• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKSI DIKSI EMOTIF DALAM PUISI CHAIRIL A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DIKSI DIKSI EMOTIF DALAM PUISI CHAIRIL A"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

DIKSI-DIKSI EMOTIF DALAM PUISI CHAIRIL ANWAR:

ESTETIKA DAN FUNGSIONALITAS BAHASA

(Kajian Stilistika dan Semantik Bahasa)

Renda Yuriananta

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

ABSTRAK

Stilistika merupakan sebuah bidang ilmu yang mempelajari mengenai bagaimana bahasa digunakan oleh manusia dalam bentuk lisan maupun tulis. Cara yang digunakan oleh manusia ini berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam kajian stilistika, cara-cara tersbut diistilahkan dengan gaya bahasa. Dalam karya sastra, terdapat gaya pengarang dalam mengungkapkan gagasannya melalui aspek kebahasaan yang digunakan. Salah satu pengarang yang dapat dilihat gaya khas kebahasaannya adalah Chairil Anwar. Hampir di setiap masa, Chairil Anwar selalu menggunakan diksi bermakna emotif. Diksi tersebut tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga menimbulkan aksi terhadap pembacanya. Oleh karena itu, gaya inilah yang selalu melekat dengan sosok Chairil Anwar dan tidak dimiliki oleh setiap pengarang di Indonesia.

Kata Kunci: Stilistika, gaya bahasa, karya sastra, Chairil Anwar

PENDAHULUAN

Stilistika merupakan sebuah bidang studi yang mengkaji gaya bahasa di dalam teks. Teks dianggap sebagai sebuah fenomena bahasa yang disampaikan oleh manusia dengan gaya tertentu sehingga membuat sebuat kesatuan yang utuh. Ratna (2013:1) mengatakan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya, yang dalam penggunaannya memanfaatkan cara-cara tertentu dan dengan tujuan tertentu untuk mencapai hasil yang terbaik. Konsep yang diutarakan oleh Ratna ini masih bersifat umum karena kajian stilistika sendiri juga umum, tetapi pada penjabaran yang khusus, stilistika dalam hal ini akan memfokuskan diri pada gaya pada bahasa atau disebut dengan gaya bahasa.

(2)

karya sastra. Jadi, gaya bahasa, kajian stilistika, hanya akan berhubungan dengan sastra dan tidak yang lain. Hal ini dikarenakan oleh salah satu unsur dalam pembentuk sebuah karya sastra adalah gaya bahasa. Dalam berbagai teori sastra juga disebutkan menganai penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra. Padahal, jika konsep tersebut dipahami dengan benar, maka pemahaman tersebut akan terkikis dengan keuniversalan kajian stilistika. Pandangan tersebut seharusnya mulai berubah karena gaya bahasa sendiri bersifat umum. Tidak ada makhluk lain selain manusia yang dapat menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat untuk mengekspresikan diri manusia itu sendiri.

Karya sastra adalah hasil dari kompleks ide yang dimampatkan menjadi sebuah tulisan dan narasi. Tulisan ini dapat berupa hal besar atau pun kecil dalam kehidupan. Karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan pengarangnya. Setiap pengarang memiliki gaya tersendiri dalam mengungkapkan gagasannya melalui karya sastra. Gaya yang berbeda-beda tersebut menimbulkan sebuah pembedaan tersendiri bagi setiap pengarang. Dengan hanya melihat karya sastra yang dikarang saja, pembaca akan dapat menafsirkan siapa pengarang yang menciptakan puisi tersebut melalui gaya bahasa yang digunakannya. Walau pun tidak secara pasti mengerti pengarangnya, tetapi setidaknya mengerti lingkungan sosial pengarang. Hal inilah yang dapat dikaji dengan stilistika, yaitu mengetahui gaya pengarang dalam mengungkapkan gagasannya melalui karya sastra.

KARYA SASTRA, MAKNA EMOTIF, DAN CHAIRIL ANWAR

Menurut Leech (dalam Subroto, 2011:51) dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dapat dilihat/dirasakan warna feeling (rasa, perasaan) perorangan dari penuturnya terhadap mitra tutur atau terhadap orang yang dibicarakan atau terhadap sesuatu yang dibicarakan. Leech (dalam Pateda, 2010:98) juga berpendapat bahwa makna afektif berhubungan dengan perasaan yang timbul setelah seseorang mendengar atau membaca. Dalam penjabaran tersebut tekanan yang muncul adalah pada rasa/perasaan yang ditimbulkan dari sebuah bahasa. Perasaan itu dapat muncul dari pembicara mengenai mitra tutur, orang ketiga, atau pun objek yang dibicarakan. Pada teks sastra khususnya puisi, perasaan yang muncul tersebut memang dihasilkan oleh pengarang yang nantinya akan diterima oleh pembacanya.

