Konferensi Nasional Teknik Sipil 10
Editor :
Harijanto Setiawan
Siswadi
Ferianto Raharjo
Menuju Masyarakat Industri Konstruksi
Berdaya Saing Tinggi
dan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan
Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
ISBN : 978-602-60286-0-0
Desain sampul dan Tata letak
GKM Print
Penerbit
Redaksi :
Cetakan pertama, Oktober 2016
Hak cipta dilindungi undang - undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin
Editor : Harijanto Setiawan Ferianto Raharjo Siswadi Jl. Babarsari No. 44 Yogyakarta 55281 Telp : 0274 - 487711 ext: 2162 email : [email protected]
Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Berdaya Saing Tinggi
ix
HALAMAN JUDUL ... i
SAMBUTAN KETUA PANITIA ... iii
SAMBUTAN KETUA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FT UAJY ... v
SAMBUTAN SEKJEN BMPTTSSI ... vii
DAFTAR ISI ... ix
KEYNOTE SPEAKER
PERKEMBANGAN TERKINI DALAM PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR YANG MELIBATKAN PARTISIPASI BADAN USAHA ... 1Andreas Wibowo INFRASTRUCTURE FOR RESILIENT AND SUSTAINABLE GLOBAL CITY: SINGAPORE EXPERIENCE ... 11
Johannes Widodo
Topik: MANAJEMEN KONSTRUKSI
024
FAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK REWORK PADA KONTRUKSI GEDUNG: PENDEKATAN KAJIAN LITERATUR ... 15Fahadila F. Remi, Yohanes L. D. Adianto dan Andreas Wibowo
025
PERANCANGAN OPERASI KONSTRUKSI PADA PROYEK JALAN LAYANG DENGAN SIMULASI ... 23Wahana Adhi Wibowo, Aulia Rahmi Halida dan Muhamad Abduh 036 PENGENDALIAN BIAYA MENGGUNAKAN METODE NILAI HASIL PELAKSANAAN PROYEK (KASUS: PEMBANGUNAN PABRIK KELAPA SAWIT) ... 31
Robintang Tua Simarmata dan Mardiaman 039 RANCANGAN PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN ELEMEN DALAM MANAJEMEN PENGELOLAAN JEMBATAN ... 41
Paksi Aan Syuryadi 042 PERANAN PENGGUNA JASA DALAM PENERAPAN KONSEP KONSTRUKSI HIJAU DI KOTA BANDA ACEH SEBAGAI KOTA HIJAU ... 51
Buraida 044 MEKANISME KEBIJAKAN STANDARD KETAHANAN GEMPA BARU PADA BANGUNAN PUBLIK ... 57
Himawan Indarto dan Ferry Hermawan 057 PENERAPAN EARNED VALUE PADA APLIKASI MICROSOFT PROJECT SEBAGAI PENGENDALI PROYEK (STUDI KASUS PADA PROYEK DI KOTA MEDAN) ... 65
060
PENERAPAN VALUE ENGINEERING PADA PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA ... 75
Dhani Wardhana 062
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI KE DALAM SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI ... 85
Diki Heryadi 075
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PROYEK KONSTRUKSI KONTRAKTUAL DENGAN PROYEK KONSTRUKSI BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN PAMEKASAN
MADURA ... 95
Dedy Asmaroni dan Rize Ikhwan Muttaqin 082
TAKSONOMI KEWIRAUSAHAAN KORPORAT PADA BISNIS KONSTRUKSI ... 105
Harijanto Setiawan 101
KAJIAN AWAL PENYUSUNAN INSTRUMEN PENILAI JALAN HIJAU DI INDONESIA ... 115
Wulfram I. Ervianto
104
TINGKAT RISIKO FAKTOR TENAGA KERJA, MATERIAL DAN PERALATAN PADA
PROYEK KONSTRUKSI DI PROVINSI ACEH ... 121
Saiful Husin, Abdullah, Medyan Riza, Moch. Afifuddin dan Putri Zalbania 105
RISIKO EKSTERNAL PADA PELAKSANA PROYEK KONSTRUKSI DI PROVINSI ACEH ... 131
Mubarak, Saiful Husin dan Syarafina 111
KOMPARASI RISIKO BIAYA PADA PELAKSANA JASA KONSTRUKSI DALAM TIGA
PERIODE DI PROVINSI ACEH ... 139
Fachrurrazi, Febriyanti Maulina, Muhammad Jamil dan Husna Amalia 112
RISIKO PROYEK KONSTRUKSI YANG BERSUMBER DARI FAKTOR KONTRAK DAN
PERENCANAAN DI PROVINSI ACEH ... 149
Nurisra, Mahmuddin, Nurul Malahayati dan Intan Sari 113
IDENTIFIKASI TERJADINYA RISIKO KETERLAMBATAN PELAKSANAAN PADA PROYEK
KONSTRUKSI DI PROVINSI ACEH ... 159
Tripoli, Alfa Taras Bulba, Fachrurrazi dan Cut Annisa Widyasari Mastura 117
ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) MENGGUNAKAN
METODE HIRADC PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG ... 169
Subrata Aditama dan Rudi Waluyo 130
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KLAIM PADA INDUSTRI KONSTRUKSI DI BALI ... 179
131
FAKTOR YANG MENDORONG PENGADAAN INFRASTRUKTUR JALAN YANG EFISIEN
DAN EFEKTIF ... 185
Anak Agung Diah Parami Dewi dan I Putu Ari Sanjaya 139
MODEL ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI JALAN BETON ... 191
Fajar Sri Handayani 140
KAJIAN PENERAPAN SUSTAINABLE PUBLIC PROCUREMENT DI BALI ... 197
I Gusti Agung Adnyana Putera 146
IDENTIFIKASI FAKTOR DOMINAN PENENTUAN SUPPLIER BETON READY MIX PADA
PEKERJAAN PONDASI BANGUNAN TINGGI ... 205
