• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMANDIRIAN DAN KEINDEPENDENSIAN KEJAKSA docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEMANDIRIAN DAN KEINDEPENDENSIAN KEJAKSA docx"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

KEMANDIRIAN DAN KEINDEPENDENSIAN

KEJAKSAAN SEBAGAI PELAKSANA KEKUASAAN

NEGARA DI BIDANG PENUNTUTAN DALAM SISTEM

KETATANEGARAAN INDONESIA

Oleh : PINOS PERMANA PINEM, SH.

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Negara indonesia adalah negara hukum. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Norma ini bermakna bahwa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, hukum merupakan urat nadi seluruh aspek kehidupan. Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masayarakat berbangsa dan bernegara.1 Untuk dapat

(2)

dikatakan sebagai negara hukum, suatu negara harus memiliki ciri negara hukum. Salah satu ciri negara hukum adanya pemisahan kekuasaan negara (separation of powers) yang diatur dalam konstitusi. Pemisahan dan pembagian kekuasaan bertujuan untuk mencegah pemusatan kekuasaan dalam satu tangan dan untuk menciptakan suatu keseimbangan kekuasaan yang menjamin agar fungsi-fungsi itu dijalankan secara optimal, dan sekaligus mencegah kekuasaan esekutif mengambil ahli fungsi-fungsi kekuasaan lain.2 Selain itu, menurut M. Elizabeth Magill pemisahan kekuasaan dalam ketentuan konstitusi dapat dipahami sebagai suatu cara untuk mengontrol kekuasaan negara dengan memisahkannya kedalam tiga kekuasaan yang berbeda, dan memberikan jaminan terhadap pemisahan tersebut.3

Hukum, sebagai suatu sistem, dapat berperan dengan baik dan benar ditengah masyarakat jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam bidang penegakan hukum. Salah satu diantara kewenangan-kewenangan itu adalah Kejaksaan Republik Indonesia.4 Sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, Kejaksaan sudah seharusnya mampu melaksanakan pembaruan dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam bidang penegakan hukum untuk mewujudkan jati diri Kejaksaan Republik Indonesia yang lebih profesional dan lebih dinamis guna menghadapi perkembangan masyarakat dan tuntutan zaman ini. Kejaksaan juga dituntut untuk tidak hanya melaksanakan fungsinya dengan baik, tetapi juga harus mampu membentuk jati dirinya sebagai salah satu ”institusi pelaksana kekuasaan negara”, bukan alat kekuasaan negara.5

Kejaksaan yang ideal sebagai sebuah institusi adalah Kejaksaan sebagai penegak hukum yang modern, independen dan bermartabat. Hal ini yang terus diupayakan dan diperjuangkan oleh seluruh jajaran Kejaksaan tanpa terkecuali. Begitu pula dengan pembentukan citra Kejaksaan harus selaras dan seiring dengan peningkatan kinerja penegakan hukum dan pelayanan hukum seluruh jajaran Kejaksaan di seluruh Indonesia.6

2 Franz Magnis Suseno, 2003, Etika Politik (Pinsip-prinsip moral dasar kenegaran modern), Cet. 7.Jakarta: PT Gramedia, hlm. 295

3 M. Elizabeth Magill, Beyond Powers and Branches in Separation of Powers Law, University of Pennsyl Law Review 2001, Working Paper No. 01-10, hlm. 1.

4 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 1.

5Ibid., hlm 3.

6 Basrief Arief, Pidato Sambutan Jaksa Agung Republik Indonesia Pada Pencanangan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), Senin 25 November 2013,

(3)

Mengingat perkembangan masyarakat dan kebutuhan yang ada, kedudukan Kejaksaan dalam era reformasi sangat penting untuk dimandirikan dan dibebaskan dari campur tangan pemerintah yang terlalu besar, agar Kejaksaan dapat mewujudkan aparatur yang profesional, sambil mengingat bahwa posisi Kejaksaan dalam struktur ketatanegaraan bukanlah tujuan karena yang penting adalah semangat dalam melakukan reformasi hukum demi tegaknya kebenaran, keadilan dan supremasi hukum yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.7

Penegakan hukum dalam pengertian makro meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, sedangkan dalam pengertian mikro penegakan hukum terbatas dalam proses litigasi di pengadilan, dalam perkara pidana termasuk proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan (pemeriksaan di depan persidangan) hingga pelaksanaan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.8

Dalam hal terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana maka wajib segera dilakukan tindakan yang diperlukan guna menyelesaikannya, dengan melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan.9 Menjadi tugas dan wewenang Penuntut Umum setelah mempelajari dan meneliti kemudian atas hasil penelitiannya, jaksa mengajukan penuntutan ke Pengadilan Negeri.10

Oleh karena itu, keberadaan kejaksaan RI, sebagai institusi penegak hukum mempunyai kedudukan yang sentral dan peranan yang strategis di dalam suatu Negara hukum karena institusi Kejaksaan menjadi filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan, sehingga keberadaannya dalam kehidupan masyarakat harus mampu mengemban tugas penegakan hukum.11

Dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya, Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan harus mampu mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum, keadilan dan kebenaran berdasarkan hukum dan mengindahkan norma-norma keagamaan, kesopanan, dan kesusilaan, serta wajib menggali nilai-nilai kemanusiaan, hukum, dan keadilan yang hidup dalam masyarakat. Kejaksaan juga harus mampu terlibat sepenuhnya dalam proses

7 Nandan Iskandar, “Kejaksaan di Mata Masyarakat”, Jurnal Bina Adhyaksa, Vol.III, No.1, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, Juli, 2011, hlm.36-37.

8 Marwan Effendy, Deskresi Dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, makalah disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya Malang, Malang, 11 Juni 2012, hlm. 2-3.

9 Erni Widhayanti, Hak-Hak Tersangka/Terdakwa di dalam KUHAP, Liberty, Yogyakarta, 1996, hlm 48.

10 A. Soetomo, Hukum Acara Pidana Indonesia dalam Praktek, Pustaka Kartini, Jakarta, 1990, hlm. 19

(4)

pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, serta berkewajiban untuk turut menjaga dan menegakan kewibawaan pemerintah dan negara serta melindungi kepentingan masyarakat.12

Dengan posisi dan peran yang demikian, Kejaksaan RI dituntut tidak saja harus mampu melaksanakan fungsinya dengan baik dan benar, tetapi juga harus mampu membentuk jati diri sebagai salah satu institusi pelaksana kekuasaan Negara, bukan alat kekuasaan penguasa. Oleh karena itu sewajarnyalah di era reformasi ini Kejaksaan perlu melakukan reformasi terhadap eksistensinya agar dapat menjadi lebih dinamis guna menghadapi perkembangan dan perubahan dewasa ini.13