(3)

melihat pandangan awal mengenai bahasa. Condillac (dalam Chaer, 2009:31) berpendapat bahwa bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat. Dari pendapat Condillac ini, kita dapat menerima sebuah pernyataan mengenai bahasa merupakan sebuah ungkapan perasaan atau emosi yang kuat. Dapat dilihat pula pada fungsi bahasa itu sendiri. Menurut Chaer (dalam Chaer, 2009:33) bahasa adalah alat interaksi sosial, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan. Dari pendapat ini, kita juga dapat mengambil simpulan bahwa bahasa merupakan ungkapan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan. Beberapa pendapat mengenai bahasa tersebut dapat mengerucut pada makna yang akan ditimbulkan oleh bahasa tersebut. Hal ini juga diungkapkan oleh Ullman (2012:157) bahwa bahasa itu tidak hanya wahana komunikasi, melainkan juga alat untuk mengekspresikan emosi dan menggunakan emosi itu “memengaruhi” orang lain.

Dalam karya sastra, khususnya puisi bahasa merupakan sebuah media yang digunakan oleh pengarang dalam mengungkapkan perasaannya mengenai suatu hal. Sejalan dengan ini Pateda (2010:98) mengatakan bahwa penulis karya sastra pandai sekali memilih kata yang mengandung makna afektif sehingga pembaca terharu, jengkel, sedih, gembira, atau tertawa membaca karangan tersebut. Memang kita tidak akan sadar dengan apa yang akan kita rasakan setelah membaca sebuah karya sastra. Terkadang tanpa kita sadari, karya sastra yang kita baca mengajak kita untuk merasakan perasaan sedih, haru, kecewa, bahagia, dan perasaan lain sesuai dengan suasana apa yang ditimbulkan oleh pengarang.

(4)

Anwar sebelum meninggal. Dari tiga poin waktu yang berbeda tersebut, Chairil Anwar tetap konsisten menggunakan diksi-diksi bermakna emotif. Hal ini menunjukkan bahwa Chairil

Anwar memiliki gaya emotif dalam puisi-puisinya, tetapi belum banyak orang yang menyadarinya. Memang, gaya tersebut wajar bagi para pengarang, khususnya pengarang puisi, tetapi tidak semua pengarang bisa menyatukan antara penciptaan kata dengan emosi yang menimbulkan aksi tertentu. Sebagai contoh, W. S. Rendra, puisi-puisi Rendra adalh puisi yang memiliki tingkat keindahan tinggi, tetapi tidak mampu mendorong pembacanya untuk melakukan aksi. Perbandingannya adalah dengan Wiji Thukul, puisi-puisi Thukul mendorong pembaca untuk melakukan aksi, tetapi dari segi penggunaan bahasanya tidak terlalu bersifat estetis atau lebih sering menggunakan bahasa-bahasa yang lugas. Berbeda dengan Chairil Anwar, puisi Chairil Anwar adalah wujud penggabungan antara puisi-puisi Rendra dan Wiji Thukul. Wujud penggabungan tersebut bukan karena Chairil Anwar sengaja malakukannya, ingat bahwa Chairil Anwar meninggal pada masa sebelum Rendra dan Thukul. Jadi, Chairil Anwar memiliki gaya tersendiri yang tidak dimiliki oleh pengarang lain, yaitu penggunaan diksi-diksi emotif dalam puisi-puisinya.

Sastra ada di wilayah yang abstrak, tetapi dapat dikonkretkan dengan bukti-bukti empiris melalui penelitian sastra. Dalam bab selanjutnya, penulis menjabarkan bukti-bukti mengenai penggunaan diksi bermakna emotif oleh Chairil Anwar dalam puisi-puisinya.

Makna Emotif dalam Puisi Chairil Anwar

Dari data yang penulis analisis, terdapat beberapa kata yang mengandung makna emotif tertentu bagi pembaca (pendengar). Data tersebut adalah sebagai berikut.

Kata Emotif Makna Leksikal Makna dalam KonteksKalimat Makna Emotif

terbaring Terletak membujur; tergeletak; tergelimpang Sudah menjadi mayat dan dikubur.