Dewi Rintawati, Bambang E. Yuwono dan Ario Trihantoro 149
OPTIMASI BIAYA DALAM RANCANGAN RUMAH TINGGAL YANG EKOLOGIS ... 215
Syahreza Alvan dan Irma N. Nasution 154
IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN BANGUNAN SEBAGAI BAGIAN DARI
PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN GEDUNG SEKOLAH ... 223
Dewi Yustiarini 158
ANALISIS KOMPARASI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA BERDASARKAN DATA
LAPANGAN DAN SNI PADA PEKERJAAN BANGUNAN AIR DI KABUPATEN KUNINGAN ... 229
Dikdik NS dan Anton Soekiman 160
STUDI KOMPARATIF ANTARA PELELANGAN PEKERJAAN KONSTRUKSI SECARA SISTEM KONVENSIONAL DAN PELELANGAN PEKERJAAN KONSTRUKSI
SECARA SISTEM E-PROCUREMENT ... 239
Hermansyah 169
KECENDERUNGAN PREFERENSI BUDAYA ORGANISASI LULUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA ... 249
Peter F. Kaming 179
KAJIAN IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008 PADA PERUSAHAAN
JASA KONSTRUKSI ... 257
Henny Yunita dan Yohanes L. D. Adianto 180
EFEKTIVITAS METODE NILAI-HASIL UNTUK PENGENDALIAN PROYEK KONSTRUKSI ... 265
Cicillia R. Mahendraswari dan Koesmargono 197
PENENTUAN PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG PUSKESMAS DI
KABUPATEN SUKOHARJO ... 275
204
MODEL PENGUKURAN FAKTOR SIGNIFIKAN YANG MEMPENGARUHI KINERJA BIAYA
DAN WAKTU PROYEK KONSTRUKSI ... 283
Fahirah F, Tri Joko Wahyu Adi dan Nadjadji Anwar 207
KAJIAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR DENGAN PENGGUNAAN ZAKAT DI PROVINSI
SULAWESI SELATAN (Studi Kasus Proyek Jalan Maros-Pangkajene 01 Sulawesi Selatan) ... 291
Mursalim, Sakti Adji Adisasmita, Rusdi Usman Latief dan Suharman Hamzah 216
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA RANTAI PASOK HIJAU PADA
PROYEK INFRASTRUKTUR JALAN ... 301
Apsari Setiawati, Jati Utomo Dwi Hatmoko, Bagus Hario Setiadji 222
KECELAKAAN KERJA PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA TAHUN 2005-2015:
TINJAUAN CONTENT ANALYSIS DARI ARTIKEL BERITA ... 311
Benny Hidayat, Rudy Ferial dan Novia Anggraini 225
PENENTUAN SKALA PRIORITAS PENANGANAN JALAN KABUPATEN PINRANG DENGAN
METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) ... 319
Irdayani 226
ANALISIS INDEKS LAPANGAN UNTUK PEKERJAAN COR BETON PADA STRUKTUR BALOK DAN PLAT GEDUNG BERTINGKAT TINGGI ... 329
Limanto S. dan Witjaksono Y.E. 229
ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG
DI YOGYAKARTA ... 335
Paulus Setyo Nugroho dan Bagyo Mulyono 254
STUDI KOTA BERWAWASAN LINGKUNGAN DI INDONESIA ... 343
Wulfram I. Ervianto 260
SISTEM DINAMIK UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SATUAN UPAH PEKERJAAN SUMBER
DAYA AIR ... 351
Hirijanto dan Sutanto Hidayat 269
ESTIMASI BIAYA KONSEPTUAL PADA JEMBATAN BETON BERTULANG BENTANG
PENDEK DENGAN METODE INDEK BIAYA ... 359
Bagyo Mulyono dan Paulus Setyo Nugroho 278
VARIABEL KOMPETENSI YANG DIBUTUHKAN DALAM MANAJEMEN KONSTRUKSI ... 367
Herry Pintardi Chandra 288
REKOMENDASI HASIL ANALISIS PENGARUH KAJIAN KUALIFIKASI PESERTA
PELELANGAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PEMBANGUNAN PROYEK “PENINGKATAN JALAN KABUPATEN SERANG PROVINSI
BANTEN” ... 375
289
REKOMENDASI DAMPAK HASIL ANALISIS RISIKO KETERLAMBATAN WAKTU PROSES
KONSTRUKSI YANG DILAKSANAKAN KONTRAKTOR “X” DI DKI JAKARTA ... 385
Manlian Ronald. A. Simanjuntak dan Lilis Suryani
Topik: KEAIRAN
030
ANALISIS PENDANGKALAN KOLAM DAN ALUR PELAYARAN PPN PENGAMBENGAN
JEMBRANA ... 393
Pujianiki N.N 033
ALOKASI AIR BAKU DAN IRIGASI DALAM MENGHADAPI MUSIM KERING PADA
DAS TIRO-PROVINSI ACEH ... 401
Azmeri, Ahmad Reza Kasury, Nina Shaskia dan Syamsul Bahri 048
PENGARUH KETINGGIAN TANAMAN PANDAN TIKAR (ACORUS CALAMUS) TERHADAP
TAHANAN ALIRAN PADA SALURAN TERBUKA ... 411
Maimun Rizalihadi dan Ihsan Murri 152
PENGAMATAN POLA DAN KEDALAMAN GERUSAN LOKAL (LOCAL SCOUR) PADA
MODEL ABUTMEN JEMBATAN YANG BERLUBANG (ORIFICE) ... 421
Nina Shaskia, Maimun Rizalihadi, Nurisra dan Halida Yunita 165
KAJIAN KURVA INTENSITY DURATION FREQUENCY (IDF) DENGAN PENDEKATAN
HASPERS DAN MONONOBE PADA DAS BT. OMBILIN ... 429
Zufrimar, Ridha Sari dan Elvi Syamsuir 170
ANALISIS SEDIMENTASI DAN MORFOLOGI MUARA SUNGAI IJO ... 437
Sanidhya Nika Purnomo, Wahyu Widiyanto, Tika Astritia dan Trisna Putri Pratiwi 184
POLA ALIRAN PADA BANGUNAN KANTONG LUMPUR ... 447
M. Lukman,S. Pallu, A. Thaha dan F. Maricar 189
PENGEMBANGAN MODEL SABO DAM TIPE TERBUKA UNTUK PENANGGULANGAN
ENERGI ALIRAN DEBRIS ... 455
