PENDEKATAN ILMU SOSIAL DAN HUMANIURA DALAM STUDI ISLAM
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam
Dosen : Drs. Surya Sukti, M. A.
Oleh
ASPIHANI 1312110423 M NURUL KAWAKIB
1602110519 IBNU NOBRIYANTO
1602110515 ALFIANNOR
1602110524
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA FAKULTAS SYARIAH
MOTTO
“Sokrates berkata kehidupan yang tak terperiksa bukanlah kehidupan yang
berharga”
ABSTRAK
Islam adalah agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dari awal kelahiran beliau sampai 1438 hijriah islam menjadi agama terbesar dunia dan menjadi pedoman masyarakat islam dalam berprilaku. Berangkat dari, apakah ilmu yang cocok untuk memahami masyarakat tersebut, bagaimana pendekatan-pendekatan tersebut, dan untuk apa pendekatan-pendekatan tersebut.
Memahami masyarakat islam perlu ilmu dan metode untuk mencari kebenaran atau mendekati kebenaran karena memahami masyarakat islam harus menggunakan metode sistematis dan bertanggung jawab agar kebenarannya bisa dijaga. Dalam memahami masyarakat islam pendekatan ilmu sosial, yang mencakup ilmu sosial adalah sosiologi, antropologi dan sejarah. Pendekatan humaniura seperti sematik, filologi, dan kebudayaan. Dari pendekatan tersebut kita bisa melihat karakteristik, ciri-ciri, prilaku masyarakat islam dan bagaiman kita menyikapinya.
KATA PENGANTAR
يحرلا نمحرلا لا مسب م
Assalamu’alaikum wr. wb.
Tiada untaian kata yang patut diucapkan kecuali rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas limpahan taufiq dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pendekatan Ilmu Sosial Dan Humaniura dalam Studi Islam” ini tepat pada waktunya, sebagai pemenuhan salah satu tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam.
Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, sehingga penulis sangat menyadari apabila di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna.Dengan ini penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah sederhana ini dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Palangka Raya, September 2016
Tim Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
MOTTO...ii
ABSTRAK...iii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI...v
BAB I PENDAHULUAN...4
A. Latar Belakang Masalah...4
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan Penulisan...4
D. Metode Penulisan...5
BAB II PEMBAHASAN...6
A. Pengertian ilmu sosial dan humaniura...6
B. Pendekatan ilmu sosial...7
C. Pendekatan ilmu humaniura...10
BAB III KESIMPULAN
... 13
Jadi, tidak semua pengetahuan itu adalah ilmu sebab ilmu hanya terbatas pada pengetahuan yang diperoleh secara sistematis. Ilmu harus melalui penataan pengetahuan secara sistematis. Haruslah ilmu menggunakan metode ilmiah.
Pengertian ilmu sosial merupakan suatu konsep akademik yang memberikan perhatian pada aspek-aspek kemasyarakatan manusia. Bentuk tunggal ilmu sosial menunjukkan sebuah komunitas dan pendekatan yang saat ini hanya diklaim oleh beberapa orang saja; sedangakan bentuk jamaknya, ilmu-ilmu sosial mungkin istilah tersebut merupakan bentuk yang lebih tepat. Ilmu-ilmu sosial mencakup sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, geografi sosial,
bahkan sejarah walaupun disatu sisi ia termasuk ilmu humaniora.1 Disini kita
lebih khusus memahami pendekatan-pendekatan untuk memahami masyarakat islam tersebut.
A. Pendekatan Ilmu Sosial: (a) Pendekatan Sosiologi; (b) Pendekatan Antropologi; (c) Pendekatan Sejarah.
Umunya, orang sependapat bahwa ilmu sosial terletak di antara ilmu alam dan ilmu budaya. Hanya saja orang berbeda pendapat mengenai letak yang sebenarnya, apakah ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu alam atau ilmu budaya. Kaum strukturalis, termasuk didalamnya sebagian antropologi, cenderung meletakkan ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu budaya. Mereka melihat, tingkah laku sosial pada dasarnya selalu mengacu pada aturan-aturan tingkah laku (rule of behavior) yang berdasar atas pola ideal yang bersumber dari nilai. Karena itu, kunci memahami masyarakat adalah memahami nilai. Kaum strukturalis memandang begitu pentingnya nilai itu, sehingga mereka lupa bahwa nilai itu
sendiri merupakan produk interaksi sosial juga. Karena itu muncul kaum positivis yang berpendapat bahwa memahami masyarakat haruslah dengan mengamati apa yang dilihat, dapat diukur dan dapat dibuktikan sebagaimana halnya dalam ilmu pengetahuan alam.2 Sebenarnya banyak
pendekatan-pendekatan untuk memahami ilmu sosial dalam mata kuliah ini untuk itu kami membahas tiga saja:
a. Pendekatan Sosiologi
Sosiologi merupakan sebuah kajian ilmu yang kaitannya dengan aspek hubungan sosial manusia antara satu dengan yang lain atau kelompok yang satu dengan yang lain. Sosiologi menitikberatkan pada sistem sosial (masyarakat) yang kompleks, sedangkan antropologi menitikberatkan masyarakat yang erat kaitannya hubungan kekerabatan (masyarakat sederhana). Sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat yang bersifat empiris, teoritis dan kumulatif.