Seakan pembaca merasakan simpati akan ungkapan dari kata tersebut

teriak Seruan yang keras; pekik Berseru/mengucapkan sesuatu kata (merdeka)

Perasaan pembaca seakan dibawa untuk mendengar suara-suara

Merdeka

Bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb; berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dr tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa

Seruan kemerdekaan (kebebasan dari para penjajah yang menduduki negara Indonesia)

Pembaca seakan merasakan suatu keinginan untuk bebas tetapi terhalang sesuatu angkat

senjata

Angkat: naikkan; tinggikan Bergerak untuk maju dan

(5)

berkelahi atau berperang (tt keris,

tombak, dan senapan) penjajah yang menduduki untuk melakukan

deru Tiruan bunyi angin ribut (mesin mobildsb)

Suara-suara dari sanubari yang keluar dari

perenungan terhadap para pahlawan (seperti bunyi angin)

Pembaca seakan merasakan deru angin yang sangat keras dan yang sebenarnya adalah bunyi perenungan-perenungan

terbayang

Seakan-akan tampak, tampak bayang-bayangannya, sudah ada

tanda-tandanya (akan berhasil dsb), dapat dilihat; tampak

Mengharap pembayangan dari para penerus untuk perjuangan para pahlawan

Seakan pembaca ikut melakukan

Berjalan (bergerak) ke muka; tampil ke muka, mendesak ke depan (tt pasukan); pergi atau keluar ke medan perang, lulus (dl ujian), telah mencapai atau berada pd tingkat peradaban yg tinggi, cerdas;berkembang pikirannya; berpikir dengan baik

Menyerang lawan yang ada di hadapan. Para penerus harus terus maju untuk melanjutkan

perjuangan para pahlawan yang sudah mati sebelum ikut merasakan

Degap: tiruan bunyi papan yag

dipukul; tiruan bunyi debaran jantung Hati seperti berdetak/berdebar

merasakan ketakutan dan sebuah dorongan untuk memberanikan diri serta bergerak

Sekan pembaca merasakan debaran yang kuat pada jantung yang berdenyut Hati: sesuatu yang ada di dl tubuh

manusia yang dianggap sbg tempat segala perasaan batin dan tempat menimpan pengertian (perasaan dsb)

hening Diam; sunyi sepi; lengang Suatu keadaan yang sunyi tanpa suara apa-apa yang bergemuruh

Sekan pembaca merasakan suatu keadaan sepi dan sunyi

malam waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit Suasana malam yang gelap

Seakan pembaca terbawa dan dalam suasana malam

sepi

sunyi; lengang, tidak ada orang (kendaraan dsb); tidak banyak tamu (pembeli dsb); tidak ada kegiatan; tidak ada apa-apa; tidak ramai

Suatu keadaan yang tidak terlihat adanya siapa-siapa dan tidak terdengar suara sama sekali

Seakan pembaca merasa dalam keadaan sepi

hampa tidak berisi; kosong, tidak bergairah; sepi, sia-sia; tidak ada hasilnya

Suatu keadaan yang tanpa udara, kosong, dan sia-sia berada di dalamnya

Seakan pembaca masuk pada keadaan kosong, sepi, dan tanpa ada apa-apa

berdetak berbunyi spt berdetik, tetapi lebih berat;

Gerakan yang

menimbulkan bunyi seperti pada detak jam

Suara detak tersebut juga dirasakan pembaca dengan jantung yang berdebar

(6)

lagi seperti yang diharapkan menakutkan.

debu serbuk halus (dr tanah dsb); abu; duli; lebu

Butir dan serbuk tanah yang menutupi mayat-mayat/pemakaman

Pembaca seakan merasakan butiran debu yang sangat halus.

Kenang

(selalu) membangkitkan kembali dl ingatan; mengingat-ingat;

membayangkan

Suatu keadaan

membangkitkan kembali ingatan yang telah lalu

Pembaca merasakan suatu pembayangan mengenang sesuatu dari puisi yang dihadirkan

kenanglah

Seuatu keadaan

membangkitkan kembali ingatan yang telah lalu, tetapi lebih kepada

paksaan untuk melakukan kegiatan mengenang

Pembaca seakan dipaksa untuk melakukan kegiatan mengenang sesuatu yang telah

lampau/mengenang para pahlawan yang telah berjuang

nyawa

pemberi hidup kpd badan wadak (organisme fisik) yg menyebabkan hidup (pd manusia, binatang, dsb)

Sesuatu yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk mereka hidup menyebabkan seseorang hidup); nyawa;

Roh manusia yang berada di dalam diri yang paling dalam dan memiliki sebuah kepekaan terhadapa

melayang terbang krn dihembus angin

Suatu keadaan yang diperjuangkan semi suatu kebebasan.