Haeruddin C Maddi, Saleh Pallu, Arsyad Thaha dan Rita Lopa 215
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KOEFISIEN REGIM SUNGAI BENGAWAN SOLO
HULU (DAS NGREMBANG) ... 465
Titiek Widyasaridan Mega Novita 227
EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI DI. KATON KOMPLEKS DI KABUPATEN
LOMBOK TENGAH ... 473
Siti Nurul Hijah dan Lalu Siswadi 259
PENANGANAN BANJIR PADA JARINGAN DRANASE MENGGUNAKAN EPA SWMM
(Studi Kasus : Perumahan Mutiara Witayu Pekanbaru) ... 483
261
STUDI KOMPARASI PEMODELAN HIDROLOGI DAN PEMODELAN HIDROLIKA DALAM
MEMPREDIKSI BANJIR ... 493
Riza Inanda Siregar dan Ivan Indrawan
Topik: KAWASAN DAN LINGKUNGAN
038
THE EFFECT OF THERMAL ACTIVATION TIME AND DIFFERENT TYPE OF FLY ASH
ON MORTAR ... 501
Evi Aprianti dan Suharman Hamzah 094
PERENCANAAN DAN PEMANFAAN LIMBAH PADAT DAN LIMBAH CAIR PASAR HEWAN
BOLU ... 507
Reni Oktaviani Tarru, Harni Eirene Tarru, Asviart dan Agung Rantelangan 107
PERENCANAAN DESAIN TANGKI SEPTIK KOMUNAL DI KAMPUNG CIHIRIS, DESA
CISARUA, KECAMATAN NANGGUNG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT ... 513
Femylia Nur Utama, Lina Ariyani, Yanuar Chandra Wirasembada dan Yudi Chadirin 121
PERENCANAAN SISTEM PERPIPAAN AIR LIMBAH DOMESTIK UNTUK TANGKI SEPTIK
KOMUNAL DI KAMPUNG CIHIRIS, KABUPATEN BOGOR ... 523
Lina Ariyani, Femylia Nur Utama, Yanuar Chandra Wirasembada dan Yudi Chadirin 126
ANALISIS REDUKSI TIMBULAN SAMPAH PERKOTAAN DENGAN BANK SAMPAH ... 533
Ida Ayu Rai Widhiawati 185
IDENTIFIKASI MUNCULNYA RUMAH KUMUH BERDASARKAN SUDUT PANDANG
KEPENTINGAN PENGHUNI MENGGUNAKAN ROOT CAUSE ANALYSIS ... 539
Kemala Jeumpa dan Rumilla Harahap 187
STUDI PENERAPAN LEED (LEADERSHIP IN ENERGY AND ENVIRONMENTAL DESIGN)
PADA PROYEK X TOWER – JAKARTA ... 545
Johny Johan dan Giovanno Standy Tandaju 205
PENENTUAN PRODUKSI EMISI GAS METHAN SANITARY LANDFILL DI TPA BONTANG
LESTARI KOTA BONTANG ... 555
Siti Hamnah Ahsan, Salama Manjang, Wihardi Tjarongedan Syafaruddin 212
EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG 18-2008 PADA SISTEM SANITARY LANDFILL ... 563
Djoko Suwarno 213
PERENCANAAN TEMPAT PENGOLAHAN AKHIR JATIBARANG KOTA SEMARANG
DENGAN SISTEM SANITARY LANDFILL ... 571
Yeremia Susanto, Rangga Wibisono, Djoko Suwarno dan Budi Setiyadi 220
STUDI SISTEM PELAYANAN PERSAMPAHAN DI KABUPATEN TABANAN ... 581
246
STUDI DAMPAK RENCANA PEMBANGUNAN BANDARA DAN INDUSTRI BAJA DI KULON
PROGO TERHADAP KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA ... 591
Amos Setiadi 274
PEMANFAATAN DATA SEA SURFACE TEMPERATURE UNTUK ANALISIS PENYEBAB
PENURUNAN PRODUKSI MUTIARA DI PERAIRAN LOMBOK ... 599
Atas Pracoyo, Yusron Saadi dan Wakidi
Topik: REKAYASA DAN MANAJEMEN INFRASTRUKTUR
049
STRATEGI PENGADAAN UNTUK PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG DI PERGURUAN
TINGGI (STUDI KASUS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG) ... 609
Novya Ekawati dan Muhamad Abduh 077
ANALISIS KELEMBAGAAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JARINGAN
UTILITAS TERPADU DI KABUPATEN BADUNG ... 617
Anom Wiryasa 151
PEMETAAN KOTA BERBASIS DESA/KELURAHAN STUDI KASUS KOTA PROBOLINGGO ... 627
ISBN: 978-602-60286-0-0 437
ANALISIS SEDIMENTASI DAN MORFOLOGI MUARA SUNGAI IJO
Sanidhya Nika Purnomo1, Wahyu Widiyanto1, Tika Astritia1 dan Trisna Putri Pratiwi1
1Jurusan Teknik Sipil, Universitas Jenderal Soedirman, Jl. Mayjen Sungkono Km 05 Purbalingga
Email: [email protected]
ABSTRAK
Sekitar muara Sungai Ijo yang memiliki profil sungai bermeander dan terletak di pantai Selatan Pulau Jawa memiliki potensi perubahan morfologi sungai akibat adanya transpor sedimen. Untuk itu perlu dilakukan analisis sedimentasi dan morfologi di muara Sungai Ijo. Analisis sedimentasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa data kecepatan aliran, data sedimen melayang, data sedimen dasar, dan data geometri melintang sungai, sedangkan analisis perubahan morfologi sungai menggunakan peta satelit. Hasil analisis sedimentasi menunjukkan bahwa terjadi degradasi dasar sungai di ruas antara Jembatan Jetis dan PPI Logending dan terjadi agradasi di ruas diantara PPI Logending dan mulut sungai. Untuk morfologi di muara Sungai Ijo dari tahun ke tahun mengalami perubahan, yaitu terjadinya penyempitan sungai di sekitar Jembatan Jetis dan mulut sungai, dan di sekitar PPI Logending mengalami pergeseran alur ke arah selatan.
Kata kunci: sedimentasi, perubahan morfologi sungai, muara Sungai Ijo, PPI Logending
1.
