DESAIN ALAT ANGKUT
UNTUK MENGHINDARI CEDERA
DAN MENGURANGI KELELAHAN KERJA
Hadi Santosa Paulina Ike Siwi Renawati
Kwa See Yong
Dosen Tetap Jurusan Teknik Industri Unika Widya Mandala Surabaya
[email protected]
_______________________________________________________________________
Abstrak
Aktivitas mengangkat umumnya dilakukan dengan membawa beban secara manual yang pembebanannya tertumpu di bahu kanan atau kiri, atau pada kedua lengan tangan. Aktivitas ini ditujukan untuk memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang.
Tak jarang selama melakukan aktivitas mengangkat ini, operator tidak mempertimbangkan berat beban yang diangkatnya, sehingga sering kali mengalami cedera yang akhirnya akan mengurangi produkstivitas kerja dari operator angkut tersebut.
Untuk itu perlu dipertimbangkan suatu alat angkut dengan tujuan untuk menghindarkan cedera akibat operator mengangkat beban dan mengurangi kelelahan akibat melakukan aktivitas mengangkat tersebut secara berulang-ulang. Sehingga diharapkan dengan menggunakan alat ini produktivitas kerja operator akan meningkat.
Kata kunci
: angkut, cedera, desain, alat angkut.
1. Pendahuluan
Aktivitas lifting didefinisikan sebagai aktivitas manual membawa beban dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan menggunakan satu atau dua tangan, dengan posisi beban diletakkan di depan, disamping atau dipanggul diatas bahu
Dalam melakukan aktivitas lifting ini seharusnya para pekerja tahu beban yang sebaiknya diangkat disesuikan dengan jenis kelamin dan usia dari tenaga kerja yang bersangkutan. Menurut ILO (International Labour Organisation) kapasitas beban yang mampu diangkat oleh operator berdasarkan usia dan jenis kelaminnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1 Batas atas berat yang diijinkan dalam pekerjaan mengangkat manual (dalam kilopond, Kp)
Dewasa Remaja
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Occasionally 50 Kp 20 Kp 20 Kp 15 Kp
Frequently 18 Kp 12 Kp 11 – 16 Kp 7 – 11 Kp
Batas yang direkomendasikan pada tabel diatas hanya dapat dipakai sebagai pedoman secara umum, dan tabel tersebut tidak memandang faktor jasmani seperti postur tubuh dan ketinggian beban dari permukaan tanah.
Tabel 2 Beban maksimum yang diijinkan untuk pria muda
ketika mengangkat, mendorong, menarik (dalam lb/pound)Panjang Posisi Tangan
Kondisi 1/4 ½ 3/4 4/4
Berdiri
Mengangkat dengan 2 tangan pada sisi depan 35 25 15 10
Mengangkat dengan 1 tangan pada sisi depan 30 22 14 10
Mengangkat dengan 1 tangan pada sisi samping 27 20 13 10
Mendorong dengan 1 tangan pada sisi depan 25 23 18 25
Menarik dengan 1 tangan pada sisi depan 45 50 50 50
Duduk
Mengangkat dengan 2 tangan pada sisi depan 27 17 12 11
Mengangkat dengan 1 tangan pada sisi depan 35 22 14 10
Mengangkat dengan 1 tangan pada sisi samping 33 21 14 9
Selain itu ada beberapa cedera yang dapat dialami otot saat mengangkat yaitu:
a) Atrofi otot berupa penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau kehilangan kemampuan berkontraksi.
b) Hernia abdominal terjadi apabila dinding otot abdominal sobel pada bagian yang lemah. c) Hipertrifi otot merupakan kebalikan atrofi yaitu otot menjadi besar dan menjadi lebih kuat . d) Kelelahan otot karena otot terus-menerus melakukan aktivitas dan pada puncaknya terjadi kram atau kekejangan yaitu otot tidak mampu lagi berkontraksi dan menimbulkan kesakitan. e) Kaku leher terjadi karena peradangan otot trapesius leher akibat gerak atau hentakan
kesalahan gerak. Leher menjadi sakit dan terasa kaku jika digerakkan.
f) Tetanus merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena toksin bakteri tetanus yang berbentuk basil kedalam luka.
g) Distrofi otot merupakan penyakit kronis pada otot sejak anak-anak diperkirakan merupakan penyakit genetis.
h) Miastenia gravis otot berangsur-angsur menjadi lemah dan menyebabkan kelumpuhan yang kadang-kadang dapat merupakan penyebab kematian.
Selain otot yang dapat mengalami gangguan, maka tulang belakang juga dapat mengalami gangguan. Gangguan yang terjadi pada tulang belakang antara lain adalah kelainan pada tulang belakang yang disebabkan oleh perubahan kedudukan bagian vertebra yang disebut spina, sehingga akan menyebabkan perbedaan kelengkungan batang tulang belakang.