Menimbulkan perasaan melambung dari tanah.

kemerdekaan keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dsb); kebebasan

Suatu keadaan yang bebas

Menimbilkan sebuah keadaan bebas dari sesuatu hal yang telah mengurungnya

kemenangan hal menang, keunggulan; kelebihan

Keadaan menang dan lebih unggul dari yang lainnya

Menimbulkan perasaan lega dan bahagia

harapan keinginan supaya menjadi kenyataan Keinginan yang sangat penting bagi seseorang

Menimbulkan perasaan ingin mewujudkan sesuatu yang diinginkan

Teruskan lurus menuju ...; langsung pd (arah ke); lantas

(7)

mayat badan atau tubuh orang yg sudah mati; jenazah

Berhubungan dengan kematian para pahlawan yang telah berjuang

Menimbulkan sebuah perasaan menakutkan.

impian

(barang) yg diimpikan; barang yg sangat di-inginkan

Suatu harapan yang sangat ingin dimiliki/diwujudkan

Seakan pembaca diajak untuk

mengetahui sesuatu yang diinginkannya.

Dalam tabel di atas (Puisi Karawang-Bekasi), banyak sekali munculnya sebuah keadaan yang menimbulkan suasana tertentu bagi pembaca. Pembaca seakan dimasukkan dalam sebuah perenungan terhadap perjuangan para pahlawan yang rela mati demi sebuah kemerdekaan. Berbagai makna emotif dari kata-kata yang digunakan oleh pengarang tersebut, banyak sekali menciptakan suasana yang sedikit haru dan mencekam. Pembaca digiring menuju kepada perasaan simpati melalui kata-kata yang mengandung makna emotif suasana tersebut. Makna-makna emotif yang muncul itulah yang menjadi jalan hadirnya sebuah ekspresi perasaan dari pembaca menuju sebuah keadaan yang diharapkan dari dalam puisi tersebut. Ada juga beberapa bahasa onomatopoik yang dimunculkan oleh pengarang, seperti kata deru, mendegap, dan berdetak. Bahasa-bahasa onomatopoik inilah yang membantu dalam mengungkapkan ekspresi pengarang dalam menciptakan tanggapan ekspresi dari pembacanya.

Makna dalam puisi “Karawang-Bekasi” akan penulis jabarkan untuk setiap barisnya dan penjabarannya adalah sebagai berikut.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi (Orang-orang yang mati dalam perang di antara Karawang-Bekasi)

tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. (Sudah jadi mayat, tak bisa melakukan apa-apa lagi)

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, (siapa yg tidak tahu kejadian waktu itu?)

terbayang kami maju dan mendegap hati ? (bayangkan pahlawan berperang dengan hati yang berdebar)

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi (para pahlawan hanya mampu memberi perenungan)

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak (Ketika kita mampu untuk merenungi, maka hati akan ikut merasakan apa yang telah di rasakan oleh para pahlawan)

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. (para pahlawan rela mati dalam masa yang masih belum banyak dan kini mereka telah menjadi mayat)

Kenang, kenanglah kami. (Para pahlawan ingin dikenang oleh para penerus)

Kami sudah coba apa yang kami bisa (Mereka sudah berjuang dengan segala apa yang mereka mampu untuk usahakan)

(8)

Kami cuma tulang-tulang berserakan (mereka telah menjadi mayat)

Tapi adalah kepunyaanmu (mayat yang berjuang untuk para penerus)

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan (sekarang tinggal bagaimana para penerus menghargai jasa-jasa para pahlawan tersebut)

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan (entah nanti para penerus menganggap bahwa para pahlawan sangat berharga dengan berbagai jasa mereka dan sekarang bagaimana para penerus meneruskan perjuangan mereka dengan segala harapan-harapan))

atau tidak untuk apa-apa, (ataukah tidak dianggap sebagai apa-apa oleh para penerus)

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata (Para pahlawan tidak tahu semua itu, tidak tahu mana yang dipilih oleh para penerus. Mereka tidak mampu untuk melakukan apa-apa lagi demi tercapainya sebuah negara yang baik)

