LAPORAN AKHIR
TEKNOLOGI GREENHOUSE DAN HIDROPONIK
“ Budidaya Tanaman Bayam “Anggota Kelompok : Najmi/F14100013
Arditya Rahman I/F14100046 Sumarlin Santoso S/F14110013 Via Mardiana/F14110029 David Pratama/F14110041 Akhmad Fauzi/F14110065 Hermawan/F14110067 Daniar Alfian R/F14110072
Miftah Fariz N/F14110074 Maulita/F14110089
Priyohadi/F14110091 Jhon Febri/F14110091 Abdullah Azzam/F14110116 Chandra Hadi M/F14110122 Nirwan Duta N/F14110126 Abi Rafdi Aziz/F14110133
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Teknologi penanaman dengan aeroponik merupakan teknologi bercocok tanam sayuran yang sudah mulai banyak dilakukan oleh pengusaha agribisnis. Hasil produksi sayuran dengan menggunakan teknologi ini sekarang sudah mulai banyak ditemukan di berbagai pasar swalayan di kota-kota besar. Meskipun harganya tinggi, namun sayuran ini selalu habis dibeli konsumen. Konsumen biasanya dari kalangan menengah ke atas. Alasan konsumen tetap memburu produk ini karena kualitas baik, higienis, sehat, segar, renyah, beraroma, dan cita rasa tinggi (Sutiyoso 2003).
Pada awal usaha, biasanya kualitas produksi merupakan tujuan kerja. Setelah itu disusul dengan kualitas dan kontinuitas. Untuk mencapai produk yang diharapkan, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti penguasaan sistem budidaya dan faktor lingkungan. Peluang kebutuhan akan sayuran berkualitas sangat terbuka dengan makin banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar swalayan. Diversifikasi jenis sayuran perlu dilaksanakan untuk memenuhi berbagai permintaan sayuran segar. Hingga saat ini jenis sayuran banyak dibudidayakan secara aeroponik, salah satunya bayam (Sutiyoso 2003).
Sebuah produk yang dipasarkan, khususnya dengan pasar swalayan/
supermarket/hypermarket dituntut untuk 3 hal pokok yaitu: kualitas, kontinuitas, dan produktivitas. Luasan lahan untuk pertanian semakin berkurang, harga sewa/beli tanah juga mahal. Dengan menerapkan sistem hidroponik akan mengurangi ketergantungan ketersediaan tanah dan tidak dibutuhkan rotasi lahan. Menggunakan cara aeroponik, ketersediaan nutrisi tanaman terjamin setiap saat. Pertumbuhan optimal akan mempengaruhi kualitas sayuran yang diperoleh (Sutiyoso 2003).
Tujuan
Praktikum budidaya tanaman bayam dengan aeroponik bertujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dari tinggi tanaman, jumlah daun, pengaruh pH dan EC terhadap tanaman dengan menggunakan teknik aeroponik.
TINJAUAN PUSTAKA
Bayam
Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah
selanjutnya, tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah Indonesia.
Tanaman bayam merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang mudah diperoleh di setiap pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Harganya pun terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Tumbuhan bayam ini awalnya berasal dari negara Amerika beriklim tropis, namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Hampir semua orang mengenal dan menyukai kelezatannya. Rasanya enak, lunak dan dapat memberikan rasa dingin dalam perut dan dapat memperlancar pencernaan. Umumnya tanaman bayam dikonsumsi bagian daun dan batangnya. Ada juga yang memanfaatkan biji atau akarnya sebagai tepung, obat, bahan kecantikan, dan lain-lain. Ciri dari jenis bayam yang enak untuk dimakan ialah daunnya besar, bulat, dan empuk. Sedangkan bayam yang berdaun besar, tipis diolah campur tepung untuk rempeyek.
Ditinjau dari segi kandungan gizinya, bayam merupakan jenis sayuran hijau yang banyak manfaatnya bagi kesehatan dan pertumbuhan badan, terutama bagi anak- anak dan para ibu yang sedang hamil. Di dalam daun bayam terdapat cukup banyak kandungan protein, mineral kalsium, zat besi, dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Beberapa kegunaan gizi dalam daun bayam seperti vitamin B dapat mencegah penyakit biri-biri, memperkuat syaraf, dan melenturkan otot rahim. Dengan demikian konsumsi bayam sangat dianjurkan bagi ibu yang tengah hamil untuk memudahkan persalinannya. Vitamin C sangat membantu memyembuhkan penyakit sariawan atau gusi berdarah.
