1. Institusi Politik dan Amandemen Konstitusi
Kata institusi berasal dari bahasa Latin, instituere yang memiliki makna sesuatu yang diwujudkan atau dibangun.Ini berarti bahwa institusi adalah satu corak kegiatan atau aktivitas manusia yang berwujud dan berkelanjutan. Istilah Institusi begitu populer di kalangan sarjana sains politik, karana institusi menjadi pusat kepada segala tindak tanduk manusia. Pandangan mengenai institusi dipelopori oleh ahli sosiologi yang kemudian istilah ini diadaptasi dan digunakan oleh ahli sains politik untuk menjelaskan kegiatan politik.
Institusi politik wujud daripada proses-proses sosial terutama yang mengatur susunan masyarakat. Sekaligus ini menggambarkan bahwa kepentingan kelompok –kelompok tertentu yang sentiasa dijaga dan dipertahankan oleh mereka melalui proses penyertaan dan pelibatan politik. Institusi politik bukan saja menjelaskan ciri-ciri tingkahlaku pemegang kuasa tetapi ia juga mempengaruhi bagaimana organisasi sosial dapat berinteraksi serta dapat bertindak mempertahankan kepentingan mereka.Negara sebagai salah satu unsur penting dari politik, maka Negara menjadi “rumah” bagi institusi politik.Pengelompokan institusi utama politik terbagi dalam lembaga Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.
Fungsi-fungsi legislatif
Di Negara Indonesia lembaga legislatif lebih dikenal dengan nama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota.
Berdasarkan UU Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai berikut: a. jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
b. jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak- banyak 100 orang;
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di ibu kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna DPR.
Lembaga negara DPR yang bertindak sebagai lembaga legislatif mempunyai fungsi berikut ini : 1. Fungsi legislasi, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang.
2. Fungsi anggaran, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
3. Fungsi pengawasan, artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan terhadap pemerintahan yang menjalankan undang-undang.
DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut.
1. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas bagi kehidupan masyarakat.
2. Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu pemerintah yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
3. Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di dalam negeri disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk memudahkan tugas anggota DPR maka dibentuk komisi-komisi yang bekerja sama dengan pemerintah sebagai mitra kerja.
C. Fungsi-Fungsi Eksekutif
Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif yaitu presiden mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Presiden mempunyai kedudukan sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Sebelum adanya amandemen UUD 1945, presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR, tetapi setelah amandemen UUD1945 presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. Presiden dan wakil presiden sebelum menjalankan tugasnya bersumpah atau mengucapkan janji dan dilantik oleh ketua MPR dalam sidang MPR. Setelah dilantik, presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan program yang telah ditetapkan sendiri. Dalam menjalankan pemerintahan, presiden dan wakil presiden tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Sebagai seorang kepala negara, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
1. membuat perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 2. mengangkat duta dan konsul. Duta adalah perwakilan negara Indonesia di negara sahabat. Duta bertugas di kedutaan besar yang ditempatkan di ibu kota negara sahabat itu.
Sedangkan konsul adalah lembaga yang mewakili negara Indonesia di kota tertentu di bawah kedutaan besar kita.
3. menerima duta dari negara lain
4. memberi gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan lainnya kepada warga negara Indonesia atau warga negara asing yang telah berjasa mengharumkan nama baik Indonesia.
Sebagai seorang kepala pemerintahan, presiden mempunyai kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan pemerintahan negara Indonesia. Wewenang, hak dan kewajiban Presiden sebagai kepala pemerintahan, diantaranya:
3. menetapkan peraturan pemerintah
4. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang- Undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa
5. memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Grasi adalah pengampunan yang diberikan oleh kepala negara kepada orang yang dijatuhi hukuman. Sedangkan rehabilitasi adalah pemulihan nama baik atau kehormatan seseorang yang telah dituduh secara tidak sah atau dilanggar kehormatannya.
6. memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Amnesti adalah pengampunan atau pengurangan hukuman yang diberikan oleh negara kepada tahanan-tahanan, terutama tahanan politik. Sedangkan abolisi adalah pembatalan tuntutan pidana.
Selain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, seorang presiden juga merupakan panglima tertinggi angkatan perang.
Dalam kedudukannya seperti ini, presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
1. menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR
2. membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR 3. menyatakan keadaan bahaya.
D. Fungsi-fungsi yudikatif
Kekuasaan Yudikatif berwenang menafsirkan isi undang-undang maupun memberi sanksi atas setiap pelanggaran atasnya. Fungsi-fungsi Yudikatif yang bisa dispesifikasikan kedalam daftar masalah hukum berikut: Criminal law (petty offense, misdemeanor, felonies); Civil law (perkawinan, perceraian, warisan, perawatan anak); Constitution law (masalah seputar penafsiran kontitusi); Administrative law (hukum yang mengatur administrasi negara); International law (perjanjian internasional).
Fungsi-Fungsi Legislatif
Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota.
Berdasarkan UU Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai berikut: a. jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
b. jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak- banyak 100 orang;
c. jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak- banyaknya 50 orang.
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di ibu kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna DPR.
Lembaga negara DPR yang bertindak sebagai lembaga legislatif mempunyai fungsi berikut ini : 1. Fungsi legislasi, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang.
2. Fungsi anggaran, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
3. Fungsi pengawasan, artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan terhadap pemerintahan yang menjalankan undang-undang.
DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut.
1. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas bagi kehidupan masyarakat.
3. Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di dalam negeri disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk memudahkan tugas anggota DPR maka dibentuk komisi-komisi yang bekerja sama dengan pemerintah sebagai mitra kerja.
C. Fungsi-fungsi eksekutif
Eksekutif di era modern negara biasanya diduduki oleh Presiden atau Perdana Menteri. Chief of State artinya kepala negara, jadi seorang Presiden atau Perdana Menteri merupakan kepala suatu negara, simbol suatu negara. Di Indonesia sendiri lembaga eksekutif dipegang penuh oleh seorang presiden.
Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif yaitu presiden mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Presiden mempunyai kedudukan sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Sebelum adanya amandemen UUD 1945, presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR, tetapi setelah amandemen UUD1945 presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. Presiden dan wakil presiden sebelum menjalankan tugasnya bersumpah atau mengucapkan janji dan dilantik oleh ketua MPR dalam sidang MPR. Setelah dilantik, presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan program yang telah ditetapkan sendiri. Dalam menjalankan pemerintahan, presiden dan wakil presiden tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Sebagai seorang kepala negara, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
Sedangkan konsul adalah lembaga yang mewakili negara Indonesia di kota tertentu di bawah kedutaan besar kita.
3. menerima duta dari negara lain
4. memberi gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan lainnya kepada warga negara Indonesia atau warga negara asing yang telah berjasa mengharumkan nama baik Indonesia.
Sebagai seorang kepala pemerintahan, presiden mempunyai kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan pemerintahan negara Indonesia. Wewenang, hak dan kewajiban Presiden sebagai kepala pemerintahan, diantaranya:
1. memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar 2. berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR 3. menetapkan peraturan pemerintah
4. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang- Undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa
5. memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Grasi adalah pengampunan yang diberikan oleh kepala negara kepada orang yang dijatuhi hukuman. Sedangkan rehabilitasi adalah pemulihan nama baik atau kehormatan seseorang yang telah dituduh secara tidak sah atau dilanggar kehormatannya.
6. memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Amnesti adalah pengampunan atau pengurangan hukuman yang diberikan oleh negara kepada tahanan-tahanan, terutama tahanan politik. Sedangkan abolisi adalah pembatalan tuntutan pidana.
Selain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, seorang presiden juga merupakan panglima tertinggi angkatan perang.
Dalam kedudukannya seperti ini, presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
1. menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR
3. menyatakan keadaan bahaya. D. Fungsi-fungsi yudikatif
Kekuasaan Yudikatif berwenang menafsirkan isi undang-undang maupun memberi sanksi atas setiap pelanggaran atasnya. Fungsi-fungsi Yudikatif yang bisa dispesifikasikan kedalam daftar masalah hukum berikut: Criminal law (petty offense, misdemeanor, felonies); Civil law (perkawinan, perceraian, warisan, perawatan anak); Constitution law (masalah seputar penafsiran kontitusi); Administrative law (hukum yang mengatur administrasi negara); International law (perjanjian internasional).