Selain otot dan tulang belakang, persendian juga harus mendapat perhatian untuk mencegah terjadinya injuries. Gangguan yang dapat terjadi pada persendian antara lain adalah:
a) Dislokasi: terjadi bila sendi bergeser dari kedudukan semula karena legamentum (jaringan penggantung) sobek atau tertarik.
b) Terkilir atau keseleo yang disebabkan oleh gerakan yang tiba-tiba atau tidak biasa dilakukan sehingga ligamentum menjadi tertarik, tetapi sendi tidak mengalami pergeseran posisi, dan hal ini menyebabkan rasa sakit yang cukup hebat pada daerah ini dan mengalami pembengkakan. c) Ankilosis yaitu persendian menjadi tidak dapat digerakkan lagi oleh karena seolah-olah kedua
tulang menyatu.
d) Arkitis yaitu peradangan satu atau beberapa sendi disertai dengan rasa sakit dan kadang-kadang posisi tulang mengalami perubahan. Arkitis sendiri dapat dibedakan menjadi:
• Reumatoid merupakan penyakit kronis yang terjadi pada jaringan penghubung sendi. • Osteoartritis merupakan penyakit kemunduran sendi yang disebabkan tulang rawan
Tabel 3 Penjelasan dari aktivitas lifting pada proses pembuatan tahu
Gambar Aktivitas Jarak
(m)
1 Membawa kedelai dari
gudang ke timbangan. 2 80 kali 16
Membawa dengan posisi beban disamping dengan ketinggian sepinggang.
2
Membawa kedelai dari timbangan ke bak perendaman.
1.5 80 kali 16
Membawa dengan posisi beban didepan dengan ketinggian sepinggang.
3
Membawa kedelai dari bak perendaman ke penggilingan.
1.5 80 kali 32
Membawa dengan posisi beban disamping dengan ketinggian sebahu.
4
Membawa kedelai dari penggilingan ke tempat untuk memasak .
2.5 80 kali 32
Membawa dengan posisi beban disamping dengan ketinggian sebahu.
5 Mengangkat tempat cetakan
tahu untuk diisi. 1 80 kali 5
Start
Kedelai diambil dari karung
Ditimbang ?
Dicuci Ya
Tidak
Direndam
Digiling
Steamming
Dimasukkan cuka
Diperas
Dicetak
Didiamkan 15 menit
Selesai
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 2
Tabel 4 Peta Aliran Proses
No. Aktivitas Sebelum Perbaikan No. Aktivitas Sesudah Perbaikan
1 Mengambil kedelai dari gudang. v 1 Mengambil dan menimbang
kedelai
v
2 Membawa ke timbangan. v 2 Membawa ke tempat pencucian v
3 Menimbang. v 3 Mencuci kedelai. v
4 Membawa ke tempat pencucian. v 4 Menuang kedelai ke bak
perendaman.
v
5 Mencuci kedelai. v 5 Kedelai direndam selama 24 jam. v
6 Membawa ke tempat perendaman v 6 Air rendaman dibuang. v
7 Direndam selama 24 jam v 7 Dibawa ke tempat penggilingan. v
8 Air rendaman dibuang v 8 Digiling v
9 Dibawa ke tempat penggilingan. v 9 Dibawa tempat steaming. v
10 Digiling v 10 Disteaming. v
11 Dibawa tempat steaming. v 11 Dimasukkan cuka. v
12 Disteaming. v 12 Diperas. v
13 Dimasukkan cuka. v 13 Dimasukkan ke tempat
pencetakan.
v
14 Diperas. v 14 Didiamkan 15 menit. v
15 Dimasukkan ke tempat pencetakan.
v 15 Tahu siap dipasarkan. v
16 Didiamkan 15 menit. v
17 Tahu siap dipasarkan. v
2. Analisa Momen Gaya
Momen akibat sebuah gaya (F) terhadap aktivitas mengangkat suatu beban, dapat dinyatakan dalam rumus
M = F. d (1)
dimana:
M = momen gaya (Kg.m) F = gaya (Kg)
d = jarak (meter).
Dari analisa momen gaya alat angkut untuk membantu meringankan beban angkat operator adalah sebagai berikut:
Tabel 5 Berat Beban
Berat beban yang diangkat tanpa alat Berat beban yang diangkat dengan alat angkut 16 Kg
( berulang sebanyak 3 x )
50 Kg ( sekali angkut )
3. Analisa Momen dan Biomekanika
Tabel 6
Perbandingan Analisa Momen & Mekanika
P e r b a n d i n g a n G a m b a r
Analisa
1 2 3 Dengan Alat
Jari - 640 640
-Pergelangan tangan - 640 640
-Siku tangan 320 (L)
312 (H)
Link Punggung 312 1024 831.38
-Lutut 312 1728 831.38
-Mom
en
( Kg
-c
m )
Pergelangan kaki 312 1728 831.38
-Telapak tangan - 32 32
-Lengan bawah 16 32 32 16.5
Lengan atas 16 32 32
-Maximum Permissible Limit ( Kg )
20.586 12.9 14.7
4. Desain Alat Angkut
5. Kesimpulan
Dengan menggunakan alat angkut dalam meringankan pekerjaan yang dilakukan dengan cara mengangkut dapat menghindarkan operator dari cedera karena mengangkat diluar batas kemampuan manusia. Hal ini akan menyebabkan karyawan mampu bekerja lebih tahan lama. Disamping itu dengan adanya alat angkut beberapa aktivitas kerja dapat dikurangi sehingga efisiensi pekerjaan dapat ditingkatkan.
Daftar Pustaka
Berr, F.P. dan E.R. Johnston, (1983), “Mekanika untuk Insinyur: Statika“, Erlangga, Jakarta. Grandjean, E., (1982), “Fitting the Task to The Man”, Taylor & Francis Ltd., London.