Bentuk tanaman bayam adalah terna (perdu), tinggi tanaman dapat mencapai 1.5 – 2 m, berumur semusin atau lebih. Sistem perakaran lebih menyebar dangkal pada kedalaman antara 20 – 40 cm dan akar tunggang. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing mempunyai urat-urat daun yang jelas. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau keputih- putihan, sampai berwarna merah. Daun bayam liar umumnya kasap (kasar) dan kadang berduri. Batang tumbuh tegak, tebal, berdaging dan banyak mengandung air, tumbuh tinggi di atas permukaan tanah. Bayam tahunan mempunyai batang keras berkayu dan bercabang banyak. Bunga bayam berukuran kecil, berjumlah banyak, terdiri dari daun bunga 1 - 5, dan bakal buah 2 - 3 buah. Bunga keluar dari ujung- ujung tanaman ketiak daun yang tersusun seperti malai yang tumbuh tegak. Tanaman dapat berbunga sepanjang musim. Perkawinannya bersifat universal yaitu dapat menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Penyerbukan berlangsung dengan bantuan angin.
Budidaya Tanaman Bayam
Proses Penyemaian/Pembibitan
Persemaian (nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap pembibitan antara lain: 1. Gunakan benih dengan viabilitas tinggi (daya kecambah mencapai 90%) 2. Berikan perlakuan pada benih (seed treatment)
3. Penyimpanan benih pada suhu 10°C dan kelembaban 40%. Benih dapat bertahan hingga beberapa tahun.
4. Penyimpanan benih pada suhu ruangan (misalnya laci meja). Benih akan bertahan selama 3 bulan saja.
Proses Pindah Tanam/Penanaman
Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam), misalnya untuk tanaman bayam atau Amaranthus sp., umur semai 7 - 14 hari. Pengadaan bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang lebih menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Selain pengawasannya mudah, penggunaan benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.
Proses Perawatan/Pemeliharaan
Proses perawatan/pemeliharaan sangatlah penting dilakukan jika menginginkan tanaman ataupun hasil panen yang baik. Apabila tanaman tidak dirawat, maka tanaman akan mudah terserang hama penyakit dan mati. Berikut ini adalah beberapa macam proses perawatan/pemeliharaan tanaman.
1. Penyiraman
Penyiraman adalah proses pemberian air untuk tanaman secara periodik. Proses penyiraman ini dilakukan selama pertumbuhan tanaman. Waktu yang tepat untuk melakukan penyiraman adalah pada pagi dan sore hari (pagi pukul 06.00 s/d 09.00 dan sore pukul 15.00 s/d 17.30).
2. Pembubunan
di permukaan tanah sehingga perlu dilakukan pembubunan. Pembubunan adalah proses penimbunan media tanam baru keatas akar tanaman yang mulai terlihat di permukaan tanah.
3. Pemupukan
Pemupukan adalah proses pemberian zat-zat yang dibutuhkan tanaman yang bertujuan agar tanaman menjadi lebih subur. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik ataupun kimiawi, tergantung pada zat yang diperlukan oleh tanaman tersebut.
4. Penjarangan
Semakin lama, tanaman akan semakin tumbuh dan berkembang. Tanaman akan memerlukan tempat yang lebih luas lagi. Dengan begitu, diperlukan proses penjarangan. Penjarangan adalah proses pemindahan tanaman yang terlalu rapat dan pencabutan tanaman yang buruk/mati agar media tanam menjadi agak luas.
5. Pemangkasan
Pemangkasan adalah proses pengurangan daun-daun yang terlalu rimbun dan mudah tidak efektif untuk proses fotosintesis. Apabila dedaunan ini tidak dipangkas, maka daun ini hanya akan menjadi beban bagi tanaman saja karena sudah tidak mampu menghasilkan zat makanan.
6. Pewiwilan
Proses mengurangi tunas air yang tumbuhnya keatas dan bukan kesamping dinamakan pewiwilan. Jika proses ini tidak dilaksanakan, maka tunas air ini akan tumbuh menjadi batang baru dan bukan batang induk. 7. Pemasangan Alas Karung Goni
Pemasangan alas karung goni adalah pemberian alas pada tanaman apabila lantai media tanam terbuat dari tanah. Pemasangan alas bertujuan agar media tanam tidak ditumbuhi rumput/tanaman liar.