PENDAHULUAN
Salah satu ciri utama muara sungai yang terletak diselatan Pulau Jawa adalah mulut sungai yang berpindah karena adanya angkutan sedimen sejajar pantai yang didominasi akibat gelombang. Muara Sungai Ijo merupakan salah satu sungai yang bermuara di selatan Pulau Jawa, dan saat ini dikembangkan untuk Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending yang mulai dibangun pada tahun 2012. PPI Logending dibangun dengan tujuan meningkatkan pendapatan nelayan akan ikan, sehingga masyarakat dapat lebih memanfaatkan hasil kekayaan hayati laut selatan Jawa. Namun, permasalahan yang kini masih membayangi PPI Logending saat ini adalah kapal-kapal besar berbobot 5-30 grosston (GT) belum dapat berlabuh akibat adanya proses sedimentasi dari laut dan sungai (Humas Pemprov Jateng, 2015). Oleh karena adanya ancaman sedimen tersebut, saat ini pembangunan PPI Logending dilanjutkan dengan tahap pembuatan pemecah gelombang yang digunakan untuk mencegah sedimentasi yang berasal dari pantai. Akan tetapi, melihat morfologi muara Sungai Ijo yang berkelok, tampaknya ancaman sedimentasi di Pantai Logending tidak hanya berupa proses sedimentasi yang berasal dari pantai saja (longshore drift), namun proses sedimentasi juga berasal dari angkutan sedimen dari hulu Sungai Ijo.
Beberapa penelitian mengenai sedimentasi di muara sungai yang digunakan sebagai pelabuhan akibat angkutan sedimen sejajar pantai telah dilakukan. Hal tersebut tampak dari beberapa publikasi yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Alur pelayaran barat Surabaya (APBS) mengalami pendangkalan akibat adanya angkutan sedimen yang berasal dari sungai-sungai yang bermuara di APBS (Wahyuni, Armono, & Sujantoko, 2013). Di Pulau Sumatera, analisis sedimentasi di Pelabuhan Selat Baru Bengkalis juga telah dianalisis dan menghasilkan endapan sedimen sebesar 0,1 cm/hari (Khatib, Adriati, & Wahyudi, 2013).
Namun, analisis angkutan sedimen di muara perlu dianalisis lebih lanjut. Pada sungai yang bermeander di bagian muara, sedimentasi di muara sungai kemungkinan besar tidak hanya berasal dari angkutan sedimen sejajar pantai, karena perubahan morfologi muara dapat juga diakibatkan oleh angkutan sedimen yang berasal dari hulu sungai. Hal ini membuat perlunya pertimbangan angkutan sedimen yang berasal dari hulu sungai. Analisis mengenai angkutan sedimen dasar (bedload) di muara yang berasal dari hulu sungai telah dilakukan. Di PPI Logending telah dilakukan simulasi analisis angkutan sedimen dasar menggunakan software HEC-RAS. Hasil simulasi dan analisis sedimen dasar (bed load) di PPI Logending menunjukkan bahwa pada bagian penampang sungai yang dekat dengan Jembatan Jetis mengalami erosi, sedangkan di penampang sungai yang berada 200 m di hulu PPI Logending dan di mulut Sungai Ijo mengalami deposisi (Purnomo & Widiyanto, 2015). Meskipun telah dilakukan analisis angkutan sedimen dasar di muara Sungai Ijo, namun perubahan morfologi sungai dan analisis sedimentasi di muara Sungai Ijo belum dilakukan. Untuk itu pada makalah ini, disajikan mengenai analisis sedimentasi dan perubahan morfologi di muara Sungai Ijo.
ISBN: 978-602-60286-0-0
2.
SEDIMANTASI MUARA SUNGAI IJO
Lokasi Studi dan Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam analisis sedimentasi di muara Sungai Ijo merupakan data primer berupa geometri melintang sungai, kecepatan vertikal aliran, serta sampel melayang dan sedimen dasar, yang diambil di 3 titik lokasi yang dianggap penting dalam analisis sedimentasi. Ketiga lokasi tersebut adalah di mulut sungai (hulu breakwater), 200 m dari hulu PPI Logending, dan di sekitar Jembatan Jetis, seperti yang tampak pada Gambar 1.
Titik pengambilan data dipilih dengan cara membagi lebar sungai di tiap lokasi pengambilan data menjadi 5 pias dengan lebar yang sama. Selanjutnya, pada kelima pias tersebut diambil data-data yang diperlukan untuk dianalisis lebih lanjut. Data kecepatan aliran, data sedimen melayang, dan data sedimen dasar pada studi ini juga digunakan oleh (Astritia, 2014) dan (Pratiwi, 2014).
Data Kecepatan Aliran
Data kecepatan aliran diambil dengan menggunakan current meter pada 5 titik kedalaman yang dilakukan di antara masing-masing pias, yaitu kedalaman yang dekat dengan dasar sungai, 0,2H, 0,6H, 0,8H, dan dekat dengan permukaan, dimana H adalah kedalaman pias di tiap titik pengambilan. Profil kecepatan di tiap titik pengambilan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Profil kecepatan aliran 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 0 0.5 1 1.5 Ke tin ggi an Mu ka Air (m ) Kecepatan (m/det) Hulu Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4 1 2 3 4 1,02 m 2,70 m 2,10 m 1,70 m 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 1 2 3 4 5 Ke tin ggi an Mu ka Air (m ) Kecepatan (m/det) Hilir Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4 1 2 3 4 1,15 m 1,2 m 1,15 m 0,45 m 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 1 2 3 4 Ke tin ggi an Mu ka Air (m ) Kecepatan (m/det) Tengah Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4 1 2 3 4 1,3 m 0,58 m 0,57 m 0,54 m
Gambar 1. Lokasi studi dan pengambilan data
Sumber peta: (Google-Earth-Pro, 2015), (Google-Map, n.d.)