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Republik Indonesia sebagai institusi penegak hukum di tempatkan dibawah pemerintah. Polri berfungsi melaksanakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, serta pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan Kejaksaan Republik Indonesia melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan. Dalam posisi demikian, Kejaksaan bukanlah lembaga yang mandiri atau terbebas dari pengaruh pemerintah. Sebab, Kejaksaan merupakan institusi yang bertugas dan sekaligus menjadi bagian dari pemerintah untuk melaksanakan tugas penuntutan. Dengan demikian, dalam proses penataan lembaga-lembaga Negara yang tugas dan wewenangya berhubungan dengan kekuasaan kehakiman, semuanya tidak ditempatkan dalam posisi yang sama.14

Pemikiran tentang teori kekuasaan negara sebagaimana dijelaskan, tidak memberikan penjelasan dimana kedudukan Kejaksaan (lembaga pelaksana kekuasaan penuntutan). Menurut pendapat Beneč Štefan dengan mengamati sejarah teori Separation of powers dari Montesquieu, menyatakan bahwa Montesquieu dalam teorinya Separation of powers tidak menjelaskan dimana cabang sistem penuntutan diletakkan. Walaupun di abad 14th, Jaksa Penuntut Kerajaan di Perancis merupakan suatu pejabat publik yang mewakili raja, untuk melindungi hak kepemilikannya dan sebagai penuntut apabila adanya tindak kejahatan.15

12Penjelasan Umum Undang-Undang RI No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

13Ibid.,

14 Saldi Isra, Eksistensi Kejakasaan Pasca-Perubahan UUD 1945, Jurnal Adhyaksa Indonesia, Edisi 2, September 2014. Hlm 53.

(5)

Pejabat yang melaksanakan penuntutan pidana tersebut dalam sistem hukum pidana Indonesia di sebut dengan Jaksa.16 Kata Jaksa bersumber dari nama pejabat hukum pada zaman kerajaan Majapahit yang di sebut “adhyaksa”. Adhyaksa adalah nama jabatan yang di pegang oleh Gajah Mada pada masa kerajaan Majapahit yang fungsinya lebih mirip seperti fungsi hakim pada sistem penegakan hukum modern.17

Jaksa dalam sistem peradilan pidana Indonesia terorganisir dalam lembaga negara yang dinamakan Kejaksaan Republik Indonesia. Kejaksaan Republik Indonesia di pimpin oleh Jaksa Agung. Jaksa Agung adalah pejabat tinggi hukum dan bertindak sebagai pengawal kepentingan publik.18 Jaksa Agung adalah pengendali kebijakan penegakan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan kewenangan Kejaksaan. Kewenangan Jaksa Agung tersebut di laksanakan dengan prinsip Kejaksaan sebagai sebuah kesatuan dan tidak terpisah-pisahkan.19 Sehingga Jaksa Agung mengendalikan kebijakan penegakan hukum dan keadilan dengan pola sentralistik terhadap seluruh Jaksa di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia.

Dalam menjalankan fungsinya, dalam sistem peradilan pidana tugas dan fungsi Jaksa di atur di dalam Pasal 14 dan 15 KUHAP. Kejaksaan dengan fungsi yang sangat dominan sebagai penyandang asas dominus litis, pengendali proses perkara yang menentukan dapat tidaknya seseorang dinyatakan sebagai terdakwa dan diajukan ke Pengadilan berdasarkan alat bukti yang sah menurut undang-undang, dan sebagai executive ambtenaar pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan dalam perkara pidana.20

Selain tugas dan kewenangan Jaksa sebagai penuntut umum Jaksa juga berperan dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum. Selain itu Jaksa dengan surat kuasa khusus dapat bertindak baik di luar maupun di dalam pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah dalam perkara perdata dan tata usaha negara.21 Ditambah lagi Kejaksaan Republik Indonesia juga berperan sebagai penyidik dalam berberapa tindak pidana khusus sebagai mana yang di atur di dalam undang-undang.22

16 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 56.

17Loc.cit

18 Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi, Kerjasama Yayasan obor dan Transparansi Internasional Indonesia, 2003, hlm 137.

19 Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia pasal 2 (ayat 3).

20 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 1996, hlm 72.

21 Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Pasal 30.

(6)

Fungsi Kejaksaan dalam penegakan hukum berkaitan dengan penanganan perkara lebih di pandang bukan sebagai pelaksana kekuasaan Negara, tetapi sebagai alat perpanjangan tangan penguasa untuk menindak rakyat atau masyarakat. Martin Basiang mengatakan bahwa sorotan tajam masyarakat tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan mengingat kedudukan Kejaksaan oleh u ndang-Undang dinyatakan sebagai lembaga pemerintah yang melaksanakan penuntutan. Sepanjang kedudukan Kejaksaan bukan sebagai pelaksana kekuasaan Negara di bidang penegakan hukum, maka sorotan tajam dan tudingan miring terhadap penanganan suatu perkara selamanya akan tetap dinilai bernuasa politis. Hal ini akan memungkinkan pula munculnya intervensi dari pihak-pihak lain terhadap kebijakan penuntutan.23

Sejarah mencatat, Presiden Soekarno memberhentikan Jaksa Agung Soeprapto pada tanggal 1 April 1959 dan Mr. Goenawan pada tahun 1962 tanpa alasan yang jelas. Masyarakat menduga pemberhentian kedua Jaksa Agung tersebut terkait dengan diusutnya menteri di dalam Kabinet Dwikora yang diduga melakukan tindak pidana korupsi.24 Begitu juga diera pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Jaksa Agung A. Soedjono C. Atmonegoro hanya sempat menjabat selama 3 (tiga) bulan karena berkehendak mengusut Manta Presiden Soeharto. Pencopotan Soedjono itu dipandang oleh masyarakat sangat bernuansa politis dan berlatar belakang kepentingan tertentu.25

Dalam penanganan perkara pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Permesta di Sulawesi Selatan, PRRI di Sumatera Barat, G30S PKI, Komando Jihad, dan perkara berkaitan dengan Letjen (Purn) H.R. Drsono dari kelompok Petisi 50 yang dicurigai membahayakan Negara di gunakan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1963 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Subversi yang dikritik oleh berbagai kalangan karena dipandang bertentangan dengan HAM. Begitu juga dengan penanganan perkara 27 Juli di Jl. Diponegoro dalam kasus pengrusakan gedung PDI, perkara Djakfar Umar Sidik Panglima Komando Jihad dalam kasus penghinaan kepada diri Kepala Negara, perkara KH. Abubakar Baasyir dalam kasus terror bom dan makar, perkara HAM Tanjung Priok dan Timor Timur, dalam perkara tindak pidana korupsi terkenal dengan terdakwa Mantan Presiden Soeharto dan kroni-kroninya, perkara Ginanjar Krtasasmita mantan Menteri Pertambangan dan Energi/Ketua Bappenas, perkara Syahril Sabirin Gubernur Bank

23 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 7.