Kaulah sekarang yang berkata (Para peneruslah yang kini memegang kekuasaan, mengarahkan ke mana jalan yang akan ditempuh demi kemerdekaan negara yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan)

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi (Para pahlawan hanya dapat menjadi perenungan-perenungan bagi para penerusnya)

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak (Ketika kita mampu untuk merenungi, maka hati akan ikut merasakan apa yang telah di rasakan oleh para pahlawan)

Kenang, kenanglah kami (Para pahlawan ingin dikenang)

Teruskan, teruskan jiwa kami (Para pahlawan mengharapkan perjuangan mereka terus dilanjutkan oleh para penerusnya untuk membangun negara yang telah mereka perjuangkan)

Menjaga Bung Karno (menghargai perjuangan Bung Karno)

menjaga Bung Hatta (menghargai perjuangan Bung Hatta)

menjaga Bung Sjahrir (menghargai perjuangan Bung Sjahrir)

Kami sekarang mayat (Mereka sekarang hanyalah mayat)

Berikan kami arti (Berikan penghargaan bagi mereka, para pejuang serta lanjutkan perjuangan para pahlawan tersebut)

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian (Marilah terus menuju ke yang lebih baik dan mewujudkan pembangunan negara yang telah mereka perjuangkan)

Kenang, kenanglah kami (Mereka ingin dikenang oleh para penerusnya)

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu (Mereka yang sekarang hanyalah mayat-mayat)

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (Beribu mayat mereka yang kini terpendam di antara Krawang—Bekasi)

(9)

Selanjutnya adalah analisis data yang ditemukan pada puisi Diponegiro. Analisisnya adalah sebagai berikut.

Kata Emotif Makna Leksikal Makna dalam KonteksKalimat Makna Emotif

hidup

masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb)

Suatu keadaan diturunkannya nyawa oleh Sang Pencipta kepada seseorang. Kembali bangit dari kematian

Merasakan kembali keadaan hidup dari kematian

bara kagum

Bara: barang sesuatu (arang) yg terbakar dan masih berapi

Kagum: heran (dng rasa memuji); takjub; tercengang

Perasaan kagum yang menyebar dan hangat bagaikan bara api yang terus memanas

intensitasnya

Suatu keadaan memuji sesuatu yang menimbulkan persaan kagim

terhadapnya.

api

panas dan cahaya yg berasal dr sesuatu yg terbakar; nyala

Semangat yang muncul dari sosok pahlawan yang dikagumi oleh pengarang puisi tersebut

Menimbulkan sebuah perasaan semangat yang kuat.

Tak gentar

“tidak” gerakan berulang-ulang yg cepat sekali (spt kawat kecapi yg dipetik); getar; geletar, takut

Tidak merasa takut kepada apa pun yang menghadangnya di depan.

Menimbulkan perasaan menguatkan tekad untuk maju tanpa perasaan takut

Pedang

parang panjang

(banyak macamnya Senjata perang

Menimbulkan perasaan gambaran dari suatu alat dalam perang

keris

senjata tajam bersarung, berujung tajam, dan bermata dua (bilahnya ada yg lurus, ada yg berkeluk-

keluk); Senjata perang khas jawa

Menimbulkan seuatu perasaan kesaktian dari keris yang dipegang oleh Diponegoro

semangat

roh kehidupan yg menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati (menurut kepercayaan orang dulu dapat memberi

kekuatan)

Suatu keadaan serius dan senang kepada hal yang dilakukannya

Menimbulkan sebuah keadaan semangat kepada pembaca

mati

sudah hilang

nyawanya; tidak hidup

lagi Sedaan tidak bernyawa kembali

Perasaan menakutkan muncul dari benak pembaca

bergenderang-berpalu

Suatu semangat untuk meraih kemerdekaan dengan

dianalogikan bagai suara genderang dengan ketukan palu

Menimbulkan perasaan semangat yang menggebu-gebu

menyerbu mendatangi dng maksud melawan

Seuatu gerakan bersama-sama untuk menyerang sesuatu

(10)

(melukai, memerangi);

menyerang sesuatu “penjajahan”

Punah

habis semua hingga tidak ada sisanya; benar-benar binasa

Keadaan hilangnya suatu hal yang jarang ada/mati lebih terhormat

Perasaan telah kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan

menghilang

menghamba mengabdi (kpd)

Suatu pengabdian kepada seseorang yang

berkuasa/memiliki kedudukan.

