Tatalaksana HIV-AIDS
pada bayi dan anak
MM DEAH Hapsari
Divisi Infeksi dan Penyakit
Tropis
Dep Anak FK UNDIP-RSUP
dr Kariadi
Topik
•
Prevention Mother to child
transmission
•
Klinis dan Diagnosis HIV-AIDS
•
Infeksi Oportunistik
•
Tatalaksana pasien HIV-AIDS
•
Terapi ARV
•
Pemantauan pasien HIV-AIDS
PENDAHULUAN
•
HIV-AIDS sudah ditemukan 4 dekade lalu dan
menjadi salah satu isu utama kesehatan dunia
•
Dunia:
prevalensi 0,8%
Jumlah ODHA 33,3 juta
(UNAIDS 2009)•
Indonesia:
prevalensi 0,3%
Jumlah ODHA 186.000
(estimasi 2009)
Jumlah kasus yang dilaporkan sd Maret 212
sebanyak 30.430 kasus
(laporan triwulan 2012)Pemicu Penularan Epidemi HIV di Indonesia
1987-1997
Hubungan seks
sejenis laki-laki
(homo)
1997 – 2007
Penularan
melalui alat
suntik
(penasun)
2007-sekarang :
penularan melalui
Heteroseksual (dari
laki-laki pembeli
seks kepada istri)
dan dari Ibu yang
HIV ke bayi
Gelombang 1
Gelombang 2
Gelombang 3
Modul 6, Halaman 5
Bagan penilaian dan tatalaksana awal
Penilaian kemungkinan infeksi
HIV
•Status HIV ibu
•Paparan ibu pada ARV •Cara kelahiran dan laktasi
Gejala HIV & infeksi
oportunistik
•Anamnesis, pemeriksaan fsik: Cari gejala & tanda
HIV
•Anamnesis, pemeriksaan fsik: Cari infeksi
oportunistik
•Berikan pengobatan yang sesuai
ARV proflaksis & Proflaksis
PCP
•ARV proflaksis dapat diberikan pada bayi baru
lahirdari ibu HIV positif paing lambat dalam 72 jam pertama
•Berikan kotrimoksazol setelah usia 4-6 minggu
Uji diagnostik status HIV
•Lakukan uji diagnostik HIV (metode yang digunakan tergantung usia anak)
Bayi/anak dengan
paparan HIV ( BIHA )
1
Modul 6, Halaman 6
Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV ( BIHA )
memerlukan pemantauan dan perawatan yang
teratur
Prevention Mother to Child Transmission
Ibu, pasangan, dan keluarganya memerlukan
informasi yang tepat mengenai cara
perawatan dan pemantauan bayi dari ibu
dengan HIV
Mazami Enterprise© 2009
ARV Proflaksis
Pencegahan pneumonia
Pneumocystis
jiroveci
Imunisasi
Pemeriksaan status HIV bayi
Pemeriksaan umum bayi
Modul 6, Halaman 7
Pemeriksaan serologis anti HIV tidak dapat
dipakai sebagai perasat diagnosis pada anak
< 18 bulan, karena masih terdapat sisa IgG ibu
yang ditransfer selama kehamilan
Pemeriksaan status HIV anak
Bila Serologis Positif pada usia > 18 bulan,
dianggap anak terinfeksi HIV
IgG AntiHIV ibu
Serologis Serologis
Lahir 1 bln 2 bln 9 bln 12 bln 18 bln
Mazami Enterprise© 2009
Nia Kurniati, 2012
74 %
8
4-6 mgg
Pemeriksaan Umum
Bayi dr Ibu HIV (+)
BIHA
Keadaan umum & Tanda Infeksi Oportunistik
2 bln 3 bln 4 bln 5 bln 6 bln
9 bln
12 bln 15 bln 18 bln
Pengamatan I O Pengamatan IO
Setiap bulan ( selama 6 bulan pertama ), setiap 3 bulan sampai keputusan HIV + / -
-
Sariawan
-
Diare
-
IRA
Modul 6, Halaman 9
Jadual kunjungan bayi
Mazami Enterprise© 2009
Kegiatan Saat lahir KN 1 KN 2 6 Mgg 2 Bln 3 Bln 4 Bln 6 Bln 9 Bln 12 Bln 18 Bln Tiap 6 Bln
Evaluasi klinis √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Berat Badan &
Panjang Badan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Pemberian