24 Kejaksaan Agung RI, Lima Windu sejarah Kejaksaan Republik Indonesia (1945-1985), Jakarata, 1985, hlm 32.

(7)

Indonesia serta perkara Akbar Tanjung Ketua Umum Partai Golkar yang oleh berbagai kalangan, semuanya disinyalir penuh muatan politis. Pertanyaannya, Apakah Ketidakmandirian dan ketidakindependensian institusi Kejaksaan RI adalah karena berada dalam lingkungan eksekutif sebagai lembaga pemerintahan.26

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan deskripsi diatas, hal ini menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam

tentang KEMANDIRIAN DAN KEINDEPENDENSIAN KEJAKSAAN SEBAGAI

PELAKSANA KEKUASAAN NEGARA DI BIDANG PENUNTUTAN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA sebagai bagian dari kebijakan politik hukum yang terintegrasi dalam kebijakan nasional dalam pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara, yang berkaitan dengan konsep Negara kesehjahteraan berdasarkan Pancasila yang tercantum dalam pembukaan alinea keempat UUD 1945.

Mengingat konsepsi Negara hukum dan sistem ketatanegaraan suatu Negara sangat berkaitan erat dan saling mempengaruhi yang terjabarkan dalam konstitusi. Kenyataan yang tak terbantahkan bahwa istilah Negara hukum atau dalam penjelasan UUD 1945 di sebut sebagai Negara berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak terlepas dari pengaruh paham rechtsstaat dan paham the rule of law. Sehingga seyogyanya untuk lebih mencerminkan ciri khas Indonesia (nasionalisme), istilah tersebut lebih tepat disebut “Negara hukum Pancasila”. Sehingga pencarian jati diri Kejaksaan sebenarnya tidak terlepas dari pencarian jati diri bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila sebagai pencerminan pembahruan dan perubahan dalam proses perjuangan untuk memajukan kesehjahteraan Negara dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Dari uraian diatas, permasalahan-permasalahan yang perlu dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah tinjauan umum terhadap Kejaksaan Republik Indonesia selaku pelaksana kekuasaan negara di bidang penuntutan sesuai paham Negara Hukum ? 2. Bagaimanakah Kemandirian dan Keindependensian Kejaksaan RI sebagai

pelaksana kekuasaan Negara di bidang penuntutan dalam sistem ketatanegaraan indonesia ?

(8)

BAB II

A. TINJAUAN UMUM TERHADAP KEJAKSAAN RI SELAKU PELAKSANA KEKUASAAN NEGARA DI BIDANG PENUNTUTAN SESUAI PAHAM NEGARA HUKUM

Istilah-istilah “Negara hukum”, “Rechtsstaat”, “the rule of law”, dan istilah yang tertera dalam Penjelasan UUD 1945. “Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat)” sering digunakan dalam kepustakaan Indonesia. Usaha untuk menunjukan kekhasan “keindonesiaannya” dilakukan dengan menambahkan atribut “Pancasila” di depan Negara hukum sehingga menjadi “Negara hukum Pancasila”.27 Hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai rule of law bukan semata-mata sebagai peraturan yang diberlakukan bagi masyarakat Indonesia. Hal demikian berarti menempatkan sistem dalam idealisme tertentu yang bersifat final, dinamis, dan selalu mencari tujuan-tujuan ideal berlandaskan ideologi Pancasila.28

Paham Negara hukum Indonesia berangkat dari prinsip dasar bahwa ciri khas suatu Negara hukum adalah bahwa Negara memberikan perlindungan kepada warganya dengan cara yang berbeda. Negara hukum adalah suatu pengertian yang berkembang, yang terwujud sebagai reaksi masa lampau. Oleh karena itu unsur Negara hukum berakar pada sejarah dan perkembangan suatu bangsa. Setiap bangsa atau Negara memiliki sejarah yang

27Ibid., hlm 29.

28 R. Otje Salman Soemadiningrat, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer, dalam Marwan Effendy,

(9)

berbeda, oleh karena itu, pengertian dan isi Negara hukum dari berbagai bangsa berbeda pula.29

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, perwujudan Negara hukum Indonesia hendaklah dibangun berdasarkan ciri-ciri :

1. Keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat yang didasarkan asas kekeluargaan;

2. Hubungan fungsional antar kekuasaan Negara yang profesional; 3. Prinsip penyelesaian sengketa yang mengutamakan musyawarah; 4. Adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban.30

Di dalam Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksan Republik Indonesia dalam Pasal 1, yang dimaksudkan dengan penuntutan adalah Tindakan Penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam hukum acara pidana dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim disidang pengadilan. Dalam hal ini diatur dalam Pasal 2, bahwa kewenangan dalam hal pelaksanaan kekuasaan negara dibidang penuntutan tersebut diemban dan dilaksanakan oleh Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga pemerintahan. Kekuasaan penuntutan tesebut dilaksanakan secara merdeka dan dalam menjalankan fungsinya Kejaksaan satu dan tidak terpisah-pisahkan.

Kejaksaan merupakan salah satu lembaga penegakan hukum pidana. Kejaksaan merupakan bagian dari sistem penegakan hukum pidana terpadu (Intergrated Criminal Justice System). Sistem penegakan hukum pidana merupakan bagian dari sistem penegakan hukum, dan sistem penegakan hukum merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman. Bertolak dari pemikiran tersebut, Barda Nawawi Arief mengatakan dalam sistem peadilan pidana terdapat empat sub sistem kekuasaan:

1) Kekuasaan Penyidikan (Badan Penyidikan) 2) Kekuasan Penuntutan (Badan Penuntutan) 3) Kekuasan Mengadili (Badan Pengadilan), dan 4) Kekuasaan Pelaksana pidana (Badan Eksekusi)31

Bahwa dengan demikian ketika kita membicarakan kekuasaan kehakiman, mata kita tidak hanya tertuju kepada lembaga pengadilan (para hakim) tetapi semua elemen yang

29 M. Scheiterna, dalam Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Ibid., hlm 30.

30Ibid., hlm 32.

(10)

memiliki kekuasaan di bidang penegakkan hukum yakni Polisi, Jaksa dan Hakim (pelaksana putusan/penetapan hakim). Masing-masing komponen tersebut secara administratif berdiri sendiri dan mempunyai tugas dan fungsi tersendiri sesuai dengan kewenangan dan pengaturan yang dimilikinya. Namun tetap harus ada keterkaitan antara sub-sistem tersebut. Keterkaitan antara sub-sistem satu dengan yang lainnya adalah sangat erat satu sama lain. Setiap masalah dalam salah satu subsistem akan menimbulkan dampak pada sub sistem lainnya.

Kekuasaan penuntutan yang dimiliki Kejaksaan dalam Negara hukum Indonesia sesuai dengan asas dominus litis dalam perkembangannya disimpangi dengan kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memiliki kewenangan untuk melakukan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Hal tersebut dapat dilihat dalam rumusan Pasal 6 huruf c Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu KPK mempunyai tugas melakukan tindakan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Rumusan pasal secara eksplisit menegaskan bahwa KPK juga berwenang melakukan tindakan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.