Terasa seperti terkurung dan tertekan oleh suatu kegiatan yang tidak diinginkan

Binasa

rusak sama sekali; hancur lebur; musnah

Suatu hasil dari proses mati karena sasuatu

Merasakan suatu keadaan mati

ditindas

disengsarakan; teraniaya

Suatu keadaan

dianiaya/disengsarakan oleh para penguasanya

Seakan pembaca ikut masuk dalam perasaan tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak diinginkan tetapi harus dilakukan dengan paksa

ajal

batas hidup yg telah ditentukan Tuhan, saat mati, janji akan mati

Suatu takdir kematian yang tidak dapat untuk dihindari

kembali Merasa takut dengan kematian yang akan datang

hidup

masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb)

Suatu keadaan diturunkannya nyawa oleh Sang Pencipta kepada seseorang. Kembali bangit dari kematian

Merasakan kembali keadaan hidup dari kematian

Maju

Berjalan (bergerak) ke muka; tampil ke muka, mendesak ke depan (tt pasukan); pergi atau keluar ke medan perang, lulus (dl ujian), telah mencapai atau berada pd tingkat peradaban yg tinggi, cerdas;berkembang pikirannya; berpikir dengan baik

Kegiatan menyerang lawan yang menjajah

Merasa terdorong untuk melangkah menuju kemenangan

Serbu

mendatangi dng maksud melawan (melukai, memerangi); menyerang

Melakukan sebuah serangan secara bersama-sama

Seakan pembaca merasakan keadaan di dalam geraknya melangkah menuju kebenaran

Serang

mendatangi untuk melawan (melukai, memerangi, dsb); menyerbu

Melakukan kegiatan

menyerang, maju, menyerbu lawan tanpa henti

Seakan pembaca

dihadirkan pada suasana peperangan dan maju tanpa peduli halangan yang menghadang Terjang tendang; sepak

(11)

ke bawah dng tapak kaki)

yang mengambil suatu kebabasan dari negara yang dijajah

Pembaca seakan juga melakukan sebuah serangan yang terus-menerus untuk mengambis sebuah kemerdekaan.

Dalam puisi Diponegoro di atas, makna-makna emotif juga dihadirkan untuk mengarahkan pembaca dalam suasana yang diharapkan oleh pengarang. Perbedaan dari puisi Diponegoro tersebut dengan puisi Karawang-Bekasi di atas adalah pada puisi Diponegoro tidak ditemukanbunyi-bunyi onomatopoik, tetapi lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa yang menimbulkan suatu suasana semangat. Selain itu, banyak juga kata-kata yang memiliki kesamaan bunyi meski bentuknya berbeda. Pengarang menafsirkan, selain untuk menimbulkan sebuah suasana yang sangat kuat di dalamnya, pengarang juga ingin menunjukkan sebuah bahasa yang dususun indah dalam setiap baitnya. Meskipun bahasa-bahasa tersebut banyak mengandung bunyi yang sama, tetapi bunyi-bunyi tersebut dapat menimbulkan sebuah suasana yang mendominasi. Bunyi-bunyi sama tersebut terlihat pada beberapa katanya, seperti maju, serbu, serang, pedang, dan terjang. Bunyi akhir yang sama tersebut juga memiliki pengaruh yang kuat dalam menimbulkan sebuah tekanan ekspresi tersendiri dari pembacanya.

Dalam sejarahnya, Chairil Anwar memilih tokoh Diponegoro sebagai teladan bagi bangsa Indonesia. Semangat dari Diponegoro tersebut dimunculkan kembali oleh Chairil Anwar dalam puisinya tersebut. Dahulu Pangeran Diponegoro pernah menggerakkan rakyat Jawa Tengauh dan Yogyakarta pada masa kehidupannya demi melawan penjajah. Keberanian dalam melawan Belanda, diungkapkan kembali dalam puisi tersebut. Menurut Wahyuningtyas dan Santosa (2011: 203) keganasan Diponegoro dalam melawan Belanda dilukiskan seakan-akan Diponegoro mengayun-ayunkan pedang di tangan kanan dan mengacu-acukan keris di tangan kiri. Memang apabila kita lihat kembali, senjata-senjata dari Belanda jauh lebih modern dari senjata Diponegoro, tetapi Ia tak gentar dengan semua itu. Diponegoro seakan hanya berbekal semangat dan rasa percaya diri yang tidak akan bisa mati. Seperti itulah figur yang diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul “Diponegoro”.