Amandemen konstitusi
Perubahan pertama ditetapkan oleh Sidang Umum Majelis Perusyawaratan Rakyat pada tahun 1999, disusul dengan Perubahan Kedua dalam Sidang Tahunan 2000 dan Perubahan Ketiga dalam Sidang Tahunan 2001. Pada Sidang Tahunan 2002 dilakukan pula naskah Perubahan Keempat yang melengkapi perubahan sebelumnya, sehingga keseluruhan materi perubahan itu dapat disusun sekali secara lebih utuh dalam satu naskah Undang-undang dasar yang mencakup keseluruhan hukum dasar yang sistematis dan terpadu.
Perubahan pertama UUD 1945 disahkan dalam Sidang Umum MPR-RI yang diselenggarakan antara tanggal 12 sampa dengan tanggal 19 Oktober 1999. Pengesahan naskah Perubahan Pertama tepatnya dilakukan pada tanggal 19 Oktober 1999 yang dapat disebut sebagai tonggak sejarah yang berhasil mematahkan semangat konservatisme dan romantisme di sebagian kalangan masyarakat yang cenderung mensakralkan atau menjadikan UUD 1945 bagaikan sesuatu yang suci dan tidak boleh disentuh ole hide perubahan sama sekali. Perubahan Pertama ini mencakup perubahan atas 9 Pasal UUD 1945, yaitu atas Pasal 5 ayat (1), Pasal 7, Pasal 9 (ayat 1) dan ayat (2), Pasal 13 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (4), dan Pasal 21. Kesembilan Pasal yang mengalami perubahan atau penambahan tersebut seluruhnya berisi 16 ayat atau dapat disebut sebagai ekuivalen dengan 16 butir ketentuan dasar.
yang diubah pada perubahan ini memual lebih banyak lagi, yaitu mencakup 27 Pasal yang tersebar dalam 7 bab, yaitu dalam Bab VI tentang Pemerintah Daerah, Bab VII tentang dewan Perwakilan Rakyt, Bab IXA tentang Wilayah Negara, Bab X tentang Warga Negara dan Penduduk, Bab XA tentang Asasi Manusia, Bab XII tentag Pertahanan dan Keamanan Negara, dan Bab XV tentang bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Jika ke-27 Pasal tersebut dirinci jumlah ayat atau butir ketentuan yang diaturnya, maka isinya mencakup 59 butir ketentuan yang mengalami perubahan atau bertambah dengan rumusan ketentuan baru sama sekali.
Setelah itu, agenda perubahan dilanjutkan lagi dalam Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2001 yang berhasil menetapkan naskah Perubahan Ketiga UUD 1945 pada tanggal 9 November 2001. Bab-bab di dalam UUD 1945 yang mengalami perubahan dalam naskah Perubahan Ketiga ini adalah Bab I tentang bentuk dan Kedaulatan, Bab II tentang majelis Permusyawaratan Rakyat, Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara, Bab V tentang Kementrian Negara, Bab VIIA tentang Dewan Perwakilan Daerah, Bab VIIB tentang Pemilihan Umum, Bab VIIIA tentang badan Pemeriksa Keuangan. Seluruhnya terdiri atas 7 bab, 23 Pasal, dan 68 butir ketentuan atau ayat. Dari segi jumlahnya dapat dikatakan naskah Perubahan Ketiga ini memang paling luas cakupan materinya. Di samping itu, substansi yang diatur sebagian besar sangat mendasar. Materi yang tergolong sukar mendapat kesepakatan cenderung ditunda pembahasannya dalam sidang-sidang terdahulu. Oleh karena itu, selain secara kuantitaf materi Perubahan ketiga ini lebih banyak muatannya, juga dari segi isinya, secara kualitatif materi Perubahan Ketiga ini dapat dikatakan sangat mendasar pula.
Perubahan yang terakhir dalam rangkaian gelombang reformasi nasional sejak tahun 1998 sampai tahun 2002, adalah perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2002. Pengesahan naskah Perubahan Keempat ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 2002. Dalam naskah perubahan keempat ini, ditetapkan bahwa:
a) Penambahan bagian akhir pada Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dengan kalimat “Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia ke-9 pada tanggal 18 Agustus 2000 Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
b) Pengubahan penomoran Pasal 3 ayat (3) dan ayat (4) perubahan ketiga UUD NRI 1945 menjadi Pasal 3 ayat (2) dan (3), pasal 25E Perubahan Kedua UUD NRI 1945 menjadi Pasal 25A.
Penghapusan judul Bab IV DPR dan pengubaham substansi Pasal 16 serta penempatannya ke dalam Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara. Pengubahan dan/atau penabahan Pasal 2 ayat (1), Pasal 6A ayat (4), pasal 8 ayat 3, pasal 11 ayat 1, pasal 16, pasal 23B, pasal 23D, pasal 24 ayat (3), bab XIII, pasal 31 ayat1-5, pasal 32 ayat 1-2 : Bab XIV, pasal 33 ayat 4-5, pasal 34 ayat1-4, pasal 37 ayat 1-5, aturan Peralihan Pasal I,II dan III aturan Tambahan Pasal I dan II UUD 1945. Dengan demikian secara keseluruhan naskah Perubahan keempat UUD 1945 mencakup 19 pasal, termasuk satu pasal yang dihapus dari naskah UUD. Ke-19 pasal tersebut terdiri atas 31 btir ketentuan yang mengalami perubahan ditambah 1 butir yang dihapuskan dari naskah UUD.
2. Perdebatan Kekuasaan
Perdebatan tentang arti kekuasaan mempertanyakan tentang apa itu kekuasaan/power dan bagaimana mereka menjalankan atau menggunakannya. Tema ini menjadi konsep yang cukup penting di kalangan ahli ilmu sosial dan politik. Maka untuk mengetahuinya dapat dilihat dari empat kelompok utama dalam perdebatan konsep kekuasaan. Kelompok pertama dikenal dengan Pluralis (One Dimensional View of Power), kedua kelompok pengkritik kaum Pluralis (Two Faces of Power Approach), ketiga dikenal dengan Radikal (Three Dimensional View of Power), yang terakhir kelompok Realis (Beyond The Three Dimensional of Power). Meskipun terdapat kelebihan dalam setiap kubu pastilah memiliki kekurangan bahwa konsep-konsep kekuasaan tersebut masih tidak relevan bagi realitas kehidupan politik di daerah-daerah tertentu seperti Indonesia.
Kubu Pluralis yang dipelopori oleh The Concept of Power karya Robert Dahl (1957) dan pendukungnya Polsby berpandangan terhadap kekuasaan memusatkan perhatiannya pada tingkah laku / behavior para aktor politik dalam pembuatan keputusan atas masalah-masalah penting yang melibatkan munculnya konflik yang dapat diamati atas kepentingan subjektif. Idenya tentang kekuasaan dipaparkan sebagai berikut, sebut saja A yang berkuasa atas B, dapat mengendalikan B melakukan sesuatu yang tidak ingin B lakukan. Bagi Dahl, kekuasaan hanya dapat dianalisis melalui “concrete decision”.
B. Pengkritik Pluralis
Peter Bachrach dan Morton Baratz dalam Power and Poverty : Theory and Practice (1970) mengatakan bahwa power tidak semata-mata memiliki satu sisi seperti tercermin dalam “concrete decision” Dahl dan Polsby, namun memiliki dua ‘wajah’ termasuk “non-decision”. Mengemukakan alternatif tindakan lain selain decision-making yaitu melalui pengamatan non decision-making. Misal, si A berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi B. Namun dalam konsep kepentingan / interest, Bachrach dan Baratz masih dalam asumsi yang sama yaitu dapat diamati dan subjektif hanya saja pengembangannya tentang konsep interest lebih luas.
C. Radikalis
D. Realis
Jefrey Isaac dan Ted Benton merupakan yang mengkritik Lukes secara tajam, bagi Isaac (1992) dalam Beyond the Three Faces of Power : A Realist Critique, konsep Lukes yang merujuk pada hubungan beruntun tingkah-laku dari dua pihak dianggap sangat tidak memadai, karena tidak dapat membedakan antara memiliki dan menggunakan kekuasaan. Analisis teori kekuasaan seharusnya menggunakan pendekatan hubungan sosial, bukan melalui pendekatan tingkah-laku. Fokus perhatian ini bukan lagi individu yang terpisah dari lingkungan namun individu sebagai salah satu dari produk lingkungan atau sosialnya.