Selain itu, bila dibaca dengan seksama, tidak satupun ketentuan pada Undang-Undang Kejaksaan RI yang mengatur tugas dan wewenang Jaksa Agung yang berhubungan dengan pengendalian penuntutan tindak pidana militer. Kalaupun UU tersebut mengatur salah satu tugas khusus Jaksa Agung untuk mengendalikan kebijakan penegakan hukum dan keadilan, tapi tugas tersebut hanya dalam ruang lingkup dan wewenang Kejaksaan. Sementara, ketentuan terkait tugas dan wewenang Kejaksaan, sama sekali tidak diatur tugas jaksa terkait pidana militer.32

Bila Jaksa Agung ditempatkan sebagai penuntut umum tertinggi Negara, seharusnya oditurat militer secara fungsional ditempatkan dibawah Jaksa Agung. Pertanggungjawaban pelaksanaan tugas keodituratan tidak mesti melalui Panglima TNI seperti yang diatur dalam UU Peradilan Militer. Sebab, fungsi penegakan hukum oleh oditurat militer semestinya dipisahkan dari struktur komando militer. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin proses penegakan hukum terhadap prajurit juga, dapat dilakukan secara adil.33

32 Saldi Isra, Eksistensi Kejakasaan Pasca-Perubahan UUD 1945, Op.Cit., hlm 54.

(11)

Bahwa eksistensi kewenangan penuntutan oleh Kejaksaan dalam sistem hukum nasional dapat dilihat dari :

1. Undang-undang Dasar 1945 yang mengatur secara implisit keberadaan Kejaksaan RI dalam sistem ketatanegaraan, sebagai badan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman (vide Pasal 24 ayat 3 UUD 1945 jo. Pasal 41 UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman), dengan fungsi yang sangat dominan sebagai penyandang asas dominus litis, pengendali proses perkara yang menentukan dapat tidaknya seseorang dinyatakan sebagai terdakwa dan diajukan ke Pengadilan berdasarkan alat bukti yang sah menurut Undang-undang, dan sebagai executive ambtenaar pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan dalam perkara pidana.

2. Pasal 1 butir 13 KUHAP yang menegaskan bahwa Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk melakukan penuntutan.

3. Pasal 2 UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI yang menempatkan posisi dan fungsi kejaksaan dengan karakter spesifik dalam sistem ketatanegaraan yaitu sebagai lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan secara bebas dari pengaruh kekuasaan pihak manapun.34

Berbeda dengan Konstitusi RIS ataupun UUDS 1945, UUD 1945 hasil perubahan sama sekali tidak menyebut secara tegas jabatan jaksa agung ataupun institusi Kejaksaan. Pada proses perubahan keempat UUD 1945, disepakati menambahkan satu ayat pada Pasal 24 menjadi ayat (3), yang berbunyi “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-Undang”. Rumusan tersebut ditujukan sebagai pengganti penyebutan satu demi satu badan-badan lain dalam bab kekuasaan kehakiman. Salah satu badan lain yang dimaksudkan adalah kejaksaan RI.35

Kejaksaan ditempatkan dalam ranah kekuasaan eksekutif, sementara landasan pembentukannya berada pada bab tentang kekuasaan kehakiman. Hal ini harus dibaca secara lebih komprehensif, artinya profesionalitas dan kemandirian kejaksaan dalam melakukan tugas penuntutan harus ditempatkan sebagai sesuatu yang sama sekali tidak boleh diintervensi. Sedangkan, secara konstitusional, kejaksaan berada dibawah kekuasaan pemerintah sebagai kepala pemerintahan. Dalam kedudukan demikian, seorang Presiden

34 Implementasi kekuasaan penuntutan di Negara hukum Indonesia,

http://www.kejaksaan.go.id/unit_kejaksaan.php?idu=28&idsu=35&idke=0&hal=1&id=54&bc=, diakses 12 Januari 2015.

(12)

berwenang memerintahkan Kejaksaan untuk melakukan proses hukum terhadap suatu perkara. Hanya, presiden tidak dapat mengintervensi proses penyidikan dan penuntutan yang dilakukan jaksa penuntut umum. Itulah yang dimaksud Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI sebagai jaksa agung bertanggung jawab atas penuntutan yang dilaksanakan secara independen demi keadilan berdasarkan hukum dan hati nurani. Di situlah kiranya jalan tengah terkait pengaturan Kejaksaan dalam pasal 24 ayat (3) UUD 1945 dan kedudukan Kejaksaan sebagai bagian eksekutif.36

Bagir Manan menulis bahwa ajaran Negara hukum memuat tiga dimensi penting, yaitu dimensi politik, hukum dan sosial ekonomi. Dalam dimensi politik, Negara hukum memuat prinsip pembatasan kekuasaan, yang menjelma dalam keharusan paham Negara untuk berkonstitusi, melakukan pembagian (pemisahan) kekuasaan, kemerdekaan kekuasaan kehakiman, dan memberikan jaminan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi. Dalam dimensi hukum, Negara hukum harus menciptakan suatu tertib hukum dan perlindungan hukum bagi setiap orang tanpa diskriminasi. Sedangkan, dalam dimensi sosial ekonomi, Negara hukum (Negara atau pemerintah) harus mewujudkan dan menjamin kesehjahteraan sosial.37

Jaksa Agung Basrief Arief menuturkan bahwa untuk mewujudkan prisnsip-prinsip Negara hukum diperlukan norma-norma hukum atau peraturan perundang-undangan,serta aparatur pengemban dan penegak hukum yang profesional, berintegritas dan disiplin yang didukung oleh sarana dan prasarana hukum serta perilaku hukum masyarakat."Ini membuat hukum mempunyai posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem,dapat berperan dengan baik dan benar di tengah masyarakat jika instrumen pelaksananya dilengkapi dengan kewenangan di bidang penegakan hukum, salah satu di antaranya adalah Kejaksaan Republik Indonesia”.38

Basrief menceritakan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Kejaksaan pernah duduk di antara dua kamar,yaitu Eksekutif dan Yudikatif. Hingga pada tanggal 22 Juli 1960, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres No.204 tahun 1960 yang secara tegas memisahkan Kejaksaan dari kementerian Kehakiman dan Mahkamah Agung dan

36Ibid., hlm 55.