Selanjutnya adalah analisis puisi “Derai-Derai Cemara”. Analisisnya adalah sebagai berikut.

Kata Emotif Makna Leksikal

Makna dalam Konteks

(12)

menderai

tiruan bunyi titik-titik air hujan yg jatuh di kaca dsb

Bergerak dengan hembusan angin hingga pucuk-pucuknya beterbangan sampai jauh.

panjang antaranya (jaraknya); tidak dekat

Suatu keadaan yang tidak dekat, tidak tercapai oleh kita.

Menimbulkan

waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit

Suatu keadaan yang gelap dan dingin.

Suatu keadaan tidak kuat kembali menahan beban yang dimiliki

tertanam (dl tanah dsb), tersimpan dl hati, tersembunyi (tidak diketahui atau digunakan)

Sesuatu yang tanpa sengaja menjadi sebuah kenangan yang dalam.

tetap keadaannya (kedudukannya dsb) meskipun mengalami berbagai-bagai hal; tidak lekas rusak (berubah, kalah, luntur, dsb)

Suatu keadaan

mempertahankan sesuatu yang mudah untuk hancur

kekalahan perihal kalah

Suatu keadaan kalah dan menimbulkan keharuan.

terasing terpisah dr yg lain; terpencil Suatu keadaan tidak dikenal oleh siapa pun yang ada di sana.

Seakan

pembaca merasa sendiri tanpa kenal siapa pun yang ada di hadapannya/di sekitarnya menyerah mengaku kalah; tunduk

(tidak akan melawan lagi)

Pengakuan akan sebuah kekalahan yang sudah sulit untuk dibantahkan kembali.

(13)

yang sulit dibantahkan

terucapkan

(dapat) dikatakan; terkatakan

Melakukan sebuah ucapan yang tanpa disadari/sebenarnya tidak ingin diucapkan.

Menimbulkan sebuah perasaan tanpa sengaja mengucapkan sesuatu yang ada dalam benak pembaca

rendah dekat ke bawah; tidak tinggi

Suatu keadaan tidak

tinggi/masih belum mencapai tahap yang lebih jauh

Pembaca seakan merasa suatu perasaan negatif/ perasaan seakan-akan kurang.

Dalam puisi “Derai-Derai Cemara” tersebut, pangarang juga masih banyak menggunakan kata-kata yang mengandung makna emotif suasana pada puisinya. Dalam puisi tersebut juga terlihat sekali keteraturan dalam penggunaan akhir bunyinya/rima. Dari sini dapat dilihat bahwa pengarang masih meggunakan kaidah-kaidah puisi lama yang terikat oleh bait dan rima. Di samping hal itu, pengarang mampu menggunakan kata-kata yang mengandung makna emotif di dalam keterikatan tersebut. Dalam puisi tersebut seakan dimunculkan sebuah keadaan penyesalan terhadap sesuatu yang dialaminya. Pengarang memunculkan kata-kata yang membawa emosi pembaca kepada sebuah keadaan menyesal. Di lain sisi, keindahan bahasa juga diperhatikan oleh pengarang.

Interpretasi dari penulis mengenai makna mengenai puisi “Derai-Derai Cemara” adalah sebagai berikut.

Demikianlah, diksi/pilihan kata sungguh dicermati pengarang untuk menghasilkan kata berjiwa. Maka analisis terhadap pilihan kata pengarang akan sangat membantu pemahaman sebuah puisi.

Bait Pertama:

Cemara menderai sampai jauh Terasa hari akan jadi malam

Ada beberapa dahan di tingkap merapuh Dipukul angin yang terpendam

(14)

yang mulai lelah. Dengan simbol-simbol seperti dahan, yaitu bagian tubuh manusia yang mulai lemah dengan kiasan merapuh. Simbolik malam akan mengimajinasikan pada kesunyian, tempat sedang orang istirahat, dan akhir dari sebuah kehidupan; telah dimanfaatkan si penyair untuk sebuah proses kematangan

Bait kedua :

Aku sekarang orangnya bisa tahan Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi Tapi dulu memang ada suatu bahan Yang bukan dasar perhitungan kini

Yang artinya dengan skemata yang ada pada otak kita akan terbayang seorang anak-anak dengan sifatnya yang polos, lugu, dan lucu. Tapi, secara keseluruhan bait 2, bukanlah anak-anak yang ada dibenak kita. “Bukan kanak” ditunjang dengan kata-kata pendukungnya, menunjukkan sikap kedewasaan “Aku” lirik