1 2 3
PPI Logending
ISBN: 978-602-60286-0-0
Data Sedimen Melayang
Sampel sedimen melayang diambil menggunakan Suspended Sediment Sampler pada lokasi yang sama dengan pengambilan data kecepatan aliran. Hal ini dilakukan agar nantinya kedua buah data tersebut dapat dikompilasi dan digunakan pada analisis angkutan sedimen melayang. Sampel sedimen melayang yang diambil dari lapangan, selanjutnya diuji di laboratorium sehingga didapatkan konsentrasi sedimen melayang dari ketiga titik lokasi pengambilan sampel tersebut. Hasil pengujian data sedimen melayang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Konsentrasi sedimen melayang
Lokasi
Pengambilan Data Pias
Titik Pengambilan Data H tot (m) H (m) C (g/l) Hulu Pias 1 0,8H 1.02 0.82 0.95 0,2H 0.20 1.26 Pias 2 0,8H 2.7 2.16 0.89 0,2H 0.54 0.63 Pias 3 0,8H 2.1 1.68 0.80 0,2H 0.42 0.68 Pias 4 0,8H 1.7 1.36 0.78 0,2H 0.34 0.83 Tengah Pias 1 0,8H 1.3 1.04 1.10 0,2H 0.26 1.19 Pias 2 0,8H 0.58 0.46 1.21 0,2H 0.12 1.35 Pias 3 0,8H 0.57 0.46 1.21 0,2H 0.11 1.82 Pias 4 0,8H 0.54 0.43 1.50 0,2H 0.11 1.87 Hilir Pias 1 0,8H 1.15 0.92 0.73 0,2H 0.23 0.68 Pias 2 0,8H 1.2 0.96 0.53 0,2H 0.24 0.59 Pias 3 0,8H 1.15 0.92 0.89 0,2H 0.23 0.59 Pias 4 0,8H 0.45 0.36 0.43 0,2H 0.09 0.43
Dengan menggunakan data konsentrasi sedimen melayang, akan dianalisis profil konsentrasi sedimen melayang berdasarkan Persamaan Rouse, sehingga dapat dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan debit sedimen melayangnya.
Data Sedimen Dasar
Data sedimen dasar diambil di dasar sungai pada masing-masing lokasi pengambilan data menggunakan Ekman Dredge Sampler. Sampel sedimen dasar yang diambil dari lapangan, selanjutnya diuji di laboratorium sehingga didapatkan berat jenis sedimen dan gradasi butiran sedimen dari ketiga titik lokasi pengambilan sampel tersebut. Berdasarkan pengujian di laboratorium, didapatkan berat jenis rata-rata di titik 1, 2, dan 3, berturut-turut adalah 2,67, 2,58, dan 2,63, dan gradasi butiran sedimen dasar di sekitar muara Sungai Ijo ditunjukkan pada Gambar 3.
ISBN: 978-602-60286-0-0 Berdasarkan data gradasi butiran yang ditunjukkan pada Gambar 3, akan didapatkan diameter butiran untuk analisis debit sedimen dasar di tiap pias pada tiap titik pengambilan data, sehingga dapat dianalisis lebih lanjut angkutan sedimen dasar di sekitar muara Sungai Ijo.
3.
ANALISIS SEDIMENTASI
Pada analisis sedimentasi di muara Sungai Ijo, akan dilakukan analisis sedimentasi untuk angkutan sedimen melayang dan angkutan sedimen dasar di tiap titik pada semua lokasi pengambilan data. Selanjutnya, hasil dari analisis angkutan sedimen melayang dan angkutan sedimen dasar akan dijumlahkan, sehingga akan didapatkan angkutan sedimen total di sekitar muara Sungai Ijo
Analisis Angkutan Sedimen Melayang
Cara paling sederhana untuk menghitung debit sedimen suspensi adalah dengan cara menggabungkan data profil kecepatan aliran dengan data konsentrasi sedimen melayang yang telah diolah menjadi profil konsentrasi sedimen melayang. Debit konsentrasi sedimen melayang dapat dinyatakan sebagai perkalian antara profil kecepatan aliran dengan profil konsentrasi sedimen, seperti yang tertera pada Persamaan 1.
D a s Cu dy
q (1)
dimana C dan u masing-masing adalah konsentrasi sedimen dan kecepatan aliran yang merupakan fungsi kedalaman aliran, dan qs adalah debit angkutan sedimen yang dinyatakan dalam berat tiap unit waktu dan lebar.
Untuk mencari profil konsentrasi sedimen melayang, salah satu persamaan yang dapat digunakan adalah Persamaan Rouse. Persamaan Rouse merupakan persamaan yang cukup sederhana, yang digunakan untuk menghitung profil konsentrasi sedimen yang diturunkan dari persamaan difusi untuk profil konsentrasi pada saluran fluvial pasir (Udo & Mano, 2011). Persamaan Rouse dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi dari butiran yang memiliki uss
pada jarak y dari dasar, jika memiliki konsentrasi referensi Ca pada sejarak a dari dasar dan diekspresikan dalam
Persamaan 2 (Graf, 1971). z a D a a y y D C C , dimana * ss ku u z (2) Gambar 3. Gradasi butiran sedimen dasar
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0.001 0.01 0.1 1 10 Pe rse n L o lo s, % Diameter, mm Hulu
Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0.001 0.01 0.1 1 10 Per sen Lo lo s, % Diameter, mm Tengah
Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0.001 0.01 0.1 1 10 Per sen Lo lo s, % Diameter, mm Hilir
ISBN: 978-602-60286-0-0
Nilai C adalah adalah konsentrasi sedimen pada tiap kedalaman muka air y yang dihitung dari dasar sungai, D adalah kedalaman muka air, z adalah angka Rouse, uss adalah kecepatan pengendapan, adalah konstanta von
Karman yang biasanya diambil sebesar 0,4, dan u* adalah kecepatan geser dasar. Sementara itu nilai Ca merupakan
konsentrasi referensi yang diukur pada kedalaman lapisan saltasi (saltation layer) setinggi y = a (Udo & Mano, 2011). Untuk nilai a, beberapa peneliti mengemukakan hal yang berbeda-beda. Besarnya nilai a pada profil vertikal secara signifikan pada umumnya adalah 0,05D (Vanoni, 1946, dalam Udo & Mano, 2011); setengah dari ketinggian bentuk dasar () atau sama dengan tinggi kekasaran (ks) jika dimensi bentuk dasarnya tidak diketahui, dimana nilai
minimum a = 0,01D; atau 100d (d adalah diameter dari partikel pasir) (Shibayama danRattanapitikon, 1993, dalam Udo & Mano, 2011).