37 Padmo Wahjono, dalam Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 35.

(13)

menjadikannya sebagai suatu Institusi yang berdiri sendiri dan merupakan bagian langsung dari kabinet. "Inilah landasan Hukum pertama yang menmpatkan Kejaksaan sepenuhnya sebagai bagian ranah dari kekuasaan eksekutif."39

B. KEMANDIRIAN DAN KEINDEPENDENSIAN KEJAKSAAN RI SEBAGAI PELAKSANA KEKUASAAN NEGARA DI BIDANG PENUNTUTAN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

Dalam upaya menegakan hukum, institusi-institusi penegak hukum, disatu sisi, dengan penetapan undang-undang mendapatkan kewenangan yang lebih luas. Namun, di sisi lain, ada institusi yang kewenangannya semakin dikurangi, misalnya kejaksaan RI. Pengurangan kewenangan itu diawali, melalui KUHAP, pada kewenangan penyidikan dan penyidikan lanjutan yang dipangkas hanya menjadi kewenangan penyidikan tindak pidana umum. Begitu pula halnya, tindak pidana penyelundupan telah dimonopoli oleh instansi Bea Cukai.40 Ditambah dengan hadirnya Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Kejaksaan sebagai pelaksana kekuasaan Negara yang tertinggi dalam bidang penuntutan, semakin terlihat kurang eksistensinya, seakan dianggap tidak mampu mengemban tugas dan wewenangnya sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang, dengan kata lain trust atau kepercaayaan publik makin hari makin berkurang terhadap institusi ini.

Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegak hukum, yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini, bukan semata-mata karena prilaku aparatur Kejaksaan, melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan.41 Struktur birokrasi dan kultur birokrasi Kejaksaan yang dibangun sebagaimana yang eksis saat ini, tidak bisa dilepaskan dari hukum positif yang melandasinya, oleh sebab itu juga diperlukan rekontruksi terhadap Undang-undang Kejaksaan dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait. Terkait dengan masalah ini, dengan mengutip peringatan Montesquieu, Vittorio Aymone, mengingatkan bahwa peraturan perundang-undangan seharusnya memiliki sifat sebagai berikut :

39Loc.Cit.,

40 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 49-51.

(14)

the warning of Montesquieu has been completely forgotten : laws should be few, simple dan clear, so that everyone can understand them and so that their application can be quick”.42

Peringatan ini mengingatkan bahwa peraturan perundang-undangan itu tidak perlu bertele-tele, sesederhana mungkin dan sejelas mungkin, dengan demikian diharapkan penerapannya dapat dilakukan dengan cepat. Rekontruksi atas peraturan perundang-undangan yang mendasari bekerjanya birokrasi kejaksaan menjadi bijaksana bila memperhatikan peringatan ini. Peringatan lain yang berangkat dari pemikiran Montesquieu adalah masalah konsistensi peraturan perundang-undangan.43

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, di dalam UU No 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, terdapat ketentuan-ketentuan yang tidak konsisten, antara lain : 44

1. Pasal 2 ayat (1) yang menegaskan bahwa Kejaksaan melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan, tetapi sekaligus juga dinyatakan sebagai lembaga pemerintahan. Padahal kekuasaan Negara di bidang penuntutan termasuk bagian dari kekuasaan kehakiman (yudikatif), yang membawa konsekuensi pada independensi, dan seharusnya bukan bagian dari kekuasaan pemerintahan (eksekutif).

Relevan dengan inkonsistensi tentang ketentuan Pasal 2 ayat (1) yang menegaskan bahwa Kejaksaan melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan, tetapi sekaligus juga dinyatakan sebagai lembaga pemerintahan, juga dapat dilihat dalam konsideran menimbang huruf b UU No 16 Tahun 2004 sebagai berikut :

bahwa Kejaksaan Republik Indonesia termasuk salah satu badan yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

Inkonsistensi lain yang masih berkaitan dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) juga dapat dilihat dari konsideran menimbang huruf c UU No. 16 Tahun 2004 sebagai berikut :

bahwa untuk lebih memantapkan kedudukan dan peran Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan harus bebas dari penagaruh kekuasaan pihak manapun”.

42 Yudi Kristiana, Menuju Kejaksaan Progresif studi tentang penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi, Masyarakat Transparansi Indonesia, Jakarta, 2010, hlm 292.

43Loc.Cit.,

(15)

2. Pasal 2 ayat (2) Jaksa dalam melaksanakan kewenangannya bersifat merdeka, namun demikian Pasal 8 ayat (2) jaksa harus bertanggung jawab secara hirarkhis, dan Pasal 18 (1) menyebutkan secara tegas bahwa jaksa agung sebagai pengendali tertinggi, dengan demikian kemerdekaan jaksa diingkari dengan adanya pertanggungjawaban hirarkhis.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah akan di bawa kemana Negara hukum kita ? terkait dengan hal tersebut, menarik apa yang ditawarkan oleh Satjipto Rahardjo tentang konsep “rule of Pancasila” yang dapat menjadi salah satu alternatif. Lebih lanjut dikatakan “pengembangan dari doktrinasi rule of law, rule of justice dan rule of Pancasila, memberikan konsekuensi-konsekuensi bagi praktik hukum, seperti juga doktrin rule of law memiliki konsekuensi praktisnya sendiri. Suatu sisi mendasar dari doktrinasi Indonesia terebut sudah tercermin dalam kata-kata moral, keadilan dan Pancasila. Hal itu mensyaratkan, bahwa kita mengungulkan olah hati nurani daripada olah otak atau lebih memujikan komitmen moral daripada perundang-undangan”.45

Meskipun konsep moral yang menurut Austin disebut sebagai hukum kodrat atau hukum ilahi memiliki sisi lemah bahkan dianggap sebagai “tidak layak untuk di sebut sebagai hukum”, namun konsep-konsep tenatang keadilan dan moral tetap relevan untuk dikedepankan dalam hukum. Tampaknya Pancasila menjadi lebih mereprensentasikan keduanya, karena didalamnya secara filosofis mencakup nilai-nilai luhur antara lain moralitas, kemanusiaan dan keadilan. Oleh sebab itu dalam menciptakan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Kejaksaan yang progresif, harus mengakomodasikan kepentingan nilai-nilai Pancasila di dalamnya.46

Sebagai lembaga yang memiliki otoritas di bidang penyidikan dan penuntutan, sementara itu kekuasaan penyidikan dan penuntutan merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman (kekuasaan penegaka hukum) dalam arti luas, sudah selayaknya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah merupakan bagian dri kekuasaan kehakiman yang tergolong sebagai lembaga yudiktif, bukan sebagai lembaga eksekutif. Konsekuensi lebih lanjut dari penegasan bahwa kejaksaan sebagai bagian dari kekuasaan kehakiman dalam arti luas,

45Ibid., hlm 294.