8. Penaungan
Proses pemberian atap berupa paranet atau plastik UV agar tanaman terhindar dari sinar matahari secara langsung ataupun terkena air hujan. 9. Pemasangan Benang Lanjaran
Arang sekam padi sebagai media tanam memiliki sifat ringan dan porus, hal ini membuat akar tanaman tidak bisa dicengkeram dengan kuat dan menyebabkan tanaman mudah rebah. Agar tanaman tidak rebah, diperlukan pemasangan benang lanjaran. Pemasangan benang lanjaran adalah proses pemberian benang pada batang tanaman agar tanaman tidak rebah.
12. Penyulaman
Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak baik. Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik. Penggantian tanaman harus dengan tanaman yang subur pertumbuhannya dan seumur dengan tanaman yang diganti.
13. Pemberian ZPT
Pemberian ZPT adalah proses pemberian zat rangsangan pada tumbuhan agar tanaman cepat tumbuh. Selain itu, ZPT juga dapat merangsang pembuangan, memperkuat bunga agar tidak mudah rontok, dan mempercepat pematangan buah.
14. Pemberantasan Hampen
Pemberantasan hampen atau hama penyakit adalah proses pengurangan dan menghilangkan hama dan penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pemberantasan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan pestisida organik pada daun tanaman atau mematikannya langsung (jika hama itu seekor ulat).
Aeroponik
Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Jadi aeroponik adalah memberdayakan udara. Aeroponik merupakan salah satu tipe dari hidroponik karena air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Salah satu kunci keunggulan aeroponik adalah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara sehingga respirasi akar lancar dan menghasilkan banyak energi. Aeroponik adalah sebuah metode bercocok tanam di udara, tanpa menggunakan media tanah, tanaman akan disokong menggunakan media papan, Rockwool (tenunan berserat dari helai lava) dan Styrofoam. Hal ini untuk menghindarkan akar tanaman terkena cahaya lampu yang ada di atas media, batas batang hingga pucuk tanam atau daun akan berada di atas yang akan mendapat cahaya langsung, dan akar tanaman akan dibiarkan menggantung di udara.
mengembangkan teknologi system penanaman aeroponik. Di asia percobaan pertama dilakukan oleh Prof. Lee Sin Kong dari Nanyang Technological University, di atap gedung dengan menggunakan bak persegi panjang. Beberapa kelebihan dari teknik budidaya secara aeroponik adalah:
1. Nutrisi tanaman terjamin, sehingga meningkatkan kualitas sayuran 2. Tidak tergantung pada musim
3. Tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak
4. Hasil produk yang diperoleh bersih, aman, sehat dan bebas pestisida 5. Dipanen umur muda, daging sayuran lebih renyah
6. Tanaman lebih cepat tumbuh sehingga frekuensi panen lebih banyak 7. Tanaman lebih fresh dan tahan lama karena dijual bersama akarnya
8. Relatif lebih aman dari serangan hama dan penyakit tumbuhan, karena terlindung oleh green house.
9. Fleksibilitas, tanaman dapat dipindah-pindah tanpa mengganggu pertumbuhannya.
10. Kecepatan adaptasi, saat pindah media tanam, bibit bisa langsung tumbuh tanpa aklimatisasi lama.
11. Menggunakan teknologi menengah–tinggi, memudahkan pekerjaan Namun begitu bukan berarti tidak mempunyai kelemahan, seperti : 1. Membutuhkan investasi cukup besar
2. Biaya perawatan mahal
3. Diperlukan pengawasan yang ketat terhadap teknologi yang digunakan
Secara detail, prinsip aeroponik sebagai berikut. Stryrofoam yang digunakan berwarna putih, panjang 2 m, lebar 1 m dan tebal 3 cm. Stryrofoam dibor diameter 1.5 cm dengan jarak tanam 15 x 15 cm sehingga populasi yang diperoleh 44 tanaman/m2 atau 88 tanaman/helai stryrofoam. Bibit yang berumur 12 hari dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibantu dengan busa atau rockwool. Sekitar 30 cm dibawah helai stryrofoam dipasang selang PE diameter 19 mm.