Analisis power dan analisis interest tidak lepas dari analisis dari struktur sosial dimana aktor-aktor ikut berpartisipasi didalamnya. Sehingga kekuasaan / power disebut sebagai kapasitas aktor-aktor yang memiliki posisi dan peranan tertentu dalam masyarakatnya dan bukan digunakan secara individu. Power seharusnya ditentukan oleh struktur sosial, demikian juga interest yang memainkan fungsi sentral dalam masyarakat. Bagi Benton, untuk mencegah value dependence dari kekuasaan, Benton menolak konsep power dalam artian interest, dan Benton percaya tidak harus ada hubungan antara konsep interest dengan konsep power, dan ini juga yang mengklarifikasi antara memiliki dan menggunakan kekuasaan.
3. Hak Asasi Manusia Di Indonesia
A. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia
Wacana hak asasi manusia di Indonesia telah berlangsung seiring dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wacana ini telah ada sebelum kemerdekaan. Para perintis bangsa telah memercikan pikiran-pikiran untuk memperjuangkan harkat dan martabat manusia yang lebih baik. Percikan dari pikiran tersebut dapat dibaca dalam surat-surat R.A. Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karangan-karangan politik yang ditulis oleh H.O.S. Cokroamintoto, Agus Salim, Douwes Dekker, Soewardi Soeyaningrat, petisi yang dibuat oleh Sutardjo di Volksraad atau pledoi Soekarno yang berjudul “Indonesia Menggugat” dan Hatta dengan judul “Indonesia Merdeka” yang dibacakan di depan pengadilan Hindia Belanda.
sejarah ketatanegaraan, yaitu mulai dari tahun 1945, sebagai periode awal perdebatan hak asasi manusia, diikuti dengan Periode Konstituante (1957-1959) dan periode awal bangkitnya Orde Baru (1966-1968). Di sinilah terlihat bahwa para pendiri bangsa ini sudah menyadari pentingnya hak asasi manusia sebagai fondasi negara.
(1) Perdebatan Awal tentang Hak Asasi Manusia
Pada waktu menyusun konstitusi, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, terjadi perdebatan mengenai apakah hak warga negara perlu dicantumkan dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar? Soekarno dan Supomo mengajukan pendapat bahwa hak-hak warga negara tidak perlu dicantumkan. Sebaliknya, Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin tegas berpendapat perlunya mencantumkan pasal mengenai kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan di dalam UUD. Perdebatan dalam sidang-sidang BPUPKI merupakan tonggak penting.
Banyak kalangan berpendapat bahwa Declaration des Droits de I’Homme et du Citoyen (1789) berdasarkan individualisme dan liberalisme, dan karena itu bertentangan dengan asas kekeluargaan dan gotong royong. Mengenai hal ini, Ir. Soekarno menyatakan sebagai berikut : “Jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada paham kekeluargaan, paham tolong-menolong, paham gotong-royong, dan keadilan sosial, enyahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap paham individualisme dan liberalisme daripadanya.”
(2) Periode Konstituante dan Orde Baru
Perdebatan tersebut tidak berakhir begitu saja. Diskursus mengenai hak asasi manusia muncul kembali sebagai usaha untuk mengoreksi kelemahan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada sidang Konstituante (1957-1959). Sebagaimana terekam dalam Risalah Konstituante, khususnya dari Komisi Hak Asasi Manusia, perdebatan ini jauh lebih sengit disbanding dengan perdebatan di BPUPKI. Berbeda dengan perdebatan awal BPUPKI, diskusi di Konstituante relative lebih menerima hak asasi manusia dalam pengertian natural rights, dan menganggapnya sebagai substansi UUD. Meskipun ada yang melihat dari perspektif agama atau budaya, perdebatan di Konstituante sebetulnya telah berhasil menyepakati 24 hak asasi manusia. Namun sayang, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno, akibatnya kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai dikesampingkan, dan diikuti dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Akhirnya setelah rezim Demokrasi Terpimpin Soekarno digulingkan oleh gerakan mahasiswa 1966, yang melahirkan Orde Baru. Perdebatan mengenai hak asasi manusia muncul kembali. Perdebatan itu muncul pada siding umum MPRS tahun 1968. Ketika itu telah membentuk Panitia Ad Hoc Penyusunan Hak-Hak Asasi Manusia. Hasilnya adalah sebuah “Rancangan Keputusan MPRS tentang Piagam Hak-Hak Asasi Manusia dan Hak-HAk serta Kewajiban Warga Negara”, namun gagal diajukan ke sidang umum MPRS.
(3) Era Reformasi
Runtuhnya rezim orde baru, berarti memasuki era reformasi di Indonesia. Pada periode reformasi ini muncul kembali perdebatan mengenai konstitusionalitas perlindungan hak asasi manusia. Perdebatan bukan lagi soal-soal konseptual berkenaan dengan teori HAM, basis hukum hak asasi manusia yang menjadi persoalan di masa ini, apakah hak asasi manusia ditetapkan melalui TAP MPR atau dimasukkan dalam UUD? Perdebatan bermuara pada lahirnya Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000, perjuangan untuk memasukkan hak asasi manusia dalam UUD berhasil dicapai. MPR berhasil memasukan hak asasi manusia ke dalam BAB XA, yang berisi 10 pasal Hak Asasi MAnusia (dari pasal 28A-28J) pada Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada 18 Agustus 2000.
Pengertian Kesejahteraan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesejahteraan merupakan kata benda yang memounyai arti hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, dan ketentraman.
Menurut Myers, Sweeney dan Wittmer, kesejahteraan merupakan cara hidup ke arah mencapai tahap kesehatan dan kesejahteraan diri yang optimum mencakup fisik, mental dan spiritual yang diintegrasikan oleh individu untuk kehidupan yang berkualitas di dalam masyarakat.
Dimensi Kesejahteraan
Ada tujuh dimensi kesejahteraan seperti yang digariskan oleh Anspaugh danrakan (2004) and Hales (2005) mencakup emosi, kesuksesan, sosial, fisik, intelektual, spiritual, dan lingkungan. a. Kesejahteraan emosi
Kesejahteraan emosi yakni sikap dan kepercayaan individu terhadap diri dan kehidupan. Kesejahteraan ini mencakup konsep yang positif dan realistik, identitas diri, tahap pengghargaan diri dan kesadaran dalam mengawal perasaan.
b. Kesejahteraan Kesuksesan
Kesejahteraan kesuksesan adalah tahap di mana individu dapat mempersembahkan nilai dalam diri dan memperoleh kepuasan sendiri melanjutkan kesuksesan dan aktivitas yang ditekuni. Cakupannya adalah sikap kerja serta kebolehan untuk menyeimbangkan berbagai peranan dalam pekerjaan/aktivitas yang ditekuni serta bagaimana individu menggunakan kemahiran dan upaya untuk menyumbangkannya kepada masyarakat
c. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial mencakup kadar dan kualitas interaksi dengan orang lain, komunitas, dan lingkungan sekitar.
d. Kesejahteraan Fisik
Kesejahteraan fisik merupakan proses aktif yang berkelanjutan untuk mengekalkan tahap aktivitas fisik secara optimal yang fokus pada nutrisi, menjaga diri, dan gaya hidup sehat.
Kesejahteraan intelektual merupakan situasi di mana individu melibatkan diri dalam aktivitas kreatif serta menggunakan sumber-sumber yang ada untuk meluaskan ilmu pengetahuan, perkembangan, aplikasi, dan artikulasi pemikiran yang kritis.
f. Kesejahteraan Lingkungan
Kesejahteraan lingkungan merupakan keseimbangan antara kehidupan individu dan kelompok dengan lingkungan dan anggota-anggota kelompok.
g. Kesejahteraan Spiritual
Kesejahteraan ini didefinisikan sebagai dimensi yang holistic yang mencakup pencarian makna dalam kehidupan, nilai-nilai intrinsic, hubungan dengan Tuhan, dan komunitas spiritual.