(16)

sementara kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka dan mandiri, maka kemerdekaan dan kemandirian juga harus terwujud dalam lembaga Kejaksaan.47

Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 sebelum amandemen menegaskan, bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. Selanjutnya dalam penjelasan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan merdeka, terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Dari perumusan diatas terlihat, bahwa UUD 1945 pada awalnya tidak memberikan batasan pengertian apa yang dimaksud dengan kekuasaan kehakiman, Pasal 24 UUD 45 hanya menegaskan badan mana yang diserahi tugas atau kewenangan untuk melakukan atau melaksanakan kekuasaan kehakiman. Demikian pula penjelasan pasal 24 tidak memberikan batasan pengertian mengenai kekuasaan kehakiman, tetapi hanya menegaskan sifat, kedudukan, eksistensi dari kekuasaan kehakiman, yaitu sebagai kekuasaan yang merdeka dan mandiri. Jadi UUD 45 (asli) pada mulanya tidak memberi batasan pengertian kekuasaan kehakiman. Batasan pengertian kekuasaan kehakiman baru ada setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Pokok Pokok Kekuasan kehakiman yang saat ini telah mengalami perubahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 dan terakhir diganti dengan Undang-Undang nomor 48 Tahun 2009. Dalam Pasal 1 angka 1 UU No 48 Tahun 2009 itu ditegaskan bahwa Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.

Perumusan tersebut selaras dengan perubahan Pasal 24 UUD 1945 amandemen ke-3 (9 November 2001) yang menegaskan sebagai berikut :

1. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan

2. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkup peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkup peradilan militer, lingkup peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi

(17)

Sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman maka independensi kejaksaan harus pula terwujud dalam perannya melaksanakan kekuasaan penuntutan pidana. Independensi yudisial harus diperluas tidak hanya pada kekuasaan peradilan. Kekuasaan kehakiman yang independen tidak akan ada artinya apabila hanya ada pada salah satu subsistem yaitu kekuasaan mengadili. Permasalahan sistem penuntutan dalam kekuasaan negara, juga menjadi pembahasan yang serius di negara-negara eropa yang diwujudkan dengan mengadakan beberapa pertemuan internasional antara lain pertemuan “The Eropean Status of Justice” yang diselenggarakan pada buan Januari 1993 dan “The Paneuropean Conference” yang diselenggarakan di Vienna pada bulan Mei 1999. Pada pertemuan “The Eropean Status of Justice” yang telah menjadi inspirasi diskusi-diskusi selanjutnya tentang sistem penuntutan di dalam struktur kekuasaan negara, pada salah satu pasal resolusinya menyatakan bahwa kemampuan untuk memutuskan secara mandiri dalam lembaga penuntutan merupakan instrumen penting dalam mewujudkan kekuasaan kehakiman yang mandiri. Mereka harus melepasakan tugas-tugas mereka dari kekuasaan lainnya, selain itu harus adanya jaminan hak dan kewajiban Jaksa secara hukum didalam melakukan proses penuntutan. Hal ini sebagaima diatur dalam Section 9.1 dan Section 9.2, yakni:

1) section 9.1. the following: Self-government in prosecution creates an essential instrument

of judicial power independence. Judges (public officers) in prosecution secure equality of citizens before the law. They discharge their functions independently on political power. They are subordinated to law only.

2) section 9.2. Judges (prosecutors) who discharge their functions in prosecution shall have identical rights and identical guarantees as stated in the Status hereof.48

Permasalahan independesi kejaksaan tersebut juga menjadi perhatian yang serius dari beberapa ahli hukum. Sebagaimana dijelaskan oleh Andi Hamzah, tidak independennya kejaksaan karena undang-undang tentang Kejaksaan menyebutkan kejaksaan sebagai alat pemerintah. Selain dari itu jaksa agung dapat diangkat dan diberhentikan oleh presiden, sehingga dengan sendirinya kejaksaan tidak mandiri. Untuk penyelesaian permasalahan tersebut Andi Hamzah menyatakan bahwa Undang-Undang tentang Kejaksaan harus menjamin keindependensian kejaksaan, sehingga kejaksaan dapat menuntut siapa saja tanpa adanya intervensi pemerintah.49.

(18)

Selain itu, Andi Hamzah juga menyarankan agar undang-undang mengenai kejaksaan yang menempatkan kejaksaan sebagai alat pemerintah harus diganti dengan undang-undang baru. Kejaksaan harus menjadi bagian mahkamah agung sebagai kekuasaan kehakiman yang independen tidak dicampuri oleh kekuasaan eksekutif.50 Hal ini berarti Andi Hamzah berpendapat bahwa kejaksaan harus berada dalam lingkup kekuasaan kehakiman bukan dalam kekuasaan pemerintah.

Sedangkan Harkristuti Harkrisnowo mengatakan bahwa kejaksaan harus independen, Harkristuti tidak menyinggung tentang independensi jaksa agung. Menurut pendapatnya Kejaksaan sebagai alat penegak hukum harus dirumuskan kembali dengan tegas dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan undang-undang organiknya demi independensi Kejaksaan.51 Akan tetapi berbeda dengan Andi Hamzah, menurut Harkristuti Harkrisnowo, independensi Kejaksaan bukan berarti Kejaksaan harus ditempatkan di luar lembaga eksekutif. Independensi Kejaksaan dapat dicapai asalkan pimpinan eksekutif konsisten pada keinginan untuk mencapai supremasi hukum yang berkeadilan walaupun kejaksaan berada dalam kekuasaan eksekutif.

Terhadap pendapat Harkristuti Harkrisnowo, terdapat suatu hal yang menarik, yakni perlunya kejaksaan sebagai penegak hukum harus dirumuskan dalam undang-undang dasar. Pengaturan kejaksaan dalam undang-undang dasar (constitution) suatu negara bukanlah merupakan hal yang baru, karena ternyata di dunia ini terdapat hampir 90 (sembilan puluh) negara yang mengatur lembaga Kejaksaan dan/atau Jaksa Agungnya dalam undang-undang dasar.52

Survey terbaru dari Indonesia Legal Rountable (ILR) berkaitan dengan Indeks Presepsi Negara Hukum pada 31 Mei 2013 menempatkan Indonesia pada angka 4,53. Survei ini berkaitan dengan pandangan masyarakat mengenai lima poin prinsip negara hukum. Lima prinsip dimaksud adalah pemerintah berdasarkan hukum; independensi kekuasaan kehakiman; penghormatan, pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia; akses terhadap keadilan; dan peraturan yang terbuka dan jelas. Survey lain yang juga baru saja dirilis datang dari Lembaga

49 Andi Hamzah, “Konsep dan Strategi pembaharuan Kejaksaan Republik Indonesia” (makalah disampaikan pada Workshop Governmence Audit of The Public Prosecutor Servive, Bali 21-22 Februari 2001), hal. 6.

50 Andi Hamzah, “Posisi Kejaksaan dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”, (makalah diajukan pada seminar menyambut hari bakti adiyaksa, Jakarta 20 Juli 2000), hal. 5-6.

51 Harkristuti Harkrisnowo, “Kejaksaan Agung dalam Tatanan Kelembagaan: Beberapa catatan Awal”, (makalah disampaikan pada Seminar Hukum dalam Konteks Perubahan ke Dua UUD 1945 yang deselenggarakan oleh MPR dan Fakulktas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta 24-26 Maret 2000), hal. 7.