makanan SF/ASI SF/ASI SF/ASI SF/ASI SF/ASI SF/ASI SF/ASI SF+MP SF+MP SF+MP ARV Profilaksis √ √ √ √
Kemoprofilaksis √ √ √ √ √ √ √
Imunisasi Sesuai dengan jadwal imunisasi Depkes/IDAI Perhatian khusus untuk BCG
Laboratorium
Hb & Leukosit v √
Kadar CD4 v √
PCR (RNA/DNA) v √
Serologi HIV √
SF= Susu Formula
ASIe= Air Susu Ibu eksklusif PCR= Polimerase Chain Reaction DNA= Deoxy Ribonucleic Acid
RNA= Ribonucleic Acid HepB= Hepatitis B
HIB= Hemoflus Infuenza B OPV= Oral Polio Vaccine MP= Makanan Padat
BCG= Bacillus Calmette Guerrin DTP= Difteri Tetanus Pertusis
Hb= Hemoglobin
Modul 6, Halaman 10
Dosis Kotrimoksasol (
Trimetoprim 4 mg/kg/x )
Mazami Enterprise© 2009
Rekomendasi dosis
harian Suspensi Tablet anak dewasaTablet kekuatan gandaTablet dewasa
Sulfametoxazol /
Trimetoprim 5ml sirup 200 mg/ 40 mg 100 mg/ 20 mg 400 mg/ 80 mg 800 mg/ 160 mg
< 6 bulan
S 100 mg/ T 20 mg 2,5 ml 1 tablet ¼ tablet,
dicampur makanan
-6 bln – 5 thn
S 200 mg/ T 40 mg 5 ml 2 tablet ½ tablet
-6 – 14 thn
S 400 mg/ T 80 mg 10 ml 4 tablet 1 tablet ½ tablet
>14 thn
S 800 mg/ T 160 mg - - 2 tablet 1 tablet
Frekuensi pemberian: SEKALI sehari
Modul 6, Halaman 11
Bagan penilaian dan tatalaksana awal
Identifkasi faktor risiko infeksi
HIV
•Status HIV ibu
•Cara kelahiran dan laktasi •Transfusi darah
•Penularan seksual •Pengguna Napza suntik
Gejala HIV & infeksi
oportunistik
•Anamnesis, pemeriksaan fsik: Cari gejala & tanda
HIV
•Anamnesis, pemeriksaan fsik: Cari infeksi
oportunistik
•Berikan pengobatan yang sesuai
Uji diagnostik status HIV
•Identifkasi gejala dan tanda HIV, atau infeksi oportunistik yang mungkin
akibat HIV
•Lakukan uji diagnostik HIV (metode yang digunakan tergantung usia anak) •Pada kasus status HIV ibu tidak dapat ditentukan, dan uji virologik tidak
dapat dikerjakan pada bayi usia < 18 bulan, maka uji antibodi HIV harus dikerjakan
Anak sakit berat,
paparan HIV tidak
diketahui, dicurigai HIV
12
Antibody Detection in 77 HIV-Exposed,
Uninfected
Infants in South Africa
Moodley D, PIDJ 1995;14:850
Rapid Ab can be used to exclude infection around 12-18 months
of age
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
% antibody
positive
birth 1 3 6 9 12 15 18
Temuan Klinis berkaitan erat dengan infeksi HIV
•
Berat Badan menurun
( gagal tumbuh)
•
Diare persiten( > 14 hari)
•
Demam persisten ( > 1
bulan)
•
Infeksi Sal Pernafasan
bawah menetap/ batuk
kronis
•
Kesulitan menyusu
•
Infeksi bakteri/
virus
yg
berulang
•
Dermatitis yang luas
•
Limfadenopati luas
•
Kandidiasi oral/ esofagus
•
Ensefalitis/ Disfungsi
neurologis
Ibu seropositif HIV
Riwayat transfusi
darah berulang
Korban kekerasan
seksual
Pemakaian jarum yg
tercemar HIV (tusuk
telinga, sirkum
sisi,tato)
Faktor Risiko Epidemiologis
Deteksi Dini HIV
Stadium (Klinis) HIV-AIDS (WHO)
stadium
Gambaran Klinis
I • Asimtomatik
• Limfadenopati generalisata yang persisten
II • Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan
penyebab lain
• Erupsi pruritik papuler
• Infeksi virus wart luas • Angular chelitis
• Moluskum kantagiosum luas • Ulserasi oral berulang
• Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat di