Dalam kajian Islam, persoalan muamalah (hubungan dengan manusia) merupakan dimensi agama yang menekankan urusan sosial. Masalah sosial sangat penting didalam Islam. Hal ini menjadi menarik untuk dipelajari dan
dipahami. Contoh dalam pendekatan sosiologi adalah dari dua puluh kitab fathul
bari, hanya empat jilid yang berisi tentang ibadah. Sedangkan enam belas yang
lainnya berisi tentang muamalah.
b. Pendekatan Antropologi
Antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia yang diperoleh sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman dan lingkungan dan mendasari serta mendorong tingkah laku. Antropologi
memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku manusia dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan.
Kebudayaan mencakup tiga aspek yaitu pemikiran, kelakuan dan hasil kelakuan. Kebudayaan manusia pada dasarnya adalah serangkain aturan-aturan atau kategorisasi-kategorisasi, serta nilai-nilai. Kebudayaan bukan hanya ilmu pengetahuan saja, tetapi juga hal-hal yang buruk, bahasa, dan lain sebagainya. Unsur-unsur kebudayaan meliputi: sistem sosial, bahasa, komunikasi, agama, ekonomi dan teknologi, politik dan hukum. Yang termasuk penelitian budaya adalah penelitian tentang naskah-naskah, alat-alat ritus keagamaan, sejarah agama, nilai-nilai dari mitos-mitos yang dianut pemeluk agama, dan lain sebagainya.
Dalam konteks sebagai metodologi, antropologi merupakan ilmu tentang masyarakat dengan titik tolak dari unsur-unsur tradisional, mengenai aneka warna, bahasa dan sejarah perkembangan nya serta persebarannya , dan mengenai dasar-dasar kebudayaan manusian dalam masyarakat. Memahami Islam secara antropologi memiliki makna memahami Islam berdasarkan hal-hal tersebut diatas. Contohnya adalah dalam memahami kisah atau cerita di dalam
kitab Al-Quran yang dianalisis dengan pendekatan antropologi.3
c. Pendekatan Sejarah (Historis)
Secara bahasa, sejarah mempunyai arti cerita suatu rekonstraksi atau juga kumpulan gejala empiris masa lampau. Ilmu sejarah mengamati proses terjadinya prilaku manusia. Sistematisasi langkah-langkah pendekatan metode sejarah sebagai berikut:
1. Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan.
3. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan otentik.
4. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan kisah atau penyajian yang berarti.
Objek penelitan agama dalam persefektif sejarah akan lebih mudah bila didasarkan pada periodisasi sejarah Islam sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para ahli seperti Ira M. Lapidus, Philip K. Hitti, dan lain sebagainya.
Jika hukum dipelajari dengan menggunakan pendekatan analisis sejarah, maka orang menjadi terbuka terhadap perubahan dan pembeharuan hukum. Orang tidak lagi akan memegang teguh pendirian bahwa hanya sesuatu aliran hukum sajalah yang benar dan berlaku disemua tempat dan sepanjang waktu. Dengan menggunakan analisis sejarah, akan terlihat universal pada hukum Islam adalah dasar dan tujuannya. Dasarnya ialah tauhid yang tidak ada seorang muslim pun mengingkarinya dan tujuannya adalah kemaslahatan umat dalam upaya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Perbedaan satu aliran dan aliran
yang lain akan membawa maslahat bagi umat.4
B. Pendekatan Humaniora: (a) Pendekatan Sematik; (b) Pendekatan Filologi; (c) Pendekatan Kebudayaan.
a. Pendekatan Sematik
Semantik yang bermula berasal dari bahasa Yunani mengandung makna
to signify atau memaknai.Sebagai istilah teknis, semantik mengandung
pengertian “tetang makna”.Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari
bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa , komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan
tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata semantik suatu kata, maka harus diselidiki bagaimana keadaan kata tersebut, jenis sifatnya, bentuk perbuatannya berdasarkan bahasa Arab kuno.6
b. Pendekatan Filologi
Kata filologi berasal dari bahasa yunani philologia yang berarti cinta kepada bahasa, karena huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, dan kalimat adalah inti dari bahasa. Filologi dipakai dalam arti pengkajian teks atau
penelitian yang berdasarkan teks7. Metode filologi merupakan metode penelitian
berdasarkan analisis teks. Istilah filologi berarti suatu metode yang mempelajari dan meneliti naskah-naskah lama untuk mengerti apa yang terdapat didalamnya sehingga diketahui latar belakang kebudayaan masyarakat yang melahirkan naskah-naskah itu.