Kesejahteraan di Indonesia mengacu pada dasar negara Indonesia di sila ke-5 yang menekankan prinsip keadilan sosial, serta di konstitusi pada pasal 27 ayat (2), pasal 28H ayat (3) dan 34 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Dasar NKRI tahun 1945 yang mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Walaupun ada sila dan konstitusinya, pembangunan kesejahteraan sosial baru sebatas jargon dan belum terintegrasi dengan strategi pembangunan ekonomi.
Kemudian 28 Oktober 2011 diluluskanUndang-Undang badan penyelenggara kesejahteraan sosial. Selain itu ada 2 ketetapan UU BPJS yang menjadi awal dari adanya jaminan sosial bagi rakyat Indonesia. Ketetapan itu antara lain:
1. BPJS Kesehatan, yang akan beroperasi per 1 Januari 2014.
2. BPJS Ketenagakerjaan yang akan hadir pada 1 Januari 2014 dan beroperasi paling lambat 1 Juli 2015.
menyentuh seluruh lapisan masyarakat, kemiskinan dapat diperkecil dan kesejahteraan akan lebih merata.
MATERI PARPOL A. Pengertian Partai Politik
Partai politik adalah bentuk khusus dari organisasisosial. Definisi terkenal partai politik berasal dari ilmuwan politik Amerika Antony downs, yang menyatakan”Partai politik adalah kelompok orang yang mencari orang atau kader untuk mengontrol aparat pemerintahan dengan memperoleh kedudukan atau jabatan dalam pemilihan.”
Adapunpendapat lain dariberbagaiparaahlitentangpartaipolitik, yaitumenurutCarl J. Friedrich yang menyatakanbahwa, partaipolitikadalahsekelompokmanusia yang terorganisirsecarastabildengantujuanmerebutataumempertahankanpenguasaanpemerintahbagipim pinanpartainyadanberdasarkanpenguasaanini, memberikankepadaanggotapartainyakemanfaatan yang bersifatidiil and materiil.
Sedangkanmenurut Sigmund Neuman, dalambukunya”Modern Political Parties”menyatakanbahwapartaipolitikadalahorganisasidariaktivis – aktivispolitik yang berusahauntukmenguasaikekuasaanpemerintahansertamerebutdukunganrakyatmelaluipersaingan dengansuatugolonganataugolongan-golongan lain yang memilikipandanganberbeda. Definisi atau pengertian partai politik juga dapat ditemukan dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No.2 Tahun 2008 tentang partai politik, yaitu:
“Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”
B. FungsiPartaiPolitik
menjadiwarganegara yang sadarakanhakdankewajibannyadalamkehidupanberbangsa, bernegara, danberagama.
Fungsiutamapartaipolitikdalamsistemdemokrasimemenuhi area
antarawarganegaradanpemerintahdansebagaitugasdasardalampemebentukanaspirasidanpendapat
dalammasyarakat (Dewey,
1927:120).MenurutDuvergerdanKircheimermengidentifikasibahwafungsipartaipolitikberkaitande nganhubunganantaramasyarakatsipildengannegara yang didalamnyaterdapatkepentingan yang mendominasiuntukmencapaikepentingannasional.Merekajugamenekankan,
jikapartaipolitikadalahbagian- bagiankonstituendarisistempolitikmelaluiaspirasipendapatdanmenghubungkannilai-nilaidankepentinganmasyarakatdenganberpolitikdalamnegara.
Ada beberapafungsi yang melekatdalamtubuhpartaipolitikdiantaranya,
sosialisasipolitikyaitufungsisebagai proses
seseorangmemperolehsikapdanorientasiterhadapfenomenapolitik yang umumnyaberlakudalammasyarakat. Selainitupartaipolitikjugaberfungsisebagaikomunikasipolitik, partisipasipolitik, rekrutmenpolitik, dansaranapengaturkonflik (Mirriam Budiardjo,2008:405-409).
C. SistemKepartaiandalamSejarahSingkatPartaiPolitik Berdasarkanpengertiantersebut,
dapatdiidentifikasibahwapartaiberbedadengangerakansosial.Suatugerakanmerupakansuatukelom pokataugolongan yang inginmengadakanperubahan-perubahanpadalembaga-lembagapolitikataukadang-kadanginginmenciptakansuatutatananmasyarakat yang barusamasekali. Cara yang mereka gunakan, bisa jadi merupakan sebuah cara-cara politik. Namun bila ditelaah secara seksama, ada perbedaan nyata antara gerakan sosial dengan partai politik.
menguntungkan atau menghindarkan keputusan yang merugikan. Kelompok kepentingan tidak berusaha untuk menempatkan wakil-wakilnya dalam dewan perwakilan rakyat, melainkan cukup mempengaruhi satu atau beberapa partai di dalamnya atau instansi pemerintah atau menteri yang berwenang. Dengan itu, dapat kita pahami bahwa kelompok kepentingan memiliki orientasi yang jauh lebih sempit daripada partai politik, yang karena mewakili berbagai golongan lebih banyak memperjuangkan kepentingan umum.
Maurice Duverger (1967:207) memberikan arahan mengenai sistem kepartaian yang muncul dan berkembang saat itu. Sistem kepartaian yang dimaksudkannya itu adalah one party system (sistem satu partai), two party system (sistem dua partai) serta multy party system (sistem banyak partai). Kategorisasi sistem kepartaian berdasarkan jumlah parta dikemukakan pula oleh Rokkan (1968) yang kemudian berkembang pada variabel distribusi kekuatan minoritas dalam partai (distribution of minority party strength).
Dalam menjelaskan sistem partai, tidak cukup hanya memperhitungkan jumlah partai yang eksis dalam dinamika politik sebuah bangsa. Masalah jumlah partai politik merupakan hal penting, namun ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Dalam konteks ini, Giovanni Sartori (1976) mengutarakan bahwa jarak idiologis antar partai dalam sistem itu menjadi sangat penting artinya untuk memahami perilaku partai politik. Dengan adanya jarak ideologi antar partai ini menyebebkan munculnya polirasisasi khusus mengenai partai politik (Surbakti, 1992:127). Berdasarkan pertimbangan ini dia mengelompokkan sistem kepartaian ke dalam tiga kelompok yaitu (1) predominant-party system; (2) moderate pluralism sistem; serta (3) polarized pluralism sistem.
itu dalam sistem seperti ini, sistem politik yang ada cenderung bersifat mempertahankan status-quo.
Berbeda dengan sistem yang pertama, dalam moderate pluralism sistem tersedia ruang untuk lebih dari dua partai bisa berkompetisi dalam pemilihan umum. Kelebihan sistem ini dibandingkan predominant party system yaitu adanya polaritas ideologi walaupun relatif masih sedikit. Terkahir, yaitu sistem kepartaian dengan polariasasi yang tegas dan jelas (polarized pluralism sistem). Sistem kepartaian seperti ini pada umumnya berkembang di negara majemuk (pluralis) secara kultural, sehingga muncul banyak partai. Dalam konteks sistem kepartaian seperti ini, potensial terjadi pertentangan antara partai politik yang satu dengan partai politik yang lainnya. Oleh karena itu, sistem kepartaian polarized pluralism mempunyai tendensi konsensus yang rendah, bahkan pada titik ekstrimnya potensial memicu perpecahan politik (sentrifugal).
BerbedadenganteoriDuverger, padabukunyaPolitical Parties: Theirs Organization and Activities in Modern State; Robert Dahl (1966) mengidentifikasi sistem kepartaian atas dasar tingkat kompetisi dan oposisi partai dalam sistem politik, bukan dari aspek jumlah partai politik. Dengan sudut pandang ini, sistem kepartaian dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) persaingan penuh; (2) kerjasama dalam sistem kompetitif, (3) bergabung dalam sistem kompetitif, dan (4) bergabung sepenuhnya.
Pertama, sistem satupartai. Istilah sistem partai tunggal merupakan satu konsep yang contradictio in terminis (MirriamBudiarjo, 1992:167).Maka sistem tunggal merupakan kata paradok, sebabkonsep ’sistem’ mempersyaratkan ada beberapa bagian yang memadu dalam sebuah kerangka sistem. Oleh karena itu, sistem satu partai atau sistem partai tunggal tidaklah layak disebut sebagai sistem, dan lebih tepat disebu tbentuk kepartaian tunggal.