jelaskan
• Eritema gingival lineal
• Herpes zoster
• Infeksi saluran nafas atas kronik / berulang (Otitis media,
otorrhoea, sinusitis, tonsilitis)
Stadium
Gambaran klinis
III • Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan (tidak respon
dengan terapi standart
• Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (> 14 hari)
• Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (intermiten atau
kontinu > 1 bulan
• Kandidosis oral persisten
• Oral hairy leukoplakia
• Periodontis / ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
• TB kelenjar, TB Paru
• Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
• Pneumonitis interstitial limfoid simtomatik
• Penyakit paru kronik yang berhubungan HIV (bronkietasis)
• Anemia yang tidak dapat dijelaskan < 8 g/dl, neutropenia (<
500/mm3) atau trombositopenia (< 50.000 /mm3)
IV • Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat
dijelaskan dan tidak berespon terhadap terapi standar
• Infeksi bakterial berat yang berulang (empiema, infeksi tulang
sendi, meningitis, kecuali pneumonia)
• Infeksi herpes simplek kronik (orolabial/kutaenus > 1 bulan
atau viseralis dilokasi manapun)
• TB ekstrapulmonar • Sakroma kaposi
• Kandidiasis esofagus (trakea, bronkus, paru)
• Toksoplasmosis SSP • Ensefalopati HIV
• Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada
organ lain, dengan onset umur > 1 bulan
• Kriptokokokis ekstrapulmonar termasuk meningitis • Mikosis endemik disseminata (histoplasmosis,
coccidiomykosis)
• Kriptosporidiosis kronik dengan diare • Isosporiosis kronik
• Infeksi mikobakteria non tuberkulosis diseminata
• Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan denngan HIV
simtomatik
• Limfoma sel B non Hodgkin atau limfoma serebral
WHO classifcation of HIV-associated
immunodefciency in infants and children
Classifcation of HIV-associated immunodefcienc y
Age-related TLC values (cell/mm3)
<11 month
12-35
month
36-59 month
>5 year
Total lymphocyte count
<4000 <3000 <2500 <2000
CD4 count <1500 <750 <350 <200
Modified from WHO 2007.
The TLC is an option that is used only if CD4 measurement is not available in children with WHO clinical stage 2 disease. It cannot be used in asymptomatic children.
The TLC is also not useful for monitoring ART
Classifcation of
HIV-associated
immunodefcien
cy
Age-related CD4 (%) values
<11 month
(%)
12-35 month
(%)
36-59 month
(%)
(cell/mm
>5 year
3)
Not significant
>35
>30
>25
>500
Mild
30-35
25-30
20-25
350-499
Advanced
25-29
20-24
15-19
200-349
Severe
<25
<20
<15
<200 or <15%
WHO classifcation of HIV-associated
Tatalaksana pasien HIV-AIDS
Anak terpajan HIV
Anak terinfeksi HIV
Evaluasi awal & lanjutan
Pemberian ART
Pemantauan ART
Proflaksi I.O
Kesehatan secara menyeluruh
( nutrisi )
Pantau & cegah progresiftas penyakit
Edukasi & dukungan kepd org tua /
pengasuh Pencegahan
Infeksi
Tatalaksana Umum
Anak terpajan HIV
Anak terinfeksi HIV
Evaluasi awal & lanjutan
Pemberian ART
Pemantauan ART
Proflaksi I.O
Tu
m
bu
h
Ke
m
ba
ng
Nu
tri
si
Pemeliharaan
Kesehatan
rutin
Imu
nisa
si
Penc
egah
an &
Tx I.