Metode ini digunakan jika sumber atau data berupa naskah atau manuskrip. Hal ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara cermat pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam naskah tersebut melalui analisis kosa kata yang digunakan, nuansa-nuansa yang ada didalamnya sehingga dapat terhindar dari kesalahpahaman pemikiran.
5 Purnama,http://meilindapurnamasari.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-semantik.html,
didowload pada jam 8pm, pada tanggal 26 september 2016
6Toshihiko Izutsu, http://mohmansurfauzi.blogspot.co.id/2014/11/pendekatan-semantik-dalam-kajian-islam.html, didonwload jam 8 pm, tanggal 26 september 2016
Metode filologi dalam kajian Islam mempunyai keterbatasan yang diantaranya adalah penekanan yang ekslusifitas terdapat teks atau naskah. Dunia Islam dipahami melalui cara yang tidak langsung, yaitu tidak dengan melakukan penelitian tentang kehidupan umat Islam yang ada di dalam masyarakatnya, yang pada umumnya teks-teks itu berasal dari tradisi intelektual klasik milik umat Islam. Kajian ini berfokus pada tulisan-tulisan umat Islam, bukan pada kehidupan umat Islam itu sendiri.8
c. Pendekatan Kebudayaan
Ada tiga istilah yang semakna dengan kebudayaan, yaitu culture, civilization, dan kebudayaan. Term kultur berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata cultura. Arti kultur adalah memelihara, mengerjakan atau mengolah. Soerjono Soekanto mengungkapkan hal yang sama. Namun ia menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud dengan mengolah atau mengerjakan sebagai arti kultur adalah mengolah tanah atau bertani. Atas dasar arti yang dikandungnya, kebudayaan kemudian dimaknai sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk
mengolah dan mengubah alam.9
Kebudayaan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Berbagai kekuatan yang dihadapi manusia seperti kekuatan alam dan kekuatan-kekuatan lainnya tidak selalu baik baginya. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi masyarakat. Teknologi paling sedikit meliputi tujuh unsur, yaitu alat-alat produktif, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung, dan alat-alat transportasi.
Konsep mengenai kebudayaan yang dikemukakan seperti tersebut diatas itulah yang dapat digunakan sebagai alat atau kacamata untuk mendata dan
8 H. 100-101.
mengkaji serta memahami agama. Bila agama dilihat dengan menggunakan kacamata agama, maka agama diperlakukan sebagai kebudayaan; yaitu: sebagai sebuah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh para warga masyarakat tersebut. Agama dilihat dan diperlakukan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat; yaitu, pengetahuan dan keyakinan yang kudus dan sakral yang dapat dibedakan dari pengetahuan dan keyakinan sakral dan yang profan yang menjadi ciri dari kebudayaan.
Pada waktu kita melihat dan memperlakukan agama sebagai kebudayaan maka yang kita lihat adalah agama sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat manusia, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, yaitu dalam kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam masyarakat, maka agama menjadi bercorak lokal; yaitu, lokal sesuai dengan kebudayaan dari masyarakat tersebut. Mengapa demikian? untuk dapat menjadi pengetahuan dan keyakinan dari masyarakat yang bersangkutan, maka agama harus melakukan berbagai proses perjuangan dalam meniadakan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan keyakinan hakiki dari agama tersebut dan untuk itu juga harus dapat mensesuaikan nilai-nilai hakikinya dengan nilai-nilai budaya serta unsur-unsur kebudayaan yang ada, sehingga agama tersebut dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai unsur dan nilai-nilai budaya
dari kebudayaan tersebut.10 Dengan demikian maka agama akan dapat menjadi
nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut.
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Supardan Dadang, Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Mudzar Atho, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori Dan praktek, yogyakarta:
PUSTAKA PELAJAR, Cet. VII, 2011.
Khoiriyah, Metodologi Studi Islam, yogyakarta: Penerbit Teras, 2013.
Supiana, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Direktoral Jendral Pendidikan Islam Depertemen Agama Repuplik Indonesia, 2009.
Purnama,http://meilindapurnamasari.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-semantik.html.
ToshihikoIzutsu,http://mohmansurfauzi.blogspot.co.id/2014/11/pendekatan-semantik-dalam-kajian-islam.html.
Aminur,