Kedua, sistem partai hegemonik. Ada sedikit perbedaan dengan sistem partai tunggal. Dalam sistem partai hegemonik dibuka ruang untuk hadirnya partai-partai lain. Namun, hal yang menonjol –dan ini mirip dengan partai tunggal—partai yang diakui itu adalah partai yang cenderung mendukung pemerintah atau dikuasai oleh pemerintah. Dengan kata lain, pada dasarnya dalam partai hegemonik ini pun hanya ada satu partai. Hanya secara formal dan material, jumlah partai politik lebih dari satu, walaupun secara esensial yang muncul dan berkembang hanya satu partai.
Sebagai bentuk perkembangan sekaligus kritik terhadap sistem partai tunggal maupun partai hegemonik, ada sistem dua partai. Dalam sistem ini menyediakan ruang bagi dua partai untuk bersaing guna mendapatkan dan/atau mempertahankan otoritasnya dalam suatu sistem politik. Implikasi dari kondisi ini, maka akan terbentuk satu partai sebagai partai penguasa dan kelompok lain sebagai partai oposisi.
Pada sistem dua partai ini tampak jelas perbedaan tugas pokok dan fungsi dari sebuah partai. Partai penguasa akan berbeda fungsi dengan partai oposisi. Kehadiran dua kelompok partai seperti ini, secara teoritik diarahkan untuk membangun keseimbangan kekuasaan dan kekuatan dalam masyarakat, sehingga proses pemerintahan akan berjalan dengan baik.
Sistem dua partai akan berjalan dan berkembang dengan baik bila ada prakondisi yang mendukungnya, seperti (1) tersedianya homogenitas sosio-kultural warga masyarakat; (2) tegaknya konsensus pada pembangunan politik yang beradab dan berkualitas dalam diri setiap warga masyarakat; (3) adanya kontinuitas sejarah, sehingga mempermudah pelembagaan pembangunan politik yang berkelanjutan, serta (4) terdapat mekanisme pengaturan dan penyelesaian konflik yang mapan.
menuntun terbentuknya kekuasaan berdasar koalisi. Dengan adanya koalisi antar partai dengan partai penguasa, pemerintah harus mampu menjaga koalisi agar tercipta pembangunan.
Sistem multipartai, apalagi bila disandingkan dengan pemerintahan parlementer akan cenderung pada kekuasaan badan legislatif (Budiarjo, 1992:169), karena eksekutif tidak bersatu kuat dalam menjalankan administratur pemerintahan maka yang perlu menjaga stabilitas politik dalam negeri adalah institusi legislatif.
Kelompok Kepentingan
Kelompok kepentingan adalah sekelompok manusia yang mengadakan persekutuan yang didorong oleh kepentingan-kepentingan tertentu.Kepentingan ini dapat berupa kepentingan umum atau masyarakat luas ataupun kepentingan untuk kelompok tertentu.
Kelompok kepentingan bertujuan untuk memperjuangkan sesuatu “kepentingan” dengan mempengaruhi lembaga-lembaga politik agar mendapatkan keputusan yang menguntungkan atau menghindarkan keputusan yang merugikan.Kelompok kepentingan tidak berusaha untuk menempatkan wakil-wakilnya dalam dewan perwakilan rakyat, melainkan cukup mempengaruhi satu atau beberapa partai didalamnya atau instansi yang berwenang maupun menteri yang berwenang.
Gabriel A. Almond mengidentifikasi kelompok kepentingan ke dalam jenis-jenis kelompok : (1) Kelompok Kepentingan Asosiasi
Kelompok Kepentingan Assosiasional atau merupakan kelompok kepentingan yang memiliki struktur organisasi yang formal. Kelompok kepentingan ini di dalam memperoleh pendukung-pendukungnya juga melalui prosedur-prosedur yang formal. Demikian pula halnya untuk memilih atau menyeleksi siapakah yang akan dijadikan pimpinan, dan untuk merumuskan kebijaksanaan-kebiajaksanan kelompok harus melalui prosedur-prosedur yang teratur yang kadang-kadang cukup berbelit-belit.
demikian pula kelompok kepentingan tipe ini telah memiliki tenaga-tenaga yang sudah profesional di bidangnya.
(2) Kelompok Kepentingan Institusional
Kelompok Kepentingan Institusional adalah merupakan kelompok kepentingan yang bersifat formal. Kelompok kepentingan institusional ini sudah terorganisir secara rapi dan teratur. Demikian pula kelompok kepentingan tipe ini memiliki fungsi-fungsi sosial dan politik yang lainnya disamping berfungsi mengartikulasikan kepentingan.
Keanggotaan Kelompok Kepentingan Institusional terdiri dari orang-orang yang profesional di bidangnya. Untuk dapat masuk menjadi anggota kelompok kepentingan tipe ini diperlukan persyaratan-persyaratan formal yang memang telah ditentukan terlebih dahulu. Demikian pula kelompok kepentingan tipe ini telah memiliki rencana kerja yang tersusun dengan baik.
(3) Kelompok Kepentingan Non Assosiasional
Kelompok kepentingan non assosiasional adalah kelompok kepentingan yang dapat dikatakan kurang terorganisir secara rapi, dan kegiatannya masih bersifat kadangkala saja. Keanggotaan kelompok kepentingan non assosiasional dapat diperoleh berdasarkan atas kepentingan-kepentingan yang serupa karena persamaan-persamaan dalam hal-hal yang tertentu; seperti keluarga, status, kelas, kedaerahan, keagamaan, keturunan atau ethnis. Pendukung-pendukung kelompok kepentingan non assosiasional ini dalam mengartikulasikan kepentingan-kepentingannya melalui individu-individu, pemuka-pemuka agama, dan lain-lain yang semacam dengan itu.Kelompok kepentingan non assosiasional tidak mempunyai sturktur organisasi yang formal. Untuk dapat masuk menjadi anggota kelompok kepentingan tipe ini tanpa harus melalui prosedur yang berbelit-belit seperti yang biasa ditemui pada organisasi-organisasi yang sifatnya formal. Demikian pula kegiatan untuk memilih pimipinan kelompok, atau kegiatan untuk merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanan kelompok tanpa harus melalui prosedur-prosedur yang formal.
(4) Kelompok Kepentingan Anomik
berlangsung seketika saja. Kelompok kepentingan anomik dalam melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan dan hanya seketika itu saja dikarenakan kelompok kepentingan tipe ini tidak memiliki norma-norma dan nilai-nilai yang secara jelas mengaturnya. Kelompok kepentingan anomik ini pada umumnya dalam melakukan kegiatan-kegiatannya dengan cara-cara yang non-konvensional; seperti pemogokan, demontrasi, huru-hara, kerusuhan ,konfrontasi, dan lain-lainnya yang sejenis dengan itu.Demikian pula kelompok kepentingan anomik merupakan suatu kelompok yang tidak terorganisir secara rapi. Oleh karena sifat kelompok kepentingan tipe ini spontan, maka ikatan yang menjalin diantara pendukung-pendukungnya sedemikian longgar; dan mengikat pula tidak terdapatnya peraturan-peraturan yang mengikat pendukung-pendukungnya secara ketat. Pendukung-pendukung kelompok kepntingan tipe ini dapat secara bebas keluar meninggalkan kelompoknya. Pada umumnya kelompok kepentingan anomik ini setelah berhasil atau tercapai dalam mengajukan tuntutan-tuntutan atau kepentingan-kepentingannya akan segera bubar dengan sendirinya.
Terdapat beberapa strategi yang digunakan oleh kelompok kepentingan untuk menyalurkan tuntutan mereka menurut Gabriel A. Almond yaitu melalui:
1. Demonstrasi dan kekerasan
Demonstrasi dan tindakan kekerasan adalah merupakan salah satu saluran yang dipergunakan oleh kelompok kepentingan untuk menyatakan kepentingan-kepentingan ataupun tuntutan-tuntutannya. Demonstrasi dan tindakan merupakan saluran yang sering dipergunakan oleh kelomok kepentingan anomik. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi kelompok-kelompok kepentingan yang lainnya untuk mempergunakan saluran ini. Biasanya kelompok-kelompok kepentingan yang lainnya mempergunakan saluran ini dikarenakan saluran-saluran yang lainnya (saluran yang sifatnya konvensional, seperti perwakilan langsung) sudah tertutup untuk dapat mencapai dan mempengaruhi para pembuat keputusan. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara tindakan kekerasan yang dilakukan secara spontan oleh kelompok kepentingan anomik, dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh setiap kelompok kepentingan lainnya untuk menyatakan tuntutannya.