O
Tatalaksana Umum
Anak terpajan HIV Anak terinfeksi HIV Evaluasi awal & lanjutan Pemberian ART Pemantauan ART Proflaksi I.OEvaluasi Awal pasien Terinfeksi HIV
Riwaya
t
Evaluasi
Kesehatan Ibu
Status ( CD 4,VL,Stadium Penyk,Komplikasi )
Penerimaan ARV, Jenis Persalinan Kesehatan
Anak Umur kehamilan,BL,Obat ARV,Riwayat ASI,Gejala IO,sakit berat,Imunisasi, Tum Kembang
Keluarga Riwayat sakit ( TB,HIV), Riwayat
terapi ARV Pemeriksa
an Fisik
Lengkap + Pemeriksaan Tum Kembang
Laboratori
um Darah Rutin+Hitung JenisHIV Elisa + Western Blot, CD 4 + Viral Load
Fungsi Ginjal+ urinalisis, Fungsi Hati + hepatitis B,C, cholesterol
Infeksi CMV, Toksoplasma, Siphilis,Tuberkulin
Rontgen dada, CT scan /MRI, EKG/Echo
Evaluasi Lanjutan pasien HIV
Organ
Pantauan
Sistem
Syaraf Pusat
Tumbuh Kembang-2 th, pemeriksaan
neurologi / thn
Kardiovaskul
ar
Rontgen Foto
Thoraks,EKG,Ekokardiograf setiap 3-5
thn
Paru
Tuberkulin test setiap thn, Rontgen
Foto Thoraks setiap 3-5 th
Gastrointesti
nal
Fungsi Hati setiap 3 bulan
Ginjal
Urinalisis setiap tahun
Hematologi
Darah rutin dengan hitung jenis
Evaluasi Lanjutan pasien HIV
Frekuensi
Evaluasi
Setiap 3
bulan
Darah rutin hitung jenis(TLC ), CD 4 ; Viral
Load
Setiap 6
bulan
Evaluasi tumbuh kembang dalam 2 thn
pertama,
Pemeriksaan opthalmologi
(CMV,Toksoplasma )
Setiap 12
bulan
Urinalisis, CMV & Tokso serologi
( sebelumnya -), Tuberkulin test,
Tumbuh-kembang setelah 2 tahun, dental setelah 1
tahun, skrining penglihatan & pendengaran
Setiap 3-5
tahun
Rontgen Foto Dada , EKG,
Anak terpajan HIV
Anak terinfeksi HIV
Evaluasi awal & lanjutan
Pemberian ART
Pemantauan ART
Proflaksi I.O
Kerjasama org tua
pengasuh
memahami tujuan
penghobatan
Perbaikan gizi terlebih
dahulu
Kepatuhan
-
Program pengobatan
- Kontrol teratur
Kriteria Klinis dan
imunologis
2
1
3
Kriteria Klinis & Imunologis
Klinis :
•
Stadium 3 & 4 ( risiko
kematian )
•
usia < 6 bulan (tu) dan 12
bulan ( walau CD 4 normal )
•
Usia > 12 bulan dengan
TBC, LIP.
•
Kalau berdasar CD 4 saja,
maka harus ada 2 x nilai
dibawah normal.
Imunologis :
-
Kadar CD 4
( severe )
-
Kadar Total Limfosit
Count
Bila belum ada indikasi
ART, periksa CD 4
setiap 3-6 bulan.
(pantauan TLC tidak
diperlukan )
Kesimpulan penggunaan kriteria Klinis dan Imunologis : Anak < 18 bulan ( antibodi HIV +) + kondisi klinis berat+ uji
PCR tdk ada
Starting ART when severely
immunodefcient increases mortality
Months from
ART start Probability of Death After Starting ART
Immune Deficient at Start
ART Not Immune Deficient at Start ART
6 months
7.8%
1.8%
12 months
8.2%
2.2%
6% excess mortality
73% median age > 5 years of age, > 50% start with severe immune defciency, most deaths within 6 months of starting ART.