Tiap 80 cm selang PE ditancapi sprinkler spray jet warna hijau dengan curah (flowrate) 0,83 l/menit atau setara dengan 50b/jam dan bertekanan 1,5-2 atmosfir pada lubang (oritis) sprinkler. Tenaga untuk mendorong digunakan pompa dengan daya listrik (watt) antara 800-1.600 W dan dengan debit 200-240 l/ m. pompa yang sedemikian kuatnya dapat melayani 100-150 sprinkler atau setara lahan produksi sekitar 200 m2.
Filter digunakan untuk mengurangi kotoran yang dapat menyumbat lubang sprinkler. Terdapat beberapa macam ukuran filter dari yang kecil, sedang dan besar.Ukuran tersebut menggambarkan jumlah liter aliran yang dapat dilalui per jam. Pancaran kekuatan tinggi akan membentuk kabut butiran halus dengan jarak tembak lebih dari satu meter, dengan turbulensi tinggi dan akan mengambang lama di udara sehingga dapai mengenai seluruh ystem perakaran.
Nutrisi pada Hidroponik
Nutrisi hidroponik dibuat dengan menggabungkan hara makro dan hara mikro sesuai kebutuhan tanaman. Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang banyak, terdiri atas C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Apabila tanaman kekurangan unsur hara makro akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman tetapi dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro ini mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Jika kekurangan unsur hara mikro ini maka tanaman tidak akan tumbuh dengan optimal. Jenis unsur hara mikro ini adalah Mn, Cu, Fe, Mo, Zn, B (Wijayani et. Al. 1998).
Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai dengan kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hal ini mendasari adanya ystem ystem secara sederhana maupun otomatis pada larutan nutrisi. Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi tanaman (terutama dalam hidroponik dengan ystem yang tertutup) dapat dipertahankan. Suhu yang terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk tanaman sayuran suhu optimal antara 5 – 15 0C dan tanaman buah antara 15 – 25 0C. Beberapa tanaman sayuran dan buah dipertahankan mempunyai tingkat pH dan EC tertentu yang optimal (Savvas and Manos 1999).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan mulai dari tanggal 9 September 2014 sampai dengan tanggal 4 Desember 2014 di Greenhouse Laboratorium Siswadhi Supardjo, Leuwikopo.
Alat yang digunakan antara lain media tanam, penggaris, penyiram, Ecmeter dan pHmeter, pompa air, dan timer. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu benih bayam dan larutan A dan B.
Prosedur Praktikum
Persemaian
Gambar 1 Prosedur persemaian tanaman bayam
Pemindahan bibit bayam ke Aeroponik
Media tanam disiapkan dan dibuat lembab (sekam padi)
Pilih benih bayam yang baik dan bagus (direndam air hangat, pilih benih yang
tengelam)
200 benih diambil dan kemudian ditanam
Benih disiram tiap hari sesuai jadwal (pagi dan
sore)
Media tanam (Aeroponik)
dibersihkan dan ganti plastic di sterofoam.
Media tanam dipasangkan dengan pompa di dalam Greenhouse.
Bibit dilapisi dengan Rockwool untuk membantu berdiri di dalam cup
Bibit dimasukkan ke dalam cup
Bibit yang sudah di dalam cup dimasukkan ke dalam
Gambar 2 Prosedur pemindahan bibit bayam ke media tanam aeroponik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1 Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman periode I Hari
Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Periode I
Sampel 10 Sampel 12 Sampel 4
Hari
ke-Gambar 3 Grafik pertumbuhan tinggi tanaman bayam periode I Bibit disiram tiap hari sesuai jadwal (pagi
Tabel 2 Hasil pengamatan terhadap jumlah daun pada tanaman periode I
Sampel 2 Sampel 4 Sampel 10 Sampel 12 Sampel 15
Hari
Tabel 3 Data hail pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman periode II
Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Periode II
sampel 4 sampel 10 sampel 12
Hari
Ke-Gambar 5 Grafik pertumbuhan tinggi tanaman bayam periode II Tabel 4 Data hasil pengamatan terhadap jumlah daun pada tanaman periode II
3 3 3 3 2 4 4 2 3 2 4 3 3 4 5 5
sampel 2 sampel 7 sampel 8 sampel 12
Hari
ke-Gambar 6 Grafik pertumbuhan jumlah daun pada tanaman periode II
Pembahasan
Pada praktikum kali ini mahasiswa melakukan budidaya tanaman bayam dengan menggunakan teknik budidaya aeroponik. Teknik budidaya eroponik merupakan salahsatu teknik budidaya yang melakukan pemberian nutrisi dengan cara disemprotkan.