Bait ketiga:

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Pada bait ini terasa kental sekali “aroma kematian” dan kepasrahan dari si Aku lirik. Isi dalam puisi ini, sangat patut kita renungkan sebagai nasihat dan pepatah hidup kita. Seperti, kata-kata hidup hanya menunda kekalahan telah menjadi semacam pepatah dan terasa tidak asing di telinga kita. Kiasan kekalahan sangat menarik untuk diperhitakan; padahal yang kita kenal selama ini adalah hidup hanya menunda kemenangan. Kekalahan adalah simbol dari kepasrahan dan sangat kental dengan aroma kematian.

Bait kedua dan ketiga Kata 'teraslng' mengandung rasa terpenoil, menunjukkan rasa keterasingan; sedangkan kata 'jauh' menunjukkan jarak yaitu angan-angan masa kanak-kanak yang cemerlang penuh harapan di masa yang akan datang, tetapi kenyataannya hidup ini penuh penderitaan. Sehingga kata jauh lebih tepat daripada kata terasing.

PENUTUP

(15)

unik adalah Chairil Anwar. Chairil Anwar memiliki gaya yang berbeda dengan pengarang-pengarang lain, yaitu penggunaaan diksi-diksi bermakna emotif. Diksi-diksi tersebut selain digunakan sebagai penciptaan nilai estetika, tetapi juga sebagai kata yang dapat mendorong sebuah aksi. Hal tersebut terbukti pada penjabaran dalam tulisan ini. Oleh karena itu, penggunaan diksi-diksi bermakna emotif di dalam puisinya adalah salah satu gaya Chairil Anwar dalam mengungkapkan gagasannya dalam media puisi.

DAFTAR RUJUKAN

Carey, P. 2001. Asal-Usul Perang Jawa. Yogyakarta: PT LkiS Printing Cemerlang Carey, P. 2007. The Power of Prophecy. Leiden: KITLV

Chaer, A. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT. Rineka Cipta Pateda, M. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta

Ratna, N. K. 2012. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sadili, H. 2010. Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli. Online (http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/), diakses pada 10 April 2014

Subroto, E. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media Sudaryanto. 1989. Pemanfaatan Potensi Bahasa; Kumpulan Karangan sekitar dan tentang

Satuan Lingual Bahasa Jawa yang Berdaya Sentuh Inderawi. Yogyakarta: Kanisius Sugono, D. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT

Gramedia Pustaka Utama

Tudjuddin, M. 2013. Bahasa Indonesia Bentuk dan Makna. Bandung: P.T. Alumni

Ullman, S. 2012. Pengantar Semantik. Diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wahyuningtyas, S. Dan Santosa, W. H. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pressindo

(16)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kamu sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)

(17)

Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri Menyediakan api.

Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai

Maju Serbu Serang Terjang

(Februari 1943)

(18)

cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah

Referensi

Dokumen terkait

Dalam media Obor Rakyat seolah ingin memberikan penekanan bahwa seorang warga Indonesia yang non muslim dan keturunan cina tidak pantas untuk menjadi seorang

• Kenal pasti contoh dalam organisasi di mana penyelesaian masalah dan membuat keputusan TIDAK berlaku dengan baik... • Kenal pasti trend dan

Setelah menangkap Galuh Gagalang, raja meminta para pengawal dan para prajurit untuk memboyong Putri Ringin Kuning dan kedua saudaranya.. Di bawah pimpinan masing-masing, para

Dari pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan yaitu : (1) media pembelajaran merupakan suatu alat atau perantara untuk mengkomunikasikan materi pelajaran

melakukan penelitian tentang “Analisis Penilaian Perkembangan Aktivitas Kerambah Jaring Apung, Kapal Boat, Penggarapan Lahan, Perkembangan jumlah Hotel, Kerusakan

Berdasarkan laporan realisasi penerimaan daerah Kabupaten Batang Hari tahun 2010-2014 diketahui bahwa, Pajak reklame merupakan sumber penerimaan pajak daerah

Perbedaan kelembaban diluar dan didalam arboretum disebabkan oleh adanya kondisi vegetasi di dalam arboretum menyebabkan penguapan terhambat sehingga kandungan air tidak

Laporan transaksi sangat berguna pada sebuah perusahaan pada umumnya dalam menentukan jumlah pendapatan yang dihasilkan dari penjualan, pelayanan apa saja yang diambil oleh