Risk factors for death:
• low CD4
• < 18 months age
• WHO stage 3/4
• Viral load greater than 6·0 log • severe malnutrition
Arrive E et al. 14th CROI, Los Angeles, CA, 2007 Abs. 727
Indikasi (Panduan WHO
2010)
Stadium klinis Imunologis/CD4
< 24
bulan
Semua diterapi
> 24
bulan
Stadium 3 dan
4*
Semua diterapi
Stadium 1 dan
2
Terapi bila CD4 <
25%
Jangan diterapi bila
tidak ada
pemeriksaan CD4
Indikasi Imunologis (WHO
2010)
Umur
< 24 bulan
24 – 59
bulan
> 5 tahun
%CD4
Semua
diterapi
≤ 25
-Nilai CD4
ARV Lini Pertama ( 2 NRTI + 1 NNRTI )
Nama Obat
Dosis Efek Samping Keterangan
Nucleoside Reverse Tranciptase Inhibitor
Zidovudine
( AZT) < 4 mgg : 4 mg/kg/x, 2 x / hari > 4 mgg : 180-240mg/m2/x, 2 x/hari
Do maks : 300 mg/x, 2 x/hari
Anemia-netropenia Gejala
gastrointestinal
- Diminum bersama makanana
- Tidak boleh bersama d4T ( stavudin ) Lamivudin
e
(3 TC)
< 30 hari : 2 mg/kg/x, 2 x/hari
30 hari : 4 mg/kg/x, 2 x/hari
Do maks : 150 mg/x, 2 x /hari
-Toleransi baik -Dapat diminum
bersama makanan
Stavudine
(d4T) < 30 kg : 1 mg/kg/x, 2 x/hari> 30 kg : 30 mg/x, 2 x /hari
-Lipodistropi -Asidosis laktat -Neuropati perifer
- Tidak boleh bersama AZT
Non Nucleoside Reverse Transcriptase
Nevirapine 15-30 hari : 5 mg/kg/x, 1x/hari
( 2 minggu pertama
160 mg/kg/x, 1 x /hari. ( 2 minggu selanjutnya )
Kemudian 200 mg/x, 1 x/hari selanjutnya
- 13 tahun : idem diatas bold
Alergi : rash, steven
Johnson Syndrome Terdapatn interaksi dengan rifampisin
Efavirenz 200-400 mg /x/hari.
Do Maks : 600 mg/x, 1x/hari Minum menjelang tidur ( mengurahgi efek samping SSP )
Tidak boleh
Pemilihan ARV lini pertama
Kelompok Umur
Lini pertama
standar
BAYI
< 24 bulan, naïve
NVP + 2 NRTI
< 24 bulan, pernah terpapar
NVP
LPV/r + 2 NRTI
< 24 bulan, paparan
terhadap ARV ?
NVP + 2 NRTI
ANAK
24 – 36 bulan
NVP + 2 NRTI
> 36 bulan (3 tahun)
NVP atau EFV + 2
Pemilihan ARV pada kondisi
khusus
Penyakit lain (concomitant) Pilihan ARV
Anak atau remaja dengan ANEMIA 2 NRTI ( hindari zidovudin) + NVP
Anak < 3 tahun dg TB Tetap 2 NRTI + NVP
Atau
3 NRTI ( AZT/d4T + 3TC + ABC)
Anak > 3 tahun dg TB 2 NRTI + EFV
Atau
3 NRTI (AZT/d4T + 3TC + ABC)
ARV pada anak (NRTI )
Stavudin
Lamivudin
Nevirapin
FDC untuk bayi dan anak
Pemantauan pasien HIV
Pemantauan ART
Anak terpajan HIV
Anak terinfeksi HIV
Evaluasi awal & lanjutan
Pemberian ART
Pemantauan ART
Proflaksi I.O
P
eman tauanART
1
Pemantauan klinis ( tiap bln/4 bln, kmd tiap 2-3 bln, gejala + )
Berat Badan & Tinggi Badan.
Waktu = no 1 )2
3
Penghitungan dosis ARV ( setiap bln)
Obat lain yang bersamaan4
5
Pemantauan
Item 2 minggu 1 bulan 6 bulan 12 bulan 18 bulan
BB X X X X X
Efek
samping X X X X X
DPL X X X X
GOT/GPT X X X
Ur/Cr* X X X
CD4 X X X
PCR
RNA/VL* X X
•*Baru diusulkan untuk menjadi pemantauan rutin
•Secara Umum kunjungan konsultasi adalah 1 – 2
bulan sekali
Title Title Title Title
AZT :
anemia,neutro penia
ringan,
simtomatik, berat Hb , 7,5g/dl, ANC < 500/uL
AZT diganti dengan d4T
Gejala : -Gastrointestinal ( mual-muntah,diare) hilang dalam beberapa wkt,terapi simtomatik )
- ruam & toksisitas
hati. jika ringan terapi simtomatik, jika berat ( OT > 10 x) NVP harus diganti.