Benih bayam yang telah dipilih yang memiliki kualitas yang baik akan disemai terlebih dahulu. Media tanam yang digunakan adalah sekam padi yang dibuat lembab. Sebelum disebar, benih bayam harus direndam terlebih dahulu dengan menggunakan air hangat. Amati benih-benih yang tenggelam dan pilihlah benih yang tenggelam tersebut. Sebanyak 200 butir benih diambil lalu disebar pada arang sekam.
Pengamatan pertumbuhan tinggi dan jumlah daun tanaman bayam dilakukan dalam dua periode, yaitu periode I dan periode II. Periode I yaitu periode sebelum seluruh sampel mengalami kematian yang dilakukan selama 13 hari, sedangkan periode II yaitu periode baru setelah periode II, dilakukan penyulaman ulang. Kematian secara massal terjadi diakibatkan tidak optimalnya nutrisi yang diterima oleh tanaman. Timer tidak berfungsi dengan baik sehingga pengaturan waktu untuk penyemprotan sering mengalami keterlambatan. Penyemprot yang ada pun tidak dapat memancar dengan baik dan langsung mengenai akar, bahkan setelah dilakukan penyelidikan ditemukan bahwa nutrisi yang disemprotkan tidak sampai ke akar.
Gambar 3 dan gambar 5 menunjukkan pertumbuhan tiga sampel tanaman bayam (Sampel 4, Sampel 10, dan Sampel 12). Ketiga sampel menunjukkan pertumbuhan tinggi yang baik dengan standarisasi pengukuran yang seragam dibandingkan dengan sampel lain yang kurang seragam dalam standarisasi pengukurannya. Data pertumbuhan tinggi dari ketiga sampel tersebut sudah cukup mewakili keseluruhan sampel untuk penarikan kesimpulan. Sebenarnya ditemukan data dimana pertumbuhan tinggi mengalami penurunan. Secara teori hal tersebut tidak lazim terjadi karena tanaman sedang mengalami pertumbuhan, tetapi hal tersebut ditemukan dalam data yang telah didapat. Hal tersebut bisa jadi diakibatkan karena perbedaan penentuan datum ketika melakukan pengukuran.
Gambar 4 menunjukkan pertumbuhan jumlah daun lima sampel tanaman bayam (Sampel 2, Sampel 4, Sampel 10, Sampel 12, dan Sampel 15). Kelima sampel menunjukkan pertumbuhan jumlah daun yang baik dengan standarisasi pengukuran yang seragam, yaitu turut memperhitungkan daun yang masih muda. Sedangkan Grafik 6 menunjukkan pertumbuhan jumlah daun empat sampel tanaman bayam (Sampel 2, Sampel 7, Sampel 8, dan Sampel 12). Keempat sampel juga menunjukkan pertumbuhan jumlah daun yang baik dengan standarisasi pengukuran yang seragam, yaitu turut memperhitungkan daun yang masih muda dibandingkan dengan sampel lain. Data pertumbuhan jumlah tanaman dari sampel pada periode I dan periode II tersebut sudah cukup mewakili keseluruhan sampel untuk penarikan kesimpulan.
Kendala yang dihadapi ketika melakukan budidaya tanaman bayam secara aeroponik adalah penyemprotan nutrisi yang terjadi tidak optimal yang menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan mengalami kematian. Selain itu, timer yang berfungsi tidak baik juga turut memengaruhi pertumbuhan dari tanaman bayam tersebut.
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Rahayu Sri. 2012. Buku Panduan Praktik Budidaya Tanaman Sayuran dan Buah Hibrida Dengan Sisitem Hidroponik. Sribhawono.
Savvas D, and Manos, G. 1999. Automated composition control of nutrient solution in closed soilless culture systems. J. Agricultural Engineering Res. 73 : 29-33.
Sutiyoso Y. 2003. Aeroponik Sayuran, Budidaya dengan Sistem Pengabutan. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.