Hubungan pribadi juga merupakan saluran yang dipergunakan oleh kelompok kepentingan untuk mencapai dan mempengaruhi para pembuat keputusan. Hubungan pribadi ini biasanya dapat melalui hubungan keluarga, hubungan satu sekolahan/almamater, atau hubungan-hubungan yang sifatnya kedaerahan. Pada umumnya saluran hubungan pribadi dipergunakan oleh kelompok-kelompok kepentingan non assosiasional, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi kelompok-kelompok yang lainnya mempergunakan saluran tersebut.
3. Perwakilan Langsung
Saluran yang berwujud perwakilan langsung ini dapat berlangsung atau berjalan apabila keplompok kepentingan yang bersangkutan mempunyai anggota-anggota yang duduk dalam badan legislatif maupun badan eksekutif.Perlu pula diketahui bahwa didalam kelompok kepentingan yang institusional, anggota-anggota kelompok kepentingan sering mempunyai hubungan yang erat dengan para pembuat keputusan atau kebijaksanaan, dan malahan mereka kadang-kadang terlibat didalam proses pembuatan keputusan atau kebijaksanaan.
4. Media Massa
Media massa – termasuk didalamnya adalah televisi, radio, surat kabar, dan majalah – adalah merupakan salah satu saluran untuk mengkomunikasikan kepentingan-kepentingan ataupun tuntutan-tuntutan dari kelompok kepentingan.
Kelompok Penekan
Kelompok penekan merupakan sekelompok manusia yang berbentuk lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas atau kegiatannya memberikan tekanan kepada pihak penguasa agar keinginannya dapat diakomodasi oleh pemegang kekuasaan. Contohnya, Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Nasib Petani, dan Lembaga Swadaya Masyarakat Penolong Korban Gempa. Pada mulanya, kegiatan kelompok-kelompok ini biasa-biasa saja, namun perkembangan situasi dan kondisi mengubahnya menjadi pressure group. Kelompok penekan ini dapat memaksa atau mendesak pihak yang berada dalam pemerintahan atau pimpinan agar bergerak ke arah yang diinginkan atau justru berlawanan.
Kelompok penekan merupakan sekelompok manusia yang berbentuk lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas atau kegiatannya memberikan tekanan kepada pihak penguasa agar keinginannya dapat diakomodasi oleh pemegang kekuasaan. Contohnya, Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Nasib Petani, dan Lembaga Swadaya Masyarakat Penolong Korban Gempa. Pada mulanya, kegiatan kelompok-kelompok ini biasa-biasa saja, namun perkembangan situasi dan kondisi mengubahnya menjadi pressure group.
Yang dimaksud golongan penekan adalah sekelompok manusia yang tergabung menjadi anggota suatu lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas yang tampak dari luar sebagai golongan yang sering mempunyai kemauan untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak penguasa.
2. Peranan Kelompok Penekan
Kelompok penekan (pressure group) merupakan salah satu institusi politik yang dapat dipergunakan oleh rakyat untuk menyalurkan aspirasi dan kebutuhannya dengan sasaran akhir adalah untuk mempengaruhi atau bahkan membentuk kebijakan pemerintah. Kelompok penekan dapat terhimpun dalam beberapa asosiasi yang mempunyai kepentingan sama, antara lain : a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
b. Organisasi-organisasi sosial keagamaan c. Organisasi kepemudaan
d. Organisasi Lingkungan Kehidupan e. Organisasi pembela Hukum dan HAM f. Yayasan atau Badan hukum lainnya
sangat penting dalam memublikasikan agenda politik, baik media cetak maupun media elektronik. Beberapa media komunikasi politik tersebut sebagai berikut:
1) Media elektronik, terdiri atas media telepon, media radio, dan media televisi. 2) Media cetak, terdiri atas media surat langsung dan surat kabar atau majalah.
Mereka pada umumnya dapat menjadi kelompok penekan dengan cara mengatur orientasi tujuantujuannya yang secara operasional (melakukan negosiasi) sehingga dapat mempengaruhi kebijaksanaan umum. Dalam realitas kehidupan politik, kita mengenal berbagai kelompok penekan baik yang sifatnya sektoral maupun regional. Tujuan dan target mereka biasanya bagaimana agar keputusan politik berupa undang-undang atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih menguntungkan kelompoknya (sekurang-kurangnya tidak merugikan). Kelompok penekan, kadang-kadang muncul lebih dominan dibanding dengan partai politik, manakala partai politik peranannya tidak bisa lagi diharapkan untuk mengangkat isu sentral yang mereka perjuangkan. Kondisi inilah yang mendorong kelompok penekan tampil ke depan sebagai alternative terkemuka
3) Peran mahasiswa menahkodai Kelompok Penekan
Memang kini peran organisasi mahasiswa tidak sebegitu hebat dan kuat seperti ketika masa kebangkitan nasional dan masa-masa kemerdekaan.Akan tetapi yang menjadi satu catatan penting bagi organisasi mahasiswa saat ini adalah jangan sampai kehilangan konteks.Justru sekarang organisasi mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri diharapkan agar senantiasa menjadi elemen yang mampu membangun kesadaran kritis serta memiliki fleksibilitas tinggi dengan tetap menjaga independensinya dalam menyesuaikan dengan pergeseran zaman.
Mahasiswa sebagai elemen yang diharapkan mempunyai suatu kesadaran kritis dituntut untuk mampu melakukan pembacaan secara baik dan jernih terhadap segala bentuk perubahan zaman maupun terhadap segenap problematika yang terjadi.
mendudukannya dalam posisi mengkotak-kotakkan diri dalam sisi “benar” atau “salah” tanpa melihat duduk permasalahan dengan baik.
Menurut penulis, ada satu hal yang tampaknya terlupa adalah pemaknaan sebagai kelompok penekan (pressure group). Kelompok penekan disini sebagaimana diungkapkan seorang pakar politik, Maurice Duverger, adalah “any group or organization which by persuasion, propaganda, or other means, regulary attempts to influence and shape the policies of goverment”.
Dimana kelompok penekan tidak langsung mengambil bagian dalam memperoleh kekuasaan atau dalam melancarkan kekuasaan itu sendiri, mereka bertindak untuk mempengaruhi kekuasaan sementara mereka tidak terlibat didalamnya; mereka melancarkan “tekanan-tekanan” atas kekuasaan yang sedang berjalan (Duverger, 1984).Jadi memang idealnya tidak dibenarkan aktivis mahasiswa sekaligus ikut bermain dalam politik praktis apapun itu. Sehingga jangan sampai ada organisasi mahasiswa atau gerakan mahasiswa yang terkooptasi oleh suatu partai politik.Apabila ada, hal ini tentu sangat kita sesalkan bersama.
Dari penjelasan di atas, organisasi kelompok penekan adalah sebagai sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik, sarana rekruitment politik, sarana pengatur konflik.serta Sebagai sarana partisipasi politik Serta peranan dari kelompok penekan adalah rakyat untuk menyalurkan aspirasi dan kebutuhannya dengan sasaran akhir adalah untuk mempengaruhi atau bahkan membentuk kebijakan pemerintah, dalam prosesnya juga di butuhkan suatu hubungan masyarakat untuk memperoleh pengertian, simpati, dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini publik di antara mereka dalam hal ini hubungan masyarakat sangat berperan penting dalam meraih dukungan untuk mencapai keseksesan kelompok penekan
CHECK AND BALANCES SISTEM, PEMBAGIAN KEKUASAAN LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF
Sistem Check and Balances, Pembagian Kekuasaan
atas konsep Trias Politica. Yang Pertama adalah John Locke (1632-1704), filsuf Eropa yang berasal dari Inggris, dan yang kedua adalah Montesquieu (1689-1755), filsuf Eropa yang berasal dari Perancis. Pemikira John Lokce mengenai Trias Politica dituangkan dalam bukunya yang berjudul Two Treatises of Government pada tahun 1690. Dalam karya tesebut, Locke menyebutkan bahwa fitrah dasar manusia adalah “bekerja (mengubah alam dengan keringat sendiri)” dan “memiliki milik (property)”. Oleh sebab itu, negara yang baik harus dapat melindungi manusia yang bekerja dan melindungi kepemilikan siapapun yang diperoleh berdasarkan hasil pekerjaannya tersebut. Pemikirannya ini dilatarbelakangi oleh masa ketika Locke hidup, yang mana kepemilikan setiap orang-orang bangsawan sering kali rentan direbut kepemilikannya jika sudah dihadapan raja. Dengan berbagai spekulasi yang dibuat pihak kerajaan, raja berlaku sewenang-wenang atas milik para bangsawan. Oleh sebab itu, para bangsawan kerap kali melakukan perang dengan raja akibat sengketa kepemilikan tersebut. apapun jenisnya, bisa peternakan, tanah, maupun kastil. Negara seharusnya ada untuk tujuan melindungi milik pribadi dari serangan orang lain.