Di sekitar muara Sungai Ijo, profil konsentrasi sedimen di tiap titik pengambilan data menggunakan Persamaan 2 dan Persamaan 3, disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Profil konsentrasi sedimen melayang
Berdasarkan Gambar 4, tampak bahwa konsentrasi sedimen suspensi di tiap titik pengambilan cukup seragam dancukup dekat dengan profil konsentrasi teoritis jika menggunakan angka Rouse sebesar 0,01. Selanjutnya, profil angkutan sedimen suspensi dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 1 berdasarkan profil kecepatan aliran pada Gambar 2 dan profil konsentrasi sedimen pada Gambar 4, seperti yang tampak pada Gambar 5.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0.001 0.01 0.1 1 (y -a)/(D -a) C/Ca z=1,46 z=1,03 z=0,89 z=0,66 z=0,52 z=0,34 z=0,01 0.000 0.500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 0.000 0.500 1.000 1.500 2.000 2.500 Ke tin ggi an Dari Das ar (m)
Angkutan Sedimen (gr/det)
Hulu
Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 1.400 0.000 0.500 1.000 1.500 2.000 2.500 Ke tin ggi an Dari Das ar (m)
Angkutan Sedimen (gr/det)
Hilir
Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 1.400 0.000 0.500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 K etin gg ian Dari Das ar (m )
Angkutan Sedimen (gr/det)
Tengah
Pias 1 Pias 2 Pias 3 Pias 4
ISBN: 978-602-60286-0-0 Berdasarkan profil debit angkutan sedimen suspensi pada Gambar 5, tampak bahwa tiap pias menghasilkan debit sedimen suspensi yang berbeda-beda. Hasil perhitungan angkutan sedimen suspensi menunjukkan bahwa di titik pengambilan sampel bagian hulu adalah sebesar 0,561 ton/hari, bagian tengah sebesar 0,799 ton/hari, dan bagian hilir sebesar 0,595 ton/hari, sehingga total angkutan sedimen suspensi di sekitar muara Sungai Ijo adalah sebesar 1,955 ton/hari.
Analisis Angkutan Sedimen Dasar
Persamaan Einstein digunakan untuk menghitung debit sedimen di sekitar muara Sungai Ijo. Hal ini dilakukan terutama karena model fisik Einstein dibuat cukup luas pada mekanika fluida lanjut (Graf, 1971). Einstein memberikan dua pertimbangan dasar yang berbeda dengan beberapa pendapat ahli sedimen sebelumnya, yaitu (1) menentukan definisi nilai kritik pada awal gerak butiran cukup sulit ditentukan, sehingga sebaiknya dihindari. (2) Angkutan sedimen dasar lebih berhubungan dengan fluktuasi kecepatan dari pada dengan harga rerata kecepatan, sehingga pergerakan awal dan akhir dari partikel harus diekspresikan dengan konsep probabilitas, yang berhubungan dengan gaya angkat hidrodinamik sesaat dengan berat partikel di dalam air (Graf, 1971).
Menurut Einstein, jumlah partikel yang terdeposit per unit waktu dalam unit luasan diekspresikan pada Persamaan 3, sedangkan jumlah partikel yang tererosi per luasan dan waktu dinyatakan pada Persamaan 4, dan persamaan angkutan sedimen dasar pada kondisi equilibrium dinyatakan pada Persamaan 5 (Einstein, 1950).
4 s L 2 b b s 3 2 L B B D g A A q i g D DA A q i (3)
s s 2 3 1 b D g D A A p i (4)
sp s 2 1 3 b 4 L 2 s B B D g D A A p i gD A A q i (5)dimana qBiB adalah laju angkutan sedimen per unit lebar per unit waktu, D adalah diameter butiran, AL adalah
panjang luasan deposisi yang memiliki unit lebar, A1 adalah konstanta luasan butiran, A2 adalah konstanta volume
partikel, A3 adalah konstanta skala waktu, s adalah rapat massa sedimen, adalah raat massa air, g adalah gravitasi,
dan p adalah probabilitas erosi (Einstein, 1950) (Graf, 1971).
Dengan beberapa penyederhanaan, dibuatlah parameter intensitas sedimen dasar () yang merupakan bilangan tak berdimensi, yang dinyatakan dalam Persamaan 6.
2 1 3 2 1 s s B gD 1 g q (6) Einstein juga membuat sebuah parameter aliran Ψ yang menghubungkan rapat massa air dan sedimen (), diameter butiran (D), gravitasi (g), kemiringan garis energi (S), dan jari-jari hidraulik yang dipengaruhi oleh parameter kekasaran dasar sungai (ripple faktor) , dimana R’B = .R, serta grafik yang menghubungkan antara Ψ dan ,
seperti yang tampak pada Persamaan 7 dan Gambar 6.
B s ' SR D (7) Nilai D yang digunakan pada Persamaan Einstein adalah diameter butiran D35. Ripple factor akibat koefisien Chezy
diberikan oleh Frijlink, dan dinyatakan pada Persamaan 9 (Waterloopkundig-Laboratorium-Delft-Hydraulics-Laboratory, 1976). 2 3 ' C C (8) dengan k R 12 log 18 C dan 90 90 d R 12 log 18 C
ISBN: 978-602-60286-0-0
Gambar 6. Plotting persamaan Eintein: * dan Ψ*
Hasil analisis angkutan sedimen di sekitar muara Sungai Ijo diberikanpada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis angkutan sedimen dasar di sekitar muara Sungai Ijo
Analisis Angkutan Sedimen Total
Berdasarkan analisis angkuta sedimen melayang dan sedimen dasar, didapatkan debit angkutan sedimen total sepertitampak pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil angkutan sedimen total di sekitar Muara Sungai Ijo
Bagian Titik
qtot = qB+qs
qtot =
qB+qs qtot (ton/hari) (ton/tahun) (m3/tahun)
Hulu 1 3822.04077 1395045 529547.13 2 3 4 Tengah 1 8343.01438 3045200 1178158.04 2 3 4 Hilir 1 7743.4634 2826364 1059100.9 2 3 4