(19)

Transparency Internasional Indonesia pada 8 Juli 2013 yang menempatkan kelembagaan pemerintah "Kepolisian, Parlemen, dan Peradilan di Indonesia sebagai pelaku praktek korupsi tertinggi. Menurut informasi Sekjen TII, Dadang Trisasongko kepada penulis, Kejaksaan dalam survey tersebut dianggap sebagai bagian dari lembaga peradilan.53

Kedua survey tersebut menunjukkan betapa rendahnya persepsi positif publik terhadap lembaga penegakan hukum. Lembaga Penegakan Hukum masih dianggap sebagai lembaga yang tidak terbuka terhadap perubahan, mempertahankan paradigma lama yang berorientasi kekuasaan dan menempatkan publik lebih sebagai obyek ketimbang subyek. Ketidakmandirian Kejaksaan sebagai lembaga penegakan hukum juga menjadi salah satu “titik lemah” Kejaksaan. Dengan posisi sebagai anggota eksekutif, Kejaksaan menjadi lembaga penegak hukum pemerintah dan bukan penegak hukum negara. Konsekuensinya, Kejaksaan kemudian memiliki cara pandang yang sangat “pemerintah sentris”. Persoalan penegakan hukum kemudian terreduksi hanya menjadi sekedar persoalan keamanan dan ketertiban, jauh dari logika keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Di negeri Belanda sebagai sumber dari berbagai peraturan pidana Indonesia, Jaksa Agung selain memimpin institusi Kejaksaan juga bertindak sebagai pejabat pada Mahkamah Agung (Hoofd Officer van Justitie Hoge Raad). Pemisahan lembaga Kejaksaan dari struktur eksekutif menjadikan Kejaksaan di negeri Belanda sedemikian kuat dan berwibawa. Hal itu tercermin pada “keberanian” Kejaksaan untuk memperkarakan semua pihak yang diduga bersalah apapun posisi jabatan dan karir politiknya.54

Ada dua hal yang patut menjadi atensi bagi Kejaksaan yang prospektif dalam penegakan hukum yaitu :

1. Perlu adanya reposisi konstitusional dari Kejaksaan RI

Tanpa adanya landasan konstitusional, pelaksanaan yang hanya dilandasi fungsi dan wewenang terbatas pada Undang-Undang justru telah menimbulkan sorotan stigmaisasi mengenai keberhasilan lembaga ini. Legislasi terhadap pelaksanaan wewenang dan fungsi Kejaksaan RI untuk memenuhi amanat harus didasari suatu legitimasi pada basis konstitusi yang lebih akseptabel. Dalam menjalankan fungsi penuntutan tertinggi, Kejaksaan RI harus diberi tugas dan kewenangan yang independen dari kekuasaan tertinggi eksekutif. Sebagai lembaga penuntutan tertinggi, Kejaksaan RI dimintai pertanggungjawaban melaksanakan Pasal 4 TAP MPR No. XI/MPR/1998, 13 Nopember 1998. Parameternya, upaya

53 Quo Vadis Korps Adhyaksa, http://muhammadismet.blogspot.com/2013/07/quo-vadis-korps-adhyaksa.html, di akses 13 Januari 2014.

(20)

pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) harus dilakukan tegas terhadap siapapun.

Dengan memperhatikan asas lex superior atas tata urutan peraturan perundang-undangan Pasal 7 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011, adalah tepat bila Kejaksaan RI sebagai lembaga yang bertanggung jawab di bidang penuntutan tertinggi memerlukan proteksi konstitusi demi menjaga integritas dan independensinya. Di Negara-negara yang mengenal prinsip rule of law, baik sistem eropa kontinental maupun anglo saxon keberadaan lembaga Kejaksaan dalam Konstitusi merupakan hal yang akseptabel. Ia ditempatkan sebagai lembaga penegak hukum (law enforcement institution) yang bertanggung jawab terhadap penuntutan dinegara itu.

2. Diperlukan independensi pada sistem penegakan hukum yang dilakukan Kejaksaan RI. The Eight United Nation Congres di Haavana, Kuba, 7 September 1990, menyebutkan pada Guidelines on the role of Prosecutors, the office of prosecutors shall be strictly separated from judicial function. Pemahaman pemisahan dalam fungsi yudisial haruslah dimaknai dalam konteks penegakan hukum. Dengan pemahaman yang demikian, dalam menjalankan fungsi penuntutan tertinggi, Kejaksaan harus di beri tugas dan kewenangan yang independen dari kekuasaan tertinggi eksekutif. Sebab, secara ketatanegaraan, Kejaksaan merupakan subordinasi kekuasaan tertinggi eksekutif. Tanpa adanya separasi internal kekuasaan demikian, akan mudah sekali stigma dan intervensi terhadap penegakan hukum yang dilakukan Kejaksaan.

Dalam konteks sharing and distribution of power yang fleksibel, ide suatu kejaksaan sebagai lembaga Negara yang bebas dan tidak memihak adalah persyaratan utama rule of law. Termasuk AS dan Indonesia yang memiliki persamaan fungsi, yakni suatu kedaulatan fungsional dan kebebasan dalam melaksanakan tugas Kejaksaan, yang tidak memungkinkan pengaruh extra intervensi kelembagaan lain terhadap kejaksaan di bidang penuntutan tertinggi ataupun tugas-tugas justitiel lain dan sebagai karakter Negara hukum, reposisi penempatan fungsi dan wewenang Kejaksaan RI secara intrakonstitusi perlu ditempatkan sebagai aturan dalam UUD.55

Lebih jauh dapat dikatakan bahwa dengan mencermati kedudukan dan fungsi Kejaksan RI dalam bingkai teori Negara hukum dan teori pembagian kekuasaan adalah sangat tepat

(21)

apabila Kejaksaan RI sebaiknya menjadi suatu “badan Negara” yang mandiri dan independen dalam melaksanakan kekuasan Negara di bidang penuntutan dan kewenangan lain sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang. Hal ini adalah karena fungsi Kejaksaan RI dalam menegakan hukum di Indonesia tidak kalah beratnya dengan fungsi lembaga penegakan hukum lainnya, misalnya Badan Peradilan dan Kepolisian RI.56

Pemisahan fungsi Kejaksaan RI dari fungsi pemerintahan hakikatnya dimaksudkan untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini adalah Karena kekuasaan cenderung disalahgunakan. Sebagai badan Negara yang menjalankan fungsi penegakan hukum, Kejaksaan, dalam menjalankan fungsinya, membutuhkan kemandirian dan independensi dengan sikap tidak memihak, tanpa membedakan asal usul, kewarganegaraan, agama atau etnik, dan lain sebagainya. Hal itu sulit terwujud jika kedudukan Kejaksaan masih berada di bawah Presiden, yakni dalam lingkungan eksekutif.57

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Kejaksaan RI adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan dan kekuasaan lain berdasarkan Undang-Undang yang didasarkan

56 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Op.Cit., hlm 53.