Locke berpendapat bahwa suatu kekuasaan tidak harus selalu berada ditangan seorang raja/ratu. Menurut Locke, kekuasaan harus dipisah menjadi tiga bentuk, yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan federatif. Kekuasaan legislatif adalah kekuasaan untuk membuat undang-undang, kekuasaan ini diserahkan kepada kaum bangsawan, eksekutif adalah kekuasaan untuk melaksanakan amanat undang-undang, dan federatif adalah kekuasaan menjalin hubungan dengan negara-negara atau kerajaan-kerajaan lain. Untuk kekuasaan eksekutif dan federatif sepenuhnya dikuasai oleh raja/ratu.
Konsep Trias Politica menurut Montesquieu yang kita telah pelajari adalah suatu konsep yang dalam gagasannya tersebut tidak terlepas dari suatu prinsip Check and Balances System (Sistem saling mengawasi dan saling mengmbangi). Check and Balances system adalah suatu mekanisme yang menjadi tolak ukur kemapanan konsep negara hukum dalam rangka mewujudkan demokrasi. Setiap lembaga, yaitu Legislatif, Ekskutif, dan Yudikatif memiliki kekuasaan dan kewenangannya masing-masing. Namun bukan berarti kekuasaannya dan kewenangannya dapat berjalan sendiri. Dalam kata lain, tugas mereka berkaitan satu sama lain dan di antara ketiganya tidak ada yang memiliki kekuasaan mutlak.
Pada era perkembangan yang modern ini, tidak ada negara yang mengikuti teori Trias Politica secara murni, karena praktek kenegaraan menunjukkan bahwa dalam pembuataan undang-undang yang seharusnya hanya dilakukan oleh legislatif saja justru juga mengikutsertakan eksekutif. Check and Balances System dimaksudkan agar ketiga badan pemegang kekuasaan negara yaitu Legislatif, Ekskutif, dan Yudikatif tidak menjalankan kekuasaannya melebihi atau mengurangi apa yang ditentukan konstitusi. Selain itu juga agar tidak ada kekuasaan yang dikuasai satu pihak yang nantinya dapat terjadi penyalagunaan kekuasaan.
Check and Balances System membagi-bagikan kekuasaan tetapi satu sama lain saling mengawasi tanpa ada suatu kekuasaan yang berada di atas kekuasaan lainnya. Pembagian kekuasaan harus diiringi dengan konsep Check and Balances, hal tersebut merupakan upaya untuk menghindari terjadinya praktek birokrasi atau tirani. Sehingga yang dibutuhkan dalam suatu negara yaitu adanya pembagian kekuasaan agar kekuasaan tidak hanya berada dalam satu tangan saja (Trias Politica), suatu keseimbangan kekuasaan agar tidak ada kekuasaan yang cenderung lebih kuat yang nantinya dapat menimbulkan tirani (Balances), dan suatu pengawasan pihak satu terhadap yang lainnya agar suatu pemegang kekuasaan tidak melakukan perbuatan sewenang-wenangnya (Check).
Jadi, penerapan teori pembagian kekuasaan dan teori Check and Balances merupakan suatu sarana agar demokrasi dan negara hukum dapat berjalan. Tidak ada ketimpangan kekuasaan yang mana salah satu diantaranya ada yang lebih kuat atau lebih lemah dari yang lainnya dan juga sebagai mekanisme yang menjadi tolak ukur kemapanan konsep negara hukum dalam rangka mewujudkan demokrasi.
Pada dasarnya pembagian kekuasaan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dibagi menjadi lima, yakni legislatif, eksekutif, yudikatif, pemeriksa keuangan dan moneter. Legislatif terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di tingkat nasional yang semua anggotanya termasuk sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan DPR Daerah (DPRD) di tingkat daerah I atau Provinsi dan II atau Kabupaten/Kota.
Pihak eksekutif terdiri dari Presiden yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri-menteri negaradi tingkat nasional dan Gubernur, Bupati, serta Walikota di tingkat daerah provinsi, kabupaten, dan kota. Pada bidang yudikatif, UUD 1945 menetapkan pendirian Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.
Sedangkan untuk pemeriksa keuangan, UUD 1945 memberikan wewenang kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sedangkan wewenang bidang moneter dimiliki oleh bank sentral yakni Bank Indonesia yang memiliki tugas menetapkan dan menjalankan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi Bank untuk mencapai tujuan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Eksekutif – Legislatif di Indonesia
Sebagaimana disebutkan diatas, bidang eksekutif dipegang oleh Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan Kepala daerah tingkat I dan II. Tugas dan wewenang dari Presiden diatur dalam UUD 1945, yakni
1. Memegang kekuasaan pemerintahan
2. Mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR
3. Menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang
4. Memegang kekuasaan tertinggi Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara 5. Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian internasional dengan negara lain dengan persetujuan DPR
6. Mengangkat duta dan konsul
9. Membentuk dewan pertimbangan untuk member nasihat dan pertimbangan 10. Mengangkat dan memberhentikan menteri
11. Memberhentikan kepala daerah berdasarkan usulan DPRD dan tanpa usulan DPRD dengan ketentuan yang diatur dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 12. Menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang dalam hal kegentingan yang memaksa dengan syarat harus mendapat persetujuan DPR dalam sidang yang berikutnya.
13. Mengesahkan rancangan UU yang telah disetujui bersama dengan DPR untuk menjadi UU
14. Mengajukan rancangan undang-undang tentang APBN kepada DPR
Tugas dan wewenang Menteri diatur dalam UU No. 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara, yakni
1. Membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
2. Merumuskan, membuat penetapan dan pelaksanaan kebijakan di bidangnya, pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang jadi tanggung jawabnya, mengawasi pelaksanaan tugas, pelaksana teknis dan bimbingan teknis, dan kordinasi serta sinkronisasi pelaksanaan.
3. Kementerian yang disebutkan dalam UUD 1945, yakni Kementerian luar negeri, dalam negeri, dan pertahanan tidak dapat diubah maupun dibubarkan. Sedangkan Kemeterian yang menangani urusan agama, hukum, keuangan, dan keamanan dapat dibubarkan dengan persetujuan DPR.
Eksekutif dalam wilayah daerah yang dipimpin oleh kepala daerah diberi tugas dan wewenang yang tertera di UU No. 32 tahun 2004, yaitu
1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD.
2. Mengajukan rancangan Perda.
Bidang legislatif dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana disebutkan sebelumnya, terdiri dari MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Tugas dan wewenang MPR yang diatur dalam UUD 1945 dan UU No. 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD ialah
1. Bersidang minimal satu kali dalam lima tahun di Ibu Kota Negara 2. Mengubah dan menetapkan UUD
3. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden dan memberhentikannya berdasarkan UUD serta mengangkat Wakil Presiden menjadi Presiden bila Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya.
4. Memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, dari 2 pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik (parpol) atau gabungan parpol yang pasangan calon presiden dan wakil presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.
5. Memasyarakatkan ketetapan MPR, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika
6. Mengkatji sistem ketatanegaraan, UUD 1945 serta pelaksanaannya 7. Menyerap aspirasi masyarakat terkait pelaksanaan UUD 1945
Untuk DPR, UU tersebut dan UUD 1945 memberikan tugas dan wewenang sebagai berikut: 1. Membentuk undang-undang yang setiap rancangannya dibahas bersama dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Jika tidak mendapat persetujuan bersama, maka tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu
2. Memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan yang berdasarkan hal tersebut memiliki hak interplasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat seperti hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas.