Bagian Titik s w d35 d90 R C C90 S y qB qB qB kg/m3 kg/m3 mm mm (m) (mm) (mm) (N/m.det) (N/m.det) (ton/hari) 1 2622.97 1000 1.62 0.180 4.100 1.020 210.790 62.550 6.186 0.00003 1.395 0.16 0.039672 2 2630.08 1000 1.63 0.110 0.450 2.700 116.320 87.432 1.535 0.00005 0.863 6 0.714197 3 2648.49 1000 1.65 0.110 0.450 2.100 56.203 85.467 0.533 0.00026 0.628 12 1.44649 4 2636.10 1000 1.64 0.200 2.400 1.700 36.163 70.730 0.366 0.00072 0.734 11 3.223357 1 2578.69 1000 1.58 0.110 0.440 1.300 305.260 81.894 7.197 0.00010 0.178 5.7 0.654659 2 2597.12 1000 1.60 0.250 3.800 0.580 120.614 58.731 2.943 0.00093 0.250 10 3.986353 3 2579.77 1000 1.58 0.500 4.400 0.570 262.319 57.449 9.757 0.00024 0.598 0.42 0.467827 4 2583.27 1000 1.58 0.110 3.100 0.540 70.516 59.764 1.282 0.00226 0.111 47 5.415484 1 2679.32 1000 1.68 0.210 0.510 1.150 172.648 79.782 3.183 0.00030 0.326 7.8 2.532326 2 2675.93 1000 1.68 0.110 0.450 1.200 56.150 81.093 0.576 0.00454 0.059 75 9.209948 3 2657.86 1000 1.66 0.110 0.460 1.150 340.623 80.588 8.690 0.00007 0.247 3.2 0.388193 4 2661.47 1000 1.66 0.110 0.500 0.450 85.952 72.602 1.288 0.00076 0.417 15 1.824107 Hulu Tengah Hilir 5.423715 10.52432 13.95457 3821.4802 8342.2153 7742.8685
ISBN: 978-602-60286-0-0 Berdasarkan Tabel 3 tampak bahwa pada debit sedimen total di bagian hulu lebih kecil dibandingkan dengan angkutan sedimen di bagian tengah, namun angkutan sedimen tengah lebih besar dibandingkan dengan angkutan sedimen bagian hilir. Hal ini menunjukkan bahwa di ruas antara bagian hulu dan tengah (bagian 1) terjadi degradasi, sedangkan di antara ruas tengah dan hilir (bagian 2) terjadi agradasi. Berdasarkan analisis, didapatkan luasan sungai bagian 1 adalah sebesar 119918.94 m2, dan luasan sungai bagian 2 adalah sebesar 80119.55 m2, sehingga didapatkan penurunan dasar sungai di bagian 1 adalah sebesar 5,41 m/tahun atau 0,01 m/hari dan di bagian 2 terjadi kenaikan dasar sungai setinggi 1,46 m/tahun atau 0,004 m/hari.
4.
PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI
Morfologi sungai erat kaitannya dengan bentuk, ukuran, jenis, perilaku dan sifat sungai. Oleh karena banyaknya parameter morfologi sungai, hal tersebut menyebabkan sebuah sungai memiliki sifat morfologi yang dinamik. Sungai alluvial, dimana material dasar sungainya terbentuk dari material endapan, merupakan sungai yang sangat rentan terhadap perubahan morfologi sungai. Terdapat tiga pola dasar yang dapat terjadi pada sungai aluvial, yaitu pola yang berbentuk menjalin (braided), berkelok-kelok (bermeander), dan lurus (Matsuda, 2004). Perubahan morfologi sungai dapat dipengaruhi oleh iklim, ekologi dan aktivitas manusia. Telah diteliti secara kuantitatif dan kualitatif terhadap pengembangan morfologi, bahwa selama dan setelah terjadinya banjir mengindikasikan perubahan elevasi oleh karena adanya angkutan sedimen, penumpukan batuan, dll (Neuhold, Stanzel, & Nachtnebel, 2009). Angkutan sedimen pada sungai alluvial dapat terjadi di sepanjang sungai. Erosi biasanya mendominasi di bagian hulu dari daerah tangkapan air, dan material angkutan sedimen akan terbawa ke daerah tangkapan air yang lebih rendah (Matsuda, 2004). Lebih lanjut, morfologi sungai dapat dijelaskan melalui pola saluran dan bentuk saluran, akibat dari beberapa faktor, diantaranya adalah debit, kemiringan muka air, kecepatan aliran, kedalaman dan lebar saluran, material dasar saluran, dll, dimana faktor-faktor tersebut tidak independen, melainkan saling mempengaruhi satu sama lain (Matsuda, 2004).
Perubahan iklim juga diindikasikan dapat mempengaruhi perubahan morfologi sungai. Perubahan iklim akan mempengaruhi sejumlah variabel aliran, termasuk morfologi saluran, dimana diprediksi dengan baik pada perilaku dan proses morfologi sungai (Montgomery dan Buffington, 1997, dalam Springer et al., 2009). Oleh karena itu, memprediksi perubahan morfologi saluran dan dasar sungai adalah langkah yang penting dalam mempelajari perilaku dan resiko aliran di masa yang akan datang (Springer et al., 2009).
Perubahan morfologi sungai dalam bentuk meander banyak ditemui pada sungai-sungai di Indonesia. Meander diakibatkan oleh dua proses yang berlawanan, namun hubungannya sangat kompleks, yaitu geometri lokal: migrasi lateral yang dapat menambah sinusitas, sedangkan di sisi lain juga terdapat sistem pemotongan (pembentukan danau yang berbentuk tapal kuda / oxbow) dapat mengurangi sinusitas tersebut (Stolum & Henrik, 1996). Umumnya, migrasi arah lateral dihasilkan dari erosi dan deposisi (Stolum, 1991; Falcon Ascanio dan Kennedy, 1983, dalam Stolum & Henrik, 1996).
Untuk mengetahui perubahan morfologi Sungai Ijo, digunakan citra udara muara Sungai ijo pada tahun 2005, 2014, dan 2015. Foto udara tersebut selanjutnya dibandingkan, sehingga didapatkan gambaran perubahan morfologi muara Sungai Ijo. Perbandingan foto udara muara Sungai Ijo tahun 2005 dan 2014, serta perubahan morfologi muara Sungai Ijo berturut-turut tampak pada Gambar 7 (a), (b), dan (c).
Dari Gambar 7 tampak adanya perubahan morfologi di muara Sungai Ijo. Pada potongan melintang sungai yang berada sekitar Jembatan Jetis dan tepat di mulut sungai tampak terjadi penyempitan yang cukup signifikan. Di sekitar Jembatan Jetis tampak jelas terlihat bahwa pada sisi kanan sungai terjadi pendangkalan karena adanya proses agradasi, namun pada sisi kiri sungai cukup stabil. Di mulut sungai, tampak terjadinya penyempitan akibat adanya pendangkalan di sisi kanan dan kiri sungai. Proses perubahan morfologi sungai lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah terjadinya perpindahan meander sungai yang saat ini menjadi lokasi PPI Logending, dimana tebing sungai di daerah tersebut bergerak ke arah selatan.