-Pusing ( EVF ) minum malam hari Indinavir menyebabkan nefrolitiasis Tenofovir menyebabkan disfungsi tubular renal obat ganyti dengan yang lainnya.
NRTI : disfungsi mitokondria : asidosis laktat , toksisitas hati, pankreatitis,neurop ati perifer,
lipoatropi,miopati. Obat diganti dengan NRTI jenis lain yg kurang toksik
Pemantauan Efek samping dan toksisitas
Angka Kejadian I. O di RSCM & RSDK
Tahun 2008 – 2010
www.themegallery.com
Diare kronik Gagal tumbuh Jamur demam lama ISPA ulang TBC 0%
10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
57% 57%
54%
42%
37%
33% 29%
63%
23%
6% 6%
36%
Tatalaksana Umum
Proflaksi Infeksi Oportunistik PCP
Anak terpajan HIV Anak terinfeksi HIV Evaluasi awal & lanjutan Pemberian ART Pemantauan ART Proflaksi I.O
Usia Kapan mulai
diberikan
Rejimen Obat
< 1
tahun Diberikan langsung , tanpa melihat CD4 atau klinis
Target 3 hari dalam 1 minggu
< 6 bln : 2.5 ml / 1 tab ped/1/4 tab dws
1-5 tahun
- Stadium 2-4 tanpa melihat CD 4 atau - Stadium berapapun dengan CD 4 < 25 %
6 bln-5 thn : 5 ml / II tab ped / ½ tab dws
> 6
tahun - Stadium WHO berapapun CD 4 < 350 sel/mm3
- Stadium 3-4 dan CD 4 berapapun
Tatalaksana pasien HIV
Rawat inap- Kondisi sehubungan dengan HIV
Pengamatan
Pemeriksaan Fisik
Umum
-gagal tumbuh, sindrom wasting berat - limfadenopati ekstensif / persisten - hepatosplenomegaliKepala dan
leher
-oral thrush tdk respon dengan terapi usia > 12 bulan - pembesaran kelenjar parotis persiten / rekuren
- otitis media / sinusitis berat - mikrosefali
- infeksi sekunder stomatitis berat pasca Herpes
simplek
Paru
- Jari tabuh yg tidak diketahui penyebabnya- distres pernafasan persisten
- hipoksia tdk sesuai dengan distres pernafasan
Kulit
-(rubeola, varisela, folikulitis ,eksim,dermatitisseboroik ) berat
- moluskum kontagiosum ekstensif
Neurologi
- gangguan perkembanganPasien HIV-AIDS yang
dirujuk ke RS
Tidak mau makan Sama sekali
Tidak sadar
Sepsis
Sesak nafas Pneumonia
Demam tinggi Demam lama
Diare dehidrasi berat
Diare persisten
Kejang
Tatalaksana pasien HIV
Evaluasi kedaruratan- kondisi kegawatan
Sepsis-Penyakit bakteri
invasif
- demam /
hipotermia -Disertai
hipoksemia.
- Mulai terapi PCP -Pneumocistis
CMV , jika
dengan terapi pCP tdk membaik
Distres
Pernafasan
- Meningitis ? - Kelainan metabolik
Kejang /penurunan kesadaran
Perdarahan GIT
-
bakteri,virus,par asit
Kesimpulan
PMTCT :
-Pemeriksaan
umum
-Status infeksi -Proflaksi ARV -Proflaksi PCP -Imunisasi
Tatalaksana secara umum : (terpapar /
terinfeksi )
-Konseling nutrisi
-Pencegahan
PCP
- Pantau tumb
kembang
- Pemberian ARV
Setelah ART
-Pantau efek
samping & toksisitas.
-Evaluasi klinis,
IO, status imunitas, kepatuhan
- kerjasama
Umur 8 bulan
Umur 12
bulan
Umur 12
bulan
Umur 12.5
bulan
Umur 13
bulan