(22)

kepada Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI dan KUHAP serta perumusan secara implisit pada Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 mengenai Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman, dimana terdapat pertentangan antara kedudukan Kejaksaan ditempatkan dalam ranah kekuasaan eksekutif, sementara landasan pembentukannya berada pada bab tentang kekuasaan kehakiman sehingga mempengaruhi pelaksanaan tugas penegakan hukum yang termasuk ranah yudikatif dalam arti luas khususnya dalam hal kemandirian dan keindependensiannya.

2. Kemandirian dan Keindependensian Kejaksaan RI sebagai pelaksana kekuasaan Negara di bidang penuntutan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia sulit untuk diwujudkan karena kedudukannya sebagai bagian di bawah pemerintahan dan Jaksa Agung sebagai pengendali tertinggi kekuasaan penuntutan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, yang menyebabkan Kejaksaan RI tidak mandiri dan independen dalam arti sulit melepaskan pengaruh pemerintah dalam setiap kebijakannya khususnya penegakan hukum dan sulit menegakkan kewibawaannya khususnya keberanian dalam melakukan proses hukum terhadap pejabat pemerintahan sampai pada tingkatan yang tertinggi tanpa membedakannya dengan masyarakat biasa lainnya.

B. SARAN

1. Kedudukan dan fungsi Kejaksan RI dalam bingkai Negara hukum Pancasila adalah sangat tepat apabila Kejaksaan RI sebaiknya menjadi suatu “badan Negara” yang mandiri dan independen dalam melaksanakan kekuasan Negara di bidang penuntutan dan kewenangan lain sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang artinya profesionalitas dan kemandirian kejaksaan dalam melakukan tugas penuntutan harus ditempatkan sebagai sesuatu yang sama sekali tidak boleh diintervensi.

(23)

yudisial penting untuk mengatur kedudukan Kejaksaan secara eksplisit dalam UUD 1945 dalam kerangka Negara hukum Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

 Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996.

(24)

 Marwan Effendy, Deskresi Dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, makalah disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya Malang, Malang, 11 Juni 2012.

 Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1996.

 Kristiana, Yudi, Menuju Kejaksaan Progresif studi tentang penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi, Masyarakat Transparansi Indonesia, Jakarta, 2010.

 Kejaksaan Agung RI, Lima Windu sejarah Kejaksaan Republik Indonesia (1945-1985), Jakarata, 1985.

 Magill, M. Elizabeth, Beyond Powers and Branches in Separation of Powers Law, University of Pennsyl Law Review 2001, Working Paper No. 01-10.

 Pope, Jeremy, Strategi Memberantas Korupsi, Kerjasama Yayasan obor dan Transparansi Internasional Indonesia, 2003.

 Suseno, Franz Magnis, Etika Politik (Pinsip-prinsip moral dasar kenegaran modern), PT Gramedia, Jakarta, 2003.

 Soetomo, A. Hukum Acara Pidana Indonesia dalam Praktek, Pustaka Kartini, Jakarta, 1990.

 Erni Widhayanti, Hak-Hak Tersangka/Terdakwa di dalam KUHAP, Liberty, Yogyakarta, 1996.

Jurnal dan Karya Ilmiah:

 Nandan Iskandar, “Kejaksaan di Mata Masyarakat”, Jurnal Bina Adhyaksa, Vol. III, No.1, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, Juli, 2011.

 Saldi Isra, Eksistensi Kejakasaan Pasca-Perubahan UUD 1945, Jurnal Adhyaksa Indonesia, Edisi 2, September 2014.

 Indriyanto Seno Adji, Kejaksaan Agung Reposisi Independensi dan Konstitusional, Jurnal Adhyaksa Indonesia edisi agustus 2014.

 Beneč Štefan, “Independence of Prosecution” (makalah disampaikan dalam Seminar “The prosecutor’s office in a democratic and constitutional state” organized by The General Prosecutor’s Office and the Slovak National Supporting Committee of Europe 2000, (25 April 2003 – 27 April 2003).

(25)

ke Dua UUD 1945 yang deselenggarakan oleh MPR dan Fakulktas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta 24-26 Maret 2000).

 Andi Hamzah, “Posisi Kejaksaan dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”, (makalah diajukan pada seminar menyambut hari bakti adiyaksa, Jakarta 20 Juli 2000).

 Andi Hamzah, “Konsep dan Strategi pembaharuan Kejaksaan Republik Indonesia” (makalah disampaikan pada Workshop Governmence Audit of The Public Prosecutor Servive, Bali 21-22 Februari 2001).

Peraturan Perundang-undangan:

 Undang Undang Dasar 1945.

 Undang Undang Nomor 15 Tahun 1961 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kejaksaan Republik Indonesia.

 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

 Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasan Kehakiman.

 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Internet:

 Basrief Arief, Pidato Sambutan Jaksa Agung Republik Indonesia Pada Pencanangan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), Senin 25 November 2013, http://www.kejaksaan.go.id/pidato.php?idu=0&id=153&hal=3, diakses 11 Januari 2015.

 Implementasi kekuasaan penuntutan di Negara hukum Indonesia,

http://www.kejaksaan.go.id/unit_kejaksaan.php?

idu=28&idsu=35&idke=0&hal=1&id=54&bc=, diakses 12 Januari 2015.

 Posisi ideal Kejaksaan http://majalah prosekutor.com /index.php? option=com_content&view= article&id=153:seminar-posisi-ideal-kejaksaan&catid=5:kabar-gedung-bundar&Itemid=7, diakses 12 Januari 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya penelitian tindakan kelas ini, dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan meminimalkan jumlah siswa yang kurang memahami materi bangun ruang, sehingga

Penelitian ini juga memberikan manfaat bahwa usaha UMKM tidak hanya berpusat dalam permasalahan sektor ekonomi, melainkan juga lingkungan budaya yang menjadi prinsip

Menurut Imam Abu Hanifah, hadits di atas juga menjadi sebuah dalil tentang wajibnya shalat Idul Fitri, hingga para wanita yang sedang haid pun dianjurkan untuk keluar

dengan menggunakan data resistivitas seluruh lintasan didapatkan kedalaman lapisan keras berkisar 14–24 m di bawah permukaan tanah dengan rentang nilai resistivitas 28,2

lebih jauh, yang diperlukan adalah memahami struktur sosial masyarakat sehingga diperlukan pendekatan interdisipliner agar lebih kaya dalam pemahaman agama serta

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah dari penelitian yang akan di ajukan adalah bagaimana proses komunikasi interpersonal antara

Langkah-langkah pelaksanaan pendi- dikan karakter di sekolah meliputi: (1) pe- rencanaan, yaitu mengidentifikasi jenis-je- nis kegiatan di sekolah yang dapat mereali-

Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan hasil belajar pada kelas kontrol dengan perubahan sebesar 25,85% dan pada kelas eksperimen dengan nilai perubahan