ISBN: 978-602-60286-0-0
Untuk mengetahui perubahan morfologi muara Sungai Ijo lebih lanjut, dapat dilihat dari foto udara tahun 2015 yang dibandingkan dengan foto udara tahun 2005 dan 2015, seperti berturut-turut tampak pada Gambar 8.
Berdasarkan Gambar 8 tampak bahwa dari tahun ke tahun, di sekitar Jembatan Jetis dan mulut Sungai Ijo terjadi penyempitan sungai, sedangkan di ruas sungai di sekitar PPI Logending mengalami pergeseran alur sungainya.
Jembatan Jetis PPI Logending Legenda: 2005 2014 2015
Gambar 8. Perubahan Morfologi Muara Sungai Ijo
Peta diolah dari: (Google-Earth-Pro, 2005), (Google-Earth-Pro, 2014), (Google-Earth-Pro, 2015)
(a) (b)
(c)
Gambar 7. Foto Udara Muara Sungai Ijo Tahun 2005 dan 2014
Jembatan Jetis PPI Logending Jembatan Jetis PPI Logending 2005 2014 Legenda:
ISBN: 978-602-60286-0-0
5.
KESIMPULAN
Analisis sedimentasi di sekitar muara Sungai Ijo menunjukkan bahwa angkutan sedimen total di bagian hulu (Jembatan Jetis), tengah (200 m di hulu PPI Logending), dan di mulut sungai (hulu breakwater) berturut-turut terjadi angkutan sedimen total sebesar 1395045 ton/tahun, 3045200 ton/tahun, dan 2826364 ton/tahun. Angkutan sedimen tersebut mengakibatkan terjadinya degradasi dasar sungai di ruas antara Jembatan Jetis dan PPI Logending sedalam 5,41 m/tahun atau 0,01 m/hari, sedangkan di ruas diantara PPI Logending dan mulut sungai terjadi kenaikan dasar sungai sebesar 1,46 m/tahun atau 0,004 m/hari.
Adapun morfologi di muara Sungai Ijo dari tahun ke tahun mengalami perubahan, yaitu terjadinya penyempitan sungai di sekitar Jembatan Jetis dan mulut sungai, dan di sekitar PPI Logending mengalami pergeseran alur ke arah selatan.
DAFTAR PUSTAKA (DAN PENULISAN PUSTAKA)
Astritia, T. (2014). Analisis Angkutan Suspended Load Pada Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending Kabupaten Kebumen.
Einstein, H. A. (1950). The Bed-Load Function for Sediment Transportation in Open Channel Flows (No. 1026). Washington, D.C.
Google-Earth-Pro. (2005). Pantai Logending, Jawa Tengah, 7042’56.08” S - 109023’10.94” E, Eye Alt 6666 feet, 1 April 2005,. Retrieved July 21, 2016, from www.earth.google.com
Google-Earth-Pro. (2014). Pantai Logending, Jawa Tengah, 7042’56.08” S - 109023’10.94” E, Eye Alt 6666 feet, 25 Februari 2014. Retrieved July 21, 2016, from www.earth.google.com
Google-Earth-Pro. (2015). Pantai Logending, Jawa Tengah, 7042’56.08” S - 109023’10.94” E, Eye Alt 6666 feet, 13 Oktober 2015. Retrieved July 21, 2016, from www.earth.google.com
Google-Map. (n.d.). Peta Pulau Jawa. Retrieved July 21, 2016, from www.maps.google.com Gorman, R. (2000). What regulates sedimentation in estuaries ? Water & Atmosphere, 8(4), 13–16. Graf, W. H. (1971). Hydraulics of Sediment Transport. McGraw-Hill.
Humas Pemprov Jateng. (2015). PPI Logending Hadapi Sedimentasi. Retrieved July 19, 2016, from http://jatengprov.go.id/id/newsroom/ppi-logending-hadapi-sedimentasi
Khatib, A., Adriati, Y., & Wahyudi, A. E. (2013). Analisis Sedimentasi dan Alternatif Penanganannya di Pelabuhan Selat Baru Bengkalis. In Peran Teknik Sipil dan Lingkungan dalam Pembangunan yang Berkelanjutan (pp. 31–38).
Matsuda, I. (2004). River Morphology and Channel Processes. In Fresh Surface Water, in Encyclopedia of Life Support Systems (EOLSS). Oxford, UK: EOLSS Publishers. Retrieved from http://www.eolss.net
Mcnally, W. H., & Mehta, A. J. (2009). Sediment Transport In Estuaries. In Coastal Zones And Estuary.
Neuhold, C., Stanzel, P., & Nachtnebel, H. P. (2009). Incorporating river morphological changes to flood risk assessment : uncertainties , methodology and application. Natural Hazard and Earth System Sciences, 9, 789– 799.
Pratiwi, T. P. (2014). Analisis Angkutan Sedimen Bed Load Pada Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending Kabupaten Kebumen.
Purnomo, S. N., & Widiyanto, W. (2015). Analisis Sedimentasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan ( PPI ). Dinamika Rekayasa, 11(1), 29–37. Retrieved from http://dinarek.unsoed.ac.id/jurnal/index.php/dinarek/article/view/93 Springer, G. S., Rowe, H. D., Hardt, B., Cocina, F. G., Edwards, R. L., & Studies, K. (2009). Climate Driven
Changes Ii River Channel Morphology And Base Level During The Holocene And Late Pleistocene Of Southeastern West Virginia. Journal of Cave and Karst Studies, (2), 121–129.
Stolum, & Henrik, H. (1996). River meandering as a self-organization process. Science, 271(5256). Retrieved from http://search.proquest.com/docview/213568734?accountid=79747
Udo, K., & Mano, A. (2011). Application of Rouse ’ s Sediment Concentration Profile to Aeolian Transport : Is the suspension system for sand transport in air the same as that in water ? Journal of Coastal Research, (64), 2079–2083.
Wahyuni, N., Armono, H. D., & Sujantoko. (2013). Analisa Laju Volume Sedimentasi di Alur. Jurnal Teknik POMITS, 2(1), 1–6.
Waterloopkundig-Laboratorium-Delft-Hydraulics-Laboratory. (1976). Coastal Sediment Transport: Computation of Longshore Transport.