat menjawab masalah krisis air di DKI Jakarta.
I.6.1 Teknik Pengumpulan Data A. Observasi
Pada kegiatan observasi lapangan ini peneliti ingin melihat dan mengamati langsung kondisi dan fakta secara umum yang ada di DKI Jakarta. Bagaimana kondisi di lapangan apakah memenuhi persyaratan untuk pembangunan sumur resapan.. Pertimbangannya adalah agar pemahaman terhadap persoalan yang
diteliti dan penjaringan data dapat optimal dan komprehensif serta mampu mengungkap perkembangan riil di lokasi studi.
B. Wawancara
Wawancara bertujuan untuk mengungkapkan pandangan-pandangan atau pendapat pengambil keputusan, pelaksana di lingkungan Ditjen Sumberdaya Air Departemen Pekerjaan Umum mengenai masalah krisis air tanah di DKI Jakarta dan kebijakan sumur resapan, respondennya adalah Direktur Sumberdaya Air, Kepala Seksi yang kemudian akan ditafsirkan atau diinterpretasikan kembali sebagai bentuk analisis yang komprehensif.
C. Mengumpulkan Data-Data Sekunder
Selain data-data primer yang didapatkan dilapangan, baik melalui observasi maupun melalui wawancara, Sebagai masukan, data-data diperoleh dari data sekunder berupa data statistik dan data-data dari berbagai sumber di Biro Pusat Stastistik (BPS), Direktorat Sumber Daya Air Dep. PU, BPLHD DKI Jakarta, Dinas Pertambangan DKI Jakarta dan selain itu data-data juga didapatkan dari rekaman koran serta media elektronik (internet).
Semua data yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data-data sekunder ini akan digunakan sebagai pedoman dan acuan sekaligus sebagai perbandingan dalam tahap analisis.
I.6.2 Analisis Data
Metode pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif, di mana dengan pendekatan ini dapat digali informasi secara lebih rinci.. Data-data tersebut akan dianalisis dengan dua macam teknik analisis, yakni deskriptif kualitatif dan deskriptif interpretatif. Analisis diskriptif kualitatif dipakai untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sumberdaya air di DKI Jakarta dan apa saja kendala
dalam pengelolaan sumberdaya air. Sedangkan interpretasi data dapat dilakukan untuk lebih mendalami tentang kenyataan sosial yang terjadi yang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk data, seperti dokumen-dokumen, catatan data sekunder, transkrip dan sejumlah hasil wawancara yang dilakukan mendalam tersebut.
Untuk pembahasan hasil penelitian atau data temuan maka teori atau perspektif yang dinilai relevan seperti yang telah dikemukakan dalam tinjauan pustaka digunakan untuk menjelaskan hasil penelitian dalam upaya memberi analisis, penjelasan teoritik, sehingga melahirkan pernyataan baik yang tidak paralel maupun yang paralel. Dengan demikian maka terjadi diskusi teoritik sebagai proses pembuktian kebenaran rumusan hipotesis sehingga secara logis dan rasional terjawab permasalahan penelitian.
I.6.3 Lokasi Penelitian
Secara umum penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta, karena berbagai keterbatasan seperti keterbatasan dana, tenaga, dan waktu serta pertimbangan fokus dan kedalaman studi ini, maka lokasi dipilih hanya di beberapa daerah yang dapat mewakili daerah yang diteliti .
I.6.4 Validitas
Proses kerja penelitian merupakan kerja ilmiah, sebuah proses kerja ilmiah dikatakan memenuhi kriteria objektifitas jika persyaratan kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability) dipenuhi.
Pada penelitian ini, pengujian keabsahan data akan dilakukan dengan uji kredibilitas data. Uji kredibilitas data dapat dilakukan dengan : perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, member check dan analisis kasus negatif. Pada penelitian ini dilakukan pengujian triangulasi data. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber, berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian tedapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data
dan waktu. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan ketiga triangulasi data ini untuk mendapatkan data yang kredibel.
I.7. Sistematika pembahasan
Sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan
Pemaparan pola pikir kajian berupa: latar belakang permasalahan air tanah; rumusan permasalahan; pertanyaan penelitian; tujuan penelitian; metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Kerangka Teori
Pada Bab ini akan memaparkan tinjauan teoritis mengenai teori-teori mengenai air tanah, kebijakan sumur resapan serta acuan yang berkaitan dengan konsep-konsep, strategi dan kebijakan yang berkaitan pengelolaan sumberdaya air.
Bab III Kondisi Eksisting Jakarta
Pada bab ini akan membahas secara detail profil wilayah penelitian Propinsi DKI Jakarta mengenai kondisi fisik lingkungan, sumberdaya air dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
Bab IV Analisis dan Pembahasan
Bab ini akan menyajikan hasil penelitian yang diperoleh. Isi utama bab ini adalah analisis dan interprestasi hasil atau output pengolahan data. Pada bab ini akan terfokus pada kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitasnya. Kemudian juga dianalisis bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kebijakan sumur resapan. Dengan demikian akan didapatkan jawaban apakah kebijakan sumur resapan dapat menjawab masalah krisis air tanah di DKI Jakarta.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan-kesimpulan penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang diajukan baik untuk pembuat kebijakan maupun saran untuk penelitian lanjutan.