5. Memilih 3 hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk diresmikan dengan Keputusan Presiden (Kepres)
6. Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD tentang otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, pengolahan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lain, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah 7. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, APBN, dan kebijakan pemerintah
8. Menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat
9. Memanggil pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat secara tertulis untuk wajib hadir dalam rapat DPR
10. Memberikan rekomendasi yang wajib ditindaklanjuti kepada pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, warga negara, atau penduduk.
DPD dalam UU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD mendapat tugas dasar yakni sebagai pihak yang mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah . Selain itu, DPD memiliki tugas dan wewenang sebagai berikut : 1. Ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan tersebut diatas serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan dan agama
2. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang diatas.
3. Memerima hasil pemeriksaan atas keuangan negara dari BPK sebagaimana DPR 4. Memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemelihan anggota BPK
Lembaga legislatif selanjutnya ialah DPRD tingkat I dan II. Tugas dan wewenang kedua lembaga legislatif tersebut sama, yakni
2. Membahas dan memberikan persetujuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)
3. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan APBD
4. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD Provinsi kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur bagi DPRD kabupaten/kota
5. Memberikan pendapat, pertimbangan dan persetujuan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah
6. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah
7. Mengupayakan terlaksanakannya kewajiban daerah sesuai peraturan perundang-undangan
Berdasarkan keterangan tentang tugas dan wewenang eksekutif dan legislatif, dapat disimpulkan bahwa lembaga eksekutif di Indonesia berfungsi
1. Menjalankan peraturan perundang-undangan
2. Mengajukan rancangan perundang-undangan dan anggaran pendapatan dan belanja dengan lembaga legislatif yang setingkat dengannya
3. Bagi Presiden, dapat mengangkat menteri, menyatakan perang dan damai dengan negara lain dengan persetujuan DPR, serta mengangkat duta dan konsul untuk negara lain
Sedangkan untuk lembaga legislatif, mereka berfungsi sebagai
1. Membuat peraturan perundang-undangan yang dibahas dengan eksekutif sesuai tingkatnya, kecuali MPR yang hanya berhak mengubah dan menetapkan UUD
4. Khusus DPR, DPR menjalankan pengawasannya dengan membuat pemanggilan yang wajib dipenuhi oleh pihak terpanggil, seperti pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat secara tertulis untuk hadir dalam rapat DPR
Perkembangan Sistem Check and Balances di Indonesia
Undang-Undang Dasar tahun 1945 telah mengalami empat kali amandemen yakni dari tahun 1999 sampai dengan 2002. Amandemen ini juga mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia yang berkaitan dengan lembaga-lembaga tinggi negara (Eksekutif dan Legislatif). Amandemen UUD 1945 merupakan salah satu tuntutan reformasi yang menginginkan adanya perubahan didalam tatanan kehidupan politik dan sistem kenegaraan yang semestinya diatur dalam format yuridis konstitusi. Reformasi hukum tata negara harus diarahkan untuk mencapai perubahan dari otoritarianisme ke demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga setiap pasal amandemen haruslah mampu menghilangkan otoritarianisme atau dominasi eksekutif (Presiden) terhadap lembaga tinggi negara lainnya. Pembagian kekuasaan di masa orde lama antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif berada di tangan Presiden. Begitu pula pada masa orde baru , kekuasaan eksekutif yang dominan hanya menuruti terhadap keinginan Presiden pada waktu itu yang mampu berkuasa hingga tujuh periode lamanya.
Sistem ketatanegaraan di Indonesia sebelum amandemen bisa dikatakan belum mengenal dan menerapkan secara sepenuhnya prinsip check and balances. MPR pada waktu itu masih dianggap sebagai lembaga yang memegang kekuasaan tertinggi diantara lembaga-lembaga tinggi lainnya. MPR menetapkan UUD, mengangkat Presiden dan Wakil Presiden serta menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Presiden ialah penyelenggara kekuasaan di bawah MPR yang berkewajiban menjalankan haluan negara yang ditetapkan oleh MPR serta tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. Oleh karena itu, siapapun Presiden yang dapat menguasai MPR, maka kekuasaannya akan langgeng. Begitupun sebaliknya, jika Presiden tidak mampu menguasai MPR, maka akan lebih besar kemungkinan diturunkan dari kepresidenannya.
Secara garis besar, dasar pemikiran dan latar belakang Perubahan UUD 1945;
2. Undang-Undang Dasar 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden), sehingga terjadi dominasi kekuasaan Presiden.
3. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang dapat menimbulkan multitafsir, misalnya pasal 7 UUD 1945 sebelum amandemen, yang menyatakan bahwa “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali” artinya pasal ini membolehkan periode kepemimpinan Presiden lebih dari dua periode.
Gambaran struktur ketatanegaraan Indonesia sebelum amandemen UUD 1945 yaitu Undang-Undang Dasar sebagai hukum tertinggi, kemudian kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR(lembaga tertinggi negara). MPR mendistribusikannya kepada lima lembaga tinggi negara yang sejajar kedudukannya, yaitu Presiden, DPR, MA, DPA, dan BPK. Setelah amandemen UUD 1945, terjadi perubahan fundamental dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, dari sistem yang didominasi lembaga eksekutif menjadi sistem check and balance yang saling mengimbangi dan mengawasi antar lembaga negara.
Sebagai salah satu lembaga negara, MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara. Dalam pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar” sehingga tampak bahwa MPR bukan lagi sebagai pemangku pelaksana kedaulatan rakyat. Susunan MPR juga telah berubah dengan tidak lagi terdiri dari anggota DPR dan golongan-golongan namun terdiri atas anggota DPR dan DPD yang dipilih melalui Pemilu legislatif . Kemudian menghilangkan kewenangannya dalam hal menetapkan GBHN, dan mengangkat Presiden karena Presiden dipilih secara langsung melalui Pemilu. Perubahan terjadi pada kekuasaan DPR dan Presiden, khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan membuat Undang-Undang. Hal tersebut menjadikan kekuasaan membentuk Undang-Undang yang semula berada ditangan Presiden beralih ke DPR sebagai lembaga legislatif yang sesungguhnya. Selain itu amandemen UUD 1945 mempertegas fungsi DPR, yakni fungsi legislasi, anggaran pengawasan sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara.
dengan sebaik-bainya, sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penyelenggara negara yang sedang menjabat dapat dicegah dan ditanggulangi. Sistem checks and balances berjalan dengan lancar apabila antar lembaga negara dapat saling mengontrol dan mengimbangi, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif secara konstitusional.
Keefektifan Check and Balances di Indonesia
Menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa merupakan salah satu agenda penting dalam pembangunan nasional. Karena itu reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan teramat dibutuhkan demi mewujudkan tujuan nasional tersebut. Hal tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik, antara lain keterbukaan, akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan membuka partisipasi masyarakat yang dapat menjamin kelancaran, keserasian dan keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk itu diperlukan langkah-langkah kebijakan yang terarah pada perubahan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan kualitas sumber daya manusia aparatur dan sistem pengawasan dan pemeriksaan yang efektif.
dihadapi.Permasalahan tersebut antara lain adalah pelanggaran disiplin, penyalahgunaan kewenangan dan masih banyaknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), rendahnya kinerja sumber daya manusia dan kelembagaan aparatur; sistem kelembagaan (organisasi) dan ketatalaksanaan (manajemen) pemerintahan yang belum memadai, rendahnya efisiensi dan efektifitas kerja.
Perubahan-perubahan ini, membutuhkan aparatur negara yang memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang handal untuk melakukan antisipasi, menggali potensi dan cara baru dalam menghadapi suatu tuntutan perubahan demi mewujudkan tujuan negara serta pembangunan nasional. Dan disamping itu juga, aparatur negara harus mampu meningkatkan daya saing, dan menjaga keutuhan bangsa dan wilayah negara. Untuk itu, dibutuhkan suatu upaya yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam mendorong peningkatan kinerja birokrasi aparatur negara dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan akuntabel yang merupakan amanah reformasi dan tuntutan masyarakat.